Claim Missing Document
Check
Articles

Peranan Balai Pemasyarakatan Dalam Pembimbingan Klien Residivis Yang Memperoleh Pembebasan Bersyarat Di Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi Iqbal Pahlawan Borotan; Ismansyah Ismansyah; Lucky Raspati
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 3 (2026): Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i3.2026.2154-2162

Abstract

Balai Pemasyarakatan (Bapas) memegang peranan strategis dalam sistem pemasyarakatan, khususnya dalam pembimbingan klien residivis penerima pembebasan bersyarat. Data Bapas Kelas II Bukittinggi menunjukkan bahwa dari 710 klien pembebasan bersyarat tahun 2025, sebanyak 56 orang merupakan klien residivis, sementara hanya terdapat 28 pembimbing kemasyarakatan yang bertugas di wilayah kerja mencakup 8 kabupaten/kota. Penelitian ini bertujuan menganalisis peranan Bapas Kelas II Bukittinggi dalam pembimbingan klien residivis penerima pembebasan bersyarat, kendala yang dihadapi, dan upaya penyelesaiannya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris bersifat deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembimbingan telah dilaksanakan melalui mekanisme wajib lapor, kunjungan rumah, serta tahapan pembimbingan awal, lanjutan dan akhir yang disertai program kepribadian dan kemandirian, namun belum optimal karena tidak ada diferensiasi pola pembimbingan dengan klien non-residivis; (2) kendala bersumber dari faktor internal (keterbatasan SDM, anggaran, sarana-prasarana, dan kekosongan regulasi khusus) dan faktor eksternal (rendahnya kepatuhan klien dan stigma sosial); (3) upaya penyelesaian dilakukan melalui optimalisasi Pokmas Lipas, pembentukan Pos Bapas, peningkatan intensitas pembimbingan, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat
Pertanggungjawaban Pidana Disabilitas Mental: Studi Perbandingan Hukum Indonesia, Jepang, dan Kanada Nurul Fadhilah Syakbani; Ismansyah; Nani Mulyati
Jurnal Niara Vol. 19 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/2gtkgm44

Abstract

Legal uncertainty in the application of Article 44 of the Criminal Code against perpetrators of criminal acts with mental disabilities in Indonesia, which often leads to disparity of decisions. The research method used is juridical normative approach to comparative law between Indonesia, Japan, and Canada. The results showed that in contrast to Indonesia, which does not yet have a strong post-verdict supervision mechanism, Japan through the Medical Treatment and Supervision Act (MTSA) and Canada through the Review Board system have integrated medical and legal assessments systematically. The discussion revealed that the absence of standardized forensic psychiatric evaluation standards in Indonesia resulted in a waiver of rehabilitation rights for perpetrators. In conclusion, Indonesia needs regulatory reform that adopts an integrated surveillance model and the construction of forensic mental health facilities to ensure legal certainty and community safety. This comparative study recommends the establishment of a special authority institution to supervise the process of treating mentally disabled offenders so as not to re-commit criminal acts.
Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Prostitusi Online Di Kota Padang Resmi Yani; Ismansyah; Nani Mulyati
Jurnal Niara Vol. 19 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/69wbr114

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola kejahatan kesusilaan, termasuk praktik prostitusi yang bergeser dari pola konvensional ke ruang digital melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Fenomena prostitusi online di Kota Padang menimbulkan keresahan sosial karena bertentangan dengan nilai-nilai adat dan agama masyarakat Minangkabau yang berfalsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, sekaligus memunculkan tantangan baru bagi aparat penegak hukum terutama pada aspek pembuktian dan penentuan konstruksi pasal yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-empiris bersifat deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Polresta Padang telah menjalankan penegakan hukum secara sistematis melalui upaya preventif dan represif berdasarkan KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023) dan UU TPPO. Kendala yang dihadapi meliputi keterbatasan penyidik siber, sulitnya memperoleh alat bukti digital, penggunaan identitas palsu, stigma sosial, dan keberagaman regulasi. Upaya optimalisasi mencakup peningkatan SDM, sarana-prasarana, dan kerja sama masyarakat.
Legal Certainty in the Reconstruction of the Dominus Litis Principle Concerning Connectivity Cases in the Criminal Justice System Yudhi Harioga; Ismansyah Ismansyah; Lucky Raspati
Journal of Creative Power and Ambition (JCPA) Vol. 4 No. 02 (2026): Journal of Creative Power and Ambition (JCPA)
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jcpa.1998

Abstract

The criminal justice system is a law enforcement mechanism aimed at achieving legal certainty, justice, and the protection of human rights. This study aims to examine: (1) how the *dominus litis* principle should be reconstructed regarding the prosecutor's authority in koneksitas cases; and (2) the certainty of the prosecutor's authority as the Public Prosecutor in relation to Article 170 of the Criminal Procedure Code (KUHAP) within the context of koneksitas cases. This study employs a socio-legal (juridical-empirical) research method. The study concludes the following: (1) The dominus litis principle serves as the legal foundation for the authority of the Public Prosecution Service within the criminal justice system, positioning the Public Prosecutor as the authority responsible for determining the viability of referring a case to court based on valid evidence. Thus, the dominus litis principle ensures a fair, consistent, and accountable prosecution process, as reinforced by the KUHAP. (2) Prosecutors hold the position of case controllers (dominus litis), as affirmed in Article 18 paragraph (1) of Law Number 11 of 2021 concerning the Public Prosecution Service of the Republic of Indonesia, which designates the Attorney General as the supreme public prosecutor. However, the practice of handling koneksitas cases such as a murder case involving a prospective Indonesian Navy non-commissioned officer still reveals a separation of judicial proceedings between civilian and military perpetrators; this creates legal uncertainty and fails to reflect the optimal application of the dominus litis principle by prosecutors.
The Urgency of Regulating Illegally Obtained Evidence (the Exclusionary Rule) in the Indonesian Criminal Justice System: A Perspective on Harmonizing the New Criminal Code and Criminal Procedure Code Shanty Syafyuana Putri; Ismansyah Ismansyah; Lucky Raspati
Journal of Creative Power and Ambition (JCPA) Vol. 4 No. 02 (2026): Journal of Creative Power and Ambition (JCPA)
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jcpa.1999

Abstract

Criminal law enforcement aims to achieve legal certainty, justice, and the protection of human rights through the criminal justice system. However, the practice of using illegally obtained evidence such as evidence secured through torture, intimidation, or procedural violations persists, even though the Criminal Procedure Code (KUHAP) mandates that evidence be obtained lawfully. This study aims to foster the transformation of Indonesia’s criminal justice system into one that is modern, civilized, and dignified a system where the truth is sought not through illicit means, but through transparent and accountable processes. The study employs a normative juridical research method, analyzing the law as a system of norms. The findings lead to the following conclusions: (1) The regulation of "exclusionary rules" within Indonesia’s criminal evidentiary system fails to provide legal certainty regarding illegally obtained evidence. Consequently, a revision of the KUHAP is required to explicitly regulate the application of exclusionary rules, thereby ensuring legal certainty, justice, and the protection of human rights. (2) The exclusionary rule principle aims to bar the use of illegally obtained evidence in order to protect human rights and guarantee a fair trial. Therefore, explicitly incorporating the exclusionary rule into the KUHAP is an urgent necessity to ensure legal certainty, justice, the integrity of law enforcement, and the protection of human rights.
Co-Authors Afwanul Bahri Ajang, Yupiter Anton Luter Apred Zenegger, Tigor Ardyan, Ardyan Aria Zurnetti, Aria Awilda Awilda Awilda, Awilda Azmi Fendri Bahary, Syamsul Berliana Suzeta Berri Septianda Budiyanto Budiyanto Cantiqa, Karenina Dafit Riadi Dea Tri Afrida Dia Ikhsan Edita Elda Elwi Danil Endang Suparta Fadhil Andika Satria Fadhillah Sabri Fadillah Sabri Firmansyah Firmansyah Frana Andrianur Gerry Jardan Habibiellah Huda Hafiz Aulia Harisa, Yossi Henni Muchtar Hidayat, Zulfian Hidayatullah, Tri Andika Ikhsan, Dia Indah Eka Putri Indy Zhafira Iqbal Pahlawan Borotan Jardan, Gerry Jhon Tyson Pelawi Jhon Tyson Pelawi Khairani Khairani Khairul Fahmi Khofifah Kusuma Wardani Kusuma Wardani, Khofifah Lucky Raspati Luter, Anton Marlina Marlina Marlina Marlina Maron, Yogi Maulani, Reza Sri Muhammad Fajri Akbar Perdana Muhammad Yamin Muhammad Yamin Lubis, Muhammad Yamin Mukhti, Putri Cempaka Mursalin, Adinda Faradilla Muslihannisa Muslihannisa Nanda, Novitra Nani Mulyati Nidya Sari, Tri Novitra Nanda Nur Afdhaliyah Nur Afdhaliyah Nursyahid Siregar Nurul Fadhilah Syakbani Otong Rosadi Pratama, Yuda Amgu Purwantoro Agung Sulistyo Ramli Ramli Regianda, Kevin Rembrandt Rembrandt Resmi Yani Reza Sri Maulani Rias, A. Irzal Ridwan Rinaldi Sarza Rully, Jodie Angelia Runtung Saidin Sari, Santi Kumala Sarza, Rinaldi Satya Marta Ruhiyat Shanty Syafyuana Putri Silvy Handayani Siska Elvandari Sitohang, Yeni Maria Rosalina Sofyan, Syofirman Subardy, Muhammad Rizky Suharizal, Suharizal Sukmareni Sukmareni, Sukmareni Susi Delmiati Suzeta, Berliana Syofiarti Syofirman Syofyan Tri Andika Hidayatullah Wetria Fauzi Wicaksana, Maharani Adhyaksantari Yasniwati, Yasniwati Yetti, Hafiza Yogi Maron Yoserwan Yoserwan Yoserwan Yoserwan, Yoserwan Yudari, Laras Yudhi Harioga Yunita Eka Putri Yunita Eka Putri Zainul Daulay Zhafira, Indy