Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Amoksisilin dan Cefadroxil Terhadap Dana Kapitasi untuk ISPA pada Balita Novriana, Rizka; Susilawati, Endang; Fahri, Muhammad; Hartono, Budi; Daud, ALfani Ghutsa
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4016

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama kunjungan balita ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dan sering memerlukan terapi antibiotik. Dalam sistem pembiayaan kapitasi, pemilihan antibiotik yang efisien menjadi penting agar Puskesmas dapat memberikan pelayanan berkualitas tanpa membebani anggaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis minimalisasi biaya antara amoksisilin dan sefadroksil dalam terapi ISPA pada balita di Puskesmas, dengan asumsi efektivitas klinis kedua antibiotik adalah setara. Menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan cost-minimization analysis (CMA), data penggunaan antibiotik, harga obat, dan pengeluaran kapitasi dianalisis dari perspektif fasilitas kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa dari 1.284 kasus ISPA, amoksisilin digunakan pada 69,4% kasus dan sefadroksil pada 30,5% kasus. Meskipun demikian, biaya sefadroksil menyumbang 57,4% dari total pengeluaran antibiotik karena harga per episodenya 3,07 kali lebih mahal dibandingkan amoksisilin. Total biaya aktual sebesar Rp 15.706.000 dapat ditekan hingga Rp 9.630.000 apabila seluruh kasus menggunakan amoksisilin, menghasilkan potensi penghematan sebesar Rp 6.076.000 (38,7%). Simulasi skenario lain juga menunjukkan penghematan signifikan bila penggunaan sefadroksil dibatasi hanya pada kasus khusus. Dengan demikian, amoksisilin merupakan pilihan paling efisien secara ekonomi untuk terapi ISPA balita dan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dana kapitasi serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer.
Tinjauan Konseptual tentang Prinsip dan Komponen Manajemen Logistik Farmasi di Rumah Sakit Rahmi, Sherly Firsta; Dewi, Nur Husna; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4461

Abstract

Manajemen logistik farmasi merupakan komponen krusial dalam pelayanan rumah sakit karena berperan dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang tepat jenis, jumlah, mutu, dan waktu. Data nasional menunjukkan bahwa lebih dari 52% rumah sakit di Indonesia masih menghadapi permasalahan logistik farmasi, seperti ketidaktepatan perencanaan kebutuhan, distribusi yang kurang optimal, serta tingginya angka obat kedaluwarsa. Sementara itu, laporan internasional mencatat bahwa sekitar 40–60% fasilitas kesehatan di negara berkembang mengalami kendala serupa. Kondisi tersebut menegaskan urgensi penguatan sistem manajemen logistik farmasi yang efektif dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara konseptual prinsip dan komponen utama manajemen logistik farmasi di rumah sakit berdasarkan sintesis 20 artikel jurnal nasional dan internasional. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan menelaah publikasi periode 2020–2025 yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Artikel yang dikaji dipilih berdasarkan relevansi dengan topik manajemen logistik farmasi dan konteks pelayanan rumah sakit. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen logistik farmasi mencakup beberapa tahapan utama, yaitu perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, serta pengendalian dan evaluasi stok. Seluruh tahapan tersebut harus menerapkan prinsip efisiensi, akurasi, transparansi, dan jaminan mutu. Berbagai penelitian menekankan strategi implementatif seperti penggunaan metode kuantitatif ABC, VEN, dan EOQ, penyelarasan formularium rumah sakit, penerapan sistem penyimpanan FEFO dan FIFO, digitalisasi sistem inventori, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia farmasi. Dengan demikian, penguatan sistem logistik farmasi merupakan prioritas strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan menjamin keselamatan pasien.
Evaluasi Ekonomi Intervensi Kebijakan Kesehatan untuk Memerangi Penyakit Tidak Menular (PTM): Tinjauan Sistematis: Efektivitas Biaya pada Populasi Berisiko Tinggi Despitasari, Despitasari; Andria, Dwi Septi; Valenti, Ruri; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5010

Abstract

Evaluasi ekonomi merupakan komponen penting dalam proses pengambilan keputusan di sektor kesehatan, terutama ketika sistem kesehatan menghadapi keterbatasan sumber daya, meningkatnya beban penyakit kronis, serta tekanan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kajian ini menguraikan konsep dasar evaluasi ekonomi, urgensinya dalam konteks Indonesia, jenis analisis yang umum digunakan, serta contoh aplikasinya dalam intervensi kesehatan. Melalui tinjauan naratif terhadap literatur dan pedoman internasional, penelitian ini menemukan bahwa evaluasi ekonomi melalui metode seperti Cost-Minimisation Analysis, Cost-Benefit Analysis, Cost-Effectiveness Analysis, dan Cost-Utility Analysis memberikan kerangka objektif untuk menilai efisiensi biaya dan hasil kesehatan dari berbagai intervensi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan evaluasi ekonomi masih menghadapi sejumlah hambatan, seperti keterbatasan data biaya dan outcome, minimnya kapasitas SDM, serta rendahnya pemanfaatan bukti ilmiah dalam kebijakan. Namun demikian, evaluasi ekonomi memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas kebijakan kesehatan, memperkuat keberlanjutan pembiayaan JKN, serta mendukung adopsi teknologi kesehatan yang lebih tepat guna. Contoh penerapan, seperti analisis biaya-utilitas pada program skrining diabetes, menunjukkan bahwa evaluasi ekonomi mampu memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan program preventif yang lebih hemat biaya. Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan bahwa integrasi evaluasi ekonomi secara konsisten ke dalam perencanaan dan kebijakan dapat meningkatkan efisiensi sistem kesehatan nasional dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih berbasis bukti.
Analisis Biaya-Manfaat Telemedicine untuk Tatalaksana Penyakit Kronis: Studi Cost-Benefit pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Prajuita, Muthia; Filyani, Isra; Marika, Sandra; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5178

Abstract

Pembangunan kesehatan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. Kesehatan yang baik berkontribusi pada peningkatan produktivitas, penurunan beban pembiayaan jangka panjang, serta stabilitas sosial dan ekonomi. Namun, keterbatasan anggaran pemerintah, meningkatnya biaya teknologi medis, serta terjadinya transisi epidemiologi penyakit menuntut adanya pengambilan keputusan kesehatan yang efisien dan berbasis bukti ekonomi yang kuat. Cost Benefit Analysis (CBA) merupakan salah satu metode evaluasi ekonomi yang digunakan dengan cara membandingkan seluruh biaya dan manfaat suatu intervensi kesehatan dalam satuan moneter. Pendekatan ini bertujuan untuk menilai kelayakan program serta nilai tambah ekonomi yang dihasilkan, sehingga dapat menjadi dasar rasional dalam penentuan kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep, penerapan, dan implikasi penggunaan CBA dalam sektor kesehatan, khususnya dalam mendukung pengambilan keputusan kebijakan dan manajerial di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan analitis-deskriptif melalui telaah literatur ilmiah, laporan kebijakan, serta pedoman internasional yang relevan. Analisis dilakukan dari perspektif sosial dan pemerintah dengan mengidentifikasi biaya langsung, biaya tidak langsung, serta manfaat ekonomi yang dikonversi menggunakan pendekatan Value of Statistical Life dan Willingness to Pay. Hasil kajian menunjukkan bahwa CBA mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai kelayakan ekonomi intervensi kesehatan, terutama pada program promotif dan preventif seperti imunisasi dan pengendalian penyakit. Selain itu, CBA membantu penentuan prioritas program, meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya, serta mendukung keberlanjutan sistem kesehatan. Dengan penerapan asumsi yang transparan dan analisis sensitivitas yang memadai, CBA berpotensi menjadi instrumen strategis dalam perencanaan dan evaluasi kebijakan kesehatan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Analisis ABC-VEN sebagai Alat Pengendalian Persediaan Obat untuk Meningkatkan Efisiensi Anggaran Farmasi Amalia, Rosi; Kasmiati, Neng; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5657

Abstract

Pelayanan farmasi merupakan salah satu komponen utama dalam operasional rumah sakit yang menyerap porsi besar dari biaya operasional dan berpotensi menimbulkan tekanan terhadap keberlanjutan keuangan institusi. Di Indonesia, proporsi biaya obat dilaporkan mencapai 40–50% dari total biaya operasional rumah sakit, jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju yang berada pada kisaran 10–20%. Kondisi ini menuntut penerapan sistem pengendalian persediaan obat yang efektif, khususnya dalam konteks implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan mekanisme pembayaran INA-CBGs yang membatasi fleksibilitas anggaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode analisis ABC–VEN sebagai alat pengendalian persediaan obat dalam meningkatkan efisiensi anggaran farmasi serta dampaknya terhadap likuiditas rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif-analitik terhadap artikel jurnal nasional dan internasional, buku teks, laporan penelitian, serta regulasi pemerintah yang relevan dengan manajemen persediaan farmasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa klasifikasi ABC secara konsisten menempatkan sekitar 10–20% item obat dalam kategori A yang menyerap 70–80% total anggaran farmasi. Integrasi dengan analisis VEN memungkinkan identifikasi obat berbiaya tinggi namun berdampak klinis rendah (kategori AN) yang menjadi sasaran utama efisiensi. Berbagai studi melaporkan bahwa penerapan ABC–VEN mampu menghasilkan penghematan anggaran farmasi sebesar 6–15%, menurunkan angka stockout obat vital, serta meminimalkan dead stock. Kesimpulan kajian ini menunjukkan bahwa metode ABC–VEN merupakan instrumen strategis yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan efisiensi anggaran farmasi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperbaiki likuiditas rumah sakit melalui pengurangan overstock dan percepatan perputaran persediaan.
Evaluasi Penerimaan dan Penyimpanan Obat di Instalasi Farmasi di Rumah Sakit Faizah, Hashifah; Farhiyah, Nur Laili; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5867

Abstract

Penerimaan dan penyimpanan obat merupakan bagian krusial dalam manajemen obat di rumah sakit karena berpengaruh langsung terhadap mutu obat dan keselamatan pasien. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) memegang peran strategis dalam menjamin bahwa obat yang diterima dan disimpan memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat. Kesalahan pada tahap ini berpotensi menimbulkan kerugian besar dari sisi klinis, ekonomi, dan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian proses penerimaan dan penyimpanan obat di instalasi farmasi rumah sakit dengan standar pelayanan kefarmasian yang berlaku. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur sistematis dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah, jurnal nasional terakreditasi, dan dokumen ilmiah relevan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif untuk mengidentifikasi tingkat kesesuaian praktik di lapangan serta permasalahan yang sering ditemukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses penerimaan obat pada umumnya telah mencakup pemeriksaan administrasi dan fisik, namun masih terdapat ketidaksesuaian pada aspek kelengkapan dokumentasi, pemantauan suhu untuk obat sensitif, dan konsistensi pelaksanaan prosedur yang dipengaruhi oleh beban kerja dan kompetensi petugas. Pada aspek penyimpanan, sebagian besar rumah sakit telah menerapkan prinsip dasar, tetapi masih menghadapi kendala terkait pengendalian suhu dan kelembaban, penerapan sistem FIFO dan FEFO yang tidak konsisten, penataan obat berisiko tinggi dan LASA, serta sistem pencatatan stok yang terintegrasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi berkala, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan sistem manajemen obat sebagai dasar perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
Tren Penelitian Kepuasan Dan Loyalitas Pasien Di Rumah Sakit: Sebuah Literature Review Rahmi, Sherly Firsta; Dewi, Nur Husna; Kasmiati, Neng; Amalia, Rosi; Yorismanto, Yorismanto; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 1 (2026): Vol 20 No. 01 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i1.7566

Abstract

Kepuasan dan loyalitas pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan rumah sakit, terutama di era kompetisi layanan kesehatan yang semakin meningkat. Tren penelitian dalam satu dekade terakhir mennujukkan bahwa kedua aspek ini dipengaruhi oleh berbagai dimensi pelayanan, baik dari sisi kualitas klinis maupun nonklinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tren penelitian mengenai kepuasan dan loyalitas pasien di rumah sakit berdasarkan temuan ilmiah dalam 10 tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah literature review deskriptif dengan menelaah 20 jurnal nasional dan internasional yang relevan, dipilih berdasarkan kriteria inklusi terkait topik kepuasan, loyalitas, dan mutu layanan rumah sakit. Hasil telaah menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menekankan peran kualitas layanan, komunikasi tenaga kesehatan, kecepatan pelayanan, lingkungan fisik, serta hubungan interpersonal sebagai faktor dominan pembentuk kepuasan pasien. Selain itu, kajian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan penelitian terkait kebutuhan pasien di masa depan, terutama dalam konteks pelayanan berbasis patient-centered care dan pemanfaatan digital health yang adaptif terhadap perubahan ekspektasi masyarakat. Kesimpulannya, penelitian kepuasan dan loyalitas pasien perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif dan berorientasi pada pengalaman pasien untuk menjawab tantangan dan harapan masyarakat terhadap mutu layanan rumah sakit di masa mendatang. Kata Kunci:  Kecepatan Layanan, Kepuasan Pasien, Komunikasi Tenaga Kesehatan, Kualitas Pelayanan, Loyalitas Pasien 
Pendekatan Patient-Centered Marketing Dalam Meningkatkan Kepuasan Dan Loyalitas Pasien Di Rumah Sakit Kasmiati, Neng; Amalia, Rosi; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Vol 20 No. 02 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i2.7565

Abstract

Penerapan patient-centered marketing menjadi strategi penting dalam meningkatkan daya saing dan kualitas layanan rumah sakit. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendekatan pemasaran yang berfokus pada kebutuhan, preferensi dan pengalaman pasien dapat mempengaruhi tingkat kepuasan serta loyalitas pasien. Dengan menggunakan metode literature review terhadap 20 jurnal nasional dan internasional, studi ini menyimpulkan bahwa penerapan patient-centered marketing yang tepat dapat meningkatkan kualitas interaksi layanan, memperkuat komunikasi, serta mendukung terciptanya pengalaman pasien yang lebih positif. Dari sudut pandang manajerial, strategi ini berperan sebagai alat untuk memahami harapan pasien, memantau kualitas pelayanan, serta mengevaluasi efektivitas program pemasaran rumah sakit. Selain itu, patient-centered marketing juga menjadi dasar bagi pengambilan keputusan strategis dalam meningkatkan kepuasan dan retensi pasien, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Studi ini menegaskan bahwa rumah sakit yang secara konsisten menerapkan penerapan pemasaran berorientasi pasien cenderung memiliki tingkat kepuasan dan loyalitas yang lebih tinggi serta hubungan jangka panjang yang lebih kuat dengan pasien. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas manajemen dan tenaga kesehatan dalam menerapkan prinsip pelayanan yang berpusat pada pasien sebagai strategi keberlanjutan rumah sakit.Kata Kunci: Kepuasan Pasien, Loyalitas Pasien , Patient-Centered Marketing
Strategi Perencanaan Kebutuhan Obat Dan Alat Kesehatan Di Fasilitas Kesehatan Kasmiati, Neng; Amalia, Rosi; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 1 (2026): Vol 20 No. 01 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i1.7569

Abstract

Perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan merupakan komponen penting dalam manajemen logistik fasilitas kesehatan karena memengaruhi ketersediaan pelayanan, mutu layanan, dan efisiensi anggaran. Data nasional menunjukkan bahwa 41% rumah sakit mengalami kekosongan obat esensial setidaknya sekali dalam satu tahun, sementara 28% melaporkan ketidaksesuaian pengadaan alat kesehatan, terutama saat terjadi peningkatan kasus penyakit. Ketidaktepatan perencanaan dapat menimbulkan kekosongan stok, penumpukan obat kedaluwarsa, dan ketidakefisienan operasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi perencanaan kebutuhan logistik farmasi melalui pendekatan konsumsi, epidemiologi, dan metode kombinasi. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap 25 artikel nasional dan internasional yang diterbitkan pada periode 2015–2024 dari Google Scholar, PubMed, dan Portal Garuda dengan kata kunci yang relevan. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan relevansi, kelengkapan teks, dan kesesuaian metodologi. Hasil menunjukkan bahwa metode konsumsi paling banyak digunakan karena mudah diterapkan, namun akurasinya sangat dipengaruhi kualitas pencatatan. Metode epidemiologis lebih sesuai untuk penyakit kronis dan program prioritas, sedangkan metode kombinasi memberikan hasil perencanaan yang lebih stabil, terutama pada fasilitas dengan kebutuhan beragam. Penggunaan sistem informasi logistik juga terbukti meningkatkan akurasi perencanaan sebesar 30–40%. Kesimpulannya, perencanaan optimal memerlukan penerapan metode yang adaptif, didukung pencatatan yang baik, pemanfaatan teknologi informasi, dan koordinasi antarunit.Kata Kunci: Logistik Farmasi, Perencanaan Kebutuhan Obat, Pengendalian Persediaan
Regulation of Drug Procurement and Supply Chain Management in Indonesian Hospitals: Implications for Drug Availability and Mitigation of Drug Shortage Arrasily, Nailul Fithri; Minarsih, Tri Jenny; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
Jurnal Ilmiah Ekotrans & Erudisi Vol. 5 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69989/yg78vk12

Abstract

Pharmaceutical management in hospitals is a critical component of the healthcare system, directly influencing service quality and operational sustainability. This study examines the relationship between the pharmaceutical regulatory framework established by the Ministry of Health (Kemenkes) and the National Agency of Drug and Food Control (BPOM) and the operational performance of pharmaceutical Supply Chain Management (SCM) in Indonesian hospitals. A Systematic Literature Review (SLR) using a Scoping Review approach was conducted to synthesize quantitative evidence on drug procurement regulations, distribution, and inventory efficiency. Secondary data show that 34.7% of hospitals experience shortages of essential medicines at least once a year, and 80% of pharmaceutical distributors (PBFs) fail to meet the maximum three-day delivery lead time. This highlights a substantial gap between comprehensive regulations, such as Ministry of Health Regulation No. 17 of 2024 on Telepharmacy and BPOM Regulation No. 20 of 2025 on Good Distribution Practice (CDOB), and operational logistics implementation. The main challenge lies not in regulatory design but in weak enforcement of logistical discipline and supplier monitoring. Recommended strategies include performance-based contracts linking lead-time compliance to penalties or incentives and continuous data-driven training for pharmaceutical personnel. Strengthening the synergy between regulatory frameworks and operational discipline is essential to ensure sustainable drug availability and high-quality healthcare services in Indonesia.