Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

BENTUK DAN FUNGSI PERTUNJUKAN TARI SLUKU-SLUKU BATHOK PAGUYUBAN TURONGGO SETO KABUPATEN PURWOREJO Supanto, Rochmat; Paranti, Lesa
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 1 (2024): Gesture: Jurnal Seni Tari (April)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v13i1.56670

Abstract

Tari Sluku-Sluku Bathok merupakan tarian pembuka yang berisi gerak-gerak dasar sebagai pijakan tari jaran kepang lainnya yang ada di Paguyuban Jaran Kepang Turonggo Seto. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi pertunjukan Tari Sluku-Sluku Bathok Paguyuban Jaran Kepang Turonggo Seto Desa Piji Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo. Penelitian mengunakan pendekatan etnokoreologi dengan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data mengunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik keabsahan data mengunakan teknik triangulasi data yang meliputi sumber, teknik, dan waktu. Teknik analisis data mengunakan etnokoreologi yang digunakan sebagai pisau bedah utamanya bagian tekstual serta kontekstual bentuk dan fungsi pertunjukan tari Sluku-Sluku Bathok. Tahap analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dam penarikan kesimpulan. Hasil penelitian bentuk dan fungsi pertunjukan tari Sluku-Sluku Bathok adalah tari Sluku-Sluku Bathok merupakan pengembangan kesenian Jaran Kepang Khas Kabupaten Purworejo. Tari Sluku-Sluku Bathok memiliki tema prajurit Panji Asmara Bangun yang terdiri dari 15 orang penari dan 10 orang pemusik. 
METODE PELATIHAN TARI BATIK GRINGSING DI SANGGAR JAGADITHA KABUPATEN BATANG Nafi, Zidna Ilma; Paranti, Lesa
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 2 (2024): Gesture: Jurnal Seni Tari (October)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v13i2.64629

Abstract

Sanggar Jagaditha berdiri tahun 2017 diketuai oleh Adila Endarini, sanggar ini masih aktif mengajarkan, mempertunjukan, melestarikan serta mempromosikan Tari Batik Gringsing Kabupaten Batang. Tari Batik Gringsing diciptakan untuk menampilkan salah satu khasanah Kabupaten Batang melalui proses membatik. Metode sangat berperan penting selama proses pelatihan dimana pemilihan metode yang tepat mampu membuat proses pelatihan tari lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pelatihan dan tahapan pelaksanaan metode pelatihan Tari Batik Gringsing di Sanggar Jagaditha. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data mencakup observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi. Teknik analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode pelatihan Tari Batik Gringsing di Sanggar Jagaditha menggunakan metode gabungan (ceramah, tanya jawab, demonstrasi, drill/latihan, imam dan tutor sebaya). Tahapan pelaksanaan metode pelatihan Tari Batik Gringsing di Sanggar Jagaditha meliputi: persepsi (pengamatan), replikasi (peniruan), umpan balik dan pengulangan.
METODE PELATIHAN TARI MIDAT-MIDUT DI SANGGAR TARI JUJU KOTA SEMARANG Rohmayani, Wulan Suci Nur; Paranti, Lesa
Gesture: Jurnal Seni Tari Vol. 14 No. 1 (2025): Gesture: Jurnal Seni Tari (April)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gjst.v14i1.65274

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode pelatihan tari yang digunakan di Sanggar Tari Juju. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan data tiangulasi teknik dan waktu. Analisa data menggunakan data reduksi, data display, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan pelatihan pada Tari Midat-Midut di Sanggar Tari Juju efektif dengan menggabungkan metode cerita dalam tahap persepsi, metode demonstrasi dan metode imam dalam tahap replikasi, dan metode latihan atau drill dalam tahap umpan balik dan pengulangan. Metode tersebut membantu anak-anak dalam memahami tema tari, mempraktikan gerakan yang telah diajarkan dengan tepat, dan memperbaiki keterampilan melalui latihan berulang, sehingga dapat mengembangkan pemahaman dan rasa percaya diri mereka. Kontribusi penelitian memperkaya kajian pelatihan tari tradisional dengan metode yang efektif.
The Prajuritan Dance Preservation of the Wahyu Kridha Budaya Association in Sumogawe Village, Getasan Sub-District, Semarang Regency Septiani, Elza; Paranti, Lesa
Jurnal Seni Tari Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prajuritan Dance of Wahyu Kridha Budaya Society is still active for three generations. The first generation is Mr. Noto Kayitno, the second generation is Mr. Srikoyo, and the third generation is Mr. Sumadi. Objectives, 1) to study the preservation of Prajuritan dance using aspects of protection, development, and utilization. 2) to describe the supporting and inhibiting factors of Prajuritan dance preservation of the Wahyu Kridha Budaya Association. The research used qualitative methods of emic and etic approaches. The research location is in Sumogawe Village, Getasan Sub-District. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. Data validity is in the form of source triangulation, technique triangulation, and time triangulation. The results showed, that 1) Preservation is carried out using three aspects in the form of protection from the village government, hamlet heads, associations, and the community. Development in terms of quality with the development of a variety of horse war movements, tidier makeup, and renewal of costumes, property, and musical instruments. Utilization is in the form of Prajuritan dance performances as entertainment and unification of the Magersari Hamlet community. 2) Supporting factors for the preservation of Prajuritan dance in the form of a sense of enthusiasm of members, financial assistance from the village government, and enthusiasm of the community in appreciation. The inhibiting factors are a vacuum during COVID-19, limited funds, and no social media to disseminate Prajuritan dance.  
Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos dari Sampah Organik Menggunakan Compost Bag untuk Mendukung Program Kampung Iklim (Proklim) di Desa Ngrawan Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang Hanif, Miftahudin; Melati, Dinda; Paranti, Lesa; Lungguh, Lungguh
Jurnal Bina Desa Vol. 7 No. 1 (2025): Vol 7 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jurnalbinadesa.v7i1.4184

Abstract

Organic waste is still a problem in Ngrawan Village, Getasan Regency, affecting the surrounding environment. The existence of these environmental problems requires efforts and solutions to overcome them. This service aims to provide knowledge about making compost using compost bags. The method used in implementing this service is using socialization, direct demonstrations, and assistance in making compost fertilizer every week. The benefits of this activity are optimizing the climate village program in Ngrawan Village, providing an understanding of environmental problems in Ngrawan Village, and mitigation efforts, as well as empowering the local economy by making compost independently. The results obtained are that the community knows about environmental problems in Ngrawan Village and efforts to mitigate and overcome them and the products produced from this community service activity are mature compost fertilizer that has been successfully made by the community, knowledge of the use of compost bags and materials that can be used as educational facilities for visitors to Ngrawan village. The conclusion is that in dealing with environmental problems and waste management, awareness is needed from an early age by the younger generation in Ngrawan Village.
Pelatihan Pengelolaan Media Sosial sebagai Upaya Penguatan Cultural Destionation Branding Desa Wisata Menari Tanon Kabupaten Semarang Paranti, Lesa; Jazuli, Muhammad; Prameswari, Nadia Sigi; Wiyoso, Joko; Farkhatunnisa, Alif; Latifah, Ani Nur Auliyatun
Jurnal Bina Desa Vol. 6 No. 3 (2024): Vol 6 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jurnalbinadesa.v6i3.12832

Abstract

The potential and uniqueness of Menari Village as a tourist village in Semarang Regency needs to be introduced to the wider community. Based on the survey that was carried out, the community service found problems that needed to be resolved, including 1) Menari Tanon Village already has one social media (Instagram) but it has not been managed optimally; 2) lack of human resource capabilities in terms of understanding and skills in creating content that carries local cultural themes and social media management. The aims of this service include: 1) improving social media management; 2) increasing human resource capabilities and forming cadres. One solution offered to this problem is providing training on content and social media management. The approach used in this service activity is Participatory Rural Appraisal (PRA) which takes the form of a training and mentoring method. The stages carried out in this service include 1) FGD with Pokdarwis, 2) training and assistance in social media management. The training activity involved 17 participants who were the young generation of Tanon Hamlet. The results of the training indicate increased understanding and ability to create content as well as manage social media and create. After the training is related to techniques for creating content on social media with activity output in the form of creative content videos. Next, assistance is provided with social media management by forming a social media team and creating a posting schedule
Inovasi Flashmob Desa Ngrawan Kabupaten Semarang untuk Penguatan Pariwisata Berkelanjutan Paranti, Lesa; Wiyoso, Joko; Prameswari, Nadia Sigi; Latifah, Ani Nur Auliyatun; Romayani, Wulan Suci Nur
Jurnal Bina Desa Vol. 7 No. 3 (2025): Vol 7 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jurnalbinadesa.v7i3.34164

Abstract

As a step to help Ngrawan Village in Semarang Regency develop sustainable tourism, the Community Service team from Universitas Negeri Semarang (UNNES) carried out an innovative activity. The aim was to create attractive art performances, such as flash mobs, to overcome the problem of a lack of innovation and regeneration of artists in the village. This activity employs a Community-Based Sustainability Development (CBSD) approach, which focuses on community empowerment. The methods used include training, mentoring, and evaluation. The main participants are members of the Karang Taruna ‘Omah Cikal’ youth organisation. As a result, a new flashmob dance themed ‘Ngrawan Menawan’ was successfully created and performed for the first time at the Ngrawan Art Festival on 30 August 2025. This innovation is expected to become an iconic dance in Ngrawan Village to strengthen local identity and unite communities from various hamlets. This activity proves that community empowerment through art can support sustainable tourism.
Optimalisasi Sumber Daya Manusia dalam Mendukung Kawasan Wisata Desa Timpik Kabupaten Semarang Muarifuddin; Ilyas, Ilyas; Kurniawan, Edi; Amidi, Amidi; Paranti, Lesa
Jurnal Abdi Negeri Vol 2 No 2 (2024): September 2024
Publisher : Informa Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63350/jan.v2i2.20

Abstract

Pengembangan kawasan wisata merupakan pilihan yang diharapkan dapat memperkuat baik potensi ekonomi maupun upaya konservasi. Pengembangan kawasan wisata dilakukan melalui transformasi terpadu berbagai peluang dan aset alam dan hayati. Hal ini semua diperlukan kemampuan sumber daya manusia yang berada di dalamnya. Oleh karenanya, program pengabdian kepada masyarakat ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan SDM Desa Timpik dalam meningkatkan potensi sebagai kawasan desa wisata. Kegiatan dilakukan dengan adanya pelatihan dan pendampingan kepada warga masyarakat Desa Timpik segala usia. Para pelaku seni yang ada hingga anak-anak siswa tingkat sekolah dasar. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan berbagai kegiatan yaitu FGD Konsep Pengembangan Wisata Desa Timpik bersama Perangkat Desa, Pendampingan Fasilitasi SDM dalam Gebyar Seni Budaya Desa Timpik, Pendampingan Pembuatan Peta Desa, Pendampingan Pentas Seni Gelar Karya Hasil Pembimbingan, dan Pendampingan Metri Dusun Ngasinan Desa Timpik. Semua kegiatan tersebut tidak terlepas atas kontribusi dari seluruh warga masyarakat Desa Timpik beserta perangkat desa dan segenap mahasiswa KKN UNNES Giat 5. Hasil kegiatan yang telah dilakukan terdokumentasi dipublikasikan melalui youtube Desa Timpik Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Hal ini dijadikan sebagai media promosi desa sekaligus product sosial marketing dalam menciptakan Desa Timpik sebagai tempat wisata budaya.
Peta Risiko Bencana sebagai Instrumen Partisipatif Pemberdayaan Masyarakat dalam Mitigasi Longsor Nurdin, Ananda Risky; Paranti, Lesa
Jurnal Abdi Negeri Vol 3 No 2 (2025): September 2025
Publisher : Informa Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63350/jan.v3i2.22

Abstract

This community service program aimed to reduce landslide risk in Kandri Village, Gunungpati District, Semarang City, by utilizing a participatory disaster risk map as the main instrument for community empowerment. The risk assessment revealed that land movement is the highest threat with a score of 6 (probability = 3, impact = 3), compared to fire (3), drought (2), and land exploitation (2). The high risk is caused by a combination of hilly topography, high rainfall, clay soil, and human activities such as deforestation and hillside construction. Methods included FGDs, participatory mapping, awareness campaigns, preparedness training, and evacuation drills. As a result, the community was able to read and use the risk map to identify vulnerable areas (RW 2 and RW 4), designate evacuation routes, and develop a local early-warning system. The risk map proved effective as both an educational medium and a practical tool in building a Disaster-Resilient Village.
Tata kelola pendidikan seni berbasis komunitas dan kontribusinya terhadap pembangunan budaya dan pendidikan berkelanjutan" Paranti, Lesa; Lanjari, Restu; Nugrahani, Rahina; Jirajarupat, Phakamas
INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan Vol 30 No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/insania.v30i2.15518

Abstract

This study examines how community-based arts education governance at Sanggar Juju in Semarang contributes to the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) 4 (Quality Education) and 11 (Sustainable Cities and Communities) through cultural preservation. Utilizing qualitative methods, data were collected via observations, in-depth interviews, and documentation. Data analysis included reduction, presentation, and verification, with triangulation used to ensure validity. The findings reveal that the success of Sanggar Juju in managing its programs and growing its membership to 125 students over six years is underpinned by governance practices such as a policy framework, organizational values, participatory principles, and accountability systems. The studio promotes SDG 4 by offering culturally relevant and inclusive learning opportunities in traditional dance and supports SDG 11 by preserving intangible cultural heritage, strengthening social cohesion, and boosting community-based tourism in Kandri Village. Despite these successes, the organization still employs a centralized leadership model, which limits transparency and participation, posing risks to its sustainability and external funding opportunities. The study recommends adopting a collaborative governance model to improve accountability mechanisms, ensuring long-term organizational resilience and enhancing its contribution to the SDGs.