Claim Missing Document
Check
Articles

Dampak Korupsi terhadap Pembangunan Ekonomi dan Penegakan Hukum di Indonesia Ayu Suraya; Afrijal Afrijal
Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum Vol. 3 No. 1 (2026): Januari : Mahkamah : Jurnal Riset Ilmu Hukum
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/mahkamah.v3i1.1340

Abstract

Corruption is an extraordinary crime that has multidimensional impacts on a country’s social, economic, and political life. In Indonesia, corruption cases not only cause financial losses to the state but also undermine public trust in the government and weaken the rule of law. This study examines the case of social assistance (bansos) corruption during the Covid-19 pandemic involving former Minister of Social Affairs, Juliari P. Batubara, who was proven to receive bribes from vendors providing social assistance amounting to tens of billions of rupiah. The study aims to understand the regulation of corruption under Indonesian law, the chronology of the bansos corruption case, and the criminal liability of the former Minister of Social Affairs. The analysis shows that this case not only caused financial losses to the state but also inflicted social suffering on the poor affected by the pandemic and reduced the government’s legitimacy. The prison sentence, fines, and obligation to pay state compensation imposed on Juliari affirm the principle of criminal accountability, while digital-based reform in social assistance distribution and multi-layered supervision serve as preventive measures to curb future corruption. This study emphasizes the importance of transparency, accountability, and strict law enforcement in combating corruption in Indonesia.
Korupsi Sebagai Cerminan Budaya Sosial Di Indonesia Rizka Alvirra; Afrijal Afrijal
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korupsi di Indonesia telah menjadi fenomena sosial-budaya yang tertanam dalam birokrasi dan kehidupan publik. Penelitian ini menganalisis korupsi sebagai refleksi budaya sosial yang terbentuk melalui interaksi antara jaringan patronase, institusi informal, toleransi sosial, dan budaya impunitas. Melalui studi literatur terhadap sumber ilmiah dan data indeks persepsi korupsi, penelitian ini mengidentifikasi akar struktural dan kultural yang menopang praktik koruptif. Temuan menunjukkan bahwa patronase berperan sebagai pilar utama yang melanggengkan korupsi melalui relasi kekuasaan transaksional berbasis loyalitas, bukan meritokrasi. Lemahnya budaya malu, tingginya toleransi publik, dan impunitas elite semakin menormalkan korupsi. Kondisi ini menciptakan sistem yang menganggap korupsi sebagai mekanisme operasional. Karena itu, pemberantasan korupsi membutuhkan pendekatan multidimensional, termasuk transformasi nilai dan pembenahan institusi informal.
Analisis Yuridis Terhadap Pengembalian Aset Hasil Korupsi (Asset Recovery) dan Dampaknya Bagi Keuangan Negara Miftakhul Jannah Hasny; Afrijal Afrijal
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korupsi di Indonesia terus mengancam perekonomian dan anggaran negara, dengan kerugian mencapai triliunan rupiah. Pengembalian aset hasil korupsi menjadi aspek krusial dalam upaya pemulihan kepercayaan publik dan memperbaiki sistem keuangan. Meskipun Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 menyediakan dasar hukum yang penting, pelaksanaannya menghadapi berbagai kendala, termasuk kurangnya efisiensi sistem hukum dalam menyita aset hasil tindak pidana. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme pengembalian aset hasil korupsi di Indonesia, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam proses tersebut, dan mengevaluasi dampaknya terhadap keuangan negara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi dalam perbaikan sistem hukum agar lebih efektif dalam pemberantasan korupsi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif, dengan analisis peraturan perundang-undangan dan studi kasus yang relevan. Data dikumpulkan dari berbagai sumber hukum untuk memahami kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pengembalian aset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada kerangka hukum untuk pengembalian aset, tantangan signifikan masih ada, termasuk integrasi hukum yang tidak memadai dan kesulitan dalam melakukan penyitaan. Reformasi hukum dan peningkatan kapasitas lembaga penegak hukum sangat diperlukan agar pemulihan aset dapat berjalan lebih efektif. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya pengembalian aset hasil korupsi sebagai langkah untuk memulihkan kerugian negara dan mendukung perekonomian. Penting bagi pemerintah untuk memperkuat regulasi serta sistem penegakan hukum agar proses ini dapat terselenggara dengan optimal.
Disaster Mitigation Education for Children and Adolescents in Banda Aceh City Putri Azhari; Nurul Kamaly; Afrijal; Wais Alqarni
Dedikasi Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): Dedikasi Sosial : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : PT. Riset Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64126/dedikasisosial.v1i01.3

Abstract

This study aims to develop an effective disaster mitigation education model for children and adolescents in Banda Aceh City, focusing on enhancing awareness and preparedness against the threats of earthquakes and tsunamis. A qualitative research method was applied, utilizing contextual and emic approaches, combined with role-playing and various interactive media such as animations, educational games (SERGANA), disaster-themed songs, disaster simulations, and short educational videos. The program was implemented in several primary and secondary schools across Banda Aceh. The results indicate a significant improvement in students’ understanding of mitigation steps, risk awareness, and emergency decision-making abilities. These findings suggest that engaging and adaptive educational approaches can effectively foster a culture of disaster awareness from an early age.
Pork Barrel Politics: A Case Study of the Free Electricity Program in Aceh Jaya Local Afrijal; Herizal; Saddam Rassanjani; Mukhrijal
Journal of Local Government Issues Vol. 7 No. 2 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/logos.v7i2.32249

Abstract

This study focuses on analyzing the practice of Pork Barrel Politics in the Free Electricity Program implemented by the Aceh Jaya local Government in 2014-2017. Providing free electricity is a flagship program spearheaded by the Regent of Aceh Jaya who is also the elite of the Aceh Party (PA) for underprivileged communities. The free electricity program has become a campaign tool and strategy for the local legislative representative incumbents who want to regain control of the Local House of Representatives in the 2014 Legislative Election. We took a qualitative approach using the case study method. Data collection used was through interviews, observation and documentation. The results of the research show that the implementation of the free electricity program assistance in Aceh Jaya was characterized by pork barrel political practices, where recipients of free electricity program in 2014-2017 were prioritized to people who were the Aceh Party members and supporters, the winning party in the 2014 Legislative Election. Pigs are inseparable from the participation of the Aceh Party elite who sit in executive positions and are supported by the dominance of Aceh Jaya DPRK members from the Aceh Party faction.
Analisis Kebijakan Kota Layak Anak di Kota Banda Aceh Menurut Indikator Kota Layak Anak Asyiatun Nabila; Saddam Rassanjani; Afrijal Afrijal
Jurnal Ilmu Pemerintahan Suara Khatulistiwa Vol 9 No 2 (2024): Kebijakan Pelayanan Pemerintahan
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jipsk.v9i2.4612

Abstract

Child-Friendly City (KLA) is a strategic policy that aims to ensure the fulfillment of children’s rights through synergy between government, society, and the business world. This study aims to analyze the implementation of the KLA policy in Banda Aceh City with a focus on seven institutional indicators as stipulated in the Regulation of the Minister of State for Women’s Empowerment and Child Protection of the Republic of Indonesia Number 12 of 2011 concerning Indicators of Child-Friendly Districts/Cities. This study uses a qualitative method with data collection techniques in the form of interviews, observations, and documentation. Informants consist of government officials, community leaders, and representatives of relevant community institutions. The results of the study indicate that Banda Aceh has not fully achieved Child-Friendly City status. Several institutional indicators, such as special budget allocation and involvement of community institutions, have been implemented, but are not optimal. The Regional Action Plan for Child-Friendly City is not yet available, and involvement of the business world is still limited. At the village level, understanding of the KLA concept is still low, so that policy implementation is not evenly distributed. It is necessary to strengthen the synergy between the City Government and villages, special budget allocation, and involvement of the business world through the establishment of the Indonesian Child-Friendly Company Association (APSAI). With these steps, it is hoped that the implementation of KLA can be accelerated, so that the fulfillment of children's rights in Banda Aceh can be realized comprehensively.
Pendampingan Aparatur Pemerintahan Desa dalam Penggunaan Aplikasi Sigap di Desa Along dan Mutiara Anata S, Yudha; Afra, Raisatul; Afrijal
Catimore: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Catimore: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : LSM Catimore dan Sahabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56921/cpkm.v5i1.357

Abstract

This community service activity aimed to enhance the capacity of village officials in managing gampong data through the SIGAP (Sistem Informasi Gampong) application in Along and Mutiara Villages, Salang District, Simeulue Regency. Key challenges included low digital literacy, unstructured data management, and irregular data updates. The program consisted of a three-day training session followed by 45 days of intensive technical assistance. The training focused on introducing SIGAP features, managing population data, village profiles, and administrative services. The results showed significant improvements in officials’ knowledge and technical skills, enabling independent data input and updates. The optimized use of SIGAP improved administrative efficiency, data accuracy, and public service delivery at the village level, emphasizing the importance of continuous assistance for successful digital governance in rural areas.
The Role of Institutional Quality in Shaping Digital Governance in Decentralised Indonesia Wais Alqarni; Safrizal ZA; Isnaini Muallidin; Afrijal Afrijal; M Nur Akhyar
Journal of Contemporary Governance and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Kontemporer, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46507/jcgpp.v7i1.793

Abstract

This study examines how institutional quality shapes digital governance across local governments in Indonesia, addressing the persistent institutional–technical misalignment that continues to hinder digital transformation despite substantial public investment. The study is motivated by efforts to localise the United Nations Sustainable Development Goals, particularly SDG 16, Targets 16.6 and 16.7, on effective, accountable, and transparent institutions and responsive, inclusive, participatory, and representative decision-making, as well as SDG 9, Target 9.c, on universal internet access. Achieving these goals remains difficult across Indonesia’s diverse regional contexts because of entrenched institutional barriers. Using a qualitative multiple-case study design, this research analyses five subnational cases, Jakarta, West Java, East Kalimantan, South Sulawesi, and Papua, selected to capture varying levels of digital maturity and contrasting geographical conditions within Indonesia’s decentralised governance system. The findings indicate that four institutional dimensions, regulatory frameworks, organisational capacity, leadership commitment, and inter-agency coordination, decisively shape digital governance outcomes and mediate regional disparities. The study concludes that digital transformation in decentralised systems is fundamentally an institutional rather than purely technological process. It proposes an integrated institutional quality framework to strengthen decentralised digital resilience and improve public service delivery across Indonesia’s fragmented governance landscape.
Model Collaborative Governance dan Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia Raudhatul Jannah; Fatiyyatul Awfar; Afrijal Afrijal
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 02 (2026): APRIL - MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model collaborative governance merupakan pendekatan tata kelola yang menekankan kerja sama antara pemerintah lembaga penyelenggara pemilu partai politik organisasi masyarakat dan masyarakat luas dalam proses penyelenggaraan pemilu. Pendekatan ini dianggap penting untuk memperkuat kualitas demokrasi serta meningkatkan transparansi akuntabilitas dan partisipasi publik dalam setiap tahapan pemilu di Indonesia. Melalui kerja sama yang terbuka dan partisipatif berbagai pihak dapat berperan dalam menjaga integritas pemilu serta memastikan proses pemilihan berjalan secara jujur adil dan demokratis. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan cara menganalisis berbagai teori serta membandingkan sumber ilmiah yang membahas konsep collaborative governance dan praktik penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Analisis dilakukan untuk memahami bagaimana pola kerja sama antar lembaga dan masyarakat dapat mendukung penyelenggaraan pemilu yang lebih efektif dan demokratis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model collaborative governance dalam penyelenggaraan pemilu dapat memperkuat koordinasi antar lembaga meningkatkan kepercayaan publik serta mendorong partisipasi masyarakat dalam mengawasi jalannya pemilu. Dengan adanya kolaborasi antara penyelenggara pemilu pemerintah partai politik dan masyarakat diharapkan proses pemilu di Indonesia dapat berjalan lebih transparan, akuntabel serta mampu memperkuat kualitas demokrasi.
TANTANGAN COLLABORATIVE GOVERNANCE BERBASIS TRIPLE HELIX DALAM UPAYA PENURUNAN ANGKA KEMISKINAN DI PROVINSI ACEH Ihsan Hidayatullah; Lusi Endri Yani; Afrijal; Lathifah Nurainy; Irvan Shouldan
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 4 (2026): 2026 April
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i4.805

Abstract

Provinsi Aceh menghadapi paradoks pembangunan yang konsisten, di mana aliran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) bernilai triliunan rupiah per-tahun tidak berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, bahkan angka kemiskinan Aceh tetap menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera dengan persentase 12,22% pada September 2025, jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan kemiskinan di Aceh terkait collaborative governance yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan collaborative governance berbasis Triple Helix dalam upaya penurunan angka kemiskinan di Provinsi Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan analisis data melalui thematic synthesis yang mencakup tiga tahap, yaitu pengkodean teks bebas, pengelompokan tema deskriptif, dan pengembangan tema analitik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tantangan utama, yaitu dominasi birokrasi dan asimetri kekuasaan dalam model lead organization yang menempatkan aktor Pemerintah seperti Bappeda/TKPK sebagai pemegang kendali tunggal; lemahnya kepemimpinan fasilitatif yang bersifat direktif-hierarkis; konflik logika institusional antara pemerintah, akademisi, dan industri; rendahnya keterlibatan perguruan tinggi sebagai mitra strategis; serta ketidaksinkronan data dan lemahnya sistem informasi terpadu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi menuju collaborative governance yang efektif di Aceh membutuhkan pergeseran paradigmatik dari dominasi lead organization menuju shared governance, dari akuntabilitas formal menuju akuntabilitas substantif, dan dari keterlibatan seremonial menuju kemitraan strategis yang menempatkan pemerintah, akademisi, dan industri sebagai mitra yang saling melengkapi dalam ekosistem inovasi sosial yang inklusif.