Claim Missing Document
Check
Articles

Pork Barrel Politics: A Case Study of the Free Electricity Program in Aceh Jaya Local Afrijal; Herizal; Saddam Rassanjani; Mukhrijal
Journal of Local Government Issues Vol. 7 No. 2 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/logos.v7i2.32249

Abstract

This study focuses on analyzing the practice of Pork Barrel Politics in the Free Electricity Program implemented by the Aceh Jaya local Government in 2014-2017. Providing free electricity is a flagship program spearheaded by the Regent of Aceh Jaya who is also the elite of the Aceh Party (PA) for underprivileged communities. The free electricity program has become a campaign tool and strategy for the local legislative representative incumbents who want to regain control of the Local House of Representatives in the 2014 Legislative Election. We took a qualitative approach using the case study method. Data collection used was through interviews, observation and documentation. The results of the research show that the implementation of the free electricity program assistance in Aceh Jaya was characterized by pork barrel political practices, where recipients of free electricity program in 2014-2017 were prioritized to people who were the Aceh Party members and supporters, the winning party in the 2014 Legislative Election. Pigs are inseparable from the participation of the Aceh Party elite who sit in executive positions and are supported by the dominance of Aceh Jaya DPRK members from the Aceh Party faction.
Analisis Kebijakan Kota Layak Anak di Kota Banda Aceh Menurut Indikator Kota Layak Anak Asyiatun Nabila; Saddam Rassanjani; Afrijal Afrijal
Jurnal Ilmu Pemerintahan Suara Khatulistiwa Vol 9 No 2 (2024): Kebijakan Pelayanan Pemerintahan
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jipsk.v9i2.4612

Abstract

Child-Friendly City (KLA) is a strategic policy that aims to ensure the fulfillment of children’s rights through synergy between government, society, and the business world. This study aims to analyze the implementation of the KLA policy in Banda Aceh City with a focus on seven institutional indicators as stipulated in the Regulation of the Minister of State for Women’s Empowerment and Child Protection of the Republic of Indonesia Number 12 of 2011 concerning Indicators of Child-Friendly Districts/Cities. This study uses a qualitative method with data collection techniques in the form of interviews, observations, and documentation. Informants consist of government officials, community leaders, and representatives of relevant community institutions. The results of the study indicate that Banda Aceh has not fully achieved Child-Friendly City status. Several institutional indicators, such as special budget allocation and involvement of community institutions, have been implemented, but are not optimal. The Regional Action Plan for Child-Friendly City is not yet available, and involvement of the business world is still limited. At the village level, understanding of the KLA concept is still low, so that policy implementation is not evenly distributed. It is necessary to strengthen the synergy between the City Government and villages, special budget allocation, and involvement of the business world through the establishment of the Indonesian Child-Friendly Company Association (APSAI). With these steps, it is hoped that the implementation of KLA can be accelerated, so that the fulfillment of children's rights in Banda Aceh can be realized comprehensively.
The Role of Institutional Quality in Shaping Digital Governance in Decentralised Indonesia Wais Alqarni; Safrizal ZA; Isnaini Muallidin; Afrijal Afrijal; M Nur Akhyar
Journal of Contemporary Governance and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Kontemporer, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46507/jcgpp.v7i1.793

Abstract

This study examines how institutional quality shapes digital governance across local governments in Indonesia, addressing the persistent institutional–technical misalignment that continues to hinder digital transformation despite substantial public investment. The study is motivated by efforts to localise the United Nations Sustainable Development Goals, particularly SDG 16, Targets 16.6 and 16.7, on effective, accountable, and transparent institutions and responsive, inclusive, participatory, and representative decision-making, as well as SDG 9, Target 9.c, on universal internet access. Achieving these goals remains difficult across Indonesia’s diverse regional contexts because of entrenched institutional barriers. Using a qualitative multiple-case study design, this research analyses five subnational cases, Jakarta, West Java, East Kalimantan, South Sulawesi, and Papua, selected to capture varying levels of digital maturity and contrasting geographical conditions within Indonesia’s decentralised governance system. The findings indicate that four institutional dimensions, regulatory frameworks, organisational capacity, leadership commitment, and inter-agency coordination, decisively shape digital governance outcomes and mediate regional disparities. The study concludes that digital transformation in decentralised systems is fundamentally an institutional rather than purely technological process. It proposes an integrated institutional quality framework to strengthen decentralised digital resilience and improve public service delivery across Indonesia’s fragmented governance landscape.
TANTANGAN COLLABORATIVE GOVERNANCE BERBASIS TRIPLE HELIX DALAM UPAYA PENURUNAN ANGKA KEMISKINAN DI PROVINSI ACEH Ihsan Hidayatullah; Lusi Endri Yani; Afrijal; Lathifah Nurainy; Irvan Shouldan
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 13 No. 4 (2026): 2026 April
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56015/gjikplp.v13i4.805

Abstract

Provinsi Aceh menghadapi paradoks pembangunan yang konsisten, di mana aliran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) bernilai triliunan rupiah per-tahun tidak berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, bahkan angka kemiskinan Aceh tetap menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera dengan persentase 12,22% pada September 2025, jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan kemiskinan di Aceh terkait collaborative governance yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan collaborative governance berbasis Triple Helix dalam upaya penurunan angka kemiskinan di Provinsi Aceh. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan analisis data melalui thematic synthesis yang mencakup tiga tahap, yaitu pengkodean teks bebas, pengelompokan tema deskriptif, dan pengembangan tema analitik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tantangan utama, yaitu dominasi birokrasi dan asimetri kekuasaan dalam model lead organization yang menempatkan aktor Pemerintah seperti Bappeda/TKPK sebagai pemegang kendali tunggal; lemahnya kepemimpinan fasilitatif yang bersifat direktif-hierarkis; konflik logika institusional antara pemerintah, akademisi, dan industri; rendahnya keterlibatan perguruan tinggi sebagai mitra strategis; serta ketidaksinkronan data dan lemahnya sistem informasi terpadu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi menuju collaborative governance yang efektif di Aceh membutuhkan pergeseran paradigmatik dari dominasi lead organization menuju shared governance, dari akuntabilitas formal menuju akuntabilitas substantif, dan dari keterlibatan seremonial menuju kemitraan strategis yang menempatkan pemerintah, akademisi, dan industri sebagai mitra yang saling melengkapi dalam ekosistem inovasi sosial yang inklusif.
ANALISIS COLLABORATIVE GOVERNANCE MODEL KOLABORASI DALAM PENANGANAN SAMPAH PERKOTAAN Puja Lestari; Dhiya Safriza Fahrina; Afrijal
Journal of Governance and Public Administration Vol. 3 No. 2 (2026): Maret
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jogapa.v3i2.3694

Abstract

Permasalahan sampah perkotaan berkembang menjadi isu strategis yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan tata kelola publik. Kompleksitas persoalan sampah mendorong perlunya pendekatan collaborative governance yang melibatkan berbagai aktor dalam proses pengelolaan sampah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model collaborative governance dalam penanganan sampah perkotaan, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan collaborative governance, mendeskripsikan hubungan dan peran antaraktor, serta menganalisis tantangan implementasi collaborative governance berdasarkan kajian literatur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari artikel jurnal, prosiding konferensi, buku ilmiah, dan dokumen kebijakan yang relevan dengan tema penelitian pada periode 2020–2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran literatur pada berbagai database ilmiah, sedangkan teknik analisis menggunakan analisis isi (content analysis) dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa collaborative governance menjadi pendekatan yang relevan dalam pengelolaan sampah perkotaan karena mampu memperkuat koordinasi, komunikasi, dan partisipasi antaraktor. Keberhasilan collaborative governance dipengaruhi oleh kepemimpinan kolaboratif, kepercayaan antaraktor, partisipasi masyarakat, komunikasi yang efektif, dan ketersediaan sumber daya. Penelitian juga menemukan bahwa implementasi collaborative governance masih menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat, lemahnya koordinasi antarinstansi, keterbatasan infrastruktur, serta perbedaan kepentingan antaraktor. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual dalam pengembangan model collaborative governance pada penanganan sampah perkotaan secara berkelanjutan. Kata kunci: collaborative governance, pengelolaan sampah, sampah perkotaan, tata kelola kolaboratif, partisipasi masyarakat
PENTA HELIX: MODEL KOLABORASI PEMERINTAH DALAM PEMBERDAYAAN UMKM SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG PARIWISATA BERKELANJUTAN Zikra Ul Khaira; Siti Attahira; Afrijal
Journal of Governance and Public Administration Vol. 3 No. 2 (2026): Maret
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jogapa.v3i2.3702

Abstract

Pembangunan ekonomi menunjukkan perubahan menuju model kolaboratif yang melibatkan berbagai aktor untuk menjawab tantangan yang semakin kompleks, khususnya dalam pemberdayaan UMKM dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran model penta helix dalam pemberdayaan UMKM serta mengkaji kontribusinya terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan yang bersumber dari artikel ilmiah dan literatur akademik terkini. Hasil penelitian menjelaskan setiap unsur dalam model penta helix, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media, memiliki peran yang saling melengkapi dalam meningkatkan kapasitas UMKM, memperluas akses pasar, mendorong produk inovasi, serta memperkuat transformasi digital. Sinergi antar aktor tersebut berkontribusi dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. UMKM memiliki peran strategis dalam mendukung pariwisata berkelanjutan melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan identitas lokal, serta peningkatan nilai ekonomi daerah. Kendala masih ditemukan pada aspek koordinasi antar aktor, keterbatasan sumber daya, serta belum meratanya pemanfaatan teknologi digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi kolaborasi dalam model penta helix menjadi kunci dalam memperkuat pemberdayaan UMKM dan mendukung pariwisata berkelanjutan.
Collaborative Governance: Strategi Pemerintah dalam Meningkatkan Pengembangan Pelaku Usaha Coffe Shop di Kota Banda Aceh (Model Collaborative Umum) Ahya Riwanda Muharram; Afrijal Afrijal; Salman Farisi
Edupreneurship: Jurnal Pendidikan Ekonomi Vol. 2 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : CV. Rumoh Aceh Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/jghyy371

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemerintah dalam meningkatkan pengembangan pelaku usaha coffee shop di Kota Banda Aceh melalui pendekatan collaborative governance. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah belum optimalnya kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan dan daya saing usaha coffee shop di tengah persaingan yang semakin ketat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur, dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah seperti jurnal, buku, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan usaha coffee shop dipengaruhi oleh faktor internal seperti modal, lokasi, dan pendapatan, serta faktor eksternal seperti daya beli masyarakat, harga bahan baku, dan tingkat persaingan. Dalam perspektif collaborative governance, telah terdapat interaksi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat, namun masih bersifat informal dan belum terstruktur secara kelembagaan. Peran pemerintah sebagai fasilitator menjadi sangat penting dalam membangun sinergi melalui pelatihan, akses pembiayaan, digitalisasi usaha, dan promosi ekonomi kreatif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan desain kelembagaan kolaboratif agar tercipta ekosistem usaha coffee shop yang berkelanjutan, adaptif, dan berdaya saing di Kota Banda Aceh.
Pendekatan Hexahelix Terhadap Manajemen Bencana Daerah dalam Sistem Peringatan Din dan Pemulihan Pasca Bencana Fathurrahman Hariri; Muhammad Luthfi; Afrijal Afrijal
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus pada mengkaji mekanisme kolaborasi dengan menggunakan pendekatan hexahelix dalam menanggulangi bencana daerah. Berfokus pada tahap peringatan dini serta pemulihan pascabencana. Permasalahan yang terdapat pada kerja sama antar berbagai pihak yang belum bisa menyatu, yang diamana aktor-aktor yang terlibat belum bisa saling meneriama berbagai perbedaan pendapat, sehungga hasil kerja sama yang dilaksanakan belum efektif, dan juga belum bisa menciptakan suatu solusi untuk permasalahan yang ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang dimana penuls mengumpulkan referensi/data dari berbagai karya ilmiah yang berkaitan dengan manajemen bencana dan cara kerja sama antar berbagai aktor. Dari pengumpulan referensi dari berbagai karya ilmiah, penulis mencoba untuk melihat bagaimana cara kerja antar aktor dengan pendekatan hexahelix ini, yang dimana melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, media massa, dan aturan hukum yang dapat membuat sistem kerja sama ini menjadi lebih jelas dan mudah dimengerti oleh masyarakat.
Penerapan Collaborative governance dalam Studi Kasus Jalan Tol Sibanceh dengan Model Hexa Helix Alif Fitra; Muhammad Maulana Rifki; Afrijal Jamal
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): APRIL-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ny1fz734

Abstract

Pembangunan infrastruktur strategis seperti Jalan Tol Sibanceh memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan konektivitas wilayah di Aceh. Namun, pelaksanaannya menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik lahan, permasalahan koordinasi antaraktor, serta keterlibatan masyarakat yang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan collaborative governance pada proyek Jalan Tol Sibanceh dengan menggunakan model Hexa Helix yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat, media, serta komunitas/LSM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan collaborative governance dalam proyek ini telah dilaksanakan, namun belum berjalan secara optimal, terutama dalam aspek partisipasi publik dan transparansi informasi. Pemerintah masih memegang peran dominan sebagai koordinator utama, sementara kontribusi aktor lain seperti media dan komunitas masih terbatas. Model Hexa Helix memberikan kerangka yang komprehensif dalam memahami dinamika kolaborasi multipemangku kepentingan, meskipun masih menghadapi hambatan struktural dan kultural. Penelitian ini merekomendasikan penguatan komunikasi lintas sektor, peningkatan partisipasi masyarakat, serta optimalisasi peran masing-masing pemangku kepentingan guna mewujudkan tata kelola pembangunan infrastruktur yang lebih inklusif dan efektif.
The Hexa Helix Collaboration Model For Stunting Reduction: A Collaborative Governance Perspective On Public Health Improvement Afrijal Afrijal; Nasywa Alifya; Syalsabilla Nafa Adam Pinata; Herizal Herizal; Soraya Agustina
JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan Vol 11, No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan
Publisher : Department of Politics and Government Science Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jiip.v11i1.29402

Abstract

This study aims to analyze the hexa-helix collaboration model in addressing stunting to improve public health. The research employs a qualitative method with a literature study approach, designed to provide an in-depth understanding of the stunting phenomenon by synthesizing and descriptively analyzing relevant data. By exploring various aspects such as community behavior, perceptions, motivations, and actions, this study seeks to gain a comprehensive perspective on the existing challenges and potential solutions. The findings indicate that stunting reduction efforts in Indonesia require a holistic and collaborative hexa-helix approach involving multiple sectors, including government, academia, the private sector, communities, media, and non-governmental organizations. Despite the presence of various strategic programs, significant challenges remain, particularly the unequal distribution of nutritious food and the suboptimal coordination across sectors. Cross-sectoral synergy and integrated interventions are therefore crucial to enhancing the effectiveness and sustainability of stunting prevention efforts.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Ade Mardiya Qahar Agustina, Soraya Ahya Riwanda Muharram Akbar, Arif Akhlakul karimah Al Farisi Alif Fitra Andika Hazli Kautsar Annisa Fatia Rizki Arneta Aulia Asyiatun Nabila Ayu Suraya Ayu Suraya Bustami Usman, Bustami Dahlawi Dahlawi Darkasyi Putra Dhiya Safriza Fahrina Dirma Wardatul Rizki Effendi Hasan Elsa Manora Fathurrahman Hariri Fatiyyatul Awfar Gaeska, Nasywa Qalbi Hauria, Hauria Helmi Helmi Helmi Helmi Helmi Helmi Herizal Herizal Herizal Herizal Herizal Humairah Fatin Sausan Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ihsan Hidayatullah Ikhsan Ikhwan Rahmatika Latif Ilham Mirza Saputra Irhamna Atthahirrah Shadri Irvan Shouldan Isnaini Muallidin Khaira, Raudhatul Lathifah Nurainy Lusi Endri Yani M. Nur Akhyar M. Rafi Maghfira Faraidiany Mauliza, Mauliza Maz, Dahlawi Miftakhul Jannah Hasny Mohd Dzakhi Ry Muhammad Desrian Hafizh Okfin Muhammad Luthfi Muhammad Maulana Rifki Muhammad Quranul Kariem Muhammad Reza Khairul Maulana Mukhrijal Mukhrijal Mukhrijal Nabila, Asyiatun Nabilah Azzahra Putri Nadia Nadia Nadilati Fuddailah Nasywa Alifya Nindiah, Isti Nofriadi Nofriadi Nofriadi Nofriadi Nurul Fajri Nurul Izzah Nurul Kamaly Nurwijayanti Pangeran Teuku Muhammad Rafli Pangeran Prabowo, Awangga Dwi Puja Lestari Putri Azhari Raihan Rahma Hanina Raisatul Afra Raudhatul Jannah Rizka Alvirra Saddam Rassanjani Saddam Rassanjani Safrizal ZA Salman Farisi Siti Attahira Soraya Agustina Sugeng Santoso Syalsabilla Nafa Adam Pinata Titin Purwaningsih Vellayati Hajad Vilzati Vilzati Wais Alqarni Wais Alqarni Wance, Marno Wildan Arfiga Yanza, Fabri Yudha Anata S Zikra Ul Khaira Zulqiram, Muhammad