Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Formula Jamu Antihipertensi and captopril are equally effective in patients with hypertension Hussaana, Atina; Sarosa, Hadi; Indrayani, Ulfah Dian; Chodidjah, Chodidjah; Widiyanto, Bagas; Pertiwi, Danis
Universa Medicina Vol 35, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2016.v35.81-88

Abstract

BACKGROUNDHypertension is the main cause of morbidity and mortality associated with cardiovascular diseases. Many herbs/spices appear to have significant effects in favorably modulating high blood pressure. A jamu formulation containing 6 plant extracts, Formula Jamu Antihipertensi (FJA), has been described previously. This research study aimed to evaluate the effect of FJA as antihypertensive agent in mild to moderate hypertensive patients. METHODSThis double-blind experimental study was conducted in 40 hypertensive patients, who were randomized into two groups. The first group was treated with oral administration of 2 g FJA and the second group 25 mg captopril daily for 4 weeks. Systolic and diastolic blood pressure as well as liver and kidney function were followed up every week. Independent- t test and two-way ANOVA were used to analyze the data with a level of significance of 0.05.RESULTSThe results showed that after the treatment, FJA and captopril were capable of significantly decreasing systolic and diastolic blood pressure (p <0.05). The decrease in systolic blood pressure between the two groups was identical (p>0.05), while the decrease in diastolic blood pressure was greater in the FJA group than in the captopril group (p <0.05). CONCLUSIONFrom this study it may be concluded that administration of FJA for 4 weeks is equally effective as captopril in reducing systolic and diastolic blood pressure in patients with mild and moderate hypertension. Thus, natural plants and herbs can be our source of drugs, with fewer side effects and better bioavailability for treatment of hypertension in the future.
TNF-α-ACTIVATED MSC-CM TOPICAL GEL EFFECTIVE IN INCREASING PDGF LEVEL, FIBROBLAST DENSITY, AND WOUND HEALING PROCESS COMPARED TO SUBCUTANEOUS INJECTION COMBINATION Kuntardjo, Novalia; Dharmana, Edi; Chodidjah, Chodidjah; Nasihun, Taufiq R; Putra, Agung
Majalah Kedokteran Bandung Vol 51, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v51n1.1479

Abstract

Mesenchymal stem cells (MSCs) are multipotent stromal cells that have the capacity to regenerate tissue damage. However, they have several limitations. MSC-CM as a new approach treatment is widely used to solve the limitation of MSC in wound healing. The aim of this study was to evaluate the effectiveness of TNF-?-activated MSC-CM topical gel compare to topical-subcutaneous injection combination on wound healing acceleration. This study was conducted between April and August 2018 at the Stem Cell and Cancer Research Laboratory (SCCR), Faculty of Medicine, Sultan Agung Islamic University, Semarang. Experimental post-test only control group design was performed by involving 36 animal models randomly divided into six groups; T1, T2 (MSC-CM in topical gel 100 ?L; 200 ?L); ST1, ST2 (MSC-CM in subcutaneous injection : topical gel = 80 ?L:20 ?L; 160 ?L:40 ?L); CT (200 ?L medium free TNF-?); CST (PBS in subcutaneous injection : topical gel = 160 ?L :40 ?L). The measurement of PDGF level on day 3 and 6 was conducted using ELISA assay while the fibroblast density was analyzed by light microcopy. It was found that there was was a significant increase in PDGF and fibroblast density on day 6 in the topical group when compared to the combination group (p<0,05). It is concluded that the MSC-CM topical gel is more effective than combination of topical-subcutaneous injection.Key words: Combination, fibroblast, MSC-CM, PDGF, subcutaneous MSC-CM, topical MSC-CM MSC-CM Topikal yang diaktivasi TNF-? Efektif Dalam Peningkatan Level PDGF, Densitas Fibroblast, dan Mempercepat Penyembuhan Luka dibanding dengan Kombinasi Injeksi SubkutanMesenchymal stem cells (MSCs) merupakan sel stroma multipoten yang memiliki kemampuan untuk meregenerasi kerusakan jaringan. Namun, MSC memiliki beberapa keterbatasan. MSC-CM sebagai terapi pendekatan baru digunakan untuk mengatasi keterbatasan MSC dalam penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah menilai efektivitas MSC-CM topikal yang diaktvasi TNF-? dibandingdengan kombinasi topikal-injeksi subkutan pada percepatan penyembuhan luka. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April?Agustus 2018 di Laboratorium Stem Cell and Cancer Research (SCCR), Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Penelitian menggunakan eksperimen laboratorium dengan rancangan post-test only control group, menggunakan 36 tikus galur wistar yang dibagi secara acak menjadi 6 kelompok; T1, T2 (MSC-CM gel topikal 100?L; 200?L); ST1, ST2 (MSC-CM injeksi subkutan : gel topikal = 80 ?L:20 ?L; 160 ?L:40 ?L); CT (200 ?L medium tanpa TNF-?); CST (PBS injeksi subkutan: gel topikal = 160 ?L :40 ?L). Pengukuran kadar PDGF pada hari ke-3 dan ke-6 mengunakan ELISA, sedangkan jumlah fibroblas dilihat mengunakan mikroskop cahaya. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan kadar PDGF dan jumlah fibroblas yang signifikan dihari ke-6 pada MSC-CM gel topikal dibanding dengan kombinasi topical-injeksi subukutan (p <0.05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian MSC-CM secara topical lebih efektif dibanding dengan kombinasi topikal-injeksi subkutan.Kata kunci: Fibroblas, konditional medium, MSC-CM kombinasi, MSC-CM topikal, PDGF
ASPEK IMUNOLOGIK PADA KANKER PROSTAT - Chodidjah
Majalah Ilmiah Sultan Agung Vol 44, No 118 (2009): Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung, Juni - Agustus 2009
Publisher : Majalah Ilmiah Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker prostat merupakan kanker yang berkembang pada kelenjar prostat yang terdapat pada sistem reproduksi laki- laki. Ini terjadi bila sel – sel prostat mengalami mutasi dan mulai memperbanyak diri diluar kontrol. Kejadian kanker prostat sangat luas di seluruh dunia, walaupun dengan presentasi yang berbeda- beda pada tiap negara Penyebab spesifik kanker prostat masih belum diketahui dengan pasti. Pria yang mempunyai risiko untuk terjadinya kanker prostat adalah usia, genetik, ras, dan lain – lain. Faktor utama adalah usia. Perkembangan kelenjar prostat dipengaruhi oleh hormon androgen. Gejala klinik penderita kanker prostat stadium lanjut adalah nyeri, susah buang air kecil, problem saat mengadakan hubungan seks, disfungsi ereksi. Pada stadium awal tidak terdapat gejala klinik. Penyebaran kanker prostat dapat melalui limfe dan aliran darah. Kadar PSA (Prostat Spesific Antigen ) yang meningkat, colok dubur, Ultrasonografi transrectal, pemeriksaan patologik bermanfaat untuk diagnosa kanker prostat. Sel kanker mempunyai mekanisme untuk menghindarkan diri dari imunitas non spesifik dan spesifik. Beberapa growth factor yaitu TGF α, EGF, basic fibroblast growth factor, keratinocyte growth factor dan insulin growth factor merangsang pertumbuhan sel – sel epitel kelenjar prostat. TGFβ menghambat pertumbuhan sel – sel epitel kelenjar prostat. Pada kanker prostat stadium lanjut yang resisten terhadap pengobatan, terdapat sinyal transduksi anti apoptotik. Kata kunci: kanker prostat, sistem imun 
PENGARUH PEMBERIAN TIMBAL (Pb) PER ORAL TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR Studi Eksperimental Laboratorik Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar Agus Suprijono; - Chodidjah; Shaher Banun
Majalah Ilmiah Sultan Agung Vol 50, No 126 (2012): Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung,Des 2011-Feb 2012
Publisher : Majalah Ilmiah Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lead (Pb) is a highly toxic heavy metal which is of no use to the human body, and can accumulated in the body. The main sources of lead pollution are automobile exhaust, and contaminated food and drink. Toxic effects of lead may cause hypertension and ischemia in Heart muscle. This study aimed to investigate the effect of administration lead (Pb) orally on histopathological feature of the liver.An experimental research with a randomized control group post test design was conducted for 14 days. In this study, 25 male wistar strain rats were randomly divided into five groups to receive one of following treatment :  standard diet and distilled water (K-I as control group), K-ll be given a standard diet, distilled water and 2,5 mg of lead (Pb)/ day per oral, K-III was given a standard diet, distilled water and 5 mg of lead (Pb)/ day per oral, K-IV was given a standard diet, distilled water and 7,5 mg of lead (Pb)/ day per oral  and K-IV given a standard diet, distilled water and 10 mg of lead (Pb)/ day per oral. Wet fixation methods and histopathological examination of liver were conducted after day 14. Data were analyzed with Kruskal Wallis test and continued by Mann Whitney U test to show the significancy.Results showed significanly no damage to Liver cells group I,II,III,and IV but show significantly on the fifth group. This study conclude that administration of lead (Pb) orally by 10 mg doses affect on the histopathological feature of the Liver of male wistar strain rats.Keywords: Lead (Pb), histopathological feature of the liver
PENGARUH PEMBERIAN TIMBAL (Pb) PER ORAL TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR Studi Eksperimental Laboratorik Pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar Agus Suprijono; - Chodidjah; Shaher Banun
Majalah Ilmiah Sultan Agung Vol 49, No 123 (2011): Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung, Maret - Mei 2011
Publisher : Majalah Ilmiah Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lead (Pb) is a highly toxic heavy metal which is of no use to the human body, and can accumulated in the body. The main sources of lead pollution are automobile exhaust, and contaminated food and drink. Toxic effects of lead may cause hypertension and ischemia in Heart muscle. This study aimed to investigate the effect of administration lead (Pb) orally on histopathological feature of the liver. An experimental research with a randomized control group post test design was conducted for 14 days. In this study, 25 male wistar strain rats were randomly divided into five groups to receive one of following treatment : standard diet and distilled water (K-I as control group), K-ll be given a standard diet, distilled water and 2,5 mg of lead (Pb)/ day per oral, K-III was given a standard diet, distilled water and 5 mg of lead (Pb)/ day per oral, K-IV was given a standard diet, distilled water and 7,5 mg of lead (Pb)/ day per oral and K-IV given a standard diet, distilled water and 10 mg of lead (Pb)/day per oral. Wet fixation methods and histopathological examination of liver were conducted after day 14. Data were analyzed with Kruskal Wallis test and continued by Mann Whitney U test to show the significancy. Results showed significanly no damage to Liver cells group I,II,III,and IV but show significantly on the fifth group. This study conclude that administration of lead (Pb) orally by 10 mg doses affect on the histopathological feature of the Liver of male wistar strain rats.Keywords: Lead (Pb), histopathological feature of the liver.ABSTRAKPolusi logam berat termasuk plumbum merupakan masalah yang serius di negara-negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia. Pemaparan plumbum dapat melalui saluran pernafasan, pencernaan dan permukaan kulit, dan di dalam tubuh plumbum akan terakumulasi pada jaringan keras maupun lunak. Pemaparan terhadap plumbum secaraberulang-ulang akan meningkatkan konsentrasinya dalam tubuh dan menimbulkan kerusakan organ. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efek pemaparan timbal yang diberikan dalam dosis bertingkat terhadap kerusakan organ hati. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan post test randomized control group design ini dilakukan selama 14 hari dengan menggunakan 25 ekor tikus putih jantan galur wistar dibagi dalam 5 kelompok uji secara random. Kelompok 1 sebagai kelompok kontrol (pakan standar dan aquades), Kelompok 2 diberi pakan standar, aquades dan timbal 2,5 mg Pb/hari per oral, Kelompok 3 diberi pakan standar,aquades dan timbal 5 mg Pb/hari per oral, Kelompok 4 diberi pakan standar, aquades dan timbal 7,5 mg Pb/hari per oral, dan Kelompok 5diberi pakan standar, aquades dan timbal 10 mg Pb/hari per oral. Pemotongan basah dan pemeriksaan histopatologi hepar dilakukan setelah hari ke 14 Kemudian data diolah menggunakan uji Kruskal Wallish dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney U.untuk melihat signifikansinya . Hasil penelitian menunjukkan setelah perlakuan didapatkan kerusakan sel hepar yang tidak bermakna pada kelompok 1,2,3,4 tetapi menunjukan kerusakan sel yang bermakna pada kelompok 5. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian timbal (Pb) dosis10 mg per oral berpengaruh terhadap gambaran histopatologi hepar tikus putih jantan galur wistar.Kata kunci: Timbal, gambaran histopatologi hepar
KANKER PARU MERUPAKAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA EFUSI PLEURA DI RUMAH SAKIT Dr. MOEWARDI SURAKARTA Agus Suprijono; - Chodidjah; Agung Tri Cahyono
Majalah Ilmiah Sultan Agung Vol 50, No 126 (2012): Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung,Des 2011-Feb 2012
Publisher : Majalah Ilmiah Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Insiden kanker paru meningkat di seluruh dunia, angka kematian akibat kanker paru meningkat dengan cepat. Kanker paru telah diketahui dapat menyebabkan efusi pleura. Efusi pleura pada penyakit keganasan biasanya mempunyai prognosis yang buruk, dengan harapan hidup kurang dari satu tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kanker paru merupakan faktor risiko terjadinya efusi pleura di Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta periode 1 Januari – 31 Desember 2007.Sampel pada penelitian ini adalah pasien rawat inap pemyakit paru di bangsal paru di rumah sakit Dr. Moewardi Surakarta, periode 1 Januari 2007-31 Desember 2007 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 1264 orang. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Data yang diambil berupa data sekunder dari catatan medik pasien rawat inap penyakit paru di rumah sakit Dr. Moewardi Surakarta. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik rasio prevalensi.            Pada penelitian ini, didapatkan 1264 sampel yang memenuhi kriteria, dikelompokkan menjadi 2 yaitu penderita kanker paru berjumlah 152 orang dengan 114 orang mengalami efusi pleura dan 38 pasien tidak mengalami efusi pleura, sedangkan kelompok bukan penderita kanker paru berjumlah 1112 orang dengan 93 pasien mengalami efusi pleura dan 1019 pasien tidak mengalami efusi pleura. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistik rasio prevalensi, dari hasil perhitungan didapatkan nilai RP 11,25 sedangkan IK95% antara 1,057 sampai 1,187 selalu diatas 1.            Berdasarkan uji statistik rasio prevalensi dapat disimpulkan bahwa  kanker paru merupakan faktor risiko terjadinya efusi pleura, dimana risiko terjadinya efusi pleura 11,25 kali lebih besar pada penderita kanker paru.* kata kunci : kanker paru, efusi pleura
KANKER PARU MERUPAKAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA EFUSI PLEURA DI RUMAH SAKIT Dr. MOEWARDI SURAKARTA Agus Suprijono; - Chodidjah; Agung Tri Cahyono
Majalah Ilmiah Sultan Agung Vol 49, No 123 (2011): Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung, Maret - Mei 2011
Publisher : Majalah Ilmiah Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Insiden kanker paru meningkat di seluruh dunia, angka kematian akibatkanker paru meningkat dengan cepat. Kanker paru telah diketahui dapatmenyebabkan efusi pleura. Efusi pleura pada penyakit keganasan biasanyamempunyai prognosis yang buruk, dengan harapan hidup kurang dari satu tahun.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kanker paru merupakan faktorrisiko terjadinya efusi pleura di Rumah Sakit Dr. Moewardi, Surakarta periode 1Januari – 31 Desember 2007.Sampel pada penelitian ini adalah pasien rawat inap pemyakit paru dibangsal paru di rumah sakit Dr. Moewardi Surakarta, periode 1 Januari 2007-31Desember 2007 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 1264orang. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasional denganpendekatan cross sectional. Data yang diambil berupa data sekunder dari catatanmedik pasien rawat inap penyakit paru di rumah sakit Dr. Moewardi Surakarta.Analisis data yang digunakan adalah uji statistik rasio prevalensi.Pada penelitian ini, didapatkan 1264 sampel yang memenuhi kriteria,dikelompokkan menjadi 2 yaitu penderita kanker paru berjumlah 152 orangdengan 114 orang mengalami efusi pleura dan 38 pasien tidak mengalami efusipleura, sedangkan kelompok bukan penderita kanker paru berjumlah 1112 orangdengan 93 pasien mengalami efusi pleura dan 1019 pasien tidak mengalami efusipleura. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistik rasio prevalensi, darihasil perhitungan didapatkan nilai RP 11,25 sedangkan IK95% antara 1,057sampai 1,187 selalu diatas 1.Berdasarkan uji statistik rasio prevalensi dapat disimpulkan bahwa kankerparu merupakan faktor risiko terjadinya efusi pleura, dimana risiko terjadinyaefusi pleura 11,25 kali lebih besar pada penderita kanker paru.* kata kunci : kanker paru, efusi pleura
A EFFECT OF STRENUOUS PHYSICAL ACTIVITY ON THE SUM OF LEUKOCYTES IN WISTAR STRAIN MALE MICE : A EFFECT OF STRENUOUS PHYSICAL ACTIVITY ON THE SUM OF LEUKOCYTES IN WISTAR STRAIN MALE MICE Annisa Nurul Hikmah; Chodidjah Chodidjah; Nur Anna Chalimah Sadyah
Jurnal Litbang Edusaintech Vol. 1 No. 1 (2020): Volume 1 No 1 2020
Publisher : Litbang PWM Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51402/jle.v1i1.1

Abstract

This research aims to determine the effect of strenuous physical activity on the sum of leukocytes. The study used experimentally with the posttest only control group design approach. The study subjects of 10 male mice were randomly divided into two groups. The control group was not given heavy physical activity and the treatment group was given heavy physical activity. On the 27th day of blood retrieval for an examination of the sum of leukocytes in the Integrated Biomedical Laboratory, in July-August 2020. The mean on the sum of leukocytes increased in the treatment group compared to the control group. The Mann Whitney test showed that the sum of leukocytes in the control group was significantly different from the treatment group with a value of p = 0.009 (p <0.05). More research is needed on strenuous physical activity in IL-6 levels and calculates leukocytes as one of the study boosters. This research can be used as a reference in the control of the immune system of the body.
Pengaruh Pemberian N-Acetylcystein Terhadap Kadar Hormon Testosteron pada Hiperkolesterolemia Nenik Faozah; Taufiqurrachman Nasihun; Chodidjah Chodidjah; Titiek Sumarawati; Danis Pertiwi; Joko Wahyu Widodo
Jurnal Litbang Edusaintech Vol. 2 No. 1 (2021): Volume 2 No 1 2021
Publisher : Litbang PWM Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51402/jle.v2i1.35

Abstract

Hiperkolesterolemia mengakibatkan terjadinya peningkatan produksi ROS yang menimbulkan stress oksidatif dengan peningkatan Lipid Peroksidase (LPO) yang menyebabkan infertilitas dengan penurunan kadar testoteron. Kondisi ini dapat dinetralkan dengan mengkonsumsi antioksidan dari luar tubuh seperti N-Acetylcysteine (NAC). Untuk mengetahui pengaruh pemberian NAC terhadap hormon testoteron yang diberi diet tinggi kolesterol. Penelitian ekperimental dengan pendekatan post test only control group design. Subyek penelitian berjumlah 24 ekor tikus jantan galur sparague dawley yang dibagi secara acak menjadi 4 kelompok. Kelompok K1 tanpa pemberian NAC dan diet tinggi kolesterol. Kelompok K2 tanpa pemberian NAC namun diberi diet tinggi kolesterol. Kelompok K3 dan K4 diberi diet tinggi kolesterol dan NAC masing-masing dengan dosis 3,14 mg/ml dan 6,3 mg/ml. Hari ke 25 dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan kadar testoteron di IBL FK UNISSULA pada November - Desember 2020. Uji One Way Anova menunjukkan perbedaan bermakna pada kadar testoteron menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,021). Hasil uji Post Hoc Tukey kadar testoteron pada K1 dan K4 menunjukkan perbedaan signifikan terhadap K2 (p<0,05). Pemberian NAC menunjukan secara bermakna dapat meningkatkan kadar hormon testoteron yang diberi diet tinggi kolesterol.
Pengaruh Ekstrak Propolis (Metode CMCE) Terhadap Kadar Malondialdehid (MDA) Dan Degenerasi Tubulus Renalis Alamsyah Alamsyah; Shofa Chaasani; Joko Wahyu Widodo; Taufiqurrachman Nasihu; Chodidjah Chodidjah; Titiek Sumarawati
Jurnal Litbang Edusaintech Vol. 2 No. 1 (2021): Volume 2 No 1 2021
Publisher : Litbang PWM Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51402/jle.v2i1.36

Abstract

Gangguan ginjal akut (GnGA) merupakan suatu keadaan dimana proses laju filtrasi glomerulus ginjal menurun secara cepat yang menyebabkan retensi nitrogen terutama kreatinin dan blood urea nitrogen (BUN). Kondisi ini dapat dinetralkan dengan mengkonsumsi antioksidan dari luar tubuh seperti Propolis (metode CMCE). Untuk mengetahui pengaruh ekstrak propolis (metode CMCE) terhadap kadar MDA dan degenerasi tubulus renalis. Penelitian ekperimental dengan pendekatan post test only control group design. Subyek penelitian berjumlah 25 ekor tikus jantan galur wistar yang dibagi secara acak menjadi 5 kelompok. Kelompok K1 tanpa diinduksi gentamisin. Kelompok K2 diinduksi gentamisin dan tanpa diberi ekstrak propolis metode CMCE. Kelompok P1, P2 dan P3 diinduksi gentamisin dan ekstrak propolis metode CMCE masing-masing dengan dosis 200, 400, 800 mg/k, BB per hari per oral selama 7 hari. pemeriksaan kadar Malondialdehid (MDA) di IBL FK UNISSULA dan pemeriksaan degenerasi tubulus renalis di RSI Sultan Agung Semarang pada Maret - Juli 2020. Uji One Way Anova menunjukkan perbedaan bermakna pada kadar MDA dan degenerasi tubulus renalis menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05). Pemberian ekstrak propolis metode CMCE menunjukan berpengaruh secara signifikan terhadap kadar MDA dan skor total degenerasi tubulus renalis yang diinduksi gentamisin.