Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Penerapan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) pada Kasus Gagal Produk Minuman Sari Buah Kemasan (Jus Jeruk): Studi Kasus Pembengkakan Kemasan Akibat Fermentasi tidak Diinginkan Nazwa Khaerul Nissa; Reihana Fitri Aulia; Youci Andriyani; Nova Alvia; Ganissa Azzahra; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25220

Abstract

Minuman sari buah kemasan (jus jeruk) merupakan produk pangan yang rentan mengalami kerusakan akibat aktivitas mikroorganisme, khususnya yeast (khamir). Kegagalan produk berupa pembengkakan kemasan (swelling) sering terjadi akibat lemahnya penerapan sanitasi peralatan dan proses pasteurisasi yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyusun sistem HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) secara menyeluruh pada proses produksi minuman sari buah jeruk sebagai studi kasus gagal produk di industri pangan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif, mengacu pada 7 prinsip HACCP dan 12 langkah implementasinya sesuai Codex Alimentarius. Hasil analisis menunjukkan terdapat tiga titik kendali kritis (CCP) yang menjadi sumber kontaminasi utama, yaitu tahap pasteurisasi, pengisian (filling), dan penyegelan kemasan. Penerapan HACCP secara sistematis terbukti mampu mengidentifikasi bahaya, menetapkan batas kritis, serta merancang prosedur koreksi dan verifikasi yang efektif untuk mencegah kerusakan produk. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya implementasi HACCP sebagai sistem manajemen keamanan pangan dalam industri minuman untuk menjamin keselamatan konsumen dan kualitas produk.
Analisis Kegagalan Keamanan Pangan dan Redesain Sistem HACCP pada Produk Susu UHT yang Mengalami Kerusakan Kemasan dan Kontaminasi Bakteri Mutiara Az-zhari Wijaya; Afwina Aulia Sapitri; Siti Dwi Septiani; Cinta Andani; Hafidh Alauddin Robbani; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25378

Abstract

Susu Ultra High Temperature (UHT) memiliki risiko kegagalan keamanan pangan apabila terjadi kerusakan kemasan maupun kontaminasi bakteri pembusuk seperti Bacillus cereus. Kerusakan kemasan menunjukkan masih lemahnya sistem pengawasan mutu di industri pengolahan susu sehingga diperlukan penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang lebih ketat, khususnya dalam penetapan Titik Kendali Kritis (Critical Control Point/CCP). Penerapan HACCP yang efektif mampu menurunkan tingkat risiko bahaya dari kategori ekstrem menjadi lebih aman dan terkendali sehingga dapat menjamin keamanan pangan, mengurangi potensi kerugian finansial akibat penarikan produk, serta menjaga konsistensi mutu produk susu UHT. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab kegagalan keamanan pangan pada produk susu UHT serta merancang ulang sistem HACCP yang lebih efektif dalam mengendalikan bahaya keamanan pangan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur (literature review) melalui penelusuran berbagai sumber pustaka dari Google Scholar dan jurnal terakreditasi yang berkaitan dengan kegagalan sistem keamanan pangan dan penerapan HACCP pada industri susu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan keamanan pangan pada susu UHT dipengaruhi oleh kelemahan integritas kemasan, ketidaksesuaian Good Manufacturing Practices (GMP), lemahnya implementasi Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP), serta kurang optimalnya monitoring titik kendali kritis. Redesain sistem HACCP dilakukan melalui penguatan program prasyarat, penambahan CCP pada tahap pengemasan aseptik, penetapan batas kritis yang tervalidasi, sistem monitoring terstandar, serta tindakan koreksi dan verifikasi yang lebih komprehensif. Penerapan sistem HACCP yang terintegrasi diharapkan mampu meningkatkan keamanan pangan, menjaga mutu produk susu UHT, mengurangi risiko kontaminasi bakteri, dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk pangan olahan.
Analisis Kegagalan Produk Bakso Sapi Akibat Kontaminasi Mikrobiologi Menggunakan Pendekatan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Nurul Alfiah; Reva Aprila; Fazhira Syaffa Alexandra; Anisa Safira Azzahra; Nadiyah Rahman; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25406

Abstract

Bakso sapi merupakan produk olahan daging yang memiliki kandungan protein dan kadar air tinggi sehingga rentan mengalami kontaminasi mikrobiologi selama proses produksi, penyimpanan, maupun distribusi. Kontaminasi oleh mikroorganisme patogen seperti Escherichia coli, Salmonella spp., dan Staphylococcus aureus dapat menurunkan mutu produk serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada konsumen. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab kegagalan produk bakso sapi akibat kontaminasi mikrobiologi serta menentukan titik kendali kritis menggunakan pendekatan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah, standar keamanan pangan, dan dokumen terkait HACCP yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi kontaminasi dapat terjadi pada hampir seluruh tahapan produksi, terutama pada penerimaan bahan baku, pencucian, penggilingan, pencampuran, pencetakan, pendinginan, pengemasan, dan penyimpanan. Tahap perebusan dan pematangan ditetapkan sebagai Critical Control Point (CCP) karena berperan langsung dalam mengendalikan bahaya mikrobiologi melalui perlakuan panas yang memadai. Keberhasilan penerapan HACCP didukung oleh penetapan batas kritis, pemantauan yang konsisten, tindakan koreksi yang tepat, serta sistem verifikasi dan dokumentasi yang baik. Dengan penerapan HACCP secara menyeluruh, risiko kontaminasi mikrobiologi dapat diminimalkan sehingga mutu dan keamanan bakso sapi lebih terjamin bagi konsumen.
Pemanfaatan Kulit Semangka (Citrullus Lanatus) sebagai Bahan Baku Pembuatan Kimchi dan Karakteristik Organoleptiknya Selama Fermentasi Dhiva Dwi Handayani; Desti Isna Danias; Noviyanti Sutisna; Desti Novia Salsabilla; Saphira Aulia Effendi; Siti Nurjannah; Intan kusumaningrum; Tiara Amanda Lestari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25420

Abstract

Kulit semangka (Citrullus lanatus) menyusun ±30% bobot buah dan kaya senyawa bioaktif seperti L-citrullin, arginin, flavanol, dan fenolik, namun umumnya dibuang sebagai limbah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kimchi berbahan dasar kulit semangka dan mengamati perubahan karakteristik organoleptiknya selama fermentasi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengamatan empat parameter sensori (warna, rasa, tekstur, aroma) oleh enam (6) pengamat, pada hari ke-0 hingga ke-3 menggunakan skala deskriptif terstruktur. Warna konsisten pada skor +2 (merah) sepanjang fermentasi akibat dominasi cabai bubuk dan likopen alami kulit semangka. Rasa berkembang dari +1 (sangat tidak asam) pada hari ke-0 menjadi +4 (sangat asam) sejak hari ke-2 dan bertahan hingga hari ke-3, mencerminkan aktivitas BAL yang cepat difasilitasi oleh kadar air dan karbohidrat substrat yang tinggi. Aroma mengalami dinamika paling menonjol dengan lonjakan ke +4 (sangat beraroma khas kimchi) pada hari ke-1, lalu menstabil di +3 hingga akhir pengamatan. Tekstur tidak berubah dan konsisten di skor +2 (keras), diduga akibat struktur jaringan kulit semangka yang memperlambat laju osmosis garam. Penelitian ini terbatas tanpa analisis fisikokimia, durasi fermentasi lebih panjang, serta pengukuran pH dan total asam diperlukan. Kulit semangka terbukti dapat difermentasi secara asam laktat menghasilkan kimchi dengan perubahan organoleptik nyata, menjadikannya bahan baku alternatif yang potensial sekaligus solusi valorisasi limbah agroindustri.
Pengolahan Limbah Kulit Buah Nanas (Ananas Comosus) menjadi Minuman Probiotik Tepache Melda Putri Rahayu; Sabila Anisa Rullia; Arlita Nada Putri; Ashila Maziyya Fairuz Firdaus; Gita Nur Eriani; Amanda Artatia Putri; Intan Kusumaningrum; Tiara Amanda Lestari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25425

Abstract

Nanas (Ananas comosus) merupakan salah satu jenis buah yang umum dibudidayakan dan dikembangkan di Indonesia, yang dapat tumbuh dengan baik di lingkungan tropis negara ini. Salah satu hasil sampingan yang dihasilkan dalam jumlah banyak dari pengolahan buah nanas adalah kulitnya, meskipun bagian ini masih mengandung beragam senyawa bioaktif dan nutrisi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional. Senyawa bioaktif yang terdapat dalam kulit nanas sangat bervariasi dan melimpah, termasuk flavonoid, bromelin, tanin, oksalat, dan pitat. Bromelin, yang merupakan enzim pengurai protein, berfungsi untuk memecah molekul protein dan menghambat pertumbuhan mikroba dengan cara memutus ikatan protein di dalam bakteri. Tahapan yang dilakukan meliputi fermentasi kulit nanas dengan penambahan gula dan air selama tiga hari (72 jam), diikuti dengan pengamatan organoleptik terhadap warna, rasa, aroma, dan pembentukan buih. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa selama proses fermentasi, karakteristik larutan berubah dari jernih menjadi kuning keruh, dengan rasa yang beralih dari manis menjadi manis asam, muncul aroma khas fermentasi, dan terlihat adanya buih serta sedikit karbonasi. Perubahan ini terjadi akibat aktivitas mikroorganisme, terutama bakteri asam laktat, yang mengubah gula menjadi asam laktat, etanol, karbon dioksida, serta menghasilkan energi. Dengan demikian, kulit nanas memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku untuk minuman probiotik yang bernilai tambah sekaligus membantu mengurangi limbah di sektor agroindustri.
Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada Proses Produksi Wafer untuk Menjamin Keamanan Pangan Muhamad Ari Ismail; Siti Nur Aliyah; Lusy Octaviani; Siti Nazwa Hidayah; Widya Firdiani Chandraningtyas; Dian Safitri; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25489

Abstract

Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) merupakan sistem keamanan pangan yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan potensi bahaya pada proses produksi pangan. Produk wafer memiliki risiko bahaya biologis, kimia, dan fisik, seperti pertumbuhan mikroba, ketengikan akibat oksidasi lemak, serta kontaminasi logam. Kajian ini bertujuan menyusun rencana HACCP pada proses produksi wafer krim untuk menjamin keamanan produk. Metode yang digunakan meliputi identifikasi bahaya, penetapan Critical Control Point (CCP), penentuan batas kritis, pemantauan, tindakan korektif, verifikasi, dan dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan terdapat empat CCP, yaitu penerimaan minyak nabati, metal detector, cooling room, serta pengemasan dan penyimpanan. Pengendalian pada titik-titik tersebut mampu mencegah dan meminimalkan risiko bahaya yang dapat memengaruhi keamanan dan mutu produk. Penerapan HACCP secara konsisten diharapkan dapat menghasilkan produk wafer yang aman, bermutu, dan sesuai dengan persyaratan keamanan pangan.
Analisis Penyebab Kegagalan Produk Roti Tawar dan Strategi Pengendaliannya Berdasarkan HACCP Ashila Maziyya Fairuz Firdaus; Melda Putri Rahayu; Arlita Nada Putri; Amanda Artatia Putri; Sabila Anisa Rullia; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25496

Abstract

Investigasi ini diorientasikan untuk mengidentifikasi determinan kerusakan pada komoditas roti tawar sekaligus memformulasikan rancangan mitigasi berbasis kerangka kerja Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) demi memelihara aspek keamanan serta standardisasi mutu produk. Pendekatan yang diaplikasikan ialah studi kepustakaan (literature review) dengan metodologi penjaringan data melalui penelusuran artikel pada sejumlah basis data digital, seperti Google Scholar dan ScienceDirect, menggunakan kombinasi kata kunci spesifik. Sumber rujukan yang diperoleh dikurasi berdasarkan keterkaitan topik, otoritas penerbit, tata laksana proses sejak pengelolaan bahan kering hingga pengepakan, serta disinkronisasikan dengan regulasi mutu pangan untuk merumuskan batas kritis yang valid.Informasi yang terhimpun kemudian ditelaah secara deskriptif dengan mengkaji aplikasi HACCP pada setiap tahapan fabrikasi roti tawar, mendeteksi paparan polutan biologis, kimia, maupun fisik, serta memetakan akar penyebab defek produk. Hasil evaluasi mengonfirmasi terdapat 4 fase operasional yang dikategorikan sebagai Titik Kendali Kritis (CCP), meliputi pemanggangan (risiko spora bakteri), pendinginan (risiko kontaminan fisik debu), pemotongan (risiko kontaminasi silang mikroba), dan pengemasan (risiko cemaran E. coli). Sintesis dari penemuan-penemuan terdahulu ini berhasil menyusun draf matriks HACCP yang responsif, mencakup langkah penanganan deviasi serta metode verifikasi berkala yang dapat diimplementasikan oleh manufaktur roti skala besar maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Pembuatan Minuman Fermentasi Tepache Berbahan Dasar Limbah Kulit Nanas (Ananas comosus) dengan Penambahan Gula Putih Egi Aulia Syahbana; Eki Firmansyah; Silviana Widias Ningrum; Rafif Alfiansyah; Intan Kusumaningrum
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25499

Abstract

Bagian Pemanfaatan limbah pangan menjadi produk yang memiliki nilai tambah merupakan salah satu strategi untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari bahan pangan yang sebelumnya terbuang. Kulit nanas merupakan salah satu limbah hasil hortikultura yang masih mengandung berbagai komponen bermanfaat, seperti gula, serat, dan senyawa bioaktif, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan minuman fermentasi. Salah satu produk fermentasi yang dapat dihasilkan dari pemanfaatan kulit nanas adalah tepache, yaitu minuman fermentasi tradisional yang berasal dari Meksiko. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit nanas dan gula putih dalam pembuatan minuman fermentasi tepache serta mengevaluasi karakteristik produk yang dihasilkan. Metode yang diterapkan adalah fermentasi alami selama 72 jam dengan menggunakan campuran kulit nanas, gula putih, dan air yang ditempatkan dalam wadah kaca tertutup. Setelah proses fermentasi selesai, dilakukan penyaringan produk dan pengujian organoleptik yang meliputi pengamatan terhadap warna, aroma, dan cita rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman tepache yang dihasilkan memiliki warna kuning keruh, aroma fermentasi yang khas, serta rasa asam dan manis yang memberikan kesan menyegarkan. Keberhasilan proses fermentasi ditunjukkan oleh terbentuknya gelembung gas serta munculnya aroma khas hasil aktivitas mikroorganisme fermentatif. Produk yang dihasilkan memiliki potensi untuk diterima sebagai minuman alternatif yang berasal dari pemanfaatan limbah pangan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kulit nanas berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan minuman fermentasi tepache yang memiliki nilai tambah ekonomi. Selain itu, pemanfaatan kulit nanas juga dapat menjadi salah satu upaya dalam mengurangi jumlah limbah pangan yang dihasilkan dari konsumsi buah nanas.
Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas sebagai Bahan Baku Pembuatan Cuka Fermentasi: Kajian Proses, Faktor Fermentasi, dan Potensi Fungsional Alysa Nursafa; Anisyah Arivianti; Desi Nurlitasari; Putri Nur Sabila; Naura Nadhzifatul Bilbina; Intan Kusumaningrum; Tiara Amanda Lestari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25565

Abstract

Peningkatan produksi dan pengolahan nanas di Indonesia menghasilkan limbah kulit nanas dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dimanfaatkan secara optimal. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis potensi limbah kulit nanas sebagai bahan baku pembuatan cuka fermentasi serta mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi proses fermentasi dan kualitas produk yang dihasilkan. Metode yang digunakan berupa studi literatur dengan menganalisis berbagai hasil penelitian terkait fermentasi kulit nanas. Proses pembuatan cuka dilakukan melalui dua tahap, yaitu fermentasi alkohol oleh Saccharomyces cerevisiae dan fermentasi asam asetat oleh Acetobacter aceti. Hasil kajian menunjukkan bahwa kulit nanas memiliki kandungan gula dan senyawa bioaktif yang mendukung proses fermentasi. Faktor seperti jenis mikroorganisme, konsentrasi gula, pH, suhu, lama fermentasi, dan ketersediaan oksigen berpengaruh terhadap kadar asam asetat yang dihasilkan. Pemanfaatan limbah kulit nanas menjadi cuka fermentasi berpotensi meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Pemanfaat Limbah Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) sebagai Minuman Fermentasi Menggunakan Starter Yogurt Culture Live Detya Zalfa; Andita Nurintania M; Rizka Rahmania; Syifa Fauziyah Febriyani; Siti Anisa; Intan Kusumaningrum; Tiara Amanda Lestari
Karimah Tauhid Vol. 5 No. 8 (2026): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v5i8.25610

Abstract

Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan limbah agroindustri yang memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti betasianin, polifenol, flavonoid, dan serat pangan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan mengembangkan minuman fermentasi berbahan dasar kulit buah naga merah menggunakan yogurt culture live sebagai starter fermentasi serta mengamati karakteristik produk yang dihasilkan selama fermentasi 48 jam. Bahan yang digunakan terdiri atas 100 g kulit buah naga merah, 500 mL air, 50 g gula pasir, dan 3 sendok makan yogurt culture live. Fermentasi dilakukan pada suhu ruang (±28–32°C) selama 48 jam dengan pengamatan pada jam ke-24 dan ke-48 meliputi warna, aroma, rasa, tekstur, pembentukan endapan, gelembung/busa, serta keberadaan jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi menghasilkan perubahan karakteristik sensoris berupa peningkatan aroma dan rasa asam khas yogurt, terbentuknya gelembung sebagai indikator aktivitas bakteri asam laktat, serta pemisahan fasa (sineresis) dan gumpalan putih akibat koagulasi protein kasein. Tidak ditemukan pertumbuhan jamur selama fermentasi. Setelah pengocokan, produk menghasilkan minuman berwarna merah muda homogen dengan aroma dan cita rasa fermentasi yang khas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah kulit buah naga merah berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman fermentasi fungsional yang bernilai tambah dan ramah lingkungan, meskipun masih diperlukan analisis fisikokimia, mikrobiologi, dan organoleptik yang lebih komprehensif untuk mendukung pengembangan produk.
Co-Authors Adhelya Rahmadhani Suryadi Afwina Aulia Sapitri Aji Jumiono Alysa Nursafa Amanda Artatia Putri Aminullah Aminullah Andita Nurintania M Anisa Safira Azzahra Anisyah Arivianti Arlita Nada Putri Arshyla Eliska Arti Hastuti Ashila Maziyya Fairuz Firdaus Cinta Andani Dede Juanda Dede Juanda Desi Nurlitasari Desti Isna Danias Desti Novia Salsabilla Detya Zalfa Dhiva Dwi Handayani Dian Safitri Distya Riski Hapsari Distya Riski Hapsari Distya Riski Hapsari Egi Aulia Syahbana Eki Firmansyah Erna Puspasari Faiz Zaenal Muttaqin Faridah Handayasari Faridah Handayasari Faridah Handayasari Fazhira Syaffa Alexandra Fiola Triyassari Fitri Yani Fitrilia, Tiana Ganissa Azzahra Gita Nur Eriani Hafidh Alauddin Robbani Irdawati Baswir Kalfiah Kurniawan, M. Fakih Lia Amalia Lia Amalia Lia Amalia Lia Amelia Lily Siti Balqis Lusy Octaviani Mardiah Melda Putri Rahayu Mila Azkia Mira - Suprayatmi Muhamad Ari Ismail Muhamad Fauzi Ramadhan Mutiara Az-zhari Wijaya Nadiyah Rahman Naura Nadhzifatul Bilbina Nazwa Khaerul Nissa Noli Novidahlia Noli Novidahlia Nova Alvia Noviyanti Sutisna Nurfitri Lidiyani Nurul Alfiah Pertiwi, Sri Rejeki Retna Putri Nur Sabila Raden Siti Nurlaela Rafif Alfiansyah Reihana Fitri Aulia Reva Aprila Rizka Rahmania Rosy Hutami Rosy Hutami Sabila Anisa Rullia Sahnur Mulya Salsabila Syifa Gusrani Saphira Aulia Effendi Shadiah Nurrohmah Silviana Widias Ningrum Siti Aminah Siti Anisa Siti Ariska Yuliyana Siti Dwi Septiani Siti Nazwa Hidayah Siti Nur Aliyah Siti Nurhalimah Siti Nurjannah Siti Wiwi Marwiyah Sri Dewi Puspitasari Sultan Guna Wibawa Syifa Dwi Spirulina Syifa Fauziyah Febriyani Syifa Nuraulia Tiara Amanda Lestari Titi Rohmayanti Weni Sumirat Widya Firdiani Chandraningtyas Youci Andriyani Zusi Eka Fitri