cover
Contact Name
Choiril Anwar
Contact Email
choirilanwar@unissula.ac.id
Phone
+6281931704317
Journal Mail Official
choirilanwar@itpd.or.id
Editorial Address
Gang Melati 8 Ds. Mlaten, Mijen, Demak, Jawa Tengah. 59583
Location
Kab. demak,
Jawa tengah
INDONESIA
Community Empowerment Journal
Published by CV. Yudhistt Fateeh
ISSN : -     EISSN : 30248558     DOI : https://doi.org/10.61251/cej
The mission of Community Empowerment Journal is to serve as the premier peer-reviewed, interdisciplinary journal to advance theory and practice related to all forms of outreach and empowerment. This includes highlighting innovative endeavors; critically examining emerging issues, trends, challenges, and opportunities; and reporting on studies of impact in the areas of public service, outreach, empowerment, extension, engaged research, community-based research, community-based participatory research, action research, public scholarship, service-learning, and community services. Focus Community Empowerment Journal aims to provide a forum for international researchers on applied Society Development and Empowerment to publish the original articles. The scope of Community Empowerment Journal is Society Development and Empowerment.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 77 Documents
Optimalisasi metode Peer Teaching dalam meningkatkan kemampuan pidato dakwah berbahasa Inggris di sekolah kesetaraan SMA Pesantren Ayiz, Abdul; Hadi, Nur; Yudhi Nugroho, Kurniawan; Cahya Angraini, Dwi
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.292

Abstract

Keterampilan berbicara di depan umum dalam dakwah berbahasa Inggris menjadi semakin penting bagi para santri pesantren, seiring dengan arus globalisasi dan dinamika baru dakwah di era digital. Pengabdian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas metode peer teaching dalam meningkatkan kemampuan pidato dakwah berbahasa Inggris pada santri di Sekolah Kesetaraan Pondok Pesantren. Latar belakang pengabdian ini didasarkan pada kebutuhan untuk memperkuat keterampilan public speaking santri sejalan dengan tantangan globalisasi dakwah kontemporer. Pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-partisipatoris dengan melibatkan 30 santri sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam, dokumentasi video, dan analisis dokumen pidato dakwah. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi, rubrik penilaian public speaking, dan pedoman wawancara terstruktur. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa penerapan peer teaching secara signifikan meningkatkan kepercayaan diri, partisipasi aktif, serta kemampuan menyusun dan menyampaikan pidato dakwah berbahasa Inggris di depan audiens. Para santri menjadi lebih proaktif dalam proses diskusi dan lebih kolaboratif dalam penyusunan materi, dengan kontribusi tutor sebaya yang membuat suasana pembelajaran lebih nyaman dan interaktif. Selain meningkatkan performa pidato, ditemukan pula adanya motivasi intrinsik yang lebih kuat serta tumbuhnya karakter kepemimpinan santri. Sebagai kesimpulan, peer teaching merupakan strategi yang efektif dan inovatif untuk memperkuat keterampilan dakwah berbahasa Inggris di lingkungan pesantren, serta relevan dalam membangun ekosistem pembelajaran kolaboratif yang responsif terhadap tantangan global. Public speaking skills in delivering Islamic preaching in English are becoming increasingly important for Islamic boarding school students, in line with the currents of globalization and the new dynamics of preaching in the digital era. This community service aims to examine the effectiveness of the peer teaching method in improving the ability of da'wah speech in English in students of the Equality School of Islamic Boarding School. The background of this community service is based on the need to strengthen the public speaking skills of students in line with the challenges of contemporary da'wah globalization. This community service uses a descriptive-participatory qualitative approach, involving 30 students as participants. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews, video documentation, and document analysis of da'wah speeches. The instruments used include observation sheets, public speaking assessment rubrics, and structured interview guidelines. The results showed that the implementation of peer teaching significantly increased confidence, active participation, and the ability to compose and deliver da'wah speeches in English in front of the audience. Students were more proactive in the discussion process and collaborative in the preparation of material, with the contribution of peer tutors who make the learning atmosphere more comfortable and interactive. In addition to improving speech performance, it was also found that there were stronger intrinsic motivation and the growth of student leadership character. In conclusion, peer teaching is an effective and innovative strategy for strengthening English-language da'wah skills in the pesantren environment, as well as being relevant to building a collaborative learning ecosystem and responsive to global challenges.
Sosialisasi keselamatan berlalu lintas dan penggunaan transportasi umum untuk meningkatkan kesadaran terhadap pelajar di Jakarta Utara Yunus, Muhamad; Isradias Mirajhusnita
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.293

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pelajar terhadap penggunaan transportasi publik, khususnya layanan Jak Lingko Mikrotrans di wilayah Jakarta Utara. Latar belakang kegiatan ini didasari oleh rendahnya tingkat penggunaan transportasi umum di kalangan pelajar akibat kurangnya edukasi dan pemahaman tentang sistem transportasi terintegrasi. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan (analisis situasi dan survei awal), pelaksanaan (sosialisasi edukatif dan interaktif di sekolah), serta evaluasi (pengukuran pre-test dan post-test) untuk mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan pelajar dengan rata-rata N-Gain Score sebesar 0,52 (64,6%), yang termasuk dalam kategori “cukup efektif”. Selain itu, hasil evaluasi pasca-sosialisasi menunjukkan bahwa 74% peserta menyatakan minat untuk mencoba atau lebih sering menggunakan Jak Lingko Mikrotrans, menandakan perubahan positif pada sikap dan kesadaran pelajar terhadap transportasi publik. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi berbasis sosialisasi di sekolah efektif dalam menumbuhkan budaya mobilitas berkelanjutan serta mendukung kebijakan pengendalian kualitas udara di wilayah perkotaan. This Community Service (PkM) program aims to enhance students’ knowledge and awareness of public transportation use, particularly the Jak Lingko Mikrotrans service in North Jakarta. The activity was initiated to address the low level of public transport utilization among students, which is mainly caused by a lack of education and understanding of integrated transportation systems. The program was carried out through three stages: preparation (situation analysis and preliminary survey), implementation (educational and interactive socialization at schools), and evaluation (pre-test and post-test measurement) to determine the effectiveness of the activity. The results indicate a significant improvement in students’ knowledge, with an average N-Gain Score of 0.52 (64.6%), categorized as “moderately effective.” Furthermore, the post-activity evaluation revealed that 74% of participants expressed interest in trying or more frequently using Jak Lingko Mikrotrans, indicating a positive shift in students’ attitudes and awareness toward public transportation. These findings demonstrate that school-based socialization effectively fosters sustainable mobility behavior among students and supports urban air quality management policies in Jakarta.
Belajar tanpa batas: Transformasi pembelajaran bahasa Inggris anak imigran melalui Mobile-Assisted Language Learning Wijayatiningsih, Testiana Deni; Mulyadi, Dodi; Budiastuti, Riana Eka; Setiawan, Anjar; Sucipto, Annisa Widya; Izatunnajah, Hana
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.294

Abstract

Pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak imigran di Malaysia menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari rendahnya motivasi belajar, keterbatasan akses terhadap pendidikan formal, hingga minimnya pemahaman dan pemanfaatan media pembelajaran digital. Berdasarkan kondisi tersebut, program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris anak-anak imigran melalui penerapan Mobile-Assisted Language Learning (MALL), memperluas akses mereka terhadap pembelajaran yang bermutu, serta membangun kemandirian belajar melalui pemanfaatan teknologi mobile yang mudah dijangkau. Kegiatan ini dilaksanakan di Sanggar Bimbingan Sentul, Kuala Lumpur, dengan fokus pada penerapan MALL sebagai pendekatan pembelajaran yang fleksibel, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.Kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan: sosialisasi, pelatihan penggunaan media digital, pendampingan intensif, implementasi video pembelajaran berbasis YouTube, serta evaluasi yang dilakukan secara berkala. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan bahasa Inggris peserta, khususnya pada aspek penguasaan kosakata, keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, serta kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Rata-rata skor pre-test peserta sebesar 45 meningkat menjadi 75 pada post-test. Selain itu, sebanyak 83% siswa memberikan respon positif terhadap penggunaan MALL dan menilai pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, interaktif, dan fleksibel. Temuan ini menegaskan bahwa MALL merupakan pendekatan pembelajaran yang humanis, inklusif, dan efektif bagi komunitas rentan seperti anak-anak imigran, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan model pembelajaran berkelanjutan di masa depan. English language learning for immigrant children in Malaysia faces complex challenges, ranging from low motivation to learn, limited access to formal education, to minimal understanding and utilization of digital learning media. Based on these conditions, this international Community Service (PkM) program aims to improve the English skills of immigrant children through the implementation of Mobile-Assisted Language Learning (MALL), expand their access to quality learning, and build learning independence through the use of accessible mobile technology. This activity was carried out at the Sentul Guidance Center, Kuala Lumpur, with a focus on the application of MALL as a learning approach that is flexible, easily accessible, and tailored to student needs. This activity was carried out through several stages: socialization, training in the use of digital media, intensive mentoring, implementation of YouTube-based learning videos, and regular evaluations. The results of the activity showed a significant increase in the participants' English skills, particularly in aspects of vocabulary mastery, listening skills, speaking skills, and confidence in using English. The average pre-test score of 45 participants increased to 75 in the post-test. Furthermore, 83% of students responded positively to the use of MALL, finding learning more enjoyable, interactive, and flexible. These findings confirm that MALL is a humanistic, inclusive, and effective learning approach for vulnerable communities such as immigrant children, while also opening up new opportunities for developing sustainable learning models in the future.
Upaya pencegahan penyakit degeneratif melalui edukasi manfaat makanan fermentasi berbasis komunitas di Kelurahan Banjardowo, Kota Semarang Wahyuningsih, Hesty; Safitri, Azizah Hikma; Tyagita, Nurina; Rahadian, Arief; Prasetyo, Untung
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.295

Abstract

Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskuler dan sindrom metabolik merupakan penyebab utama kematian di dunia. Faktor risiko terjadinya penyakit degeneratif salah satunya adalah pola makan yang tinggi lemak jenuh, tinggi kadar gula, dan rendah serat. Makanan fermentasi mengandung probiotik dan senyawa bioaktif yang mempunyai potensi untuk mencegah timbulnya penyakit degeneratif. Kegiatan edukasi terhadap masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai manfaat konsumsi makanan fermentasi sebagai upaya pencegahan penyakit degeneratif. Metode yang digunakan berupa penyuluhan, diskusi interaktif dan evaluasi tingkat pengetahuan peserta penyuluhan menggunakan pre-test dan post-test. Penyuluhan ini melibatkan sebanyak 23 peserta yang merupakan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Banjardowo, Kota Semarang. Hasil pre-test didapatkan rerata skor pengetahuan peserta yaitu 5,91±2,07. Hasil post-test yang dilaksanakan setelah penyuluhan menunjukan adanya peningkat pengetahuan, dengan rerata skor meningkat menjadi 7,43±1,75. Hasil Uji Paired Sample T-test didapatkan hasil yang signifikan (p= 0,034). Hasil ini menunjukan bahwa program edukasi berbasis komunikasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat, ditandai dengan peningkatan pengetahuan pada peserta mengenai manfaat makanan fermentasi sebagai upaya pencegahan penyakit degeneratif. Kegiatan ini juga memberikan informasi mengenai rekomendasi praktis dalam konsumsi harian makanan fermentasi seperti tempe, tape, kombucha, yogurt, acar dan kimchi sebagai bagian dari pola makan yang sehat. Degenerative diseases such as diabetes mellitus, hypertension, cardiovascular disease, and metabolic syndrome are among the leading causes of mortality worldwide. One of the major risk factors for degenerative diseases is an unhealthy diet characterized by high intake of saturated fats and sugar, combined with low fiber consumption. Fermented foods contain probiotics and bioactive compounds that have the potential to prevent degenerative diseases. This community education activity aimed to increase public understanding of the health benefits of consuming fermented foods as a preventive strategy against degenerative diseases. The methods employed included evidence-based health education, interactive discussions, and evaluation of knowledge through pre-test and post-test assessments. A total of 23 participants from the Family Welfare Empowerment (PKK) Banjardowo village, Semarang city were involved in this activity. The pre-test results showed an average knowledge score of 5.91 ± 2.07. The post-test, conducted after the educational session, indicated an improvement in knowledge, with the average score increasing to 7.43 ± 1.75. The results of the Paired Sample T-test showed a statistically significant difference (p value = 0.034). These findings indicate that evidence-based educational programs using effective communication strategies can substantially improve knowledge, particularly regarding the role of fermented foods in preventing degenerative diseases. In addition, this program provided practical recommendations for daily consumption of fermented foods such as tempeh, tape, kombucha, yogurt, pickle and kimchi, as part of a healthy diet.
Pendampingan belajar anak di RT 36 Gang Rakyat sebagai upaya peningkatan prestasi akademik Fitriani, Yustina; Saputra, Ardhi Iwantara; Khairunnisa, Afifah; Julius, Shello Juliano; Hendika, Gideon Marlyam; Syawal, Nabila Kharida; Meidiana, Alyssa; Br Sinuhaji, Nia Lorenza; Pelealu, Rizky Maulina Malarani; Imanuel, David Kalta
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.303

Abstract

RT 36 Gang Rakyat merupakan wilayah permukiman padat dengan jumlah anak usia Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar yang cukup besar, namun belum didukung oleh pembinaan pendidikan yang memadai sehingga anak-anak cenderung menghabiskan waktu luang tanpa pendampingan belajar yang terarah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya motivasi belajar, lemahnya kebiasaan akademik, serta belum terbentuknya disiplin belajar sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar anak melalui program pendampingan yang menyenangkan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi analisis situasi dan identifikasi kebutuhan belajar anak, tahap pelaksanaan dilakukan melalui pendampingan belajar tatap muka dengan metode pembelajaran aktif, permainan edukatif, serta pemanfaatan media pembelajaran sederhana, sedangkan tahap evaluasi dilakukan melalui observasi perkembangan belajar, hasil latihan, dan pemberian umpan balik. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program pendampingan belajar “Ceria Cendekia” mampu meningkatkan antusiasme, motivasi belajar, pemahaman materi, serta kepercayaan diri anak dalam mengikuti kegiatan akademik. RT 36 Gang Rakyat is a densely populated residential area with a relatively large number of children of kindergarten and elementary school age, but it is not yet supported by adequate educational guidance. As a result, children tend to spend their free time without directed learning assistance. This condition affects their low learning motivation, weak academic habits, and the lack of early development of learning discipline. This community service activity aims to increase children’s learning motivation and achievement through an enjoyable mentoring program. The implementation method consists of three stages: preparation, implementation, and evaluation. The preparation stage includes situation analysis and identification of children’s learning needs. The implementation stage is carried out through face-to-face learning assistance using active learning methods, educational games, and the use of simple learning media. The evaluation stage is conducted through observation of learning progress, practice results, and the provision of feedback. The results show that the “Ceria Cendekia” learning assistance program can increase children’s enthusiasm, learning motivation, understanding of materials, and self-confidence in participating in academic activities.
Peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi siswa SMP melalui metode Komunikasi Antar Pribadi Siregar, Lesti Kaslati; Saraswati, Lia Karisma; Bestari, Rifqi Alifa; Rosyidah, Hanifatur; Nur, Fatihah; Sitanggang, Margaretha; Rimbatmaja, Risang; Aazizah, Aabidah Ummu
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.309

Abstract

Masa remaja merupakan periode perkembangan yang penting dan ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial, termasuk perkembangan kesehatan reproduksi. Rendahnya pemahaman kesehatan reproduksi pada remaja masih menjadi tantangan, sementara sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Namun, keterbatasan metode pembelajaran dan kesiapan guru sering kali menghambat efektivitas pelaksanaannya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi serta meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi siswa SMP melalui penerapan metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Modul pendidikan kesehatan reproduksi berperspektif Islam disusun melalui Focus Group Discussion yang melibatkan tenaga kesehatan, pendidik, ahli komunikasi, dan ahli agama. Guru SMP/MTs/Pesantren Muhammadiyah di Jakarta dan Bandung mengikuti pelatihan komunikator selama tiga hari, kemudian mengimplementasikan pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah masing-masing. Evaluasi dilakukan melalui post-test pengetahuan siswa dan feedback dari guru. Sebanyak 42 guru melaksanakan pendidikan kesehatan reproduksi melalui 124 sesi yang menjangkau 930 siswa. Hasil evaluasi menunjukkan pemahaman siswa berada pada kategori tinggi, dengan nilai rata-rata post-test antara 94,4 hingga 97,6 pada seluruh topik. Feedback kualitatif guru menunjukkan bahwa metode KAP meningkatkan partisipasi siswa, mempermudah pemahaman materi, serta meningkatkan kepercayaan diri guru dalam menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi. Metode KAP yang didukung oleh pelatihan guru dan modul yang kontekstual efektif dalam meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi siswa SMP dan memperkuat kapasitas guru sebagai fasilitator. Pendekatan ini berpotensi menjadi model edukasi kesehatan reproduksi berbasis sekolah yang berkelanjutan, khususnya di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan. Adolescence is a critical developmental period marked by significant biological, psychological, and social changes, including reproductive health development. Limited understanding of reproductive health among adolescents remains a challenge, while schools play a strategic role in delivering reproductive health education. However, limitations in teaching methods and teacher preparedness often hinder effective implementation. This community service program aimed to improve teachers’ skills in delivering reproductive health education and to enhance junior high school students’ understanding of reproductive health through the application of the Interpersonal Communication Method (ICM). The program was conducted in three stages: preparation, implementation, and evaluation. An Islamic-based reproductive health education module was developed through focus group discussions involving health professionals, educators, communication experts, and religious scholars. Junior high school and Islamic boarding school teachers from Muhammadiyah schools in Jakarta and Bandung participated in a three-day communicator training program and subsequently implemented reproductive health education in their respective schools. Student knowledge was evaluated using post-test assessments, and qualitative feedback was collected from teachers. A total of 42 teachers delivered reproductive health education through 124 sessions, reaching 930 students. Evaluation results showed that students’ understanding was in the high category, with average post-test scores ranging from 94.4 to 97.6 across all topics. Qualitative feedback indicated that the Interpersonal Communication Method enhanced student participation, facilitated comprehension of the material, and increased teachers’ confidence in delivering reproductive health education. The Interpersonal Communication Method, supported by teacher training and contextually relevant educational modules, was effective in improving junior high school students’ understanding of reproductive health and strengthening teachers’ capacity as facilitators. This approach has the potential to serve as a sustainable model for school-based reproductive health education, particularly in faith-based educational settings.
Penguatan nilai-nilai akhlak Islami melalui sosialisasi etika pergaulan remaja Fadillah, M Renaldy; Sirulhaq, Sekarmaji; Aulia, Anisa; Milah, Nida Sihabul; Ramadhan, Muhammad Iqbal; Samudra, Alfiras Rasya; Nurandini, Nurandini
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 4 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i4.314

Abstract

Sosialisasi etika pergaulan berbasis nilai-nilai akhlak Islami pada siswa kelas 9B MTsN 3 Sukabumi dilaksanakan untuk merespons temuan awal mengenai rendahnya konsistensi penerapan adab dalam interaksi sehari-hari, khususnya pada aspek penggunaan bahasa dan batasan relasi antarlawan jenis. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman konseptual dan kesadaran praktis siswa terhadap etika interaksi Islami melalui pendekatan kualitatif dengan teknik sosialisasi partisipatif, mencakup ceramah interaktif, diskusi terarah, dan simulasi situasional. Kegiatan berlangsung satu sesi dengan melibatkan 30 siswa sebagai subjek. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara singkat, dan kuesioner, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menilai efektivitas intervensi. Hasil menunjukkan bahwa 80 persen siswa terlibat aktif selama proses pembelajaran, 75 persen mampu mengidentifikasi batasan pergaulan yang sesuai syariat, dan 70 persen mengalami peningkatan dalam pemahaman adab komunikasi. Sekitar 20 persen siswa masih menunjukkan respons pasif akibat pengaruh kebiasaan pergaulan sebelumnya dan intensitas konsumsi media digital. Temuan ini mengindikasikan bahwa metode interaktif memiliki potensi signifikan dalam membangun kesadaran akhlak pada remaja, meskipun keberlanjutan pembinaan masih diperlukan untuk menghasilkan perubahan perilaku yang lebih stabil. The socialization program on Islamic moral-based social interaction ethics for class 9B students at MTsN 3 Sukabumi was implemented to address preliminary findings indicating insufficient consistency in students’ application of proper etiquette, particularly in speech conduct and intergender boundaries. This initiative aimed to enhance both conceptual understanding and practical awareness of Islamic social ethics through a qualitative approach employing participatory techniques, including interactive lectures, guided discussions, and situational simulations. The activity was conducted in a one-hour session involving 30 student participants. Data were obtained through observation, brief interviews, and questionnaires, and were analyzed descriptively to assess the effectiveness of the intervention. The results demonstrate that 80 percent of students actively engaged in the learning activities, 75 percent were able to identify appropriate intergender interaction boundaries, and 70 percent showed improved understanding of proper speech etiquette. Approximately 20 percent of students remained passive, influenced by prior behavioral patterns and high exposure to digital media content. These findings suggest that interactive pedagogical methods possess substantial potential in fostering moral awareness among adolescents, although sustained follow-up programs are required to ensure stable behavioral transformation.