Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Morfologi Kapang Endofit Cengkeh Afo dari Ternate Arini Zahrotun Nasichah; Utami Sri Hastuti; Endang Suarsini; Fatchur Rohman
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman cengkeh Afo induk dari Pulau Ternate memiliki kapang endofit yang perlu diidentifikasi terlebih dahulu jenis-jenisnya sehingga dapat dieksplorasi kemanfaatannnya melalui penelitian lebih lanjut dari masing-masing jenis kapang yang terisolasi dan teridentifikasi tersebut. Penelitian ini bertujuan melakukan isolasi dan identifikasi morfologi kapang endofit yang hidup di dalam tanaman cengkeh Afo dari Pulau Ternate. Isolasi kapang endofit dilakukan dengan media Potato Dextrose Agar. Identifikasi dilakukan dengan metode slide culture dengan media Czapex Agar. Hasil penelitian ini berhasil mengidentifikasi 8 spesies kapang endofit, yaitu Rhizoctonia sp, Diplococcium sp, Geotricum candidum, Aspergillus nidulans, Eurotium repens, Eupenicillium javanicum, dan Penicillium frequentans.Keywords:        isolasi, identifikasi, kapang, endofit, cengkeh Afo
STUDI TENTANG PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN KAPANG KONTAMINAN PADA TEPUNG TERIGU Henny Nurul Khasanah; Otavia Dewi; Safrudin M. Abidin; Utami Sri Hastuti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung terigu merupakan komoditas pangan yang banyak digunakan oleh masyarakat. Penggunaan tepung terigu biasanya meliputi dalam proses pembuatan roti, makanan ringan dan aneka masakan. Dalam skala rumahtangga penggunaan terigu ini umumnya tidak digunakan sekaligus. Para konsumen biasanya menyimpan sisa penggunaan tepung terigu dalam jangka waktu yang lama  untuk digunakan secara berkala. Tujuan penelitian ini ialah: 1) untuk mengidentifikasi spesies-spesies kapang  kontaminan yang terdapat pada tepung terigu; 2) untuk meneliti pengaruh lama penyimpanan terhadap keanekaragaman spesies kapang kontaminan pada tepung terigu. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel tepung terigu terdiri dari tiga macam merk yang disimpan dalam stoples kaca selama 0 hari, 7 hari dan 14 hari. Sampel tepung diperiksa kualitas mikrobiologinya berdasarkan Angka Lempeng Total Koloni Kapang. Sampel tepung terigu yang diperlakukan dengan lama penyimpanan diambil 25 gram kemudian dilarutkan dalam 225 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkatan pengenceran 10-1. Selanjutnya dilakukan pengenceran suspensi  sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 104, 10-5, dan 10-6. Masing-masing suspensi diinokulasikan sebanyak 0,1 ml pada permukaan medium lempeng Czapek Agar (CA), lalu diinkubasikan pada suhu 25-270C selama 7x24 jam. Kapang kontaminan yang tumbuh diisolasi, dihitung jumlahnya dan diidentifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) ada 14 spesies kapang kontaminan yang tumbuh dalam tepung terigu yaitu Penicillium funiculosum, Aspergillus flavus, Penicillium paraherquei, Eupenicillium hirayamae  Paecilomyces fulva, Aspergillus oryzae, Penicillium rugulosum, Aspergillus niger, Stachybotrys chartarum, Paecilomyces variotii, Cladosporium sphaerospermum, Aspergillus fumigatus, Aspergillus penicilloides, dan Penicillium corylophilum; 2) pada hari ke-0 terdapat lima spesies, pada hari ke-7 terdapat sembilan spesies dan pada hari ke-14 terdapat 14 spesies kapang kontaminan yang tumbuh      Kata kunci : tepung terigu, lama penyimpanan, kapang kontaminan
Isolation and Identification of Contaminant Molds on Pumpkin Candy from Sumbawa Besar Utami Sri Hastuti; Linda Hapsari; Henny Nurul Khasanah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 12, No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pumpkin candy is a sort of pumpkin fruit processed products that is typical food from Sumbawa Besar. Pumpkin candy contains carbohydrates, fats, protein, fiber, and minerals. The mold can contaminate and degradate the pumpkin candy compounds, thus lowering the quality of the pumpkins candy. The purpose of this research were: 1) to identify the species of contaminant mold on candy pumpkin; 2) to determining the most dominant species on the pumpkins candy. The research were conducted at the Microbiology Laboratory, Departement of Biology, State University of Malang. The pumpkin candy sample was from Sumbawa Besar. The samples stored in a sterile jar for 8 days. The 25 grams of pumpkin candy were granded, then dissolved in 225 ml of 0,1% peptone to obtain a suspension with a dilution rate 10-1. Then the suspension is diluted again gradually in order to obtain a suspension with a dilution rate 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, and 10-6. The suspension on each level of dilution was inoculated on a medium plate Czapek Agar (CA), and then incubated at 25-27oC for 7x24 hours. Identification contaminant molds was done by observing the colony morfology and microscopic characteristic then referred to the book of mold identification. The results showed: 1) there are 11 species of contaminants mold that grow in pumpkin candy. The contaminant mold species  are Aspergillus terreus Thorn, Penicillium brevicompactum Dierckx, Penicillium paraherquei Abe ex G. Smith, Aspergillus niger Van Tieghem, Penicillium frequetans Westling, Aspergillus candidus Link, Cladosporium herbarum (Pers.) Link ex Gray, Cladosporium cladosporioides (Fres.) de Vries, Nigrospora oryzae, Penicillium verrucosum Dierckx var corymbeferum (Westling) Samson et al., and Penicillium camemberti Thorn; 2) the dominant contaminant mold species in pumpkin candy  samples is Cladosporium.
TEKNOLOGI PENGAWETAN IKAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KERAGAMAN MIKOFLORA SERTA SPESIES KAPANG KONTAMINAN DOMINAN PADA DENDENG IKAN Utami Sri Hastuti; Permata Ika Hidayati
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 8, No 1 (2011): Prosiding Seminar Nasional VIII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.641 KB)

Abstract

ABSTRAK Dendeng ikan dapat terkontaminasi oleh berbagai spesies kapang kontaminan. Dendeng ikan merupakan salah satu produk olahan ikan yang banyak disukai oleh masyarakat dan banyak diproduksi sebagai industri rumah tangga dalam rangka diversifikasi produk ikan. Apabila spesies-spesies kapang kontaminan dapat menghasilkan mikotoksin, maka dapat membahayakan kesehatan para konsumen dendeng Ikan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) meneliti spesies-spesies kapang kontaminan yang dapat bertahan hidup pada ikan yang telah diawetkan menjadi dendeng ikan 2) mengetahui jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan pada dendeng ikan; 3) mengetahui spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada dendeng ikan. Sampel dendeng Ikan dibuat dengan menggunakan bahan baku ikan kembung lelaki (Rastreiliger canagurta). Dendeng ikan disimpan dalam suhu ruang selama 1-3 hari. Sampel dendeng ikan yang telah disimpan selama 6x24 jam sebanyak 10 gram dihaluskan dan dilarutkan dalam 90 ml larutan air pepton 0,1%, sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1 kemudian suspensi diencerkan lagi dalam larutan air pepton 0.1% pada tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5, 10-6. Suspensi pada masing-masing tingkat pengenceran dinokulasikan pada medium Czapek’s Agar sebanyak 0,1 ml dan diinkubasikan pada suhu 25°C selama 7x24 jam. Selanjutnya dilakukan penghitungan jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan, isolasi tiap spesies kapang kontaminan, pengamatan morfologi koloni, deskripsi ciri-ciri mikroskopis, serta identifikasi tiap spesies kapang kontaminan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, 1) Dalam sampel dendeng ikan yang diperiksa ditemukan 5 genus yang meliputi 17 spesies kapang. Kelima genus kapang tersebut ialah Aspergillus, Peniciilium. Fusarium, Cladosporium, dan Genicularia 2) Jumlah koloni tiap spesies kapang kontaminan pada dendeng ikan berkisar antara 0,13x104 cfu/g sampai 3,20x107 cfu/g sampel; 3) Spesies kapang kontaminan yang paling dominan pada dendeng ikan ialah Penicilium paraherquei yang berjumlah 3,20x10 cfu/gram sampel. Sehubungan dengan hal tersebut, maka keberadaan speies-spesies kapang kontaminan pada dendeng ikan perlu mendapat perhatian agar dendeng ikan tetap aman untuk dikonsumsi.   Kata kunci: Kapang kontaminan, dendeng ikan, mikoflor
Kajian Daya Antibakteri Beberapa Spesies Kapang Endofit yang Diisolasi dari Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jag.) Gaertn) Utami Sri Hastuti; Indriana Rahmawati; Putri Moortiyani Al Asna
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa spesies kapang endofit dapat memproduksi senyawa-senyawa bioaktif yang bersifat antimikroba, sehingga mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Melalui penelitian ini dilakukan pengujian daya antibakteri metabolit dari 7 spesies kapang endofit yang telah terisolasi dari daun dan ranting tanaman ginseng Jawa (Talinum paniculatum (Jag.) Gaertn). Tujuan penelitian ini ialah untuk : 1) menguji daya antibakteri metabolit kapang Colletotrichum acutatum, Colletotrichum coccodes,  Colletotrichum gloeosporioides, Xylohypha sp., Fusarium semitectum, Fusarium lateritium, Aspergillus candidus terhadap bakeri uji E. coli dan B. subtilis; 2) menentukan metabolit kapang endofit yang mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap E. coli; 3) menentukan metabolit kapang endofit yang mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap B. subtilis. Isolat masing-masing spesies kapang diinokulasikan ke dalam medium Potato Dextrose Broth (PDB) dan dikocok dengan shaker dengan kecepatan 120 rpm dalam waktu 7x24 jam, lalu disentrifugasi dengan kecepatan 300 rpm. Supernatan masing-masing spesies kapang diuji daya antibakterinya terhadap E. coli dan B. subtilis dengan metode difusi cakram. Hasil penelitian membuktikan bahwa : 1) metabolit masing-masing spesies kapang mempunyai daya antibakteri baik terhadap E. coli maupun B. subtilis; 2) metabolit kapang Aspergillus candidus mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap E. coli; 3) metabolit kapang Aspergillus candidus mempunyai daya antibakteri tertinggi terhadap B. subtilis.Keywords: daya antibakteri, kapang endofit, ginseng jawa, E. coli, B. subtilis
Kualitas Nata de Apple dengan Perbedaan Varietas Apel (Malus sylvestris Mill) dan Macam Gula Berdasarkan Tebal, Berat dan Kadar Serat Rofiqoh Lailatul Fitriyah; Utami Sri Hastuti; Agung Witjoro
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 15, No 1 (2018): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apple has the most fruit productio at Batu City. There are two apple  varieties; Manalagi cherry and Anna, but some apple varieties have low quality (grade D). The reason is because of low price and the consumers is not interesting to buy, so grade D apple decreased. An alternative to apply the grade D apple is by using for nata production with addition three sugar sort, that is cane sugar, palm sugar and siwalan sugar as a food diversification. This study aims to (1) examine the effect of varieties of apples on the quality of nata based on the weight, thickness and fiber content, (2) to examine the effect of three kinds of sugar on the quality of nata based on the weight, thickness and fiber content , (3) to analyze the difference effect of apples varieties and sugars sort that produce the highest quality nata. The results showed that (1) the apples varieties has significant effect on the nata quality based on the nata fiber content, but there is no significant effect of apples varieties on the nata quality based on the thickness and weight of nata. varieties Manalagi cherry variety produces the best nata quality based on the fiber content, (2) The sugar sorts significantly affect to the nata quality based on thickness, weight and nata fiber content. The use of palm sugar produces the best nata quality based on the thickness, weight and fiber content, (3) The interaction of apple varieties and sugars sorts significantly affect to the nata quality based on the thickness, weight and nata fiber content. Manalagi cherry variety with the addition of palm sugar gives the best nata quality based on the thickness, weight and fiber content
DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN DAN BUAH MURBEI (Morus alba L.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Shigella dysenteriae Utami Sri Hastuti; Anggia Oktantia; Henny Nurul Khasanah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Buah murbei (Morus alba L.) selain dapat dikonsumsi langsung, juga dapat dimanfaatkan sebagai obat batuk. Daun murbei juga dapat digunakan untuk mengobati beberapa macam penyakit, antara lain: batuk, gangguan pencernaan makanan, bisul radang kulit. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji daya antibakteri dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei  (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro; 2) menguji daya antibakteri dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Shigella dysenteriae secara in vitro; 3) mengetahui konsentrasi ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus; 4) mengetahui konsentrasi ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan  Shigella dysenteriae. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi FMIPA UM dan laboratorium ekstraksi Materia Medika Batu. Daun dan buah murbei (M. alba L.) dihaluskan dan dilakukan maserasi dengan alkohol 95% selama 3 hari, kemudian disaring steril. Hasil penyaringan daun dan buah murbei tersebut dipisahkan dari pelarutnya melalui evaporasi. Selanjutnya dilakukan pengenceran ekstrak untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85%, dan 95%. Pengujian daya antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Ekstrak daun dan buah murbei (M. alba L.) diperlakukan pada biakan S. aureus dan S. dysenteriae yang telah ditumbuhkan pada medium Nutrient Agar dan diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 1 24 jam. Penentuan daya antibakteri ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dilakukan berdasarkan hasil zona hambat perrtumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Shigella dysenteriae pada medium Nutrient Agar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh yang signifikan dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro; 2) ada pengaruh yang signifikan dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Shigella dycenteriae secara in vitro; 3) konsentrasi baik ekstrak daun maupun buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus ialah 85%; 4) konsentrasi ekstrak daun murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan  Shigella dysenteriae ialah 95%, sedangkan konsentrasi ekstrak buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan  Shigella dysenteriae ialah 85%.   Kata Kunci: daun dan buah murbei (M. alba L.), efek antibakteri, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae.
Observasi Histologik dan Identifikasi Fungi Endofit yang Diisolasi dari Cananga odorata (Lam.) Hook.F. & Thomson Utami Sri Hastuti; Dwi Rakhmawati; Ria Yustika Sari
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 15, No 1 (2018): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Some endophytic fungi live in medicinal plant tissue, include medicinal plant. This research was done to: 1) determine the endophytic fungi position in the Cananga odorata  plant tissue by histological observation; 2) identify the endophytic fungi species isolated from the leaf, twig, and petal flower of C. odorata. The position determination of endophytic fungi in the C. odorata plant tissue is done by microscopic observation. The endophytic fungi were isolated from the leaf, twig, and flower petal of C. odorata  plant by cutted these plant parts, then inoculated on Potato Dextrose Agar (PDA) medium and incubated in 27oC during 7 x 24 hours, each fungi that grow on the PDA medium were isolated, then the morphology and microscopic characteristic of each fungi colony isolates were described. Each endophytic fungi isolates were identified. The research result were:  1) the endophytic fungi position are on the epidermis cell wall and on the stomata guard cell wallof the leaf tissue, on the parenchymal cell wall of the twig tissue, and on the epidermis cell wall of the flower tissue; 2) Nine endophytic fungi species were isolated from the C. odorata leaf, twig, and flower petal are: Nigrospora sphaerica, Colletotrichum alienum,Mycellia sterilia1, C. kahawae, Rhizoctonia sp., C. aotearoa, Micellia sterilia2, C. alatae, dan C. queenslandicum.
Pengaruh Macam Gula Terhadap Kualitas Yoghurt Kacang Buncis (Phaseolus Vulgaris) Varietas Jimas Berdasarkan Hasil Uji Organoleptik Yulia Venicreata Dipu; Utami Sri Hastuti; Abdul Gofur
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 13, No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kacang buncis merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Kacang buncis berpotensi dibuat minuman sejenis susu asam yang disebut yoghurt kacang buncis. Pemanfaatan kacang buncis menjadi bahan utama yoghurt diperoleh dari hasil fermentasi bakteri asam laktat. Proses pembuatan yoghurt kacang buncis menggunakan variasi gula yaitu gula pasir, gula aren, dan gula palem yang berfungsi dalam pembentukan tekstur dan memberi rasa manis dalam proses pembuatan yoghurt sehingga diperoleh keseimbangan antara rasa asam dan manis. Digunakan variasi gula agar dapat diketahui jenis gula yang menghasilkan yoghurt yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk: 1)menganalisis pengaruh macam gula terhadap tekstur yoghurt kacang buncis; 2) menganalisis pengaruh macam gula terhadap aroma yoghurt kacang buncis; 3) menganalisis pengaruh macam gula terhadap rasa yoghurt kacang buncis. Jenis penelitian ini ialah penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan untuk setiap perlakuan. Obyek penelitian ekperimen ini terdiri macam gula yaitu gula pasir, gula aren dan gula palem yang diperoleh dari pasar besar Kota Malang. Tahapan pembuatan yoghurt kacang buncis dibagi menjadi 2 tahapan yaitu pembuatan sari kacang buncis dan pembuatan yoghurt kacang buncis. Pembuatan sari kacang buncis terdiri dari beberapa tahapan yaitu siapkan kacang buncis sebanyak 500 gram;penyortiran kacang buncis dari kotoran; pencucian kacang buncis; perendaman kacang selama 12 jam; perebusan kacang buncis sampai lunak; penghalusan kacang buncis yang ditambah dengan 1,5 liter air minum kemasan merk Aqua dengan blender; penyaringan kacang buncis sehingga diperoleh sari kacang buncis. Pembuatan yoghurt kacang buncis meliputi beberapa tahapan yaitu pemberian susu skim  sebanyak 60 gram dan variasi gula berupa gula pasir, gula aren dan gula palem sebanyak 50 gram ke dalam sari kacang buncis diaduk sampai homogen; pasteurisasikan sari kacang buncis pada suhu 80OC selama 10 menit; Dinginkan sampai mencapai suhu 45OC. Inokulasikan  starter merk Biokul sebanyak 60 ml per 1 liter sari kacang buncis diaduk sampai merata; tuangkan ke dalam ice cream cup; Inkubasikan  pada suhu kamar (26O-27OC) selama 1 x 24 jam. Metode uji organoleptik mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional tahun 1992 dengan No SNI 01-2981-1992, yang meliputi tekstur, aroma dan rasa disebutkan bahwa kriteria yoghurt dengan kualitas yang baik yaitu memiliki tekstur kental/semi padat, aroma normal yang khas dan rasa khas yaitu asam.  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016 di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Kualitas yoghurt kacang buncis yang  ditentukan berdasarkan hasil uji organoleptik, meliputi tekstur, aroma dan rasa yang dilakukan oleh 15 responden terlatih. Hasil penelitian uji organoleptik ini selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan analisis varian tunggal. Hasil penelitian membuktikan bahwa: 1) tidak ada pengaruh macam gula yang digunakan terhadap tekstur yoghurt kacang buncis yang dihasilkan; 2) tidak ada pengaruh pemilihan macam gula yang digunakan terhadap aroma yoghurt kacang buncis yang dihasilkan; 3) tidak ada pengaruh pemilihan macam gula yang digunakan terhadap rasa yoghurt kacang buncis yang dihasilkan.Kata kunci: Yoghurt, kacang buncis, macam gula, tekstur, aroma dan rasa
ANALISIS MIKROBIOLOGI MINUMAN TEH SEDUHAN BERBEDA MERK BERDASARKAN NILAI MPN COLIFORM DI KOTA MALANG Ana Syarifatun Nisa; Utami Sri Hastuti; Agung Witjoro
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.492 KB)

Abstract

ABSTRAK   Minuman teh seduhan memiliki beberapa kelebihan dalam menarik minat konsumen, diantaranya kemasan yang mudah dibawa dan selalu segar tetapi juga dapat mengalami kontaminasi oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Nilai MPN coliform dan coliform fekal minuman teh seduhan yang dijual di tiga pusat perbelanjaan Kota Malang; 2) Kualitas mikrobiologi minuman teh seduhan yang dijual di tiga tempat pusat perbelanjaan Kota Malang. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif observasional. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA UM pada bulan Maret-Mei 2012. Sampel yang digunakan adalah minuman teh seduhan rasa original merk A dan B yang dijual dari tiga pusat perbelanjaan Kota Malang. Pengambilan sampel dari tiap penjual diambil sebanyak tiga kali, dengan interval waktu dua minggu. Data penelitian hasil perhitungan nilai MPN coliform dan coliform fekal, dirujukkan pada nilai standar MPN coliform maksimum BPOM RI, Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Nilai MPN coliform pada sampel minuman teh seduhan merk A dan B yang dijual di tiga tempat pusat perbelanjaan Kota Malang secara berutut-turut ialah >2400 sel/ml dan >2400 sel/mL; 2) Nilai MPN coliform fekal pada sampel minuman teh seduhan merk A dan B yang dijual di tiga tempat pusat perbelanjaan Kota Malang secara berturut-turut ialah >2400 sel/ml dan >2400 sel/mL. 3) Nilai MPN coliform dan coliform fekal minuman teh seduhan kedua merk melebihi standar yang telah ditetapkan oleh BPOM RI yaitu < 3 sel/mL. Ditinjau dari nilai MPN coliform dan nilai coliform fekal dapat disimpulkan bahwa kualitas mikrobiologi minuman teh seduhan merk A dan B dari tiga tempat pusat perbelanjaan Kota Malang kurang memenuhi syarat kelayakan konsumsi.   Kata kunci: minuman teh seduhan, nilai MPN coliform, nilai MPN coliform fekal.
Co-Authors Abdini, Aulia Abdul Fattah Noor Abdul Ghofur Abdul Gofur Abdul Gofur Abdul Gofur Abdul Gofur Agung Witjoro Ahmad Najib Ajeng Daniarsih Ali Mustofa Ana Syarifatun Nisa Anggia Oktantia Anindya Nirmala Permata Arif Rahman Arini Zahrotun Nasichah Ary Maf’ula Asna, Putri Moortiyani Al Aswal Salewangeng Aziz Tanama Balqis Balqis Betty Lukiati Chandra Kirana Chandra Kirana Chandra Kirana Choirunnisa, Hesti Nur Chomisatut Thoyibah Dina Istia’nah Dwi Listyorini Dwi Rahmawati Dwi Rahmawati Dwi Rakhmawati Dwi Rakhmawati Endang Suarsini Erna Wijayanti Faiza Nur Imawati Ningsih Fatchur Rohman Fatchur Rohman Fatchur Rohman Febriani Sarwendah Asri Nugraheni Febriani Sarwendah Asri Nugraheni Fitri, Rizka Diah Fitria Maulita Fitria Maulita Frida Kunti Setiowati Galina Istiqhfarini Gani, Abdul Rasyid Fakhrun Hadi Suwono Hamidah, Rodiah Amin Hanzen, W.F Edi Hendra Susanto Henny Nurul Khasanah Henny Nurul Khasanah Henny Nurul Khasanah Herawati Susilo Herdina Rahma Zalita Hesti Nur Choirunnisa Ibrohim Imam Mudakir Indah Sari Dewi Indriana Rahmawati Indriana Rahmawati Indriana Rahmawati Intan Rezki Kurniasari Istamar Syamsuri Izzalqurny, Tomy Rizky Izzatinnisa’ Izzatinnisa’ Khusnul Khotimah Kuniasari, Intan Rezki La Arlan Labibah, Sylvana Bilqis Lely Hermawati Linda Hapsari Linda Hapsari M. Ainur Yaqin M. Amin M. Nidhamul Maulana Mafluhah, Luluk Rofiatul Mahesti, Tika Maknuna, Durrotul Mareta Arisswara Edy Mariyanti Mariyanti Mashuri Saputra Mastika, Laily Maghfiro Kamil Maya Firdausi Prayudhani Muhammad Andry Prio Utomo Muhammad Syamsussabri Murni Sapta Sari Natalia Rosa Keliat Naufal Wima Al Fahri Ningsih, Husdiani Nugraheni, Febriani Sarwendah Asri Nursyahbani Saraha Nurul Yanuarsih Nuzalifa, Yossie Ulfa Otavia Dewi Permata Ika Hidayati Pratama, Ade Wahyu Pratama, Aris Yudha Puspitasari, Dela Reni Putri M. Al Asna Putri Moortiyani Al Asna Qorry Aulya Rohmana Rahel Natalia Saragih Munthe Rahmadyah Kusuma Putri Ria Yustika Sari Ria Yustika Sari Ria Yustika Sari Rina Kristina Maria Rizky, Mirza Yanuar Rofiqoh Lailatul Fitriyah Rozana, Kennis Safrudin M. Abidin Saidil Mursali Saidil Mursali Sari, Ria Yustika Siti Aisaroh Siti Annisaa&#039;ul Kariimah Siti Hartina Pratiwi Siti Zubaidah Siti Zubaidah Sitoresmi Prabaningtyas Sri Rahayu Lestari Sueb Sugeng Handiyanto Sugi Hartono Suhadi Suhadi Sulisetijono Sulisetijono Sundari, Syifa Syafitri, Nur Laila Umi Lestari Umu Fatonatul Hidayah W. F. Edi Hanzen W.F Edi Hanzen Wa Ode Nurhawa Yahmi Ira Setyaningrum Yessi Hermawati Yesy Maulina Nadhifah Yheni Sapitri Yulia Venicreata Dipu Yulia Venicreata Dipu Yunita Putri Irsadul Ummah Yunita Rakhmawati Zahida, Nadila Sekar