Claim Missing Document
Check
Articles

The Concept of Islamic Education Reform in Indonesia: Perspectives of Harun Nasution and Nurcholish Madjid Aswandi, Aswandi; Djeprin E. Hulawa; Alwizar
The Future of Education Journal Vol 3 No 5 (2024): December
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v3i5.243

Abstract

This study aims to analyze Harun Nasution's thoughts on Islamic education reform in Indonesia, examine the Islamic education reform concept proposed by Nurcholish Madjid, and compare the relevance and contributions of both thinkers to Islamic education in the modern era. This research is a literature study (library research) with a descriptive qualitative approach. Data was collected through literature reviews including books, articles, scientific journals, and other sources relevant to the ideas of Harun Nasution and Nurcholish Madjid. A comparative approach was used to analyze the similarities and differences between the thoughts of the two figures. Data analysis was conducted thematically to identify the main concepts and their implications for Islamic education in Indonesia. The results of this study show that Harun emphasized rationality in Islamic education by integrating religious and general knowledge, eliminating the dichotomy in education, and encouraging a more contextual theological reform. He believed that Islamic education should be responsive to the development of modern science. Nurcholish emphasized the importance of pluralism, modernization, and openness in Islamic education. He advocated for education that not only builds religious knowledge but also shapes moral character, tolerance, and openness to modern science. The conclusion of this research is that the ideas of both thinkers complement each other and are relevant for building an adaptive Islamic education system in response to changing times. Harun's focus is more on theological aspects and rationality, while Nurcholish focuses on pluralism and modernity. Both offer strategic solutions to integrate Islamic values with the demands of globalization.
BASIACUONG: ORAL TRADITION IN KAMPAR MALAY CEREMONIAL PROCESSIONS: A Living Hadith Study Rahman, Rahman; Ilyas, Ilyas; Darussamin, Zikri; Syafii, Achmad Ghozali; Zailani, Zailani; Hulawa, Djeprin E; Fauzi, Ahmad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 2 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i2.507

Abstract

For Muslims, hadith is something very important because it contains various traditions and habits that developed during the time of the Prophet (PBUH). Indonesia is known for its various traditions and cultures in various regions where these traditions and cultures are integrated with the social life of the community. One of them is the oral tradition of Basiacuong found in the Malay community in Kampar Regency which has been applied for generations where previously it had been carried out by Kampar community leaders. This research is a field research, by tracing directly to the field of objects in the field to dig up information and obtain various data that appear in the field, by observing social phenomena that exist in the community when the tradition is carried out. The location of this research is Koto Perencaran Village, Kampar Regency, because the community in the village still maintains the oral tradition of Basiacuong and applies it in various traditional ceremonies such as marriage, circumcision, akikah, inauguration of traditional heads and so on. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The results of this study conclude that the Basiacuong tradition found in the Malay community in Koto Perambahan Village, Kampar Regency is the implementation and interaction of living hadith, because the tradition contains good messages and advice, even though the tradition is carried out in traditional ceremonies.
Pendidikan Akhlak Dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Delviany, Venny; Dewi, Eva; Hulawa, Djeprin E.; Alwizar, Alwizar
Counselia Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/counselia.v5i2.139

Abstract

Tujuan penelitian untuk membahas tentang pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali. Jenis penelitian ini yakni penelitian kepustakaan (library research), bercorak historis faktual mengenai pemikiran tokoh. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data yang tertulis di dalam buku, jurnal dan hasil penelitian sebelumnya yang masih berkaitan. Lalu peneliti berusaha menelaah dan menganalisis pola pemikiran Muhammad Al-Gazhali pada pendidikan Islam. Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pemikiran Imam Al-Ghazali terkait pendidikan islam terdiri dari a) Konsep Dasar Pendidikan Akhlak terdiri dari definisi: pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali adalah usaha pendidik untuk menanamkan sikap terpuji dalam diri peserta didik sehingga mengakar dalam jiwa peserta didik yang darinya lahir berbagai perbuatan baik dan terpuji dengan otomatis, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan serta menghilangkan sikap buruk hingga menjadi insan kamil yang dekat kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Lalu prinsip-prinsip pendidikan akhlak: al-hikmah, al-adl, syaja’ah, & ‘iffah. Adab guru & peserta didik. b) Pemikiran Imam Al-Ghazali terkait pendidikan akhlak terdiri dari penanaman nilai akhlak dalam kitab Minhajul Abidin: Adanya pendidik, menanamkan iman, memberikan pengarahan, muhasabah, bisa membedakan yang baik dan buruk, lingkungan yang mendukung. Metode pendidikan akhlak: Pembiasaan, keteladanan, nasihat, hukuman & ganjaran. Konsep guru PAI yang ideal: Guru berorientasi pada kebahagiaan di akhirat, taat beribadah, membersihkan jiwa, cerdas & cakap, mencintai peserta didik, memberi arahan peserta didik untuk meluruskan niat, beribadah, menimba ilmu. dan konsep pendidikan akhlak: non formal dan formal. Konsep akhlak yaitu: akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap orang tua, akhlak kepada diri sendiri, dan akhlak kepada orang lain.
Transformational Leadership in Strengthening Religious Moderation in Private Islamic Higher Education Institutions in Riau Province E. Hulawa, Djeprin; M. Yusuf, Kadar; Alwizar, Alwizar; Afriza, Afriza; Wahyudi, Hakmi; Pamil, Jon
SYAMIL: Journal of Islamic Education Vol 12 No 1 (2024): SYAMIL: Journal of Islamic Education
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/sy.v12i1.8944

Abstract

This research is motivated by several issues related to radicalism and religious violence still prevalent in Indonesia's public and private universities. The survey results by the National Counter Terrorism Agency (BNPT) of Indonesia reported that as many as 39% of students in 15 provinces in Indonesia are indicated of being attracted to radical ideologies and fundamentalist movements. This research aims to describe the pattern of transformational leadership in strengthening religious moderation among students of Private Islamic Higher Education Institutions (PTKIS) in the Riau Province to provide an ideal and humanistic alternative model for the development of religious moderation. This research employs field research methodology, utilizing data collection techniques such as interviews, observations, and documentation to address the research question, "How does transformational leadership contribute to strengthening religious moderation among PTKIS students in Riau?" Based on the research findings, the pattern of transformational leadership applied by the four leaders of PTKIS in Riau positively impacts religious moderation among their respective campus students by carrying out 5 strategic steps included in the discussion.
Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman terhadap Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Kurikulum Merdeka Oktaria, Ira; Alwizar, Alwizar; Ehulawa, Djeprin
Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam Vol 8, No 1 (2025): Pendidikan Islam Masa Kini: Perspektif dan Tantangan
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jspi.8.1.31-46

Abstract

Pemikiran Fazlur Rahman sangat penting dipelajari khususnya dalam lingkup pendidikan Islam sebagai upaya untuk mengatasi dualisme dalam lingkup pendidikan dan kurikulum pendidikan Islam. Fazlur Rahman dikenal dengan pemikirannya yang cerdas sehingga dijuluki sebagai sosok intelektualisme Islam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan dengan metode analisis isi. Sumber utamanya adalah buku-buku primer Fazlur Rahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Fazlur Rahman terhadap nilai-nilai pendidikan Islam di antaranya: a) Integrasi Ilmu dan Agama, b) Pendidikan sebagai proses yang dinamis, c) Kontekstualisasi, d) Pendidikan untuk semua. Kemudian dalam kaitannya dengan kurikulum merdeka di antaranya: a) Profil Pelajar Pancasila, b) Mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis, c) Menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin dan tanggung jawab, d) Integrasi ilmu di berbagai mata pelajaran, e) Pengembangan kemampuan berpikir kritis kreatif dan kolaboratif, f) Menggunakan metode pembelajaran yang dapat memperkuat pemahaman ajaran Islam, g) Pelatihan dan pengembangan kompetensi guru. Sementara itu, relevansi pemikiran Fazlur Rahman terhadap nilai-nilai pendidikan Islam dalam kurikulum Merdeka diharapkan dapat membuat pribadi peserta didik menjadi sosok yang kreatif. 
Gender Dalam Pendidikan Islam: Peluang dan Tantangan Asri Yanti Siregar; Djeprin E. Hulawa; Alwizar Alwizar
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i2.6643

Abstract

Pendidikan merupakan hak dasar yang dijamin dalam Islam bagi setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Namun, di beberapa negara Muslim, perempuan sering menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan yang setara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan kesetaraan gender dalam pendidikan Islam serta mencari solusi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, memanfaatkan sumber primer seperti Al-Qur'an dan Hadits, serta sumber literatur sekunder seperti artikel jurnal, buku, dan laporan kebijakan pendidikan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa hambatan gender dalam pendidikan disebabkan oleh interpretasi agama yang tidak fleksibel, norma sosial yang membatasi, dan kebijakan pendidikan yang kurang inklusif. Meskipun demikian, beberapa negara seperti Indonesia, Turki, dan Tunisia berhasil mengurangi kesenjangan gender melalui kebijakan pendidikan yang mendukung Perempuan. Islam sebagai agama yang menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, memiliki potensi besar untuk menjadi solusi atas permasalahan ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan dapat terwujud melalui pemahaman Islam yang inklusif dan formasi kebijakan yang berpihak kepada kaum perempuan.
Perbandingan Konsep Metafisika Imam Al-Ghazali Dan Sayyed Hossein Nasr Ridho Akbar; Alwizar Alwizar; Djeprin E. Hulawa
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i2.6666

Abstract

Penelitian ini membahas konsep metafisika Imam Al-Ghazali dan Seyyed Hossein Nasr. Al-Ghazali menekankan pengalaman spiritual dan penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sementara Nasr mengintegrasikan tradisi Islam dengan pendekatan modern untuk menghadapi krisis spiritual dan ekologis. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menganalisis karya utama kedua tokoh serta referensi pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun memiliki pendekatan berbeda, keduanya sepakat bahwa hubungan manusia dengan Tuhan merupakan inti dari metafisika Islam. Penelitian ini mempertegas relevansi metafisika dalam menjawab tantangan modern seperti materialisme, sekaligus menawarkan solusi untuk memperkuat spiritualitas dan menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Rekonstruksi Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Muhammad Abduh dan KH. Ahmad Dahlan dalam Konteks Modernisasi Sri Rezki; Djeprin E. Hulawa; Alwizar Alwizar
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i2.7084

Abstract

Jurnal ini mengkaji rekonstruksi pendidikan Islam melalui analisis pemikiran Muhammad Abduh dan KH. Ahmad Dahlan dalam konteks modernisasi. Modernisasi di sini diartikan sebagai upaya pembaruan pendidikan Islam agar relevan dengan dinamika sosial dan budaya, tanpa menghilangkan nilai-nilai spiritual Islam. Muhammad Abduh menekankan pentingnya reformasi institusi pendidikan seperti Al-Azhar dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, membuka ijtihad, serta memperbarui metode pembelajaran. Di sisi lain, KH. Ahmad Dahlan mengimplementasikan modernisasi pendidikan Islam di Indonesia melalui organisasi Muhammadiyah, dengan fokus pada penggabungan kurikulum agama dan umum serta pembentukan karakter berbasis nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah. Studi ini menyoroti persamaan visi kedua tokoh dalam memperjuangkan pendidikan yang holistik, meskipun konteks dan pendekatannya berbeda. Kajian ini menegaskan relevansi pemikiran mereka dalam membangun pendidikan Islam yang progresif dan adaptif terhadap kebutuhan era modern.
Rasuna Said: Perintis Pemikiran Pendidikan Islam dan Emansipasi Perempuan Diah Ayu Anggraini; Alwizar; Djeprin E.Hulawa
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): JUNI: Sosial Studies
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/x6brcv02

Abstract

Artikel ini membahas kontribusi dan perkembangan pemikiran Hajjah Rangkayo Rasuna Said dalam bidang pendidikan Islam, khususnya dalam konteks perjuangan emansipasi perempuan dan pembentukan masyarakat yang adil dan berilmu. Rasuna Said merupakan tokoh perempuan Muslim Indonesia yang tidak hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, tetapi juga sebagai pendidik, jurnalis, dan orator yang progresif dalam memaknai Islam sebagai agama pembebasan. Melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, tulisan-tulisannya yang kritis, serta kiprahnya dalam politik dan jurnalistik, Rasuna mempromosikan pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan umat dan menghapus ketimpangan gender. Artikel ini mengkaji secara historis dan tematik pemikiran Rasuna Said, dengan menyoroti latar belakang pendidikan awalnya, perjuangan dalam ranah sosial-politik, gagasannya tentang kesetaraan gender dalam pendidikan Islam, serta warisan intelektualnya bagi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Rasuna Said tetap relevan sebagai inspirasi dalam membangun sistem pendidikan Islam yang inklusif, adil, dan transformatif. Artikel ini juga menegaskan pentingnya merevitalisasi nilai-nilai perjuangan Rasuna dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam kontemporer, terutama dalam konteks pengarusutamaan gender dan moderasi beragama.
Pemikiran Pendidikan Islam Al-Qabisi Sopia, Eta; Alwizar, Alwizar; Hulawa, Djeprin E.
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.29419

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji pemikiran pendidikan Al-Qabisi, tokoh pendidikan Islam klasik yang berpengaruh dalam perumusan sistem pendidikan pada masanya. Permasalahan yang diangkat adalah kurangnya pemanfaatan pemikiran tokoh klasik dalam pengembangan sistem pendidikan Islam kontemporer. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan. Fokus kajian mencakup pandangan Al-Qabisi mengenai tujuan pendidikan, peran guru, metode pengajaran, serta integrasi nilai-nilai moral dan spiritual dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qabisi menekankan pentingnya pendidikan berbasis akhlak, serta perpaduan antara ilmu agama dan rasionalitas. Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran guru dan pendidikan karakter sejak usia dini. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemikiran Al-Qabisi masih sangat relevan dan dapat dijadikan referensi penting dalam membangun sistem pendidikan Islam yang holistik dan berlandaskan nilai-nilai syariat.