Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Harmonisasi BNN dan BIN dalam Pemberantasan Tindak Pidana Narkotika Transnasional Zein Rasheed Khanna; Zulkarnain Ridlwan; Rinaldy Amrullah; Muhtadi; Heni Siswanto
Jurnal Hukum Lex Generalis Vol 6 No 7 (2025): Tema Hukum Pidana
Publisher : CV Rewang Rencang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56370/jhlg.v6i7.1394

Abstract

The eradication of narcotics crime is a national priority due to its impact on public health, social stability, the economy, and national security. This study aims to examine state sovereignty through the harmonization between the National Narcotics Agency and the State Intelligence Agency in combating narcotics crimes. The research uses a normative juridical method with the theory of the rule of law and law enforcement theory. The results show that cooperation between the two institutions is not yet optimal due to overlapping authorities and lack of integrated intelligence data, requiring regulatory strengthening and systematic inter-agency coordination.
Criminal Responsibility For Crimes Resulting From The Regional Head General Elections Dewi Nabila Sya’bania; Amrullah, Rinaldy; Prayoga, Satria
LEGAL BRIEF Vol. 14 No. 5 (2025): December: Law Science and Field
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Regional Head Elections are a fundamental manifestation of popular sovereignty at the regional level. They provide an arena for citizens to directly elect leaders who will determine the direction of regional policy. However, the implementation of Regional Head Elections in several regions is prone to fraud, which can undermine the democratic process itself. One relevant case, the focus of this research, is Decision Number 191/Pid.Sus/2024/PN.Met, involving Drs. Qomaru Zaman, M.A., Deputy Mayor of Metro City. The defendant delivered a statement that was deemed an invitation to the public to re-elect him. This case underscores the importance of effective law enforcement against violations committed by state officials in the implementation of regional elections. In this context, the role of the Prosecutor's Office becomes highly strategic as part of the Integrated Law Enforcement Center, working with the police and the Elections Supervisory Agency (Bawaslu). Criminal liability for the perpetrators of election-related crimes in this case has been applied in accordance with the principles of criminal law, specifically the principles of fault, capacity to be responsible, and legality.
Urgensi Penerapan Teori Kausalitas Guna Mewujudkan Asas Proporsionalitas dalam Pemidanaan Pelaku (Medepleger) Pembunuhan Berencana Tanjung, Ahmad Rafi; Maroni, Maroni; Amrullah, Rinaldy
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7735

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi penerapan teori kausalitas sebagai instrumen penakar kesalahan demi mewujudkan asas proporsionalitas dalam pemidanaan. Menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini menemukan bahwa penyeragaman hukuman bagi pelaku utama yang menyerang organ vital (causa proxima) dan pelaku serta yang hanya menyerang bagian nonvital (condition) mencederai keadilan substantif. Hakim dinilai gagal memfungsikan ajaran kausalitas sebagai saringan (filter) untuk mengindividualisasi pertanggungjawaban pidana. Kesimpulannya, penerapan teori kausalitas, khususnya teori generalisir dan individualisir, pada seharusnya diperlukan untuk membedakan bobot pemidanaan yang proporsional sesuai dengan derajat kontribusi faktual masing-masing pelaku dalam delik penyertaan, sehingga putusan tidak sekadar memenuhi kepastian hukum formal tetapi juga rasa keadilan.
Implementasi PERMA 1 Tahun 2020 Dalam Mewujudkan Keadilan dan Kepastian Hukum Terhadap Perkara Tindak Pidana Korupsi Ariafassa, Yaser; -, Maroni; Amrullah, Rinaldy
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7021

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelaah implementasi PERMA Nomor 1 Tahun 2020 terhadap perkara tindak pidana korupsi dalam mewujudkan keadilan dan kepastian hukum. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembentukan PERMA Nomor 1 Tahun 2020 didasarkan pada kewenangan atributif yang bersumber dari undang-undang, namun secara substansial belum memperoleh legitimasi yuridis yang memadai dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam praktiknya, PERMA Nomor 1 Tahun 2020 dapat dipandang sebagai instrumen Mahkamah Agung untuk mengisi kekosongan hukum yang timbul akibat ketiadaan pedoman pemidanaan, yang selama ini menjadi salah satu penyebab terjadinya disparitas putusan. Namun demikian, substansi pengaturan dalam PERMA ini belum sepenuhnya mampu menjamin kepastian hukum karena cakupannya yang terbatas serta tidak adanya sanksi bagi hakim yang tidak menerapkannya. Dari perspektif keadilan, formulasi pemidanaan yang diatur dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2020 telah disusun secara proporsional, sehingga berpotensi mewujudkan keadilan sepanjang diterapkan secara konsisten oleh hakim.
Analisis Putusan Pengadilan yang Merampas untuk Negara Barang Bukti Kendaraan Bermotor dalam Tindak Pidana Narkotika (Studi Putusan Nomor: 99/Pid.Sus/2024/PN.Liw.) Anggraini, Febri; Fardiansyah, Ahmad Irzal; Amrullah, Rinaldy
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. 6 No. 1 (2026): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmh.v6i1.1714

Abstract

This study analyzes a court decision that confiscated a motor vehicle used in a narcotics crime for the state, as regulated in Article 101 of Law No. 35 of 2009 on Narcotics. The main problem lies in determining the criminal liability of the perpetrator and assessing whether the confiscation of the vehicle meets the principle of legal certainty, especially when the ownership of the vehicle is unclear and may belong to a third party. This research employs a normative juridical approach, combining statutory and conceptual analyses based on secondary legal materials. The findings show that the perpetrator’s criminal liability was established through the fulfillment of legal capacity, intent (mens rea), and absence of justifying or excusing reasons. However, the court’s decision to confiscate the vehicle failed to ensure legal certainty because ownership was not clearly verified in the trial process. This study contributes to the discourse on the protection of third-party property rights and emphasizes the need for judicial consistency in applying the principle of legal certainty in narcotics-related confiscation cases.
Penjatuhan Pidana Bersyarat terhadap Pelaku Tindak Pidana Menyerang Nama Baik melalui Informasi Elektronik Utami, Erika Henidar; Amrullah, Rinaldy; Fardiansyah, Ahmad Irzal
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. 6 No. 1 (2026): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmh.v6i1.1715

Abstract

The crime of defamation committed through electronic information has become an increasing legal concern following the enactment of Law No. 1 of 2024 concerning amendments to the Electronic Information and Transactions Law. In practice, however, judges often impose conditional sentences instead of imprisonment, as seen in Decision No. 160/Pid.Sus/2024/PN.Kbu. This study aims to analyze the legal, philosophical, and sociological considerations underlying the imposition of a conditional sentence on perpetrators of defamation through electronic means and to examine whether such a decision aligns with the objectives of law justice, legal certainty, and expediency. This research employs a normative juridical approach using secondary legal materials, including statutory regulations, court decisions, and relevant legal literature. The data were analyzed descriptively through legal interpretation methods. The results show that the judge’s decision was based on juridical considerations that the defendant was proven to have violated Article 45 paragraph (4) in conjunction with Article 27A of the ITE Law; philosophical considerations emphasizing rehabilitation rather than mere punishment; and sociological considerations reflecting mitigating and aggravating factors. The imposition of a conditional sentence was found to be consistent with the principles of justice, legal certainty, and expediency, serving both corrective and preventive purposes.
Pelaksanaan Perampasan Aset Terpidana Tindak Pidana Korupsi dalam Hal Pemenuhan Uang Pengganti terhadap Objek Jaminan Hak Tanggungan Perbankan (Studi Kasus Perkara Putusan Nomor 30/Pid.Sus.Tpk/2023/Pn.Tjk) Putra, M. Yudhi Guntara Eka; Maroni, Maroni; Amrullah, Rinaldy
AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis Vol. 6 No. 1 (2026): AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis
Publisher : Perhimpunan Sarjana Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37481/jmh.v6i1.1736

Abstract

The enforcement of court decisions in corruption cases often faces legal and practical challenges, particularly when the convict’s assets are pledged as collateral under banking security rights. This study aims to examine how asset confiscation in corruption cases is carried out by the Prosecutor’s Office in fulfilling compensation payments when the assets are bound by mortgage rights, as well as to identify the inhibiting factors. Using a normative and empirical juridical approach, data were collected through literature studies and field interviews with prosecutors and criminal law scholars. The findings reveal that asset confiscation is constrained when the identified property has been mortgaged to a bank, as banking security rights provide legal protection to third parties acting in good faith. Consequently, the prosecutor cannot execute the asset to cover the compensation amounting to IDR 284,916,038, and the convict must instead serve an additional one-year imprisonment as ordered by the court. The main obstacles include substantive legal limitations, the absence of regulatory instruments for installment payments of compensation, and the convict’s preference to serve substitute imprisonment rather than paying compensation.
Peran Penegak Hukum (Timsus Sikat) dalam Pemberantasan Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberantasan (Curat) di Wilayah Kalianda I Nyoman Gita Semadi; Erna Dewi; Aisyah Muda Cemerlang; Rinaldy Amrullah
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2920

Abstract

Pencurian dengan pemberatan (curat) merupakan salah satu tindak kejahatan yang paling sering terjadi dan menimbulkan keresahan masyarakat. Untuk memberantas kejahatan ini, Polres Lampung Selatan membentuk Timsus Sikat sebagai unit khusus penegakan hukum. Penelitian ini mengkaji peran Timsus Sikat dalam menangani kasus curat serta faktor-faktor yang menghambat upaya penegakan hukum. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dan empiris dengan data primer dari studi kepustakaan dan wawancara dengan Kasat Reskrim, Kasatgas Timsus Sikat, serta akademisi hukum pidana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Timsus Sikat memiliki peran strategis bukan hanya dalam penyelidikan dan penyidikan, tetapi juga dalam upaya pencegahan melalui kolaborasi lintas unit. Meski demikian, efektivitas tim masih terhambat oleh keterbatasan SDM, teknologi, minimnya partisipasi masyarakat, serta potensi kolusi, sementara faktor sosial ekonomi turut memicu tindak kejahatan. Rekomendasi mencakup peningkatan kualitas SDM, penguatan teknologi pengawasan, perbaikan sistem kontrol internal, serta kerja sama pemerintah dan masyarakat dalam pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kewaspadaan. Edukasi hukum dan penguatan jaringan informasi juga diperlukan untuk meningkatkan dukungan publik dan efektivitas pemberantasan curat.
Patologi Birokrasi dan Hegemoni Kultural: Dekonstruksi Hambatan Sistemik Penegakan Hukum Pidana Perjudian di Indonesia Keisya Laila Rahma; Eko Raharjo; Rinaldy Amrullah; Tri Andrisman; Mamanda Syahputra Ginting
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3100

Abstract

Upaya pemberantasan perjudian di Indonesia menghadapi stagnasi serius meskipun instrumen hukum represif telah diterapkan. Kegagalan ini bukan sekadar akibat kekosongan norma, melainkan manifestasi dari hambatan struktural yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi kegagalan penegakan hukum pidana perjudian dengan menelaah dua variabel: "Patologi Birokrasi" dalam struktur negara dan "Hegemoni Kultural" di masyarakat. Menggunakan metode penelitian Socio-Legal dengan pendekatan kriminologi kritis, studi ini menganalisis data primer berupa putusan pengadilan dan regulasi, serta data sekunder dari laporan PPATK dan statistik kriminalitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perjudian telah bermetamorfosis menjadi kejahatan transnasional yang difasilitasi oleh State-Organized Crime, di mana aparat bermutasi dari penegak hukum menjadi pelindung (backing) melalui penyalahgunaan wewenang yang terlembaga. Di sisi lain, tekanan ekonomi struktural dan manipulasi narasi digital telah menciptakan hegemoni kultural yang menormalisasi perjudian sebagai "gaya hidup", melahirkan resistensi sosial berupa budaya bungkam (Omertà). Selain itu, transisi menuju KUHP Nasional 2026 menyimpan potensi celah hukum melalui pasal living law yang rentan dieksploitasi sindikat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan konvensional tidak lagi efektif. Diperlukan reformasi institusional mutlak melalui pembentukan satuan tugas independen, penerapan strategi follow the money yang agresif, serta regulasi ketat untuk mencegah legitimasi perjudian berkedok adat guna memulihkan supremasi hukum.
Peran Masyarakat Sipil Dalam Mencegah Tindak Pidana Korupsi Martha Yulisa; Maroni; Emilia Susanti; Rinaldy Amrullah; Refi Meidiantama
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.4874

Abstract

Korupsi merupakan kejahatan yang tidak hanya menimbulkan kerugian terhadap keuangan negara,, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Upaya pemberantasan korupsi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada aparat penegak hukum, melainkan memerlukan keterlibatan aktif masyarakat sipil sebagai bagian dari sistem demokrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran masyarakat sipil dalam mencegah tindak pidana korupsi, baik secara normatif, faktual, maupun ideal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan normatif dan empiris, dengan memanfaatkan data kepustakaan serta data lapangan yang diperoleh melalui pengamatan dan keterangan narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, peran masyarakat sipil telah memiliki dasar hukum yang jelas dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2018, serta Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Secara faktual, masyarakat sipil menjalankan perannya melalui pelaporan dugaan korupsi, pengawasan penggunaan anggaran publik, kampanye dan pendidikan antikorupsi, advokasi kebijakan, serta kerja sama dengan aparat penegak hukum, termasuk melalui organisasi seperti Lampung Corruption Watch (LCW). Secara ideal, masyarakat sipil diharapkan mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara konsisten dan berintegritas dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi. Dengan demikian, pencegahan tindak pidana korupsi akan lebih efektif apabila terdapat sinergi yang kuat antara negara dan masyarakat dalam membangun budaya antikorupsi.