Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

RELASI KEMITRAAN GENDERDALAM ISLAM S. Puyuh, Darsul
Sipakalebbi Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Sipakalebbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.253 KB)

Abstract

  Both Al-Qur’an and Hadis place women as a functional component of integrity development, existence and harmonious community. Al-Qur’an gives equal position between women and men with respect to obligations, deeds and access to their rights. From hadis perspective, the Prophet describes women as important figures for the country development and as the central for wellbeing. Women as the partners for the current and hereafter and good women are the beautiful accessories for both women and men. Baik Alquran maupun Hadis selalu menempatkan perempuan sebagai komponen fungsional bagi kebangkitan integritas, eksistensi dan harmonitas masyarakat. Alquran menempatkan martabat perempuan sejajar dengan laki-laki, baik dalam soal tanggungjawab, prestasi ibadah, ataupun dalam memperoleh dan menikmati hak-hak mereka yang berkaitan dengan kehidupan. Dalam beberapa hadis, Nabi menggambarkan perempuan sebagai figur penentu kelangsungan suatu bangsa. Perempuan dalam hal ini ibu, merupakan tokoh utama dalam perlakuan berbuat baik. Atau gambaran perempuan sebagai mitra sejajar dalam meraih prestise dunia dan prestasi akhirat. Begitu pula, perempuan shalihah sebagai perhiasan dunia yang terindah, bagi kehidupan dunia laki-laki dan perempuan itu sendiri, dan lain sebagainya.
WAWASAN BARU KRITIK DAN FIGH AL-HADIS MENGENAI KARAKTER PENCIPTAAN PEREMPUAN Darsul S. Puyuh
Al-Risalah Ar-Risalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.379 KB) | DOI: 10.24252/al-risalah.v15i2.846

Abstract

WAWASAN BARU KRITIK DAN FIGH AL-HADIS MENGENAI KARAKTER PENCIPTAAN PEREMPUAN
RELASI KEMITRAAN GENDERDALAM ISLAM Darsul S. Puyuh
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.404 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v1i1.286

Abstract

  Both Al-Qur’an and Hadis place women as a functional component of integrity development, existence and harmonious community. Al-Qur’an gives equal position between women and men with respect to obligations, deeds and access to their rights. From hadis perspective, the Prophet describes women as important figures for the country development and as the central for wellbeing. Women as the partners for the current and hereafter and good women are the beautiful accessories for both women and men. Baik Alquran maupun Hadis selalu menempatkan perempuan sebagai komponen fungsional bagi kebangkitan integritas, eksistensi dan harmonitas masyarakat. Alquran menempatkan martabat perempuan sejajar dengan laki-laki, baik dalam soal tanggungjawab, prestasi ibadah, ataupun dalam memperoleh dan menikmati hak-hak mereka yang berkaitan dengan kehidupan. Dalam beberapa hadis, Nabi menggambarkan perempuan sebagai figur penentu kelangsungan suatu bangsa. Perempuan dalam hal ini ibu, merupakan tokoh utama dalam perlakuan berbuat baik. Atau gambaran perempuan sebagai mitra sejajar dalam meraih prestise dunia dan prestasi akhirat. Begitu pula, perempuan shalihah sebagai perhiasan dunia yang terindah, bagi kehidupan dunia laki-laki dan perempuan itu sendiri, dan lain sebagainya.
ARADIGMA FIQH AL-HADITS TERHADAP PERILAKU POLITIK KONTEMPORER Darsul S Puyu
Al-Qalam Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.134 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i1.268

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena kampanye politik kontemporer di Kota Makassar dalam bingkai paradigma fiqh hadis, sebagai salah satu parameter fiqh siyasi dalam disiplin politik Islam (al-siyasat al-syar’iyyah). Dengan memanfaatkan metode kualitatif sebagai piranti, peneliti sebagai instrumen utama menggunakan teknis purposeful sampling dalam memilih informan yang qualified memberikan data terkait realitas perpolitikan saat ini, penelitian ini dikombinasikan dengan studi literatur terkait dengan nash-nash hadis yang mengafirmasi perilaku politik. Penelitian ini menemukan fakta bahwa aktivitas politik praktis saat ini masih kerap diwarnai perilaku politik yang mendistorsi fatsoen politik adiluhung, fenomena tersebut sangat vulgar baik dalam bentuk kampanye dan janji politik yang disampaikan para capres dan caleg yakni secara vulgar menyampaikan pernyataan dan meminta agar dirinya dipilih. Mereka juga menyampaikan janji-janji politik yang belum tentu sanggup direalisasikan saat berkampanye. Tidak jarang dari ajang kampanye tersebut para caleg melakukan politik uang, yang mengakibatkan terjadinya praktik KKN bila mereka telah terpilih nanti. Hadis-hadis yang diteliti dalam penelitian ini lebih banyak yang berstatus ahad, di samping ada yang mutawatir. Dari segi kualitasnya, semua hadis-hadis yang diteliti, otentik berkualitas shahih li dzatihi.
Otoritas Istri Perspektif Akademisi Hadis: Analisis Resepsi Exegesis terhadap Hadis Rā‘iyah Nurul Fadhilah Faisal; Siti Aisyah; Darsul S. Puyu; Akbar Akbar
Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Vol 16, No. 2, November 2021
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/ai.v0i0.3102

Abstract

Some circles use the wife’s status as an excuse to treat women as second-class citizens. The Prophet’s hadith requiring the wife to be completely subservient to her husband, such as the hadith presupposing the requirement to prostrate to her husband, is one of the frequently misinterpreted explanations. The misreading of the hadith jeopardizes the Prophet’s mission as raḥmatan li al-‘ālamīn (mercy to entire universe). The purpose of this research is to look at the hadith regarding rā‘iyah, which is a hadith that suggests features of wife leadership in order to confirm the wife's authority in the home. This study examines how hadith experts interpret the hadith about rā‘iyah. Academics’ comprehension and application of hadith demonstrate patriarchal culture’s impact, with cultural-realistic readings still dominating. Academics’ ideal comprehension of the hadith appears to have failed to mitigate the influence of the surrounding culture. This study’s conceptual implication is that the rā‘iyah hadith refutes the idea that the wife is a second-class citizen who is submissive to the husband. A fundamental that must be fostered in Muslim households is the concept of equal responsibility for family success. This article discovers that a person’s ideal understanding of hadith is not always based on actual understanding because reality and culture might influence a person’s ideal understanding of hadith. As a result, an individual’s understanding cannot be utilized as an absolute argument that matches Islamic teachings’ goals.
KONTROVERSI KEADILAN PARA SAHABAT (PERTARUNGAN DALAM KRITIK HADIS) Darsul S Puyu
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.298 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v7i2.2777

Abstract

Predikat generasi sahabat sebagai generasi terbaik, adalah karena mereka produk pertama umat Islam yang dididik langsung oleh Nabi Muhammad saw. Sekalipun demikian, sebagai manusia biasa para sahabat tidak terbebas dari melakukan kesalahan dan dosa. Keadilan sahabat menjadi dipertanyakan mengingat banyaknya fakta sejarah yang mencoreng kredibilitas sahabat sebagai generasi terbaik. Keadilan para sahabat memang mendapat jaminan dari Alquran atau Hadis. Keadilan sahabat itu jelas belum dikatakan absolut berlaku pada masa awal-awal pembentukan tasyrik. Keadilan itu hanya berlaku setelah para sahabat memiliki tingkat kematangan dan kemapanan agama yang baik. Secara umum dapat dikatakan sahabat Nabi sebagai generasi yang adil, namun, secara individu ada di antara sahabat yang tetap pernah terlibat dengan kasus pendustaan terhadap nabi, atau mereka yang terlibat dalam kasus poltik atau kasus asusila.Implikasinya, semua generasi dapat menjadi generasi terbaik, selama mereka patuh dan taat kepada aturan-aturan Islam.Untuk menerapkan kaedah semua sahabat  adil yakni dalam memposisikan generasi sahabat secara umum, tetapi dalam mengkritisi pribadi sahabat, maka setiap individu harus diteliti tingkat akurasinya, sesuai dengan tingkat kematangan spiritual, intelegensi, kestabilan emosi, dan kemampuan mereka mengendalikan hawa nafsu.
Respecting the Red White Flag and National Commitment in the Perspective of Hadith Rahman Rahman; Zulfahmi Alwi; Darsul S. Puyu; Sawaluddin Sawaluddin; Dony Arung Triantoro
ADDIN Vol 16, No 1 (2022): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v16i1.13732

Abstract

The purpose of this study is to analyze the phenomena that occur in the community related to respect for the Red and White Flag and national commitment in the perspective of hadith. This study uses a qualitative approach. Qualitative approach is the process of solving the problem under study by describing the object of research in detail. The data collection technique in this study uses library research in the form of documentation studies, namely books that are relevant to hadith texts. The analysis technique used is through three paths, namely: first, data reduction, which is defined as the process of selecting data; secondly, presenting data; thirdly, drawing conclusions. As for the results of this study, the opinion which says that respecting the flag as a shirk behavior does not have a strong argument. They consider that respecting the flag is not included in worship. so respecting the flag means respecting inanimate objects, respecting inanimate objects is including shirk. The implications of the results of this study can at least provide input to policy makers that normatively, mainly based on hadith, that respecting the flag as a symbol of the state is permissible. In general, this research has provided an understanding that respecting the red and white flag is a form of national commitment that must be preserved continuously.
Implementasi Hadist Tasamuh Dalam Meningkatkan Moderasi Beragama Darsul; Rahman, Arif; Tasbih
Ihyaussunnah : Journal of Ulumul Hadith and Living Sunnah Vol 2 No 1 (2022): LIVING SUNNAH (June)
Publisher : Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.077 KB) | DOI: 10.24252/ihyaussunnah.v2i1.30228

Abstract

This study aims to investigate the implementation of tasamuh hadith in Maradekaya Village. This type of research is qualitative which is presented descriptively. The research took place from April to September 2021. The primary data sources in this study were religious leaders, religious instructors, and the community, both Muslim and non-Muslim. Secondary data include books, magazines, newspapers, television, radio, and other relevant written works—methods of collecting data through observation and interviews. The research instruments used were cameras, voice recorders, pens, and notebooks. Data analysis was carried out by means of data condensation, data presentation, data triangulation, and drawing conclusions. The results show that even though people do not understand and have not memorized the tasamuh hadith, it can be concluded that the tasamuh hadiths have been implemented well in Maradekaya Village, Makassar City because people understand each other between religious adherents, give each other the right and freedom to worship according to their beliefs. each. Also, live side by side safely and peacefully. The implication of this research is that many terms related to Islamic fiqh are not yet known in the community, such as tasamuh. There has also been no massive movement to promote the hadith about tasamuh. It is recommended that hadith as a second legal basis must be adequately socialized, not primarily in social relations only in universities but also in the general public.
PERTIMBANGAN MASLAHAT-MUDARAT TERHADAP PENGALIHAN PENGASUHAN ANAK OLEH ORANG TUA DI KABUPATEN PINRANG Subandi, Akbar; Puyu, Darsul
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab Vol. 1, No. 2, Mei 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.v1i2.13727

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas permasalahan tentang pengalihan pengasuhan anak oleh orang tua dan Pandangan hukum islam terhadap Pengasuhan Anak oleh orang tua serta faktor penyebab pengalihan pengasuhan anak oleh orang tua di kabupaten Pinrang. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui Pandangan hukum islam terhadap pengasuhan anak oleh orang tua serta faktor penyebab pengalihan pengasuhan anak oleh orang tua. Jenis penelitian ini yaitu penelitian lapangan karena kajian penelitian ini merupakan bagian dari wacana kajian tentang sosiologi hukum. Konsep pengasuhan anak ialah mendidik dan membina anak menurut ajaran Islam dan as-sunnah merupakan suatu cara yang dikehendaki oleh Allah agar anak-anak kita dapat terjaga dari siksa api neraka. Serta pengasuhan anak secara islam adalah satu kesatuan yang utuh dari sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak yang masih kecil dalam mengasuh, mendidik, membina, membiasakan, dan membimbimbing anak secara optimal berdasarkan Al-Qura’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Sebagian besar orang tua di kabupaten Pinrang menerapkan pengalihan pengasuhan anak yang cenderung otoriter dan pengaruh yang sangat signifikan dalam pengalihan pengasuhan anak ialah faktor ekonomi dan faktor pendidikan.Kata kunci: Pengasuhan, Tinjauan Hukum Islam, Mattiro Sompe, Pinrang.                                                              AbstractThis paper discusses issues regarding the transfer of childcare by parents and Islamic legal views on childcare by parents and the factors causing the transfer of childcare by parents in Pinrang district. This writing aims to determine the view of Islamic law on parenting by parents and the factors causing the transfer of parenting by parents. This type of research is field research because this research study is part of the discourse on the study of legal sociology. The concept of parenting is to educate and nurture children according to the teachings of Islam and as-Sunnah is a way desired by God so that our children can be awake from the torments of hellfire. And Islamic childcare is a unified whole of the attitudes and treatment of parents of young children in caring, educating, fostering, accustoming, and mentoring children optimally based on Al-Qura'an and the Sunnah of the Prophet Muhammad. Most of the parents in Pinrang district apply the transfer of childcare that tends to be authoritarian and the very significant influence in the transfer of childcare is economic factors and educational factors.Keywords: Parenting, Islamic law review, Mattiro Sompe, Pinrang
RITUAL MERAU ASSALAMAKANG DI DESA PALECE KECAMATAN LIMBORO KABUPATEN POLEWALI MANDAR (Studi Perbandingan Hukum Islam dan Hukum Adat) Aisyah, Nur; Puyu, Darsul S
Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab Vol. 1, No. 3, September 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/shautuna.v1i3.14909

Abstract

Abstrak Penelitian dalam rangka penulisan artikel, artikel ini membahas pokok-pokok masalah tersebut. Yang diuraikan ke dalam tiga sub masalah yaitu: pertama, bagaimana prosesi ritual Merau Assalamakang  yang dilakukan masyarakat Desa Palece Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali Mandar, kedua, nilai-nilai apa yang terkandung dalam ritual merau assalamakang, Dan ketiga, bagaimana pandangan hukum Islam dan hukum Adat terhadap ritual merau assalamakang. Jenis penelitian ini bersifat kualitatif  dengan menggunakan pendekatan syar’i yang dimana pendekatan ini adalah pendekatan terhadap hukum Islam dan hukum Adat yang berhubungan dengan pendapat para ulama. Dalam mengumpulkan data melalui wawancara, penulis menggunakan studi kasus. Teknik yang digunakan adalah membaca literatur yang mempunyai ketertarikan dan relevansi dengan masalah pokok-pokok dan sub-sub masalah mengenai ritual ini. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ritual  Mandar seperti Merau Assalamakang oleh masyarakat Mandar memiliki maksud dan tujuan yaitu meminta keselamatan dan permohonan doa kesembuhan serta rasa syukur. Pelaksanaan ritual ini dapat berlangsung kapan saja tetapi waktu dan pelaksanaannya tetap memperhitungkan waktu dan hari yang dianggap baik.Kata Kunci: Ritual; Merau Assalamakeng; Hukum Islam; Hukum Adat.AbstractResearch in the context of thesis writing, this thesis discusses the main points of the problem. Described into three sub-problems, namely: first, how the Merau Assalamakang ritual procession is carried out by the people of Palece Village, Limboro Subdistrict, Polewali Mandar Regency, second, what values are contained in the merau assalamakang ritual, and third, how are the views of Islamic law and Customary law towards the ritual of merau assalamakang. This type of research is qualitative by using a shar'i approach where this approach is an approach to Islamic law and Customary law that relates to the opinions of the scholars. In collecting data through interviews, the authors use case studies. The technique used is reading literature that has an interest and relevance to the main issues and sub-problems regarding this ritual. From the results of this study indicate that, Mandar rituals such as Merau Assalamakang by the Mandar community have the intent and purpose of asking for safety and requests for healing prayers and gratitude. The implementation of this ritual can take place at any time but the time and implementation still take into account the time and day that is considered good.Keywords: Rituals; Merau Assalamakeng; Islamic Law; Customary Law.