Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Efektivitas Cognitive Behavioral Therapy (CBT) Menurunkan Frekuensi Kekambuhan Penggunaan Narkoba Pada Klien Remaja Di BNN Hildayanti Hildayanti; Micha Felayati Silalahi; Munifah Munifah; Ridwan Syahran
NUSRA : Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Vol. 7 No. 3 (2026): NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan, Agustus 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/nusra.v7i3.6380

Abstract

This study was motivated by the high frequency of relapse into drug use among adolescents after rehabilitation, which is influenced by cognitive, emotional, and environmental factors. The study aimed to analyze the effectiveness of Cognitive Behavioral Therapy (CBT) in reducing relapse frequency among adolescents under the supervision of the National Narcotics Agency in Palu City. The research employed an experimental method using a single-subject A-B-A design consisting of an initial baseline phase (A1), an intervention phase (B), and a final baseline phase (A2). The participant was an adolescent with a history of relapse following rehabilitation. Data were collected through observation, interviews, and repeated recordings of relapse frequency. The results showed a gradual decrease in relapse frequency across the three phases. During the initial baseline phase (A1), relapse frequency was recorded at 8, 7, and 7 occurrences, with an average of 7.33. During the intervention phase (B), the frequency decreased from 7 and 7 to 6, 5, and 4 occurrences, with an average of 5.80. In the final baseline phase (A2), after the intervention had been withdrawn, relapse frequency further decreased and stabilized at 4, 3, and 3 occurrences, with an average of 3.33. Overall, there was a 54.6% reduction in average relapse frequency from the initial baseline phase to the final baseline phase. In addition, the participant demonstrated improved ability to manage negative thoughts, emotions, and environmental pressures more adaptively. These findings indicate that Cognitive Behavioral Therapy is effective in reducing relapse frequency among adolescents. The study highlights the importance of psychological interventions focused on modifying cognitive patterns and behaviors to support the success of adolescent rehabilitation programs.
Teknik Reframing Dalam Membantu Permasalahan Komunikasi Keluarga Pada Anak Binaan Hilyah Auliah Al-Azim; Micha Felayati Silalahi
NUSRA : Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Vol. 7 No. 3 (2026): NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan, Agustus 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/nusra.v7i3.6378

Abstract

This study aimed to examine the application of reframing techniques in addressing family communication problems among juvenile inmates at the Class II Special Development Institution for Children (LPKA) in Palu. Family communication problems may affect the psychological well-being of juvenile inmates and their social reintegration process. Therefore, counseling interventions through reframing techniques are considered a potential strategy to support the improvement of family communication. This study employed a quantitative approach using a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The population consisted of 24 juvenile inmates, and the total sampling technique was applied. Data were collected using questionnaires and analyzed through simple linear regression and t-test with the assistance of SPSS. The results indicated an increase in family communication scores following the implementation of reframing techniques. Statistical analysis showed a regression coefficient of 0.608 with a significance value of 0.000 (< 0.05), suggesting a positive association between the implementation of reframing techniques and improvements in family communication among the participants. These findings indicate that reframing techniques have the potential to support the improvement of family communication among juvenile inmates and may be considered as an alternative strategy in guidance and counseling services at LPKA. However, due to the absence of a control group, the findings should be interpreted with caution and do not fully establish a causal relationship.
EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK (TEKNIK ROLE PLAYING) DALAM MENINGKATKAN SELF-ESTEEM PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 12 PALU Iffah Nur Fathiyah; Ridwan Syahran; Mardi Lestari; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11767

Abstract

  Low self-esteem among adolescents has a direct impact on self-confidence, the quality of social interactions, and students’ learning motivation. This condition was identified among eighth-grade students at SMP Negeri 12 Palu, as indicated by tendencies to feel inferior, frequently compare themselves to others, avoid social interactions, and easily give up when facing difficulties. This study aimed to examine the effectiveness of group guidance services using the role-playing technique in improving the self-esteem of eighth-grade students at SMP Negeri 12 Palu. This research employed a quantitative approach with a pre-experimental method using a one-group pretest-posttest design. The research participants consisted of eighth-grade students who were identified as having low levels of self-esteem. Data were collected through a closed-ended Likert-scale questionnaire administered before and after the intervention, while data analysis was conducted using descriptive statistics and the Wilcoxon Signed Rank Test. The findings revealed that prior to the intervention, all participants were categorized as having low or very low self-esteem. After participating in the group guidance sessions, all students demonstrated significant improvement, reaching high and very high self-esteem categories. The Wilcoxon test confirmed that the improvement was statistically significant, leading to the rejection of the null hypothesis and indicating that group guidance services utilizing the role-playing technique were effective. Based on these findings, school counselors are encouraged to implement this service as a routine preventive program. Future research is expected to broaden the scope of participants and incorporate additional relevant variables to further investigate factors associated with students’ self-esteem. ABSTRAK Rendahnya self-esteem pada remaja memberikan dampak langsung terhadap kepercayaan diri, kualitas interaksi sosial, serta motivasi belajar siswa. Kondisi ini teridentifikasi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Palu, yang ditandai dengan kecenderungan mudah minder, sering membandingkan diri dengan orang lain, menghindari pergaulan, serta mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat efektivitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan self-esteem siswa kelas VIII di SMP Negeri 12 Palu. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan metode pre-eksperimen melalui desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas VIII yang teridentifikasi memiliki tingkat self-esteem rendah. Pengumpulan data dilakukan melalui angket tertutup berskala Likert yang diberikan baik sebelum maupun sesudah pemberian layanan, sementara analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif serta uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perlakuan diberikan, seluruh siswa berada pada kategori self-esteem rendah dan sangat rendah, sedangkan setelah mengikuti layanan, seluruh siswa mengalami peningkatan yang signifikan menuju kategori tinggi dan sangat tinggi. Uji Wilcoxon membuktikan bahwa peningkatan tersebut bermakna secara statistik, sehingga hipotesis nol dinyatakan ditolak dan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing terbukti efektif. Berdasarkan temuan tersebut, guru BK disarankan untuk menjadikan layanan ini sebagai program preventif yang dilaksanakan secara rutin, sementara penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan subjek penelitian serta menambahkan variabel-variabel relevan lainnya.
Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Broken Home Dan Harmonis Mildani Mildani; Micha Felayati Silalahi; Azam Arifyadi; Dian Fitriani
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpion.v5i2.1351

Abstract

Latar belakang keluarga sering dianggap sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar, di mana siswa dari keluarga tidak utuh (broken home) menghadapi kendala emosional yang dapat mengganggu konsentrasi, sementara siswa dari keluarga harmonis cenderung memperoleh dukungan penuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan hasil belajar antara kedua kelompok tersebut di SMP Negeri Model Terpadu Madani. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif pada sampel 22 siswa yang terdiri dari 11 siswa keluarga harmonis dan 11 siswa keluarga tidak utuh. Data diperoleh dari rekapan nilai rapor semester ganjil tahun akademik 2025/2026 dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji homogenitas, serta uji independent sample t-test dengan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai siswa keluarga harmonis sebesar 84,69 (standar deviasi 3,86), sedangkan siswa keluarga tidak utuh memperoleh rata-rata 83,05 (standar deviasi 3,41), dengan selisih 1,64 poin. Namun, uji hipotesis menghasilkan nilai signifikansi (sig. 2-tailed) sebesar 0,027 yang lebih besar dari 0,05, sehingga H₀ diterima dan Hₐ ditolak, artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara hasil belajar kedua kelompok. Temuan ini mengindikasikan bahwa keadaan keluarga bukanlah satu-satunya penentu hasil belajar, melainkan juga dipengaruhi oleh motivasi belajar, dukungan guru, lingkungan sekolah, dan kemampuan individual siswa. Oleh karena itu, disarankan agar guru dan sekolah tetap memberikan perhatian setara kepada semua siswa tanpa membedakan latar belakang keluarga, serta bagi peneliti selanjutnya direkomendasikan untuk menambahkan variabel lain seperti pola asuh atau motivasi belajar agar analisis lebih komprehensif.
Konseling Behavior Teknik Assertive Training Untuk Mengurangi Perilaku Konformitas Negatif Pada Siswa Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Aurel Monalisa R; Bau Ratu; Munifah Munifah; Micha Felayati Silalahi
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpion.v5i2.1400

Abstract

Permasalahan yang sering ditemukan pada remaja, di mana siswa cenderung mengikuti pengaruh negatif teman sebaya seperti membolos, datang terlambat, dan merokok. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tingkat perilaku konformitas negatif serta menguji efektivitas layanan konseling behavior dengan teknik Assertive training dalam mengurangi perilaku tersebut pada siswa kelas VIII SMP 15 Palu. Metode yang digunakan adalah penelitian pra-eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 6 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan hasil angket dan rekomendasi guru BK. Instrumen yang digunakan adalah angket konformitas negatif yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh subjek mengalami penurunan skor perilaku konformitas negatif dari kategori tinggi menjadi sedang hingga rendah. Uji hipotesis memperoleh nilai t-hitung sebesar 8,227 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara skor pretest dan posttest. Dengan demikian, teknik Assertive training efektif dalam mengurangi perilaku konformitas negatif siswa. Selanjutnya, disarankan kepada guru BK untuk mengaplikasikan teknik ini sebagai intervensi alternatif, sekolah mendukung pelaksanaannya, dan peneliti selanjutnya menggunakan desain yang lebih ketat dengan kelompok kontrol serta periode follow-up
Optimalisasi Program 7 Jurus BK Hebat melalui Psikoedukasi Mindful Teaching bagi Guru BK di Kota Palu [Optimization of the "7 Jurus BK Hebat" Program through Mindful Teaching Psychoeducation for Guidance and Counseling Teachers in Palu City] Dhevy Puswiartika; Bau Ratu; Nurwahyuni Nurwahyuni; Ikhlas Rasido; Munifah Munifah; Micha Felayati Silalahi
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261530

Abstract

This psychoeducation program, focusing on the topic of Mindful Teaching, aims to enhance the understanding and skills of Guidance and Counseling (BK) teachers regarding the use of mindfulness techniques to optimize the implementation of the "7 Jurus BK Hebat" program. The methods utilized in this psychoeducation included lectures, demonstrations, and practical exercises. The program consisted of two sessions. The agenda for the first session comprised material presentation regarding the basic concepts of mindfulness and mindful teaching, as well as the urgency of mindfulness techniques in the learning process as an effort to optimize the "7 Jurus BK Hebat" program. Subsequently, the second session involved the introduction of various mindfulness techniques, followed by demonstrations and practices of techniques such as mindful breathing, mindful chair yoga, mindful eating, and mindful reading. This psychoeducation activity was conducted in a hybrid format, involving 30 Guidance and Counseling teachers from junior and senior high schools (SMP and SMA/SMK) in Palu City. The participants engaged in this psychoeducation program with enthusiasm and high spirits. They expressed readiness to apply these mindfulness techniques in their daily lives as educators and counselors to optimize the "7 Jurus BK Hebat" program in schools. Abstrak. Program psikoedukasi dengan topik Mindful Teaching ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru BK terkait penggunaan teknik mindfulness untuk mengoptimalkan implementasi program 7 Jurus BK Hebat. Metode yang digunakan dalam psikoedukasi ini, meliputi: ceramah, demonstrasi, dan praktik. Program psikoedukasi terdiri dari dua sesi. Agenda sesi pertama berupa pemaparan materi terkait konsep dasar mindfulness dan mindful teaching, dan urgensi teknik mindfulness dalam proses pembelajaran sebagai upaya mengoptimalkan program 7 Jurus BK Hebat. Selanjutnya, agenda sesi kedua berupa pengenalan berbagai macam teknik mindfulness, dilanjutkan dengan demonstrasi dan latihan teknik mindfulness, seperti: mindful breathing, mindful chair yoga, mindful eating, dan mindful reading. Kegiatan psikoedukasi ini dilaksanakan secara hybrid dengan melibatkan partisipan sejumlah 30 orang guru Bimbingan dan Konseling yang mengajar di SMP dan SMA/SMK di Kota Palu. Para peserta telah mengikuti program psikoedukasi ini dengan antusias dan semangat. Mereka juga siap menerapkan teknik mindfulness ini dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengajar dan konselor sebagai upaya optimalisasi program 7 Jurus BK Hebat di sekolah.
EFEKTIVITAS KONSELING INDIVIDU TEKNIK KURSI KOSONG UNTUK MENGATASI INNER CHILD PADA MAHASISWA Safitri Safitri; Micha Felayati Silalahi; Ikhlas Rasido; Nur Eka Wahyuningsih Riyadi
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i3.15388

Abstract

Inner child refers to the part of the self associated with emotional experiences during childhood that may influence emotional conditions, self-confidence, interpersonal relationships, and behavior in adulthood. This study aimed to determine the effectiveness of individual counseling using the empty chair technique in addressing inner child issues among university students. The study employed a quantitative approach with a Single Subject Research (SSR) A–B design. The population consisted of 80 students from the 2023 cohort at Universitas Tadulako, while two students were selected through purposive sampling based on screening results, predetermined research criteria, and their willingness to participate in the entire intervention process. Measurements were conducted six times, consisting of two baseline (A) sessions and four intervention (B) sessions, using a 30-item inner child questionnaire. The instrument testing showed that all items were valid, with calculated r values exceeding the r table value of 0.219, and a Cronbach’s Alpha coefficient of 0.898. The results showed an increase in inner child scores in both subjects following the intervention. Subject 1 increased from 33–34 during the baseline phase to 40, 60, 79, and 105 during the intervention phase, while Subject 2 increased from 35–36 to 44, 68, 86, and 111. In this study, higher scores indicated a better inner child condition. The between-condition analysis showed a 0% overlap percentage for both subjects. These findings indicate that individual counseling using the empty chair technique produced positive changes and was effective in addressing inner child issues among the two university students who participated in the study. ABSTRAK Inner child merupakan bagian diri yang berkaitan dengan pengalaman emosional masa kanak-kanak dan dapat memengaruhi kondisi emosional, kepercayaan diri, hubungan interpersonal, serta perilaku individu pada masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas konseling individu menggunakan teknik kursi kosong dalam mengatasi permasalahan inner child pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Single Subject Research (SSR) A–B. Populasi penelitian berjumlah 80 mahasiswa angkatan 2023 Universitas Tadulako, sedangkan dua mahasiswa dipilih sebagai subjek melalui purposive sampling berdasarkan hasil screening, kriteria penelitian, dan kesediaan mengikuti seluruh rangkaian intervensi. Pengukuran dilakukan sebanyak enam kali, terdiri atas dua kali fase baseline (A) dan empat kali fase intervensi (B), menggunakan angket inner child yang terdiri atas 30 butir. Hasil uji instrumen menunjukkan seluruh butir valid dengan nilai r hitung lebih besar daripada r tabel sebesar 0,219 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,898. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor inner child pada kedua subjek setelah pemberian intervensi. Subjek 1 meningkat dari skor 33–34 pada fase baseline menjadi 40, 60, 79, dan 105 pada fase intervensi, sedangkan Subjek 2 meningkat dari 35–36 menjadi 44, 68, 86, dan 111. Dalam penelitian ini, skor yang lebih tinggi menunjukkan kondisi inner child yang semakin baik. Analisis antar kondisi menunjukkan persentase overlap sebesar 0% pada kedua subjek. Temuan tersebut menunjukkan bahwa konseling individu menggunakan teknik kursi kosong memberikan perubahan positif dan efektif dalam membantu mengatasi permasalahan inner child pada kedua mahasiswa yang menjadi subjek penelitian.
EFEKTIVITAS TEKNIK ROLE PLAYING UNTUK MENGURANGI PERILAKU BULLYING VERBAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Sweetly Nabila Lengkong; Nur Eka Wahyuningsih Riyadi; Azam Arifyadi; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12610

Abstract

Verbal bullying in secondary school settings poses significant negative effects on students' psychological well-being and requires systematic intervention. This study aimed to examine the effectiveness of group guidance services using the role-playing technique in reducing verbal bullying behavior among students at SMK Negeri 8 Palu. A quantitative experimental approach with a one-group pretest-posttest design was employed. Ten students were selected through purposive sampling based on school counselor identification. Data were collected using a verbal bullying questionnaire (r = 0.532; α = 0.950) administered before and after three sessions of group guidance. Shapiro-Wilk normality tests confirmed normal data distribution (pretest: sig. = 0.315; posttest: sig. = 0.624; p > 0.05). Paired Samples t-test results indicated a statistically significant difference (t = 21.177; Sig. 2-tailed = 0.000; p < 0.05), with a Cohen's d effect size of 6.59, classified as very large. The mean verbal bullying score decreased from 70.40 to 61.90, with 9 of 10 students shifting from the high to moderate category. The role-playing technique within group guidance services proved both statistically and practically effective in reducing students' verbal bullying behavior. Future research is recommended to incorporate control groups, larger samples, and multiple data collection methods for more comprehensive findings. ABSTRAK Perilaku bullying verbal di lingkungan sekolah menengah berdampak negatif terhadap kondisi psikologis siswa dan memerlukan intervensi yang sistematis. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam mengurangi perilaku bullying verbal siswa SMK Negeri 8 Palu. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 10 siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan hasil identifikasi guru BK. Data dikumpulkan menggunakan angket perilaku bullying verbal (r = 0,532; α = 0,950) yang diadministrasikan sebelum dan sesudah tiga sesi layanan bimbingan kelompok. Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi data normal (pretest: sig. = 0,315; posttest: sig. = 0,624; p > 0,05). Uji Paired Samples t-test menghasilkan nilai t = 21,177 dengan Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05), disertai nilai effect size Cohen's d = 6,59 yang termasuk kategori sangat besar. Rata-rata skor bullying verbal menurun dari 70,40 (pretest) menjadi 61,90 (posttest), dengan 9 dari 10 siswa berpindah dari kategori tinggi ke sedang. Teknik role playing dalam layanan bimbingan kelompok terbukti efektif secara statistik maupun praktis dalam mengurangi perilaku bullying verbal siswa. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan kelompok kontrol, sampel yang lebih besar, serta instrumen pengumpulan data yang lebih beragam.
Hubungan Antara Perundungan Dengan Rasa Rendah Diri Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Ferly Ferly; Micha Felayati Silalahi; Ikhlas Rasido; Mardi Lestari
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 9 No 1 (2026): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v9i1.4522

Abstract

Fenomena perundungan yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah menjadi masalah serius karena berdampak pada kondisi psikologis siswa, salah satunya adalah munculnya perasaan rendah diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perundungan dengan rasa rendah diri pada siswa SMP di Kecamatan Dondo. Penelitian ini Menggunakan pendekatan kuantitatif ex post facto dengan design asosiatif kausal. Populasi adalah seluruh siswa SMP di Kecamatan Dondo yang berjumlah 521 siswa, dengan sampel sebanyak 148 siswa yang ditentukan menggunakan teknik quota sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket perundungan dan angket rasa rendah diri. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman's Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara perundungan dengan rasa rendah diri pada siswa SMP di Kecamatan Dondo dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,428 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang berarti semakin tinggi perundungan yang dialami siswa maka semakin tinggi pula rasa rendah diri yang mereka rasakan. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pihak sekolah dalam merancang program pencegahan dan penanganan perundungan serta upaya peningkatan harga diri siswa.
EFEKTIVITAS ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM SISWA Adisty Sefanny; Ridwan Syahran; Munifah Munifah; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13224

Abstract

Suboptimal self-esteem among students may be reflected in feelings of inferiority, reluctance to express opinions, social withdrawal, and a tendency to compare themselves with peers. These conditions were identified among several students at SMK Negeri 8 Palu, indicating the need for an appropriate intervention through guidance and counseling services. This study aimed to determine students' levels of self-esteem before and after receiving group guidance using the role-playing technique and to examine the effectiveness of the technique in improving students' self-esteem. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The participants were 10 students selected through purposive sampling based on identification by the school's Guidance and Counseling teacher. Data were collected using a Likert-scale self-esteem questionnaire with a Cronbach's Alpha reliability coefficient of 0.946. Data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro-Wilk test, and a paired sample t-test. The results showed that at the pretest stage, all students (100%) were in the moderate category. After three sessions of group guidance using the role-playing technique, 8 students (80%) reached the high category, while 2 students (20%) remained in the moderate category. The paired sample t-test yielded a t-value of 14.029 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in students' self-esteem scores before and after the intervention. Therefore, group guidance using the role-playing technique was effective in improving students' self-esteem at SMK Negeri 8 Palu and can serve as an alternative intervention in school guidance and counseling services. ABSTRAK Self-esteem yang belum optimal dapat ditunjukkan melalui sikap minder, kurang berani mengemukakan pendapat, menutup diri, dan mudah membandingkan diri dengan teman sebaya. Kondisi tersebut ditemukan pada sebagian siswa SMK Negeri 8 Palu sehingga diperlukan intervensi melalui layanan bimbingan dan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat self-esteem siswa sebelum dan sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing serta menguji efektivitas teknik tersebut dalam meningkatkan self-esteem siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one-group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 10 siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan hasil identifikasi guru Bimbingan dan Konseling. Data dikumpulkan menggunakan angket self-esteem skala Likert dengan reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,946. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, dan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pretest seluruh siswa (100%) berada pada kategori sedang. Setelah diberikan layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing selama tiga pertemuan, sebanyak 8 siswa (80%) berada pada kategori tinggi dan 2 siswa (20%) tetap berada pada kategori sedang. Hasil paired sample t-test menunjukkan nilai t = 14,029 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor self-esteem sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian, layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan self-esteem siswa SMK Negeri 8 Palu dan dapat menjadi salah satu alternatif intervensi dalam layanan bimbingan dan konseling.