Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Jurnal Bioedukasi

ASOSIASI DAN POLA SEBARAN BULU BABI (Echinoidea) DI PANTAI MAREGAM KOTA TIDORE KEPULAUAN Gani, Lista A.; Sirajudin, Nuraini; Ahmad, Zulkifli
BIOEDUKASI Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Sumber daya perikanan dalam konteks keanekaragaman hayati meliputi semua organisme (biota) yang hidup di perairan laut, asosiasi adalah suatu tipe yang khas ditemukan dengan kondisi yang sama dan berulang di beberapa lokasi. Hubungan ini ditemukan di lingkungan daratan maupun lautan seperti halnya di perairan, penyebaran merupakan penanda interaksi keberadaan biota dalam lingkungan yang ditujukan dengan berbagai pola yang terbentuk dari hasil interaksi, faktor-faktor yang mendukung kelangsungan hidup suatu biota laut dapat pula menentukan keberadaan serta penyebaran dari biota (Echinoidae) tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi bulu babi dengan lamun dan pola penyebaran bulu babi di Perairan Pantai Desa Maregam Kecamatan Tidore Selatan Kota TidoreKepulauan. Tipe penelitian ini yaitu deskriptif, dan pencuplikan dilakukan pada 2 stasiun dengan 50 plot pengamatan yang berukuran 5x5 m2 secara sistematik. Pengukuran faktor lingkungan misalnya salinitas, suhu, pH dengan menggunakan Refractometer, Thermometer air, dan pH meter air secara in situ.Hasil penelitian menunjukan bahwa asosiasi bulu babi dengan lamun di perairan pantai Desa Maregam Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauaan pada kedua stasiun adalah asosiasi negatif. Sedangkan pola sebaraan bulu babi (Echinoidea) di perairan pantai Desa Maregam Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan adalah mengelompok dengan nilai ID pada kedua stasiun berturut-turut adalah 1,18 dan 1,55. Kata Kunci : Asosiasi, pola sebaran, bulu babi,  maregam, Tidore Kepulauan.
PERILAKU KEWASPADAAN MONYET HITAM SULAWESI (Macaca nigra DESMAREST, 1822) DI HUTAN KONVERSI PULAU BACAN, MALUKU UTARA Ahmad, Zulkifli
BIOEDUKASI Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Monyet hitam Sulawesi, selain terdapat di Pulau Sulawesi dapat pula ditemukan di Pulau Bacan  Maluku  Utara.  Monyet  hitam  yang  ada  di  Pulau  Bacan  memiliki  kesamaan  karakter morfologi dengan monyet hitam yang ada di Pulau Sulawesi. Adanya aktivitas manusia di sekitar dan di dalam kawasan Cagar Alam Gunung Sibela Bacan, telah menyebabkan terjadinya degradasi habitat dan deforestasi. Hal ini dapat menimbulkan dampak terhadap ketidakstabilan populasi serta perubahan perilaku hewan, dan dimungkinkan termasuk perilaku kewaspadaan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perilaku kewaspadaan monyet hitam Sulawesi di hutan konversi Pulau Bacan. Teknik pengumpulan data perilaku kewaspadaan dilakukan dengan metode All Occurance Sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa monyet hitam Sulawesi di hutan konversi masih memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi. Kemampuan mendeteksi dan reaksi yang ditunjukkan di hutan konversi, menunjukkan perbedaan tidak bermakna (p>0,05). Hasil uji Wilcoxon dan Friedman terhadap penggunaan ketinggian dan kanonpi pohon menunjukkan perbedaan tidak bermakna (p>0,05). Walaupun secara statistik menunjukkan perbedaan tidak bermakna, namun ada kecenderungan bahwa dalam jangka waktu panjang monyet hitam   Sulawesi   di   kawasan   Cagar   Alam   Gunung   Sibela   Bacan   akan   berkurang   sifat kewaspadaannya, bahkan dimungkinkan menunjukkan reaksi positif apabila aktifitas masyarakat di hutan konversi Pulau Bacan semakin meningkat.Implikasi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai materi ajar matakuliah ekologi hewan khususnya dalam pengembangan praktikum dan riset mahasiswa. Kata kunci : Perilaku kewaspadaan, monyet hitam Sulawesi, hutan konversi Pulau Bacan, Maluku Utara
DEBIT AIR DI SUNGAI TERINDIKASI CEMAR DESA BERINGIN MALUKU UTARA Ahmad, Zulkifli
BIOEDUKASI Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Salah satu masalah yang paling meresahkan bagi masyarakat di sekitar area PETI adalah penggunaan logam berat merkuri (Hg) dalam pengolahan bijih emas. Sungai Tabobo yang berada di desa Beringin Halmahera Utara umumnya dijadikan sebagai tempat akhir pembuangan limbah pengolahan bijih emas secara amalgamasi. Letak pengolahan bijih emas berdekatan dengan sungai Tabobo  yang  menggunakan  tromol  dan  sistem  pembuangan  limbah  secara  teknik  bak  kolam bertingkat (tailing drump trup), diduga telah mengandung unsur merkuri dengan konsentrasi 0,075 ppm dan 0,000049 ppm (Zam Zam, 2008). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan debit air, profil sungai, dan kecepatan arus di sungai yang terindikasi telah tercemar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode profil sungai (cross section). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan air sungai terukur yang tertinggi terdapat pada titik 2 (0, 418 m/det). Debit air terukur di tiga titik pengamatan adalah 5, 04 m3/detik (titik 1), 11,15 m3/detik (titik 2), dan7,35 m3/detik (titik 3), sehingga diperlukan upaya pemantauan secara berkala untuk mendeteksi kadarmerkuri pada titik-titik tertentu dari badan sungai yang memiliki debit air rendah. Kata kunci : Debit air, sungai tercemar, desa beringin, maluku utara 
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBASIS PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN Wahyuni, Fitri; Taher, D. M.; Ahmad, Zulkifli
BIOEDUKASI Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : BIOEDUKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.631 KB)

Abstract

Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang memberikan kerangka kerja dan implementasi berpikir siswa sehingga dapat mengakses informasi secara efektif. Adanya kolaborasi antara model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pendekatan keterampilan proses menjadikan proses pembelajaran lebih berpusat pada siswa, karena dalam proses pembelajaran tersebut, siswa di tuntut untuk dapat merumuskan hipotesis, merancang bahan percobaan, mengadakan eksperimen, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa, serta mempelajari peningkatan keduanya pada kelas VII-F di SMP Negeri 1 Kota Ternate dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis pendekatan keterampilan proses pada konsep pencemaran lingkungan. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK), langkah - langkah yang terdapat dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa antara siklus I dan siklus II. Ketuntasan belajar siswa pada tes awal siklus I diperoleh presentase 0% dan tes akhir 4% sedangkan ketuntasan belajar siswa pada tes awal siklus II diperoleh presentase 52% dan tes akhir87%. Sementara itu, untuk aktivitas belajar siswa juga terjadi peningkatan yang cukup besar, yakni67% di siklus I dan 100% di siklus II. Peningkatan yang terjadi memiliki selisih 33%. Kata kunci : Inkuiri Terbimbing, Pendekatan Keterampilan Proses, Aktivitas, Hasil Belajar Siswa
KARAKTERISTIK TEMPAT BERTELUR BURUNG MAMOA (Eulipoa wallacei GRAY, 1860) DI KECAMATAN GALELA Zulkifli Ahmad; Abdulrasyid Tolangara; Chumidach Roini; Nur Sjafani
JURNAL BIOEDUKASI Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Bioedukasi Edisi Maret
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v1i2.4347

Abstract

Maluku Utara merupakan salah satu daerah prioritas bagi konservasi, secara global merupakan daerah prioritas utama bagi biodiversitas. Pulau Halmahera merupakan salah satu pulau terbesar di Maluku Utara dan sebagai pulau utama yang mencakup bagian terbesar hidupan liar, dengan 210 jenis burung. Kecamatan Galela yang berada di bagian utara Pulau Halmahera merupakan daerah populasi terbesar bagi burung mamoa. Masyarakat setempat memanfaatkan jenis burung ini dan telurnya sebagai salah satu sumber protein untuk dimakan, juga sebagai sumber mata pencaharian. Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui karakteristik tempat bertelur burung mamoa (Eulipoa wallacei) di Kecamatan Galela. Data primer yang dikumpulkan antara lain; karakteristik tempat bertelur meliputi; karakteristik lapangan tempat bertelur (nesting ground), dimensi dan pola tata letak lubang pengeraman telur (nesting pits), sifat fisik dan kimia tanah (temperatur, kelembaban, aerasi, pH, dan kandungan bahan organik). Untuk mengkaji hubungan antara temperatur dengan kedalaman, kelembaban dengan jarak pasang tertinggi, dilakukan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung mamoa membuat sarang pengeraman sedemikian rupa sehingga dapat memberikan fungsi pengeraman yang efektif dan memberikan perlindungan serta kemudahan bagi anak burung mamoa yang baru menetas untuk dapat mencapai permukaan tanah dengan selamat. Temperatur, kelembaban, aerasi, jarak antar sarang, jarak sarang dengan pasang tertinggi dan kandungan bahan organik, bukanlah faktor kunci (key factor) dalam strategi pemilihan tempat bertelur oleh induk burung mamoa, namun menjadi faktor penentu dalam proses pengeraman telur-telurnya.
KAJIAN ANTROPOGENIK TERHADAP PEMANFAATAN TERUMBU KARANG DI DESA WOSI, HALMAHERA SELATAN (Suatu kajian kerusakan terumbu karang di daerah pesisir Halmahera) Zulkifli Ahmad; Ilham Majid; Hardi R. Jaman
JURNAL BIOEDUKASI Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Bioedukasi Edisi Oktober
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.563 KB) | DOI: 10.33387/bioedu.v2i1.65

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu sumber daya alam yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di daerah pesisir Halmahera. Salah satu pemanfaatan oleh masyarakat Desa Wosi, Halmahera Selatan adalah sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan pondasi rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan aktivitas masyarakat terhadap pemanfaatan terumbu karang di Desa Wosi Kecamatan Gane Timur Kabupaten Halmahera Selatan. Instrumen pengambilan data dilakukan dengan menggunakan angket/kuesioner dan wawancara dengan  sejumlah masyarakat. Analisis angket/kuesioner dilakukan dengan menggunakan rumus prosentase dan skala Likert. Hasil penelitian menunjukan bahwa; (1) Pengetahuan masyarakat terhadap terumbu karang di Desa Wosi Kecamatan Gane Timur termasuk dalam kriteria cukup yaitu dengan nilai rata-rata 60%; (2) Aktivitas masyarakat terhadap pemanfaatan terumbu karang meliputi; Indikator pemanfaatan terumbu karang sebagai bahan bangunan dan pondasi rumah termasuk dalam kriteria cukup (nilai rata-rata 63%), indikator jual beli terumbu karang termasuk dalam kriteria rendah (52%), dan budidaya terumbu karang termasuk dalam kriteria sangat rendah (3.23%). Sementara pada kriteria skala Likert untuk seluruh indikator pengetahuan dan aktivitas pemanfaatan terumbu karang menunjukkan kriteria sangat tinggi (X 4,531 atau 127.242 4.531 dan X 3,5685 atau 97.742 3.5685).Kata kunci : Antropogenik, Halmahera Selatan, kerusakan, pemanfaatan, terumbu karang
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING BERBASIS PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN Fitri Wahyuni; Dharmawaty M. Taher; Zulkifli Ahmad
JURNAL BIOEDUKASI Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Bioedukasi Edisi Maret
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v1i2.4350

Abstract

Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang memberikan kerangka kerja dan implementasi berpikir siswa sehingga dapat mengakses informasi secara efektif. Adanya kolaborasi antara model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pendekatan keterampilan proses menjadikan proses pembelajaran lebih berpusat pada siswa, karena dalam proses pembelajaran tersebut, siswa di tuntut untuk dapat merumuskan hipotesis, merancang bahan percobaan, mengadakan eksperimen, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa, serta mempelajari peningkatan keduanya pada kelas VII-F di SMP Negeri 1 Kota Ternate dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis pendekatan keterampilan proses pada konsep pencemaran lingkungan. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK), langkahlangkah yang terdapat dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa antara siklus I dan siklus II. Ketuntasan belajar siswa pada tes awal siklus I diperoleh presentase 0% dan tes akhir 4% sedangkan ketuntasan belajar siswa pada tes awal siklus II diperoleh presentase 52% dan tes akhir 87%. Sementara itu, untuk aktivitas belajar siswa juga terjadi peningkatan yang cukup besar, yakni 67% di siklus I dan 100% di siklus II. Peningkatan yang terjadi memiliki selisih 33%.
PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KONSERVASI BURUNG PARUH BENGKOK DI KECAMATAN KEPULAUAN JORONGA Ardian Hamdani; Zulkifli Ahmad; Chumidach Roini
JURNAL BIOEDUKASI Vol 5, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2022
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v5i1.4403

Abstract

One type of wildlife in Indonesia that is threatened with extinction is the parrot. There are approximately 403 species of parrots in the world, and as many as 81 species are found in Indonesia. One of the areas rich in this bird species is the Maluku Islands, where 32 species of parrots are recorded and 12 of them are endemic to Maluku. Of the 12 bird species, 6 of them are protected. The results showed that the community had known the parrot because 69% had seen it in the forest and 31% had seen it because it was kept. In addition, the knowledge of people who have ever caught and sold parrots has a percentage index value of 23% and 35% or can be categorized as less. Meanwhile, the public knowledge index on the prohibition of catching parrots has an index value of 28% or less agree, 53% implementation of conservation (good enough), conservation participation 47% (high enough), habitat conservation with an index value of 59% (good enough), 24% of the community's knowledge of illegal logging is categorized as poor and the index value of the application of the protection law is 49% (quite agree). The current attitude of the community towards hunting has an index value of 16% or it can be categorized as bad, fishing is also classified as poor or the percentage index is 20%, illegal logging is 26% or the category is not good, and trade bans are in the disagree category (11%), while the lack of logging wild, has a percentage index value of 53% (good enough). The implementation of the Law (village rules) with an index value range of 50% or can be categorized as quite agree, and attitudes towards violators have a percentage index value of 38% or in the less high category, then the implementation of sanctions has an index value of 39% or can be categorized as less good.
KEPADATAN, DISTRIBUSI, DAN ETNO ORNITOLOGI KAKATUA PUTIH (Caccatua alba) DI DESA KAHATOLA Nurjani Puasa; M. Nasir Tamalene; Zulkifli Ahmad
JURNAL BIOEDUKASI Vol 7, No 1: Jurnal Bioedukasi Edisi April 2024
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/bioedu.v7i1.8025

Abstract

Kakatua putih (Cacatua alba) merupakan salah satu spesies endemik burung yang ada di Indonesia. Kakatua putih menempati area berhutan. Mereka ditemukan di hutan terbuka, bakau, rawa, area pertanian dan sangat umum di sekitar tepi pembukaan lahan dan sungai. Penelitian ini bertujuan mendekripsikan kepadatan, pola distribusi, dan etno-ornitologi di Desa Kahatola Kabupaten Halmahera Barat. Penelitian menggunakan metode survei eksploratif dengan pengamatan terhadap satwa burung berdasarkan metode Variable Circular Plot 5 titik pengamatan. Data ini dianalisis menggunakan petunjuk Misra (1968) untuk data kepadatan, dan Chai Rani (2003) untuk data distribusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan burung kakatua putih yang ditemukan dengan jumlah kepadatan 1.34 individu/km, dan pola distribusi burung kakatua putih yang terjadi di Desa Kahatola termasuk dalam kriteria pola sebaran seragam. Hasil wawancara etno-ornitologi burung kakatua putih di Desa Kahatola menunjukkan bahwa masyarakat mengetahui tentang pengetahuan umum, pengetahuan lokal dan pemanfaatan lokal burung kakatua putih.
KAJIAN ANTROPOGENIK TERHADAP PEMANFAATAN TERUMBU KARANG DI DESA WOSI, HALMAHERA SELATAN (Suatu kajian kerusakan terumbu karang di daerah pesisir Halmahera) Ahmad, Zulkifli; Majid, Ilham; Jaman, Hardi R.
JURNAL BIOEDUKASI Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Bioedukasi Edisi Oktober
Publisher : UNIVERSITAS KHAIRUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terumbu karang merupakan salah satu sumber daya alam yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di daerah pesisir Halmahera. Salah satu pemanfaatan oleh masyarakat Desa Wosi, Halmahera Selatan adalah sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan pondasi rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan dan aktivitas masyarakat terhadap pemanfaatan terumbu karang di Desa Wosi Kecamatan Gane Timur Kabupaten Halmahera Selatan. Instrumen pengambilan data dilakukan dengan menggunakan angket/kuesioner dan wawancara dengan  sejumlah masyarakat. Analisis angket/kuesioner dilakukan dengan menggunakan rumus prosentase dan skala Likert. Hasil penelitian menunjukan bahwa; (1) Pengetahuan masyarakat terhadap terumbu karang di Desa Wosi Kecamatan Gane Timur termasuk dalam kriteria cukup yaitu dengan nilai rata-rata 60%; (2) Aktivitas masyarakat terhadap pemanfaatan terumbu karang meliputi; Indikator pemanfaatan terumbu karang sebagai bahan bangunan dan pondasi rumah termasuk dalam kriteria cukup (nilai rata-rata 63%), indikator jual beli terumbu karang termasuk dalam kriteria rendah (52%), dan budidaya terumbu karang termasuk dalam kriteria sangat rendah (3.23%). Sementara pada kriteria skala Likert untuk seluruh indikator pengetahuan dan aktivitas pemanfaatan terumbu karang menunjukkan kriteria sangat tinggi (X 4,531 atau 127.242 4.531 dan X 3,5685 atau 97.742 3.5685).Kata kunci : Antropogenik, Halmahera Selatan, kerusakan, pemanfaatan, terumbu karang