Claim Missing Document
Check
Articles

Relevansi Konsep Merdeka Belajar Terhadap Paradigma Pendidikan Al-Zarnuji Dan Ki Hajar Dewantara Fadila, Nurul; Hulawa, Djeprin E.; Alwizar, Alwizar
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i3.23326

Abstract

Penelitian ini membahas relevansi konsep Merdeka Belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, dengan paradigma pendidikan Al-Zarnuji dan Ki Hajar Dewantara. Dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan konseptual antara gagasan Merdeka Belajar dengan nilai-nilai pendidikan yang telah diperkenalkan oleh kedua tokoh tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep Merdeka Belajar, yang menekankan kebebasan, inovasi, dan kenyamanan dalam proses pembelajaran, sejalan dengan paradigma pendidikan Al-Zarnuji, khususnya terkait niat, akhlakul karimah, dan pemenuhan rasa ingin tahu. Selain itu, konsep ini juga relevan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara tentang kebahagiaan lahir batin, pendidikan karakter, dan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep Merdeka Belajar yang digagas oleh Nadiem Makarim sesungguhnya gagasannya telah telah ditemukan pada pemikiran Al-Zarnuji dan Ki Hajar Dewantara, di mana konsep tersebut dapat memperkaya sistem Pendidikan Nasional melalui integrasi nilai-nilai tradisional dan kemodernan dalam rangka mewujudkan generasi yang kompeten dan berkarakter.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM SITI WALIDAH Julian Dwi Putri; Djeprin E. Hulawa; Al wizar
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas pemikiran pendidikan Islam Siti Walidah, seorang tokoh perempuan penting dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia yang juga dikenal sebagai pendiri organisasi perempuan ‘Aisyiyah. Dalam konteks sosial yang membatasi peran perempuan, Siti Walidah menawarkan model pendidikan yang inklusif, transformatif, dan berkeadilan gender dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter. Melalui ‘Aisyiyah, ia memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan formal tanpa mengabaikan nilai-nilai agama. Gagasannya mencerminkan keselarasan antara ilmu agama dan ilmu umum serta menekankan pentingnya etika dan akhlak dalam proses pendidikan. Pemikiran ini tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi pengembangan pendidikan Islam yang berkemajuan hingga saat ini. Artikel ini bertujuan menguraikan gagasan utama Siti Walidah tentang pendidikan, implementasi program melalui ‘Aisyiyah, serta relevansinya dalam konteks pendidikan modern.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT  MUHAMMAD ABID AL-JABIRI Mhd. Shaleh Hasonangan Daualay; Djeprin E. Hulawa; Alwizar Alwizar
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemikiran pendidikan Islam telah mengalami perkembangan signifikan melalui kontribusi berbagai tokoh. Salah satu pemikir kontemporer yang memberikan sumbangan penting adalah Muhammad Abid Al-Jabiri. Artikel ini membahas pemikiran pendidikan Islam menurut Al-Jabiri, yang menekankan pentingnya rasionalitas, kritik terhadap warisan (turats), dan pembaruan metode berpikir dalam pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Jabiri menawarkan paradigma pendidikan Islam yang mendorong pembebasan akal dan rekonstruksi pemikiran Islam melalui pendekatan bayani, irfani, dan burhani.
Perbandingan Konsep Pendidikan Akhlaq Menurut Ibnu Miskawaih dan Ibnu Sahnun Luthfiyani, Putri Wahidah; Alwizar, Alwizar; Hulawa, Djeprin E.
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.285

Abstract

Pendidikan akhlak merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter individu yang berkualitas dalam masyarakat Islam. Perkembangan zaman yang semakin kompleks menghadirkan tantangan tersendiri dalam mempertahankan nilai-nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan akhlak dari dua tokoh pemikir Islam, Ibnu Miskawaih dan Ibnu Sahnun, serta membandingkan pendekatan mereka dalam mengajarkan moralitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan untuk mengumpulkan data dari berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Miskawaih menekankan keseimbangan jiwa melalui pengendalian diri dan penanaman kebiasaan baik secara filosofis, sementara Ibnu Sahnun lebih fokus pada nilai-nilai agama dan disiplin praktis dalam pendidikan akhlak. Kedua tokoh ini memberikan kontribusi signifikan yang relevan bagi pengembangan pendidikan akhlak di era modern, dimana pendekatan normatif dan filosofis saling melengkapi dalam membentuk karakter yang berakhlak mulia.
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Perspektif Al-Qur’an Wati, Linda; Hulawa, Djeprin E.; Alwizar, Alwizar
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.308

Abstract

Studi ini mengeksplorasi topik pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) berdasarkan perspektif Islam, khususnya ajaran yang termuat dalam Al-Qur'an. Dalam pandangan Islam, setiap manusia dihormati dan diperlakukan setara, tanpa memperhatikan kondisi fisik, mental, atau emosional mereka. Makalah ini menekankan pentingnya hak pendidikan bagi ABK sebagai bagian dari prinsip keadilan dan kasih sayang dalam Islam. Pembahasan mencakup pemahaman teologis mengenai hak dan martabat ABK, serta bagaimana model pendidikan yang sesuai dapat membantu mereka berpartisipasi aktif di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang bagaimana perlakuan adil terhadap ABK dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan yang inklusif, berbasis pada nilai-nilai Islami.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM MASA BANI UMAYYAH Waliyuddin Hilmy Luthfi; Eva Dewi; Djeprin E Hulawa
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 1 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v1i2.713

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan Perkembangan Islam Pada Masa Perkembangan Bani Umayyah. Fokus penelitian ini untuk mengetahui sejarah berdirinya Dinasti Bani Umayyah, peradaban islam pada masa Dinasti Bani Umayyah, dan sebab kemunduran dan keruntuhan Bani Umayyah. Hasilnya adalah Dinasti umayyah diambil dari nama Umayyah Ibn ‘Abdi Syams Ibn ‘Abdi Manaf, Dinasti ini sebenarnya mulai dirintis semenjak masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan pada saat itu belum berhasil, namun baru kemudian berhasil setelah dideklarasikan dan mendapatkan pengakuan kedaulatan oleh seluruh rakyat yang mengetahui keberadaan Dinasti Bani Umayyah ini setelah khalifah Ali terbunuh oleh kaum kafir dan Hasan ibn Ali yang diangkat oleh kaum muslimin di Irak menjadi khalifah menyerahkan kekuasaanya pada Muawiyah setelah melakukan perundingan dan perjanjian. Bersatunya ummat muslim dalam satu kepemimpinan pada masa itu disebut dengan tahun jama’ah (‘Am al Jama’ah) tahun 41 H (661 M). Dan kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Umayyah disebabkan oleh banyak faktor, dinataranya adalah: perebutan kekuasaan diantara keluarga kerajaan, serta konflik berkepanjagan dengan golongan oposisi oran-orang Syi’ah dan Khawarij, pertentangan etnis suku Arab Utara dan suku Arab Selatan, ketidak cakapan para khalifah dalam memimpin pemerintahan dan kecenderungan mereka yang hidup mewah,  kemudian penggulingan oleh Bani Abbas yang didukung penuh oleh Bani Hasyim, kaum Syi’ah, dan golongan Mawali.
SEYYED HOSSEIN NASR: INTEGRASI BERBASIS TAUHID MELALUI HIRARKI ILMIAH Hairunis; Eva Dewi; Djeprin E Hulawa
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 1 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v1i1.727

Abstract

Modernisasi yang dibarengi dengan adanya sekularisasi yang telah menghadirkan wajah suram yaitu terhapusnya kehiduapan beraagama dari kehidupan manusia, dihilangkannya nilai-nilai agama dan spiritual dalam memandang alam semesta, dihilangkannya aspek spiritual dan keagamaan. Nasr prihatin dengan realitas manusia modern yang terlalu sulit mengapresiasi sesuatu yang sakral. Nasr menekankan pentingnya religiusitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Nasr kemudian memberikan pemikirannya tentang konsep integrasi ilmu pengetahuan dan Islam berdasarkan tauhid melalui hierarki keilmuan berupa konsep kesatuan yaitu integrasi Islam (Ilahiyah), Manusia (Khalifah), dan alam (Kosmos). Sehingga dapat menuju keesaan Ketuhanan yang terbayang dalam kesatuan Alam. Gagasan persatuan dalam ilmu pengetahuan merupakan gagasan yang bersumber dari syahadat: la ilaha illa Allah. Dengan konsep kesatuan atau yang biasa disebut dengan tauhid, maka keberagaman ilmu pengetahuan juga dapat diintegrasikan ke dalam keterpaduan. Dengan kata lain, gagasan kesatuan memungkinkan integrasi pengetahuan dan tindakan manusia menjadi satu kesatuan yang harmonis. Pemikiran Nashr terhadap relasi agama dan sains, menjadi fokusnya ketika ia telah menamatkan studi di universitas Harvard, hal ini dapat terlihat lewat disertasi yang ia garap, yang kemudian di publikasikan oleh Universitas Harvard dengan judul, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines : conception of nature and methods used for its study by the Ikhwan Al-Shafa, AlBiruni and Ibn Sina.
The Relation between Self-Regulation, Self-Efficacy and Achievement Motivation among Muslim Students in Senior High Schools Sabrina, Rifdah; Risnawati, Risnawati; Anwar, Khairil; Hulawa, Djeprin E.; Sabti, Fajri; Rijan, Mohd Hakim Bin Mothar; Kakoh, Nur Asikin
International Journal of Islamic Studies Higher Education Vol. 2 No. 1 (2023): March
Publisher : Islamic Studies and Development Center in collaboration with Department of Islamic Education Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/insight.v2i1.119

Abstract

This research was conducted to analyze the relationship between self-regulation and self-efficacy in the context of achievement motivation among Muslim Senior High School students in Indonesia. A quantitative correlational method was used, and data sources were collected through a questionnaire with a four to five-point Likert scale. A total of 565 respondents, drawn from a population pool of 1,568, were selected using a simple random sampling technique. Furthermore, data were analyzed through bivariate and multivariate correlation techniques using SPSS Version 20 software. The results showed that, first, there was a significant positive correlation between self-regulation and achievement motivation of students. Second, a positive correlation of statistical significance was evident between self-efficacy and achievement motivation. Third, a strong and significant positive correlation was reported when simultaneously considering self-regulation and self-efficacy. This research served as evidence of self-regulation and self-efficacy in shaping academic performance of students during the academic pursuits. Therefore, the two variables should be accorded significant attention and concern by stakeholders, with a particular emphasis on teachers and parents.
Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam di Mesir: Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh hairul amin hairul; Djeprin E. Hulawa Djeprin
PEDAGOGIC: Indonesian Journal of Science Education and Technology Vol. 6 No. 3 (2026): PEDAGOGIC: Indonesian Journal of Science Education and Technology
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/ijset.v6i3.5492

Abstract

This article comprehensively examines the dynamics of Islamic educational reform in Egypt during the nineteenth and early twentieth centuries, focusing on the thoughts and contributions of Sayyid Jamal al-Din al-Afghani and Muhammad Abduh. During this period, Egypt faced an identity crisis caused by internal intellectual stagnation and the growing influence of Western imperialism. This study employs a library research method with a historical-philosophical approach to analyze how both figures responded to these challenges. Primary sources include Al-Urwah al-Wuthqa and Risalat al-Tawhid, while secondary sources consist of scholarly books, journal articles, theses, and dissertations. Data were collected from various publications and analyzed through historical research stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings reveal that al-Afghani and Abduh played pivotal roles in reforming Islamic education in Egypt. Their reforms emphasized the integration of modern sciences, the purification of Islamic teachings, and the revitalization of ijtihad. These ideas encouraged a shift from rote learning to a more critical and rational educational approach. Despite encountering resistance, their reforms laid the foundation for the modernization of Islamic education and influenced reform movements across the Muslim world, including Indonesia. This study is limited by its reliance on library-based research and does not empirically examine the implementation of these reform ideas in contemporary educational practices. Therefore, future studies are recommended to adopt comparative and multidisciplinary approaches to explore the relevance and application of these reformist ideas in modern Islamic education.
Family Education in the Qur’an: A Descriptive-Qualitative Analysis of Al-Maturidi’s Al-Ta’wilat Al-Maturidiyah and Its Relevance to Modern Family Life M. Ilham Muchtar; Wasalmi; Djeprin E. Hulawa; Achmad Ghozali Syafi'i; Ujud Supriaji; Rahman; Mugiarto
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 13 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jimrf.v13i2.11951

Abstract

This article delves into the concept of family education as outlined in the Qur’an from the perspective of Al-Maturidi. Employing a descriptive-qualitative method and categorized as library research, this study gathers data by meticulously examining various relevant references. These include Al-Maturidi’s work, al-Ta’wilat al-Maturidiyah fi Bayani Usl Ahl al-Sunnah wa Usul al-Tauhid, alongside books, articles, and other supporting documents. The data analysis is conducted using content analysis methods. The findings suggest that Al-Maturidi allocates substantial discussion to this topic. This focus is understandable, given that this exegetical work emerged within the context of theological contestations among Sunni, Mu’tazila, and other kalam (theological) schools. Interpretations from this era often exhibit subjectivity, aiming to undermine opposing schools of thought while legitimizing their own. Despite this, a review of various other commentaries highlights the critical role of the family in educating children from sociological, psychological, and religious perspectives. However, many families struggle to fulfill this role, resulting in issues such as juvenile delinquency and deficiencies in educational and communicative abilities. To enhance the effectiveness of family education, efforts must be made to foster family harmony, expand educational awareness, strengthen families’ problem-solving and conflict resolution capabilities, and effectively convey educational messages to children