Claim Missing Document
Check
Articles

Desain Fasilitas Wisata Alam sebagai Program Pengembangan Objek Wisata Pantai Gamat di Desa Sakti, Nusa Penida - Bali I Kadek Merta Wijaya; I Nyoman Warnata; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Gamat berada di bagian utara Pulau Nusa Penida yang berbentuk teluk, berpasir putih, dengan biota laut yang masih alami, diapit oleh bukit membentuk lembah, serta memiliki view ke arah gugusan pulau kecil (Pulau Ceningan dan Pulau Lembongan). Potensi alam di Pantai Gamat masih belum memiliki fasilitas penunjang wisata sedangkan objek wisata Pantai Gamat diminati oleh wisatawan, sehingga diperlukan pengembangan kawasan melalui rancangan fasilitas wisata alam di Pantai Gamat. Namun pemecahan masalah tersebut jangan sampai membawa masalah baru, karena kawasan Pantai Gamat merupakan hutan desa sebagai penyangga alam di kawasan tersebut. Tujuan kegiatan ini adalah pengembangan wisata alam di Pantai Gamat dalam bentuk desain fasilitas wisata. Dalam pengembangan ini terdapat dua hal yang diperhatikan adalah (1) mengembangkan objek wisata di Kawasan Pantai Gamat, dan (2) mempertahankan kebaradaan keberlanjutan potensi alam yang terdapat di Pantai Gamat dan hutan desa. Oleh karena itu diperlukan solusi yang bijak dalam pengembangan ini yaitu (1) merencanakan fasilitas wisata di Pantai Gamat yang mempertimbangkan ekosistem pantai dan laut bebes dari ekploitasi yang besar dan polusi, dan (2) merencakan fasilitas glamping berkonsep ramah terhadap lingkungan.
Meningkatkan Fasilitas Akomodasi Objek Wisata Pantai Gamat Melalui Desain Masterplan Penataan I Kadek Merta Wijaya; I Wayan Jawat; Ni Komang Armaeni; Ni Wayan Meidayanti mustika
Jurnal Sutramas Vol. 4 No. 02 (2024): SUTRAMAS VOLUME 04 NO 2
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nusa Penida Island tourist attractions have exotic natural characteristics of beaches and hills. This potential is evenly distributed in the northern part of the coast and the southern part of Nusa Penida. The unavailability of tourist support facilities has an impact on the comfort and accessibility that is not optimal towards these tourist attractions. The picture can be seen on the Gamat Beach tourist attraction which is located in the western part of the coast of Nusa Penida. Gamat Beach is one of the diving spots in Nusa Penida which has the potential for the beauty of coral reefs and fish as a tourist attraction on the beach. Currently, tourists have access to Gamat Beach by sea and to access the beach, there are no supporting facilities or infrastructure. Therefore, it is very difficult for tourists to enjoy the beauty of Gamat Beach optimally. In addition, Gamat Beach began to be eroded by coastal waves and it was feared that the coastline with beach sand would be eliminated. The purpose of this activity is to produce a master plan for the arrangement of facilities at Gamat Beach tourist attraction in an effort to support tourist activities at the tourist attraction. The methods used in this service activity are mapping, conceptual, induction (design), and focus group discussion. The results of this service activity are in the form of a design of a master plan for the arrangement of Gamat Beach tourist objects.
Sosialisasi dan Edukasi Pengelolaan Sampah Organik untuk Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung Regency, Bali Meidayanti Mustika; I Kadek Merta Wijaya; Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri
Community Service Journal (CSJ) Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.3.1.2020.1-9

Abstract

Pesatnya perkembangan pariwisata di Nusa Penida berdampak positif pada aspek kehidupan ekonomi disana. Sebaliknya justru berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan. Salah satu masalah lingkungan yang muncul adalah pengelolaan sampah yang tidak berkelanjutan. Menurut beberapa peraturan, pengelolaan sampah ini harus dilakukan semaksimal mungkin di sumbernya. Situasi ini juga terjadi di Dusun Sebunibus, Desa Sakti, dimana banyak terdapat akomodasi wisata yang beroperasi sebagai akibat dari perkembangan pariwisata yang pesat tetapi limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik. Mitra dalam proyek pengabdian masyarakat adalah Kelompok Sadar Wisata Dusun Sebunibus Dusun Sebunibus, Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung dan masih berkoordinasi dengan Kepala Desa Sakti sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan.. Permasalahan yang teridentifikasi adalah kurangnya persepsi pemilik akomodasi pariwisata dan masyarakat pendukungnya tentang pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi tentang pengelolaan sampah. Selain itu perlu diperkenalkan metode penanganan sampah pada sumbernya yang efektif dan mudah berkembang di lokasi ini, khususnya sampah organik. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan menginisiasi sosialisasi dan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada para pemangku kepentingan pariwisata di Desa Sebunibus agar semua pihak yang terlibat memahami pendekatan pengelolaan sampah berkelanjutan. Lebih lanjut, pengenalan unit alat pengolah sampah organik yang dapat digunakan secara langsung yang tidak hanya akan menyelesaikan permasalahan persampahan tetapi juga memiliki nilai ekonomis untuk pemberdayaan masyarakat.. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan pengkajian awal untuk mengidentifikasi timbulan sampah yang dihasilkan dan kondisi pengelolaan sampah di lokasi yang dituju serta menganalisis kondisi tersebut untuk kemudian merumuskan materi sosialisasi edukasi yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Tahap selanjutnya adalah melakukan sesi sosialisasi di lokasi pengabdian masyarakat termasuk presentasi dan diskusi tentang proses teknis unit pengolahan sampah organik. Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi awal kemampuan mitra dalam menjalankan unit pengolahan sampah organik.
PERHITUNGAN PROPORSI PADA CANDI TEBING GUNUNG KAWI DI TAMPAKSIRING-GIANYAR Anak Agung Gede Raka Gunawarman; I Kadek Merta Wijaya
Jurnal Anala Vol. 6 No. 1 (2018): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.09 KB) | DOI: 10.46650/anala.6.1.578.1-13

Abstract

 Candi Tebing is one of the architectural object, that can be reviewed and researched by design principal of its architecture is with doing reseach how to calculate its proportion. Candi Tebing Gunung Kawi as one of the architecture temple relic in Pakerisan watershed can be used as an architectural reseacrh object with review how yo calculate the proportion of ten candi that we can find at that area. The purpose of the research is to analyze its element and proportion calculation of the Candi Tebing Gunung Kawi design. The research design using mixed methods between qualitative and quantitative approaches, and also used field research method.Proportion forming elements of Candi Tebing Gunung Kawi generally can be divided into three main parts; pedestal, body, and head. Each proportion forming elements detail on pedestal, body and crown, consist of a lower framed, body and upper framed. The result on the proportion calculation showed the proportion of temple’s height twice the width of the pedestals (Lk) or it could be twice of the crown width (the scene). Manasara-silpasastra theory explained the proportion between width and height calculation can be divided into five parts, those are; santika, paushtika, parshnika / jayada, adbhuta, and sarvakamika (Acharya, 1927:41). The conclusion based on that theory,  Candi Tebing Gunung Kawi proportion between width and height classified into paushtika.Keywords: candi tebing, forming elements, proportion
Pendekatan Tema Eco Arsitektur Dalam Perencanaan dan Perancangan Agrowisata Pertanian Organik di Desa Sayan Ubud I Wayan Wirya Sastrawan; I Kadek Merta Wijaya; Ni Wayan Nurwarsih; I Kadek Dwi Saputra
Jurnal Anala Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.2.1736.61-76

Abstract

Desa Sayan di Ubud, Bali, memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan pariwisata yang dapat disinergikan melalui konsep agrowisata. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kawasan agrowisata pertanian organik yang mampu mendukung pemberdayaan masyarakat lokal serta pelestarian lingkungan dengan pendekatan eco arsitektur. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat dan pemangku kepentingan, serta analisis tapak dan kebutuhan ruang. Hasil perencanaan menghasilkan kawasan agrowisata yang menyatukan aktivitas edukatif, rekreatif, dan produksi pertanian organik dalam satu sistem yang harmonis. Desain kawasan menerapkan prinsip-prinsip eco arsitektur seperti pemanfaatan material lokal, sistem sirkulasi alami, pengolahan limbah terpadu, dan tata ruang yang adaptif terhadap kontur serta vegetasi eksisting. Agrowisata ini diharapkan menjadi model pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mendukung ketahanan pangan, ekonomi lokal, serta pelestarian budaya dan alam Bali.
Penerapan Arsitektur Ekologi Dalam Perencanaan dan Perancangan Fasilitas Pengolahan Sampah Terpadu di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali: Bahasa Indonesia I Putu Yuda Ari Putra Vinantha; Kadek Tania Utami Putri; Anak Agung Bagus Bayu Anggawirya; I Kadek Merta Wijaya
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 14 No. 1 (2026): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni 2026)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.14.1.14929.20-27

Abstract

Waste management remains a major environmental issue in Indonesia, as indicated by the high proportion of unmanaged waste, particularly in Bali Province and Tabanan Regency. Based on SIPSN data in 2024, Tabanan Regency shows a relatively high percentage of unmanaged waste compared to other Sarbagita regions, while limited availability and distribution of TPS3R facilities have hindered optimal waste management. This study aims to plan and design an Integrated Waste Processing Facility in Tabanan Regency that functions not only as a waste treatment center but also as an environmental education facility. The research method includes secondary data collection through literature review and SIPSN data, as well as primary data obtained from field observations and interviews with TPS3R managers, followed by quantitative and qualitative analysis. The results propose a design concept based on ecological architecture and the 3R principles (Reduce, Reuse, Recycle), emphasizing efficient mass arrangement, the use of environmentally friendly materials, natural lighting and ventilation, and the provision of public and educational spaces to support sustainable waste management in Tabanan Regency.
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN POP CULTURE CREATIVE HUB DI KOTA DENPASAR BALI: Bahasa Indonesia I Ketut Putra Kurniadi; Made Mas Surya Wiguna; I Kadek Merta Wijaya; I Wayan Wirya Sastrawan
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 14 No. 1 (2026): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni 2026)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.14.1.14959.44-55

Abstract

The development of popular culture in Denpasar City has grown significantly, especially among young communities such as cosplay, gaming, collectors, and digital creators. However, these activities are still temporary and not supported by integrated facilities, resulting in fragmented creative processes and limited sustainability. This study aims to design a Pop Culture Creative Hub in Denpasar as an integrated creative space that accommodates production, collaboration, and commercialization activities. The method used includes literature study, observation, interviews, and precedent study, analyzed through comparative, analytical, and synthesis methods. The design applies a cross-programming approach by integrating creative, commercial, educational, and recreational functions into a flexible and adaptive spatial system. The result is a creative hub that remains active daily and supports the development of a sustainable creative ecosystem in Denpasar.
The Balinese Ethnic Community's Perceptions in Regards to Modifications in Denpasar's Residential Building Spatial Planning I Kadek Merta Wijaya; Mariana Correia; I Nyoman Warnata; I Ketut Sugihantara
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 2 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i2.64516

Abstract

The increase influences changes in the spatial layout of Balinese ethnic residences in Denpasar in the number of family members, the growth in the community's economy, and the availability of residential yard land, which is decreasing. On the one hand, the Balinese ethnic community in Denpasar still has a perception of direction and orientation of significant (high) and obnoxious (low) values or luan and teben orientations as the forerunner to the spatial configuration of Balinese ethnic residences with the concept of zoning of the Sanga Mandala tread. This study aims to conceive of the Denpasar community's perception of the arrangement of residential houses amid increasing residential space needs. The method used is descriptive qualitative through empirical studies by conducting in-depth observations and interviews to understand the Denpasar community's understanding of structuring their homes. This study found that the Balinese ethnic community perceives changes in their homes' spatial layout based on literacy and adaptation; the Denpasar community understands the demands of residential space needs through a spatial transformation based on transformation spatial concepts of Balinese architecture.
Pendampingan Perencanaan Fasilitas Penunjang di Pura Dalem Desa Adat Sebunibus, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali Ni Wayan Meidayanti Mustika; I Kadek Merta Wijaya; Anak Agung Sagung Dewi Rahadiani
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 12 No. 2 (2023): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v12i2.85

Abstract

Pura Dalem Desa Adat Sebunibus adalah salah satu pura Tri Khayangan di Desa Adat Sebunibus yang belum memiliki fasilitas penunjang yang berfungsi untuk mewadahi kegiatan persiapan upakara keagamaan seperti memasak, membuat sesajen dan kegiatan servis lainnya. Dari permasalahan tersebut maka harus direncanakan fasilitas penunjang di Pura Dalem Desa Adat Sebunibus yang sesuai dengan kebutuhan fungsi dan standar teknis yang baik. Artikel ini memaparkan tentang pelaksanaaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mitra masyarakat pangempon Pura Dalem Desa Adat Sebunibus. Kegiatan ini merupakan upaya pendampingan dan pemberdayaan potensi masyarakat mitra dalam merencanakan desain arsitektur fasilitas penunjang berupa pewaregan (dapur), bangunan reringgitan dan panggung pertunjukan tari. Metode pelaksanaan kegiatan ini dibagi dalam beberapa tahap yaitu: 1). Tahap persiapan dan identifikasi awal; 2). Tahap penyusunan desain alternatif; 3). Tahap Focus Group Discussion; dan 4). Tahap Finalisasi Desain. Bangunan fasilitas penunjang yang direncanakan menggunakan penerapan arsitektur tradisional Bali modern dengan pendekatan kontekstual berupa memaksimalkan penggunan material lokal. Hasil kegiatan ini adalah gambar rencana desain bangunan – bangunan fasilitas penunjang yang dapat menjadi dokumen perencanaan untuk tahap pembangunan selanjutnya.
Perencanaan Dan Perancangan Wellness Center Lansia Di Desa Bongkasa Pertiwi, Kabupaten Badung Dengan Pendekatan Biophilic Arsitektur: Bahasa Indonesia Fahrul Nawan Subakti; Made Mas Surya Wiguna; I Wayan Wirya Sastrawan; I Kadek Merta Wijaya
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 14 No. 1 (2026): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni 2026)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.14.1.14953.74-86

Abstract

The increase in the number of elderly people and high levels of stress due to urbanization and modernization are problems that have an impact on the decline in quality of life, especially in the elderly group who experience physical limitations, mobility, and social interaction. This condition shows the importance of providing facilities that are able to support physical, mental, and social health in an integrated manner, so that the planning and design of the Elderly Wellness Center is a relevant solution to improve welfare holistically. This design is located in Bongkasa Pertiwi Village, Badung Regency, which has the potential for a natural environment that supports the concept of healing and relaxation. The approach used is biophilic architecture that integrates natural elements into the built environment to create a connection between humans and nature and have a positive impact on physical and psychological health. The methods used include literature studies, observations, and interviews to identify user needs and site conditions. The design results are realized through the concept of integrating natural elements such as natural lighting, ventilation, vegetation, and the relationship of indoor and outdoor spaces that support fitness activities, therapy, relaxation, and social interaction. This design is expected to be able to create a comfortable, safe, and inclusive environment for the elderly and become a reference in the development of similar facilities that are oriented towards environmental health and sustainability.