cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
shariajournaledu@gmail.com
Editorial Address
Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Interdisciplinary Explorations in Research Journal (IERJ)
ISSN : 30321069     EISSN : 30321069     DOI : https://doi.org/10.62976/ierj.v3i2.1120
The Interdisciplinary Explorations in Research Journal (IERJ) is a peer-reviewed academic journal that provides an international platform for scholars and researchers to share innovative and cross-disciplinary studies. IERJ publishes original research articles, reviews, and scholarly papers that advance theoretical understanding and practical applications across diverse academic fields, including science, technology, social sciences, and the humanities. The journal welcomes interdisciplinary research and community service-based studies that offer new insights, foster collaboration, and address global challenges. By promoting intellectual dialogue and cross-field exploration, IERJ aims to contribute to the integration of knowledge, encourage academic innovation, and support impactful research that benefits both scholarship and society.
Articles 280 Documents
The Influence Of Digital Culture On Job Satisfaction With Self-Reward As A Moderating Variable Tri Cicik; Erna Kusumawati; Verismawaty Verismawaty; Angga Nugraha; Hertya Andriani
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2027

Abstract

The massive digital transformation in the Industry4.0 and Society 5.0 eras has fundamentally changed the global work landscape, requiring organizations to adopt a digital culture to maintain competitive advantage. This study aims to examine and analyze the influence of digital culture on employee job satisfaction and evaluate the role of self-reward as a moderating variable that strengthens or weakens this relationship. This research approach uses an explanatory quantitative method based on empirical research in the creative industry and modern technology sectors. Data collection was carried out through a structured questionnaire measured on a five-point Likert scale. Data analysis was tested using the Structural Equation Modeling method based on Partial Least Squares (SEM-PLS). The test results indicate that digital culture has a positive and significant effect on job satisfaction. Furthermore, the self-reward variable is proven to significantly act as a pure moderator that strengthens the positive influence of digital culture on employee job satisfaction levels. These findings provide a theoretical contribution to the literature on Human Resource Management (HRM) and organizational behavior by integrating the concept of self -reward in the dynamics of digital work. Practically, organizational leaders are advised to not only focus on providing technological infrastructure, but also on building a culture of self-appreciation and a work ecosystem that supports employee mental well-being.
Strategi Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Pesisir Kecamatan Waplau Kabupaten Buru Yatsrib Akbar Sowakil
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2031

Abstract

Masyarakat nelayan pesisir Kecamatan Waplau Kabupaten Buru masih menghadapi persoalan rendahnya kapasitas usaha, keterbatasan teknologi penangkapan, lemahnya akses pemasaran, rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan modal, ketergantungan terhadap pedagang pengumpul, serta belum meratanya manfaat program pemberdayaan. Kondisi tersebut menyebabkan potensi sumber daya perikanan yang relatif besar belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah telah memberikan manfaat bagi aktivitas usaha nelayan, tetapi dampaknya belum merata dan belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan struktural yang dihadapi masyarakat pesisir. Dari 45 responden, 22,2% menyatakan bantuan sangat bermanfaat dan 55,56% menyatakan bermanfaat. Namun, pengelolaan bantuan kelompok yang masih terkonsentrasi pada individu, minimnya pelatihan, rendahnya pendidikan, ketergantungan terhadap musim, serta lemahnya akses pasar menjadi kendala utama. Kondisi ekonomi nelayan juga dipengaruhi oleh rendahnya harga ikan dan dominannya pedagang pengumpul dalam menentukan harga. Analisis SWOT menghasilkan tujuh alternatif strategi, yaitu memperbesar skala usaha perikanan, penambahan armada tangkap, bantuan pemerintah yang tepat sasaran, pelatihan tata kelola pemasaran, diversifikasi pengolahan ikan, perumusan regulasi kestabilan harga ikan, dan pengelolaan hasil tangkap berbasis masyarakat. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa prioritas tertinggi adalah perumusan Peraturan Daerah terkait kestabilan harga ikan sebesar 45,7%, diikuti bantuan pemerintah yang tepat sasaran sebesar 19,6% dan penambahan armada tangkap sebesar 12,3%, dengan nilai Consistency Ratio 7,7%. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan nelayan Kecamatan Waplau perlu diarahkan tidak hanya pada bantuan sarana produksi, tetapi juga pada penguatan tata kelola pasar, perlindungan posisi tawar nelayan, pemerataan bantuan, peningkatan kapasitas, dan penguatan kelembagaan masyarakat.
Keabsahan Perjanjian Elektronik Dalam Transaksi Digital: Analisis Yuridis Normatif Terhadap Syarat Sah Perjanjian Dalam Perspektif Hukum Perdata Indonesia Ahyan Septiani; Dinalara Dermawati Butar Butar
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2034

Abstract

Transformasi digital telah menggeser paradigma perikatan dari praktik konvensional berbasis interaksi tatap muka menjadi transaksi yang dimediasi teknologi melalui platform elektronik dan sistem informasi, menciptakan persoalan fundamental tentang bagaimana konsep keabsahan perjanjian berlaku dalam ekosistem digital yang tidak memerlukan kehadiran fisik para pihak. Fenomena ini menimbulkan kontroveri serius terkait validitas perjanjian elektronik di bawah kerangka hukum perdata Indonesia yang klasik, sambil menunjukkan tren akselerasi pertumbuhan transaksi digital, terutama dalam layanan e-commerce, fintech, dan smart contracts yang telah mencapai miliaran kontrak digital setiap tahunnya, mendorong kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi doktrin keabsahan perjanjian agar responsif terhadap realitas teknologi kontemporer (Utomo & Thukuse, 2025). Penelitian ini berangkat dari permasalahan normatif mengenai apakah keempat syarat sah perjanjian menurut Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu sepakat, kecakapan, hal tertentu, dan kausa yang halal, dapat terpenuhi dalam konteks perjanjian elektronik yang dieksekusi melalui mekanisme digital seperti clickwrap agreements, biometric authentication, dan smart contracts. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis yuridis normatif mendalam terhadap keabsahan perjanjian elektronik dengan mengintegrasikan ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024, Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019, dan doktrin hukum perdata Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode perundang-undangan, konseptual, dan komparatif, didukung oleh analisis mendalam terhadap putusan pengadilan dan praktik bisnis digital. Temuan utama menunjukkan bahwa perjanjian elektronik dapat dianggap sah secara hukum selama memenuhi keempat syarat validitas tersebut, meskipun terdapat kesenjangan normatif signifikan dalam hal verifikasi identitas, kejelasan kehendak (consensus), dan mekanisme pembuktian yang masih mengadopsi kerangka hukum konvensional. Penelitian ini merekomendasikan perlunya reformasi hukum komprehensif melalui harmonisasi regulasi antara hukum perdata dan hukum transaksi elektronik, penetapan standar digital consent yang ketat, dan penguatan mekanisme verifikasi otentikasi elektronik untuk memastikan kepastian hukum dan perlindungan yang seimbang bagi semua pihak dalam ekosistem transaksi digital Indonesia.
Penyuluhan Hukum Tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Di Kuala Lumpur: Literasi Kontrak Kerja Digital Dan Bukti Digital Dalam Menghadapi Permasalahan Kerja Hanafi Arief; Hidayatullah Hidayatullah; Akhmad Munawar; Indah Dewi Megasari; Adriansyah Adriansyah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2035

Abstract

Pekerja migran Indonesia menghadapi hubungan kerja lintas negara yang semakin bergantung pada dokumen dan komunikasi digital. Dalam kondisi tersebut, perlindungan hukum tidak cukup hanya dipahami sebagai keberadaan aturan, tetapi juga sebagai kemampuan pekerja membaca kontrak, mengenali hak dan kewajiban, menjaga dokumen, serta menggunakan bukti digital ketika muncul masalah kerja. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Internasional ini dilaksanakan oleh Program Pascasarjana Program Studi Magister Hukum Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 13–18 April 2026. Sesi penyuluhan berfokus pada pengertian dan syarat sah perjanjian kerja, kewajiban pekerja dan pemberi kerja, bagian penting dalam kontrak, keabsahan kontrak kerja digital, jenis bukti digital, cara penyimpanan bukti, serta langkah praktis ketika terjadi perselisihan kerja. Metode kegiatan menggunakan penyuluhan hukum partisipatif yang dipadukan dengan diskusi kasus, identifikasi dokumen, dan evaluasi reflektif. Peserta terdiri atas tim akademik Program Magister Hukum dan beberapa pekerja migran Indonesia yang bekerja di Malaysia. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa materi hukum lebih mudah dipahami ketika disusun dari persoalan konkret seperti upah tidak dibayar, pekerjaan tidak sesuai kontrak, pemutusan hubungan kerja sepihak, dan perlakuan tidak adil. Kegiatan menghasilkan kerangka praktis lima langkah, yaitu membaca kontrak secara teliti, memahami isi pokoknya, menyimpan dokumen, mengumpulkan bukti digital, dan mencari bantuan melalui saluran yang berwenang. Program ini menegaskan bahwa literasi kontrak dan literasi bukti digital merupakan keterampilan preventif yang relevan untuk memperkuat kesiapan hukum pekerja migran.
Penguatan Keterampilan Teknis Digital Dan Literasi Digital Bagi Pekerja Migran Indonesia Di Kuala Lumpur, Malaysia Nurul Listiyani; Muhammad Aini; Lutfi Yusup Rahmathoni; Junaidi Junaidi; Sandi Khairullah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2036

Abstract

Abstract Digital transformation has changed the way migrant workers access information, communicate, store documents, conduct transactions, and adapt to workplace demands. Intensive smartphone use, however, does not automatically translate into productive, critical, and safe digital practices. This international community service program aimed to strengthen the digital technical skills and digital literacy of Indonesian Migrant Workers in Kuala Lumpur, Malaysia. The program was conducted on 13–18 April 2026 by the Master of Law Postgraduate Program of Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin, involving lecturers, practitioners, and several Indonesian workers in Malaysia. A participatory approach was employed through needs identification, short lectures, demonstrations, hands-on practice, case discussions, and participant reflection. The learning materials covered digital document management, workplace communication, information searching and verification, account security, personal data protection, online scam awareness, and the use of digital services to support work and daily life. Evaluation was descriptive, based on participation, completion of practical tasks, question-and-answer sessions, and reflective feedback, without inventing unavailable pre-test or post-test scores. The activity indicated that participants were able to recognize safer digital practices, organize work-related documents more systematically, verify information sources more carefully, and apply basic measures for protecting accounts and personal data. The program suggests that digital literacy for migrant workers should be understood not merely as the ability to operate devices, but as a combination of work competence, self-protection, and continuous capacity development. Keywords: Indonesian migrant workers; digital technical skills; digital literacy; digital safety; Malaysia Abstrak Transformasi digital telah mengubah cara pekerja migran mengakses informasi, berkomunikasi, menyimpan dokumen, melakukan transaksi, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan kerja. Namun, penggunaan telepon pintar yang intensif tidak selalu diikuti kemampuan memanfaatkan teknologi secara produktif, kritis, dan aman. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional ini bertujuan memperkuat keterampilan teknis digital dan literasi digital Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan dilaksanakan pada 13–18 April 2026 oleh Program Pascasarjana Magister Hukum Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin dengan melibatkan tim dosen dan praktisi serta beberapa PMI yang bekerja di Malaysia. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui identifikasi kebutuhan, penyampaian materi, demonstrasi, praktik langsung, diskusi kasus, dan refleksi. Materi difokuskan pada pengelolaan dokumen digital, komunikasi kerja berbasis digital, pencarian dan verifikasi informasi, keamanan akun, perlindungan data pribadi, kewaspadaan terhadap penipuan daring, serta pemanfaatan layanan digital untuk kebutuhan kerja dan kehidupan sehari-hari. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui observasi partisipasi, penyelesaian tugas praktik, tanya jawab, dan refleksi peserta tanpa menggunakan klaim angka pre-test atau post-test yang tidak tersedia. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu mengidentifikasi praktik digital yang lebih aman, menata dokumen kerja secara lebih sistematis, memahami pentingnya verifikasi sumber informasi, serta menerapkan langkah dasar perlindungan akun dan data. Program ini menegaskan bahwa literasi digital bagi PMI perlu ditempatkan sebagai keterampilan kerja, keterampilan perlindungan diri, dan sarana peningkatan kapasitas yang berkelanjutan.
Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence Dalam Pengembangan Konten Visual Dan Media Sosial Untuk Meningkatkan Engagement UMKM Octsa Khairus Praharsyarendra; Ahmad Taufik
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2039

Abstract

Transformasi pemasaran digital membuka peluang yang luas bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi peluang tersebut tidak selalu diikuti oleh kemampuan pelaku usaha dalam memproduksi konten visual dan narasi promosi yang konsisten. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM kuliner dalam memanfaatkan artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu produksi konten visual, copywriting, dan pengelolaan media sosial. Mitra kegiatan adalah Aliansi Kuliner Indonesia (KUL-IND) Koordinator Daerah Depok dengan 25 pelaku UMKM sebagai peserta. Kegiatan utama dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada 25 Juli 2026 dengan pendekatan partisipatif dan aplikatif. Tahapan program meliputi identifikasi kebutuhan, penyusunan materi, pelatihan penggunaan AI text generator dan fitur visual berbasis AI, praktik penyusunan prompt, pengembangan konten promosi, diskusi strategi media sosial, serta pendampingan dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai fungsi AI dalam mendukung promosi usaha, mulai dari pencarian ide, penulisan deskripsi produk, pengembangan caption dan hashtag, hingga perbaikan visual. Peserta juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri untuk menggunakan teknologi digital dan pemahaman yang lebih baik mengenai etika penggunaan konten berbasis AI. Kendala utama berupa perbedaan kemampuan digital, keterbatasan perangkat, dan waktu praktik ditangani melalui demonstrasi bertahap, praktik berkelompok, dan penyediaan materi yang dapat dipelajari kembali. Program ini memperlihatkan bahwa pelatihan AI yang kontekstual, sederhana, dan berbasis kebutuhan usaha dapat menjadi pintu masuk yang realistis bagi UMKM untuk memperkuat komunikasi pemasaran digital tanpa harus menambah beban biaya produksi konten secara signifikan.
Dasar-Dasar Psikologis Pendidikan Islam: Integrasi Kecerdasan Intelektual (IQ), Emosional (EQ), Dan Spiritual (SQ) Syariah Syariah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2042

Abstract

Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang utuh (insan kamil), yaitu individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan kuat secara spiritual. Kajian ini bertujuan menganalisis konsep dasar-dasar psikologis pendidikan Islam dengan fokus pada tiga dimensi kecerdasan manusia: kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), serta relevansinya terhadap tujuan pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai sumber primer dan sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam perspektif Islam, IQ berkaitan dengan pemberdayaan akal ('aql) yang mendorong manusia berpikir kritis dan analitis; EQ berhubungan dengan pengelolaan emosi yang berpusat pada qalb (hati) sebagai basis akhlak dan hubungan sosial; dan SQ merupakan dimensi tertinggi yang berpusat pada fu'ad (hati nurani) sebagai prima causa yang memberi arah dan makna bagi kedua kecerdasan lainnya. Ketiga kecerdasan tersebut saling melengkapi dan bersifat integratif. Kajian juga menemukan bahwa teori multiple intelligences memiliki relevansi tinggi dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam. Implikasi praktisnya, sistem pendidikan Islam perlu merancang kurikulum dan proses pembelajaran secara holistik yang mengembangkan IQ, EQ, dan SQ secara seimbang agar tujuan pendidikan Islam dapat terwujud secara optimal.
Konsep Hati Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadis: Implikasinya Bagi Pengembangan Pendidikan Islam Syariah Syariah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2044

Abstract

Artikel ini mengkaji konsep hati (qalb) dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis serta implikasinya bagi pendidikan Islam. Penelitian menggunakan studi kepustakaan kualitatif dengan analisis isi terhadap terminologi Al-Qur’an, hadis, kamus klasik, kitab tafsir, dan literatur pendidikan Islam dalam naskah sumber. Hasil kajian menunjukkan bahwa hati terutama dipahami sebagai pusat spiritual dan epistemik yang menerima pengetahuan, membentuk keyakinan, mengarahkan niat, dan memengaruhi perilaku moral. Istilah shadr, qalb, fu’ad, lubb, dan bashirah menunjukkan lapisan fungsi batin yang berkaitan, mulai dari kesiapan emosional-spiritual, pusat iman dan pemahaman, kesadaran yang mantap, kejernihan akal, hingga ketajaman pandangan moral. Akal dan hati bekerja secara komplementer: akal mengolah informasi, sedangkan hati memberi orientasi etis pada pengetahuan. Implikasinya, pendidikan Islam perlu mengintegrasikan pembelajaran intelektual, latihan spiritual, pembiasaan akhlak, refleksi, dan penyucian diri melalui tiga tahap berulang: penyiapan, pembentukan, dan pemeliharaan.
Respons Dosen Fakultas Syariah Uin Antasari Banjarmasin Terhadap Kasus Waris Istimewa Dengan Menggunakan AI Jahwa Nor Wafa; Rahmat Fadillah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2047

Abstract

Penelitian ini menganalisis akurasi perhitungan kasus waris istimewa (Gharawain, Musytarakah, dan Akdariyah) oleh ChatGPT serta respons dosen Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin terhadap kesesuaiannya dengan fikih mawaris. Menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui dokumentasi output ChatGPT dan wawancara dengan dosen yang berpotensi pada bidang waris Islam. Hasil penelitian menunjukkan ChatGPT mampu menyajikan perhitungan secara sistematis, namun ketepatannya sangat bergantung pada kejelasan prompt. Mayoritas dosen menilai ChatGPT berpotensi sebagai media pembelajaran interaktif, tetapi belum layak menjadi dasar penetapan hukum mandiri karena risiko ketidaksesuaian analisis. Kesimpulannya, ChatGPT dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, namun hasilnya tetap wajib divalidasi oleh ahli faraid.
The Influence Of The Work Environment On Employee Performance With Digital Culture As A Moderating Variable Setyowati Subroto; Ita Erliyani; Try Citra Puspitasari Lubis; Rahmat Aji Nuryakin; Gusneli Gusneli
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.2048

Abstract

This study aims to analyze and prove the influence of the work environment on employee performance, as well as examine the role of digital culture as a moderating variable in this relationship. In the era of dynamic digital transformation, organizations are required to modernize both physical and non-physical work environments to maintain productivity levels and human resource capabilities. However, the success of providing a conducive work environment often depends on the extent to which digital culture is adopted and integrated by employees in daily operations. This study uses a quantitative approach with the Partial Least Squares -based Structural Equation Modeling (SEM-PLS) method. Data collection was carried out by distributing structured questionnaires to a sample of employees in the public and private sectors undergoing digital transition. The results of the analysis are expected to show that the work environment has a positive and significant influence on employee performance. In addition, digital culture is projected to play a positive moderating role that strengthens the impact of the work environment on employee performance. The practical implications of this study emphasize the importance of organizational management in building a technology-based cultural climate to optimize the potential of existing facilities and work atmosphere.