Claim Missing Document
Check
Articles

Collaborative Nursing Interventions in Geriatric Patients with Adrenal Crisis and Blood Glucose Fluctuations: A Case Report Amelia, Iftikar Salma; Pebrianti, Sandra; Pahria, Tuti
Journal of Nursing Care Vol 8, No 3 (2025): Journal of Nursing care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v8i3.64310

Abstract

Adrenal crisis is an endocrine emergency condition, with one of its clinical manifestations being hypoglycemia. To date, its management focuses on the administration of corticosteroid therapy primarily hydrocortisone as the first-line treatment alongside glucose administration. This study aims to observe and report blood glucose levels, hemodynamic status, and multidisciplinary collaboration in the administration of corticosteroids, as a collaborative intervention in stabilizing blood glucose. This case study was conducted on a 70 years old geriatric patient who experienced an adrenal crisis due to the sudden discontinuation of long-term steroid therapy without a doctor's prescription. Data were collected over five days through patient interviews, family reports, and medical records. The patient experienced severe hypoglycemia despite receiving parenteral glucose. Following the administration of dexamethasone, the patient's blood glucose levels improved and began to stabilize. Dexamethasone proved effective as an alternative initial therapy for adrenal crisis when hydrocortisone was unavailable or the diagnosis is not yet confirmed. Nurses played a vital role in the early recognition of adrenal crisis signs, monitoring of blood glucose levels and hemodynamic parameters. Education for the family is essential, considering the dependency of geriatric patients on caregivers in managing daily health needs. Multidisciplinary collaborative management and educational support are key to successful care in geriatric patients with adrenal crisis.
Gambaran Kualitas Tidur Korban Bencana Gempa Bumi Cianjur Gumelar, Heru Gugum; Rahayu, Urip; Pebrianti, Sandra
Medical-Surgical Journal of Nursing Research Vol. 4 No. 2 (2025): (in collaboration with STIKep PPNI Jawa Barat) Medical-Surgical Journal of Nurs
Publisher : Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI) Regional Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70331/jpkmb.v4i2.61

Abstract

Latar Belakang : Bencana gempa bumi di Cianjur menjadi kejadian bencana yang traumatik bagi korban sehingga dapat menimbulkan dampak psikologis, yaitu gangguan kualitas tidur. Terganggunya kualitas tidur dapat mengganggu aktivitas di siang hari dan mengakibatkan penurunan kesehatan individu. Metode : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur korban bencana gempa bumi di Cianjur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 154 orang korban bencana gempa bumi di wilayah Desa Mangunkerta, Cianjur. Sampel yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kusioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis univariat digunakan dengan hasil distribusi dan frekuensi. Hasil didapat bahwa korban bencana gempa bumi di Desa Mangunkerta, Cianjur memiliki kualitas tidur dalam kategori buruk (65,7%). Global PSQI rata-rata 8,17 dengan dimensi tidur yang paling berkontribusi dalam masalah ini adalah dimensi gangguan tidur yang dialami satu atau dua kali dalam seminggu. Adapun pada dimensi tidur lainnya, yaitu kualitas tidur subjektif dengan responden merasa kualitas tidur yang sangat baik, latensi tidur dengan tidak dapat tertidur dalam waktu 30 menit kurang dari sekali dalam seminggu, durasi tidur selama 6-7 jam setiap harinya, efisiensi tidur 74-84%, rata-rata responden mengkonsumsi obat kurang dari sekali dalam seminggu, dan sering terjadi disfungsi siang hari. Kesimpulan : gambaran kualitas tidur pada korban bencana gempa bumi Cianjur di Desa Mangunkerta dalam kategori buruk. Penelitian selanjutnya dapat meneliti lebih lanjut mengenai hal yang dapat mengatasi gangguan pada tidur yang dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur korban bencana.
INTERVENSI ELEVASI KEPALA 30o PADA PASIEN PASCA OPERASI CRANIOTOMY SOL MENINGIOMA AREA FRONTALIS DENGAN CHARLES BONNET SYNDROME (CBS) DAN RIWAYAT PENGGUNAAN KONTRASEPSI: CASE REPORT Triesna, Meuthia Saulikha; Pebrianti, Sandra; Nursiswati, Nursiswati
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 2 (2026): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, February 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v3i2.2390

Abstract

Meningioma is an intracranial tumor of unknown etiology; however, progesterone is considered a hormonal factor associated with its incidence. Clinical manifestations include psychosis depending on the tumor location, with distinct symptoms such as the emergence of Charles Bonnet Syndrome (CBS). Additionally, Increased Intracranial Pressure (IICP) is a recurrent complication of craniotomy procedures. IICP poses a risk of cerebellar herniation, which can lead to decreased consciousness and respiratory arrest; therefore, intracranial management is crucial. One management strategy is 30° head elevation. This study aims to describe the application of a 30° head elevation intervention for decreased adaptive intracranial capacity in patient post-craniotomy for Space Occupying Lesion (SOL) Meningioma. This study utilized a case report design conducted in May 2023 at RSUD Sumedang. The results indicate that elevating the head above heart level facilitates venous return from the brain to the heart and helps activate the parasympathetic nervous system, which regulates bodily functions during rest. This maximizes patient relaxation, resulting in improved cerebral tissue perfusion, adequate oxygenation status, reduced headache, resolution of nausea and vomiting, and stable blood pressure. The 30° head elevation intervention is recommended as a non-pharmacological approach to address decreased adaptive     1     intracranial capacity, ensuring adequate cerebral blood circulation.
Dukungan Perawat untuk Gejala Pasien Kanker dan Beban Pengasuh: Sebuah Scoping Review Platini, Hesti; Pebrianti, Sandra; Nugraha, Bambang Aditya; Purnama, Martia Dewi; Budhiaji, Purbayanty
Jurnal Sains Kesehatan Vol 32, No 3 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/jsk.32.3.329-336

Abstract

Pasien kanker umumnya mengalami gejala multidimensi termasuk nyeri, kelelahan, mual, dispnea, kecemasan, dan depresi. Pada saat yang sama, pengasuh informal menghadapi beban fisik, emosional, sosial, dan ekonomi akibat tanggung jawab pengasuhan.. Perawat memainkan peran penting dalam manajemen gejala dan dalam mendukung pengasuh di sepanjang perjalanan perawatan kanker. Tujuan Scoping review ini untuk memetakan bukti yang ada mengenai dukungan keperawatan untuk manajemen gejala pada pasien kanker dan menjelaskan bagaimana intervensi tersebut memengaruhi beban pengasuh. Desain penelitian ini yaitu scoping review. dilakukan menggunakan kerangka kerja Arksey dan O’Malley. Studi diidentifikasi dari basis data utama dan disintesis menggunakan analisis tematik. Pencarian artikel menggunakan empat basis data yaitu EBSCO, science direct, Scopus dan mesin pencari Google Scholar. Hasil: Lima tema utama muncul: (1) asesmen gejala yang dipimpin perawat dan intervensi klinis; (2) dukungan psikososial dan emosional; (3) edukasi pasien dan pengasuh untuk manajemen diri; (4) intervensi keperawatan khusus pengasuh; dan (5) dukungan keperawatan berbasis digital dan telehealth. Bukti menunjukkan bahwa intervensi keperawatan dapat secara efektif mengurangi keparahan gejala pada pasien kanker dan secara substansial meringankan beban pengasuh.Kata Kunci: beban, kanker, dukungan, pengasuh, perawat
Aksi sosial petualangan rasa: menjelajahi dunia makanan bergizi untuk tumbuh kembang pada anak sekolah dasar Iwan Shalahuddin; Udin Rosidin; Theresia Eriyani; Sandra Pebrianti
PROMOTIF: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): PROMOTIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um075v5i12025p63-76

Abstract

Permasalahan gizi seimbang menjadi hambatan utama dalam upaya peningkatan ketahanan pangan karena dapat mengurangi efisiensi pemanfaatan pangan dan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Untuk menciptakan ketahanan pangan yang berkualitas, dibutuhkan pendekatan holistik yang tidak hanya memastikan ketersediaan pangan, tetapi juga meningkatkan akses, pemanfaatan, dan keberlanjutan pangan bergizi bagi masyarakat khususnya pada anak. Tujuan pengabdian untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pola makan gizi seimbang yang baik untuk kesehatan dan tercegah dari berbagai penyakit. Melalui pendekatan ceramah, demonstrasi dan tanya jawab. Hasil didapatkan adanya perubahan pemahaman dan pengetahuan siswa terhadap gizi seimbang untuk memperoleh tumbuh kembang yang optimal. Makanan bergizi memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak usia sekolah dasar, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional. Rekomendasi untuk Guru dan sekolah, diharapkan mengadakan program edukasi gizi seperti Hari Makan Sehat atau Kantin Sehat untuk mempromosikan kebiasaan makan bergizi.
Teknik Relaksasi Genggam Jari (Finger Hold) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien dengan Gangguan Nyeri Akut di Ruang Penyakit Dalam Theresia Eriyani; Karwati Karwati; Iwan Shalahuddin; Sandra Pebrianti
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i11.17029

Abstract

ABSTRACT A hernia is a condition in which a protrusion or lump occurs in one part of the body that should not be there. Actions that can be taken to overcome hernias are surgery, surgery can cause postoperative pain. Objective to reduce pain through pain management. Therefore, researchers are interested in conducting a case study on pain management interventions in patients with acute pain. The research design used is a case study with a nursing process approach. After the implementation of pain management includes identification of location, characteristics, duration, frequency, quality, intensity of pain, identification of pain scale, identification of non-verbal pain responses, providing non-pharmacological techniques to reduce pain, finger grip techniques and advocating for early mobilization and collaboration in providing pharmacology to overcome acute pain in patients. The case study showed significant improvement from the pain scale of 2 (0-10) on the third day, the patient was no longer grimacing, there were no signs of infection, the patient said the pain was reduced and the patient said he could tilt to the left. The analysis of nursing problems in this case study was partially resolved. Analysis of Nursing Problems with Acute Pain in Partially Resolved Cases. The first day is nursing care at night, the second day is done in the morning and the third day is done in the morning. Showing improvement in the patient's condition is evidenced by the pain scale value of 2 (0-10) where the result is included in the range of the mild pain scale. Keywords: Early mobilization, Finger grip, Hernia, Nursing care, Pain management  ABSTRAK Hernia adalah suatu keadaan dimana terjadinya penonjolan atau benjolan pada salah satu bagian tubuh yang seharusnya tidak ada. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hernia yaitu pembedahan, pembedahan dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri post operasi. Tujuan untuk mengurangi nyeri melalui manajemen nyeri. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan studi kasus mengenai intervensi manajemen nyeri pada pasien dengan nyeri akut. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Setelah dilakukan implementasi manajemen nyeri meliputi identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, identifikasi skala nyeri, identifikasi respon nyeri non verbal, memberikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri teknik genggam jari serta menganjurkan untuk mobilisasi dini dan melakukan kolaborasi pemberian farmakologi untuk mengatasi nyeri akut pada pasien. Studi kasus menunjukan perbaikan dengan signifikan dilihat dari skala nyeri 2 (0-10) pada hari ke tiga, pasien sudah tidak meringis, tidak ada tanda- tanda infeksi, pasien mengatakan nyeri berkurang dan pasien mengatakan sudah bisa miring kana miring kiri. Analisa masalah keperawatan pada studi kasus ini teratasi sebagian. Analisa masalah keperawatan dengan Nyeri Akut pada kasus teratasi sebagian. Hari pertama dilakukan asuhan keperawatan pada malam hari, hari kedua dilakukan pada pagi hari dan di hari ketiga dilakukan pada pagi hari. Menunjukan perbaikan kondisi pasien dibuktikan dengan nilai skala nyeri 2 (0-10) di mana hasil tersebut termasuk ke dalam rentang skala nyeri ringan.Kata Kunci: Asuhan keperawatan, Genggam jari, Hernia, Manajemen nyeri, Mobilisasi dini
Intervensi Keperawatan Menurunkan Rasa Haus pada Pasien Chronic Kidney Disease (CKD): a Rapid Review Sandra Pebrianti; Iwan Shalahuddin; Bambang Aditya Nugraha; Theresia Eriyani; Devi Nurrahmawati
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i12.12488

Abstract

ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) is one of the increasing health problems. The global prevalence of CKD ranges from 13.4% (11.7-15.1%) of the population, with end-stage kidney replacement around 4.90 - 7.08 million people. To determine effective interventions of thirst management in CKD patients who carried out fluid restriction. The method used is rapid review with article search on four databases, namely, PubMed NCBI, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar. The studies reviewed were empirical studies with quantitative design, and mix-method in English or Indonesian with full text, as well as intervention studies in people with CKD. Based on the results of the analysis conducted, the results of the intervention were obtained namely chewing free sugar gum, sipping ice (ice suction), and gargling with mouthwash. Of the types of interventions found, the highest effectiveness was in the sipping ice intervention (p = 0.000) with a thirst-holding time of ±93 minutes. Thirst management in CKD patients can be done with various interventions, but the principles of fluid restriction must still be observed. Keywords: Chronic Kidney Disease, Interventions, Thirst  ABSTRAK Penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat. Prevalensi CKD secara global berkisar di angka 13,4% (11,7-15,1%) penduduk, dengan stadium akhir yang memerlukan penggantian ginjal sekitar 4,90 - 7,08 juta jiwa. Untuk mengetahui intervensi yang efektif manajemen haus pada pasien CKD yang dilakukan pembatasan cairan. Metode yang digunakan adalah rapid review dengan pencarian artikel pada empat basis data yaitu, PubMed NCBI, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar. Studi yang ditinjau adalah studi empiris dengan desain kuantitatif, dan mix-method dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia dengan teks lengkap, serta studi intervensi pada penderita CKD. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh hasil intervensi yaitu mengunyah permen karet free sugar, sipping ice (hisap es), dan berkumur dengan mouthwash. Dari jenis intervensi yang ditemukan, efektifitas tertinggi ada pada intervensi sipping ice (p=0,000) dengan waktu menahan haus ±93 menit. Manajemen haus pada pasien CKD dapat dilakukan dengan berbagai intervensi, namun prinsip-prinsip pembatasan cairan yang dilakukan harus tetap diperhatikan Kata Kunci: Chronic Kidney Disease, Intervensi, Rasa Haus 
Gambaran Pengetahuan dan Self Efficacy Masyarakat dalam Melakukan Tindakan Bantuan Hidup Dasar di Desa Tanjungsari Sumedang Nadila Afifah Sulaeman; Aan Nur'aeni; Sandra Pebrianti
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.21498

Abstract

ABSTRACT Basic Life Support (BLS) is the first aid given in cases of cardiac arrest. This condition can occur anywhere and anytime, so the community needs to have BLS skills supported by knowledge and self-efficacy. This study aims to describe the knowledge and self-efficacy of the community in Tanjungsari Village in performing BLS. This study used a descriptive-quantitative method with respondents from the community who had participated in BLS counseling/training, totaling 47 people. Data were collected using BLS Knowledge questionnaires and the Resuscitation Self-Efficacy Scale questionnaire. Data analysis was conducted descriptively using frequency distribution and percentage. The results showed that 89.4% of respondents had high knowledge, and the majority already had good self-efficacy, except in the sub-variable of responding and rescuing, where 19.1% stated they were not confident and 31.9% stated they were less confident in their ability to perform BLS properly. The low self-efficacy in one item was caused by a lack of knowledge and mastery experience. Based on the results, respondents’ knowledge was categorized as high with good self-efficacy. To improve knowledge and self-efficacy in performing BLS in the community, further training is needed, preferably in the form of simulations based on various real-life scenarios and supported by adequate equipment. Keywords: Basic Life Support, Community, BLS Knowledge, Self-efficacy in BLS.  ABSTRAK Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan pertolongan pertama pada kondisi henti jantung. Kondisi ini bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan BHD yang didukung oleh pengetahuan dan self efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengetahuan dan self-efficacy masyarakat di Desa Tanjungsari dalam melakukan BHD. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif, dengan responden masyarakat yang pernah mengikuti penyuluhan/pelatihan BHD berjumlah 47 orang. Data diambil menggunakan instrumen kuesioner Pengetahuan BHD dan kuesioner Resuscitation Self Efficacy Scale dengan Analisa data menggunakan analisis deskriptif dengan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan (89,4%) memiliki pengetahuan tinggi dan  mayoritas sudah memiliki self efficacy yang baik, kecuali pada sub variabel responding and rescuing menunjukan hasil (19,1%) menyatakan tidak yakin dan (31,9%) menyatakan kurang yakin mampu melakukan BHD dengan baik. Rendahnya self-efficacy pada salah satu item disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan mastery experience. Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan responden berada pada kategori tinggi dengan self efficacy yang baik. Untuk meningkatkan pengetahuan dan self efficacy dalam melakukan BHD di masyarakat, perlu diadakannya kembali pelatihan, diutamakan berbentuk simulasi dengan latar dari berbagai pengenalan situasi nyata dan ditunjang menggunakan alat yang memadai. Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Masyarakat, Pengetahuan BHD, Self Efficacy dalam BHD. 
Shaker Exercise untuk Meningkatkan Refleks Menelan Pada Pasien Stroke : Rapid Evidence Review Sandra Pebrianti; Iwan Shalahuddin; Bambang Aditya Nugraha
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.20335

Abstract

ABSTRACT Dysphagia is a disorder that causes difficulty chewing and swallowing food. This condition can lead to very serious complications such as pneumonia, aspiration, dehydration, and malnutrition, and can sometimes lead to death. One form of intervention that can be done to speed up recovery and minimize complications due to dysphagia is to do swallowing exercises. To determine the effectiveness of Shaker Exercise in improving swallowing reflexes in Stroke Patients. This rapid review uses a literature search strategy with PICOT framework analysis. The inclusion criteria in this rapid review include Full text, English, RCT, Clinical trial, Quasi experiment, control study, Dyspagia patients after having a stroke, articles for 2014-2024. The results of three databases, namely PubMed, EBSCO, and Scopus, found 6 literature that was thoroughly analyzed to be used as Evidence Based Practice (EBP). From the 6 articles analyzed, it was identified that shaker exercises are one of the interventions that can be given to dysphagia patients after having a stroke. Several articles explain the duration of the shaker training technique which varies from 30-60 minutes. Some articles also combine or compare these exercises with other interventions. Based on the results of the literature review from the 6 articles that have been obtained, this shaker exercise is effective and can be beneficial for patients if done regularly and regularly. Shaker exercises provide better results in improving the quality of life and swallowing function in patients. Nurses and other health workers need to consider interventions that are appropriate to the patient's needs and the situation of the health care condition Keywords: Shaker Exercise, Swallow Reflex, Stroke  ABSTRAK Disfagia adalah gangguan yang menyebabkan kesulitan mengunyah dan menelan makanan. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius seperti pneumonia, aspirasi, dehidrasi, dan malnutrisi, dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian. Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan untuk mempercepatkesembuhan dan meminimalkan komplikasi akibat disfagia adalah dengan melakukan latihan menelan. Untuk mengetahui efektivitas Shaker Exercise dalam meningkatkan refleks menelan pada Pasien Stroke. Rapid review ini menggunakan strategi pencarian literatur dengan analisis framework PICOT. Kriteria Inklusi pada rapid review ini diantaranya Full text, Berbahasa inggris, RCT, Clinical trial, Quasi experimen, control study, Pasien dispagia setelah mengalami Stroke, artikel tahun 2014-2024. Hasil dari tiga database yaitu PubMed, EBSCO, dan Scopus ditemukan 6 literatur yang dianalisis secara menyeluruh untuk digunakan sebagai Evidence Based Practice (EBP). Dari 6 artikel yang dianalisis, diidentifikasi bahwa latihan shaker menjadi salah satu intervensi yang dapat diberikan pada pasien disfagia setelah mengalami stroke. Beberapa artikel menjelaskan durasi teknik latihan shaker yang bervariasi yaitu 30-60 menit. Beberapa artikel juga mengkombinasi atau membandingkan latihan ini dengan intervensi lain. Berdasarkan hasil literatur review dari ke-6 artikel yang telah didapatkan bahwa latihan shaker ini efektif dan dapat bermanfaat untuk pasien apabila dilakukan dengan rutin dan teratur. Latihan shaker memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas hidup dan fungsi menelan pada pasien. Perawat dan tenaga kesehatan lain perlu mempertimbangkan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan situasi kondisi pelayanan kesehatan Kata Kunci: Shaker Exercise, Refleks Menelan, Stroke
Physical Activity and Fruit and Vegetable Consumption among Organic Farmers Lestari, Shaffira Deva; Pebrianti, Sandra; Nursiswati, Nursiswati
Media Karya Kesehatan Vol 9, No 1 (2026): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v9i1.65544

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) are closely related to lifestyle, particularly physical activity and the consumption of fruits and vegetables, which continue to be public health challenges. Organic farmers as a specific group have the potential for lower NCD risk due to the nature of their work and a lifestyle that tends to be more health-conscious. Organic farmers are known to have diverse physical activity patterns and close access to fruits and vegetables. This study aims to identify the physical activity habits and fruit and vegetable consumption of organic farmers. The research design used is quantitative descriptive. The population of this study consisted of organic farmers in Kecamatan Jatinangor and 30 respondents were selected using the snowball sampling approach. This study employed the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) and Food Frequency Questionnaire (FFQ) as research instruments. Data were analyzed using a quantitative descriptive approach, including frequency, proportion, and percentage calculations. The results showed that most organic farmers in Kecamatan Jatinangor were classified in high physical activity, totaling 27 respondents (90%), good fruit consumption with 26 respondents (86.7%), and good vegetable consumption with 28 respondents (93.3%). Therefore, it can be concluded that the majority of organic farmers in Kecamatan Jatinangor engage in high levels of physical activity as well as good fruit and vegetable consumption. Future studies are recommended to adopt qualitative approaches to explore factors influencing physical activity also fruit and vegetable consumption, as well as to collaborate with healthcare services, educational institutions, and farmer communities to support comprehensive health promotion programs. Keywords: Consumption, fruit, organic farmer, physical activity, vegetable.
Co-Authors Aan Nur'aeni Afrilia, Ghea Aghnia, Nuraulia Agung, Rizki Nugraha Alviani, Eka Turjanah Amalia, Fany Amalia, Selly Nurhasanah Amelia Hayati Amelia, Iftikar Salma Andry Tanta Pramudya Arhustia, Hesti Dina Arifin, Hidayat Arisunyoto, Wisnu Ayuningsih, Risna Azizah, Levina Azwadina, Aliffa Bambang Aditya Nugraha Budhiaji, Purbayanty Cahyani, Eka Maulidya Cindy Puspita Sari Citra Windani Mambang Sari Devi Nurrahmawati Devi Nurrahmawati Dhiya Roihana Diva Jogina Diyah Setyorini Eka Afrima Sari Eka Turjanah Alviani ENDAH NESTITI URIP RAHAYU Etika Emaliyawati Fadilah, Tria Nurhayyu Fanny Adistie Faturrahman, Reza Rizkika Fazriyyah, Yuni Fuji Ghifani Sifa Azahra Gumelar, Heru Gugum Gusgus Ghraha Ramdhanie Handayani, Eriska Nur Harun, Hasniatisari Hendrawati Hendrawati Herman, Regina Hesti Platini Hikmat, Rohman Iceu Amira D.A Indah Wahyuni Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana` Indra Maulana Iqbal Pramukti Iwan Shalahuddin Karina, Grashiva Karwati Karwati Khairunnisa, Nisrina Kosim K Kosim Kosim Kusman Ibrahim Lestari, Shaffira Deva Malfa Laila Pratidina Mamat Lukman Margianti, Dina Maryani, Yani Melati, Azalia Merdekawati, Rahayu Mufaj, Elda Nurfadila Muhammad Ramdhani, Muhammad Mujahidah, Shafira Aulia Mulyana, Aep Maulid Nadila Afifah Sulaeman Naomi Sella Aprilia neng yulia maudi Nina Sumarni Novia Rahmawati Nugraha Firdaus Nur'aeni, Nabyla Nur'aeni Nuraeni, Fauziah Nurjanah, Ismirani Nurohmah, Indah Syaidah Nurrofikoh, Malihatunnisa Nursalma, Aisyah Nursiswati Nurul Azmi Fauziyah Priambodo, Ayu Prawesti Purnama, Martia Dewi Putri, Nabila Aulia Rahmat, Dadang Rahmawati, Lidya Riskyani, Umy Ristina Mirwanti Rusmana, Hera Prafitri Salsabella, Edellweisse Silvia Salwa, Sayyidah Santi Rukminita Anggraeni Sastianingsih, Siska Sejati, Femmy Selly Nurhasanah Amalia Siti Nurjanah Siti Rosita Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Siti Yulipah Agustini Sopia Marlina Sri Hartati Pratiwi Sri, Septiani Sulastini Sulastini, Sulastini Tanjung, Rifani Theresia Eriyani Tina Lestari Titis Kurniawan Titis Kurniawan Triesna, Meuthia Saulikha Tuti Pahria Udin Rosidin Upit Pitriani Wati, Putri Wikeu Nopianti