Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Correlation of HbA1c levels and neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) with wagner grade of diabetic foot ulcers in type ii diabetes mellitus patients undergoing treatment at Ibnu Sina Hospital in 2023 Putri, Andi Iin T.C; Sommeng, Faisal; Nur, Muh. Jabal; Kartika, Irna Diyana; Purnamasari, Reeny
Journal of Midwifery and Nursing Vol. 7 No. 3 (2025): September: Health Science
Publisher : Institute Of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/jmn.v7i3.6617

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia due to impaired insulin secretion or insulin resistance. HbA1c levels can reflect long-term glycemic control, while the neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) serves as an inflammatory biomarker associated with disease severity in type II DM, including diabetic foot. This study is a descriptive analytic observational study with a cross-sectional design aimed at analyzing the relationship between HbA1c levels and NLR with Wagner’s grading of diabetic foot ulcers in type II diabetes mellitus patients. Among 34 diabetic foot patients, the majority were over 50 years old (94.1%), with a higher proportion of females (55.9%), an average HbA1c level of 9.33, and an average NLR of 9.31, indicating variations in glycemic control and systemic inflammation in ibnu sina Hospitak in januari until september 2023. Wagner's ulcer grade ranged from 2 to 4, with an average of 2.82, reflecting moderate to severe severity. Correlation analysis showed that HbA1c levels (r = 0.523, p = 0.002) and NLR (r = 0.602, p = 0.000) had a significant and positive relationship with diabetic ulcer severity. The study results indicate a significant correlation between HbA1c levels and NLR with Wagner’s grading of diabetic foot ulcers, where higher ulcer severity is associated with increased HbA1c and NLR levels due to greater insulin resistance.
Risk factors for surgical site infection (ssi) in post-appendectomy patients at Massenrempulu Hospital, Enrekang Regency, 2023 Fahruddin, Annisa; Gani, Azis Beru; Harahap, Muhammad Wirawan; Purnamasari, Reeny; Mangarengi, Yusriani
Journal of Midwifery and Nursing Vol. 7 No. 3 (2025): September: Health Science
Publisher : Institute Of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/jmn.v7i3.6618

Abstract

Surgical Site Infection (SSI) is a major healthcare-associated infection that significantly increases morbidity, mortality, and healthcare costs. This study aims to analyze the risk factors for SSI in post-appendectomy patients at Massenrempulu Hospital, Enrekang Regency, using a cross-sectional method with secondary data from patient medical records. A total of 41 patients met the inclusion criteria. The results indicate that SSI was more prevalent in females (65.9%) compared to males (34.1%), with the highest incidence occurring in the 17-25 age group (34.1%). In terms of nutritional status, most SSI cases were observed in patients with abnormal BMI, including underweight (22%), overweight (29.3%), and obesity (7.3%). Additionally, 92.7% of patients had no comorbidities, while a small percentage had hypertension (4.9%) or fatty liver disease (2.4%). Surgical duration was also a critical factor, as most SSI cases (92.7%) were associated with moderate-duration surgeries (60-120 minutes), while only 7.3% occurred in short-duration surgeries (<60 minutes). These findings highlight the importance of monitoring SSI risk factors, particularly among younger patients, females, and those with abnormal nutritional status. The study emphasizes the need for improved infection control strategies, proper nutritional management, and enhanced postoperative care to minimize SSI occurrence. Future research should consider primary data collection and additional variables to further explore risk factors. Additionally, healthcare facilities should enhance infrastructure and transition from manual to electronic medical records to improve patient management and reduce infection rates.
Perbandingan Efektivitas Krim & Gel Aloe Vera Terhadap Luka Bakar Derajat II Pada Mencit (Mus musculus) Nurfadillah, Siti; Yuniati, Lisa; Surdam, Zulfiyah; Abdi, Dian Amelia; Purnamasari, Reeny
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i8.19667

Abstract

Kerusakan jaringan akibat panas dari api, listrik, atau bahan kimia berbahaya dikenal sebagai luka bakar. Proses penyembuhan luka bakar dapat diobati secara alami dengan mengoleskan gel Aloe vera secara topikal, yang telah diteliti mampu mempercepat proses penyembuhan dengan merangsang proliferasi berbagai jenis sel. Menilai efektivitas gel dan krim lidah buaya terhadap luka bakar derajat dua pada tikus (Mus musculus) adalah tujuan dari penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Dua puluh tujuh mencit dengan luka bakar punggung derajat II dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok kontrol menerima larutan natrium klorida (K), kelompok pertama menerima krim Aloe vera (P1), dan kelompok kedua menerima gel Aloe vera (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan krim & gel Aloe vera secara topikal efektif dalam menyembuhkan luka bakar derajat II dengan terjadinya pengecilan luas luka. Kelompok yang mendapatkan terapi gel menunjukkan penyembuhan yang lebih cepat, meskipun perbedaannya dibandingkan dengan kelompok lain tidak signifikan secara statistik (p = 0,461).
Characteristics of Inguinal Hernia Patients at Massenrempulu Hospital for the Period of 2023 S, Fatma Dilla; Gani, Azis Beru; Zulfahmidah, Zulfahmidah; Purnamasari, Reeny; Mubarak, Andi Firman
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i3.1682

Abstract

Background: Hernia is a condition that can occur at all ages, characterized by a lump that appears and disappears. Inguinal hernia is the most common type, with lateral inguinal hernia accounting for 50%, medial 25%, and femoral 15%. About 15% of adults suffer from inguinal hernia, with prevalence increasing from 5–8% at ages 25–40 years to 45% at age 75. Hernia repair remains the most effective general surgical procedure. Objective: To determine the characteristics of inguinal hernia patients at Massenrempulu Hospital in 2023 based on age, occupation, classification, and body mass index (BMI). Methods: This study used a descriptive method with an observational design. Data were analyzed by frequency distribution according to research variables. Results: Inguinal hernia was more common in patients aged >66 years (45.9%), in heavy work occupations (70.3%), and classified predominantly as indirect/lateral inguinal hernia (94.6%). Based on BMI, most patients were in the overweight category (54.1%). Conclusion: At Massenrempulu Hospital in 2023, inguinal hernia was mostly found in patients aged >66 years, engaged in heavy work, with indirect/lateral classification, and overweight BMI
KARAKTERISTIK PASIEN LIPOMA RS BHAYANGKARA MAKASSAR DAN RS IBNU SINA TAHUN 2019-2022 Harun, Muhammad Alief; Purnamasari, Reeny; Miranti, Andi; Rusdam, Sulfikar; Amiruddin, Arwi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27011

Abstract

Lipoma adalah tumor jaringan lunak yang terdiri dari sel-sel lemak dewasa. Etiologi lipoma tidak jelas, angka kejadian 2,1/1000 pertahun dengan prevalensi 1% populasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penyakit lipoma di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar dan Rumah Sakit Ibnu Sina. Metode descriptive retrospective study dengan desain cross sectional. Data merupakan data sekunder berupa rekam medis pasien lipoma di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar dan Rumah Sakit Ibnu Sina selama Tahun 2019-2022. Angka lipoma tahun 2019-2022 di RS Ibnu Sina 84 orang dan di RS Bhayangkara 27 orang. Kelompok usia terbanyak kedua rumah sakit yaitu usia 19-40 tahun (41,7% RS Ibnu Sina, 44,4% RS Bhayangkara). Jenis kelamin terbanyak di RS Ibnu Sina laki-laki (56%) sedangkan RS Bhayangkara perempuan (59,3%). Lokasi terbanyak pada Punggung dikedua rumah sakit (17,9% RS Ibnu Sina, 29,6% RS Bhayangkara). Status Gizi terbanyak di RS Ibnu Sina Normal (31%) sedangkan di RS Bhayangkara Normal dan Obesitas 1 (37%). Lipoma banyak didapatkan pada usia Dewasa (19-40 tahun) pada daerah Punggung. Jenis Kelamin pasien lipoma tersebar antara laki-laki dan perempuan sedangkan Status Gizi tersebar terbanyak pada kelompok Normal dan Obesitas 1. Kata kunci: Karakteristik, Lipoma, Soft Tissue Tumor
WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN OPERASI DENGAN MENGGUNAKAN ANASTESI UMUM PROPOFOL DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR Wardana, Riqah Nefiyanti Putri; Sommeng, Faisal; Ikram, Dzul; Dwimartyono, Fendy; Purnamasari, Reeny
Wal'afiat Hospital Journal Vol 1 No 1 (2020): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2782.868 KB) | DOI: 10.33096/whj.v1i1.9

Abstract

Latar Belakang : Perhatian utama pada anestesi umum adalah keamanan dan keselamatan pasien. Efek fisiologis yang ditimbulkan tubuh seseorang dalam menjalani operasi berbeda-beda, tergantung dari kondisi fisik pasien, jenis bedah yang dilakukan, jenis anestesi yang dipakai, jenis obat yang diberikan, dan juga banyaknya dosis obat yang diberikan. Semua hal itu dapat berpengaruh terhadap waktu pulih sadar pasien post operasi. Beberapa obat anestesi diberikan secara intravena, baik tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya, untuk mempercepat tercapainya stadium anestesi ataupun obat penenang pasien. Obat-obat ini termasuk barbiturat, benzodiazepin, propofol, ketamin, analgesik opioid, dan berbagai hipnotik-sedatif. Propofol sering digunakan karena memiliki onset cepat, durasi pendek dan waktu pemulihan kesadaran cepat dengan resiko terjadinya mual muntah lebih kecil dari obat induksi lainnya. Propofol digunakan baik untuk anestesi induksi maupun pemeliharaan sebagai bagian dari teknik anestesi intravena total atau anestesi berimbang, dan merupakan anestetik terpilih untuk bedah rawat jalan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pulih sadar pada pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di rumah sakit ibnu sina makassar. Metode : Penelitian ini adalah penelitian deskriptif numerik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar sebanyak 26 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Dimana data diperoleh dari hasil observasi secara langsung kepada sampel. Hasil : Dari 26 sampel menunjukkan bahwa distribusi waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan waktu pulih sadar yaitu 7 menit dengan jumlah 11 orang (42,3%), kemudian diikuti dengan waktu pulih sadar 8 menit sebanyak 6 orang (23%), waktu pulih sadar 9 menit sebanyak 5 orang (19,2%), waktu pulih sadar 10 menit sebanyak 2 orang (7,7%), dan waktu pulih sadar 11 menit dan 12 menit masing-masing sebanyak 1 orang (3,9%). Nilai rata-rata dari waktu pulih sadar pasien dengan menggunakan anastesi umum propofol 8,19±1,38 menit. Dengan nilai minimum 7 menit dan nilai maksimum 12 menit. Kesimpulan : Rata-rata waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan 8,19±1,38 menit dan memiliki rentang waktu antara 7 menit sampai 12 menit.
Penelitian Hubungan Kadar LDL(Low Density Lipoprotein) Dengan Tumor Payudara Yang Dicurigai Berisiko Maligna murfat, zulfitriani; Hapsari, Prema; Purnamasari, Reeny; Hadi, Santriani; Almirah, Michaella
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 1 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.359 KB) | DOI: 10.33096/whj.v2i1.51

Abstract

Kanker payudara adalah salah satu penyakit tidak menular yang cenderung meningkat setiap tahun. Beberapa faktor risiko menyebabkan kanker payudara, salah satunya adalah konsumsi lemak berlebihan yang mengakibatkan hiperlipidemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kadar LDL dan insiden tumor payudara yang diduga berisiko terkena penyakit ganas. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan penampang. Sampel dalam penelitian tersebut adalah pasien yang dirawat di Bedah Poliklinik Onkologi RSUD Ibnu Sina Makassar dengan tumor payudara sebanyak 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan pengucilan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil analisis univariat menunjukkan sebanyak 30 responden dengan tumor payudara dengan rentang usia terbanyak 31-40 tahun (37%), diikuti oleh usia 20-30 dan 41-50 tahun (20%), dan usia lebih dari 50 tahun ( 17%) , jenis tumor payudara terbanyak adalah jenis jinak dan kadar LDL tinggi pada jenis tumor payudara benigna dan maligna. Analisis bivariasi menggunakan Uji Chi-Square menunjukkan bahwa niai p 0,025, yang lebih kecil dari nilai p kurang dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kadar LDL dan insiden tumor payudara yang diduga berisiko ganas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah hubungan antara tingkat LDL dan insiden tumor payudara yang diduga berisiko ganas.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia Dan Jumlah Leukosit Pada Pasien Apendisitis Perforasi Dan Apendisitis Non Perforasi Bima, Irmayanti Johar; Syamsu, Rachmat Faisal; Pramono, Sigit Dwi; Purnamasari, Reeny; Juliani, Sri; Nasruddin, Hermiaty; Rizki Salsabilah R, Andi Fatihah
Wal'afiat Hospital Journal Vol 2 No 1 (2021): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.379 KB) | DOI: 10.33096/whj.v2i1.56

Abstract

Apendisitis adalah salah satu kasus kegawatdaruratan. Diagnosis ditegakkan dengan mengenal gejala penyakit ini sejak dini untuk menghindari perburukan dari apendisitis akut menjadi apendisitis perforasi. Mengetahui hubungan jenis kelamin, usia dan jumlah leukosit dengan pasien apendisitis non perforasi dan pasien apendisitis perforasi di RS.Ibnu Sina Makassar tahun 2014 – 2018. Penelitian ini dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu pengambilan sampel total sampling dengan total 125 sampel. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p value hubungan jenis kelamin dengan apendisitis : 0.01, hubungan usia dengan apendisitis : 0.02 dan hubungan jumlah leukosit dengan apendisitis : 0.00 menggunakan program SPSS. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar pada bulan September-November 2019. Hasil penelitian menunjukkan sampel apendistis perforasi pada laki-laki 39 orang (65%) sedangkan pada perempuan 21 orang (35%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.01 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis Sampel apendisitis perforasi usia 0-11 8 orang (13.3%), pada usia 12-25 18 orang (30%), pada usia 26-45 13 (21.7%) dan pada usia ≥46 21 (35%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.02 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Sampel apendisitis perforasi dan leukosit kurang dari 11.000 1 orang (1.3%) dan pada ≥11.000 59 orang (98.7%). Hasil análisis menggunakan uji Chi-Square nilai signifikan 0.00 (p kurang dari 0.05) yang secara statistik menunjukkan terdapat hubungan antara suhu tubuh dan jumlah leukosit pada pasien appendisitis. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian apendistis perforasi, terdapat hubungan antara usia dengan kejadian apendistis perforasi dan terdapat hubungan antara jumlah leukosit dengan kejadian apendistis perforasi.
The Effect Of Applying Virgin Coconut Oil (VCO) Ointment On the Healing Of Vulnus Scissum In Mice (Mus Musculus) Tahir, Sugiarti; Wahid, Syarifuddin; Hasbi, Berry Erida; Purnamasari, Reeny; Karim, Marzelina
Syifa'Medika Vol 16, No 2 (2026): Syifa Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v16i2.10167

Abstract

Penyembuhan luka merupakan proses kompleks yang melibatkan beberapa tahap biologis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi. Salah satu terapi yang berpotensi mempercepat penyembuhan luka adalah penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO), yang diketahui memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek salep VCO terhadap penyembuhan vulnus scissum pada mencit (Mus musculus). Penelitian eksperimental ini menggunakan desain true experimental dengan tiga kelompok, yaitu dua kelompok perlakuan yang masing-masing diberi salep VCO dengan dosis 1,5 ml dan 2 ml dan kelompok kontrol yang tidak diberi VCO selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian salep VCO dosis 1,5 ml dan 2 ml secara signifikan mempercepat penyembuhan luka dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok dengan dosis 2 ml menunjukkan penyusutan luka yang lebih cepat, dengan panjang luka pada hari ke-14 menjadi lebih kecil 0,6 mm hingga 0,0 mm. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (p = 0.000). Penelitian ini menyimpulkan bahwa salep VCO efektif dalam mempercepat penyembuhan luka vulnus scissum pada mencit, dengan dosis 2 ml memberikan hasil yang optimal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi dosis lebih optimal dan aplikabilitas klinis pada manusia.