cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,155 Documents
LITERATURE REVIEW : IMPLEMENTASI PROGRAM IMUNISASI DASAR LENGKAP DI INDONESIA TAHUN 2020-2025 Putri, Rizqi Salsabila; Wulandari, Ratna Dwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48996

Abstract

Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) merupakan program prioritas bagi anak usia 0–12 bulan untuk memberikan perlindungan terhadap tujuh penyakit utama: tuberkulosis (BCG), hepatitis B, polio, difteri, pertusis, tetanus, pneumonia, serta campak atau rubella. Data WHO 2023–2024 menunjukkan cakupan IDL Indonesia baru mencapai 85% sehingga belum mencapai target WHO yaitu 95%. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor pemerintah, organisasi, dan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam implementasi program Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Indonesia. Penelitian ini merupakan Literature Review yang menggunakan pengumpulan data berupa artikel ilmiah melalui Pubmed, ScienceDirect, Portal Garuda dan Google Scholar. Hasil pengumpulan data ditemukan 19 artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pemerintah berperan melalui regulasi yang jelas, koordinasi yang efektif, monitoring rutin, dan dukungan dana operasional, meskipun masih terdapat kendala seperti perencanaan yang kurang sistematis dan evaluasi yang tidak konsisten. Faktor organisasi ditandai dengan perencanaan berbasis data, fasilitas yang memadai, serta sosialisasi melalui kader, namun terhambat oleh kurangnya kolaborasi lintas sektor, keterbatasan sarana di daerah terpencil, dan pendekatan edukasi yang konvensional. Faktor sumber daya manusia menunjukkan ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai dan pelatihan teknis yang relevan, tetapi jumlah petugas yang terbatas, sikap yang kurang komunikatif, serta ketidakseimbangan pelatihan masih menjadi tantangan utama. Keberhasilan imunisasi dasar di Indonesia sangat bergantung pada integrasi regulasi pemerintah, dukungan organisasi yang solid, dan kualitas sumber daya manusia yang profesional. Sinergi ketiga faktor ini diperlukan untuk mencapai cakupan imunisasi dasar yang optimal dan berkelanjutan.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI N-HEKSAN ETIL ASETAT DAN KLOROFORM DAGING BUAH RUMBIA (METROXYLON SAGU) DENGAN METODE DPPH Paputungan, Nevaza Dwi Afi Paputungan; Mantali, Muhammad Fathurrachman; Podomi, Vanesa Frisilia; Djalil, Rigita M.; Supardi, Rifani Hutami; Yamin, Widia; Botutihe, Ria Rezki
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49006

Abstract

Daging buah rumbia memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan dari fraksi n-Heksan, etil asetat dan kloroform daging buah rumbia (Metroxylon sagu) dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-2-picrylhydrazyl). Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol, kemudian difraksinasi dengan pelarut n-Heksan, etil asetat dan kloroform. Aktivitas antioksidan ditentukan berdasarkan nilai IC50 dengan pembanding vitamin C dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Penelitian dilakukan dengan membuat fraksi n-Heksan, etil asetat dan kloroform ekstrak daging buah rumbia (Metroxylon sagu) yaitu 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm, 60 ppm dan 70 ppm. Sebagai pembanding digunakan vitamin C dengan konsentrasi 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm dan 5 ppm. Sebagai blanko digunakan DPPH – metanol p.a. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH. Data yang diperoleh dihitung untuk diketahui aktivitas antioksidannya dengan menentukan nilai IC50 (Inhibition Concentration)50 dengan metode analisi regresi probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-Heksan memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 122,453, fraksi etil asetat memiliki nilai IC50 55,503 ppm dan fraksi kloroform memiliki nilai IC50 sebesar 144,190, sebagai pembanding nilai IC50 sebesar 05,44 ppm untuk vitamin C.
PENETAPAN KADAR FLAVONOID, FENOLIK TOTAL DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN RUMBIA (Metroxylon sagu Rottb) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS Mariama, Astari Aprillia; Mantali, Muhammad Fathurrachman; Korompot, Nayla Salshabila; Kusumaningtyas, Febrianika Ayu; Ismari, Dwi Andriyani Tonny; Djamal, Julia Megawati; Ismail, Rahmat
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49008

Abstract

Tanaman rumbia (Metroxylon sagu Rottb) merupakan tanaman yang belum banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional, meskipun daun rumbia diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder, termasuk flavonoid dan fenolik, yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total, kadar fenolik total, serta aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun rumbia. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Kadar flavonoid total dianalisis dengan Spektrofotometri UV-Vis menggunakan larutan AICL3 10%, asam asetat 5%, dan kuersetin sebagai standar pembanding. Hasil menunjukkan kadar flavonoid total sebesar 18,14 mgQE/g dengan uji kualitatif menggunakan pereaksi serbuk Mg dan HCl yang positif mengindikasikan keberadaan flavonoid. Kadar fenolik total dianalisis menggunakan Spektrofotometri UV-Vis dengan reagen Folin-Ciocalteu, Na2CO3 3,5%, dan asam galat sebagai standar pembanding, menghasilkan kadar fenolik total sebesar 30,480 mg GAE/g. Aktivitas antioksidan dievaluasi dengan metode DPPH menggunakan Spektrofotometri UV-Vis dan vitamin C sebagai pembanding, dimana ekstrak daun rumbia memiliki nilai IC50 sebesar 30,888 ppm, menunjukkan aktivitas antioksidan yang tergolong kuat. Penelitian ini mengindikasikan bahwa ekstrak etanol daun rumbia berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
TERAPI TEMAN SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA PENYAKIT KRONIS : LITERATURE REVIEW Noviyanti, Laura; Rohman, Alif Fatur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49035

Abstract

Lansia sering menghadapi perubahan fisik dan mental degeneratif, yang berpotensi memicu masalah psikososial seperti penurunan interaksi sosial dan perasaan kesepian. Kondisi ini dapat secara signifikan menurunkan kualitas hidup mereka. Mengatasi isolasi sosial menjadi krusial untuk memastikan lansia dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Tujuan dari tinjauan literatur ini adalah untuk menganalisis efektivitas terapi teman sebaya sebagai intervensi untuk meningkatkan interaksi sosial pada lansia dengan penyakit kronis. Tinjauan literatur ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan menelusuri artikel-artikel ilmiah yang diterbitkan baik di tingkat nasional maupun internasional dalam rentang tahun 2015 hingga 2025. Artikel-artikel yang dipilih berfokus pada hasil dan dampak dari penerapan terapi teman sebaya terhadap interaksi sosial lansia. Hasil tinjauan literatur menunjukkan bahwa terapi teman sebaya terbukti sangat efektif dalam meningkatkan interaksi sosial. Intervensi ini secara signifikan mampu meningkatkan keterlibatan sosial, memberikan dukungan emosional, dan mengurangi rasa kesepian pada lansia. Di Indonesia, terapi ini berperan penting sebagai media edukasi dan berbagi pengalaman, yang memperkaya pemahaman dan memperkuat ikatan antar lansia. Sedangkan di Jepang, terapi teman sebaya berhasil dalam memperkuat relasi sosial dan meningkatkan keterlibatan lansia dalam komunitas, yang pada akhirnya mencegah isolasi. Terapi teman sebaya merupakan intervensi yang sangat direkomendasikan untuk meningkatkan interaksi sosial pada lansia dengan penyakit kronis. Terapi ini secara langsung memfasilitasi dukungan sosial dan emosional, yang merupakan kunci untuk mengatasi isolasi sosial dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan
PENGALAMAN HIDUP IBU DALAM MERAWAT ANAK STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TERJUN MEDAN MARELAN Siregar, Maya Syahdana Nuraini; Pakpahan, Eka Lolita Eliyanti; Ginting, Raphael
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49040

Abstract

Pada penelitian ini bertujuan meneliti pengalaman hidup ibu dalam merawat anak stunting merupakan penyakit kronis tidak menular tetapi berlangsung dalam waktu lama menghambat tumbuh kembang anak. jenis penelitian kualitatif dan menggunakan metode pendekatan fenomenologi pada Informan berjumlah 5 orang diperoleh hasil wawancara langsung diwilayah kerja Puskesmas terjun Medan Marelan. Terdapat 3 tema utama yaitu pertama pengalaman ibu merawat anak stunting Kedua kesadaran keadaan karakteristik anak stunting ketiga kesadaran kebutuhan kesehatan lingkungan. Hasil penelitian ini diketahui memiliki kesamaan pada ciri anak Stunting pertumbuhan tinggi badan anak lambat, berat badan anak tidak naik seiring bertambahnya usia anak saat balita juga lebih kurus, anak stunting kurang nafsu makan dan kurang cepat dalam berpikir. Pada anak stunting dengan riwayat penyakit bawaan seperti taksemia maka hal ini menganggu penyerapan nutrisi perkembangan dan pertumbuhan anak. Dan permasalahan juga muncul pada lingkungan tempat tinggal yang rutin terjadi air pasang menimbulkan kesadaran akan kebutuhan air bersih dan sanitasi lingkungan karna berdampak penyakit berulang pada anak. Saran, Ibu yang memiliki anak Stunting diharapkan berperan aktif dalam aspek kesehatan melalui layanan dari beberapa program puskesmas untuk anak stunting, menerapkan pola hidup sehat serta menjaga sanitasi lingkungan untuk mencegah resiko stunting pada anak berikutnya.
KARAKTERISTIK MALFORMASI ANOREKTAL: LITERATURE REVIEW Sachrullah, Fahmi Alamsyah; Rusdam, Sulfikar; Takahasi, Tanty Febriany
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49051

Abstract

Periode neonatal adalah waktu yang paling rentan bagi kelangsungan hidup seorang anak dikarenakan memiliki risiko kematian tertinggi. Secara global 2,3 juta anak meninggal pada periode neonatal dengan rata-rata sebesar 17 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2022. Penyebab utama kematian pada neonatal berupa kelahiran premature, komplikasi kelahiran (asfiksia/trauma saat lahir), infeksi neonatal dan kelainan kongenital. Kelainan kongenital juga diketahui dengan sebutan kelainan bawaan atau cacat lahir didefinisikan sebagai kelainan structural atau fungsional yang terjadi selama kehidupan intrauterine dan dapat diidentifikasi sebelum lahir, saat lahir, atau terkadang hanya dapat dideteksi beberapa hari setelah lahir. Malformasi anorektal adalah salah satu masalah kongenital yang terjadi pada sekitar 1 dari 5.000 kelahiran dan lebih sering terjadi pada laki-laki. Diagnosis pada masa prenatal sangat sulit dilakukan dan sering berhubungan dengan kecacatan dengan tanda-tanda tidak langsung yang ditemukan selama masa kehamilan. Diagnosis definitive diperoleh pada saat lahir dengan inspeksi perineum. Penelitian ini merupakan suatu Literature review dengan desain Narative review, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari jurnal penelitian yang berkaitan dengan karakteristik pasien malformasi anorektal yang dipublikasikan pada tahun 2020-2025. Berdasarkan hasil dari 10 jurnal menunjukkan tingkat kejadian malformasi anorectal pada laki-laki lebih tinggi dibanding Perempuan. Dengan Klasifikasi Krickenbeck didapatkan tingkat kejadian perineal fistula merupakan varian yang paling tinggi, serta pada laki-laki dominasi rectourethral fistula, sedangkan pada perempuan lebih sering ditemukan rectovestibular fistula.
HUBUNGAN TUNTUTAN PEKERJAAN DENGAN WORK TO FAMILY CONFLICT DALAM MEWUJUDKAN KESEHATAN MENTAL (STUDI KESEHATAN KERJA) PERAWAT RSU X Sari, Rizqy Kartika
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49058

Abstract

Karyawan menjadi salah satu unsur penting dalam proses pemberian layanan dalam industri pelayanan jasa, khususnya bidang kesehatan karena ada kontak langsung antara individu pemberi dan penerima layanan. Mempekerjakan perawat dengan kesehatan psikologis yang buruk berdampak negatif pada organisasi pelayanan kesehatan. Profesi perawat yang penuh tekanan dan tantangan membuat perawat menghadapi kesulitan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga. Dampak work family conflict yang merupakan komponen work family balance dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental tenaga kerja. Tuntutan pekerjaan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental tenaga kerja. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tuntutan pekerjan dengan work to family conflict perawat rumah sakit umum x. metode penelitian Adalah kuantitatif dengan rancang bangun cross sectional. Pemilihan sampel menggunakan simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 84 Perawat Rumah Sakit Umum X. Analisis data yang digunakan adalah korelasi spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan tuntutan pekerjaan dan work to family conflict pada Perawat Rumah Sakit Umum X (p-value 0,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan tuntutan pekerjaan dengan work to family conflict. Semakin tinggi tuntutan pekerjaan maka semakin tinggi pula work to family conflict yang dialami oleh Perawat Rumah Sakit X.
KARAKTERISTIK RETINOPATI DIABETIK DI INDONESIA Risal, Sri Rifca Redjeki; Maharani, Ratih Natasha; Amien, A.Farida
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49062

Abstract

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya retinopati diabetik, retinopati diabetik adalah suatu kelainan mata pada pasien diabetes yang disebabkan karena kerusakan kapiler retina dalam berbagai tingkatan, sehingga menimbulkan gangguan penglihatan mulai dari yang ringan sampai berat bahkan sampai terjadi kebutaan total dan permanen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran karakteristik (manifestasi klinis, faktor resiko, tatalaksana, dan pencegahan) di Indonesia. Metode penelitian ini dilakukan dengan literatur review melalui pengumpulan berbagai jurnal penelitian yang berkaitan dengan kata kunci. Hasil penelitian menunjukkan manifestasi klinis pasien retinopati diabetik ialah gangguan penglihatan mulai dari tahap ringan bahkan bisa sampai terjadinya kebutaan sehingga prognosis retinopati diabetik ini buruk. Retinopati diabetik disebabkan oleh berbagai faktor. Kondisi ini diklasifikasikan menjadi dua jenis: retinopati diabetik non-proliferatif dan retinopati diabetik proliferatif, dengan strategi penanganan yang bervariasi tergantung pada jenisnya. Seiring meningkatnya prevalensi diabetes melitus, demikian pula insiden retinopati diabetik yang diharapkan, yang menyoroti perlunya strategi pencegahan yang efektif, yang mencakup pencegahan primer dan sekunder.
HUBUNGAN BURNOUT SEBAGAI FAKTOR PSIKOLOGI KERJA DENGAN PERILAKU TIDAK AMAN PEKERJA DI PT X SURAKARTA Kartika, Ayu Prima; Chahyadhi, Bachtiar; Setyawan, Haris; Fajariani, Ratna; Ada, Yeremia Rante; Nurriwanti, Nabylla Sharfina Sekar; Nugroho, Hengky Ditya Eko; Intifada, Winda Suryani
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49065

Abstract

Pekerja di industri tekstil khususnya di bagian produksi, sering menghadapi tekanan kerja yang tinggi, tuntutan produksi yang ketat, dan jam kerja yang panjang, yang berisiko menimbulkan burnout. Kondisi ini dapat berdampak pada peningkatan perilaku tidak aman di lingkungan kerja, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara burnout dengan perilaku tidak aman pada pekerja bagian produksi di PT. X Surakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional kuantitatif dengan metode cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja PT. X Surakarta sebanyak 1.000 orang, dengan sampel sebanyak 96 pekerja yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Maslach Burnout Inventory (MBI) untuk mengukur burnout serta kuesioner perilaku tidak aman, keduanya menggunakan skala Likert. Hasil analisis bivariat dengan Fisher’s Exact Test menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara burnout dan perilaku tidak aman (p = 0,026; p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pekerja yang mengalami burnout cenderung  melakukan perilaku tidak aman, yang diindikasikan oleh gangguan fungsi kognitif dan emosional seperti kelelahan, depersonalisasi, dan penurunan prestasi diri pekerja, dimana burnout berdampak terhadap penurunan konsentrasi dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Oleh karena itu, pendekatan psikologis penting untuk meminimalkan risiko perilaku tidak aman di lingkungan kerja industri tekstil.
ANALISIS PENGULANGAN FOTO RONTGEN PADA MODALITAS DIGITAL RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI DI RSUD MUNTILAN Sari, Ayu Nur Vita; Yusnida, Arnefia Mei; Fakhrurreza, Muhammad
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49081

Abstract

Digital Radiography (DR) adalah teknologi pencitraan radiologi yang memungkinkan pengambilan gambar sinar-X tanpa menggunakan kaset, sehingga mempercepat alur kerja, meningkatkan kualitas gambar, dan pelayanan pasien. Namun, pengulangan foto rontgen masih dapat terjadi akibat berbagai kesalahan teknis seperti gambar terpotong, posisi pasien yang tidak tepat, artefak, blur akibat gerakan, kolimasi yang kurang tepat, serta pengaturan eksposi yang tidak optimal. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 129/Menkes/SK/II/2008, batas maksimal pengulangan pemeriksaan radiologi adalah ≤ 2%, lebih rendah dari standar internasional sebesar 4–6%. Di RSUD Muntilan, belum pernah dilakukan analisis terhadap tingkat pengulangan pemeriksaan radiologi menggunakan DR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase pengulangan foto rontgen dan mengidentifikasi faktor penyebabnya. Penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui analisis database DR dari bulan November 2024 hingga Januari 2025. Hasil menunjukkan angka pengulangan melebihi batas nasional, yaitu 5,89% di bulan November, 6,14% di bulan Desember, dan 5,6% di bulan Januari, dengan rata-rata 5,87%. Faktor utama penyebab pengulangan adalah gambar terpotong (219 kasus), posisi pasien tidak tepat (77 kasus), dan artefak (37 kasus). Hasil ini menunjukkan perlunya peningkatan prosedur teknis, pelatihan petugas radiologi, serta komunikasi yang lebih baik dengan pasien untuk meminimalkan paparan radiasi berulang. Penguatan jaminan mutu dan tindakan korektif sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu layanan radiologi secara keseluruhan.