Claim Missing Document
Check
Articles

ASI Eksklusif Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Hanifa, Fanni; Izza, Lina Nurul; Hidayani, Hidayani; Sugesti, Retno
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 4 NOMOR 2 TAHUN 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v4i2.5469

Abstract

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI kepada bayi baru lahir untuk mencegah kematian dan masalah kekurangan gizi pada bayi dan balita. Organisasi tersebut merekomendasikan agar bayi baru lahir diberikan ASI hingga usia enam bulan. Tujuan dari edukasi pemberian ASI adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara menjaga gizi anak. Edukasi tentang ASI Eksklusif Sebagai Upaya Untuk Pencegahan Stunting dilakukan pada 19 Maret 2024 pukul 10.00 WIB melalui zoom meeting. Meeting ID: 861 6995 3789. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Pengabdian masyarakat dilakukan melalui pelatihan online yang diikuti oleh lima puluh orang. Pretest dan posttest diberikan kepada peserta untuk mengukur pengetahuan mereka. Untuk mencegah stunting, edukasi tentang ASI eksklusif meningkat pesat dari 8% menjadi 100%. Anak-anak yang tidak menyusui ASI eksklusif memiliki kemungkinan lebih tinggi menjadi pendek atau kerdil dibandingkan dengan anak-anak yang menyusui ASI eksklusif. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor tambahan, seperti jumlah ASI yang diberikan kepada anak-anak dan asupan gizi ibu menyusui, yang berdampak pada pola menyusui ASI eksklusif. Konsumsi ASI yang kurang dapat menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme tubuh, yang menyebabkan bayi mengalami masalah. Diharapkan dengan kegiatan ini, ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan akan belajar tentang pentingnya ASI eksklusif untuk mencegah stunting. Ini akan membantu ibu lebih memahami pentingnya nutrisi selama kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Asuhan Kebidanan Pada Wanita Perimenopause Keluhan Hot Flash Dengan Pemberian Olahan Kedelai : Midwifery Care In Perimenopause Women Complaining Hot Flash With Processed Soybean Administration Khotimah, Khusnul; Yolandia, Rita Ayu; Hanifa, Fanni
Binawan Student Journal Vol. 5 No. 3 (2023)
Publisher : Direktorat Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Dan Kerjasama Universitas Binawan (DPPMK Universitas Binawan)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54771/bsj.v5i3.1343

Abstract

Perimenopause merupakan bagian dari proses penuaan alami seorang wanita dan ditandai dengan penuruanan produksi esterogen ovarium. Tindakan untuk meminimalisir keluhan Hot Flash   dapat dilakukan salah satu nya dengan memberikan terapi komplementer berupa olahan kedelai yang merupakan sumber makanan kaya fitoestroge. Penelitian ini bertujuan untuk  memberikan Asuhan Kebidanan pada wanita Perimenopause keluhan hot flash dengan pemberian Olahan kedelai di Klinik Pt R Tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah Case Study  dengan melakukan Asuhan Kebidanan pada 2 wanita perimenopause selama 14 hari yang dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok diberikan olahan kedelai dan yang tidak diberikan olahan kedelai. Hasil Penelitian didapatkam bahwa selama 14 hari observasi dengan intervensi olahan kedelai pada responden diperoleh hasil 7 tren menurun, 2 tren meningkat dan 5 tren tetap yang artinya pemberian olahan kedelai dapat mengurahi gejala hot flash. Kesimpulan penelitian adalah konsumsi olahan kedelai dalam jumlah tertentu dapat mengurangi keluhan hot flash   yang dialami perempuan perimenopouse.
Studi Kasus Efektivitas Kompres Bawang Merah Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Bayi Pasca Imunisasi DPT Di PMB. N: The Effectiveness Of Red Onion Compress In Reducing Body Temperature Of Infants Post DPT Immunization At PMB N Kurnia, Nia; Hanifa, Fanni
Binawan Student Journal Vol. 5 No. 3 (2023)
Publisher : Direktorat Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Dan Kerjasama Universitas Binawan (DPPMK Universitas Binawan)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54771/bsj.v5i3.1344

Abstract

Demam yaitu dimana tubuh mengalami peningkatan suhu  dengan nilai >37,5oC terjadi oleh karena di hipotalamus meningkatnya pusat pengatur suhu. Bayi pasca imunisasi DPT akan mengalami peningkatan suhu sesaat setelah penyuntikan, dan akan sembuh setalah 1-2 hari pasca penyuntikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kompres bawang merah terhadap penurunan suhu tubuh bayi pasca imunisasi DPT di PMB N. Jenis penelitian yang digunakan secara kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penurunan suhu tubuh pada responden 1 sebanyak 1,2oC (awal 38,0oC menjadi 36,8oC) dan pada responden 2 mengalami penurunan sugu tubuh 0,4oC (awal 36,2oC menjadi 37,6oC). Kesimpulan penelitian ialah kompres bawang merah terbukti efektif terhadap penurunan suhu tubuh bayi pasca imunisasi DPT di PMB N Tahun 2023. Saran bagi ibu bayi diharapkan agar mampu meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pemberian imunisasi dan penatalaksanaan yang dapat diberikan kepada bayi dengan KIPI agar mampu meningkatkan kualitas dan derajat kesehatan bayi.
Hubungan Pengetahuan Remaja, Pergaulan, dan Pengawasan Orang Tua terhadap Resiko Pernikahan Dini salaka, lisda novita; Hanifa, Fanni; Noviyani, Ernita Prima
Journal of Nursing Education and Practice Vol. 3 No. 3 (2024): Journal of Nursing Education and Practice
Publisher : MPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53801/jnep.v3i3.167

Abstract

Introduction: Adolescence is a period of transition from the childhood phase to the maturity phase. During this period there are changes both mentally, physically, and emotionally and it becomes a very important phase for someone because of that, this phase becomes a phase for them to find their identity. One of the things that should be a concern in this case is early marriage because it occurs in the teens. The role of parents in the family is very important to reduce the number of underage child marriages, in North Maluku province, cases of underage child marriage cross national boundaries. Objectives: The aim was to get an overview of the relationship between adolescent social knowledge and parental supervision of the incidence of early marriage in Kukumutuk Village in 2022. Subjects in This study were adolescents aged 15-19 years in Kukumutuk Village. Method: The type of research used in this study was descriptive quantitative with a cross-sectional design. The sample in this study consisted of 78 teenagers aged 15-19 years. The researcher used a total sampling technique in taking the sample. The data collection instrument uses a questionnaire. Data analysis in this study used univariate analysis and bivariate analysis with the chi-square test. Result: The relationship between the level of knowledge of adolescents and the incidence of early marriage was obtained by p-value = 0.000 < α = 0.05. The relationship between social relations and the incidence of early marriage was obtained by p-value = 0.000 < α=0.05. The relationship between parental supervision and the incidence of early marriage was obtained by p-value = 0.00 < α = 0.05. Conclusion: There is a relationship between the level of adolescent knowledge, social interactions, and parental supervision and the incidence of early marriage in Kukumutuk Village, Kao Subdistrict in 2022.
Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Stunting pada Anak Usia 12-23 Bulan di Kabupaten Bener Meriah Aceh dan Upaya Penanggulangannya Karmila, Linda; Farid, Farid; Susanto, Herman; Hanifa, Fanni
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 4 (2024): JUPIN November 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.553

Abstract

World Health Organization (WHO) menetapkan batas toleransi stunting sebesar 20% atau seperlima dari jumlah seluruh balita; jika prevalensi balita pendek lebih dari 20%, itu sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat. WHO juga mengatakan bahwa prevalensi stunting antara 30 dan 39 persen adalah masalah kesehatan masyarakat yang berat, dan bahwa prevalensi stunting lebih dari 40% adalah masalah serius. Meningkatnya status kesehatan gizi anak merupakan salah satu indikator pembangunan kesehatan, yang selalu menjadi tantangan bagi seluruh negara di dunia dalam upaya peningkatan kesehatan, penurunan angka kesakitan dan kematian khususnya pada bayi dan anak. Menurut WHO, kesehatan masyarakat dianggap berat bila prevalensi stunting sebesar 30-39% dan dikatakan serius bila prevalensi stunting sebesar ≥40%, oleh karena itu stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang butuh penanganan serius. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor resiko stunting dan penanggulangannya terhadap anak usia 12-23 bulan. Metode pada penelitian ini Untuk mengetahui menggunakan observasional analitik dengan desain case control, yang membandingkan dua kelompok antara kelompok kasus (balita stunting) dan kelompok kontrol (balita normal). Selanjutnya menggunakan desain quasi-eksperimental (one group pre-post test). Kedua kelompok akan diberikan intervensi berupa edukasi tentang faktor-faktor penyebab, dampak stunting dan upaya penanggulangannya. Hasil dari penelitian ini ditanyara Pemberian makanan pendamping yang tidak memadai, praktik menyusui yang tidak memadai, dan infeksi merupakan faktor penyebab stunting pada balita usia 12-23 bulan di Kabupaten Bener Meriah. Aceh. Selanjutnya edukasi kepada ibu balita dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap ibu dalam menangani balita stunting.
IKAN GABUS TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU POST PARTUM DI KLINIK KASIH BUNDA LUBUKLINGGAU Hanifa, Fanni; Yulandari, Novalinda; Sugesti, Retno
Jurnal Kebidanan Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Kebidanan (JBd) Juni 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32695/jbd.v4i1.492

Abstract

Background : Injury to the perineum occurs when a tear occurs in the birth canal during the natural birth process or as a result of surgical removal of the pericardium during childbirth. In general, wounds on the perineum are usually located in the middle of the perineum and can expand due to various factors such as rapid labor in the lower part, uncontrolled labor, body imbalances, problems with abdominal tissue, birth of large babies, internal problems. presentation of the baby, shoulder dystocia, cuts to the epigastrium, and possibly other factors. Objective: To determine the effect of snakehead fish on the healing of perineal wounds in post-partum mothers at the Kasih Bunda Clinic, Lubuklinggau in 2023. Method: The method used in this research is a case study which involves a series of activities related to collecting data from various sources, including libraries, reading, note-taking and research document management. Conclusion: There is "the influence of snakehead fish which can speed up the healing process of perineal wounds in post partum mothers who were given snakehead fish intervention, the wounds had started to dry on the second visit and were already dry on the third visit. Keywords: Snakehead Fish, Post Partum Mothers, Perineal Wounds
Hubungan status gizi, pola makan dan riwayat pemberian asi ekslusif dengan kejadian stunting pada anak pra sekolah 3-5 tahun Mahfujiah, Fuji; Hanifa, Fanni; Ginting, Agus Santi Br
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 1 No. 2 (2021): December Edition 2021
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v1i2.270

Abstract

Backgrounds: Stunting is a condition of failure to thrive due to malnutrition in the first thousand days of a child's life or begins in the child's womb. Nutritional status, diet and history of exclusive breastfeeding are one of the risk factors for stunting in children under five. Purpose: This study aims to determine the relationship between nutritional status, diet and history of exclusive breastfeeding with the incidence of stunting in preschool children aged 3-5 years in the Labuan Health Center area. Methods: This research uses descriptive analytic with cross sectional approach. The population of this study amounted to 158 toddlers aged 3-5 years and the sampling technique used was part of the population taken using certain techniques so that the population was represented. The total sample in this study was 66 respondents under five aged 3-5 years. Results: The results of this study indicate that there is no significant relationship between nutritional status and the incidence of stunting, a P value of 0.191 is obtained. Exclusive breastfeeding with stunting was obtained with a P value of 0.022 and the result of OR = 0.250 (10,073-0.856). Conclusion: There is not relationship between nutritional status and the incidence of stunting. There is a relationship between diet and history of exclusive breastfeeding with the incidence of stunting. Suggestions: For the Labuan Health Center to assign village midwives or health programs to provide counseling or counseling about stunting. Pendahuluan: Stunting merupakan keadaan gagal tumbuh akibat kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak atau dimulai pada masa anak didalam kandungan. Status gizi, pola makan dan riwayat pemberian ASI ekslusif  merupakan salah satu faktor resiko terjadinya stunting pada anak balita. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi, pola makan dan riwayat pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada anak prasekolah usia 3-5 tahun di wilayah puskesmas labuan. Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini berjumlah 158 balita usia 3-5 tahun dan Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sebagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan teknik tertentu sehingga populasi terwakilkan. Total sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 66 responden balita usia 3-5 tahun. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara status gizi dengan kejadian stunting diperoleh nilai P Value 0,191, terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian stunting diperoleh nilai P Value 0,008 dan hasil OR = 4.970 (1.423-17.352), dan riwayat pemberian ASi ekslusif dengan kejadian stunting diperoleh nilai P Value 0,022 dan hasil OR = 0,250 (10.073-0.856). Simpulan: Tidak ada hubungan antara status gizi dengan kejadian stunting. Ada hubungan antara pola makan dan riwayat pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting. Saran: Untuk Puskesmas Labuan untuk menugaskan bidan desa atau progam kesehatan agar bisa memberikan penyuluhan atau konseling tentang stunting.
Hubungan Lingkungan, Sosial Budaya, Pengetahuan Serta Sikap Akseptor KB Tentang Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Dengan Kepatuhan Kunjungan Ulang Di Pmb Yayah Asy’ariyah Desa Gunung Cupu Asy’ariyah, Yayah; Ginting, Agus Santi Br; Hanifa, Fanni
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.329

Abstract

Backgrounds: Family planning is an action that helps individuals or married couples to get certain objectives, avoid unwanted births, get births that are wanted, regulate the interval between pregnancies and control the time of birth in a husband and wife relationship. The coverage of participants using contraceptives in Indonesia in 2017 with the number of couples of childbearing age as many as 48,536,690 participants; the most widely used contraception by family planning participants in Indonesia is the injectable contraceptive method. The failure of the injectable contraceptive method was caused by the acceptor's delay in re-injecting. Purpose: This study aims to determine the relationship between the socio-cultural environment, knowledge and attitudes of family planning acceptors about 3-month injectable contraception with re-visit compliance at PMB Yayah Asy'ariyah Gunung Cupu Village in 2022. Methods: This study used descriptive analytic with a cross sectional approach. The population of this study amounted to 30 acceptors of 3-month injectable contraception. Sampling technique using the total population. Results: The results showed that there was a significant relationship between socio-cultural and return-visit compliance, a p-value of 0.009 was obtained, knowledge and compliance with repeated visits obtained a p-value of 0.001, and there was no significant relationship between the environment and re-visit compliance, a P-value of 0.094 was obtained. Attitude with compliance with repeat visits obtained a p-value of 0.176. Conclusion: The socio-cultural factors and knowledge affect the compliance of repeat visits by 3-month injection contraception acceptors, while environmental factors and attitudes have no effect on adherence to 3-month injections contraception acceptor repeat visits. Suggestion: Respondents and their families are expected to be able to provide support to mothers in choosing, and determining the contraceptives to be used and the importance of compliance during repeat visits, so that the effectiveness of contraception can be maximized.   Keywords: Family Planning Acceptors; 3-month Injectable Contraception; Compliance.   Pendahuluan: KB adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan dan mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan suami istri. Cakupan peserta pengguna alat kontrasepsi di Indonesia pada tahun 2017 dengan jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 48.536.690 peserta, kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB di Indonesia yaitu metode kontrasepsi suntik. Kegagalan dari metode kontrasepsi suntik disebabkan karena keterlambatan akseptor untuk melakukan penyuntikan ulang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Lingkungan Sosial Budaya, Pengetahuan Serta Sikap Akseptor KB Tentang Kontrasepsi Suntik 3 Bulan dengan Kepatuhan Kunjungan Ulang di PMB Yayah Asy’ariyah Desa Gunungcupu tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini berjumlah 30 orang akseptor KB suntik 3 bulan. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total populasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara sosial budaya dengan kepatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,009, pengetahuan dengan  kapatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,001, serta tidak ada hubungan yang signifikan antara lingkungan dengan kepatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,094, dan sikap dengan kapatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,176. Simpulan: Faktor sosial budaya dan pengetahuan berpengaruh terhadap kepatuhan kunjungan ulang akseptor KB suntik 3bulan, sedangkan faktor lingkungan dan sikap tidak berpengaruh terhadap kepatuhan kunjungan ulang akseptor KB suntik 3 bulan. Saran: Responden dan keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan kepada ibu dalam memilih, dan menentukan kontaspsi yang akan digunakan dan pentingnya kepatuhan saat kunjungan ulang, agar efektivitas kontasepsi dapat maksimal.
PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN AIR DAUN SIRIH DAN AGAR – AGAR LIDAH BUAYA TERHADAP KEJADIAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI Susilawati, Arti; Rini, Ageng Septa; Hanifa, Fanni
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.36589

Abstract

Keputihan adalah kondisi yang sangat umum dialami oleh wanita, dengan Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa hingga 75% wanita mengalami setidaknya satu episode keputihan dalam hidup mereka, sementara 45% mengalami lebih dari dua kali. Di Indonesia, keputihan sering menjadi masalah kesehatan reproduksi, khususnya pada remaja putri. Hal ini dipengaruhi oleh iklim tropis yang mendukung pertumbuhan jamur seperti Candida albicans, serta perubahan hormonal selama masa pubertas yang meningkatkan risiko keputihan patologis. Penelitian terbaru mengevaluasi efektivitas terapi nonfarmakologis, yaitu rebusan daun sirih (Piper betle) dan agar-agar lidah buaya (Aloe vera), dalam mengatasi keputihan pada remaja. Studi kasus ini melibatkan dua remaja putri dengan keputihan patologis, menggunakan data primer melalui observasi. Kedua metode terapi menunjukkan keberhasilan, di mana gejala keputihan berkurang hingga hilang sepenuhnya setelah intervensi. Efektivitas daun sirih diduga berasal dari kandungan senyawa antibakteri dan antijamur seperti eugenol, flavonoid, dan tanin, yang secara aktif melawan mikroorganisme penyebab infeksi. Lidah buaya, dengan efek antiinflamasi dan regeneratifnya, membantu memperbaiki jaringan yang rusak. Kombinasi ini memberikan efek sinergis dalam meningkatkan kesehatan reproduksi. Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi herbal dapat menjadi solusi aman dan alami untuk keputihan, khususnya di komunitas yang memiliki keterbatasan akses ke perawatan medis konvensional. Namun, studi lebih lanjut dengan sampel lebih besar diperlukan untuk memvalidasi hasil ini dan mengeksplorasi penggunaan jangka panjang. Edukasi tentang kebersihan organ intim juga penting untuk mencegah keputihan.
EDUKASI PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA Hanifa, Fanni; Yolandia, Rita Ayu
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 5 NOMOR 1 TAHUN 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v5i1.5488

Abstract

The World Health Organization (WHO) reports that the prevalence of anemia worldwide ranges between 40 and 88%, and about 53.7% of teenage girls in poor countries experience it. Anemia is one of the global health problems that needs attention, especially in developing countries like Indonesia. Kemenkes RI (2018) that 32% of adolescents aged 15 to 24 suffer from anemia, or 3 in 10 adolescents. The proportion of anemia in women is quite high (27.2%). Anemia can also affect teenage girls' learning performance, as anemia can lower learning concentration. Teenage girls with anemia are 1,875 times more likely to lower learning performance than teenagers without anemia. The dedication will take place on December 23, 2023 through Zoom meetings. The activities will be conducted through discussions, lectures, and questions. Education can enhance youth awareness of anemia prevention efforts in adolescents, both before and after education. Teenagers with good knowledge increased from 58.8% to 82.5%, while sufficient knowledge fell from 32.5% to 15%, and less knowledge decreased from 7% to 2%. 
Co-Authors Adam, Yenny Irawati Andrieta Shintia Dewi Anggraini, Milka Apriliani, Feni Iltari Apriyani, Rani Arisandi, Deasy Asih, Fitri Nur Asy’ariyah, Yayah Aulia, Nurul Bayu, Retno Budiarti, Asri Pahala Ciptiasrini, Uci darmi, salfia Defrianti, Fera Dewi, Meinasari Kurnia Dewi, Ratna Agustina Dillak, Vaya Juliana Dwi Rahmawati, Yanti Fachry Abda El Rahman Farid Farid, Farid Fauziah, Neng Ganjar Mohamad Disastra Ginting, Agus Santi br HAFIZAH, ISTY Hanani, Salma Handika, Dina Hasan, Ade Mira Hasanah, Zirni Al Herman Susanto Hidayani, Hidayani Hilin, Hilin Hindayani Hindayani Indarwati Indarwati Irmayani Iswandaru, Eryfia Candika Izza, Lina Nurul Jayatmi, Irma K, Milka Anggreni Karmila, Linda Kartika, Fidina Dwi Kartini, Neni khusnul khotimah Khusnul Pangestu, Gaidha Krishna Kusumahadi KURNIA KURNIA, KURNIA Kusuma, Widi Mulia Endar Kusumastuti, Istiana Lia Hermawati Lisca, Shinta Mona MAHFUJIAH, FUJI Mahodim, Maria Meita Dhamayanti Migiarti, Imas Mon, Novarista Intan Muhammad Muslih Narulita, Lina Nency, Aprilya Nia Kurnia Notiasary, Marina Noviana, Rieke noviyani, ernita prima Nurhaeti, Eti Nurhikmahwati, Meisya Nurwiyani, Nurwiyani Oktianingsih, Neti Pangestu, Gaidha Khusnul Payawati, Tri Pidiyanti, Pidiyanti Pitriani, Epilis Pransiska, Cika Pratiwi, Regina Priyanti, Decy Purnamasari, Asri Desrina Puspita, Sherly Shanta Putri, Magdalena Tri Putri, Riskiana Rahmaliani, Desy Rahmawati, Mimi Ratri Wahyuningtyas Rini, Ageng Septa Ristanti, Ristanti Ristawani Simamora Purba, Rina Rohaeni, Erni Rukendar, Shinta Kandayani Rumahorbo, Nora Agustina S, Sri Mulyani Dewi Safari, Sari Zahrawani salaka, lisda novita Santika, Asri Sari, Agustina Sari, Ratih Nurma Setyarini, Oktaviani Ike Sidabalok, Lasmaria Sopiah, Sopi Sugesti, Retno Sugihermiani, Neni Suhaeni, Heni Sundari, Helena Supriyatin Supriyatin Susilawati, Arti Wahyuni, Fuzi Fauziah Widiarti, Asri Widya Sastika WULANDARI Yani, Euis Yolandia, Rita Ayu Yulandari, Novalinda Yuniarti, Malis