Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Vernacular

Kearifan Lokal dalam Tarian Serampang Dua Belas di Etnik Melayu: Pendekatan Antropolinguistik Syafhira, Zhihand; Mayasari, Mayasari; Hidayati, Hidayati; Anayati, Wan; Lubis, Ilham Sahdi
Vernacular: Linguistics, Literature, Communication and Culture Journal Vol. 4 No. 1 (2024): July Edition 2024
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35447/vernacular.v4i1.899

Abstract

Serampang Dua Belas was the characteristic dance of Malay Deli in North Sumatera. This study was aimed at describing and revealing the local wisdom in Serampang Dua Belas dance. This study used the qualitative method. The researcher traced various journals related to the context theory of anthropolinguistics and semiotics use in language for study of its substance. The source of the data in this study was obtained from the twelve movements contained in the Serampang Dua Belas dance. The data was obtained from the record archives of Serampang Dua Belas dance at Istana Maimoon. In analyzing the data, qualitative analysis method was applied based on theory proposed Bogdan and Taylor. The result of the study showed that there were eleventh movements in Serampang Dua Belas dance which every step had its own meaning telling the story about the process of meeting a soul mate right up to the marriage. The meanings of each step were the first love, crush on, falling in love, crazy in love, the sign of love, love in return, looking for the truth, persisting the feeling, giving the answer, proposing, the bride meeting and the marriage.
Semiotik Sosial Yang Terkandung Dalam Tradisi Martahi Karejo Masyarakat Angkola: Array Lubis, Ilham Sahdi
Vernacular: Linguistics, Literature, Communication and Culture Journal Vol. 1 No. I (2021): JULY EDITION 2021
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.719 KB) | DOI: 10.35447/vernacular.v1iI.130

Abstract

Pada dasarnya masyarakat Angkola sangat menjunjung tinggi adat pada setiap kali ingin melaksanakan hajatan atau acara adat, di mana apabila ada salah satu dari warga yang ingin melaksanakan horja atau pesta dalam hal ini adalah Suhut, maka seluruh anggota keluarga akan bermusyawarah kepada para pataya-pataya adat atau ketua adat untuk menyampaikan keinginan atau keluhan untuk meminta bantuan kepada ketua adat tersebut agar kiranya disampaikan kepada para warga sekampung. Dalam hal ini, martahi karejo merupakan acara adat yang dilakukan sebelum prosesi upacara perkawinan pada masyarakat Angkola yang dimulai dari musyawarah seperti yang sudah dianalisis di atasyakni berbicara dalam bertutur sapa yang sangat khusus dan unik, antara barisan yang terdapat dalamdalian na tolu yaitu Kahanggi, Anak Boru dan Mora. Konteks situasi yang terlihat pada teks hobar pada tradisi martahi karejo yaitu medan wacana yang terdiri dari Hata ni Suhut, Hata ni Kahanggi, Hata ni Hombar Suhut, Hata ni Anak Boru, Hata ni Pisang raut, Hata ni mora, Hata mangalusi ni Hatobangon, Hata pangalusi ni Harajaon, Hata pangalusi ni orang kaya, Hata pangalusi ni Raja, dan Hatani Pasahat Burangir Taon-Taon. Sementara itu, yang dikategorikan sebagai pelibat wacana dari teks hobar pada tradisi martahi karejo adalah Suhut Si Habolonan, Kahanggi, Anak Boru, Pisang Raut, Na Mora , Hatobangon, Hatarajaon, OrangKaya, dan Raja Pasunan Bulung. Sedangkan yang dikategorikan sebagai sarana wacana dari teks hobar pada tradisi martahi karejo adalah pesan disampaikan secara lisan yaitu dengan cara monolog, berpidato dan berpantun. Makna perangkat adat yang mempunyai arti luas dan mempunyai filsafat bagi masyarakat Angkola khususnya, yakni (1) burangir (sirih), (2) gambir, (3) soda, (4) pining (pinang), (5) timbako (tembakau), (6) pinggan (piring), (7) abit (kain), dan (8) hadangan. Perangkat adat satu sampai lima dikatakan juga pada istilah masyarakat Angkola, yakni empat ganjil lima gonop yang artinya emapat masih terasa ganjil atau janggal maka harus dibuat 5 agar menjadi genap ataupun lengkap.