Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Semiotic analysis of Kemaliq phenomena as an effort to maintain culture and language in Ganti village community Trijunianti, Nurul Fadila; Jaelani, Jaelani
Jurnal CULTURE (Culture, Language, and Literature Review) Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal CULTURE (Culture, Language, and Literature Review)
Publisher : Universitas Aki

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53873/culture.v12i2.722

Abstract

This article examines the phenomenon of Kemaliq as a medium for maintaining language and culture. This research uses qualitative methods in data collection and analysis. The data collection techniques used observation, interview, and documentation. The results of this study indicate that Kemaliq is the language and culture of the Sasak community. First, Kemaliq can be used for various cultural activities, such as Nede, the ritual for asking for rain during the rice planting season. The local community will bring Dulang during the ritual. The Dulang serves as an iconic sign, representing gratitude and communal unity. Kemaliq can be used as a medium of education for the community regarding Kemaliq’s history and also as a place to learn Sasak literature. For example, at Kemaliq, there is a reading of Sasak literature that uses the Sasak Halus language, also called Linggih Kerame. The Linggih Kerame language is very rarely used in daily communication and is only used in certain activities and is only understood by a small part of the community. They can facilitate people who want to learn the Sasak Halus language, ensuring that traditional languages are not lost or forgotten amid language development in the modern era. This study demonstrates that the interaction of iconic codes within Kemaliq strengthens intergenerational cultural continuity and reinforces the collective identity of the Sasak community. The efforts made by the people of Ganti village to maintain the existence of their culture include forming an organization engaged in the preservation.
Nurturing Tradition, Embedding Local Islam: The Existence of the Besaprah Tradition in Sambas Malay Society Jaelani, Jaelani; Risa, Risa; Trisnawati, Hikmah
NALAR Vol 9 No 2 (2025): Islam in Social Sphere
Publisher : Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Islamic University of Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v9i2.11053

Abstract

Globalization presents significant challenges to the existence of local wisdom, including the Besaprah tradition in Sambas Malay society. Therefore, this article aims to examine Besaprah as a dynamic and adaptive cultural practice that lies at the intersection of Sambas’ Malay cultural identity, local Islam, and efforts to maintain its existence amid social change and modernity. This study uses qualitative methods, including an oral history approach, and draws on document and literature reviews, as well as in-depth interviews with religious, traditional, and community leaders. Data were collected between April and May 2021, and sources were verified and analyzed using cultural history theories and concepts. The results show that Besaprah is an expression of the cultural identity of the Sambas Malay and a symbol of Islamic teachings, egalitarian values, social solidarity, and modesty. Support from religious and traditional leaders, state recognition through registration as Intangible Cultural Heritage (WBTb), and cultural festivals are methods used to preserve this tradition. In conclusion, Besaprah is an adaptive and dynamic cultural practice that helps the Sambas Malay community preserve its cultural identity, embody Islamic principles, and enhance social cohesion.
Optimali Potensi Desa Melalui Usaha Ternak Di Kampung Bangsri Gede, Kelurahan Kriwen, Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo Marsudi, Hidup; Jaelani, Jaelani; Astuti, Sri dweni; Kosasih, Ida Ayu Kade Rachmawati; Agung, I Gusti Ayu
JANAKA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT KEWIRAUSAHAAN INDONESIA Vol 6, No 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT DAN KEWIRAUSAHAAN INDONESIA
Publisher : STIE Atma Bhakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36600/janaka.v6i2.496

Abstract

Kampung Bangsri Gede memiliki potensi besar dalam sektor peternakan sapi potong dan pertanian ladang, yang dapat dikembangkan secara sinergis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Kondisi geografis dan iklim yang mendukung menjadikan kampung ini ideal untuk pengembangan kedua sektor tersebut. Peternakan sapi potong di Bangsri Gede dapat menjadi sumber utama daging sapi yang berkualitas, sementara ladang pertanian menyediakan pakan ternak serta berbagai hasil pertanian seperti jagung, padi, dan sayuran. Keberhasilan integrasi antara peternakan dan pertanian di Bangsri Gede dapat meningkatkan efisiensi produksi melalui penggunaan limbah pertanian sebagai pakan ternak dan pupuk alami dari kotoran sapi untuk kesuburan tanah. Pengembangan potensi kampung Bangsri Gede memerlukan dukungan dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta melalui program pelatihan, serta penerapan teknologi modern dalam peternakan. Dengan kolaborasi yang baik, kampung Bangsri Gede dapat menjadi contoh desa mandiri yang sukses dalam mengembangkan sektor peternakan dan pertanian secara berkelanjutan, serta berkontribusi pada pembangunan ekonomi perkampungan secara keseluruhan.
The Study of Geomythology and Cultural Anthropology in Mountain Folklore Sabampolulu and Mountains Nepa-nepa in Kabaena, Southeast Sulawesi Abdin, Non; Jaelani, Jaelani; Gusli, Suhendro; Ali, La
Gurindam: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 5, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/gjbs.v5i2.38527

Abstract

This study examines the folklore of Mount Sabampolulu and Mount Nepa-nepa on Kabaena Island, Southeast Sulawesi, using a geomythological and cultural anthropological approach to understand the relationship between geological phenomena and the cultural construction of the local community. Through a qualitative-descriptive method involving interviews, field observations, and narrative analysis, the research finds that the myths of the two mountains record collective memories of geological events such as eruptions, erosion, and floods, while also functioning as tools for ecological education, identity formation, and the preservation of cultural values. In conclusion, this folklore serves as a living ecological archive that interconnects myth, history, and the environment within a unified framework of cultural meaning.
Pengembangan Media Pembelajaran Augmented Reality (AR) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Geografi Bencana pada Siswa Sekolah Menengah Jaelani, Jaelani; Abdin, Non; Ridwan, Ridwan
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2026 (1)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v6i1.3478

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kerentanan bencana tertinggi di dunia, namun pemahaman siswa terhadap konsep geografi kebencanaan masih rendah karena materi bersifat abstrak dan sulit divisualisasikan. Kondisi ini menunjukkan perlunya media pembelajaran inovatif yang mampu menjembatani konsep teori dengan fenomena bencana nyata. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji efektivitas media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dalam meningkatkan pemahaman siswa. Metode yang digunakan adalah quasi-eksperimen dengan desain one-group pretest–posttest pada siswa sekolah menengah. Instrumen penelitian meliputi angket analisis kebutuhan, tes pretest–posttest, serta angket respon siswa dan guru. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan 95% responden belum pernah menggunakan AR, namun mayoritas memiliki sikap positif terhadap penerapannya. Materi vulkanisme dan pergerakan lempeng dinilai paling sulit sehingga membutuhkan dukungan visualisasi 3D. Hasil tes menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 69,70 menjadi 80,75, dan uji t menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,000). Respon siswa sangat positif, terutama pada aspek visualisasi 3D (4,7) dan peningkatan pemahaman konsep (4,6). Guru juga memberikan penilaian tinggi (4,8) terhadap kemanfaatan AR dalam membantu penyampaian materi. Dengan demikian, AR terbukti efektif meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa, serta berpotensi menjadi solusi inovatif dalam pembelajaran geografi.
RANCANG BANGUN MESIN PENGERING SEPATU RAMAH LINGKUNGAN DENGAN SISTEM HEATER Jaelani, Jaelani; Sudarmono Sudarmono; Muhd Hafizal Fitri
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 1 (2026): Februari
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i1.8815

Abstract

. Environmentally friendly shoe dryer and analyze the effect of the heater heating system on shoe drying rate. The background to this research arose from the need for a faster and more hygienic shoe drying method than drying in the sun, which is often time-consuming, impractical, and has the potential to cause odors or mold. Furthermore, this design incorporates "environmentally friendly" aspects through energy efficiency and optimal resource utilization. The research method will involve three main stages: (1) Literature Review and Design of the dryer, including selecting the heater type (ceramic heater or other heating element) and efficient materials. (2) Fabrication or creation of a dryer prototype. (3) Performance Testing, where the device will be tested using varying heater temperatures to measure the drying rate (g/hour) and the time required for shoes to dry completely. Test data will be analyzed to determine optimal operating conditions in terms of speed and energy efficiency. The expected outcome of this research is the creation of a shoe drying prototype that can reduce drying time by 60/120 minutes compared to conventional methods, while also being more energy efficient. This design is expected to be a practical, hygienic, and environmentally friendly solution for users.
Sosialisasi Pemanfaatan Rumput Laut Sebagai Sumber Ekonomi Berkelanjutan Masyarakat Pesisir Desa Balobone, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah Widia, Widia; Mane, Azmin; Rianti, Nurul Safia; Jaelani, Jaelani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i2.4280

Abstract

Desa Balobone, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah memiliki potensi budidaya rumput laut yang cukup besar dan menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat pesisir. Namun demikian, pemanfaatan rumput laut selama ini masih terbatas pada penjualan dalam bentuk bahan mentah kepada pengepul dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Kondisi tersebut disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan pengolahan lanjutan rumput laut menjadi produk bernilai tambah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran masyarakat pesisir dalam memanfaatkan potensi rumput laut sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan melalui kegiatan sosialisasi dan praktik langsung pengolahan. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan sosialisasi, praktik pengolahan rumput laut menjadi produk olahan berupa agar-agar, serta evaluasi kegiatan. Sasaran kegiatan adalah masyarakat pesisir Desa Balobone yang terlibat dalam aktivitas budidaya rumput laut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengolah rumput laut menjadi produk bernilai tambah, serta meningkatnya antusiasme masyarakat untuk mengembangkan usaha rumah tangga berbasis potensi lokal. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memperluas peluang usaha masyarakat, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan.