Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Pola Swamedikasi Pada Masyarakat Desa Palampitan Hilir Kecamatan Amuntai Tengah Mahda Annisa; Aris Fadillah; Juwita Ramadhani
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/4wgcpt34

Abstract

Background: Self-medication is the selection and use of medicines to treat self-recognized symptoms without professional medical advice. South Kalimantan ranks second nationally in self-medication prevalence (±35%). Objective: To analyze the influence of knowledge level on self-medication patterns in Palampitan Hilir Village, Amuntai Tengah District. Methods: A descriptive non-experimental study using Simple Random Sampling with 100 respondents. Data were collected via a validated questionnaire (Cronbach's α = 0.821) and analyzed by Chi-square test (SPSS 25). Results: Most respondents had adequate knowledge (48%), followed by good (40%) and poor (12%). Eighty percent had inappropriate self-medication patterns. A significant relationship was found between knowledge level and self-medication pattern (p = 0.002). Age (p = 0.000) and education (p = 0.000) were significantly associated with knowledge, while gender (p = 0.280) and occupation (p = 0.132) were not. Conclusion: Knowledge level significantly influences self-medication patterns. Higher education and younger age are associated with better medication knowledge. Pharmacists should intensify community education on responsible self-medication. Keywords: self-medication, knowledge level, self-medication patterns, community pharmacy Abstrak Latar Belakang: Swamedikasi merupakan pemilihan dan penggunaan obat untuk mengatasi keluhan tanpa saran tenaga kesehatan. Kalimantan Selatan menempati peringkat kedua prevalensi swamedikasi nasional (±35%). Tujuan: Menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan terhadap pola swamedikasi masyarakat Desa Palampitan Hilir Kecamatan Amuntai Tengah. Metode: Penelitian deskriptif non-eksperimental dengan Simple Random Sampling pada 100 responden menggunakan kuesioner tervalidasi (Cronbach's α = 0,821), dianalisis dengan uji Chi-square (SPSS 25). Hasil: Sebagian besar responden berpengetahuan cukup (48%), baik (40%), dan kurang (12%). Sebanyak 80% memiliki pola swamedikasi tidak tepat. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dan pola swamedikasi (p = 0,002). Usia (p = 0,000) dan pendidikan (p = 0,000) berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan, sedangkan jenis kelamin (p = 0,280) dan pekerjaan (p = 0,132) tidak. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap pola swamedikasi. Pendidikan lebih tinggi dan usia lebih muda berkaitan dengan pengetahuan swamedikasi yang lebih baik. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi swamedikasi yang bertanggung jawab. Kata kunci: swamedikasi, tingkat pengetahuan, pola swamedikasi, farmasi komunitas
Studi Analisis Aktivitas Antidiabetes Dari Tanaman Bahan Alam Pada Tikus Putih Jantan Isna Wati; Juwita Ramadhani; Muhammad Fauzi
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 3, No 1 (2026): Eksplorasi Strategi Terapeutik: Dari Potensi Bahan Alam hingga Evaluasi Pengguna
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v3i1.21923

Abstract

Potensi beberapa tanaman sebagai antihiperglikemik kemudian ditentukan dengan menganalisis semua data yang dikumpulkan dalam jurnal. Temuan analisis menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung kualitas antidiabetik atau antihiperglikemik yang membuatnya cocok sebagai komponen dalam pengobatan tradisional. Banyak tanaman mengandung zat kimia yang disebut flavonoid, tanin, alkaloid, fenolik, triterpenoid, antosianin, andrografolid, dan beta karoten. Senyawa ini dapat digunakan sebagai antidiabetik karena mekanisme kerjanya mirip dengan obat kimia akarbose.
EVALUASI TOKSISITAS SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN: ANALISIS LITERATUR TERHADAP DAMPAK DOSIS DAN ORGAN PADA HEWAN UJI Apriliany Asriany Putri; Juwita Ramadhani; Aris Fadillah
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i1.21505

Abstract

Tanaman obat mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan terpenoid yang dikenal memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, dan antikanker. Namun, penggunaan senyawa-senyawa ini dalam dosis tinggi atau jangka panjang dapat menimbulkan efek toksik terhadap organ vital seperti hati, ginjal, jantung, dan sistem darah. Artikel ini bertujuan untuk meninjau sejumlah studi ilmiah terkini (2020–2025) yang mengevaluasi toksisitas akut dan subkronis dari senyawa fitokimia tanaman menggunakan berbagai media uji, termasuk tikus Wistar, tikus Sprague-Dawley, dan Artemia salina. Berdasarkan hasil review terhadap sepuluh artikel, ditemukan bahwa beberapa tanaman seperti Camelina sativa, Ridolfia segetum, dan Arbutus unedo menunjukkan toksisitas rendah dan aman pada dosis tertentu. Sebaliknya, ekstrak tanaman seperti Persea americana, Ziziphus spina-christi, dan Rhubarb menunjukkan efek toksik yang signifikan terhadap organ-organ penting, terutama pada dosis tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi toksikologi yang menyeluruh untuk memastikan keamanan penggunaan senyawa fitokimia sebelum diaplikasikan secara luas dalam bidang farmasi maupun pengobatan tradisional.
ANALISIS COST OF ILLNESS PASIEN DM TIPE 2 DENGAN METFORMIN DAN GLIMEPIRIDE DI RAWAT INAP RSUD JARAGA SASAMEH KOTA BUNTOK Hasniah Hasniah; Andryanto M Hasan; Erlianti Karina; Fadillah Aris; Fauzi Muhammad; Soemarie Yulistia Budianti; Ramadhani Juwita; Noriandani Riska Ayu
Pharmacoscript Vol. 9 No. 1 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i1.2397

Abstract

Diabetes mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang disebabkan oleh resistensi insulin dan penurunan produksi insulin oleh pankreas. Prevalensi yang tinggi serta risiko komplikasi jangka panjang menimbulkan kebutuhan terapi berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan biaya pengobatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis farmakoekonomi dengan pendekatan cost of illness (COI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui COI pasien DM tipe 2 dengan metformin dan glimepiride peserta BPJS kesehatan di rawat inap RSUD Jaraga Sasameh Kota Buntok tahun 2023. Desain penelitian bersifat observasional deskriptif retrospektif dengan pendekatan cost of illness dari perspektif Rumah Sakit. Data sekunder diperoleh dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), rekam medis pasien, serta bagian keuangan Rumah Sakit. Sampel penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat inap dengan terapi metformin atau glimepiride peserta BPJS kesehatan di RSUD Jaraga Sasameh Buntok tahun 2023 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan cost of illness yaitu membandingkan seluruh komponen rata-rata dengan lama rawat inap di Rumah Sakit. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 113 pasien yang menggunakan metformin dan 70 pasien yang menggunakan glimepiride, dengan perspektif Rumah Sakit meliputi biaya langsung medis yaitu biaya obat antidiabetes (ADO) oral, obat penyerta lainnya, biaya perawatan, terapi komorbiditas, dan biaya rawat inap. Komponen biaya yang paling dominan pada kedua kelompok terapi adalah biaya perawatan, yang berkontribusi sebesar 67,09% pada terapi metformin dan 68,68% pada terapi glimepiride, diikuti oleh biaya rawat inap. Cost of illness (COI) dari perspektif Rumah Sakit pada pasien dengan terapi metformin sebesar Rp 1.367.043, sedangkan pada terapi glimepiride sebesar Rp 1.427.007. Kesimpulan pada penelitian ini adalah rata-rata biaya COI pasien yang menggunakan terapi glimepiride lebih besar dibandingkan terapi metformin.
GREEN EXTRACTION PADA DAUN MURBEI DENGAN TWEEN 20, TWEEN 80, SPAN 20, DAN SPAN 80 SERTA PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN INHIBISI ENZIM TIROSINASE Hasniah Hasniah; Atikah Isma Rahmi; Karina Erlianti; Juwita Ramadhani; Muhammad Fauzi; Aris Fadillah
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 1 No 1 (2024): Eksplorasi Kefarmasian Komprehensif: Pendekatan In Silico, Teknologi Sediaan Alam
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v1i1.15395

Abstract

Murbei (Morus alba L.) mengandung senyawa aktif yang meliputi golongan fenolik, flavonoid seperti rutin, kuersetin, asam galat dan asam klorogenik sebagai antioksidan yang dapat mengantisipasi oksidasi kulit oleh radiasi sinar UV dan sebagai penghambat tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Green Extraction pada daun murbei menggunakan alternatif pelarut pengganti pelarut organik dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) serta uji daya peredaman radikal bebas DPPH dan inhibisi enzim tirosinase. Alternatif pelarut pengganti pelarut organik yang digunakan memiliki kepolaran yang berbeda-beda yaitu tween 20, tween 80, span 20, dan span 80. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 rata-rata yang diperoleh dari daya peredaman radikal bebas DPPH ekstrak daun murbei menggunakan tween 20, tween 80, span 20 dan span 80 beturut-turut adalah 9874, 12797, 23131, dan 41844 bpj. Sedangkan aktivitas inhibisi enzim tirosinase ekstrak daun murbei hasil ekstraksi menggunakan alternatif pelarut tween 20, tween 80, span 20 dan span 80 dimana pada konsentrasi 45000 bpj masing-masing ekstrak memberikan % inhibisi sebesar 19,62, 17,26, 15,84, dan 14,18 %. Dengan demikian, dalam penlitian ini alternatif pelarut yang paling baik digunakan untuk penerapan green extraction pada daun murbei adalah tween 20.
STUDI IN SILICO DAN PREDIKSI FARMAKOKINETIK CAPTOPRIL-HERBAL UNTUK POTENSI TERAPI KOMBINASI ANTIHIPERTENSI Nilly Su’aida; Lia Mardiana; Juwita Ramadhani
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 1 No 1 (2024): Eksplorasi Kefarmasian Komprehensif: Pendekatan In Silico, Teknologi Sediaan Alam
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v1i1.15396

Abstract

Penggunaan obat herbal tradisional semakin meningkat baik di negara maju maupun berkembang, dengan 65% penduduknya menggunakan obat tradisional dan suplemen herbal. Pendekatan “Back to nature” mendorong masyarakat untuk terus menggunakan obat herbal. Banyak orang yang memadukan pengobatan tradisional dengan herbal, terutama untuk penyakit degeneratif seperti hipertensi. Captopril adalah pengobatan lini pertama yang populer untuk hipertensi, dan penggunaannya dalam berbagai situasi dapat merangsang interaksi herbal. Interaksi ini dapat bersifat sinergis atau antagonis, menjadikannya kombinasi yang menjanjikan untuk penelitian in silico. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini yaitu dapat menentukan senyawa pada beberapa herbal yang berpotensi menghambat angiotensin conversi enzim menggunakan molegro serta mengetahui interaksi farmakokinetiknya menggunakan swissadme.
SCREENING OF COMPOUNDS ARTOCARPUS ALTILIS AS ANTICANCER COLORECTAL AGAINST EGFR RECEPTOR THROUGH MOLECULAR DOCKING Mochammad Erwinsyah Iham; Muhammad Fauzi; Juwita Ramadhani
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 1 No 1 (2024): Eksplorasi Kefarmasian Komprehensif: Pendekatan In Silico, Teknologi Sediaan Alam
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v1i1.15454

Abstract

According to WHO, cancer is the uncontrolled growth and spread of cells, while according to the NCI (National Cancer Institute) it is a disease in which abnormal cells divide uncontrollably and can attack the surrounding tissue. Colorectal cancer is a malignant tumor that arises from the epithelial tissue of the colon or rectum. Colorectal cancer refers to malignant tumors found in the colon and rectum. The standard drug compound used is cetuxinab, a colorectal cancer therapy drug, a flavonoid derivative compound from the breadfruit plant as a test ligand. The receptors used for molecular docking analysis were obtained from the Protein Data Bank (PDB) at http://www.rcsb.org/pdb/. The receptor used to predict activity is the EGFR receptor GDP code 4I22. Breadfruit plants contain various secondary compounds, such as flavonoids, phenolics, saponins, tannins, polyphenols, hydrocyanic acid, acetylcholine, riboflavin. The compounds used are 20 flavonoid compounds contained in breadfruit plants, including Artocarpin, Lysopine, Quarcetin, Morusin, Isocylomulberrin, Cyloaltilisin, Artonin-E, Cyloaltilisin-7, Cylocommunol, Cyclomorusin, Cyclomulberrin, Cyloartobiloxanthone, Isoclyclomorusin, Lupeol acetate, Artonin f, Cycloartomunin, Artocarpesin, Artocommunol ca, Artonol d, Artocommunol cc. three compounds that show good affinity for the EGFR receptor.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN JAMU ANTIHIPERTENSI HALAL Karina Erlianti; Hasniah Hasniah; Aris Fadillah; Muliyani Muliyani; Juwita Ramadhani; Muhammad Hasan Andryanto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34716

Abstract

Abstrak: Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia dan menjadi faktor risiko utama berbagai komplikasi serius. Masyarakat Desa tempat pelaksanaan kegiatan diketahui memiliki angka kejadian hipertensi yang cukup tinggi, namun masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terkait pemanfaatan tanaman herbal sebagai terapi alternatif, terutama dalam bentuk jamu aman, berkhasiat, dan halal. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberdayakan masyarakat melalui peningkatan hardskill yaitu keterampilan dalam pembuatan jamu antihipertensi sesuai prinsip kehalalan. Metode kegiatan terdiri atas tahap persiapan, pelaksanaan kegiatan dengan metode ceramah dan praktik langsung, serta proses evaluasi. Edukasi dan pelatihan diberikan kepada 21 peserta yang merupakan anggota PKK setempat. Evaluasi dilakukan dengan mekanisme pre-test dan post-test, serta observasi keterampilan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, ditunjukkan oleh peningkatan skor rata-rata pretest sebesar 2,4 menjadi 9,5 pada posttest. Pelatihan ini menumbuhkan keterampilan masyarakat dalam pembuatan jamu serta meningkatkan kesadaran pentingnya aspek kehalalan dalam pengolahan produk herbal. Sehingga berkontribusi pada bidang kesehatan dan membuka peluang usaha jamu.Abstract: Hypertension is a leading non-communicable disease in Indonesia and a major risk factor for serious health complications. The target community demonstrated a relatively high prevalence of hypertension yet possessed limited knowledge about the use of herbal plants as alternative therapy, particularly in the form of jamu (traditional herbal medicine) that is safe, effective, and halal. This community engagement program aimed to empower local residents by enhancing both knowledge and practical skills in preparing antihypertensive jamu in accordance with Islamic principles. The program was conducted in three phases: preparation, implementation, and evaluation. A total of 21 participants, all members of the local Family Welfare Movement (PKK), took part in education and training sessions. Evaluation involved pre-test and post-test assessments, complemented by skill observations. The results showed a substantial improvement in knowledge, with mean scores rising from 2.4 to 9.5. Moreover, participants gained practical competencies in jamu preparation and increased awareness of halal considerations in herbal product processing. This initiative contributes to public health promotion while opening opportunities for small-scale jamu entrepreneurship.
PEMANFAATAN GULMA TANAMAN BUNDUNG SEBAGAI BAHAN SABUN PADA SISWA MADRASAH TSANAWIYAH Aris Fadillah; Lia Mardiana; Yuniarti Falya; Juwita Ramadhani; Muliyani Muliyani; Muhammad Fauzi; Muhammad Hasan Andryanto; Yulistia Budianti Soemarie
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34556

Abstract

Abstrak: Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menggunakan sabun pasca COVID-19 mendorong peningkatan penggunaannya. Ekstrak daun tanaman Bundung (Scirpus grossus), yang mudah ditemukan di persawahan, terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka dan cocok digunakan sebagai bahan aktif dalam sabun. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hardskill peserta dalam memahami tanaman bundung serta cara pembuatan sabun dengan memanfaatkan daun bundung. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi bersama, serta praktik langsung. Kegiatan diikuti oleh 30 siswa kelas IX. Evaluasi pengetahuan siswa dilakukan dengan metode pre-post test menggunakan angket. Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan skor dengan nilai rata-rata kenaikan sebesar 15,17%. Hasil evaluasi ini mengindikasikan bahwa peserta dapat menangkap materi yang disampaikan dengan baik.Abstract: The increase of public awareness on the importance in the use of soap post-COVID-19 has led to an increase in its use. The extract of Bundung (Scirpus grossus), which is commonly found in rice fields, has been proven to be effective in promoting wound healing and suitable for use as an active ingredient in soap. This program aims to improve the participants' hard skills in understanding the Bundung plant and utilize it as the active ingredient in soap-making process. The methods used in this activity include lectures, group discussions, and direct practice. The participant in this program were 30 of ninth-grade students. The evaluation of the participants' knowledge was conducted with the pre-post test method using a questionnaire. The results showed an increase in the average score by 15.17%. These results indicated that the participants were able to comprehend the material presented properly.
PEMBERDAYAAN KESEHATAN MANDIRI SANTRI MELALUI TEKNOLOGI BUDIDAYA TOGA DAN PEMBUATAN JAMU BERBASIS PENINGKATAN IMUN DI PONDOK PESANTREN Rizki Rahmadi Pratama; Muhammad Fauzi; Juwita Ramadhani; M. Hasan Andryanto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.33053

Abstract

Abstrak: Pondok pesantren sering menghadapi masalah kesehatan di kalangan santri, terutama terkait dengan gangguan sistem imun tubuh yang rentan terhadap penyakit. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman santri mengenai manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dalam memperkuat sistem imun tubuh, serta memberikan keterampilan praktis dalam menanam dan mengolah TOGA menjadi jamu serbuk. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi sosialisasi, penyuluhan, dan workshop yang melibatkan 42 santri Pondok Pesantren Al-Fatih di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut,di Kalimantan Selatan . Evaluasi dilakukan dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil yang dicapai menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar 33,6%, dengan nilai rata-rata pre-test 63,4 dan post-test 84,7. Selain meningkatkan pengetahuan, peserta juga memperoleh keterampilan praktis dalam mengolah jamu serbuk, yang tidak hanya berguna untuk meningkatkan kesehatan, tetapi juga memberikan potensi ekonomi melalui produk herbal yang dapat dipasarkan.Abstract: Pesantren often face health issues among students, particularly related to immune system disorders that make them vulnerable to diseases. The objective of this community service is to enhance students' understanding of the benefits of Family Medicinal Plants (TOGA) in strengthening the immune system and provide practical skills in planting and processing TOGA into powdered herbal medicine. The methods used in this program include socialization, counseling, and workshops involving 42 students from Pondok Pesantren Al-Fatih in Pelaihari, South Tanah Laut Regency, South Kalimantan. Evaluation was conducted using pre-test and post-test to measure the improvement in participants' understanding. The results showed a 33.6% increase in participants' knowledge, with an average pre-test score of 63.4 and post-test score of 84.7. In addition to improving their knowledge, participants gained practical skills in processing powdered herbal medicine, which not only contributes to enhancing health but also provides economic potential through herbal products that can be marketed.