Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pancasila dan Tantangan Arus Individualisme Global: Benteng Atau Sekedar Simbol Saragih, Erizca Amanda; Sianipar, Revalina Angelila; Lubis, Dea Larasati; Ginting, Sella Enzelika Br.; Sitanggang, Santa Margaretha; Setiawan, Anugrah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7594

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan arus individualisme global terhadap eksistensi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan identitas nasional Indonesia, serta merumuskan strategi revitalisasi yang relevan di era digital. Globalisasi yang disertai dengan perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola pikir dan perilaku masyarakat, khususnya dengan menguatnya nilai kebebasan individu yang sering kali mengabaikan kepentingan kolektif. Fenomena ini menciptakan ketegangan mendasar antara nilai-nilai individualisme yang dibawa arus globalisasi dengan prinsip-prinsip Pancasila yang mengutamakan kebersamaan, gotong royong, dan keadilan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research), yang mengkaji berbagai sumber ilmiah terkait globalisasi, individualisme, pendidikan karakter, serta implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan sosial. Data sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah nasional dan internasional, buku akademik, serta publikasi ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa arus individualisme global berkontribusi terhadap erosi identitas nasional, meningkatnya sikap apatis, serta menurunnya solidaritas sosial yang bertentangan dengan prinsip gotong royong sebagai nilai utama Pancasila. Selain itu, penetrasi teknologi digital mempercepat kaburnya batas nilai budaya, sehingga Pancasila berisiko mengalami pergeseran fungsi dari pedoman hidup menjadi sekadar simbol formal. Oleh karena itu, diperlukan strategi revitalisasi yang komprehensif melalui penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila, peningkatan literasi digital, serta keteladanan dari pemimpin dan tokoh masyarakat. Dengan demikian, Pancasila dapat tetap berperan sebagai filter budaya yang efektif dan benteng yang kokoh dalam menghadapi derasnya arus individualisme global.
Analisis Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Siswa di Lingkungan Sekolah Nadia, Sarah; Rambe, Nadia Fitriani; Siregar, Yulia Armaini; Pasha, Nazwa; Oktania, Saiba; Setiawan, Anugrah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7705

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan siswa di sekolah dasar serta menganalisis peran budaya sekolah dalam mendukung pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang dilaksanakan di SDN 104203 Kabupaten Deli Serdang. Subjek penelitian adalah guru wali kelas IV yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model analisis interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila telah berjalan dengan baik melalui pembiasaan dan integrasi dalam kegiatan sehari-hari siswa, seperti kegiatan keagamaan, penghormatan terhadap simbol negara, gotong royong, serta pembelajaran yang bersifat demokratis. Internalisasi nilai-nilai tersebut tidak hanya bersifat konseptual, tetapi telah menjadi budaya sekolah yang terintegrasi. Peran guru sebagai teladan, fasilitator, dan penguat sangat berpengaruh dalam membentuk karakter siswa. Selain itu, keterlibatan seluruh warga sekolah dan konsistensi dalam pelaksanaan kegiatan menjadi faktor pendukung utama keberhasilan pendidikan karakter berbasis Pancasila. Meskipun demikian, masih ditemukan kendala berupa inkonsistensi perilaku siswa, sehingga diperlukan upaya pembinaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila melalui pembiasaan dan budaya sekolah yang konsisten merupakan strategi efektif dalam membentuk karakter siswa yang religius, disiplin, bertanggung jawab, peduli, serta memiliki rasa nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.  
Peran Pendidikan Pancasila dalam Membentuk Karakter Bangsa di Era Globalisasi Setiawan, Anugrah; Manik, Gracia Cerilya Putri; Sinuhaji, Desmalia Febrina; Pohan, Sri Juliani; Aulia, Yesika; Khadijah, Sevvi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37392

Abstract

Globalisasi membawa perubahan signifikan terhadap kehidupan masyarakat yang berdampak pada pergeseran nilai dan karakter bangsa, khususnya pada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Pendidikan Pancasila dalam membentuk karakter bangsa di era globalisasi serta mengidentifikasi tantangan dan strategi penguatannya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur terhadap berbagai jurnal ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa melalui internalisasi nilai-nilai moral, nasionalisme, sosial, demokrasi, kemampuan kritis, dan integritas diri. Globalisasi memberikan tantangan berupa degradasi moral, lunturnya identitas nasional, serta meningkatnya individualisme yang mempengaruhi pembentukan karakter generasi muda. Implementasi Pendidikan Pancasila masih menghadapi kendala pada aspek pembelajaran yang cenderung teoritis dan kurang kontekstual. Penguatan Pendidikan Pancasila perlu dilakukan melalui pendekatan holistik, integrasi nilai dalam kurikulum, pembelajaran berbasis pengalaman, serta penguatan literasi digital.
Designing an Authentic Assessment-Based Non-Test Evaluation Model for Assessing Cognitive and Social Growth of Children with Special Needs Machmud, Muhammad Takwin; Manjani, Nurhudayah; Setiawan, Anugrah; Mukhlisa, Nurul; Zulfitrah, Zulfitrah; Pansri, Omthajit; Afifah, Fadjaryah; Sitepu, Jenneri Arbinto Toraja
PAEDAGOGIA Vol 29, No 1 (2026): PAEDAGOGIA Jilid 29 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/paedagogia.v29i1.109764

Abstract

Children with special needs face unique challenges in learning and assessment, and traditional test-based methods often fail to capture their full cognitive and social abilities. This research aims to design and validate a non-test evaluation model based on authentic assessment principles to measure the cognitive and social development of children with special needs. Using a Research and Development (R&D) approach guided by Richey and Klein’s model, the study proceeded through three phases: model development, expert validation, and implementation. Data were collected through expert validation sheets and perception questionnaires involving teachers, therapists, and parents, analyzed both qualitatively and quantitatively. The validation results showed that the developed model achieved a “very valid” category across all indicators, demonstrating strong theoretical grounding, practical relevance, and contextual suitability. Respondent perceptions were predominantly positive, with 80% agreeing on the model’s clarity, usefulness, and applicability in inclusive educational settings. The model effectively integrates real-life contexts and interdisciplinary collaboration, providing a holistic framework for assessing both cognitive and social growth. In conclusion, this authentic, non-test-based model offers a practical and inclusive alternative for evaluating children with special needs, bridging the gap between assessment theory and classroom practice.