cover
Contact Name
Ali Rakhman Hakim
Contact Email
alirakhmanhakim@gmail.com
Phone
+6282350203789
Journal Mail Official
syifajournal@wpcpublisher.com
Editorial Address
Jl. Kelapa Gading RT.01 RW.01, Kota Banjarbaru, 70714, Kalimantan Selatan, Indonesia
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Farmasi SYIFA
ISSN : -     EISSN : 29874122     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Farmasi SYIFA publishes Original Research Articles and Review Articles in all areas of pharmacy and pharmaceutical sciences from the discovery of a drug up to clinical evaluation.
Articles 60 Documents
Article Review: Faktor Risiko Terjadinya Gagal Ginjal Kronik Di Indonesia Febyolla, Citra Lucky; Pardilawati, Citra Yuliyanda; Junando, Mirza; Damayanti, Ervina
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i1.646

Abstract

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan kerusakan ginjal berupa kelainan struktural dan fungsional ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan dan ditandai dengan Glomerular Filtration Rate (GFR) <60 mL/menit/1,73 . GGK dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif disertai dengan ada atau tidaknya penurunan GFR. Article review ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko terjadinya gagal ginjal kronik di Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan literature review, dengan artikel yang diperoleh melalui pencarian di Google dan Google Scholar menggunaan kata kunci “Faktor risiko terjadinya gagal ginjal kronik di Indonesia” yang selanjutnya diseleksi berdasarkan kriteria inklusi. Hasil dari review terhadap dari 10 artikel menunjukkan bahwa terdapat berbagai faktor risiko kejadian gagal ginjal kronik yaitu seperti individu dengan riwayat penyakit hipertensi, diabetes melitus, berusia ³60 tahun, mengkonsumsi obat analgesik/OAINS jangka panjang, sering mengkonsumi alkohol, mengkonsumsi minuman manis, makanan dengan kadar garam tinggi, dan kebiasaan merokok. Oleh karena itu, dapat dilakukan upaya pencegahan dan penanganan GGK meliputi skrining pada populasi yang berisiko tinggi untuk mendeteksi penyakit sejak dini dan memulai pengobatan yang tepat. Selain itu, menerapkan gaya hidup sehat juga sangat penting untuk mengurangi risiko GGK.
Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Bedak Tabur Ekstrak Etanol Daun Sirih Cina (Peperomia Pellucida L.) Rahayu, Lale Budi Hutami; Pomeistia, Meilynda; Hidayah, Thauhidayatul; Tusshaleha, Lelie Amalia; Rohmah, Yulia
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i2.607

Abstract

Kosmetik adalah bahan atau campuran bahan yang dikenakan pada bagian luar tubuh manusia untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik serta merubah rupa secara temporer. Salah satu kosmetik yang sering digunakan oleh konsumen khususnya wanita adalah bedak. Seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya manfaat bahan-bahan alam dalam produk perawatan kulit, maka dibuat satunya bedak dengan formulasi dari ekstrak bahan alam yang memiliki banyak khasiat seperti daun sirih cina (Peperomia pellucida L.). Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengetahui stabilitas fisik bedak tabur ekstrak daun sirih cina (Peperomia pellucida L.). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun sirih cina yang diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut etanol. Ekstrak ini kemudian digunakan sebagai bahan tambahan dalam formulasi sediaan bedak tabur dengan persentase 10%, 15% dan 20% masing-masing kemudian disebut F1, F2, dan F3. Hasil analisis stabilitas fisik berdasarkan uji organoleptis dihasilkan bedak tabur berwarna putih kehijauan dengan aroma khas daun sirih berbentuk serbuk dengan tekstur yang lembut. Pada uji homogenitas, uji pH, uji derajat kehalusan, dan uji iritasi menghasilkan bedak tabur yang homogen dengan pH 6, memiliki derajat kehalusan yang baik dan tidak mengiritasi kulit.
Hubungan Tingkat Kepatuhan Meminum Obat Dengan Nilai Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Geriatri Di Puskesmas Segiri Kota Samarinda Fathimah, Umi; Azmi, Rizki Nur; Abdissalam, Erfan
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i2.776

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling sering muncul di negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit hipertensi pada geriatri diindikasikan ketika hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 150 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Prevalensi hipertensi di Kalimantan Timur berdasarkan diagnosis dokter sebanyak 39,30% dari jumlah total penduduk usia ≥18 tahun. Sedangkan angka kasus hipertensi berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Samarinda  tahun 2024 sebanyak 69.156 kejadian. Penyebab ketidakpatuhan lansia dalam meminum obat antihipertensi diantaranya disebabkan oleh kesibukan dalam bekerja, penurunan daya ingat terkait waktu pemberian obat, efek samping dari pengobatan seperti mengantuk, pusing, rasa mual selama mengonsumsi obat antihipertensi serta penghentian pengobatan saat keadaan membaik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan tingkat kepatuhan meminum obat dengan nilai tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Segiri Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang dirancang dengan menggunakan studi cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel minimum 61 responden. Analisis yang digunakan adalah uji Spearman Rank Corellation. Data yang didapatkan dari pengisian kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) dan nilai tekanan darah di analisis univariat dan bivariat. Hasil yang di dapatkan adalah nilai p = 0,000 dengan nilai koefisien korelasi 0,438. Hasil tersebut disimpulkan bahwa terdapat hubungan cukup kuat antara kepatuhan meminum obat terhadap nilai tekanan darah pasien hipertensi geriatri di Puskesmas Segiri Kota Samarinda.
Uji Aktivitas Antioksidan Umbi Bawang Suna (Allium schoenoprasum L) Segar Dan Fermentasi Menggunakan Metode ABTS Yuliana; Muthia, Rahmi; Saputri, Revita
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i2.777

Abstract

Radikal bebas merupakan molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif dan perlu diatasi dengan memanfaatkan senyawa antioksidan dari bahan alam. Bawang suna (Allium schoenoprasum L.) merupakan tanaman asal Kalimantan Tengah yang banyak digunakan sebagai bumbu dapur sekaligus obat herbal oleh masyarakat Dayak, serta diduga memiliki aktivitas antioksidan karena kandungan metabolit sekundernya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 96% umbi bawang suna segar dan hasil fermentasi menggunakan metode ABTS (2,2′-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Proses fermentasi dilakukan selama 7 hari pada suhu 70–80°C dilanjutkan ekstraksi metode maserasi dengan etanol 96%. Skrining fitokimia secara kualitatif dan uji antioksidan dengan metode spektorofotometri UV-Vis dengan senyawa radikal bebas ABTS. Pembanding yang digunakan yaitu kuersetin. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etanol umbi bawang suna segar dan hasil fermentasi positif mengandung alkaloid, fenol, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ ekstrak segar sebesar 180,277 ppm, hasil fermentasi sebesar 175,536 ppm, dan kontrol positif kuersetin sebesar 4,499 ppm. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% umbi bawang suna baik kondisi segar maupun fermentasi memiliki aktivitas antioksidan kategori lemah.
Identifikasi Dan Uji Kualitatif Kandungan Natrium Diklofenak Pada 15 Jamu Yang Beredar Di Pasar Lama Rahmadani; Alawiyah, Tuti; Raihanah; Hastika, Febby Yulia; Husnati, Lailan; Amanda, Era Dea; Elisa, Audiya
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i2.775

Abstract

Obat tradisional seperti jamu telah lama digunakan masyarakat Indonesia untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, termasuk pegal linu. Namun, meningkatnya permintaan pasar menyebabkan beberapa produsen menambahkan Bahan Kimia Obat (BKO) secara ilegal untuk meningkatkan efektivitas produk. Salah satu BKO yang sering disalahgunakan adalah natrium diklofenak, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang dapat menimbulkan efek samping serius jika dikonsumsi tanpa pengawasan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan natrium diklofenak dalam 15 sampel jamu pegal linu yang dijual di Pasar Lama Kota Banjarmasin dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Penelitian bersifat eksperimental dan kualitatif. Sampel diekstraksi dan diuapkan hingga kental, kemudian diuji pada plat KLT menggunakan eluen campuran n-heksana dan etil asetat (7:3). Bercak diamati di bawah sinar UV 254 nm dan dibandingkan dengan larutan standar natrium diklofenak untuk menentukan keberadaan senyawa. Hasil menunjukkan bahwa 7 sampel jamu, yaitu yaitu Sakit Pinggang, Pegel Linu, Cuk Sirih, Sari Rapet, Sabdo, Angkur Putih, dan Sehat Wanita, positif mengandung natrium diklofenak, sementara 8 sampel lainnya negatif. Penambahan natrium diklofenak secara ilegal ini membahayakan konsumen dan merusak citra jamu sebagai obat tradisional berbahan alami. Metode KLT terbukti efektif sebagai skrining awal untuk mendeteksi keberadaan BKO dalam produk jamu. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan ketat, pengujian rutin, serta edukasi masyarakat guna mencegah peredaran jamu yang mengandung BKO dan menjaga keamanan obat tradisional.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Sepsis Neonatus Di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2021-2022 Azyenela, Lola; Fitra, Juni; Nadia Prima Putri , Seftri
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v3i2.541

Abstract

Sepsis merupakan respon sistemik terhadap infeksi, yang dapat menyebabkan kegagalan multi organ dan dapat mengakibatkan kematian. Terapi antibiotik diperlukan untuk penyakit sepsis neonatus. Penggunaan antibiotik pada sepsis neonatus selalu berdasarkan pada indikasi yang tepat/rasional. Karena jika indikasi tidak sesuai dapat terjadi kejadian resisten dan dapat mempengaruhi penyembuhan penyakit pada pasien sepsis neonatus. Kelebihan metode Gyssen yaitu lebih teliti dan terperinci/jelas, dapat mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif lebih tepat sehingga akan mencegah perkembangan antibiotik resisten. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus dengan metode Gyssens di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2021-2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain retrospektif dengan melihat data rekam medis. Sampel yang diambil adalah pasien sepsis neonatus pada tahun 2021-2022 yang mendapat antibiotik dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang tergolong tepat (kategori 0) sebanyak 28 peresepan (38,88%), antibiotik tidak lebih efektif (kategori IVa) sebanyak 3 peresepan (4,17%), antibiotik terlalu lama (kategori IIIa) sebanyak 5 peresepan (6,94%), antibiotik terlalu singkat (kategori IIIb) sebanyak 22 peresepan (30,56%), antibiotik tidak tepat dosis (kategori IIa) sebanyak 11 peresepan (15,28%), antibiotik tidak tepat interval (kategori IIb) sebanyak 3 peresepan (4,17%). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonates, terdapat 28 peresepan (38,88%) penggunaan antibiotik yang tepat/rasional (kategori 0) dan 44 peresepan (61,12%) penggunaan antibiotik yang tidak tepat/irasional (kategori VI-I).
Uji Aktivitas Penghambatan Enzim α-Glukosidase pada Ekstrak dan Fraksi Akar Wanga (Pigafetta elata) Secara In-vitro Sami, Fitriyanti; Awaluddin, Akbar; Rerung, Alberispon
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.908

Abstract

Suatu penyakit yang ditandai meningkatnya kadar gula dalam darah melebihi kadar normal akibat gangguan metabolisme karbohidrat menjadi glukosa disebut diabetes melitus. Pada sistem pencernaan enzim α-glukosidase mengubah karbohidrat menjadi glukosa, penghambatan enzim α-glukosidase untuk mengendalikan kadar gula darah. Penghambatan enzim α-glukosidase akan memberikan dampak penundaan penyerapan glukosa. Wanga merupakan tumbuhan endemik Sulawesi dan banyak tersebar di Kabupaten Toraja. Potensi tumbuhan wanga belum maksimal pemanfaatannya, kajian ilmiah mengenai tumbuhan ini khususnya untuk obat masih sangat sedikit. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dari ekstrak dan fraksi akar tumbuhan wanga yang dilakukan secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan penghambatan enzim α-glukosidase dengan nilai IC50 pada ekstrak etanol sebesar 56.451 µg/mL, fraksi n-heksan sebesar 155.86 µg/mL, fraksi etil asetat sebesar 42.676 µg/mL, dan fraksi air sebesar 288.83 µg/mL. Sedangkan untuk kontrol positif menggunakan akarbose diperoleh nilai IC50 sebesar 9.536 µg/mL. Dari data tersebut menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan ekstrak etanol akar tumbuhan wanga memiliki aktivitas penghambatan yang lebih tinggi dengan kategori aktif  dibandingkan fraksi lainnya. Namun kategori fraksi etil asetat dan ekstrak etanol masih lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol positif akarbose yang bersifat sangat aktif dalam menghambat enzim α-Glukosidase.
Analisis Komparatif Aspek Manajemen Mutu dalam Penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik antara Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2020 dan Nomor 20 Tahun 2025 Angely; Rahmawati, Aulia Eka; Widjaja, Herman
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.959

Abstract

Distribusi obat merupakan bagian penting dalam rantai pasok farmasi untuk menjamin mutu, keamanan, dan khasiat obat. Penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) di Indonesia diatur melalui Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif aspek manajemen mutu dalam penerapan CDOB berdasarkan PerBPOM Nomor 6 Tahun 2020 dan PerBPOM Nomor 20 Tahun 2025. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan adanya penguatan sistem manajemen mutu pada regulasi terbaru melalui perluasan cakupan, penguatan peran manajemen puncak, dan penegasan tata kelola organisasi.
Analisis Dengan Metode ABC Pada Tahap Pengendalian Obat Antibiotik di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta Periode Tahun 2024 Crisdian S, Hanugrah Ardya; Luthfiananda, Berliana; Sari, Agnes Prawistya; Chatrine, Elizabet Davira
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.963

Abstract

Pengendalian obat adalah salah satu tahapan dalam pelayanan kefarmasian yang dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan sediaan farmasi, Pengendalian obat dilakukan oleh Instalasi Farmasi bersama dengan Komite Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit yang bertujuan untuk memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan, kekurangan, kekosongan ataupun kadaluwarsa. Antibiotik digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Antibiotik merupakan salah satu obat dimana pemakaiannya cukup tinggi dan menggunakan alokasi dana yang besar. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui analisis ABC pada pengendalian obat antibiotik di Instalasi Farmasi RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik kohort menggunakan pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian menggunakan data retrospektif. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisis data menggunakan excel. Dari hasil penelitian, analisis metode ABC pada obat antibiotik kategori A terdapat 6 item obat (10,2%) dengan nilai investasi Rp 2.860.029.816,00 (78,1%), kategori B terdapat 11 item obat (18,6%) dengan nilai investasi Rp 615.854.428,00 (16,8%), dan kategori C terdapat 42 item obat (71,2%) dengan nilai investasi Rp 186.236.883,00 (5,1%).
Gambaran Tingkat Pengetahuan Dan Perilaku Swamedikasi Penggunaan Obat Tetes Mata Untuk Keluhan Mata Ringan: Sebuah Kajian Literatur Nur Fadillah, Astri; Himayani, Rani; Damayanti, Ervina
Jurnal Farmasi SYIFA Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Farmasi SYIFA
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jfs.v4i1.995

Abstract

Swamedikasi penggunaan obat tetes mata merupakan praktik yang umum dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan mata ringan, seperti mata kering, mata merah, dan rasa gatal. Praktik ini cenderung dipilih karena kemudahan akses obat, namun dapat menimbulkan risiko apabila tidak disertai pengetahuan dan perilaku penggunaan yang tepat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi penggunaan obat tetes mata pada keluhan mata ringan. Metode yang digunakan adalah penelusuran dan seleksi artikel ilmiah melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan Research Gate. Dari hasil seleksi, diperoleh 10 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi dengan total 5.305 responden. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan obat tetes mata umumnya berada pada kategori cukup hingga baik, dengan persentase berkisar antara 51% hingga 65,67%. Namun, perilaku penggunaan obat tetes mata masih menunjukkan ketidaktepatan, terutama dalam penggunaan obat tetes mata yang seharusnya memerlukan resep. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tetes mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi untuk meningkatkan penggunaan obat tetes mata yang aman dan rasional pada keluhan mata ringan.