cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
+6281805329239
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) is a journal that uses a double-blind peer review model that can be accessed online. The purpose of JISH is to publish a journal containing quality articles that will be able to contribute thoughts from a theoretical and empirical perspective in society and humanities at a regional, national, and global scale. The writings at JISH will significantly contribute to critical thinking in the area of society and humanities. The scope of the fields contained in JISH covers the following areas: social work, social welfare, social change, and social policy; humanism and human rights; corporate governance, and community studies; crosscultural and multiculturalism studies; population, and development studies; ethics, and intergroup relations; war, conflict, and international relations; linguistics, literature, and media studies; performing arts (music, theatre, and dance); studies of inequality (class, race and gender studies); and other related areas. Articles published on research results and literature review with acceptable research methodologies, qualitative studies, quantitative studies, or a combination of both, statistical analysis, case studies, field research, and historical studies. JISH received manuscripts from various related circles, such as relevant researchers, professors, students, policy-makers, scientists, and others.
Articles 626 Documents
Strategi Pencapaian Kesetaraan Gender Dalam Rumah Tangga Nelayan Muhammad Bibin; Nurul Purnomo; Ani Ardian; Sry Iin Indirwan; Saman Gita Marewa
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.82538

Abstract

Decision-making in a household should not be done single-handedly by the husband as the head of the family. However, it needs to involve the wife, who plays an important role in improving the family economy. Generally, the women or wives in Palopo had not been involved in decision-making and had not been fully supported by government programs taking sides with the women. This study sought to analyze gender equality of decision-making in fisherman households and formulate a priority strategy for achieving gender equality in these households. Data collection was done using observation and structured interviews using questionnaires addressed to 7 stakeholders consisting of government agency officials, the Chair of Fisherman Cooperative, the Head of Nasyiah, and the Head of the Fisherman Group, as well as 30 families (husband and wife) whose livelihood depended in the fishery sector. The Moser analysis and Analytical Hierarchy Process (AHP) were used to analyze the obtained data. This study revealed some results. The women or wives were responsible and more dominant as decision-makers in household, family, and financial matters. The men or husbands were responsible and more dominant decision-makers in production activities and social affairs. In addition, implementing outreach programs for coastal communities in Palopo had not been gender-responsive. Thus, the priority strategy in achieving gender equality in fisherman households, which holds the best opportunity and is considered important by stakeholders, is developing a guidance program for coastal communities, men, and women.
Etno-Nasionalisme dan Demokrasi dalam Masyarakat Multikultural di Indonesia I Made Gianyar; I Wayan Gede Suacana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i2.83323

Abstract

Penelitian ini membahas interaksi antara glokalisasi dan etno-nasionalisme dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta dampaknya terhadap integritas nasional dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Glokalisasi, yang menggabungkan elemen global dan lokal, tidak hanya memengaruhi identitas budaya tetapi juga memicu kebangkitan nasionalisme dan etno-nasionalisme, terutama dalam konteks negara dengan latar belakang pluralistik. Penelitian ini juga mengkaji peran dan efektivitas pranata kenegaraan dan sosial dalam mediasi konflik etnis pada era reformasi, di mana runtuhnya wibawa lembaga kenegaraan memicu eskalasi konflik etnis dan politik. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi fenomena "ketidakberumahan" dalam konteks internal Indonesia sebagai dampak dari glokalisasi dan desentralisasi. Berdasarkan analisis diferensiasi sosial dan teori integrasi sosial, penelitian ini menemukan bahwa peningkatan heterogenitas dan kesenjangan sosial dapat menghambat integrasi sosial dan memperburuk konflik etnis. Multikulturalisme sebagai kebijakan politik dan praktek sosial di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan kesetaraan akses publik dan integrasi sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam memahami dinamika nasionalisme, etno-nasionalisme, dan glokalisasi di Indonesia serta menawarkan perspektif baru dalam menghadapi tantangan yang dihadapi NKRI di era globalisasi.
Jaringan Aktor dalam Tata Kelola Kolaborasi Industri Pariwisata di Kabupaten Kuningan Anwar Rosshad; Nur Saribulan; Vinda Verina Kartika Dewi Primasari
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.83716

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan jaringan aktor dalam tata kelola kolaborasi industri pariwisata dengan mengidentifikasi siapa saja aktor yang terlibat dan seberapa besar peran jaringan aktor tersebut dalam pencapaian tujuan industri pariwisata yang di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Social Network Analysis (SNA). Adapun teknik pengumpulan data menggunakan in-depth interview pada aktor yang terlibat dalam tata kelola industri pariwisata di kabupaten Kuningan serta didukung data sekunder berupa aturan, laporan, dokumen   atau informasi pada website yang relevan. Analisis data dilaksanakan dengan mengidentifikasi hubungan antar aktor dengan melihat koneksi struktur antar jaringan antar aktor dengan menggunakan software R-studio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan industri pariwisata di kabupaten Kuningan tata kelola kolaborasi penyelenggaraan pariwisata telah dilaksanakan namun belum terjadi secara optimal, karena perspektif masing-masing aktor yang melaksanakan kolaborasi didasarkan atas perspektif normatif, dimana kesadaran kolaborasi masih dilaksanakan karena didasarkan pembagian urusan, tugas dan fungsi sesuai bidang masing-masing. Sehingga, terlihat aktor yang paling dominan adalah DISPORAPAR selaku penanggung jawab urusan kepariwisataan serta BAPPEDA selaku badan yang menginventasir perencanaan dan pengganggaraan kegiatan atau program pariwisata pada masing-masing dinas terkait.
Interpretation of Javanese Ethics in Handling Deviant Behavior of Adolescents: An Interpretative Phenomenological Analysis Suprihatiningsih Suprihatiningsih; Tri Marhaeni Pudji Astuti; Agustinus Sugeng Priyanto; Sunarto Sunarto
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.83968

Abstract

This study aims to understand the application of Javanese ethical values in dealing with deviant behavior of adolescents in Bandengan Fishing Village, Kendal Regency. Using Interpretive Phenomenological Analysis (IPA), this study involved five adolescents with a history of deviant behavior and community leaders active in Javanese ethics-based intervention programs. Data was collected through in-depth interviews (January–April 2024) and Focus Group Discussions (FGDs) (May–June 2024) that explored perceptions, experiences, and strategies for overcoming social stigma. The study participants, consisting of adolescents with a history of deviant behavior and community leaders who are considered to have insight into Javanese ethics, offered diverse perspectives on concepts such as gotong royong (cooperation), tepo seliro (mutual respect), and rukun (harmony) in the context of behavior formation. The analysis results found main themes, including the importance of social acceptance in building adolescents' sense of self-esteem, the role of community support in building positive behavior, and the influence of instilling local values in strengthening adolescent mental resilience. These findings suggest that Javanese ethical values not only serve as a method of handling behavior but also as a tool to reduce stigma and improve social integration for adolescents who engage in deviant behavior. In the long term, these results can be implemented in social practice to develop more effective and contextually relevant models of culture-based interventions. This research makes an important contribution to the social intervention approach by offering insights into the potential of local ethics in supporting the formation of adolescent characters in a community-based environment.
Narasi Lokal dan Konseptualisasi Ulang Local People Gaze pada Transformasi Kampung Wisata: Kasus Tiga Kampung Wisata di Indonesia Rusydan Fathy; Yoka Pramadi; Tatang Rusata
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.84675

Abstract

Pendekatan “gaze” telah banyak dibahas dalam pariwisata. Akan tetapi, penelitian-penelitian sebelumnya lebih berfokus pada gaze (tatapan) wisatawan terhadap destinasi wisata. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap beberapa bentuk “tatapan” masyarakat lokal dalam konteks transformasi desa wisata. Artikel ini berfokus pada kasus Kampung Tematik Kayutangan, Kampung Kreatif Dago Pojok, dan Desa Budaya Sarugo di Indonesia. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan diskusi kelompok terarah dengan masyarakat lokal dan pemangku kepentingan di masing-masing kampung atau desa. Artikel ini menemukan dan mengonsep ulang tatapan masyarakat lokal, yaitu: fundamental gaze (kolektif, autentik, dan esensial), initial gaze  (kebutuhan dan layanan wisatawan), dan prospektif gaze (sosial budaya dan ekonomi). Terkait dengan kategori tatapan masyarakat lokal, masing-masing kampung atau desa memiliki narasi lokal yang terkandung dalam tatapan mereka, yaitu “Nostalgia Masa Lalu” bagi Kampung Tematik Kayutangan, “Seni dan Kreasi dalam Augmented Reality” bagi Kampung Kreatif Dago Pojok, dan “Autentisitas Budaya dan Keindahan Alam” bagi Desa Budaya Sarugo. Diversifikasi narasi dan tatapan lokal dari transformasi tersebut menandakan penegasan gagasan, harapan, dan pengalaman masyarakat lokal serta revitalisasi kampung atau desa dan berkontribusi pada kajian “tatapan/gaze” dalam konteks pariwisata global.
Conflict Resolution Strategies in Kampung Naga Indigenous Community: Preserving Tradition in the Face of Modernity Budi Yasri; Asep Ridwan Lubis; Vera Firmansyah; Gianto Gianto; Nandang Gunawan Tunggal Waras; Kartika Nurul Aulia
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.84817

Abstract

This study examines conflict resolution strategies within the Kampung Naga indigenous community. It focuses on how traditional governance systems—particularly adat law—function alongside state law to mediate conflicts and preserve cultural integrity amidst modernization pressures. Employing a descriptive qualitative method, this research draws on in-depth interviews, participant observations, and document analysis to reveal the community’s dual governance system. Findings indicate that Kampung Naga’s adherence to adat law fosters social cohesion and leads to generational tensions, particularly regarding land use and economic integration. The study demonstrates that while traditional mechanisms remain effective for resolving internal disputes, external conflicts, such as land disputes with government entities, require a hybrid approach incorporating state law. This duality illustrates the resilience of Kampung Naga’s cultural practices and the challenges they face in balancing modern legal frameworks. The practical implications of this research extend to broader discussions on preserving indigenous governance systems in the face of state legal integration and economic pressures. These findings offer critical insights into how traditional societies can maintain cultural autonomy while navigating external influences, contributing to theoretical and practical debates on conflict resolution and indigenous governance.
Sebuah tudi Empiris tentang Strategi Keberlanjutan pada Usaha Pengolahan Ikan yang Dipimpin oleh Perempuan di Pesisir Pantai Depok, Kabupaten Bantul Ayu Kumala Sari; Zulfa Nur Auliatun Nissa'; Miftahul Ajri; Ali Hasyim Al Rosyid
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.84867

Abstract

This study explores sustainability strategies for women’s fish processing businesses in Depok, Bantul Regency, where economic conditions remain underdeveloped despite Indonesia’s vast coastal potential. Women fish processors face constraints in accessing technology, markets, and capital. The research aims to develop sustainable adaptation strategies to strengthen their resilience amid social, economic, and environmental challenges. A mixed-methods approach was used, surveying 75 women fish processors, supplemented by interviews, observations, and document reviews. Internal and external factors were analyzed through IFE and EFE matrices, while IE and SWOT analyses helped identify strategic alternatives. The women's fish processing businesses were positioned in cell V of the IE matrix, indicating a "Hold and Maintain" strategy, with an IFE score of 2.01 and an EFE score of 2.43. The recommended strategies include market penetration and product development. Despite strengths in product variety and competitive pricing, the businesses struggle with unstable raw material supplies. Key strategies for sustainability emphasize market expansion, product development, and strengthening external networks. Social capital—particularly norms, cooperation, and trust—plays a significant role in business growth. Norms received the highest score (1.95), followed by trust (1.62) and networks (1.48), highlighting strong social cohesion but a need for improved network development to access resources and markets. These strategies have crucial implications for the long-term sustainability of women’s fish processing businesses, underscoring the importance of diversifying products and building stronger networks to ensure more stable and profitable operations.
Mempertahankan Uma: Rumah Pemersatu dan Kebangkitan Spiritual Suku Mentawai Hasahatan Hutahaean; Jonidius Illu; Stenly Reinal Paparang; Ulisaut Parningotan Nainggolan; Sorimuda Sarumpaet
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.85049

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap keberadaan Uma di Mentawai dari sisi kemampuan mempersatukan suku dan membangkitkan spiritualitas masyarakat. Budaya dimiliki tiap Suku di Indonesia maupun dunia. Mentawai satu suku dari beberapa suku yang ada di Sumatera Barat memiliki bukti fisik dan non fisik sebagai tanda keberlangsungan budaya. Uma adalah satu artefak yang dimiliki dimana jumlahnya kini tidak lebih dari 20 unit di semua kepulauan Mentawai. Keberadaan Uma dalam aspek culture experience tidak lebih baik dari aspek culture knowledge. Padahal dalam benak semua suku Mentawai, Uma memiliki daya yang kuat mempererat antar elemen masyarakat. Sedangkan pada segmen spiritual, Uma dapat dipergunakan untuk membuat pesan-pesan keagamaan dan budaya yang ada lebih dipahami dan muda untuk disampaikan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data primer diperoleh dari wawancara yang mendalam dan observasi ke tempat. Narasumber dipilih dari pelaku dan yang memiliki hubungan langsung dengan keberadaan Uma. Sedangkan data sekunder dari penelusuran literatur yang mengkaji variable penelitian dari sumber terpilih. Dialog diantara data kemudian dianalisa untuk memperoleh kesimpulan sesuati tujuan penelitian. Keberadaan Uma telah makin minim sedangkan fungsi dan perannya di masyarakat sangat diperlukan. Dari penggunaan seturut tradisi dan rule Arat Sabulungan, Uma dapat digunakan lebih luas lagi pada berbagai segmen di masyarakat. Bukan saja bermanfaat dalam mengatur hubungan masyarakat agar semakin bersatu, tetapi juga pada aspek kerohanian. Karena itu keberadaan Uma di tengah Suku Mentawai masih sangat dibutuhkan. Stakeholder bidang kebudayaan dan keagamaan dapat mengambil peran untuk mempertahankan keberadaan Uma.
Potensi Pengembangan Model Pendidikan Multikultural berbasis Budaya Balichinesia melalui Pendekatan Eduwisata di Bali I Wayan Lasmawan; I Nengah Suastika; Dewa Bagus Sanjaya; I Wayan Pardi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i3.85727

Abstract

Semakin berkembangnya masalah sosial antara etnis Tionghoa dengan etnis lainnya yang terakumulasi dalam berbagai konflik yang menyeret wacana primordial dan etnosentrisme di Indonesia, seperti adanya kerusuhan Mei 1998 yang ditandai oleh penjarahan, pembakaran, dan kekerasan yang menargetkan komunitas Tionghoa dan yang terbaru kemunculan isu anti-China pada saat Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 sebenarnya dapat mengganggu bangunan negara bangsa (nation-state building) yang sudah susah payah dibangun oleh Bapak Pendiri Bangsa (founding fathers) di masa lalu. Melihat kondisi di atas maka diperlukan upaya-upaya konkrit mengantisipasi kerawanan konflik tersebut. Salah satunya adalah dengan mengembangkan model pendidikan multikultural berbasis budaya Balichinesia melalui pendekatan eduwisata di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk budaya Balichinesia tercermin dalam berbagai aspek kehidupan di Bali, termasuk arsitektur, ritual keagamaan, seni pertunjukan, perayaan Imlek, dan kuliner. Hasil analisis SWOT menunjukkan potensi besar dalam pengembangan model ini, berkat dukungan warisan budaya Balichinesia dan popularitas Bali sebagai destinasi wisata. Namun, tantangan seperti infrastruktur yang kurang memadai dan keterbatasan sumber daya manusia perlu diatasi. Penerapan model ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas Bali, tetapi juga meningkatkan kohesi sosial, mendorong ekonomi lokal, dan pelestarian budaya, serta menjadikan Bali sebagai pusat pendidikan multikultural dan pariwisata edukatif yang berkelanjutan.
Land Conflict and Social Movement of Local Community: A Study in Jambi Province Muliono Muliono; Citra Darminto; Mariatul Qibtiyah
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i1.85193

Abstract

This research discusses land conflicts and social movements organized by local communities to fight for the rights they have long been entitled to. Land conflict is one of the largest type of conflict in Jambi and Indonesia in general. The implications of the conflict are extremely considerable for the local communities both physically and psychologically. This research uses qualitative. The data were obtained through observations, interviews and FGDs. Data processing based on three processes namely reducing, verifying, and displaying data. The data analysis refers to relative deprivation and Dahrendorf perspective. The results show that, firstly, there is a series of complexities involving various actors’ interests and overlapping policies caused this conflict occurs. Secondly, the resistance emerges as a response of relative deprivation to the condition allowing the “perpetuation” of land ownership claims. The lack of common ground between state, corporation and indigenous people means that the only way for the local communities to respond is by organizing social movements. Thirdly, although these movements face a strong challenge which is not easy to rip off, this study confirms that social movement is a way for local communities to reveal the layered dynamics of exclusion and the myriad factors contributing to the marginalization of local community's land ownership.