cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JCES (Journal of Character Education Society)
ISSN : 27153665     EISSN : 26143666     DOI : 10.31764
Core Subject : Education,
Journal of Character Education Society (JCES) | ISSN 2614-3666, is one of the devotion journals managed by the Faculty of Teacher Training and Education of Muhammadiyah University of Mataram and published every January and July. The publication of JCES aims to disseminate conceptual thinking and ideas, especially the results of community service, including: (1) science, applied, social, economic, cultural, ICT development, and administrative services, (2) training and improvement of educational technology outcomes, agriculture, information and communication, and religion (3) Teaching and empowering community and community of students, youth and community institutions on an ongoing basis. All scope is realized to the community to form a society of character and uphold the values of education.
Arjuna Subject : -
Articles 524 Documents
PENDAMPINGAN LANSIA DALAM MENINGKATKAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN BERMAIN PUZZLE Elisabeth Daeli, Novita; Pranata, Lilik; Ajul, Keristina; Sri sukistini, Anastasya
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.6028

Abstract

Abstrak: Lansia merupakan bagian pada tahap tumbuh kembang manusia, lansia sering mengalami kendala dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya kemampuan kognitif, salah satu intervensi yang dilakukan adalah dengan bermain puzzle. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menigkatkan fungsi kognitif pada lansia, kegiatan ini dilakukan selama satu minggu dengan memberikan pendampingan. Kegiatan ini dilakukan di Panti Sosial Lansia Harapan Kita. Setelah dilakukan pendampingan hasil yang didapatkan adalah adanya perubahan fungsi kognitif pada lansia menjadi lebih baik, walaupaun tidak signifikan, sehingga kegiatan pendampingan ini perlu dilakukan secara kontinyu dan komprehensif. Saran untuk pengelola panti perlu adanya kegiatan modifikasi dan kegitan yang rutin untuk meningkatkan fungsi kognitif.Abstract: The elderly are part of the stage of human growth and development, the elderly often experience obstacles in everyday life, one of which is cognitive ability, one of the interventions carried out is to play puzzles. This devotion activity aims to improve cognitive function in the elderly, this activity is carried out for one week by assisting, this activity is carried out at the Harapan Kita Elderly Social Home. After the assistance of the results obtained is that there is a change in cognitive function in the elderly for the better, although not significant, so this mentoring activity needs to be carried out continuously and comprehensively. Advice for the manager of the home needs regular modification and activity activities to improve cognitive function.
READING ALOUD ACTIVITIES OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS THROUGH THE LETS READ APPLICATION Sari, Dessy Dwitalia; Widya Rini, Tika Puspita; Susilawaty, Susilawaty
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.7624

Abstract

Abstrak: Kemampuan membaca merupakan keterampilan yang tidak bisa dihasilkan secara instan. Keterampilan membaca perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari siswa, terutama siswa kelas rendah yang masih berada pada tahap membaca permulaan. Adanya pandemi Covid-19 mempengaruhi kebiasaan membaca siswa. Hal ini turut andil memberikan pengaruh menurunnya minat baca pada siswa. Siswa yang terlibat dalam kegiatan membaca nyaring menggunakan aplikasi Lets Read adalah siswa kelas I dan II  Sekolah Dasar Semangat Dalam 2 Barito Kuala.  Pemilihan subyek pendampingan ini merujuk pada penelitian sebelumnya mengenai kemampuan membaca permulaan. Kemampuan membaca permualaan merupakan kunci bagi keberhasilan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Aplikasi Lets Read menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan minat baca siswa yang rendah. Tujuan pengabdian ini yaitu meningkatkan minat baca siswa dan pengenalan literasi digital bagi anak. Metode yang diterapkan yaitu survey ke sekolah, penentuan subyek pendampingan kegiatan membaca, dan pelaksanaan. Hasil kegiatan adalah meningkatnya minat baca siswa, terutama membaca permulaan bagi siswa kelas rendah. Sehingga proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien.Abstract: Reading ability is a skill that cannot be produced instantly. Reading skills need to be familiarized in students' daily lives, especially low-grade students who are still in the early reading stage. The Covid-19 pandemic has affected students' reading habits. This also contributes to the decreased interest in reading in students. Students who are involved in reading aloud using the Lets Read application are students in grades I and II of the Spirit Elementary School 2 Barito Kuala. The choice of the subject of this mentoring refers to previous research on early reading skills. The ability to read the beginning is the key to successful learning at the next level. The Lets Read application is a solution to overcome the problem of low student interest in reading. The purpose of this service is to increase students' reading interest and the introduction of digital literacy for children. The methods applied are surveys to schools, determination of mentoring for reading activities, and implementation. The result of the activity is an increase in students' interest in reading, especially early reading for lower grade students. So that the learning process runs effectively and efficiently.
REPRODUCTIVE HEALTH EDUCATION FOR PARENTS Brahmana, Ivanna Beru
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.8074

Abstract

Abstrak: Pengetahuan kesehatan reproduksi dan anatomi alat reproduksi perlu diketahui oleh para orang tua. Dengan demikian orang tua mempunyai bekal untuk memberikan informasi tersebut kepada putrinya. Anak tidak menerima informasi hanya dari lingkungan, tetapi informasi langsung dari orang tua merupakan hal penting. Selain menunjukkan kedekatan antara orang tua dan anak, maka anak pun akan merasa aman mendiskusikan hal-hal seputar alat reproduksi bila menginginkannya. Tujuan: Membekali orang tua tentang anatomi alat reproduksi dan pengetahuan kesehatan reproduksi agar bisa memberikan informasi tersebut pada putra-putri mereka. Metode: Memberikan penyuluhan tentang anatomi alat reproduksi dan kesehatan reproduksi. Penyuluhan diawali dengan pretes dan diakhiri dengan postes. Hasil & implikasi: Rerata nilai pretes 65% meningkat menjadi 87% sebagai nilai postes. Peserta penyuluhan merasa mendapat bekal yang cukup untuk lebih memahami anatomi alat reproduksi dan informasi seputar kesehatan reproduksi. Kesimpulan: Materi penyuluhan dirasakan mengena oleh orang tua selaku peserta pengabdian. Hal tersebut menjadi bekal mereka dalam berdiskusi dan mengawal putra-putri.Abstract:  Parents need to know about reproductive health and anatomy of reproductive organs. Thus parents have the provision to provide this information to their daughters. Children do not receive information only from the environment, but information directly from parents is important. In addition to showing the closeness between parents and children, children will feel safe discussing matters related to reproductive organs if they wish. Objective: To provide parents with the anatomy of reproductive organs and knowledge of reproductive health so that they can provide this information to their children. Methods: Provide counseling about the anatomy of reproductive organs and reproductive health. Counseling begins with a pretest and ends with a pretest. Results & implications: The mean pretest score of 65% increased to 87% as the posttest score. The counseling participants felt that they were well equipped to better understand the anatomy of the reproductive organs and information about reproductive health. Conclusion: The counseling material was felt by parents as service participants. This has become their provision in discussing and escorting their children to be wise in knowing reproductive organs and discussing reproductive health.
EDUKASI KESEHATAN GEROGI (GERAKAN GOSOK GIGI) UNTUK MENJAGA KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANAK PRA SEKOLAH Oktaviani, Eva; Feri, Jhon; Aprilyadi, Nadi; Zuraidah, Zuraidah; Susmini, Susmini; Ridawati, Indah Dewi
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.7732

Abstract

Abstrak: Anak usia pra sekolah merupakan golongan rawan terjadi permasalahan kesehatan gigi dan mulut khususnya karies gigi. Anak pada usia tersebut sangat gemar mengkonsumsi makanan yang mengandung gula tanpa diimbangi dengan perawatan kesehatan gigi. Kebiasaan menanamkan peduli kesehatan gigi dan mulut perlu diajarkan sejak dini. Oleh karena itu, anak perlu diberi bekal pengetahuan tentang gosok gigi yang baik dan benar. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak pra sekolah tentang cara menggosok gigi yang baik dan benar. Peserta kegiatan terdiri dari anak pra sekolah dari PAUD Unggulan Ar Risalah Lubuklinggau berjumlah 35 anak. Tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah persiapan dengan melakukan studi pendahuluan ke PAUD, pelaksanaan penyuluhan yaitu edukasi kesehatan dengan media phantom gigi dan video animasi gosok gigi dilanjutkan dengan praktik gosok gigi yang benar didampingi oleh tim pengabdi dan mahasiswa. Hasil evaluasi terlihat ada peningkatan pemahaman anak tentang gigi sehat, manfaat gosok gigi, dan waktu gosok gigi, serta peningkatan ketrampilan anak praktik gosok gigi yang baik dan benar. Optimalisasi gerakan gosok gigi ini hendaknya dilakukan secara kontinyu di sekolah dan dilanjutkan di rumah dengan dukungan dari orang tua.Abstract: Pre-school age children are a group that is prone to dental and oral health problems, especially dental caries. Children at that age are very fond of consuming foods that contain sugar without being balanced with dental health care. The habit of instilling dental and oral health care needs to be taught from an early age. Therefore, children need to be equipped with knowledge about brushing their teeth properly and correctly. The purpose of this community service activity is to increase the knowledge and skills of pre-school children about how to brush their teeth properly and correctly. Participants in the activity consisted of 35 children from pre-school early childhood Ar Risalah Lubuklinggau. The stages of implementing this community service activity are preparation by conducting a preliminary study to PAUD, implementation of counseling, namely health education with dental phantom media and animated teeth brushing videos followed by correct tooth brushing practices accompanied by a team of service and students. The results of the evaluation showed that there was an increase in children's understanding of healthy teeth, the benefits of brushing their teeth, and when to brush their teeth, as well as increasing children's skills in good and correct brushing practices. Optimization of this tooth brushing movement should be carried out continuously at school and continued at home with the support of parents.
PENGAYAAN E-COMMERCE VISUAL MERCHANDISING UNTUK PRODUK UMKM ANSOR RITEL KABUPATEN SERANG Arum Wahyuni Purbohastuti; Asmi Ayuning Hidayah; Farah Putri Wenang Lusianingrum
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 4, No 4 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v4i4.5593

Abstract

Abstrak: Jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Serang di Oktober Tahun 2020 ini menembus angka 25.000 mengalami peningkatan sebelumnya di awal tahun 2020 baru mencapai 16.000 UMKM. Gerakan Pemuda Ansor Propinsi Banten sebagai organisasi massa kepemudaan terbesar di Propinsi Banten menangkap potensi pemuda yang bergerak di bidang UMKM sangat tepat menajadi alternatif pemberdayaan ekonomi sekaligus Salah satu yang dilakukan oleh GP Ansor yaitu dengan menciptakan wirausaha muda melalui UMKM Ansor ritel. Melalui UMKM Ansor ritel diharapkan mampu membangun sebuah ekosistem bagi anggota Ansor khususnya kabupaten Serang. Namun di era digital ini, Ansor ritel membutuhkan keterampilan untuk menghadirkan produk yang menarik konsumen, dimana penjualan dilakukan secara offline dan online. Tujuan dari kegiatan ini antara lain meningkatkan skill SDM pelaku UMKM Ansor ritel cara membuat tampilan desain produk agar menarik minat konsumen dan meningkatkan skill SDM pelaku UMKM binaan Ansor ritel dalam Teknik memfoto produk dengan bantuan alat visual merchandising agar menarik minat konsumen. Hal ini yang melatarbelakangi pentingnya untuk dilakukan pendampingan dari pihak Perguruan Tinggi dengan menggunakan metode pendampingan dan pelatihan e-commerce visual merchandising. Hasil dari kegiatan ini yaitu wirausaha muda UMKM Ansor ritel mampu menggunakan alat foto studio mini visual merchandising.Abstract: Number of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) in Serang Regency in this October 2020 has broken through the 25,000 mark, it has increased previously, at the beginning of 2020, it had only reached 16,000 MSMEs. Banten Province Ansor Youth Movement as a youth mass organization largest in Banten Province captures the potential of youth engaged in the field of MSMEs are very appropriate to be an alternative to economic empowerment as well as Wrong One thing that GP Ansor does is by creating young entrepreneurs through retail Ansor SMEs. Through retail Ansor SMEs, it is hoped that they can build an ecosystem for Ansor members, especially Serang district. But in this digital era, retail Ansor needs skills to presenting products that attract consumers, where sales are made offline and online. The purpose of this activity is to improve the HR skills of retail Ansor MSME actors to make product design displays to attract consumers' interest and improve the HR skills of MSME actors assisted by retail Ansor in the technique of photographing products with the help of visual merchandising tools to attract consumer interest. This is why it is so important to do assistance from the Universities using the . method visual merchandising e-commerce mentoring and training. The result of this activity is that young entrepreneurs of retail Ansor SMEs are able to use mini visual merchandising photo studio tools.
IMPLEMENTASI PELATIHAN PENGELOLA BERBASIS KEBUTUHAN PKBM SE-KOTA CIMAHI DI MASA PANDEMI COVID-19 Komar, Oong; Akhyadi, Ade Sadikin; Sulistiono, Eko; Sukmana, Cucu
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.4779

Abstract

Abstrak: Pelaksanaan program PKBM menjawab realitas kesulitan yang sering muncul di lembaga nonformal, terutama tantangan operasional kelembagaan di masa pandemi Covid-19. Peneliti menggunakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif untuk memaparkan data dan informasi, artinya menggambarkan luasnya data dan informasi berdasarkan desain studi dan tujuan penelitian, yaitu bagaimana menjalankan program pelatihan manajemen berbasis kebutuhan. Ada tiga tahapan pengelolaan program, yaitu tahap perencanaan program, pelaksanaan program, dan evaluasi program. Setiap tahapan dalam pelaksanaannya selalu diawali dengan analisis kebutuhan, kemudian menyusun rancangan forum yang direkomendasikan dengan pengembangan bahan diskusi, kemudian menyusun penilaian akhir yang diasumsikan dengan soal Pre Tes dan Post test serta diakhiri dengan evaluasi.Abstract:  The implementation of the PKBM program answers the reality of difficulties that often arise in non-formal institutions, especially the challenges of institutional operations during the Covid-19 pandemic. The researcher uses descriptive research with qualitative methods to present data and information, which means describing the breadth of data and information based on the study design and research objectives, namely how to run a needs-based management training program. There are three stages of program management, namely the program planning stage, program implementation, and program evaluation. Each stage in its implementation always begins with a needs analysis, then prepares a recommended forum design with the development of discussion materials, then prepares a final assessment which is assumed to be with Pre-Test and Post-test questions and ends with an evaluation.
EDUKASI HIPERTENSI DAN PENGUKURAN TEKANAN DARAH Wijayanti, Dewi; Paridah, Paridah; Tukan, Ramdya Akbar; Febrianti, Selvia
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.8057

Abstract

Abstrak: Hipertensi. atau tekanan. darah tinggi.yang dikenal dengan.the silent killer karena menyebabkan kematian secara tiba- tiba. Penyakit hipertensi disebabkan oleh beberapa factor seperti pola hidup.yang terkait dengan kebiasaan konsumsi makan yang.tidak sehat, perokok, kurang berolahraga, gen atau keturunan dengan hipertensi. serta  faktor stress. Kesadaran masyarakat yang minim.dalam memeriksakan tekanan darah dan kurangnya.edukasi.tentang hipertensi.sehingga penderita yang sudah merasakan gejala namun tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami tekanan darah tinggi. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya kasus peningkatan tekanan darah berulang kali, tidak terkontrol dan.terjadinya dampak penyakit yang tidak diinginkan. Pengabdian kepada masyarakat di lakukan di panti werdha Al-Marhamah Tarakan Kalimantan Utara, tentang edukasi hipertensi dan pengukuran tekanan darah, Tujuannya agar masyarakat mengetahui tentang hipertensi, hasil pengukuran tekanan darah, pemahaman tentang pencegahan peningkatan tekanan darah. dan membangun kesadaran hidup sehat. Kegiatan PKM di awali dari tahap.persiapan, tahap  penyuluhan edukasi hipertensi dan pengukuran tekanan darah. Hasil PKM yang dilakukan pada bulan Juni tahun 2021 di panti werdhaAl-Marhamah Tarakan Kalimantan Utara, didapatkan hasil bahwa masyarakat di panti mengetahui tentang hipertensi, hasil pengukuran tekanan darah dan meningkatkanya pengetahuan. tentang pentingnya mengontrol tekanan darah, pencegahan dan pengobatan.Abstract:  Hypertension is also called the silent.killer because.it can cause sudden death. Hypertension is caused by several factors such as lifestyle related. to unhealthy eating patterns, bad.habits, lack of.exercise, genes of high blood pressure and stressors. Lack of public awareness. By controlling.the lack of knowledge about blood pressure and high blood pressure. I don't know them. Even though they have high blood pressure are already feeling symptoms. This causes the patient to experience repeated, uncontrolled increases. in blood. the pressure and even complications. Community service was carried out at nursing home Al-Marhamah Tarakan North Kalimantan, regarding hypertension education and blood pressure measurement. The goal is for the public to know about hypertension, blood pressure measurement results, understanding of hypertension.prevention and providing.awareness..in implementing. a healthy lifestyle. during, so.as to avoid hypertension or complications. PKM activities started from the preparation stage, the stage of hypertension education counseling activities and blood pressure measurement. The results of the PKM during which was carried out in June 2021 in the village nursing home Tarakan, North Kalimantan, showed that community knew about hypertension, the results of blood pressure measurements and increased their understanding of the importance.of controlling blood pressure, prevention and management of hypertension.
PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL) SEBAGAI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU SEKOLAH DASAR Radiansyah, Radiansyah; Jannah, Fathul; Sari, Raihanah; Hartini, Yayuk; Amelia, Rizky; Fahlevi, Reja
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.7821

Abstract

Abstrak: Pembelajaran dalam kurikulum 2013 menuntut agar dalam pelaksanaan pembelajaran siswa diberi kebebasan berpikir memahami masalah, membangun strategi penyelesaian masalah, mengajukan ide-ide secara bebas dan terbuka. Guru merupakan faktor yang berperan penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran, karena guru yang merencanakan, melaksanakan, dan melakukan penilaian dalam proses pembelajaran tersebut. Kegiatan guru dalam pembelajaran adalah melatih dan membimbing siswa berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang ciri-ciri dan cara pembuatan soal HOTS, serta memberikan pengalaman langsung dalam mengubah soal biasa menjadi soal HOTS. Kegiatan ini melibatkan 50 guru Sekolah Dasar Gugus Pangeran Antasari Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, penugasan, dan pelatihan pembuatan soal HOTS. Dari kegiatan yang dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa: 1) Kegiatan berdampak positif bagi guru. 2) Guru lebih mengetahui bagaimana ciri soal HOTS yang baik. 3) Guru juga mengetahui cara mengembangkan soal HOTS. Para peserta berharap adanya kegiatan sejenis dengan materi lanjutan.Abstrack: Learning in the 2013 curriculum demands that in the implementation of learning students  are given the freedom to think, understand problems, develop problem-solving strategies, propose ideas freely and openly. The teacher is a factor that plays an important role in determining the success of the learning process, because it is the teacher  who plans, implements, and conducts assessments in the learning process. The teacher's activities in learning are to train and guide students to think critically and creatively in solving problems . This community service activity aims to provide an understanding of the characteristics and methods of making HOTS questions, as well as providing direct experience in converting ordinary questions into HOTS questions. This activity involved 50 teachers from the Prince Antasari Cluster Elementary School,  Banjarbaru City, South Kalimantan. The methods used are lectures, discussions, assignments, and training on making HOTS questions. From the activities carried out, it can be concluded that: 1) Activities have a positive impact on teachers. 2) Teachers know more about the characteristics of good HOTS questions. 3) The teacher also knows how to develop HOTS questions. The participants hoped that there would be similar activities with advanced material.
PELATIHAN MEMAHAMI PENDIDIKAN SENI ANAK USIA DINI BAGI GURU-GURU PAUD Irmade, Oka; Widjanarko, Paulus; Andaryani, Eka Titi
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.7913

Abstract

Abstrak: Pengetahuan pendidikan Seni Anak Usia Dini merupakan merupakan salah satu bagian dari perkembangan kognitif. Melalui seni, anak-anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan fantasi dan kreativitas dengan berbagai cara dan juga mereka akan belajar bagaimana mengekspresikan diri, minat, kemampuan, serta keterampilan mereka. Anak-anak dapat menuangkan gagasannya dalam berbagai karya seni. Melalui seni, otak kanan dan kiri anak dapat berkembang dengan baik. Rendahnya kemampuan guru dalam memahami pendidikan seni bagi anak usia dini, Berdasarkan pengamatan saya, seorang guru PAUD perlu memahani tentang pendidikan seni dalam hal ini seni musik menjadi yang di utamakan dalam pelatihan kali ini. Fakta yang ada di lapangan guru hanya memiliki sedikit pengetahuan mengenai pendidikan seni khususnya seni musik. Metode yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) pendekatan secara partisipatif dan dialogis, yaitu dengan cara menghubungi Ketua PAUD Saraswati terlebih dahulu. Setelah itu, guru-guru tersebut dikumpulkan dan diajak bermusyawarah dengan tim pelaksana. (2) metode pelaksanaan program meliputi tahap pendahuluan, sosialisasi, tahap pelaksanaan pelatihan. Hasil yang dicapai melalui pelatihan ini telah di sampaikan mengenai wawasan tentang pendidikan seni anak usia dini, dalam pelatihan kali ini di beri wawasan tentang Definisi-definisi seni dalam 3 kategori, yakni : teori mimesis, teori ekspresi, teori citarasa dan lain-lain. Luaran yang dihasilkan publikasi artikel pengabdian dalam jurnal ilmiah.Abstract: Early Childhood Art education knowledge is one part of cognitive development. Through art, children have the opportunity to develop fantasy and creativity in a variety of ways and also they will learn how to express themselves, their interests, abilities, as well as skills. Children can pour their ideas into various works of art. Through art, a child's right and left brain can develop properly. The low ability of teachers in understanding art education for early childhood, based on my observations, a PAUD teacher needs to understand art education in this case music art becomes the main one in training this time. The fact that in the field of teachers has little knowledge about art education, especially the art of music. The methods carried out are as follows: (1) participatory and dialogical approach, namely by contacting the Chairman of PAUD Saraswati first. After that, the teachers are gathered and invited to consult with the implementation team. (2) The methods of program implementation include the preliminary stage, socialization, and training implementation stage. The results achieved through this training have conveyed insights on early childhood art education, in this training gave insight into the definitions of art in 3 categories, namely: mimesis theory, expression theory, taste theory, and others. Externally produced the publication of devotional articles in scientific journals.
METODE POSITION, INSTRUCTION, PUZZLE (PIP) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PASIEN STROKE Pratiwi, Putri Indah; Malfasari, Eka; Nurfitriani, Nurfitriani; Lestari, Ade; Febryanti, Annisa; Yunita, Ananda Evi
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i2.7433

Abstract

Abstrak: Penurunan Kualitas hidup pasien stroke selama menjalani perawatan dirumah menunjukkan rendahnya kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan stroke kurangnya kebutuhan informasi serta pengalaman menjadi penyebab keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan stroke. Metode PIP (Position, Instruction, Puzzle) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan anggota keluarga dalam merawat pasien stroke, tujuan dilakukannya kegiatan ini untuk melatih para caregiver dalam merawat anggota keluarga dengan stroke di rumah. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan terpimpin selama 3 minggu dengan melibatkan mitra komunitas bebas stroke yang berada pada wilayah kerja kelurahan Umbansari. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini, peserta mampu memahami dan melakukan latihan perawatan stroke menggunakan metode PIP dalam perawatan pasien stroke. Abstract:  The decline in the quality of life of stroke patients during treatment at home shows the low ability of families to care for family members with stroke, lack of information needs and experience is the cause of families in caring for family members with stroke. The PIP (Position, Instruction, Puzzle) method is one method that family members can use in caring for stroke patients, the purpose of this activity is to train caregivers in caring for family members with stroke at home. The method used in this activity is guided training for 3 weeks involving stroke-free community partners in the working area of Umbansari sub-district. The results obtained in this activity, participants are able to understand and perform stroke care exercises using the PIP method in the care of stroke patients.