cover
Contact Name
Muhammad Isrul
Contact Email
isrulfar@gmail.com
Phone
+628114053811
Journal Mail Official
jurnalpharmaconmw@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi, STIKES Mandala Waluya Kendari Jalan A.H Nasution No. G-37, Kendari
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
ISSN : 24426032     EISSN : 25989979     DOI : 10.35311
Core Subject : Health,
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia merupakan jurnal (Open Journal System) untuk informasi bidang ilmu farmasi yang memuat kajian tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk tulisan ilmiah, studi kepustakaan dan studi empirik. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia telah memiliki ISSN cetak : 2442 - 6032 dan ISSN online : 2598-9979 Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia terbit 2 kali setahun (Bulan Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 284 Documents
Standarisasi Ekstrak Rimpang Wundu Watu (Alpinia monopleura) dan Aktivitasnya sebagai Antiinflamasi Secara In Vitro Musdalipah Musdalipah; Agung Wibawa Mahatva Yodha; Muh. Azdar Setiawan; Selfyana Austin Tee; Reymon Reymon; Randa Wulaisfan; Muh. Arnas; Lisa Wulansari Siregar; Eny Nurhikma; Yulianti Fauziah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.414

Abstract

Tanaman Alpinia, khususnya Alpinia monopleura, merupakan tanaman endemik yang dapat ditemukan dengan mudah di Sulawesi Tenggara, sebarannya luas dan melimpah. Tanaman ini merupakan tanaman endemik dan dikenal dengan nama wundu watu. Secara empiris, rimpang wundu watu digunakan untuk mengurangi pegal-pegal dan sebagai bumbu masakan. Studi pendahuluan pada minyak atsiri daun dan buah wundu watu menunjukkan sifat antibakteri, antioksidan dan antiinflamasi. Komposisi dan studi farmakologi tanaman ini belum diketahui sepenuhnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan standarisasi untuk menjamin mutu dan keamanan esktrak dan khasiatnya sebagai antiinflamasi. Tujuan penelitian ialah melakukan standarisasi ekstrak wundu watu (Alpinia monopleura) dengan parameter spesifik dan non spesifik sesuai persyaratan Farmakope Indonesia serta aktivitas antiinflamasinya terhadap penghambatan denaturasi protein. Jenis penelitian ialah eksperimen. Rimpang wundu watu di ekstraksi dengan pelarut metanol menggunakan metode maserasi. Hasil penelitian menunjukkan standarisasi dengan parameter spesifik diperoleh yaitu berbentuk ekstrak kental, berwarna coklat, dan berbau khas, senyawa larut air yaitu 6,7%, senyawa larut metanol yaitu 10,35%. Kandungan metabolit sekunder positif mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, saponin, tanin dan steroid. Pada parameter non spesifik diperoleh susut pengeringan 68,30%, kadar air 23%, kadar abu  total 11,94%, kadar abu tidak larut asam 0,327% dan cemaran logam Pb 0,00076 mg/L, logam Cd 0,00052 mg/L, dan logam Hg 0,00062 mg/L. Ekstrak etanol rimpang Alpinia menopleura memiliki aktivitas antiinflamasi dengan nilai IC50 sebesar 8.47 mg/L dan natrium diklofenak (kontrol) dengan nilai IC50 sebesar 8,46 mg/L. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan standarisasi ekstrak rimpang wundu watu secara spesifik dan non spesifik memenuhi persyaratan sesuai Farmakope Herbal Indonesia serta memiliki khasiat sebagai antiinflamasi.
Karakterisasi dan Identifikasi Senyawa Minyak Atsiri Pada Sereh Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Rendle) dengan Kromatografi Gas-Spektrometri Massa Farendina Suarantika; Vinda Maharani Patricia; Hanifa Rahma
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.415

Abstract

Salah stau tananaman yang memiliki kandungan minyak atsiri yaitu sereh wangi atau Cymbopogon nardus (L.) Rendle. Berdasarkan penelitian sebelumnya tanaman sereh wangi memiliki kandungan senyawa kimia diantaranya sitronelal (32-45%), sitronelol (11-15%), geraniol (10-12%), geranil asetat (3-8%), sitronelal asetat (2-4%). Tujuan penelitian ini untuk mengkarakterisasi minyak atsiri sereh wangi dan mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat pada minyak sereh wangi. Ekstraksi minyak sereh wangi menggunakan metode destilasi-uap, untuk identifikasi senyawa menggunakan instrumen Kromatografi gas–Spektrometri massa (GC-MS). Hasil karakterisasi untuk miyak atsiri sereh wangi dimana minyak memiliki warna kuning, bau yang khas, bentuk cairan, indeks bias 1,46, bobot jenis 0,869 gram/mL dan larut dalam etanol. Senyawa kimia yang terdapat pada minyak atsiri sreh wangi adalah golongan monoterpenoid. Hasil identifikasi dengan kromatografi gas-spektrometri massa didapatkan 23 puncak, 10 puncak diantaranya memiliki persentase luas area yang besar dan memiliki nilai SI (Similarity Index) besar dari 80%, adapun senyawanya yaitu Citronella, Citronellyl acetate, Geranyl acetate, Delta-Cadinene, Linalool.
Analisis Peresepan Polifarmasi Pada Pasien Geriatri dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Beers Criteria 2023 Alifia Putri Febriyanti; Ria Ramadhani Dwi Atmaja; Helma Chika Oktaviani; Dhani Wijaya
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.423

Abstract

Pertambahan penduduk lanjut usia menjadi perhatian dunia, dan mendapat perhatian khusus di Indonesia seiring dengan transisi menuju era "Aging Population". Salah satu masalah yang sering ditemukan pada lanjut usia adalah polifarmasi dan penggunaan obat berpotensi tidak tepat (PIMs). Polifarmasi dan penggunaan obat berpotensi tidak tepat pada lanjut usia menimbulkan berbagai efek yang tidak diinginkan, yang paling fatal adalah kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi obat berpotensi tidak tepat pada pasien geriatri penderita DM tipe 2 (DMT2) yang mendapat terapi polifarmasi di Puskesmas Sakra berdasarkan Beers Criteria 2023. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan retrospektif. Empat puluh pasien geriatri penderita DMT2, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, ikut serta menjadi subyek penelitian. Hasil penelitian didapatkan mayoritas pasien memiliki rentang usia antara 55 hingga 65 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan terdiagnosis hipertensi sebagai penyakit penyerta sebanyak 80%. Selain itu, sebagian besar pasien mengalami polifarmasi, yaitu menggunakan lebih dari lima jenis obat yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat obat-obatan yang dikonsumsi geriatric termasuk dalam kriteria 1 yaitu obat golongan sulfonilurea sebanyak 11,7%, golongan NSAID sebanyak 6,4%, dan golongan H1 sebanyak 1,5%. Simpulan dari penelitian ini adalah seluruh resep pasien geriatri dengan DMT2 di Pusksmas Sakra mendapatkan terapi polifarmasi dan obat yang yang tidak tepat berdasarkan Beers Criteria 2023.
Formulasi dan Evaluasi Dermal Patch Ekstrak Metanol Rimpang Lempuyang Gajah (Zingibe zerumbet L.) Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro dan In Vivo Nurul Muhlisah Maddeppungeng; Karlina Amir Tahir; Nislah Cahyani Nurdin; Sri Wahyuni
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.425

Abstract

Luka atau kerusakan kulit dapat mengakibatkan serangan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit. Zingiber zerumbet L. telah dilaporkan memiliki jumlah zerumbon yang tinggi dan menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Langkah awal dalam pengobatan infeksi luka adalah penutupan luka pada kulit. Patch adalah sediaan yang mudah menempel pada bagian kulit yang terinfeksi dan dapat mengantarkan senyawa obat di lapisan kulit dengan pelepasan terkontrol. Telah dilakukan formulasi sediaan patch yang mengandung ekstrak Zingiber zerumbet L. dengan menggunakan berbagai polimer yang berbeda yaitu HPMC, NaCMC, kitosan, karbopol, dan dilakukan uji karakteristik sediaan patch  dimana hasilnya menunjukkan sediaan patch yang dihasilkan menunjukkan bahwa patch memiliki kestabilan fisik yang baik, memiliki nilai keseragaman bobot ? 5%, dan ketebalan patch ? 1 mm,  nilai daya tahan lipat yang sangat baik, lebih dari 300 kali lipat, dengan nilai pH permukaan mendekati pH patch, dan uji penyerapan kelembapan air yang menunjukkan kemampuan penyerapan air yang tertinggi yaitu NaCMC dan sebaliknya kemampuan penyerapan air yang terendah yaitu kitosan. Kemudian untuk hasil uji in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa patch memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus, dimana dari keempat formula tersebut formula HPMC memiliki daya hambat bakteri terkuat dan penyembuhan luka tercepat, hal ini dikarenakan HPMC salah satu polimer hidrofilik yang mampu mengembang lebih baik dibandingkan dengan polimer yang lain sehingga mampu melepas obat dari matriks lebih cepat.
Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Pneumonia Anak Berdasarkan Clinical Pathway Di RSUD Kabupaten Tangerang Ma'sum Ma'sum; Prih Sarnianto; Nurita Andayani
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.429

Abstract

Clinical pathway merupakan salah satu persyaratan utama pengendali biaya dan pengendali mutu layanan pasien, terutama pada kasus terbanyak dan berpotensi menghabiskan sumber daya yang besar. Pneumonia di RSUD Kabupaten Tangerang merupakan salah satu penyakit terbanyak di pavilion. anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya perawatan berdasarkan clinical pathway pada pengobatan antibiotik bagi anak-anak dengan pneumonia yang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang. Metode penelitian ini bersifat observasional dengan fokus pada perbandingan penggunaan antibiotik yang diberikan melalui injeksi. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan variabel outcome terapi (seperti lama perawatan dan biaya total), sementara variabel independen melibatkan regimen penggunaan antibiotik. Populasi penelitian ini melibatkan 255 pasien pneumoniaengan kode ICD (J18.0) diperoleh dari data rekam medik. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, dengan 134 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, di antaranya 67 pasien menerima terapi antibiotik seftriakson, 23 pasien menerima sefotaksim, dan 44 pasien menerima antibiotik seftazidim. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis Cost Minimum Analysis (CMA) dan Cost Effectiveness Analysis (CEA) untuk melihat terapi yang lebih efektif dan efisien. Hasil pengujian secara statistik rerata lama rawat dan biaya terhadap tiga regimen antibiotik didapatkan p=0.000 (uji Kruskal-Wallis p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok terapi antibiotik sefotaksim (lama rawat 4,83, nilai ACER Rp425.968,9) lebih cost effective dibandingkan kelompok terapi seftriakson (lama rawat 5,07, nilai ACER Rp480.565,1) dan kelompok terapi seftazidim (lama rawat 5,77, nilai ACER Rp535.825,8). Antibiotik sefotaksim lebih cost-effective disebabkan lebih singkatnya lama rawat inap serta lebih murah.
Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Sistitis Tahun 2021 Di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Novia Sinata; Indah Denni Pratiwi; Rahmayati Rusnedy
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.430

Abstract

Infeksi saluran kemih masih merupakan suatu kondisi medis yang krusial dan banyak ditemukan diberbagai unit pelayanan medis dasar sampai subspesialisasi. Studi ini tujuannya untuk mengetahui potensi kejadian interaksi obat secara farmakokinetik, farmakodinamik, unkown dan berdasarkan severity pada pasien infeksi saluran kemih sistitis rawat jalan dan inap selama periode tahun 2021.  Evaluasi interaksi obat dilakukan secara teoritik berdasarkan studi literatur dengan penapisan secara media online menggunakan situs Drugs.com dan Medscape.com serta penapisan secara manual menggunakan buku teks seperti Drug Information Handbook (DIH) dan Stockley’s Drug Interaction. Metode penelitian ini yaitu observasional dengan pengambilan data secara retrospektif dan analisis deskriptif. Total jumlah sampel sejumlah 90 rekam medis dengan teknik pengambilan sampel yang dipakai adalah total sampling. Hasil studi mengunjukkan bahwasanya pasien infeksi saluran kemih sistitis yang berpotensi mengalami interaksi obat yaitu sejumlah 60 (66,67%) pasien dan sebanyak 30 (33,33%) pasien yang tak berpotensi mengalami interaksi obat. Dari 90 rekam medis pasien infeksi saluran kemih sistitis terdapat 925 kasus interaksi obat dimana obat digunakan bersamaan. Sebanyak 145 (15,68%) kasus kejadian yang berpotensi mengalami interaksi obat baik secara farmakodinamik, farmakokinetik maupun unknown dan terdapat 780 (84,32%) kasus kejadian yang tidak berpotensi mengalami interaksi obat. Kejadian interaksi secara farmakokinetik sejumlah (21,38%), farmakodinamik sejumlah (69,66%) dan unknown sebanyak (8,97%). Berdasarkan severity terdapat interaksi major sebanyak (17,93%), moderate sebanyak (62,76%) dan minor sebanyak (19,31%).
Uji Efektivitas Antihiperurisemia Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa aloeifere L.) dan Daun Sukun (Artocarpus altilis) pada Tikus Jantan (Rattus norvegicus) Rifa'atul Mahmudah; Muhammad Ilyas Yusuf; Wa Ode Islami Nur
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.431

Abstract

Hiperurisemia merupakan penyakit yang ditandai dengan kadar asam urat melebihi kadar normalnya. Prevalensi penyakit tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Bagian tanaman yang diduga memiliki efek sebagai antihiperurisemua ialah daun kelor dan daun sukun. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas kombinasi ekstrak daun kelor (EDK) dan ekstrak daun sukun (EDS) yang telah distandarisasi sebagai antihiperurisemia. Metode penelitian yang digunakan berupa analitik eksperimental. EDK dan EDS diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol. Sampel tersebut diskrining fitokimia dan distandarisasi mutu ekstraknya, kemudian dilanjutkan dengan uji aktivitas antihiperurisemia terhadap tikus. Hasil penelitian menunjukan bahwa EDK dan EDS mengandung golongan senyawa alkaloid, tannin, flavonoid, dan saponin. Triterpenoid juga terdapat dalam EDS. Berdasarkan standarisasi parameter mutu, kedua ekstrak secara spesifik dan non-spesifik telah memenuhi ketetapan Depkes RI. Efektivitas antihiperrurisemia dapat diamati mulai dari dosis 1 (0,21 mg/200gBB EDK dan 0,16 mg/200gBB EDS), dosis 2 (0,21 mg/200gBB EDK dan 0,8 mg/200gBB EDS), dosis 3(0,10 mg/200gBB EDK dan 0,16 mg/200gBB EDS), serta dosis 4 (0,10 mg/200gBB EDK dan 0,8 mg/200gBB EDS), hampir serupa dengan yang ditunjukkan oleh obat pembanding (Allupurinol), meskipun efek yang paling baik ditunjukkan oleh dosis 1 dengan penurunan 67,8%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kombinasi EDK dan EDS mampu memberikan efektivitas antihiperurisemia.
Uji Stabilitas dan Aktivitas Sediaan Patch Herbal Anti-Acne Ekstrak Etanol Daun Gaharu Simanullang, Gayatri; Ramadhani, Untia Kartika Sari; Suprahman, Nisa Yulianti; Maretta, Gres; Syafitri, Dewi Rana; Saeli, Pinka Mustika; Ashafila, Tsalsha
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i1.439

Abstract

Acne is a skin condition characterized by the formation of skin bumps due to bacterial activity. Secondary metabolite compounds found in Gaharu leaves, such as flavonoids known for their antibacterial properties. This research aims to assess the physical and chemical stability of an anti-acne patch containing ethanol extract from Gaharu leaves and chitosan polymer. Additionally, this research aims to evaluate the antibacterial effectiveness of the anti-acne patch against Propionibacterium acnes. The experimental approach involves stability testing through cycling tests, observation of physical and chemical properties before and after stability tests, and antibacterial activity testing against P. acnes. The results from the stability test indicate overall stability in organoleptic aspects, thickness, folding ability, weight consistency, moisture content, vapor transmission, and moisture absorption of the anti-acne patch. However, instability is noted in the pH of the preparation. The antibacterial activity test reveals that the entire formulation exhibits antibacterial properties against P. acnes. Furthermore, there is a positive correlation between the increased concentration of ethanol extract from Gaharu leaves or chitosan polymer and the heightened barrier zone value.
Eksplorasi Aktivitas Antioksidan Biji Kepundung (Baccaurea racemosa) Dan Korelasinya Dengan Kandungan Fenolik Total Permatasari, Lina; Rohman, Abdul; Riyanto, Sugeng; Priya Haresmita, Perdana
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i1.443

Abstract

Dalam dekade terakhir, radikal bebas dapat menyebabkan banyak penyakit, misalnya kanker. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat aktivitas radikal bebas. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang bisa dieksplor aktivitas antioksidannya. Salah satu tumbuhan Indonesia yang potensial yaitu kepundung (Baccaurea racemosa). Bagian daun, batang, buah, kulit buah, dan kulit batang kepundung dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong sedang sampai sangat kuat. Namun, aktivitas antioksidan biji kepundung belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi aktivitas antioksidan biji kepundung dan korelasinya dengan kandungan fenolik totalnya. Biji buah kepundung diekstraksi dengan metode maserasi bertingkat diawali dengan pelarut petroleum eter kemudian dilanjutkan dengan kloroform lalu etil asetat. Ekstrak petroleum eter, ekstrak kloroform, dan ekstrak etil asetat biji kepundung dianalisis aktivitas antioksidannya menggunakan metode penangkapan radikal bebas 2,2’-diphenil-1-picrylhydrazil (DPPH). Sementara itu, kandungan fenolik total diuji menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Korelasi antara aktivitas antioksidan dan kandungan fenolik total dianalisis menggunakan Person correlation test. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak petroleum eter, ekstrak kloroform, dan ekstrak etil asetat secara berurutan memiliki persen penghambatan radikal DPPH sebesar 6,35 ± 0,97 %; 28,84 ± 5,48 %; dan 50,78 ± 1,18 %. Sementara itu, kandungan fenolik total ekstrak petroleum eter, ekstrak kloroform, dan ekstrak etil asetat secara berurutan yaitu 0,10 ± 0,01; 15,12 ± 0,52; dan 30,62 ± 0,87 mg ekuivalen asam galat/ gram ekstrak (mg EAG/g). Senyawa fenolik ekstrak biji kepundung berkorelasi positif dan signifikan dengan aktivitas antioksidannya. Senyawa fenolik berkonstribusi sebesar 98,9% terhadap aktivitas antioksidan biji kepundung. Biji kepundung dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai antioksidan alami.
Suitability Of Real Cost To Tariff Of INA-Cbgs Of Hypertensive Patients At X General Hospital Restyana, Anggi; Admaja, Wika
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i1.450

Abstract

Hypertension referred to as the "silent killer". Hypertension is a non-communicable disease that one of the leading causes death in the world. Increasing prevalence of hypertension based on measurements Indonesia in the population aged (18 years by 34.11% with the highest hypertension sufferers in South Kalimantan at 44.13% and the lowest prevalence of hypertension in Papua at 22.22%. In Indonesia, health costs keep increasing due to degenerative diseases. This study aims to determine the Real Cost of hypertensive patients and to determine the difference in Real Cost to the INA CBGs tariff of hypertensive inpatients at General Hospital X Kediri regarding the class of treatment, severity and length of treatment. This study was a descriptive quantitative research using a cross sectional design with retrospective data. The results of the study of the real cost of hospital of hypertensive patients with or without comorbidities at Public Hospital X Kediri was Rp.408,473,500. Meanwhile, the INA CBGs tariff was Rp.211,709,100 so that the difference obtained was negative Rp.196,764,400. The cost consists of class 1 treatment (13 patients) was Rp. (-32,884,800), class 2 (16 patients) was Rp. (-25,262,600) and class 3 (79 patients) was Rp. (-138,617,000). The difference in severity was mild severity (81 patients) of Rp. (-144,856,800), moderate severity (20 patients) of Rp. (-39,647,000) and severe severity (7 patients) of Rp. (-12,260,600). The difference in length of hospital stay 0-5 days (66 patients) was Rp.(-85,504,600), length of hospital stay 6-10 days (41 patients) was Rp.(-107,463,600) and length of hospital stay (10 days (1 patient) was Rp.(-3,796,200). The real cost of hospital was greater than the INA CBGs tariff, thus causing a negative cost difference that can make financial loss to the hospitals.