Claim Missing Document
Check
Articles

Calculation of the Maximum Flight Cycle of the Cessna 208B Aircraft on the Commuter Route Network in Kalimantan Adri, Raiztama; Mufti Arifin; Syarifah Fairuza
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v10i1.242

Abstract

Regional flights in Indonesia, particularly in Kalimantan, play a crucial role in connecting remote areas and supporting local economic activities. This analysis focuses on the maximum number of flight cycles that can be operated by the Cessna 208B turboprop aircraft using various strategies within the commuter route network in Kalimantan. The objective of this research is to calculate the maximum number of flight cycles based on differences in payload influenced by several flight strategies, utilizing the Cessna 208B Information Manual. The research process begins with identifying commuter routes in Kalimantan, collecting data from the Pilot Operating Handbook for the aircraft, fuel consumption, and flight performance at specific altitudes. Among the three strategies identified, the full tank strategy allows the aircraft to carry 1,018 kg of fuel at the start of the flight, with remaining passenger weight from the Maximum Take-Off Weight, resulting in 4 flight cycles. The full passenger strategy, with 11 passengers, allows the aircraft to carry 589 kg of fuel without refueling, yielding 2 flight cycles. By employing a refueling strategy at each airport, the aircraft can carry varying amounts of fuel, resulting in 8 flight cycles. It can be concluded that the refueling strategy is the most optimal, as it generates a higher number of flight cycles. The findings from this study are expected to serve as a foundation for further research on regional aviation in Indonesia, particularly in Kalimantan
Analisis Kebutuhan Bahan Bakar Terbang Jelajah Pesawat Cessna 172 Berdasarkan Variasi Kecepatan Madjid, Aldien Galistia Maharani; Mufti Arifin; Ade Julizar
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v10i1.243

Abstract

This research investigates the correlation between cruise speed, fuel consumption, and propeller efficiency in the Cessna 172 aircraft during actual flight conditions. The study involved five test flights conducted at different cruise speeds: 87.7, 90.8, 98.4, 105.3, and 113.5 knots, each flown over 100 nautical miles at 5,000 feet altitude. Fuel consumption was calculated by comparing initial and final fuel levels, revealing that actual usage consistently exceeded the Pilot Operating Handbook (POH) estimates. For instance, at 87.7 knots, actual fuel consumption was 39.61 L/hr, significantly higher than the POH value of 21.26 L/hr. Propeller efficiency peaked at lower speeds (0.828 at 87.7 knots) and declined at higher speeds (0.628 at 113.5 knots), indicating reduced aerodynamic performance. These findings underscore the importance of selecting optimal cruise speeds to enhance fuel efficiency, reduce operational costs, and extend aircraft lifespan. The study provides practical insights for pilots and operators aiming to optimize light aircraft performance in real-world operations
Analisis Jangkauan Pesawat Menurut Karakteristik Runway Bandara Di Sumatera Utara Josua Jefferson; Mufti Arifin; Freddy Franciscus
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v5i1.110

Abstract

Karakteristik runway merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan operasional pesawat, terutama dalam menentukan jangkauan penerbangan yang dapat dicapai. Perbedaan panjang, lebar, kekuatan perkerasan landasan (Pavement Classification Number/PCN), serta kondisi lingkungan seperti temperatur, elevasi, dan kemiringan runway menyebabkan setiap bandara memiliki kemampuan yang berbeda dalam melayani berbagai tipe pesawat. Penelitian ini bertujuan menganalisis jangkauan pesawat berdasarkan karakteristik runway pada delapan bandara di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder berupa spesifikasi runway dan karakteristik teknis pesawat. Analisis dilakukan melalui koreksi panjang runway terhadap faktor temperatur, elevasi, dan kemiringan, evaluasi kesesuaian nilai Aircraft Classification Number (ACN) terhadap PCN, penyesuaian beban operasi pesawat, serta perhitungan jangkauan menggunakan Persamaan Breguet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bandara dengan panjang runway dan nilai PCN yang lebih tinggi mampu melayani pesawat dengan jangkauan yang lebih besar tanpa memerlukan pengurangan beban yang signifikan. Bandara Sisingamangaraja XII mengalami pengurangan panjang runway efektif terbesar sebesar 44,50% akibat pengaruh elevasi, sehingga membatasi operasional beberapa jenis pesawat. Cessna 208B merupakan satu-satunya pesawat yang dapat beroperasi di seluruh bandara yang ditinjau tanpa penyesuaian beban. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengelola bandar udara dan maskapai penerbangan dalam menentukan kesesuaian tipe pesawat serta mendukung perencanaan pengembangan infrastruktur bandar udara di Sumatera Utara.
Analisis Persyaratan Payload untuk Multi-Role Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Trio Teguh Utama; Mufti Arifin; Muhamad Jayadi
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v5i1.202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persyaratan payload dan berat kosong pada Unmanned Aerial Vehicle (UAV) multi-role berdasarkan kategori misi militer/ISR, pemetaan, pertanian, dan logistik. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyusunan rekomendasi awal rasio payload–berat kosong UAV multi-role berdasarkan komparasi data spesifikasi dari 50 UAV yang dikelompokkan menurut jenis misi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan data sekunder yang diperoleh dari spesifikasi teknis pabrikan, artikel ilmiah, dan sumber teknis terbuka. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, scatter plot, serta identifikasi kecenderungan hubungan antara payload dan berat kosong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UAV militer/ISR umumnya memiliki payload 1–12 kg dengan berat kosong 5–10 kg, UAV pemetaan memiliki payload 1–10 kg dengan berat kosong 1–10 kg, UAV logistik memiliki payload 3–16 kg dengan berat kosong 2–10 kg, sedangkan UAV pertanian membutuhkan payload cairan yang lebih besar. Hasil ini menunjukkan bahwa rentang payload 1–20 kg dan berat kosong 1–10 kg merupakan konfigurasi dominan yang sesuai untuk UAV multi-role ringan. Implikasi teknis dari penelitian ini adalah bahwa perancangan UAV multi-role perlu memperhatikan keseimbangan antara kapasitas payload, berat struktur, dan fleksibilitas integrasi misi. Keterbatasan penelitian ini adalah analisis masih berbasis data sekunder dan belum memasukkan parameter aerodinamika, daya mesin, endurance, serta validasi melalui simulasi atau eksperimen.
Analisis Keandalan Pada Outer Pane Cabin Window Boeing 737-800NG Nila Safiana Sari; Mufti Arifin; Endah Yuniarti
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v5i1.238

Abstract

Passenger cabin windows merupakan elemen penting dalam menjaga integritas struktural kabin bertekanan, khususnya pada pesawat komersial seperti B737-800NG. Diantara struktur passenger cabin windows yang banyak mengalami kerusakan adalah outer-pane. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keandalan dan mengetahui penyebab kerusakan outerpane dengan menggunakan teori keandalan dan metode fishbone diagram. Fokus utama penelitian adalah melakukan estimasi umur pakai serta mengidentifikasi titik-titik rawan retak yang dipengaruhi oleh siklus tekanan kabin dan kelelahan material. Kajian dilakukan dengan menelaah referensi teknis, laporan kecelakaan, serta data kerusakan yang terjadi selama operasional dalam periode Tahun 2024 hingga 2025. Hasil yang didapat ialah nilai mean time between failures 2.276 per flight hours, mean time between unscheduled component removals 23.000 per flight hours, serta failure rate 0.0545 dan unscheduled component removal rate 0.0434. Kerusakan dalam bentuk scratch umumnya terjadi pada passenger cabin windows dikarenakan foreign object damage, siklus beban tekan yang berulang, dan penggunaan bahan chemical tidak sesuai standar manual saat proses pembersihan. Sebagai tindakan pencegahan kerusakan perlu melakukan pemeriksaan rutin setiap 2.276 flight hours, guna mengetahui atau mengidentifikasi kondisi kerusakan sejak dini.
Simulation Of C-Check Maintenance Task Card Distribution Using Vogel's Approximation Method Ian Maccari De Carlini; Mufti Arifin; Ayu Martina
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol 24, No 1 (2025): Performa: Media Ilmiah Teknik Industri
Publisher : Industrial Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.24.1.85126

Abstract

Maintenance of an aircraft requires reliable and responsible manpower. Manpower and manhour are needed to perform scheduled and unscheduled maintenance. C-Check maintenance requires a long time for the aircraft to operate again. Therefore, it is necessary to optimize the task card in the maintenance personnel group based on the required task card manhour. Simulation of task card distribution is needed to find the optimum C-Check work group. The method in this study uses Vogel's Approximation Method (VAM) as the main calculation and Northwest Corner (NWC) as the comparison, where VAM and NWC are included in operations research. This study aims to simulate the distribution of C-Check maintenance task cards by adjusting the manhour of the personnel group and the manhour task card required so that the maintenance personnel group can perform the task optimally. The analysis results obtained are manhour requirements in the task card group as demand, the ability of each maintenance personnel group as supply, and the multiplying factor between actual and maintenance program as transportation costs. The results of the calculation of manhour distribution using the Vogel's approximation method (VAM) calculation obtained a total manhours of 724.5 manhours and for the northwest corner (NWC) calculation obtained a total manhours of 902.8 manhours. Thus, the VAM calculation results in cheaper manhour costs compared to the NWC calculation.
Reliability Analysis of Autoflight Servo System Failures: A Case Study of the Airbus A330-300 at International Airline X Akhmad Satriyo; Mufti Arifin; M. Hadi Widanto
Jurnal Teknologi Kedirgantaraan Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Teknologi Kedirgantaraan
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jtk.v11i1.347

Abstract

The autoflight servo system plays a critical role in maintaining aircraft stability during automated flight operations, where sustained manual control by the pilot is impractical. Due to its integration with multiple aircraft systems, servo failures may propagate and affect overall flight control performance. This study investigates the failure characteristics, root causes, and mitigation strategies of the autoflight servo system in the Airbus A330-300 operated by International Airline X. A descriptive quantitative approach was adopted using a case study methodology. Primary data were obtained from maintenance records, technical documentation, and interviews with relevant personnel, while secondary data included historical failure reports and repair procedures. Risk Priority Number and fishbone diagram was employed to identify dominant failure mechanisms. The results indicate that failures were primarily electrical (27.91%), followed by mechanical (20.93%), hydraulic (17.44%), and human error (6.98%). Electrical failures represent the highest risk category. In response to servo failure, the system automatically transitions to Secondary Flight Control Computer (SEC) or alternate law mode, allowing pilot control via sidestick input. Preventive measures include periodic connector cleaning (1–2 years) and actuator seal monitoring through hydraulic oil particle analysis to detect early wear.  
Analisis komparatif efisiensi metode NDT (Non-Destructive Testing) Eddy Current Testing dan Ultrasonic Testing dalam pemeliharaan pesawat komersial muhammad zulfikar azzurri; Syarifah Fairuza; Mufti Arifin; Aswan Tajuddin
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.93

Abstract

Pesawat terbang  merupakan alat transportasi udara yang banyak diminati oleh masyarakat di era sekarang ini. Namun, pesawat terbang juga memiliki batas kemampuan waktu maupun usianya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efisiensi antara Eddy Current Testing (ECT) dan Ultrasonic Testing (UT) pada pesawat komersil. Kedua metode NDT ini secara luas digunakan dalam industri penerbangan untuk memastikan integritas struktur pesawat. Dalam industri penerbangan, keselamatan dan keandalan pesawat komersial menjadi prioritas utama. Non-Destructive Testing (NDT) merupakan metode penting untuk mendeteksi cacat tanpa merusak komponen. Pesawat terbang sebagai alat transportasi yang kompleks terdiri dari berbagai komponen material yang terus menerus terpapar kondisi ekstrem selama penerbangan. Oleh karena itu, pemeliharaan yang efektif menjadi kunci untuk memastikan keselamatan dan keberlanjutan operasional pesawat. Dua teknik NDT yang utama dalam analisa ini adalah Eddy Current Testing (ECT) dan Ultrasonic Testing (UT). ECT efektif dalam mendeteksi cacat permukaan pada material logam, sementara UT lebih unggul dalam mendeteksi cacat internal dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan kesimpulan bahwa kombinasi ECT dan UT meningkatkan akurasi deteksi cacat, sehingga memperkuat keselamatan operasional pesawat komersial.
Pengukuran Kebisingan Pesawat Udara dengan Memasukan Frekuensi Kebisingan di Sekitar Bandara Halim Perdana Kusuma Raihan Sakti Pratama; Mufti Arifin; Imron Rosadi; Ericko Utama
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.104

Abstract

The high usage of air transportation today is driven by the community's need for faster and more efficient mobility. However, the impact of using aircraft cannot be ignored, especially in terms of noise pollution caused by aircraft engines. Halim Perdana Kusuma Airport, which was originally designed for military activities, has become a commercial airport since 2014 in an effort to reduce flight density at Soekarno-Hatta Airport. This study aims to measure aircraft noise around Halim Perdana Kusuma Airport by including frequency. Measurements were carried out using a dB meter application downloaded on a mobile phone and a Sound Level Meter, both during flight activity and without flight activity in surrounding settlements. The results of this study indicate that noise in dBA can be measured with a Sound Level Meter, while frequency can be measured with a smartphone that has a dB meter application installed. The highest frequency measured during aircraft take-off activity at Halim Perdana Kusuma Airport peaked at 7716 Hz to 7834 Hz, when the noise reached its highest point. From this research, it can be concluded that the higher the frequency The higher the frequency the smaller ∆LA, meaning the dBA is getting closer to the sound pressure level.
Penentuan Jarak Aman Permukiman Berdasarkan Jarak Kebisingan Terhadap Lintas Terbang Approach ILS Runway 24 Bandar Udara Halim Perdanakusuma Nurul Fitri Ramadani; Erna Shevilia Agustian; Mufti Arifin; Ade Julizar
Jurnal Mahasiswa Dirgantara Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Dirgantara
Publisher : FTK UNSURYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35894/jmd.v4i2.210

Abstract

Bandar udara berperan penting sebagai pusat aktivitas transportasi dan ekonomi, namun peningkatan intensitas operasional penerbangan dapat menimbulkan permasalahan kebisingan yang berdampak pada kenyamanan dan kesehatan masyarakat di kawasan sekitarnya. Salah satu fase penerbangan yang berkontribusi signifikan terhadap kebisingan adalah fase pendekatan (approach), khususnya pada lintasan Instrument Landing System (ILS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jarak aman kawasan permukiman terhadap paparan kebisingan pesawat pada lintasan approach ILS Runway 24 Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Metode yang digunakan berupa analisis teoritis tingkat kebisingan berbasis data sertifikasi kebisingan pesawat dari Federal Aviation Administration (FAA), dengan pendekatan perhitungan Sound Pressure Level (SPL) dan asumsi perambatan kebisingan di ruang bebas. Analisis dilakukan pada tiga titik lintasan approach, yaitu 1,8 nm, 3 nm, dan 6 nm, untuk beberapa tipe pesawat yang umum beroperasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tipe pesawat menghasilkan jarak paparan kebisingan yang berbeda, dengan jarak terjauh dihasilkan oleh Boeing 737-300 (±7,07 km), diikuti Airbus A320-214 (±4,07 km), Dassault Falcon 7X (±3,38 km), dan ATR 72-200 (±2,95 km). Evaluasi pada seluruh titik lintasan menunjukkan bahwa tingkat kebisingan yang dihasilkan masih melampaui ambang batas 55 dBA untuk kawasan permukiman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi awal dalam perencanaan tata ruang kawasan sekitar bandara serta sebagai dasar pengendalian dampak kebisingan penerbangan.   Airports play a vital role as centers of transportation and economic activity; however, increasing flight operations can generate noise issues that adversely affect the comfort and health of surrounding communities. One of the flight phases that significantly contributes to aircraft noise is the approach phase, particularly along the Instrument Landing System (ILS) flight path. This study aims to analyze the safe distance of residential areas from aircraft noise exposure along the ILS approach path of Runway 24 at Halim Perdanakusuma Airport. The research employs a theoretical noise analysis based on aircraft noise certification data issued by the Federal Aviation Administration (FAA), using a Sound Pressure Level (SPL) calculation approach with the assumption of free-field noise propagation. The analysis is conducted at three approach points, namely 1.8 nm, 3 nm, and 6 nm, for several aircraft types commonly operating at the airport. The results indicate that each aircraft type produces a different noise exposure distance, with the Boeing 737-300 generating the longest distance (approximately 7.07 km), followed by the Airbus A320-214 (approximately 4.07 km), the Dassault Falcon 7X (approximately 3.38 km), and the ATR 72-200 (approximately 2.95 km). Evaluation at all approach points shows that the noise levels exceed the 55 dBA threshold for residential areas. The findings of this study are expected to serve as an initial reference for spatial planning in airport surrounding areas and as a basis for mitigating the impact of aircraft noise.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Adam Wahyu Saputra Adam Ade Julizar Adri, Raiztama Afid Nurul Anwar Afifah, Atik Ahmad Akmal Said Ahmad Al Muhraj Ahmad Buana Syamra Pratama Rahman Akhmad Satriyo Al Farabi, Awfa Azka Alam, Ganda Tri Alimin, Edy Karyadi amat chaeroni Ananda Rafi Rijalul Awwal Aprila Sakti K Arindho Andrifa Faturrohman Aswan Tajuddin Ayu Martina Ayu Martina Bayu Wicaksono Belnov, Syaddad Husaini Bilhaq, Muhammad Kevin Borris Y Maningka Budi Aji Warsiyanto Chintya Rahmawati Cynthia Rahmawati Daniel Frederick Romulus Ginting Dhimas, Dhimas Ilyas Ramadhani Dwiki Fahreza Andreanto Efendi, Naufal Wafifauzan Endah Yuniarti, Endah Ericko Utama Erna Shevilia Erna Shevilia Agustian Evi Endarti Fadli Hidirsyah fahmins Fairuza, Syarifah Fara Vania Utami FORTUNE JR OMBUH Freddy Franciscus Gunawan, Gia Aviani Hardanny, Danny Husaini, Fahdli Zulfikar Ian Maccari De Carlini Imron Rosadi Imron Rosadi Israq Mifan Junaidi Josua Jefferson K, Aprilia Sakti Kanda Anantariyanto Alam Tasti M. Hadi Widanto Madjid, Aldien Galistia Maharani Mahendra, Moch. Rezza Miranda Saputra Muchammad Furqon Muchaddats Muhamad Jayadi Muhammad Hadi Widanto Muhammad Umar Abdulloh muhammad zulfikar azzurri MUSTIKO, PANGGIH JOGO Nila Safiana Sari NUR HIDAYAH NINGSIH, Nur Hidayah Ningsih Nurul Fitri Ramadani Paramaharta, Izhar Rabeta, Bismil Raditya, Dewandra Ramadhan Alif Rafika Arum Sari Raihan Maulana Yahya Raihan Sakti Pratama Reynaldo Mulya Tedja Riskha Agustianingsih Rizwan Maulana Rosalie, Rhea Anggun Said, Ahmad Akmal Saiful Latif, Saiful sausan, Misk Sausan Ghina Septian, Diaz Shevillia Agustian, Erna Simon Sindhu Hendradjaja Sofyan, Mohamad Fauzan Somadi, Ridho Misbahudin surya wijaya, Andi Suwardi, Arie Prasetya Syaiful Rifki T. Dikatama Trio Teguh Utama Utama, Ericko Utama, Ericko Chandra venza, Venza Fawwaz Tsulatsa Victory Rumagit, Jodia Vita Kartika Wicaksono , Paulus Hilman