Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PROJECT-BASED LEARNING AND UNITY OF SCIENCE: ENHANCING THE CRITICAL THINKING OF STATE ISLAMIC UNIVERSITY STUDENTS Fitriani, Amalia Dwi; Nasikhin
INTIHA: Islamic Education Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Islamic Education
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam STAI Darul Falah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58988/intiha.v2i3.348

Abstract

This research aims to explore the implementation of Project Based Learning (PjBL) as a teaching method to foster students' critical thinking abilities at State Islamic University. The research method involved interviews with students and educators engaged in project-based learning. The findings indicated that Project Based Learning effectively cultivates students' critical thinking by providing practical experiences, team collaboration, and accountability for their education. The implications of this research highlight the importance of integrating Project Learning into the curriculum at State Islamic University to enhance students' critical thinking skills. It underscores educators' need for training and support to implement this teaching method effectively. Project Based Learning is academically relevant and significantly impacts students' social and professional advancement. Continuous development and adaptation of this approach prepare students to face real-world challenges with high levels of critical thinking and creativity. Implementing Project Learning also has the potential to enhance problem-solving skills, communication abilities, and high adaptability, all of which are highly required in today's job market. This study recommended that other educational institutions adopt the project-based learning method as part of their teaching strategies to produce globally competitive graduates.
Perkembangan Peradaban Islam Indonesia Pada Masa Reformasi Muhammad Auliya Elhakim; Agung Hidayatul Irsyad; Nasikhin; Fihris
KAMALIYAH : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 1 (2023): MEI 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jpai.v1i1.420

Abstract

This qualitative library research explores the role of Islamic civilization in Indonesia during the reformation era. It delves into Indonesia's historical narrative, emphasizing nationalism post-independence. Islam's roots trace back to the 7th century, flourishing in the 13th century. Despite rapid growth since independence, Islam hasn't been declared the nation's official ideology, favoring Pancasila for its pluralistic ethos. Post-reform, Islam's influence is significant, yet diverse Islamic movements emerged, some advocating for Islamic law. These dynamics create sensitivity around Islam, challenging its development amidst issues like representation, blasphemy, and the intersection of religion and politics. Consolidation and alignment of Islamic interests are essential for navigating this complex landscape.
Perkembangan Peradaban Islam Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang Na’imatul Hasanah; Muhammad Yusuf Tsaqif As’ad; Nasikhin; Fihris
KAMALIYAH : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 2 (2023): NOVEMBER 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69698/jpai.v1i2.432

Abstract

Pemerintahan kolonial Jepang di Indonesia berlangsung dari tahun 1942 hingga 17 Agustus 1945. Perubahan yang lebih luas dibawa oleh masuknya Jepang ke Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan Islam digunakan untuk memperkuat posisi pemerintah Jepang melawan ancaman dari sekutu selama penjajahan Jepang. Pengembangan peradaban Islam di Indonesia selama pendudukan Jepang dibahas dalam artikel ini. Studi ini menunjukkan tiga hal menggunakan metode literatur: 1) dinamika kondisi sosial-budaya saat Jepang berada di Indonesia, 2) fungsi sistem pemerintahan, dan 3) strategi peradaban Islam di Indonesia. Sistem politik yang terbentuk, pendekatan yang diambil untuk memberi dakwah kepada umat Islam di bawah pemerintahan kolonial Jepang, dan empat faktor lainnya. 4) Kesulitan yang dihadapi, 5) Pemain kunci dalam peristiwa itu. Kurangnya tema dalam periode peradaban Islam selama pendudukan Jepang membuat studi ini merupakan tambahan penting untuk studi tentang pengajaran Islam di Indonesia.
Konsep Fenomenologi Edmund Husserl dan Relevansinya dalam Konsep Pendidikan Islam Nugraheni, Shofi; Marchela, Dwi Putri; Al Ghozali, Syifa Kamila; Ahya', Muhammad Khoirul; Nasikhin; Junaedi, Mahfud; Martina Roesner
Akhlaqul Karimah: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 2 (2023): Akhlaqul Karimah: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Samodra Ilmu: Lembaga Penelitian, Penerbitan, dan Jurnal Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58353/jak.v2i2.140

Abstract

Edmund Husserl popularized the concept of phenomenology. According to what we know about philosophy, Husserl was a philosopher who had strong opinions about phenomena. When discussing psychology, Husserl's biography is written about Husserl's life story, his writings, and the resources available for higher education. From Husserl's Phenomenological Theory, the evaluation method used is Library Research, which is a term for the type of analysis carried out by collecting data from all available sources. Refers to the books designated as data sources. Phenomenology is a distinct discipline.In the years (1857-1938). Phenomology is a single branch of science that is often called radical, because it is based on assumptions that threaten the integrity of the human body's innate mental processes. Undersucgsuhugen Logik, Iden Zuenier Rainen's "phanomenologie und phanomenologischen" philosophy, and Cartesian Meditations are among the key works that Husserl left behind. Thought and Epoche-Related Writings, Husserl's views on naturalistic psychology, phenomena, and phenomenology as an academic discipline. One of the principles of education, according to Edmund Husserl, is interpersonal communication. Other principles include critical thinking and engaging in activities that cause a person to feel uncomfortable.
Filsafat Pendidikan Al-Ghazali: (Memahami Hakikat Manusia sebagai Pencari Ilmu) Ferri Firmansyah; Nasikhin; Mustopa
Al-Minhaj : Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 2 (2025): Al-Minhaj : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Pascasarjana IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filsafat pendidikan Al-Ghazali dengan fokus pada hakikat manusia sebagai pencari ilmu, serta relevansinya dalam konteks pendidikan modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui analisis literatur terhadap karya-karya Al-Ghazali dan sumber terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ghazali menekankan integrasi ilmu, moralitas, dan spiritualitas dalam pendidikan, di mana pencarian ilmu tidak hanya bersifat intelektual tetapi juga spiritual dan moral. Konsep ini relevan dengan pendidikan modern yang membutuhkan pendekatan holistik untuk membentuk karakter siswa. Dengan demikian, pemikiran Al-Ghazali dapat menjadi landasan dalam pengembangan sistem pendidikan yang seimbang antara aspek akademik dan nilai-nilai moral-spiritual. Kontribusi penelitian ini terletak pada penegasan pentingnya pendekatan pendidikan holistik berbasis nilai-nilai spiritual dan etis dalam kurikulum modern, serta memberikan perspektif filosofis yang dapat memperkaya wacana pendidikan Islam dan praktik pendidikan kontemporer.
Analisis Ideologi Auguste Comte Mengenai Paham Positivisme dan Implementasi Pendidikan Islam Muzaki, Yaskur Agil; Shofa; Masyitoh; Amelia, Dwi Rizqi; Nasikhin; Junaedi, Mahfud
AN-NIBRAAS Vol 2 No 02 (2023): Jurnal An-Nibraas
Publisher : STAI AL AKBAR SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap pemikiran Auguste Comte tentang positivisme dan mencari pemahaman tentang bagaimana pemikiran ini dapat diaplikasikan dalam konteks Islam. Metode penelitian yang kami terapkan adalah metode kepustakaan, yang mengharuskan peneliti untuk secara cermat meneliti dan mengevaluasi sumber-sumber yang relevan dalam literatur yang ada. Hasil analisis dari studi ini mengungkapkan beberapa aspek penting. 1) Menggali biografi Auguste Comte untuk memahami latar belakang dan perkembangan pemikirannya. 2) Mengeksplorasi pemikiran filsafat positivisme yang digagas oleh Comte, yang menekankan pentingnya metode ilmiah dan pengamatan empiris dalam memahami dunia. 3) Membahas kontribusi pemikiran positivisme Auguste Comte dan mencoba menerapkannya dalam konteks Islam, mencari titik-titik persamaan dan perbedaan yang mungkin muncul. Dengan demikian, studi ini berusaha menghubungkan antara pemikiran Comte yang bersifat sekuler dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam Islam, untuk merangsang diskusi dan pemikiran lebih lanjut tentang potensi penerapan positivisme dalam konteks agama. Kata Kunci: Ideologi Auguste Comte, Positivisme, Implementasi.
Pendidikan Agama Untuk Lansia di Era Digital: Refleksi An -Nahl 70 dan Pemikiran Paulo Freire Sadiyah, Kholif; Nasikhin; Fihris
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 3 No 2 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v3i2.1080

Abstract

Transformasi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan ilmu pengetahuan, termasuk dalam kategori pendidikan agama. Lansia, sebagai generasi yang sering terpinggirkan dalam arus digitalisasi, memerlukan pendidikan khusus agar tetap terlibat dalam proses pembelajaran spiritual. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi dan pendekatan pendidikan yang membebaskan. Dengan menggunakan metode kajian pustaka, studi ini menelaah literatur tafsir Al-Qur’an dan pemikiran pedagogis kritis Paulo Freire. Hasil kajian menunjukan bahwa QS. An-Nahl: 70 mengandung pesan mendalam tentang kondisi lansia yang mengalami kemunduran fisik dan mental sebagai bagian sunnatullah, namun tetap memiliki potensi spiritual yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu, pendidikan agama bagi lansia di era digital perlu dirancang dengan pendekatan interaktif, empatik, dan berbasis teknologi yang mudah diakses. Kajian ini menegaskan pentingnya merancang model pendidikan agama yang memadukan nilai-nilai Qur’ani dengan prinsip emansipatoris.
Integrasi Neurosains dan Konsep Tazkiyatun Nafs Dalam Pendidikan Anak: Perspektif QS. Al-Hujurat 12-13 Tsabita Rizqi Nabilatun Nisa’; Nasikhin; Bisri, Kasan
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 3 No 2 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v3i2.1096

Abstract

Penelitian ini mengkaji integrasi antara neurosains dan konsep tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dalam Pendidikan anak berdasarkan QS. Al-Hujurat 12-13. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tahapan perkembangan struktur otak anak dengan proses tazkiyatun nafs, serta merumuskan model Pendidikan anak yang integratif. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan kajian pustaka, menganalisis 25-30 sumber akademik yang berkaitan dengan neurosains dan konsep tazkiyatun nafs. Hasil penelitian menunjukan bahwa masa anak-anak (0-7 tahun) merupakan fase terpenting untuk menciptakan pengendalian emosi dan empati yang baik, tentunya selaras dengan tujuan spiritual tazkiyatun nafs. Integrasi prinsip neurosains  dengan nilai-nilai Islam mampu memperkuat pembentukan karakter yang holistik. Model yang diusulkan mencakup 3 pokok utama: penguatan spiritual, stimulasi kognitif, dan keteladanan emosional. Sinergi ini mampu menjembatani perkembangan neuropsikologis dengan etika Islam, dengan menawarkan kerangka Pendidikan anak yang seimbang dalam segala aspek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa integrasi ini mampu menjawab tantangan Pendidikan modern sekaligus mewujudkan visi Islam insan kamil.
The Establishment Of Indonesian Islamic Parties Post Independence Muchamad Ifan Maulana; Iin Wahyu Mahmuda; Nasikhin; Fihris; pengelola, pengelola
Tasyri` : Jurnal Tarbiyah-Syari`ah-Islamiyah Vol. 30 No. 02 (2023): Oktober 2023
Publisher : LPPM STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/tasyri.v30i02.348

Abstract

Towards Indonesia's independence, the Islamic leaders at that time were not concerned with the establishment of a state based on Islam, but the most important thing was Indonesian independence. This was because the thoughts of the Islamic leaders at that time were based on the population of the Indonesian people who were mostly Muslim, according to which the majority Muslim population would certainly form an Indonesian state based on Islam and a Muslim government. In other words the thinking at that time was that after independence Indonesia would automatically become a country based on Islam.' Another thing that has become an obstacle in the establishment of an Islamic state is that in the historical arena of Muslims, the ideal to establish an Indonesian state based on Islam is not an easy thing to realize. This is due not only to the challenges emanating from the Islamic parties themselves, but also the emergence of secular national parties which have become an obstacle.
The Transformation of Husbands' Roles in Indonesian Migrant Worker Families and the Implications for Children's Islamic Education Umar, A.; Astuti, Nita Yuli; Nasikhin
Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah Vol 11 No 1 (2026): Tadris: Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/tadris.v11i1.29745

Abstract

This study explores how husbands fulfil marital responsibilities in Indonesian migrant worker (PMI) families and examines the implications for children’s Islamic education. Using a qualitative approach with a narrative inquiry design, data were collected through in-depth interviews with five PMI husbands (TS1–TS5), their wives (W1–W5), and one focal child from each household (C1–C5). Data credibility was strengthened through source triangulation across family members, field notes, and member checking. Data analysis followed the Miles and Huberman interactive model. The findings indicate a selective reconfiguration of husbands’ roles: direct financial provision to wives, emotional support, and a sense of protection are generally weak, while husbands remain central as household financial managers who administer remittances and allocate resources to meet children’s needs. Within this role configuration, children’s Islamic education tends to emphasize discipline, independence, responsibility, simplicity, and prudent resource management, alongside awareness of mothers’ sacrifices. However, limited spousal emotional engagement constrains the transmission of affective and relational dimensions of Islamic education, risking an approach that becomes more normative-functional than holistic and spiritually grounded. This study contributes to debates on gender, family responsibility, and religious education in transnational contexts by foregrounding the multi-voiced dynamics within migrant worker families and offering implications for family-based Islamic education that is responsive to social and emotional realities.