cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 1,420 Documents
Hubungan Tekanan Darah Dengan Heart Score Pada Pasien Penyakit Jantung Koroner (PJK) Sa'diyah Cici Halimatus; Isni Lailatul Maghfiroh; Dadang Kusbiantoro; Karsim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1406

Abstract

The HEART score is a clinical instrument used to assess the risk of major adverse cardiovascular events in patients with suspected acute coronary syndrome, including those with coronary heart disease (CHD). One of the factors associated with the HEART score is blood pressure. This study aimed to determine the relationship between blood pressure and the HEART score among patients with CHD. This study employed an analytical correlational design with a cross-sectional approach involving 52 patients with CHD selected using a consecutive sampling technique. Blood pressure was measured using a sphygmomanometer, while the HEART score was assessed using the HEART score questionnaire. Data were analyzed using Spearman's rank correlation test. The results showed that 68% of the patients had hypertension, and 73% were classified as having a high risk of major adverse cardiovascular events. Spearman's rank correlation analysis demonstrated a significant relationship between both systolic and diastolic blood pressure and the HEART score (p=0.000), with moderate correlation strength for systolic blood pressure (r=0.503) and diastolic blood pressure (r=0.584). High blood pressure contributes to the acceleration of atherosclerosis and increases cardiac workload in patients with CHD. Patients with higher blood pressure tend to have a greater risk of cardiovascular events. Therefore, intensive monitoring of both blood pressure and the HEART score is recommended in patients with CHD.
Analisis Komparatif Kontribusi Aktivitas Fisik Dan Indeks Massa Tubuh Terhadap Kualitas Hidup Perempuan Dengan Sindrom Psikosomatik Perimenopause Adisti Sahrani; Herlina Simanjuntak; Hajar Nur Fathur Rohmah; Rohani Siregar
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1429

Abstract

Perimenopause merupakan masa transisi sebelum menopause yang dapat menurunkan kualitas hidup perempuan akibat perubahan hormonal yang berkaitan dengan sindrom psikosomatik, yang mana pada perempuan perimenopause sering di jumpai jarang melakukan aktivitas fisik dan mengalami overweight. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan aktivitas fisik dan indeks massa tubuh (IMT) terhadap kualitas hidup perempuan yang mengalami sindrom psikosomatik perimenopause di Kampung Rawasentul Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain kuantitatif komparatif dengan pendekatan case-control yang melibatkan 66 responden, terdiri atas 33 kelompok kasus dan 33 kelompok kontrol yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan International Physical Activity Questionnaire–Short Form, World Health Organization Quality of Life–BREF, Menopause Rating Scale, serta pengukuran IMT. Analisis data dilakukan menggunakan uji One-Way Anova, Kruskal–Wallis, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan kualitas hidup berdasarkan kategori aktivitas fisik maupun IMT pada seluruh domain (p > 0,05). Namun, pada kelompok kasus, aktivitas fisik dan IMT secara simultan berpengaruh signifikan terhadap domain fisik dan psikologis kualitas hidup, sedangkan pada kelompok kontrol tidak ditemukan pengaruh yang signifikan pada seluruh domain. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan IMT tidak membedakan kualitas hidup berdasarkan kategorinya, tetapi secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas hidup domain fisik dan psikologis pada perempuan yang mengalami psikosomatik sindrom perimenopause. Oleh karena itu, perempuan disarankan melakukan aktivitas fisik secara teratur dan mempertahankan Indeks massa tubuh dalam kategori normal untuk membantu menjaga kualitas hidup.
Hubungan Beban Kerja Dengan Kinerja Perawat Pelaksana Dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap RS Bhayangkara Brimob Ade Mulyadi; Desi Afriyanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1437

Abstract

Beban kerja merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kinerja perawatdalam memberikan asuhan keperawatan. Tingginya tuntutan pekerjaan yang tidak seimbang dengankapasitas tenaga keperawatan berpotensi menyebabkan kelelahan fisik maupun mental sehinggaberdampak terhadap kualitas pelayanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganbeban kerja dengan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap RS Wilayah Kota Depok. Metode:Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitianberjumlah 64 perawat pelaksana yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Pengumpulandata dilakukan menggunakan kuesioner beban kerja dan kinerja perawat yang telah digunakan padapenelitian sebelumnya. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan tingkatkemaknaan 95% (α=0,05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar respondenmengalami beban kerja berat (98,4%), sedangkan kinerja perawat sebagian besar berada pada kategorikurang (59,4%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara bebankerja dengan kinerja perawat pelaksana (p=0,043) dengan koefisien korelasi sebesar r=-0,217 yangmenunjukkan arah hubungan negatif dengan kekuatan hubungan lemah. Kesimpulan: Semakin tinggibeban kerja yang dialami perawat maka kecenderungan kinerja perawat semakin menurun. Penelitianini menunjukkan pentingnya pengelolaan beban kerja melalui pengaturan jumlah tenaga keperawatan,pembagian tugas yang proporsional, serta optimalisasi manajemen keperawatan untukmempertahankan kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit.
Hubungan Kepatuhan Perawat Dengan Sikap Dalam Penerapan Patient Safety Di RS Tipe D Pratama Pujon Yunanda; Meilitha Carolina; Dian Mitra D. Silalahi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1438

Abstract

Patient safety merupakan salah satu indikator penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kepatuhan perawat dalam melaksanakan tindakan sesuai standar operasional prosedur serta sikap positif terhadap keselamatan pasien sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kejadian tidak diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan perawat dengan sikap dalam penerapan patient safety di RS Tipe D Pratama Pujon. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 30 perawat yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi kepatuhan dan kuesioner Safety Attitudes Questionnaire (SAQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan alternatif Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden, sebanyak 20 responden (67%) memiliki tingkat kepatuhan kategori patuh dengan sikap baik dalam penerapan patient safety, 3 responden (10%) memiliki tingkat kepatuhan patuh dengan sikap cukup, 3 responden (10%) memiliki tingkat kepatuhan cukup patuh dengan sikap baik, dan 4 responden (13%) memiliki tingkat kepatuhan cukup patuh dengan sikap cukup. Hasil uji Fisher’s Exact Test diperoleh nilai p = 0,033 (p < 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan antara kepatuhan perawat dengan sikap dalam penerapan patient safety di RS Tipe D Pratama Pujon. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan perawat dengan sikap dalam penerapan patient safety. Sikap perawat yang baik dapat mendukung kepatuhan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan sesuai prinsip keselamatan pasien. Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan supervisi dan pelatihan terkait patient safety guna meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Analisis Perbedaan Pengkajian Greek Stroke Score Dan System Stroke Score Dave Dan Djoenaidi Dalam Penentuan Diagnosa Keperawatan Pada Pasien Stroke Di IGD Krisdayanti; M.Sobirin Mohtar; Muhammad Riduansyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1439

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian yangmembutuhkan penanganan segera di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kecepatan prosespengkajian berperan penting dalam mendukung ketepatan penentuan diagnosis keperawatan,sehingga diperlukan instrumen pengkajian yang efektif dan efisien.Tujuan: Menganalisis perbedaan penggunaan Greek Stroke Score dan System Stroke Score Davedan Djoenaidi dalam penentuan diagnosis keperawatan pada pasien stroke di IGD.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan pra experiment dengan desain komparatifstudy menggunakan post-test only (the one-shot case study). Sampel terdiri atas 30 respondenyang dipilih menggunakan teknik accidental sampling dan dibagi menjadi dua kelompok,masing-masing berjumlah 15 responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji IndependentSample t-test dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05).Hasil: Rerata durasi pengkajian menggunakan Greek Stroke Score mencapai 144,00 menit,sedangkan System Stroke Score Dave dan Djoenaidi sebesar 14,93 menit. Rerata waktupenentuan diagnosis keperawatan masing-masing adalah 159,46 menit dan 27,20 menit. UjiIndependent Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada durasipengkajian maupun penentuan diagnosis keperawatan (p = 0,001).Simpulan: Terdapat perbedaan signifikan antara Greek Stroke Score dan System Stroke ScoreDave dan Djoenaidi dalam penentuan diagnosis keperawatan pada pasien stroke di IGD. SystemStroke Score Dave dan Djoenaidi lebih efisien karena mampu mempercepat proses pengkajianserta penetapan diagnosis keperawatan dibandingkan Greek Stroke Score.
Penerapan Manajemen Waham Pada Pasien Skizoafektif Dengan Waham Agama Dan Kebesaran: Laporan Kasus Salma Tsuraya; Aat Sriati; Efri Widianti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1441

Abstract

Waham merupakan bentuk gejala psikotik pada pasien skizoafektif yang menyebabkan distorsi dalam persepsi realitas sehingga kesulitan membedakan antara kenyataan dan kenyakinan, yang terlihat dari menetapnya keyakinan pasien meskipun tidak sesuai dengan realita. Manajemen waham merupakan intervensi keperawatan yang bertujuan membantu pasien mengontrol waham. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan pasien dalam mengontrol waham agama dan kebesaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan kasus dengan pendekatan tahapan asuhan keperawatan yaitu pengkajian hingga evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan data rekam medis pasien. Evaluasi dilakukan dengan mengobservasi waham menggunakan lembar observasi adaptasi RUFA. Intervensi manajemen waham diberikan sesuai dengan SIKI meliputi monitor isi waham, bina hubungan saling percaya, hindari memperkuat gagasan waham, memberikan aktivitas rekreasi dan distraksi, membantu orientasi realita, edukasi obat, dan kolaborasi psikofarmaka. Aktivitas rekreasi dan distraksi yang diberikan kepada pasien berupa art therapy dan terapi musik. Manajemen waham yang diimplementasikan kepada pasien memberikan dampak positif terhadap kemampuan mengontrol waham. Pemberian art therapy dan terapi musik diberikan sesuai dengan kemampuan dan minat pasien agar pasien lebih kooperatif, berpartisipasi aktif, merasa dihargai, serta meningkatkan efektivitas asuhan keperawatan. Terapi tersebut dapat menimbulkan perasaan damai, meningkatkan harga diri, membantu mengekspresikan pikiran dan perasaan, sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan orientasi terhadap realita. Evaluasi akhir menunjukkan adanya perubahan kategori waham berat menjadi tidak ada gejala waham. Sehingga penerapan manajemen waham mampu meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol waham.
Inovasi “Senyum Ceria”: Discharge Planning Berbasis Kangaroo Mother Care (KMC) untuk Meningkatkan Kesiapan dan Kompetensi Ibu Merawat Bayi Berat Lahir Rendah Putri Maufirah; M. Suhron; Eny Susanti; Ulva Noviana
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1443

Abstract

Bayi berat lahir rendah (BBLR) memiliki kerentanan fisiologis tinggi sehingga memerlukan kesinambungan perawatan setelah keluar dari NICU. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesiapan dan kemandirian ibu melakukan perawatan mandiri pada bayi BBLR setelah diberikan inovasi “Senyum Ceria” di NICU RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo Pamekasan. Penelitian deskriptif observasional melibatkan 18 ibu dengan bayi BBLR. Kesiapan ibu dinilai melalui observasi terhadap persiapan, pelaksanaan, pemantauan bayi, konsistensi, dan kepercayaan diri. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan frekuensi, persentase, mean, dan standar deviasi. Persiapan KMC, seluruh ibu (100%) mampu menyiapkan perlengkapan bayi dan 94,4% masih memerlukan pengingat dalam cuci tangan dan menjaga kebersihan. Pada pelaksanaan KMC, seluruh ibu (100%) mampu melakukan skin-to-skin contact, posisi kepala, ekstensi leher, dan penutupan bayi. Pada pemantauan bayi, 94,4% masih memerlukan arahan dalam pemantauan pernapasan. Sebanyak 88,9% memerlukan arahan untuk durasi KMC ≥ 1 jam. Seluruh responden (100%) berada pada kategori cukup mandiri dengan mean 44,78 ± 1,437. Kesiapan dan kemandirian ibu telah terbentuk, tetapi belum optimal sehingga diperlukan metode discharge planning berbasis KMC yang terstruktur dan berkelanjutan melalui inovasi “SENYUM CERIA”.
Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Bullying Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Wilayah SDN Jakarta Utara Putri Setia Aprilia Nur Khotizah; Dian Fitria; Tri Setyaningsih
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1445

Abstract

Bullying pada anak usia sekolah dasar merupakan masalah yang dapat mengganggu perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan perilaku bullying adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola asuh orang tua terhadap perilaku bullying pada anak usia sekolah dasar di SDN Pademangan Timur 05, Jakarta Utara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 107 responden yang terdiri atas siswa sekolah dasar beserta orang tuanya, yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan fisher exact test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis (68,2%), sedangkan pola asuh otoriter sebesar 31,8%. Mayoritas siswa memiliki perilaku bullying kategori sedang (75,7%) dan kategori rendah (24,3%), tanpa ditemukan kategori tinggi. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada anak usia sekolah dasar (p=0,000; α<0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola asuh orang tua berhubungan dengan perilaku bullying pada anak usia sekolah dasar. Penerapan pola asuh demokratis diharapkan dapat mendukung perkembangan sosial emosional anak serta menurunkan kecenderungan perilaku bullying, sehingga diperlukan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan dalam upaya pencegahan bullying.
Safety Planning Intervention (SPI) Pada Pasien Dengan Risiko Bunuh Diri: Case Report Annisa Novita Hayutami; Hendrawati Hendrawati; Aat Sriati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1446

Abstract

Skizofrenia paranoid merupakan gangguan jiwa berat yang dapat disertai halusinasi pendengaran, kecurigaan,gangguan tilikan diri, dan penurunan kemampuan menilai realitas. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko bunuhdiri, terutama ketika pasien mengalami keputusasaan, tekanan psikologis, dan koping maladaptif. Laporan kasusini bertujuan menganalisis penerapan Safety Planning Intervention (SPI) pada pasien skizofrenia paranoiddengan risiko bunuh diri di rumah sakit jiwa. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif. Datadiperoleh melalui observasi, wawancara terapeutik, pengkajian status mental, rekam medis, catatan keperawatan,dan informasi keluarga. Intervensi dilakukan melalui Strategi Pelaksanaan Asuhan Keperawatan risiko bunuhdiri yang diintegrasikan dengan komponen SPI dalam delapan pertemuan. Tn. J, laki-laki 41 tahun, dirawatkarena marah-marah, mengancam keluarga, dan memiliki riwayat perilaku membahayakan diri. Pengkajianmenunjukkan halusinasi pendengaran, afek datar, mudah tersinggung, kurang kooperatif, gangguan konsentrasi,penilaian terganggu, dan tilikan diri kurang baik. Setelah intervensi, pasien mampu mengenali tanda bahaya,memahami pemicu, menggunakan koping adaptif, menyebutkan sumber dukungan, dan menjelaskan langkahkeselamatan saat pikiran negatif muncul. SPI dapat menjadi intervensi pendukung dalam asuhan keperawatanjiwa yang menekankan hubungan terapeutik, dukungan keluarga, dan strategi koping sesuai nilai spiritual pasien.Diharapkan perawat dapat menggunakan SPI sebagai intervensi pendukung dalam asuhan keperawatan jiwa,terutama pada pasien skizofrenia paranoid dengan risiko bunuh diri, serta melibatkan keluarga dalampengawasan, dukungan emosional, kepatuhan pengobatan, dan pembatasan akses terhadap benda berbahaya.
Penerapan Storytelling Therapy pada Lansia dengan Depresi Sedang di UPTD Griya Lansia Garut: Studi Kasus Asyifa Qurratul 'Aini; Witdiawati; Nina Sumarni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1450

Abstract

Lansia rentan mengalami depresi akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Terapi bercerita (storytelling therapy) merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat membantu lansia mengekspresikan emosi dan memaknai pengalaman hidup secara positif. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan terapi bercerita pada lansia dengan depresi sedang di UPTD Griya Lansia Garut. Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal dengan pengukuran tingkat depresi menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS-15) dengan Cronbach’s alpha = 0,755. Intervensi diberikan selama enam sesi dalam enam hari berturut-turut, masing-masing 20–30 menit menggunakan komunikasi terapeutik. Hasil menunjukkan penurunan skor GDS-15 dari 11 (depresi sedang) menjadi 7 (depresi ringan), disertai peningkatan keterbukaan, penerimaan diri, dan harapan hidup serta penurunan emosi negatif. Terapi bercerita menunjukkan respons positif dan berpotensi digunakan sebagai intervensi non-farmakologis dalam pelayanan keperawatan gerontik. Kata kunci: Lansia, Depresi, Terapi Bercerita