Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Decubital Candidiasis Mimicking Molluscum Contagiosum in an Unconscious Patient Noviani, Laura; Widhiati, Suci; Kariosentono, Harijono; Hidayati, Nurul; Alia, Vrenda
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i10.16573

Abstract

ABSTRACT Decubital candidiasis is a rare type of candidiasis often found in bedridden patients. Unlike decubital ulcer, it is also characterized with pustules and papules along with erythema, erosions, and scales. This lesion usually develops in the posterior thorax, lumbosacral, and gluteal region. In this case report, a patient was referred to us with generalized papules that was initially thought to be molluscum contagiosum after being admitted to intensive care unit (ICU). Keywords: Decubital Candidiasis, Candidiasis Miliaria, Candidiasis, Bedridden, Molluscum Contagiosum
Pengaruh Derajat Keparahan Terhadap Kejadian Resistensi Doksisiklin pada Penderita Akne Vulgaris Widyastuti, Zilpa; Kariosentono, Harijono; Kusumawardani, Arie
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i3.14731

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh derajat keparahan akne vulgaris (AV) terhadap kejadian resistensi antibiotik doksisiklin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional yang berlokasi di poliklinik kulit dan kelamin RSUD Dr. Moewardi, pada bulan Agustus hingga September 2023. Subjek pada penelitian ini penderita AV derajat sedang-berat. Derajat keparahan AV dinilai menggunakan sistem skoring Global Acne Grading System (GAGS), sedangkan kejadian resistensi doksisiklin dinilai dengan menggunakan metode disc diffusion. Terdapat sebanyak 31 subyek pada penelitian ini dengan AV derajat sedang-berat. Terdapat sebanyak 3 subjek (9,68%) yang mengalami resistensi doksisiklin. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari derajat keparahan AV terhadap kejadian resistensi doksisiklin pada C. acnes (p = 0,041). Secara umum, dapat disimpulkan bahwa derajat keparahan AV berpengaruh terhadap timbulnya resistensi doksisiklin pada C. acnes.
Efektivitas Terapi Minoksidil pada Alopesia Androgenetik: Studi in Vivo Monica, Pristia Widya; Kariosentono, Harijono; Widhiati, Suci
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i7.15878

Abstract

Alopesia androgenetik merupakan suatu kondisi genetik disebabkan oleh respons berlebih terhadap hormon androgen yang ditandai dengan berkurangnya ukuran folikel rambut terminal pada kulit kepala secara bertahap. Terapi yang tersedia saat ini untuk mencapai pengobatan yang efektif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi minoksidil 5% melalui penilaian densitas folikel rambut pada mencit model alopesia androgenetik. Menggunakan metode mencit diinduksi menggunakan testosteron selama 10 hari, kemudian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama merupakan kelompok kontrol tanpa mendapakan perlakuan lanjutan. Kelompok kedua diberikan perlakuan aplikasi topikal minoksidil 5% sebanyak dua kali semprotan sekali sehari hingga hari ke-31. Pada hari ke-32, densitas folikel rambut dievaluasi melalui pemeriksaan histopatologi pewarnaan Hematoksilin & Eosin. Analisis statistik menggunakan uji Mann- Whitney dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukan rerata densitas folikel rambut adalah 24,00 pada kelompok kontrol dan 40,14 pada kelompok perlakuan, dengan nilai p<0,05. Kelompok perlakuan aplikasi topikal minoksidil 5% secara signifikan meningkatkan densitas folikel rambut pada kulit mencit model AAG.
Eritema Nodosum Leprosum Berat pada Pasien Kusta Lepromatosa: Laporan Kasus Pramudita, Adelia Wuri; Kariosentono, Harijono; Evanti, Annisa Marsha; Asaduddin, Aiman Hilmi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 51 No 12 (2024): Kedokteran Umum
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v51i12.1116

Abstract

A case of a 58-year-old woman with lepromatous leprosy and severe ENL reaction is reported. The patient has symptoms of pustules for 1 year and the nodules were getting worse in the last week, accompanied by fever, joint pain, nausea, and vomiting. Physical examination revealed madarosis, infiltrates of both ears, and multiple painful erythematous nodules on the extremities and trunk. Slit skin smear examination showed bacterial index +3 and morphological index of 15%. Histopathological examination revealed neutrophil infiltration and vasculitis in the upper dermis. The patient was diagnosed with lepromatous leprosy and severe ENL reaction. The patient received multidrug therapy and methylprednisolone (62.5 mg/day), which was gradually reduced. The ENL reaction is caused by the deposition of M. leprae antigens and antibodies in small blood vessels, resulting in vasculitis and the release of enzymes that damage tissues. ENL reactions are commonly found in multibacillary MH and occur before, during, and after treatment. This reaction is mediated by cytokines produced by T-helper-2 (Th2). ENL reactions can cause disability.
Mekanisme Pertahanan Mukokutan terhadap Infeksi Candida: Analisis Pramudita, Adelia Wuri; Kariosentono, Harijono; Evanti, Annisa Marsha; Widyastuti, Zilpa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 52 No 3 (2025): Oftalmologi dan Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v52i3.1157

Abstract

Candida albicans is a commensal organism that can may become invasive and fatal under certain circumstances. Several genetic variations in the human genome towards susceptibility to Candida infections have been identified. There are a number of genes associated with Candida virulence factors, host environment, and immune response. C-type lectin receptors (CLRs) are characterized by leucine-rich and nucleotidebinding domains that can detect intracellular signals through various types of cytoplasmic domains. CLRs are family of PRRs that bind glycan through recognition of extracellular carbohydrate and mediate intracellular signaling through various type of cellular domains, resulting in a decrease of neutrophils and facilitating the occurrence of fungal infections. This study review the genetic determinant of defense mechanisms and immune deficiencies against Candida infection.
Tatalaksana Platelet Rich Plasma Pada Pasien Chronic Venous Leg Ulcer Adjie, Sugih Primas; Kariosentono, Harijono; Mulianto, Nurrachmat; Dharmawan, Nugrohoaji; Primisawitri, Pratiwi Prasetya
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 12 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i12.4872

Abstract

Latar belakang: Ulkus kronis pada ekstremitas bawah salah satunya yaitu ulkus venosum. Ulkus venosum didefinisikan sebagai lesi terbuka antara sendi lutut dan pergelangan kaki yang terjadi karena penyakit vena. Tantangan dalam mengobati VLU adalah kekambuhan yang sering terjadi maka terapi luka tingkat lanjut harus dipertimbangkan. Platelet rich plasma (PRP) sebagai terapi adjuvan pengobatan ulkus venosum dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Kasus: Seorang laki-laki berusia 55 tahun dengan keluhan luka yang sulit sembuh sejak dua tahun yang lalu. Pemeriksaan status dermatovenereologi pada regio ekstremitas inferior desktra nampak ulkus multipel dengan ukuran terbesar 9 cm x 5 cm x 0.5 cm, dengan dasar eritem dan serum tanpa disertai pus, nekrosis, nekrotik dan darah. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan obesitas derajat II dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) 44,29. Pasien diberikan terapi Platelet Rich Plasma (PRP) setiap tujuh hari, Kompres luka dengan cairan NaCl 0,9% selama 10 menit dilanjutkan dengan mupirosin 2% salep dan ditutup dengan menggunakan plester hidrokoloid yang dilakukan per 24 jam. Evaluasi pada minggu ke-6 terapi PRP, pasien menunjukkan adanya perbaikan klinis pada luka. Diskusi: Kandungan PRP terdiri dari banyak faktor pertumbuhan untuk mempercepat penyembuhan luka dan angiogenesis. Trombosit mengandung faktor pertumbuhan yang memicu efek biologis yang merupakan kunci dalam proses perbaikan dan regenerasi jaringan.