cover
Contact Name
Toni Malvin
Contact Email
tonimalvin@gmail.com
Phone
+6285263036463
Journal Mail Official
politanijlah@gmail.com
Editorial Address
Jln. Raya Negara km 7 Tanjung Pati, Kec. Harau, Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (26271)
Location
Kab. lima puluh kota,
Sumatera barat
INDONESIA
Journal of Livestock and Animal Health (JLAH)
ISSN : 26554828     EISSN : 26552159     DOI : https://doi.org/10.32530/jlah.v6i1
Core Subject : Health, Agriculture,
The Journal of Livestock and Animal Health (JLAH) aims to publish the results of research studies on tropical livestock such as cattle, buffaloes, sheep, goats, pigs, horses, poultry, and pets. Journal of Livestock and Animal Health (JLAH) includes various research topics in the field of animal science including livestock products, reproduction, and physiology, nutrition, and animal feed, feed technology, breeding and genetics, animal behavior, health, welfare, food based on animal products, socio-economic and policy systems.
Articles 39 Documents
Pengaruh Variasi dosis FSH terhadap Bobot Lahir, Litter Size, dan Sex ratio pada Kambing dengan Paritas Berbeda: The Effect of FSH Dose Variation on Birth Weight, Litter Size, and Sex Ratio in Goats with Different Parities Rahma, Annisa; Pratama, Diky
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 8 No. 2 (2025): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v8i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis penyuntikan Follicle Stimulating Hormone (FSH) terhadap bobot lahir, jumlah anak (litter size) dan perbandingan jenis kelamin (sex ratio) pada kambing dengan paritas berbeda. Penelitian ini melibatkan 10 ekor kambing Kacang, terdiri dari 9 ekor betina dan 1 ekor pejantan, pemeliharaan di dalam kandang panggung individu (80×100 cm untuk betina dan 150×200 cm untuk pejantan). Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan dengan tiga perlakuan dosis FSH (80 mg, 100 mg, dan 200 mg) dan tiga kelompok paritas, yaitu kambing dara (P0), kambing paritas satu (P1), dan kambing paritas lebih dari satu (P2). FSH disuntikkan secara intramuskular, selama empat hari berturut-turut, dua kali sehari dengan dosis menurun. Parameter pengamatan meliputi bobot lahir, jumlah anak (litter size) dan perbandingan jenis kelamin (sex ratio). Hasil penelitian menunjukkan rataan bobot lahir masing-masing perlakuan adalah 2,99±0,51 kg, 3,48±0,31 kg, dan 2,96±0,44 kg. Rata-rata litter size pada perlakuan A, B, dan C adalah 2,00±0,00a; 1,33±0,58b; dan 2,33±0,58a ekor. Rasio jenis kelamin (jantan:betina) berturut-turut adalah 100%:0%, 75%:25%, dan 85,71%:14,29%. Dosis FSH sebesar 80 mg menunjukkan hasil terbaik. Secara keseluruhan, dosis FSH berpengaruh nyata terhadap litter size, namun tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir dan rasio jenis kelamin.
Identifikasi Antigen Eritrosit Kucing Domestik dan Kucing Persia dengan Menggunakan Metode Imunokromatografi: Identification of Domestic and Persian Cat Erythrocyte Antigens Using Immunochromatography Method Palestin; Wardhani, Hana; Hermawan, Intan Permatasari; Kahar, Hartono; Dachlan, Yus Prijatna; Zelpina, Engki
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 8 No. 2 (2025): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v8i2.89

Abstract

Identifikasi antigen eritrosit pada kucing penting dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui golongan darah pada kucing yang merupakan salah satu prosedur  wajib jika seekor kucing memerlukan transfusi darah pada keadaan tertentu, misalnya kucing yang menderita kanker, anemia, pendarahan akut atau kronis, serta infeksi virus. Selain untuk berbagai permasalahan tersebut, identifikasi antigen eritrosit juga penting dilakukan untuk mencegah kasus isoeritrolisis neonatus pada anak kucing akibat perkawinan jantan dan induk yang berbeda jenis antigen eritrositnya. Sistem penggolongan darah kucing didasarkan pada perbedaan antigen eritrosit yang membentuk tiga tipe utama, yaitu A, B, dan AB. Golongan darah A merupakan yang paling dominan, ditemukan pada sekitar 95% populasi kucing global, sementara tipe B dan AB tergolong langka. Secara biokimiawi, antigen pada tipe A dan B merupakan gangliosida berbeda dengan berat molekul 50 kD - tipe A hanya mengekspresikan NeuGc, sedangkan tipe B secara eksklusif mengandung NeuAc. Adapun tipe AB mengekspresikan kedua komponen (NeuAc dan NeuGc) dalam proporsi seimbang.
Peningkatan Kecernaan Protein Kasar dan Serat Kasar In Vitro Daun Sawit dengan Teknologi Fermentasi MA-11: Increasing Crude Protein and Crude Fiber Digestibility of Oil Palm Leaves In Vitro with MA-11 Fermentation Technology Sukaryani, Sri; Sariri, Ahimsa Kandi; Husein, Muhammad
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 8 No. 2 (2025): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v8i2.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui pengaruh  fermentasi daun  sawit menggunakan MA-11 dengan level yang berbeda terhadap Kecernaan Protein Kasar (KcPK) dan Kecernaan Serat Kasar (KcSK). Desain penelitian yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan empat (4) perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tsb adalah P0 : daun sawit + 0 cc MA-11 + urea 2 g + molasses 5 cc; P1 : daun sawit + 2 cc MA-11 + urea 2 g + molasses 5 cc; P2 : daun sawit +4 cc MA-11 + urea 2 g + molasses 5 cc; P3 : daun sawit + 6 cc MA-11 + urea 2g + molasses 5 cc. Inkubasi dilakukan selama 9 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi menggunakan MA-11 berpengaruh sangat nyata meningkatkan kecernaan protein kasar daun sawit, dengan hasil tertinggi pada P3 (56,92 ± 0,47%); disusul kemudian oleh P2 (51,57 ± 1,14%); P1 (46,32 ± 3,97%) dan terkecil P0 (27,15 ± 0,27%). Daun sawit yang difermentasi dengan MA-11 berhasil dengan sangat nyata menurunkan nilai kecernaan serat kasarnya, dengan hasil sebagai berikut P0 (61,39±1,21%); P1 (67,13±0,93%); P2 (72,02±0,19%) dan P3 (75,93±1,35%). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa fermentasi daun sawit menggunakan MA-11 sebanyak 0 – 6 cc berpengaruh sangat nyata meningkatkan nilai KcPK dan KcSK dan yang paling optimal pada level penggunaan MA-11 sebanyak 6 cc.
Pengaruh Lama Maserasi Pollard (Triticum aestivum L.) dengan Pelarut Etanol terhadap Rendemen, Profil Fitokimia, dan pH: The Effect of Pollard Time (Triticum aestivum L.) Maceration with Ethanol Solvent on Yield, Phytochemical Profile, and pH Fitriani, Melisa; Abun; Latifudin, Diding
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 8 No. 2 (2025): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v8i2.103

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh lama maserasi pollard (Triticum aestivum L.) dengan pelarut etanol 96% terhadap rendemen, profil fitokimia, dan nilai pH sebagai sumber betaine alami. Proses maserasi dibedakan menjadi empat perlakuan, yaitu maserasi dengan lama waktu 24, 36, 48 dan 72 jam. Parameter yang diamati meliputi nilai rendemen, profil fitokimia (fenolik, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, triterpenoid, dan steroid), serta kadar pH maserasi dan ekstrak kental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama maserasi berpengaruh nyata (p kecil dari 0,05) terhadap nilai rendemen, dengan hasil tertinggi pada lama waktu maserasi 72 jam sebesar 6,58%. Profil fitokimia menunjukkan bahwa semakin lama maserasi, semakin kuat dan banyak jenis senyawa yang terdeteksi. Sementara kadar pH tidak berpengaruh secara signifikan terhadap lama maserasi, dengan hasil kadar pH pada larutan maserasi berkisar antara 6,47–6,60 dan kadar pH ekstrak kental stabil di angka 6,00. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama maserasi pollard dengan pelarut etanol 96% efektif dilakukan pada perlakuan 72 jam ditinjau dari nilai rendemen, profil fitokimia dan kadar pH. Pollard berpotensi sebagai sumber betaine alami yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku feed additive untuk ternak.
Potensi Daun Bambu Petung (Dendrocalamus Asper) Terhadap Vermisidal dan Morfometri Cacing Haemonchus contortus pada Domba Ekor Gemuk Secara In Vitro: Potential of Petung Bamboo Leaves (Dendrocalamus Asper) Against Vermicidal and Morphometry of Haemonchus contortus Worms in Fat Tail Sheep In Vitro Widiarso, Budi Purwo; Ikbar, Vikramanda
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 7 No. 1 (2024): February
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v7i1.45

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi infusa daun bambu petung (Dendrocalamus asper) terhadap vermisidal dan morfometri cacing dewasa Haemonchus contortus secara in vitro. Alat yang dipakai peenlitian adalah : kamera, spuit 3 ml, object glass, deck glass, mortir, pipet tetes, penangas air, mikroskop, stopwatch, counter check, oven, labu erlenmeyer, timbangan elektrik, gunting bedah, dan pipet. Bahan yang digunakan adalah infusa daun bambu, cacing dewasa Haemonchus contortus, akuadestilata, etanol, dan NaCl 0,62%. Penelitian diawali dengan pembuatan Infusa daun bambu petung 0,1% dan 1,2%. Sampel didapat dari koleksi Haemonchus contortus. Sampel Haemonchus dewasa diperoleh dari Rumah Potong Hewan (RPH), diambil dari abomasum kambing yang terinfeksi secara alami. Tingkat vermisidal cacing dewasa pada berbagai dosis dan waktu pengamatan serta perbedaan morfometri Haemonchus contortus diolah melalui ANOVA. Infusa daun bambu petung mempunyai perbedaan yang nyata terhadap vermisidal cacing dewasa Haemonchus contortus pada variasi dosis dan jam diamati. Dosis paling baik untuk meningkatkan vermisidal cacing yaitu infusa daun bambu petung 1,2%. Infusa daun bambu petung mempengaruhi morfometri cacing dewasa Haemonchus contortus terutama panjang tubuh, lebar papila cervical, dan panjang spikula pada jantan dan panjang tubuh, lebar papila servikal, dan panjang vulva pada betina.
Hubungan Karakteristik Inseminator Terhadap Keberhasilan Inseminasi Buatan di Kabupaten Sijunjung: The Relationship of Inseminator Characteristics to The Success of Artificial Insemination in Sijunjung District Rahmadanil; Elisia, Rini; Jamarun, Novirman
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 7 No. 2 (2024): August
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v7i2.48

Abstract

Salah satu faktor penentu keberhasilan inseminasi buatan adalah adanya inseminator sebagai pelaksana inseminasi. Keterampilan dan keahlian inseminator dalam mendeteksi estrus, sanitasi peralatan, penanganan semen beku, pencairan semen, dan kemampuan melakukan inseminasi akan menentukan keberhasilan inseminasi buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan inseminasi buatan berdasarkan karakteristik (internal dan eksternal) inseminator di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode survei, dimana data primer diperoleh dari wawancara terhadap 10 orang inseminator aktif di Kabupaten Sijunjung yang berjumlah 2.713 akseptor. Analisis data menggunakan uji F untuk melihat pengaruh variabel secara simultan dan uji T parsial untuk melihat pengaruh masing-masing variabel. Parameter pengamatannya adalah karakteristik internal inseminator yang meliputi: masa kerja, intensitas pelatihan, tanggung jawab, ketelitian, kemampuan mengelola semen beku dan deteksi estrus. Ciri-ciri eksternal inseminator antara lain: jarak pelayanan, fasilitas pendukung, sanitasi peralatan, kondisi posko IB dan imbalan sukarela. Hasil penelitian menunjukkan nilai S/C sebesar 1,91 dan karakteristik internal inseminator meliputi masa kerja, tanggung jawab, ketelitian, kemampuan mengelola semen beku dan deteksi estrus mempunyai pengaruh yang signifikan (P kecil dari 0,05) terhadap keberhasilan IB dan intensitas pelatihan tidak berpengaruh atas keberhasilan IB. Karakteristik eksternal inseminator yang meliputi jarak pelayanan, sarana penunjang dan sanitasi peralatan terbukti berpengaruh nyata (p kecil dari 0,05) terhadap keberhasilan IB, sedangkan kondisi posko IB dan imbalan sukarela tidak berpengaruh nyata (p besar dari 0,05) terhadap keberhasilan IB. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat keberhasilan IB di Kabupaten Sijunjung termasuk dalam kategori baik dengan nilai S/C sebesar 1,91 dan karakteristik internal dan eksternal inseminator mempengaruhi keberhasilan IB di Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat, Indonesia.
Evaluasi Rumah Potong Ayam dan Praktik Penyembelihannya di Sekitar Kota Surakarta: Evaluation of Poultry Slaughterhouses and Their Practices Surrounding Surakarta City Daffa; Pratiwi, Laksita Haniifah; Pramono, Ahmad; Rahayu, Endang Tri; Anam, Choiroel; Yulviatun, Anastriyani; Cahyadi, Muhammad
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 8 No. 1 (2025): February
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v8i2.56

Abstract

Ayam wajib disembelih sesuai dengan syariat Islam untuk menghasilkan daging halal dan aman dikonsumsi oleh penduduk Indonesia yang mayoritas muslim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pada Rumah Potong Ayam (RPA) dan proses penyembelihan ayam di sekitar kota Surakarta. Evaluasi proses pemotongan ayam dilakukan 18 RPA yang berada di sekitar kota Surakarta. Data diperoleh dari wawancara dengan pemilik RPA, juru sembelih halal, serta pengamatan proses penyembelihan secara langsung. Informasi yang diperoleh dicatat pada kuisioner dan pengambilan gambar bagian leher ayam dilakukan setelah ayam disembelih. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua RPA di sekitar Kota Surakarta memenuhi aspek legalitas seperti izin usaha, nomor kontrol veteriner (NKV), maupun sertifikat halal. Penelitian ini menemukan empat dari 18 juru sembelih halal tidak memotong kedua pembuluh darah pada leher sehingga tidak sesuai dengan syariat Islam. Semua RPA juga tidak melakukan pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semua RPA tidak memenuhi standar keamanan pangan dan halal dalam praktik pemotongan ayam di sekitar Kota Surakarta.
Lama Fermentasi Air Nira dan Interval Hari Pemberian Terhadap Persentase Karkas, Lemak Abdomen, dan Kadar Kolesterol Daging Broiler: The Duration of Sap Water Fermentation and The Interval Between Days of Administration on Carcass Percentage, Abdominal Fat, And Cholesterol Levels in Broiler Meat Prasetyo, Roy; Salvia; Yulia, Eva; Irda, Irzal; Ramaiyulis
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 7 No. 1 (2024): February
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v7i1.59

Abstract

Penggunaan antibiotik dalam pakan pada ternak pada akhir – akhir ini menjadi permasalahan dalam dunia peternakan. Pemakaian antibiotik dapat menyebabkan residu pada ternak sehingga dapat menyerang sistem imunitas konsumen. Oleh karenanya diperlukan alternatif alami sebagai pengganti antibiotik dalam upaya pertumbuhan optimal pada broiler. Pengganti antibiotik yang digunakan yaitu fermentasi air nira. Fermentasi air nira menghasilkan probiotik alami yang juga menghasilkan BAL (bakteri asam laktat). Tujuan penelitian ini adalah melihat interaksi antara lama fermentasi air nira dan selang hari pemberian air nira untuk meningkatkan persentase karkas, menurunkan persentase lemak abdomen, dan kadar kolesterol daging broiler. Pemanfaatan fermentasi air nira dapat digunakan untuk broiler karena mengandung BAL (bakteri asam laktat) yang dapat memacu pertumbuhan bakteri yang menguntungkan serta mencegah bakteri pathogen didalam usus broiler. Selain itu, BAL (bakteri asam laktat) juga menghasilkan enzim BSH (bile salt hydrolase) yang mampu mendekonjugasi garam empedu yang akan diserap oleh usus dan enzim lipase yang memiliki fungsi sebagai pemutus lemak dan menurunkan kadar kolesterol daging pada broiler.
Pengaruh Bioaktivator Berbeda Terhadap Karakteristik Kandungan Serat Kasar dan Protein Kasar Sabut Kelapa Muda Fermentasi: The Influence of Different Bioactivators on the Characteristics Crude Fiber and Crude Protein Content of Fermented Young Coconut Fiber Dericson, Jeneril; Irda, Irzal; Dewi, Muthia; Salvia; Arisya, Wahyu; Rahmi, Novadhila
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 8 No. 1 (2025): February
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32530/jlah.v8i1.75

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji karakteristik, kandungan serat kasar dan protein kasar sabut kelapa muda fermentasi menggunakan 3 jenis bioaktivator. Bahan yang di gunakan yaitu limbah sabut kelapa muda, EM4, ragi tempe, ragi tape (Saccharomyces cerevisiae) dan molases. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan yaitu P0 (sabut kelapa + molasses), P1 (sabut kelapa + molasses + EM4), P2 (sabut kelapa + molasses + ragi tape (Saccharomyces cerevisiae), P3 (sabut kelapa + molasses + ragi tempe (Rhizopus oligosporus). Data yang diperoleh berdasarkan analisis hasil sidik ragam menunjukkan bahwa karakteristik sabut kelapa muda fermentasi penggunaan bioaktivator berbeda tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap aroma, tektur, warna, kelembapan, kehadiran jamur, pH, temperatur. Berdasarkan analisis proksimat AOAC 2005 dan analisis vansoes 1990 didapatkan hasil bahwa pemberian bioaktivator berbeda tidak berpengaruh terhadap karakteristik sabut kelapa muda fermentasi. Perlakuan bioaktivator terbaik adalah ragi tempe (P3) karena mampu menurunkan kandungan SK dan NDF sabut kelapa muda.

Page 4 of 4 | Total Record : 39