Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Kategori Definisi Lema: Ke Arah Penyempurnaan Kamus Besar Bahasa Indonesia Burhanuddin; Mahsun; Sukri; Sirulhaq, Ahmad; Syarifuddin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.7599

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang kateogri definisi lema yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Edisi IV) Tahun 2008. Kategori definsi lema yang dimaksud apakah berdefinisi nomina, realis, atau praktis. Data penelitian ini dikumpulan dari KBBI dengan metode dokumentasi atau kepustakaan, sedangkan analisis data menggunakan metode padan ekstralingual karena membandingkan antara sifat makna dengan sifat sesuatu yang diacu oleh makna atau kata tersebut (referen) yang terdpat diluar bahasa. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat sejumlah perbedaan kategori definisi lema dalam KBBI, yaitu ada yang berdefinisi nomina, realis, dan praktis. Kata yang berdefinisi nominalis contohnya: abadi, abah, abakus, abur, badong, badut, dan sebagainya. Kata yang berdefinisi realis di antaranya: abaksial, abangan, abdas, abdikasi, aberasi, abisopelagik, dan sebagainya, (3) Adapun kata yang berdefinisi praktis di antaranya analgesic, amiloglukasidase, ammeter, dan sebagainya. Selain itu, ditemukan kata yang berdefinisi praktis-nominalis, realis-nominalis, dan realis-nominalis. Selain itu, ditemukan beberapa lema yang memiliki definisi yang kurang baik sehingga perlu direvisi
Unlocking the Potential of Ampenan Old City: A Comprehensive Study of Pentahelix Players' Role in Sustainable Tourism Development in Mataram Sedyo Husodo, Vania Fitri; Fathurrahim; Kurniansah, Rizal; Mahsun; Martayadi, Uwi
Advances in Tourism Studies Vol. 1 No. 1 (2023): Advances in Tourism Studies
Publisher : Centre for Tourism Studies and Journal Publication of Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53893/ats.v1i1.6

Abstract

This study examines the role of Pentahelix players in developing tourism in the Old City of Ampenan, Mataram City, Indonesia. Despite being designated as one of the Indonesian Heritage Cities Network's 43 cities, Ampenan's tourism potential has not been fully realized, and is even on the decline due to a lack of joint efforts by tourism stakeholders. The Pentahelix players are composed of the government, academia, industry, community, and tourists, and their roles in tourism development are investigated. The study proposes strategies for sustainable tourism development, and data is collected through non-participant observation, unstructured interviews, and documentation. The results highlight the potential of Ampenan Old City as a tourist destination and the contributions of various stakeholders to its development. The study concludes that the Ampenan Old City is a must-visit destination, featuring impressive cultural landmarks, natural beauty, and accessibility, and recommends further collaboration between stakeholders to improve its sustainable development
Sosialisasi Media Ekosentris melalui Pendekatan Etnopedagogi pada Guru-Guru Bahasa Indonesia SMP/MTS Wahidah, Baiq; M. Ali, Nasaruddin; Mahsun; Sapiin
DARMADIKSANI Vol 1 No 2 (2021): Edisi Desember
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/darmadiksani.v1i2.556

Abstract

ABSTRAK Pada dasarnya, tujuan pendidikan adalah adanya perubahan yang terjadi pada seorang peserta didik, baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Afektif sebagai salah satu elemen penting yang menunjang proses pendidikan lebih mengarah kepada perilaku dan sikap seorang peserta didik. Selain kognitif dan psikomotorik, afektif perlu ditumbuhkembangkan dengan tujuan untuk mengarahkan perilaku dan sikap peserta didik ke arah yang lebih baik. Seiring dengan perubahan zaman, moralitas peserta didik, terutama terhadap lingkungan hidupnya menjadi bagian penting yang harus diperhatikan oleh guru melalui proses pembelajaran. Paradigma peserta didik dalam konteks kepedulian dan kesensitifan terhadap lingkungan hidupnya menjadi sebuah polemik yang muncul di tengah arus modernisasi. Oleh karena itu, guru harus memiliki inovasi dan kreatifitas dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk memberikan wawasan kepada peserta didik tentang lingkungan hidupnya. Proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat berbagai model menjadi alternatif bagi guru untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik agar memiliki kesensitifan terhadap lingkungan hidupnya. Salah satu unsur penting dalam model pembelajaran yaitu media berupa seperangkat alat yang mampu memberikan perubahan bagi peserta didik. Para guru Bahasa Indonesia jenjang SMP/MTs memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan berbagai media pembelajaran yang variatif. Namun, belum memiliki strategi khusus untuk menumbuhkembangkan kesadaran peserta didik terhadap lingkungan hidupnya. Hal itulah yang menjadi landasan dasar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini untuk memberikan sosialisasi tentang media ekosentris dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Media ekosentris merupakan seperangkat alat yang berusaha memberikan pemahaman kepada peserta didik sekaligus menumbuhkembangkan kepeduliannya terhadap lingkungan hidup yang berorientasi kearifan lokal. Substansi dari media tersebut berupa dokumentasi, baik foto maupun video tentang sistem ekologis, serta nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Media ekosentris perlu dipublikasikan kepada para guru agar menjadi salah satu alternatif dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga peserta didik memiliki kesadaran ekologis misalnya hormat terhadap alam, tidak merugikan alam, serta bersikap hidup sederhana dan selaras dengan alam. ABSTRACT In essence, the aim of education is to make positive changes to the learners in terms of their cognitive, affective and psychomotoric domains. Affective domain, as one of the important elements that support the educational process, is more directed to the behavior and attitudes of a learner. In addition to cognitive and psychomotor, affective needs to be developed to direct the students to the good behavior and attitudes. Along with the changing times, the morality of students, especially their environment, becomes an important part that teachers must pay close attention to through the learning process. The paradigm of students’ concern and sensitivity to their environment has been a polemic that started to emerge in the midst of modernization. To cope with this, teachers must use their innovation and creativity to provide insight to students about their environment. They can use various models as alternatives to make students have more understanding and sensitivity to their environment. Despite these alternatives, Indonesian language teachers at SMP/MTs level have not succeded to develop students' awareness of their environment using the so-called variety of learning media. This community service program offered a new insight to ecosentric model that we consider the best alternative that teachers can use to instill their students with ecological awareness by respecting nature, being humble with the local wisdom and its philosophical values as well as to provide them with positive changes in themselves.
KAJIAN PERILAKU KETERGANTUNGAN PENERIMA PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) PERSPEKTIF QS. AN-NAHL AYAT 53-55 (STUDI DI DESA KRAMPON KECAMATAN TORJUN KABUPATEN SAMPANG) Nor Islamy, Sulaiha; Anas, Zulviar; Mahsun
Multifinance Vol. 1 No. 1 (2023): Multifinance
Publisher : PT. Altin Riset Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61397/mfc.v1i1.20

Abstract

Islam merupakan agama yang memperhatikan kesejahteraan umatnya, dalam mewujudkan kesejahteraan Islam telah menunjuk seorang pemimpin yang harus bertanggung jawab untuk kesejahteraan rakyatnya. Di Indonesia kewajiban pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan sudah dilaksanakan berdasarkan pasal 1 ayat (9) UU No.11 Tahun 2009. Dalam hal mengakses bantuan, salah satu perilaku yang kerap terjadi di masyarakat yaitu terlalu mengharapkan bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif naratif dengan menggabungkan field research dan library research. Dalam pengambilan data, peneliti menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi, serta pendekatan tafsir. Peneliti menemukan beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku ketergantungan terhadap bantuan PKH diantaranya; menyatakan PKH merupakan bantuan dari negara, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak berpenghasilan, tidak mau bekerja, sangat mengharapkan bantuan serta meminta dilebihkan nominal bantuan. Faktor tersebut merepresentasikan perilaku ketergantungan yang terdapat dalam surat an-Nahl ayat 53-55. Dalam penafsirannya, jika perilaku tersebut dilakukan secara terus menerus, akibat yang didapat bukan hanya terhadap individu tetapi juga kelompok. Dimana tujuan utama negara memberikan bantuan untuk mengentaskan kemiskinan akan bergeser arah, menghadapkan pada kekufuran yang sesungguhnya dan akan tetap berada lingkaran kemiskinan.
AKOMODASI BAHASA MASYARAKAT KECAMATAN ALAS SUKU SAMAWA-SASAK-BAJO DALAM RANAH PERDAGANGAN Lani, Raudhatil Maulani; Burhanuddin; Mahsun; Saharudin; Ahmad Sirulhaq
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.414

Abstract

Akomodasi bahasa pertama kali dikembangkan oleh Howard Giles yang berfokus pada penyesuaian tingkatan percakapan, aksen, dan jeda dalam berbicara. Kemudian dikembangkan menjadi teori komunikasi antar budaya. Akomodasi Bahasa merupakan kemampuan untuk menyesuaikan, memoodifikasi, atau mengatur prilaku seseorang dalam merespon orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud pilihan bahasa, mendeskripsikan pola akomodasi bahasa, dan penyimpulan hasil analisis data. Data dikumpulkan dengan metode simak dan teknik sadap sebagai teknik dasarnya, kemudian diteruskan dengan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik rekam. Wujud pilihan bahasa yang digunakan meliputi tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode. Pola akomodasi bahasa yang dilakukan suku Samawa melakukan divergensi sebab berperan sebagai mayoritas dan suku asli tersebut. Suku Sasak dan suku Bajo melakukan konvergensi sebab berperan sebagai minoritas dan suku pendatang.
Partisipasi Stakeholder Dalam Manajemen Pendidikan Islam Azimah, Nurul; Mahsun; Moh. Khoirul Fatihin
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i2.8100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan kontribusi berbagai stakeholder dalam Manajemen Pendidikan Islam di Indonesia. Dalam konteks pendidikan Islam, partisipasi stakeholder mencakup keterlibatan berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, guru, orang tua, dan lembaga pendidikan dalam proses pengelolaan, pengembangan kurikulum, serta pemantauan dan evaluasi program pendidikan. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengungkapkan bahwa partisipasi yang efektif dari stakeholder dapat meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam mencapai tujuan pendidikan Islam yang holistik. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat memiliki dampak signifikan terhadap penyediaan fasilitas yang memadai, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, serta penguatan nilai-nilai Islam dalam pendidikan. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam mengoptimalkan partisipasi stakeholder, seperti keterbatasan komunikasi dan perbedaan persepsi tentang tujuan pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pembentukan forum komunikasi yang lebih intensif dan penguatan peran masyarakat dalam setiap aspek manajemen pendidikan Islam untuk mencapai hasil yang lebih maksimal.
Konsep Ruang dan Waktu dalam Bahasa Sasak Dialek A-E di Lombok Tengah Kurnia Kasih, Mitha; Mahsun; Saharudin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v6i2.5988

Abstract

Persoalan ruang dan waktu adalah dua dimensi yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga ditandai dengan bahasa yang sangat rinci. Penelitian ini mendeskripsikan sisi kebahasaan tentang konsep ruang dan waktu dalam Bahasa Sasak (dialek a-e) di dusun Polak Penyayang, Lombok Tengah dan pandangan budaya masyarakatnya. Penyediaan data dilakukan dengan metode simak, cakap, dan introspeksi. Lalu dilakukan reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan secara interaktif. Hasil penelitian menemukan bahwa satuan lingual yang dipakai untuk menandai konsep ruang dan waktu dalam Bahasa Sasak (di Polak Penyayang) berbentuk kata dasar dan berbentuk kata kompleks. Konsep ruang yang termasuk bentuk dasar, yaitu leksikon bat ‘barat’, boloq ‘atas, sumber aliran air’, dereq ‘bawah, arah air mengalir’; sementara bentuk kompleks meliputi leksikon běbat ‘ke arah barat’ dan bětimuq ‘ke arah timur’. Konsep waktu yang termasuk bentuk dasar, yaitu leksikon baruq ‘barusan’, uiq ‘kemarin’, dan laeq ‘dulu’; bentuk kompleks meliputi leksikon baruq kělemaq ‘tadi pagi’, jělo ni ‘hari ini’, dan lemaq aru ‘besok pagi’. Selain itu, ditemukan pula konsep waktu yang dilihat dari tanda-tanda alam dan ritual siklus kehidupan tertentu, seperti leksikon kêtaun ‘musim hujan’, kêbalit ‘musim kemarau’, rorampaq ‘antara musim penghujan dan kemarau’, serta nyiwaq ‘hari kesembilan dari hari kematian’. Adapun pandangan budaya masyarakat setempat terkait konsep ruang dan waktu, seperti konsep ruang boloq ‘atas/tinggi’ yang tidak hanya dipandang sebagai sumber mata air, tetapi sebagai sesuatu yang dimuliakan (sakral) dan ini mengacu pada gunung Rinjani sebagai iněn paer ‘induknya bumi Sasak’. Juga pandangan budaya tentang konsep waktu sêrêp jêlo ‘menjelang matahari terbenam’ sebagai waktu pantangan untuk beraktivitas
Kategori Definisi Lema: Ke Arah Penyempurnaan Kamus Besar Bahasa Indonesia Burhanuddin; Mahsun; Sukri; Sirulhaq, Ahmad; Syarifuddin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.7599

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang kateogri definisi lema yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Edisi IV) Tahun 2008. Kategori definsi lema yang dimaksud apakah berdefinisi nomina, realis, atau praktis. Data penelitian ini dikumpulan dari KBBI dengan metode dokumentasi atau kepustakaan, sedangkan analisis data menggunakan metode padan ekstralingual karena membandingkan antara sifat makna dengan sifat sesuatu yang diacu oleh makna atau kata tersebut (referen) yang terdpat diluar bahasa. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat sejumlah perbedaan kategori definisi lema dalam KBBI, yaitu ada yang berdefinisi nomina, realis, dan praktis. Kata yang berdefinisi nominalis contohnya: abadi, abah, abakus, abur, badong, badut, dan sebagainya. Kata yang berdefinisi realis di antaranya: abaksial, abangan, abdas, abdikasi, aberasi, abisopelagik, dan sebagainya, (3) Adapun kata yang berdefinisi praktis di antaranya analgesic, amiloglukasidase, ammeter, dan sebagainya. Selain itu, ditemukan kata yang berdefinisi praktis-nominalis, realis-nominalis, dan realis-nominalis. Selain itu, ditemukan beberapa lema yang memiliki definisi yang kurang baik sehingga perlu direvisi
Toponimi Nama Tempat Wisata Di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, NTB: Kajian Linguistik Antropologi Rini Idayanti; Mahsun; Burhanudin; Saharudin; Sirulhaq
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap asal-usul dan makna penamaan tempat wisata di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, serta menganalisis aspek budaya, sosial, dan fisik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan teori linguistik antropologis (Mahsun) dan toponimi, diperkaya dengan perspektif Sapir-Whorf mengenai hubungan antara bahasa dan persepsi manusia. Data penelitian diperoleh dari sumber lisan berupa informasi masyarakat lokal (tokoh adat, sesepuh, aparat desa, dan pengelola wisata), serta sumber tertulis berupa dokumen desa, arsip, peta wilayah, dan literatur sejarah lokal. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi dengan teknik simak, sadap, dan rekam. Analisis data dilakukan dengan metode padan intralingual menggunakan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB), kemudian dipaparkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 35 nama objek wisata di Kecamatan Sembalun terdapat variasi aspek toponimi yang mencerminkan budaya, masyarakat, dan manifestasi lingkungan. Dari jumlah tersebut, 8 nama objek wisata memuat aspek budaya, 9 nama objek wisata memuat aspek sosial, dan 18 nama objek wisata merupakan bentuk manifestasi lingkungan.
YOUTH AS FRONTLINE PEACEBUILDERS: INTEGRATING INTERGROUP CONTACT AND SOCIAL CAPITAL TO PREVENT RELIGIOUS CONFLICT IN CENTRAL JAVA Nur Rois; Rahmawati, Lila; Mahsun; Fadhillah, Iman
Harmoni Vol. 24 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i2.887

Abstract

Religious conflict in Central Java continues to manifest through social tensions, rejection of houses of worship, and identity‑based disputes. Although previous studies have examined religious moderation and state policy, limited research has systematically analyzed how youth organizations develop preventive peacebuilding strategies at the local level. This study addresses this gap by examining youth‑led initiatives through the combined lenses of Intergroup Contact Theory and Social Capital Theory. This study employed a descriptive qualitative design using multiple case studies in Temanggung, Purworejo, Kudus, Jepara, and Semarang, Central Java. Data were collected from interviews, observations of interfaith activities and documentation from civil society organizations. Thematic analysis was used to identify cross‑case patterns of youth intervention. The findings indicate three key results. First, youth act as social mediators who facilitate intergroup dialogue and de‑escalate tensions in cases involving blasphemy accusations, inter‑organizational disputes, and contested burial practices. Second, youth initiatives such as Peace School, Peace Cottage, and interfaith youth forums strengthen bridging social capital and create structured intergroup contact that reduces prejudice. Third, youth networks contribute to policy shifts at the district level, including more inclusive procedures for worship‑house permits. These findings demonstrate that youth are central actors in grassroots conflict prevention, not merely beneficiaries of state‑led moderation programs. The study concludes that integrating intergroup contact and social capital provides a robust framework for understanding youth‑based peacebuilding and recommends that local governments institutionalize youth participation in early warning and conflict‑prevention mechanisms.  Abstrak Konflik keagamaan di Jawa Tengah terus muncul melalui ketegangan sosial, penolakan rumah ibadah, dan sengketa berbasis identitas. Meskipun berbagai penelitian telah membahas moderasi beragama dan kebijakan negara, kajian yang secara sistematis menganalisis bagaimana organisasi kepemudaan mengembangkan strategi pembangunan perdamaian yang bersifat preventif di tingkat lokal masih terbatas. Studi ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menelaah inisiatif pemuda melalui pendekatan gabungan Teori Kontak Antarkelompok dan Teori Modal Sosial. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan studi multi‑kasus di Temanggung, Purworejo, Kudus, Jepara, dan Semarang. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi kegiatan lintas iman, serta dokumentasi dari organisasi masyarakat sipil. Analisis tematik digunakan untuk mengidentifikasi pola intervensi pemuda lintas kasus. Temuan menunjukkan tiga hasil utama. Pertama, pemuda berperan sebagai mediator sosial yang memfasilitasi dialog antarkelompok dan meredakan ketegangan dalam kasus tuduhan penistaan agama, perselisihan antarorganisasi, dan praktik pemakaman yang diperdebatkan. Kedua, inisiatif seperti Sekolah Damai, Pondok Damai, dan forum pemuda lintas iman memperkuat modal sosial bridging dan menciptakan kontak antarkelompok yang terstruktur sehingga mengurangi prasangka. Ketiga, jejaring pemuda berkontribusi pada perubahan kebijakan di tingkat kabupaten, termasuk prosedur perizinan rumah ibadah yang lebih inklusif. Studi ini menegaskan bahwa pemuda merupakan aktor kunci dalam pencegahan konflik berbasis komunitas, bukan sekadar penerima manfaat program moderasi negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi kontak antarkelompok dan modal sosial merupakan kerangka yang kuat untuk memahami pembangunan perdamaian berbasis pemuda dan merekomendasikan agar pemerintah daerah menginstitusikan partisipasi pemuda dalam mekanisme deteksi dini dan pencegahan konflik