Claim Missing Document
Check
Articles

PENINGKATAN KAPASITAS MASYARAKAT MENGENAI LUKA BAKAR MELALUI “JADIAN” (JAGA DIRI DAN LINGKUNGAN, YUK KENAL LEBIH DALAM TENTANG LUKA BAKAR) Sandra Pebrianti; Andry Tanta Pramudya; Bambang Aditya Nugraha
Jurnal Pengabdian Masyarakat DEDIKASI Vol 4 No 01 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat DEDIKASI
Publisher : LP4M STIKes Karsa Husada Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33482/ddk.v4i01.68

Abstract

Background: Burns are a form of trauma that occurs as a result of human activities in the household, industry, traffic accidents, and natural disasters. There are people's habits that are not appropriate in handling first aid in cases of burns. It can be seen that the incidence of burns in the community is still quite high and the level of public knowledge about first aid for burns is still low. It is important to do health education to increase knowledge of the dangers of burns and first aid in accidents. Objective: The aim of this health education is to increase knowledge about burns and the ability to manage first aid in burn injuries. Sample: The target of this health education activity is the general public, especially risk groups, which are held online. Method; The method used in health education is lecture and question and answer. Results: Realization of solutions to prevent and provide appropriate care for burns independently at home can be done by providing health education regarding burn prevention and self-care at home after hospitalization so as not to exacerbate the condition of burns. This effort is one of the efforts to provide education to add insight and build public awareness regarding personal health, namely preventing burns and carrying out post-hospitalization independent care at home. Conclusion: Health education activities are one of the efforts to provide education to add insight and build awareness of personal health related to preventing burns and carrying out independent care after hospitalization at home.
Konsep dan Penerapan Intervensi Prehospital pada Stroke: Sebuah Tinjauan Pustaka Rahmawati, Novia; Pebrianti, Sandra; Nursiswati, Nursiswati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.884 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i7.10720

Abstract

ABSTRACT Stroke patients require immediate medical treatment before 4.5 hours to reduce the risk of death and disability. Stroke patients may experience impaired brain function caused by damage or death of brain tissue. Delay in treating stroke in patients can cause brain damage that appears more severe. Prehospital intervention can be an important initial treatment for stroke patients either while the patient is still at home or during the transfer process to the hospital. This literature review aims to determine the concept and application of prehospital interventions that can be given to stroke patients. This research is a literature review using the Pubmed database and the Google Scholar search engine. The English keywords used “stroke AND prehospital intervention OR emergency medical services OR EMS”. Meanwhile, the Indonesian keywords used “stroke AND intervensi prehospital OR emergency medical services OR EMS”. The results obtained were 19 full-text articles discussing prehospital stroke interventions with the year of publication 2012-2022. In conclusion, the prehospital aspect of stroke in Indonesia still needs development in terms of human resources and infrastructure in order to provide optimal service for patients who have had a stroke. Keywords: Emergency Medical Services, Mobile Stroke Unit, Prehospital, Stroke  ABSTRAK Pasien serangan stroke memerlukan penanganan medis segera sebelum 4,5 jam untuk mengurangi risiko kematian dan kecacatan. Pasien serangan stroke dapat mengalami gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kematian jaringan otak. Terlambatnya penanganan stroke pada pasien dapat menyebabkan kerusakan otak yang muncul semakin berat. Intervensi prehospital dapat menjadi upaya awal yang penting dilakukan untuk pasien stroke baik saat pasien masih di rumah atau saat proses transfer ke rumah sakit. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui konsep dan penerapan intervensi prehospital yang dapat diberikan kepada pasien stroke. Penelitian ini berupa tinjauan pustaka menggunakan database Pubmed dan search engine google scholar. Kata kunci bahasa Inggris yang digunakan adalah “stroke AND prehospital intervention OR emergency medical services OR EMS”. Sedangkan, kata kunci Bahasa Indonesia yang digunakan adalah “stroke AND intervensi prehospital OR emergency medical services OR EMS”. Hasil didapatkan terdapat 19 artikel full-text yang membahas mengenai intervensi prehospital stroke dengan tahun publikasi 2012-2022. Kesimpulannya, aspek prehospital stroke di Indonesia masih perlu pengembangan dari segi sumber daya manusia maupun infrastrukturnya agar dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi pasien yang mengalami serangan stroke. Kata Kunci: Emergency Medical Services, Mobile Stroke Unit, Prehospital, Stroke 
Perubahan Perbaikan Luka Abses DM Post Debridemen Selama Perawatan Luka dengan Octenidine Dihydrochloride : Laporan Kasus Rahmawati, Lidya; Pebrianti, Sandra; Platini, Hesti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i8.10951

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic disease caused by insulin resistance and can cause complications, one of which is an abscess. surgical debridement is the initial medical treatment for abscesses that cause injury. wound care is needed to speed up the healing process, reduce the risk of infection, and absorb wound fluid. Purpose of this paper is to find out how the development of the debridemen wound repair with diabetes on the left shoulder. Used was a case study in post-debridement diabetes patients with wound care using a moist NaCl  0.9% dressing and adding the topical drug octenidine dihydrochloride. wound repair was measured using the bates-jensen wound assessment tool (bwat). The treatment found the development of wound repair and a decrease in the bwat score by 6 points in 3 days of treatment. Wound care with NaCl 0.9% moist gauze with octenidine dihydrochloride wound healing process. wound care with this method can be an alternative choice in treating wounds in people with diabetes Keywords:  Abscess, Debridement, Diabetes Mellitus, Octenidine Dihydrochloride, Wound Care.  ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh resistensi insulin dan dapat menimbulkan komplikasi salah satunya abses. debridemen bedah merupakan penatalaksanaan medis awal untuk mengatasi abses yang menyebabkan perlukaan. diperlukan perawatan luka untuk membantu mempercepat proses penyembuhan, mengurangi resiko infeksi, dan absorbsi cairan luka.Tujuan penulisan ini untuk mengetahui bagaimana perkembangan perbaikan luka debridemen pada bahu kiri pasien dengan diabetes. Metode yang digunakan yaitu analisis studi kasus pada pasien diabetes post debridemen dengan perawatan luka menggunakan balutan lembab NaCl 0,9 % yang dan ditambahkan obat topikal octenidine dihydrochloride (OCT) dengan perbaikan luka diukur dengan menggunakan bates-jensen wound assessment tool (BWAT). Hasil dari perawatan ditemukan perkembangan perbaikan luka dan penurunan skor BWAT sebesar 6 poin dalam 3 hari perawatan. Kesimpulan perawatan luka dengan balutan kasa lembab NaCl 0,9% dengan octenidine dihydrochloride (OCT) proses penyembuhan luka. Berdasarkan hal tersebut, perawatan luka dengan metode balutan lembab yang ditambahkan obat topikal dapat menjadi alternatif pilihan dalam melakukan perawatan luka pada penderita diabetes. Kata Kunci: Abses, Debridemen, Diabetes Melitus, Octenidine Dihydrochloride, Perawatan Luka.
Manajemen Haus Pada Pasien Chronic Kidney Disease (Ckd) Menggunakan Teknik Sipping Ice Pebrianti, Sandra; Shalahuddin, Iwan; Eriyani, Theresia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.14834

Abstract

ABSTRAK Pembatasan konsumsi cairan pada pasien CKD mengakibatkan peningkatan frekuensi rasa haus bagi penderitanya. Diperlukan intervensi yang dapat menurunkan frekuensi rasa haus. Pendidikan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan atau keluarga pasien yang menderita CKD di Ruang Agate Bawah RSUD dr.Slamet Garut terkait manajemen rasa haus dengan teknik sipping ice sehingga frekuensi haus berkurang. Metode yang digunakan adalah ceramah dengan bantuan media poster yang dibagikan kepada masing-masing peserta. Tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan diukur melalui nilai pre-test dan post-test yang dikategorikan baik, cukup baik, dan kurang baik. Dari hasil pendidikan kesehatan, dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan semua peserta meningkat (100%) secara signifikan. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan kesehatan terkait intervensi yang efektif dan mudah diaplikasikan memang diperlukan sehingga pasien dan keluarga dapat menerapkannya juga secara mandiri bahkan ketika sedang tidak berada di fasilitas pelayanan kesehatan. Kesimpulan evaluasi edukasi menunjukkan hasil yang baik terkait peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan pendidikan kesehatan mengenai manajemen rasa haus dengan menggunakan teknik mengulum es batu (sipping ice cube). Diharapkan setelah dilakukannya pendidikan kesehatan ini keluarga dan pasien dapat menerapkan pengetahuan baru yang mereka terima. Kata Kunci: Manajemen Haus, CKD, Sipping Ice, Pasien  ABSTRACT Restriction of fluid consumption in CKD patients results in an increase in the frequency of thirst for sufferers. Interventions are needed that can reduce the frequency of thirst. This health education aims to increase the knowledge of patients and / or families of patients suffering from CKD in the Lower Agate Room of RSUD dr. Slamet Garut related to thirst management with sipping ice techniques so that the frequency of thirst is reduced. The method used is a lecture with the help of poster media that is distributed to each participant. The level of knowledge of participants before and after the activity was measured through pre-test and post-test scores which were categorized as good, quite good, and less good. From the results of health education, it can be seen that the level of knowledge of all participants increased (100%) significantly. Therefore, health education activities related to effective and easy-to-apply interventions are needed so that patients and families can implement them independently even when they are not in health care facilities. The conclusion of the educational evaluation showed good results related to increasing participants' knowledge after being given health education about thirst management using ice cube tapping techniques. It is hoped that after this health education, families and patients can apply the new knowledge they receive.      Keywords: Thirst Management, CKD, Sipping Ice, Patients
Pengenalan Tanda Gejala Dan Perawatan Mandiri Mengenai Rheumatoid Arhtritis Platini, Hesti; Maulana, Indra; Pebrianti, Sandra
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i2.12925

Abstract

ABSTRAK Rheumatoid arthtritis dapat menyebabkan kecacatan dan penurunan produktivitas. Apabila peradangan tidak terkendali, maka dapat merusak tulang rawan, jaringan elastis yang menutupi ujung tulang di sendi, dan juga menyerang tulang. Sendi bisa menjadi longgar, tidak stabil, menyakitkan dan kehilangan mobilitasnya. Deformitas sendi dapat terjadi, sehingga kerusakan dapat terjadi. Sehingga diperlukan upaya pengenalan tanda gejala dan perawatan rheumatoid artritis. Tujuan kegiatan yaitu mensosialisasikan pendidikan kesehatan kepada masyrakat agar mengetahui tanda gejala penyakit reumatik dan dapat melakukan perawatan mandiri. Metode yang digunakan yaitu melalui pemberian informasi melalui penyuluhan dalam bentuk pendidikan kesehatan pada warga masyarakat melalui media audio visual dan leaflet. Hasil Pendidikan Kesehatan signifikan menunjukan adanya perubahan sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan Kesehatan yaitu rata-rata peserta mengalami peningkatan pengetahuan (pretest: 45, Rata-rata postest: 82). Kesimpulan menunjukan peserta mengalami peningkatan pengetahuan mengenai rematik dan juga manajemennya. Kata kunci: Pendidikan Kesehatan, Pengetahuan, Penyuluhan, Reumatoid Arthritis  ABSTRACT Rheumatoid arthritis can cause disability and decreased productivity. If inflammation is not controlled, it can damage cartilage, the elastic tissue that covers the ends of bones in joints, and also attack the bones. Joints can become loose, unstable, painful and lose mobility. Joint deformity may occur, resulting in damage. This requires efforts to recognize signs and symptoms and treat rheumatoid arthritis. The aim of the activity is to disseminate health education to the community so that they know the signs and symptoms of rheumatic disease and can carry out self-care. The method used is through providing information through outreach in the form of health education to community members through audio-visual media and leaflets. The results of Health Education showed significant changes before and after health education, namely that the average participant experienced an increase in knowledge (pretest: 45, average posttest: 82). The conclusion shows that participants experienced increased knowledge about rheumatism and its management. Keywords: Health Education, Knowledge, Rheumatoid Arthritis
Perspektif Pendidikan dan Kesehatan Sebagai Issue Sentral Pencegahan Stunting di Desa Bojongloa Nursiswati, Nursiswati; Faturrahman, Reza Rizkika; Pebrianti, Sandra; Pahria, Tuti; Nurrofikoh, Malihatunnisa
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i2.13008

Abstract

ABSTRAK Stunting menjadi hal yang krusial di dunia terutama di Indonesia. Di Indonesia, pernikahan dini pada remaja menjadi salah satu hal yang berpengaruh dalam terbentuknya generasi baru yang mengalami stunting. Dampak stunting dapat berimbas pada penurunan sumber daya manusia, sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi masyarakat dalam pencegahan stunting di Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek. Pengabdian masyarakat ini difokuskan pada kegiatan sosialisasi melalui kampanye melalui seminar dengan mengangkat judul “Start From Now! Muda, Sehat, dan Keren”, dan untuk kegiatan seminar yang dilaksanakan di SMP PGRI Rancaekek diikuti oleh sebanyak 105 siswa-siswi kelas 9 dan 11 guru, kepala sekolah, serta wakil kepala sekolah. Selanjutnya, untuk kegiatan seminar yang kami laksanakan memberikan wawasan baru terhadap siswa-siswi SMP PGRI mengenai stunting itu sendiri, peningkatan orientasi Pendidikan lanjut pada jenjang yang lebih tinggi SMA atau SMK, serta pencegahan pernikahan dini dan seks bebas masa remaja. Evaluasi kegiatan diberikan pre test dan post test terkait stunting, gaya hidup sehat dan pencegahan sex bebas. Hasil menunjukan bahwa dari 105 siswa yang mengikuti sosialisasi memperlihatkan pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan sosialisasi meningkat menjadi lebih baik terutama aspek bahaya seks bebas dan ciri-ciri stunting. Pengetahuan bahaya seks bebas akan mencegah pernikahan dini. Desa Bojongloa sendiri salah satu desa yang masih terdapat kasus stunting. Sosialisasi mengenani penikahan diri dan seks bebas pada remaja perlu dilakukan agar mencegah terbentuknya generasi yang mengalami stunting. Dari terlaksananya kegiatan tersebut diharapkan terdapat tindak lanjut baik dari pemerintah, sekolah, dan para orangtua untuk bisa bersinergi dan berkolaborasi dalam mencegah terjadinya stunting di Desa Bojongloa. Kata kunci: Seks aman, Peer group, Remaja, Stunting.    ABSTRACT Stunting is crucial in the world, especially in Indonesia. In Indonesia, early marriage among teenagers is one of the things that influences the formation of a new generation that experiences stunting. The impact of stunting can result in a decrease in human resources, so this research aims to find out the condition of the community in preventing stunting in Bojongloa Village, Rancaekek District. This community service was focused on socialization activities through campaigns through seminars with the title "Start From Now! Young, Healthy and Cool", and the seminar activities held at PGRI Rancaekek Middle School were attended by 105 students from grades 9 and 11, teachers, principals, and deputy principals. Furthermore, the seminar activities that we carried out provide new insights for PGRI Middle School students regarding stunting itself, increasing orientation to further education at higher levels of high school or vocational school, as well as preventing early marriage and promiscuous sex during adolescence. Evaluation of activities given a pre-test and post-test related to stunting, healthy lifestyle, and prevention of free sex. The results show that of the 105 students who took part in the socialization, knowledge before and after socialization activities increased for the better, especially aspects of the dangers of free sex and the benefits of protein for teenagers. Knowledge of the dangers of free sex will prevent early marriage. Bojongloa Village itself is one of the villages where there are still cases of stunting. Socialization regarding self-marriage and free sex among teenagers needs to be carried out to prevent the formation of a generation experiencing stunting. It is hoped that there will be follow-up from the government, schools, and parents to be able to synergize and collaborate in preventing stunting in Bojongloa Village. Keywords: Adolescents, Bojongloa Village, Peer group, Stunting.
Edukasi tentang Penanganan Kecemasan dan Nyeri Pada Pasien Penyakit Dalam di Ruangan Kalimaya Bawah RSU Dr.Slamet Garut Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati; Pebrianti, Sandra
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.20051

Abstract

ABSTRAK Edukasi merupakan hal yang secara konsisten difasilitasi rumah sakit khususnya pada area yang memiliki resiko tinggi bagi pasien. Hal ini dilakukan rumah sakit agar fungsi kesehatan kembali menjadi optimal. Edukasi dimulai ketika pasien memasuki fasilitas layanan kesehatan dan berlanjut sepanjang masa perawatan, hingga setelah pasien dipulangkan.  Edukasi yang dilakukan di rumah sakit disesuaikan dengan kebutuhan, salah satunya mengenai teknik pengurangan kecemasan dapat membantu orang yang mengalami nyeri, mengurangi tingkat keparahan dan intensitas nyeri mereka. Untuk memberikan edukasi pada keluarga pasien mengenai intervensi non farmakologis, yang dapat diberikan kepada pasien di ruang Kalimaya Bawah RSU dr. Slamet Garut.  Pada edukasi ini metode yang dilakukan dengan ceramah dan demonstrasi interaktif  dan dihadiri oleh 10 orang peserta yang merupakan keluarga pasien.Peserta mampu menyebutkan, menjelaskan, dan mendemonstrasikan  teknik penanganan kecemasan dan  nyeri dengan relaksasi nafas dalam serta dapat menjawab pertanyaan dari pemateri. Setelah dilakukan edukasi ini ada peningkatan dari hasil pre dan pos-test, yang tadinya 60 % menjadi 80%. Peserta memahami edukasi tentang Penanganan Kecemasan dan nyeri pada pasien di Ruang Kalimaya Bawah. Kata Kunci: Edukasi, Kecemasan, Nyeri, Pasien.  ABSTRACT Education is something that is consistently facilitated by hospitals, especially in areas that have a high risk for patients. This is done by the hospital to restore health functions to optimal levels. Education begins when patients enter the healthcare facility and continues throughout the care period, until after the patients are discharged. Education provided in the hospital is tailored to needs, one of which is anxiety reduction techniques that can help people experiencing pain, reducing the severity and intensity of their pain. To provide education to the patient's family regarding non-pharmacological interventions that can be given to patients in the Kalimaya Bawah room at RSU dr. Slamet Garut. In this education, the method used was a lecture and interactive demonstration, attended by 10 participants who are the patients' families. Participants were able to mention, explain, and demonstrate techniques for managing anxiety and pain through deep breathing relaxation, and were able to answer questions from the presenter. After this education, there was an improvement in the pre-test and post-test results, which increased from 60% to 80%. Participants understood the education about Managing Anxiety and Pain in patients in the Lower Kalimaya Room. Keywords: Education, Anxiety, Pain, Patients.
Edukasi Teknik Relaksasi Pursed Lip Breathing dan Latihan Intoleransi Aktivitas Walking with Controlled Breathing Pasien Penyakit Jantung Eriyani, Theresia; Shalahuddin, Iwan; Pebrianti, Sandra
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i6.14833

Abstract

ABSTRAK Dispnea atau sering disebut sebagai sesak napas adalah sensasi subjektif dari pernapasan yang tidak normal seperti sensasi bernapas dengan intensitas yang berbeda-beda. Upaya dalam mengontrol gejala sesak nafas pasien dengan penyakit jantung dapat dilakukan dengan memberikan sebuah manajemen dengan cara non farmakologi dengan Teknik relaksasi. Pendidikan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gejala sesak nafas di ruang Tulip Atas RSUD Sumedang. Metode yang digunakan adalah ceramah dengan bantuan media poster yang dibagikan kepada masing-masing peserta. Tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan diukur melalui nilai pre-test dan post-test yang dikategorikan sangat baik, cukup dan kurang. Dari hasil pendidikan kesehatan, dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan semua peserta meningkat (100%) secara signifikan. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan kesehatan terkait intervensi yang efektif dan mudah diaplikasikan memang diperlukan sehingga pasien dan keluarga dapat menerapkannya juga secara mandiri bahkan ketika sedang berada dirumah. Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan keluarga pasien terkait teknik Relaksasi Pursed Lip Breathing dan Latihan Intoleransi Aktivitas Walking With Controlled Breathing untuk mengurangi gejala sesak dan meningkatkan intoleransi aktivitas yang dirasakan pada pasien jantung. Rekomendasi, Diharapkan semua petugas kesehatan yang ada di ruangan tulip dapat mengaplikasikan Pursed Lip Breathing dan Walking With Breathing Controlled dan menjadi intervensi pendukung yang dilakukan secara rutin 2 kali sehari untuk meningkatkan toleransi aktivitas dan saturasi oksigen pada pasien jantung. Kata Kunci: Edukasi, Relaksasi Pursed Lip Breathing, Walking With Controlled Breathing, Pasien Jantung  ABSTRACT Dyspnea or often referred to as shortness of breath is a subjective sensation of abnormal breathing such as the sensation of breathing with varying intensity. Efforts to control the symptoms of shortness of breath in patients with heart disease can be done by providing a management in a non-pharmacological way with relaxation techniques. This health education aims to improve the quality of life of patients with symptoms of shortness of breath in the Tulip Atas room of Sumedang Hospital. The method used is a lecture with the help of poster media that is distributed to each participant. The level of knowledge of participants before and after the activity was measured through pre-test and post-test scores which were categorized as very good, sufficient and lacking. From the results of health education, it can be seen that the level of knowledge of all participants increased (100%) significantly. Therefore, health education activities related to effective and easy-to-apply interventions are needed so that patients and families can apply them independently even when they are at home. The conclusion is that there is an increase in the knowledge of the patient's family related to Pursed Lip Breathing Relaxation techniques and Walking With Controlled Breathing Activity Intolerance Exercises to reduce symptoms of tightness and increase activity intolerance felt in heart patients. Recommendation, It is expected that all health workers in the tulip room can apply Pursed Lip Breathing and Walking With Breathing Controlled and become a supporting intervention carried out routinely 2 times a day to increase activity tolerance and oxygen saturation in heart patients.          Keywords: Education, Relaxation Pursed Lip Breathing, Walking With Controlled Breathing, Heart patients
Modifikasi Pemahaman Kesehatan Reproduksi Pada Remaja dalam Penguatan Intervensi Spesifik untuk Mencegah Stunting Eriyani, Theresia; Shalahuddin, Iwan; Pebrianti, Sandra
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i6.20226

Abstract

ABSTRAK Pencegahan stunting memerlukan pendekatan multisektoral yang menyasar kelompok rentan, seperti wanita yang menikah muda, ibu hamil, dan calon pengantin. Intervensi efektif mencakup edukasi, konseling, dan demonstrasi praktis yang dimulai sebelum kehamilan dan berlanjut hingga awal kehidupan anak. Meningkatkan pengetahuan remaja mengenai pentingnya kesehatan reproduksi untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dalam Mengurangi risiko kehamilan dini yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan anak dan Membangun kesadaran remaja terkait pentingnya perencanaan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Metode yang dilakukan dalam pendidikan kesehatan adalah Metode Ceramah/ Lecture, Metode Tanya jawab, Metode Diskusi dan Metode demonstrasi. Efektivitas intervensi edukasi yang diberikan kepada para siswa mengenai kesehatan reproduksi sebagai langkah stunting, dilakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pre-test dilakukan sebelum sesi edukasi dimulai untuk mengukur tingkat pengetahuan awal para peserta, sedangkan post-test diberikan setelah kegiatan edukasi selesai untuk mengetahui peningkatan pemahaman mereka. Hasil pre-test menunjukkan bahwa belum semua siswa memahami tentang pentingnya kesehatan reproduksi dalam pencegahan stunting. Nilai rata-rata pre-testmenunjukkan distribusi yang cukup memuaskan, dengan sebagian besar peserta memperoleh nilai 88,79%. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terkait kesehatan reproduksi, pentingnya tablet tambah darah (TTD), dan kaitannya dengan pencegahan stunting. Kata Kunci: Stunting, Kesehatan Reproduksi, Remaja, Tablet Tambah Darah, Pencegahan  ABSTRACT Stunting prevention requires a multisectoral approach that targets vulnerable groups, such as young married women, pregnant women, and brides-to-be. Effective interventions include education, counselling, and practical demonstrations that begin before pregnancy and continue until early in the child's life.  Increase adolescents' knowledge of the importance of reproductive health to prepare for a healthy pregnancy in Reduce the risk of early pregnancy that can negatively impact maternal and child health and Build adolescent awareness regarding the importance of family planning that supports optimal child growth and development. The methods carried out in health education are the Lecture Method, the Question and Answer Method, the Discussion Method and the demonstration method.  The effectiveness of educational interventions provided to students regarding reproductive health as a stunting step was evaluated through pre-test and post-test. The pre-test is carried out before the educational session begins to measure the initial level of knowledge of the participants, while the post-test is given after the educational activity is completed to determine the improvement of their understanding. The results of the pre-test show that not all students understand the importance of reproductive health in stunting prevention. The average pre-test score showed a fairly satisfactory distribution, with most participants obtaining a score of 88.79%. The results of the pre-test and post-test showed an increase in students' understanding of reproductive health, the importance of blood supplement tablets (TTD), and its relationship with stunting prevention. Keywords: Stunting, Reproductive Health, Adolescents, Blood Supplement Tablets, Prevention
Shaker Exercise untuk Meningkatkan Refleks Menelan Pada Pasien Stroke : Rapid Evidence Review Pebrianti, Sandra; Shalahuddin, Iwan; Nugraha, Bambang Aditya
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.20335

Abstract

ABSTRACT Dysphagia is a disorder that causes difficulty chewing and swallowing food. This condition can lead to very serious complications such as pneumonia, aspiration, dehydration, and malnutrition, and can sometimes lead to death. One form of intervention that can be done to speed up recovery and minimize complications due to dysphagia is to do swallowing exercises. To determine the effectiveness of Shaker Exercise in improving swallowing reflexes in Stroke Patients. This rapid review uses a literature search strategy with PICOT framework analysis. The inclusion criteria in this rapid review include Full text, English, RCT, Clinical trial, Quasi experiment, control study, Dyspagia patients after having a stroke, articles for 2014-2024. The results of three databases, namely PubMed, EBSCO, and Scopus, found 6 literature that was thoroughly analyzed to be used as Evidence Based Practice (EBP). From the 6 articles analyzed, it was identified that shaker exercises are one of the interventions that can be given to dysphagia patients after having a stroke. Several articles explain the duration of the shaker training technique which varies from 30-60 minutes. Some articles also combine or compare these exercises with other interventions. Based on the results of the literature review from the 6 articles that have been obtained, this shaker exercise is effective and can be beneficial for patients if done regularly and regularly. Shaker exercises provide better results in improving the quality of life and swallowing function in patients. Nurses and other health workers need to consider interventions that are appropriate to the patient's needs and the situation of the health care condition Keywords: Shaker Exercise, Swallow Reflex, Stroke  ABSTRAK Disfagia adalah gangguan yang menyebabkan kesulitan mengunyah dan menelan makanan. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius seperti pneumonia, aspirasi, dehidrasi, dan malnutrisi, dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian. Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan untuk mempercepatkesembuhan dan meminimalkan komplikasi akibat disfagia adalah dengan melakukan latihan menelan. Untuk mengetahui efektivitas Shaker Exercise dalam meningkatkan refleks menelan pada Pasien Stroke. Rapid review ini menggunakan strategi pencarian literatur dengan analisis framework PICOT. Kriteria Inklusi pada rapid review ini diantaranya Full text, Berbahasa inggris, RCT, Clinical trial, Quasi experimen, control study, Pasien dispagia setelah mengalami Stroke, artikel tahun 2014-2024. Hasil dari tiga database yaitu PubMed, EBSCO, dan Scopus ditemukan 6 literatur yang dianalisis secara menyeluruh untuk digunakan sebagai Evidence Based Practice (EBP). Dari 6 artikel yang dianalisis, diidentifikasi bahwa latihan shaker menjadi salah satu intervensi yang dapat diberikan pada pasien disfagia setelah mengalami stroke. Beberapa artikel menjelaskan durasi teknik latihan shaker yang bervariasi yaitu 30-60 menit. Beberapa artikel juga mengkombinasi atau membandingkan latihan ini dengan intervensi lain. Berdasarkan hasil literatur review dari ke-6 artikel yang telah didapatkan bahwa latihan shaker ini efektif dan dapat bermanfaat untuk pasien apabila dilakukan dengan rutin dan teratur. Latihan shaker memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas hidup dan fungsi menelan pada pasien. Perawat dan tenaga kesehatan lain perlu mempertimbangkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan situasi kondisi pelayanan kesehatan Kata Kunci: Shaker Exercise, Refleks Menelan, Stroke
Co-Authors Afrilia, Ghea Aghnia, Nuraulia Alviani, Eka Turjanah Amalia, Fany Amalia, Selly Nurhasanah Amira, Iceu Andry Tanta Pramudya Arhustia, Hesti Dina Arifin, Hidayat Arisunyoto, Wisnu Ayu Prawesti Priambodo Ayuningsih, Risna Azizah, Levina Azwadina, Aliffa Bambang Aditya Nugraha Cahyani, Eka Maulidya Cindy Puspita Sari Citra Windani Mambang Sari Devi Nurrahmawati Devi Nurrahmawati Dhiya Roihana Diva Jogina Diyah Setyorini Eka Afrima Sari, Eka Afrima Eka Turjanah Alviani Etika Emaliyawati Fadilah, Tria Nurhayyu Fanny Adistie Faturrahman, Reza Rizkika Fazriyyah, Yuni Fuji Ghifani Sifa Azahra Gusgus Ghraha Ramdhanie Handayani, Eriska Nur Harun, Hasniatisari Hayati, Amelia Hendrawati Hendrawati Herman, Regina Hesti Platini Hikmat, Rohman Indah Wahyuni Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana, Indra Iqbal Pramukti Iwan Shalahuddin Karina, Grashiva Karwati, Karwati Khairunnisa, Nisrina Kosim K Kosim Kosim Kosim Kosim Kusman Ibrahim Malfa Laila Pratidina Mamat Lukman, Mamat Margianti, Dina Melati, Azalia Merdekawati, Rahayu Mufaj, Elda Nurfadila Muhammad Ramdhani, Muhammad Mujahidah, Shafira Aulia Mulyana, Aep Maulid Naomi Sella Aprilia neng yulia maudi Nina Sumarni Novia Rahmawati Nugraha Firdaus Nur'aeni, Aan Nur'aeni, Nabyla Nur'aeni Nuraeni, Fauziah Nurjanah, Ismirani Nurohmah, Indah Syaidah Nurrofikoh, Malihatunnisa Nursalma, Aisyah Nursiswati Nursiswati Nurul Azmi Fauziyah Putri, Nabila Aulia Rahmat, Dadang Rahmawati, Lidya Riskyani, Umy Ristina Mirwanti Ristina Mirwanti, Ristina Rusmana, Hera Prafitri Salsabella, Edellweisse Silvia Salwa, Sayyidah Santi Rukminita Anggraeni, Santi Rukminita Sastianingsih, Siska Sejati, Femmy Selly Nurhasanah Amalia Siti Nurjanah Siti Rosita Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Siti Yulipah Agustini Sopia Marlina Sri Hartati Pratiwi Sri, Septiani Sulaeman, Nadila Afifah Sulastini Sulastini, Sulastini Tanjung, Rifani Theresia Eriyani Tina Lestari Titis Kurniawan Titis Kurniawan Titis Kurniawan Titis Kurniawan Tuti Pahria Udin Rosidin Upit Pitriani Urip Rahayu, Urip Wati, Putri Wikeu Nopianti