cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
ilham.ummataram@gmail.com
Phone
+6281997989594
Journal Mail Official
ilham.ummataram@gmail.com
Editorial Address
Jl. K.H Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Community Empowerment
ISSN : 29619459     EISSN : 29637090     DOI : -
Journal of Community Empowerment is multidisciplinary scientific journal in the field of empowerment and community Service, published by the English Department Universitas Muhammadiyah Mataram with a publication period of two times in one year, namely in June and December. This journal covers some general problems from the results of research implemented to the community services including (1) social humanities, science, applied science, economic, health, cultural, ICT Development, and administration services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and appropriate technology, (3) community empowerment, students community services, local food security, marketing, and less developed region. The purpose of this journal publication is to disseminate conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the field of service to the community. This journal accepts manuscript in Bahasa or English.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 355 Documents
PENGUATAN FOOD HUB DESA BERBASIS ZAKAT PRODUKTIF UNTUK NILAI TAMBAH DAN AKSES PASAR PETANI Mukhlishin Mukhlishin; Sahman Z; Nurhayati Nurhayati
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.42503

Abstract

ABSTRAKKelompok Tani Tumpang Sari di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, beranggotakan 12 petani padi dan singkong dengan produktivitas sekitar 5 ton/ha, biaya produksi sekitar Rp15.000.000/ha, dan harga jual sekitar Rp5.000/kg karena hasil panen dijual borongan kepada tengkulak. Kegiatan ini bertujuan memperkuat Food Hub Desa berbasis zakat produktif untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan, pengelolaan usaha, nilai tambah produk, dan akses pasar kelompok tani. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui enam tahap, yaitu pemetaan masalah, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi produksi dan pascapanen, pengembangan nilai tambah, penguatan pemasaran, serta monitoring dan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test pada empat materi pelatihan serta asesmen keberdayaan pada enam dimensi. Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat pada pembukuan usaha dari 10,0% menjadi 75,0%, digital marketing dari 6,7% menjadi 74,2%, pengemasan produk dari 17,0% menjadi 80,0%, dan pengolahan singkong dari 20,0% menjadi 81,7%. Skor keberdayaan kelompok naik dari 24,4% menjadi 82,5%. Program juga menghasilkan Unit Usaha Food Hub Desa Malaka yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala Desa Nomor 39 Tahun 2026 dan kepengurusan pengelola zakat berbasis masjid. Dampak ekonomi berupa produktivitas, harga jual, dan pendapatan masih diukur setelah panen dan penjualan. Temuan ini menunjukkan bahwa zakat produktif lebih efektif apabila dipadukan dengan penguatan kelembagaan, teknologi pascapanen, pengolahan, dan akses pasar.Kata kunci: Food Hub Desa, pangan, pemberdayaan, petani, zakat produktif. ABSTRACTThe Tumpang Sari Farmers Group in Malaka Village, Pemenang District, North Lombok Regency, consists of 12 rice and cassava farmers with a productivity of about 5 tons/ha, production costs of about IDR 15,000,000/ha, and a selling price of about IDR 5,000/kg, since harvests are sold in bulk to middlemen. This community service program aimed to strengthen a productive zakat-based Village Food Hub to improve the institutional capacity, business management, product value added, and market access of the farmer group. A participatory approach was applied through six stages: problem mapping, institutional strengthening, production and post-harvest technology, value-added development, marketing strengthening, and monitoring and evaluation. Evaluation used pre-tests and post-tests on four training topics and an empowerment assessment covering six dimensions. The average knowledge score of participants increased in business bookkeeping from 10.0% to 75.0%, digital marketing from 6.7% to 74.2%, product packaging from 17.0% to 80.0%, and cassava processing from 20.0% to 81.7%. The group empowerment score rose from 24.4% to 82.5%. The program also established the Malaka Village Food Hub Business Unit through Village Head Decree No. 39 of 2026 and a mosque-based zakat management board. Economic impacts on productivity, selling price, and income are still being measured after harvest and sales. These findings indicate that productive zakat is more effective when combined with institutional strengthening, post-harvest technology, processing, and market access. Keywords: empowerment, farmers, food, productive zakat, Village Food Hub.
PENGUATAN KELEMBAGAAN DAN DIGITALISASI USAHA KAKAO BERBASIS EKONOMI SYARIAH DI KABUPATEN LOMBOK UTARA Novi Yanti Sandra Dewi; Ahadiah Agustina; Sahman Sahman; Aqodiah Aqodiah; Baiq Ida Astini; Ahmad Helwani
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.40146

Abstract

ABSTRAKKelompok Wanita Tani Baitul Makmur Desa Menggala menghadapi permasalahan dalam pengembangan usaha kakao, yaitu pemasaran yang masih konvensional, produk yang belum memiliki branding dan kemasan menarik, belum optimalnya pemanfaatan marketplace, serta belum tertibnya pencatatan keuangan usaha. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mitra melalui digitalisasi pemasaran dan manajemen keuangan syariah pada usaha kakao. Mitra kegiatan adalah Kelompok Wanita Tani Baitul Makmur yang beranggotakan 22 orang. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi program, pelatihan pengemasan dan branding produk, praktik desain label menggunakan Canva, pendampingan pemasaran melalui marketplace Shopee, penyuluhan penguatan kelembagaan usaha, serta pelatihan manajemen keuangan syariah menggunakan aplikasi SIAPIK. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, observasi praktik, dan diskusi dengan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai branding dan kemasan sebesar 54,5%, keterampilan pemasaran digital sebesar 64%, serta kemampuan pencatatan keuangan menggunakan SIAPIK sebesar 66,7%. Selain itu, kegiatan menghasilkan kemasan produk kakao yang lebih layak pasar, akun pemasaran digital, dan peningkatan kesadaran mitra mengenai tata kelola usaha berbasis prinsip syariah.Kata kunci: Digitalisasi pemasaran; Kakao; Kelompok wanita tani; Manajemen keuangan syariah; SIAPIK. ABSTRACTThe Baitul Makmur Women Farmers Group in Menggala Village faces several problems in developing its cocoa business, including conventional marketing practices, the absence of attractive branding and packaging, limited use of marketplace platforms, and inadequate financial recordkeeping. This community service program aimed to improve the group’s capacity through marketing digitalization and sharia-based financial management for cocoa business development. The partner of this program was the Baitul Makmur Women Farmers Group, consisting of 22 members. The implementation methods included program socialization, packaging and product branding training, label design practice using Canva, marketing assistance through the Shopee marketplace, institutional strengthening counseling, and sharia-based financial management training using the SIAPIK application. Evaluation was conducted through pre-tests, post-tests, practical observation, and participant discussions. The results showed an increase in participants’ understanding of branding and packaging by 54,5%, digital marketing skills by 64%, and financial recording skills using SIAPIK by 66,7%. In addition, the program produced more marketable cocoa product packaging, a digital marketing account, and improved partner awareness of business governance based on sharia principles. Keywords: Digital marketing; Cocoa; Women farmers group; Sharia financial management; SIAPIK.
INOVASI FERMENTASI LIMBAH TEMPE SEBAGAI PROBIOTIC-ENRICHED FEED DALAM MODEL PEMBERDAYAAN UMKM TEMPE DAN PETERNAK BERBASIS KEBERLANJUTAN USAHA Ahadiah Agustina; Abdul Wahab; Suhairin Suhairin; Ageska Nugroho; Baiq Andini
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.41972

Abstract

ABSTRAKUMKM Tempe De Batur menghasilkan limbah padat berbasis residu kedelai yang belum dimanfaatkan secara optimal, sedangkan kelompok Ternak De Solah membutuhkan alternatif bahan pakan yang mudah diperoleh dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas mitra dalam mengolah limbah tempe menjadi pakan fermentasi yang diperkaya starter Lactiplantibacillus plantarum, sekaligus memperkuat manajemen usaha dan digitalisasi pemasaran. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi dan persiapan, sosialisasi dan penyuluhan, workshop dan praktik, pendampingan pemanfaatan produk, penguatan manajemen usaha dan digitalisasi, serta evaluasi. Sebanyak 20 peserta dari dua kelompok mitra terlibat dalam kegiatan. Evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pengetahuan, lembar observasi keterampilan, penilaian produk, evaluasi manajemen usaha, evaluasi digitalisasi, dan kuesioner respons peserta. Hasil menunjukkan pengetahuan meningkat dari 44,3% menjadi 87,5% atau sebesar 43,2%; keterampilan praktik meningkat dari 35,0% menjadi 87,7% atau sebesar 52,7%; kemampuan manajemen usaha meningkat sebesar 53,8%; dan kemampuan digitalisasi pemasaran meningkat sebesar 60,0%. Kegiatan menghasilkan pakan fermentasi, penguatan identitas dan kemasan produk, serta model kolaborasi UMKM-peternak berbasis ekonomi sirkular. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi fermentasi, penguatan kapasitas usaha, dan digitalisasi dapat mendukung pemanfaatan limbah serta keberlanjutan usaha mitra, meskipun kualitas nutrisi dan keamanan pakan masih memerlukan pengujian laboratorium.Kata kunci: Limbah Tempe; Pakan Fermentasi; Lactiplantibacillus Plantarum; Pemberdayaan UMKM; Ekonomi Sirkular. ABSTRACTTempeh MSME De Batur generates solid residues from soybean processing that have not been optimally utilized, while the Ternak De Solah farmer group needs accessible and sustainable alternative feed resources. This community engagement program aimed to strengthen partners’ capacity to process tempeh residues into fermented feed enriched with Lactiplantibacillus plantarum starter while improving business management and digital marketing capabilities. The implementation consisted of identification and preparation, socialization and counseling, workshops and practical training, product utilization mentoring, business management and digitalization strengthening, and evaluation. A total of 20 participants from the two partner groups were involved. Evaluation instruments included pre- and post-tests of knowledge, skill-observation sheets, product assessment, business-management assessment, digitalization assessment, and participant-response questionnaires. The results showed that knowledge increased from 44.3% to 87.5%, representing a 43.2% increase; practical skills increased from 35.0% to 87.7%, representing a 52.7% increase; business-management capacity increased by 53.8%; and digital-marketing capacity increased by 60.0%. The program produced fermented feed, strengthened product identity and packaging, and established an MSME–farmer collaboration model based on a circular-economy approach. These findings indicate that integrating fermentation technology, business-capacity strengthening, and digitalization can support waste utilization and partner-business sustainability, although nutritional quality and feed safety still require laboratory testing.Keywords: Tempeh Waste; Fermented Feed; Lactiplantibacillus Plantarum; MSME Empowerment; Circular Economy.
PENGUATAN KOMPETENSI GURU MELALUI WORKSHOP PEMBELAJARAN LITERASI BERBASIS DEEP LEARNING DI YAYASAN ISLAM DAUD KHOLIFATULLOH TARAKAN Siti Sulistyani Pamuji; Romlah Ulfaika; Rita Kumalasari; Ridwan Ridwan; Suyadi Suyadi
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.42126

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Literasi merupakan kompetensi dasar dalam pengembangan keterampilan abad ke-21, sementara penerapan Deep Learning menjadi arah strategis untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, sadar, dan menyenangkan. Namun, masih banyak guru yang belum memahami secara optimal integrasi pendekatan Deep Learning dalam pembelajaran literasi. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran literasi berbasis Deep Learning. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan workshop partisipatif yang melibatkan guru RA Qurratu A’yun, MI, dan MTs di Yayasan Islam Daud Kholifatulloh Tarakan. Metode kegiatan meliputi ceramah, demonstrasi, praktik terbimbing, diskusi, dan refleksi kolaboratif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru terhadap paradigma Deep Learning, kemampuan dalam menyusun perangkat pembelajaran dan RPP berbasis literasi, serta meningkatnya motivasi untuk menerapkan pembelajaran literasi yang berpusat pada peserta didik. Workshop ini juga memperkuat kesiapan guru dalam mengembangkan pembelajaran literasi yang bermakna sesuai transformasi pendidikan saat ini.Kata Kunci: Deep Learning; Literasi; Workshop Guru; Kompetensi Guru; Pembelajaran. ABSTRACTLiteracy is a fundamental competency for developing 21st-century skills, while Deep Learning represents a strategic approach to fostering meaningful, mindful, and joyful learning. However, many teachers still face challenges in optimally integrating the Deep Learning approach into literacy instruction. This community service program aimed to enhance teachers’ competencies in designing and implementing literacy instruction based on Deep Learning. The program employed a participatory workshop approach involving teachers from RA Qurratu A’yun, MI, and MTs within the Daud Kholifatulloh Islamic Foundation in Tarakan. The activities included lectures, demonstrations, guided practice, discussions, and collaborative reflection. The results indicated improved teachers’ understanding of the Deep Learning paradigm, enhanced skills in developing literacy-based instructional plans and teaching materials, and increased motivation to implement student-centered literacy learning. The workshop also strengthened teachers’ readiness to develop meaningful literacy instruction aligned with current educational transformation. These findings suggest that participatory workshops can serve as an effective strategy for strengthening teachers’ competencies and supporting the implementation of literacy learning based on Deep Learning.Keywords: Deep Learning; Literacy; Teacher Workshop; Teacher Competence; Learning.
EVALUASI PELATIHAN FASILITATOR DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENGASUHAN ORANG TUA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SURAKARTA Vania Martha Yunita; Joko Yuwono; Dewi Sri Rejeki; Mahardika Supratiwi; Leni Ambar Cahyani
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.41955

Abstract

ABSTRAKAnak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan dukungan pengasuhan yang tepat melalui keterlibatan aktif orang tua dan pendamping yang memadai. Fasilitator berperan penting dalam membantu orang tua memahami kebutuhan anak, membangun sikap positif, serta menerapkan strategi pengasuhan yang sesuai. Kegiatan ini bertujuan mengevaluasi pelatihan fasilitator dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pengasuhan orang tua ABK di Surakarta. Pelatihan berbasis kompetensi ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 34 calon fasilitator sebagai peserta pelatihan yang berasal dari guru, orang tua ABK, kepala sekolah, psikolog klinis, terapis, bidan, dan pendamping ABK. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner evaluasi yang mengukur relevansi materi, efektivitas metode pelatihan, kompetensi fasilitator, pengalaman belajar, serta kesiapan menjalankan peran fasilitator. Hasil evaluasi menunjukkan pelatihan memperoleh respons sangat positif dengan nilai rata-rata 4,87 dari skala 5. Peserta menilai materi relevan (4,79), metode pelatihan efektif meningkatkan pemahaman (4,79), serta memberikan dampak positif terhadap kesiapan peserta (4,94). Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan fasilitator mampu meningkatkan kapasitas individu dalam aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku pengasuhan berbasis kebutuhan keluarga ABK. Pelatihan berkelanjutan dengan durasi lebih panjang dan praktik lapangan diperlukan untuk memperkuat kompetensi fasilitator.Kata kunci: Pelatihan fasilitator; Anak berkebutuhan khusus; Pengasuhan orang tua. ABSTRACTChildren with special needs require appropriate caregiving support through active parental involvement and adequate assistance. Facilitators play an important role in helping parents understand their children’s needs, develop positive attitudes, and implement appropriate caregiving strategies. This study aimed to evaluate facilitator training in improving the knowledge, attitudes, and caregiving practices of parents of children with special needs in Surakarta. A descriptive quantitative approach was employed, involving 34 prospective facilitators consisting of teachers, parents of children with special needs, school principals, clinical psychologists, therapists, midwives, and support workers. Data were collected using an evaluation questionnaire measuring the relevance of training materials, effectiveness of training methods, facilitator competence, learning experiences, and participants’ readiness to perform their roles as facilitators. The evaluation results showed that the training received a highly positive response, with an overall mean score of 4.87 out of 5. Participants rated the relevance of the materials at 4.79, the effectiveness of the training methods in improving understanding at 4.79, and the positive impact on their readiness at 4.94. These findings indicate that facilitator training can enhance participants’ capacity in terms of knowledge, attitudes, and caregiving practices based on the needs of families of children with special needs. Continuous training with longer duration and field practice is needed to strengthen facilitator competencies. Keywords: Facilitator training; Children with special needs; Parental caregiving.
CERITA DI BALIK PRODUK: PELATIHAN STORYTELLING DIGITAL MARKETING BAGI UMKM KLATEN Diah Ajeng Purwani; Aulia Faqih Rifa'i
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.42166

Abstract

ABSTRAKDigitalisasi pemasaran menuntut pelaku UMKM untuk tidak hanya hadir secara daring, tetapi juga mampu mengomunikasikan nilai produknya secara autentik dan menarik di tengah persaingan pasar digital yang semakin padat. Sebagian besar pelaku UMKM di Kebondalem Lor, Klaten, masih menggunakan pendekatan promosi konvensional yang berfokus pada informasi produk semata tanpa unsur narasi, sehingga kurang mampu membangun keterikatan emosional dengan konsumen. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam memproduksi konten pemasaran digital berbasis teknik storytelling yang autentik dan aplikatif. Metode pelaksanaan menggabungkan pelatihan partisipatif berupa ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, mencakup teknik fotografi produk menggunakan smartphone serta penyusunan narasi storytelling, yang diikuti oleh dua puluh peserta dari beragam sektor usaha, meliputi laundry, warung makan, dan jajanan pasar, bertempat di Kantor Kelurahan Kebondalem Lor. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan visual dan naratif peserta, ditandai dengan 95% UMKM yang berhasil mengunggah konten menggunakan narasi ke status WhatsApp dan 15% UMKM ke TikTok, serta kemampuan peserta menemukan diferensiasi narasi produk masing-masing. Kegiatan ini turut memunculkan kebutuhan pendampingan lanjutan, seperti sertifikasi halal dan optimalisasi profil Google Maps. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pelatihan yang memadukan keterampilan visual dan naratif secara terintegrasi efektif mendorong produksi konten pemasaran digital UMKM secara mandiri dan berkelanjutan.Kata kunci: Storytelling; Digital marketing; UMKM; Fotografi produk; Pemberdayaan masyarakat. ABSTRACTDigitalization of marketing requires MSME actors not only to be present online but also to communicate the value of their products authentically and attractively amid increasingly dense digital market competition. Most MSME actors in Kebondalem Lor, Klaten, still use conventional promotional approaches that focus solely on product information without narrative elements, so they are less able to build emotional attachment with consumers. This service activity aims to increase MSME actors' capacity to produce digital marketing content using authentic, applicable storytelling techniques. The implementation method combines participatory training in the form of lectures, demonstrations, and hands-on practice, including product photography techniques using smartphones and the preparation of storytelling narratives, which was attended by twenty participants from various business sectors, including laundry, food stalls, and market snacks, located at the Kebondalem Lor Village Office. The results of the activity showed an improvement in the visual and narrative skills of the participants, with 95% of MSMEs successfully uploading narrative content to WhatsApp status and 15% to TikTok, as well as participants' ability to differentiate their respective product narratives. This activity also raised the need for follow-up assistance, such as halal certification and optimization of Google Maps profiles. These findings confirm that a training approach that integrates visual and narrative skills effectively encourages the independent, sustainable production of MSME digital marketing content.Keywords: Storytelling; Digital marketing; MSMEs; Product photography; Community empowerment.
LITERASI DIGITAL BERBASIS KELUARGA PADA SISWA DAN WALI MURID SEKOLAH DASAR AISYIYAH 1 KOTA MATARAM Suhadah Suhadah; Fathurijjal Fathurijjal; Nurilham Nurilham; Cucu Cahyanti; Kadri Kadri
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.39644

Abstract

ABSTRAKLiterasi digital dinilai berdampak jika dilakukan secara bersamaan kepada anak dan orang tua agar pengetahuan dan keterampilan bermedia digital dimiliki secara bersamaan oleh anggota keluarga. Dalam konteks inilah pentingnya kegiatan penguatan literasi digital berbasis keluarga pada siswa SD dan orang tuanya. Pengabdian dengan tema ”Literasi Digital berbasis Keluarga pada Siswa dan Wali Murid SD Aisyiyah  1 Kota Mataram” ini terdiri dari dua jenis kegiatan yaitu penyampaian materi dalam bentuk ceramah dan diskusi, dan pendampingan langsung di rumah. Materi literasi digital terdiri dari dua aspek yaitu materi tentang teknik pemanfaatan smartphone untuk memaksimalkan fitur yang bermanfaat dan sehat di dalamnya; dan materi tentang keterampilan sosial dalam bermedia sosial yang sehat serta strategi pendampingan anak dalam pemanfaatan media digital. Hasil pengabdian menunjukkan adanya respons positif dari pimpinan SD Aisyiyah 1 Mataram dan orang tua terhadap kegiatan literasi digital. Proses pendampingan di rumah juga mendapat apresiasi karena membantu tim pengabdian melihat penerapan materi dalam kehidupan keluarga. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kombinasi penyampaian materi di sekolah dengan praktik dan pendampingan di rumah dapat mendukung penguatan literasi digital berbasis keluarga serta berpotensi diterapkan pada lingkungan pendidikan lainnya.Kata kunci: literasi digital; SD Aisyiyah 1 Mataram; Media sosial; Literasi berbasis keluarga. ABSTRACTDigital literacy will have an impact if it is carried out simultaneously with children and parents so that digital media knowledge and skills are owned simultaneously by family members. In this context, the importance of family-based digital literacy strengthening activities for elementary school students and their parents. The community service with the theme "Family-Based Digital Literacy for Students and Parents of Aisyiyah 1 Elementary School, Mataram City" consists of two types of activities: the delivery of material in the form of lectures and discussions, and direct mentoring at home. The digital literacy material consists of two aspects: material on techniques for utilizing smartphones to maximize their useful and healthy features; and material on social skills in healthy social media and strategies for mentoring children in the use of digital media. The results of the community service project indicate a positive response from the administration of Aisyiyah 1 Elementary School in Mataram and from parents toward the digital literacy activities. The at-home mentoring process was also well-received, as it helped the community service team observe how the material was applied in family life. These findings suggest that combining the delivery of instructional material at school with practice and mentoring at home can support the strengthening of family-based digital literacy and has the potential to be applied in other educational settings.Keywords:  Digital literacy; Aisyiyah 1 Mataram Elementary School; Social media; Family-based literacy.
PELATIHAN DESAIN DIGITAL BERBASIS CANVA UNTUK PENGUATAN PROMOSI EDUKASI BATIK PADA KOMUNITAS BATIK TIGA ZAMAN Hesti Rosita Dwi Putri; Fulkha Tajri M; Nisa Rizqiya Fadhliana; Rakha Dzaky Alfath; Amelia Khasanah Putri; Olga Jane Vanka; Vito Zilanayo; Khodija Amalatus Sholeha; Muhammad Azka Yunastio; Hari Yatun Nasifa; Vincensius Frodo Siregar
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.42156

Abstract

ABSTRAKKomunitas Batik Tiga Zaman merupakan mitra pengabdian yang berperan sebagai pusat edukasi dan pelestarian batik di Balikpapan namun pengelolaan promosi dan branding komunitas masih dilakukan secara konvensional dengan jangkauan yang relatif terbatas akibat rendahnya kemampuan pengelolaan media digital. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas anggota komunitas dalam merancang media promosi edukasi batik menggunakan aplikasi Canva. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif dengan pendekatan praktik langsung, meliputi penentuan informasi, penyusunan komposisi visual, pemilihan tipografi dan elemen grafis, serta penyesuaian desain dengan identitas komunitas, yang dilanjutkan dengan pendampingan pembuatan konten promosi secara mandiri. Evaluasi dilakukan melalui kuesioner pre-test dan post-test terhadap empat peserta pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan membuat konten promosi edukasi membatik dari rata-rata 2,25 menjadi 4,00 (meningkat 77,8%) dan kemampuan menentukan karakteristik desain brosur untuk anak dan dewasa dari rata-rata 3,75 menjadi 4,75 (meningkat 26,7%), dengan rata-rata keseluruhan sembilan indikator keberdayaan mitra meningkat dari 3,42 menjadi 4,44 (meningkat 30,1%). Pelatihan ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan teknis, pemahaman branding, serta kepercayaan diri mitra dalam mengelola promosi digital secara mandiri dan berkelanjutan.Kata kunci: Canva; Desain Digital; Promosi Edukasi Batik; Branding Komunitas; Pelatihan Digital. ABSTRACTBatik Tiga Zaman Community serves as a community-service partner acting as an education and conservation center for batik in the Balikpapan area, yet its promotion and branding management remains conventional with a relatively limited reach due to low digital media management skills. This community service activity aims to improve members' capacity in designing batik education promotional media using the Canva application. The method used was participatory training with a hands-on approach, covering information selection, visual composition, typography and graphic element selection, and design adjustment to the community's identity, followed by mentoring in independently producing promotional content. Evaluation was conducted through pre-test and post-test questionnaires administered to four training participants. Results showed that the ability to create engaging batik education promotional content increased from an average of 2.25 to 4.00 (an increase of 77.8%), and the ability to determine brochure design characteristics for children and adults increased from an average of 3.75 to 4.75 (an increase of 26.7%), with the overall average across nine empowerment indicators rising from 3.42 to 4.44 (an increase of 30.1%). The training proved effective in enhancing technical skills, branding understanding, and participants' confidence in managing digital promotion independently and sustainably.Keywords: Canva; Digital Design; Batik Education Promotion; Community Branding; Digital Training.
PENGUATAN NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI PEMBELAJARAN IPS DI SMP NEGERI 2 GUNUNG SUGIH Navil Alfarisi Abbas; Sumargono Sumargono; Suparman Arif; Ulul Azmi Muhammad; Yusuf Perdana; Maskun Maskun; Bahtiar Afwan
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.42504

Abstract

ABSTRAKKeterbatasan pemahaman peserta didik terhadap kearifan lokal dan nilai sosial budaya di lingkungan sekitar menjadi salah satu permasalahan dalam pembelajaran IPS yang kontekstual. Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta didik mengenai kearifan lokal serta nilai sosial dan budaya yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPS. Kegiatan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, dengan mitra peserta didik SMP Negeri 2 Gunung Sugih sebanyak 35 orang. Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi, sosialisasi, tanya jawab, diskusi kelompok, identifikasi kearifan lokal, dan presentasi hasil. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi terhadap keaktifan, kemampuan mengidentifikasi kearifan lokal, menghubungkannya dengan materi IPS, dan menyampaikan hasil diskusi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai dari 68,43 pada pre-test menjadi 87,14 pada post-test, atau meningkat 18,71 poin (27,35%). Peserta didik juga mampu mengidentifikasi nilai gotong royong, kerja sama, toleransi, tanggung jawab, kepedulian, kebersamaan, dan penghargaan terhadap budaya. Kegiatan ini mendukung pembelajaran IPS yang lebih kontekstual, partisipatif, dan bermakna. Kata kunci: kearifan lokal; pembelajaran IPS; peserta didik; nilai sosial budaya; pembelajaran kontekstual. ABSTRACTLimited understanding of local wisdom and socio-cultural values in the surrounding environment is one of the challenges in developing contextual social studies (IPS) learning. This community service program aimed to strengthen students’ understanding of local wisdom and socio-cultural values that can be integrated into social studies learning. The program was conducted at SMP Negeri 2 Gunung Sugih, Central Lampung Regency, involving 35 students as the community service partners. The implementation methods included material delivery, socialization, question-and-answer sessions, group discussions, identification of local wisdom, and presentation of the results. Evaluation was conducted through pre-tests and post-tests, as well as observations of students’ participation, ability to identify local wisdom, relate it to social studies learning materials, and present the results of their discussions. The results showed an increase in the students’ average scores from 68.43 on the pre-test to 87.14 on the post-test, representing an increase of 18.71 points (27.35%). Students were also able to identify values of mutual cooperation, teamwork, tolerance, responsibility, concern, togetherness, and appreciation of culture. The program contributed to more contextual, participatory, and meaningful social studies learning. Keywords: local wisdom; social studies learning; students; socio-cultural values; contextual learning.
APLIKASI SAHARA (SAHABAT REMAJA SEHAT DAN BERENCANA) UNTUK MENINGKATKAN INTENSI PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN DI WILAYAH PUSKESMAS KESUGIHAN II KABUPATEN CILACAP Agustin Widyowati; Susanti Susanti; Sri Rahayu
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 3 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i3.41214

Abstract

 ABSTRAKPernikahan usia dini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap kesehatan reproduksi remaja, peningkatan risiko komplikasi kehamilan, serta kualitas hidup di masa mendatang. Kondisi tersebut masih dijumpai di wilayah kerja Puskesmas Kesugihan II Kabupaten Cilacap sehingga diperlukan upaya promotif yang inovatif melalui pemanfaatan media digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, self-efficacy, dan intensi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) pada remaja melalui pendidikan kesehatan reproduksi berbasis digital menggunakan aplikasi SAHARA (Sahabat Remaja Sehat dan Berencana). Kegiatan dilaksanakan pada hari Kamis, 02 Juli 2026 di Bali Desa Kalisabuk dengan melibatkan 20 remaja berusia 10–18 tahun. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan pemberian pretest, pendidikan kesehatan reproduksi, demonstrasi penggunaan aplikasi, diskusi interaktif, konseling kelompok, serta post test. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan,  sikap, self-efficacy, dan dukungan teman sebaya peserta sebelum dan sesudah kegiatan dilaksanakan. Hasil kegiatan menunjukkan rerata skor pengetahuan meningkat dari 16,00 menjadi 16,25, self-efficacy meningkat dari 34,05 menjadi 34,60, sedangkan dukungan teman sebaya meningkat dari 34,45 menjadi 35,9. Pada variabel sikap terjadi perubahan yang sangat kecil, yaitu dari 47,25 menjadi 47,30, sehingga secara deskriptif menunjukkan skor yang relatif tetap setelah intervensi. Kegiatan ini menunjukkan bahwa integrasi pendidikan kesehatan reproduksi dengan media digital berpotensi menjadi strategi promotif yang efektif dalam mendukung program Pendewasaan Usia Perkawinan serta pencegahan perkawinan usia dini pada remaja.Kata kunci: Kesehatan reproduksi; Remaja; Media digital; SAHARA. ABSTRACTEarly marriage remains a public health issue affecting adolescent reproductive health, increasing the risk of pregnancy complications, and impacting future quality of life. This issue persists in the service area of the Kesugihan II Community Health Center (Puskesmas) in Cilacap Regency, necessitating innovative health promotion efforts that utilize digital media. This community service initiative aimed to enhance adolescents' knowledge, attitudes, self-efficacy, and intentions regarding the "Maturation of Marriage Age" (PUP) through digital-based reproductive health education using the SAHARA (*Sahabat Remaja* / Adolescent Friend) application. The activity took place on Thursday, July 2, 2026, at the Kalisabuk Village Hall, involving 20 adolescents aged 10–18. The implementation process comprised a pre-test, reproductive health education, an application usage demonstration, interactive discussions, group counseling, and a post-test. Evaluation was conducted using pre- and post-tests to assess participants' knowledge levels, attitudes, self-efficacy, and peer support before and after the intervention. Results showed that the mean knowledge score rose from 16.00 to 16.25, self-efficacy increased from 34.05 to 34.60, and peer support increased from 34.45 to 35.90. Regarding attitudes, there was a negligible change—shifting from 47.25 to 47.30—indicating that the score remained relatively stable following the intervention. This activity demonstrates that integrating reproductive health education with digital media holds potential as an effective promotional strategy to support the Maturation of Marriage Age program and prevent early marriage among adolescents.Keywords: Reproductive health; Adolescents; Digital media; SAHARA.