Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Sosialisasi Sadar Wisata sebagai Upaya Peningkatan Partisipasi Aktif Masyarakat Guna Mewujudkan Pariwisata Budaya Berkelanjutan di Desa Wisata Tanon Kabupaten Semarang Paranti, Lesa; Farkhatunnisa, Alif; Fauzizah, Ardha Dwi; Wafa, Mochammad Usman; Zulfa, Nely
Varia Humanika Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dusun Tanon is one of the hamlets in Ngrawan Village, Getasan District, which was officially established as a tourism village on April 21, 2012. This socialization aims to increase tourism awareness for the people of Tanon Hamlet by organizing tourism awareness socialization activities towards sustainable tourism. The implementation method used in Community Service uses counseling methods through material presentation and discussion approaches. Also, the evaluation method uses price as the level of satisfaction in supervising socialization activities. With this outreach, participants understood the material presented regarding community awareness and tourism promotion, and took an active part in the discussion sessions. Through this tourism awareness socialization activity, it is hoped that it can increase the active participation of the community in strengthening tourism villages towards sustainable cultural tourism.
Community Trust in Village Financial: The Role of External Pressure and Corruption Perception Susilowati, Nurdian; Elisabet, Camelia Yunika; Abdullah, Muhammad Syukri; Paranti, Lesa; Amidi, Amidi
JABE (JOURNAL OF ACCOUNTING AND BUSINESS EDUCATION) Volume 8, Issue 2, December 2023
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/jabe.v8i2.44827

Abstract

Community trust in village financial management has an important role. The fantastic value of village funds encourages the community to participate in its management. The facts show that the amount of village funds has triggered the village apparatus to act corruptly, so in 2018, many village heads and village apparatus were in jail. This study aims to determine the effect of external pressure, transparency, accountability, and corruption perception on public trust. This study used a survey method with hypothesis testing, and it was conducted in the Tegal Regency. The sampling technique used was cluster sampling and obtained 103 respondents. This study used questionnaires to collect the data. It also analyzes the data using descriptive and path analysis (structural equation modeling) with WarpPLS. The results show that external pressure directly influences the transparency and accountability of village governments. Transparency has a direct effect on accountability. Transparency and accountability have a positive influence on community trust. Meanwhile, the corruption perception has a negative influence that weakens public trust. Perceptions of corruption also have a mediating role in the indirect relationship between transparency and public trust. However, this study only examines from the perspective of village officials. Further research should explore the transparency and accountability of village governments from the community point of view.
PELATIHAN TARI ASWA DIRANDRA SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI POTENSI WISATA DI DESA MUNCAR KABUPATEN SEMARANG Paranti, Lesa; Jazuli, Muhammad; Salafiyah, Nafik; Khamdani, Muhammad
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v6i2.42688

Abstract

Desa Muncar Kabupaten Semarang tengah meneguhkan diri sebagai desa wisata, oleh sebab itu dibutuhkan upaya optimalisasi potensi wisata khususnya kesenian. Permasalahan dalam pengabdian sebagai berikut : 1) Dibutuhkan pengembangan seni Jaran Kepang yang dikemas untuk penyajian kepada wisatawan dan paket eduwisata dengan kriteria yang sesuai dengan ciri seni wisata; 2) Belum adanya tarian untuk anak-anak Desa Muncar yang bersumber dari kesenian daerah setempat. Kedua permasalahan tersebut menjadi latar belakang tim yang bersinergi dengan mahasiswa KKN (melalui program UNNES GIAT Angkatan 1) melakukan optimalisasi potensi khususnya seni tari dengan mengembangkan kesenian Jaran Kepang yang diberi judul Tari Aswa Dirandra dan mengajarkannya kepada anak-anak Desa Muncar. Kegiatan dilaksanakan menggunakan metode penciptaan tari dan metode pelatihan tari yang terdiri atas 3 tahap yaitu pelatihan, pendampingan dan evaluasi. Hasil program yaitu telah terbentuk Tari Aswa Dirandra yang terdiri atas 7 ragam gerak dengan durasi sekitar 10 menit. Anak-anak Muncar sejumlah 10 orang dapat menarikan Tari Aswa Dirandra dengan baik, terbukti pada saat mereka tampil dalam acara Expo Mahasiswa UNNES GIAT 1 dapat membawakan tarian secara baik dengan memenuhi aspek wiraga, wirama dan wirasa. Berdasarkan hasil evaluasi tim pengabdi terhadap peserta, dapat disimpulkan bahwa dari 10 peserta terdapat 6 anak memiliki kriteria sangat baik, 3 anak dengan kriteria baik, dan 2 orang anak memiliki kriteria cukup baik. Selain evaluasi individu, pengabdi juga melakukan evaluasi kelompok karena pada dasarnya tari Jaran Kepang merupakan tari kelompok. Oleh sebab itu dibutuhkan kebersamaan dan kekompakan antar penari.
Pemberdayaan Masyarakat Desa Cokro dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Eco-Culture Tourism Kurniawan, Edi; Paranti, Lesa; Karsinah; Prihastari, Ema Butsi; Safira, Mei Arum; Afiyah, Junita Dewi; Primantari, Irfanny Okta
PENA ABDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 1 (2025): Januari 2025
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Cokro memiliki berbagai potensi alam, kebudayaan, dan industri. Tetapi potensi Desa Cokro belum memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, sehingga perlu dilakukannya pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan eco-culture tourism. Tujuan dilakukannya pemberdayaan masyarakat ini adalah untuk memberdayakan masyarakat desa cokro melalui rintisan eco-culture tourism dan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sehingga metode yang digunakan adalah Community Based Research (CBR) melalui sosialisasi, pendampingan, pengadaan alat, dan pelatihan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa Cokro dalam pengembangan desa wisata berbasis eco-culture tourism berupa Focus Group Discussion (FGD) Desa Wisata, Perancangan desain kawasan wisata, Demonstrasi pembuatan makanan khas cokro, Pelatihan pembuatan souvenir, Sosialisasi NIB, Sosialisasi pengolahan sampah, serta Pelatihan eduwisata berbasis kebudayaan, lingkungan, dan permainan tradisional. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat desa cokro dalam pengembangan desa wisata berbasis eco-culture tourism.
Estetika Tari Canting Mas di Sanggar Kalamangsa Kabupaten Banyumas Izzati, Mutiara Nur; Paranti, Lesa
Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Vol. 22 No. 2 (2024): October
Publisher : FBSB UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/imaji.v22i2.76612

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk pertunjukan dan estetika Tari Canting Mas di Sanggar Kalamangsa. Metode yang digunakan yaitu kualitatif serta pendekatan estetis koreografis. Teknik pengumpulan data antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Analisis data berupa analisis tari teori Adshead. Kekhasan bentuk pertunjukan Tari Canting Mas dapat dilihat dari gerak dan iringannya. Gerak dan iringan Tari Canting Mas yang saling berkaitan memberi kesan dinamis, lincah dan energik. Tari Canting Mas memiliki pesan tertentu yang didalam bentuk pertunjukannya mengandung nilai-nilai kedisiplinan, kesabaran, dan ketelitian yang diperlukan seorang pembatik. Peneliti menggunakan teori estetika oleh Djelantik dalam menganalisis keindahan Tari Canting Mas.
BENTUK DAN FUNGSI PERTUNJUKAN TARI SLUKU-SLUKU BATHOK PAGUYUBAN TURONGGO SETO KABUPATEN PURWOREJO Rochmat Supanto; Lesa Paranti
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 1 (2024): Gesture: Jurnal Seni Tari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v13i1.56670

Abstract

Tari Sluku-Sluku Bathok merupakan tarian pembuka yang berisi gerak-gerak dasar sebagai pijakan tari jaran kepang lainnya yang ada di Paguyuban Jaran Kepang Turonggo Seto. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi pertunjukan Tari Sluku-Sluku Bathok Paguyuban Jaran Kepang Turonggo Seto Desa Piji Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo. Penelitian mengunakan pendekatan etnokoreologi dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data mengunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik keabsahan data mengunakan teknik triangulasi data yang meliputi sumber, teknik, dan waktu. Teknik analisis data mengunakan etnokoreologi yang digunakan sebagai pisau bedah utamanya bagian tekstual serta kontekstual bentuk dan fungsi pertunjukan tari Sluku-Sluku Bathok. Tahap analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dam penarikan kesimpulan. Hasil penelitian bentuk dan fungsi pertunjukan tari Sluku-Sluku Bathok adalah tari Sluku-Sluku Bathok merupakan pengembangan kesenian Jaran Kepang Khas Kabupaten Purworejo. Tari Sluku-Sluku Bathok memiliki tema prajurit Panji Asmara Bangun yang terdiri dari 15 orang penari dan 10 orang pemusik. 
METODE PELATIHAN TARI BATIK GRINGSING DI SANGGAR JAGADITHA KABUPATEN BATANG Zidna Ilma Nafi; Lesa Paranti
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 2 (2024): Gesture: Jurnal Seni Tari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v13i2.64629

Abstract

Sanggar Jagaditha berdiri tahun 2017 diketuai oleh Adila Endarini, sanggar ini masih aktif mengajarkan, mempertunjukan, melestarikan serta mempromosikan Tari Batik Gringsing Kabupaten Batang. Tari Batik Gringsing diciptakan untuk menampilkan salah satu khasanah Kabupaten Batang melalui proses membatik. Metode sangat berperan penting selama proses pelatihan dimana pemilihan metode yang tepat mampu membuat proses pelatihan tari lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pelatihan dan tahapan pelaksanaan metode pelatihan Tari Batik Gringsing di Sanggar Jagaditha. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi. Teknik analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode pelatihan Tari Batik Gringsing di Sanggar Jagaditha menggunakan metode gabungan (ceramah, tanya jawab, demonstrasi, drill/latihan, imam dan tutor sebaya). Tahapan pelaksanaan metode pelatihan Tari Batik Gringsing di Sanggar Jagaditha meliputi: persepsi (pengamatan), replikasi (peniruan), umpan balik dan pengulangan.
The Movement Structure of Digul Dance in Tonjong Village, Tonjong District, Brebes Regency Paranti, Lesa; Nahdiah, Dina
Jurnal Pendidikan Sendratasik Vol 14 No 1 (2025): Jurnal Pendidikan Sendratasik
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Digul is an early creative dance that has developed in Tonjong District, Brebes Regency, since the early days of Indonesia’s independence. One of the art groups that continues to preserve this dance is the Forum Pemuda Pemudi Kartika Kesenian Digul Tonjong, located in Tonjong Village. The purpose of this study is to identify and describe the movement structure of Tari Digul in Tonjong Village, Tonjong District, Brebes Regency. This research employs a qualitative descriptive method with a choreographic structural approach. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. Data validity is ensured through source triangulation, technique triangulation, and time triangulation. The data analysis techniques used are the structural analysis methods of Anya Peterson Royce and Sumaryono, further elaborated with Janed Adshead’s dance analysis techniques. The findings of this study reveal that the movement structure of Tari Digul refers to elements of dance movement, namely movement motifs, movement phrases, movement sentences, and the largest unit, movement clusters. It also considers the relationships between basic dance elements, body parts involved, movement types, and movement qualities or character. Tari Digul consists of 12 movement sentences, 12 phrases, and 66 movement motifs that are interconnected, forming a unified whole dance composition. Based on this, Tari Digul clearly exhibits a hierarchical relationship between its movement elements, which includes syntagmatic, paradigmatic, and overlapping relationships
ECO-FRIENDLY PACKAGING IMPLEMENTATION THROUGH COMPOSITE CANS FOR SOLO SOUVERNIR PRODUCTS Prameswari, Nadia Sigi; Al-Faruq, Moh. Yudik; Krisnawati, Maria; Paranti, Lesa
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025): JUNI
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v9i2.2779

Abstract

Abstract. Solo's specialty souvenir products have great potential to develop as a cultural identity as well as a superior regional economic commodity. Ironically, many souvenir products still use packaging that is not visually attractive, has minimal information, and does not reflect local characteristics. This study aims to develop packaging design innovation through the application of composite cans as an eco-friendly alternative for Solo's specialty souvenir products. The study focused on the process of designing visual label designs, selecting packaging materials, and the stages of production and design evaluation. The method used was a descriptive qualitative approach with field observation and design experiments. The design process included the development of a visual identity implemented on the packaging label applied to composite cans measuring 9.9x7 cm and 7.3x17 cm. The results of the study showed that composite can packaging was able to provide visual appeal that had an impact on the selling value of the product. The design of the packaging label strengthens the image of Solo's specialty culinary products that are authentic, high quality and have high selling value. This innovation is expected to help MSMEs compete in a wider market with packaging that is superior in terms of aesthetics, functionality, and sustainability.
MAKNA SIMBOLIK TARI KENCAR-KENCAR DI KABUPATEN KARANGANYAR Putri, Anggita Febriana; Paranti, Lesa
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 12 No. 1 (2023): Gesture: Jurnal Seni Tari (April)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v12i1.42711

Abstract

Kencar-kencar dance is a traditional creation dance from Karanganyar Regency. Kencar-kencar dance has meanings of life which are symbolized through movement, accompaniment, make-up, costume, and property. The purpose of this research is to find out and analyze the symbolic meaning of Kencar-kencar Dance in Karanganyar Regency. The method used in this research is a qualitative method with a semiotic approach. Research on the Symbolic Meaning of Kencar-kencar Dance in data collection techniques used through observation, interviews, and documentation. Data validation techniques use source triangulation, technical triangulation, and time triangulation. Data analysis using data reduction, data presentation and conclusion. The results of the study show that the meaning of the Kencar-kencar Dance is found in motion, accompaniment, make-up, costume, and property. Living in harmony with mutual respect, mutual love, mutual respect, namely tolerance for differences that exist between communities to create harmony and peace between the Karanganyar people. Kencar-kencar dance has the meaning of Karanganyar which is brightly lit at night. The symbolic meaning in the Kencar-kencar Dance gives the spirit of life to the people of Karanganyar Regency