Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Kemampuan Kompos Plus dalam Menekan Penyakit layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici) pada Tanaman Tomat Noor Istifadah; Toto Sunarto; Dian E. Kkartiwa; Diyan Herdiyantoro
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1422.139 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.639

Abstract

Penyakit layu fusarium merupakan salah satu kendala dalam budidaya tanaman tomat. Salah satu cara pengendalian penyakit ramah lingkungan yang banyak dikembangkan adalah pengendalian secara biologi (biokontrol). Artikel ini membahas penelitian yang menguji waktu aplikasi dan dosis kompos plus (formulasi campuran jamur antagonis Trychoderma sp., paecilomyces fumosoroseus, dan jamur endofit Papulaspora sp. dalam kompos) yang efektif menekan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos plus yang diaplikasikan pada medium persemaian (1:2, v/v) dan pindah tanam sebanyak 30 g atau 40 g per lubang tanam atau diaplikasikan pada saat pindah tanam saja sebanyak 40 g per lubang tanam, dapat menekan gejala internal penyakit layu fusarium sebesar 77,3 — 87,9%.
Potensi Mikrob Asal Air Rendaman Limbah Jamur Tiram untuk Menghambat Alternaria solani Sorr. in Vitro dan Penyakit Bercak Cokelat pada Tomat Noor Istifadah; Santa Monica; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.29198

Abstract

Penyakit bercak cokelat yang disebabkan oleh Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tomat. Salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan adalah pengendalian biologi. Bahan organik termasuk limbah jamur tiram merupakan salah satu sumber yang potensial untuk mendapatkan mikrob yang bersifat antagonistik terhadap patogen tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan mikrob dari air rendaman limbah jamur tiram yang dapat menghambat pertumbuhan Alternaria solani secara in vitro dan menekan penyakit bercak cokelat pada buah dan daun tomat. Percobaan terdiri dari beberapa tahap antara lain isolasi mikrob dari air rendaman limbah jamur tiram, seleksi awal dan uji lanjutan kemampuan isolat mikrob untuk menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro dengan metode dual culture. Isolat hasil seleksi in vitro diuji kemungkinan patogensitasnya pada buah tomat dan isolat non patogenik yang dapat menghambat infeksi A. solani diuji lebih lanjut pada tanaman tomat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa di antara 23 isolat mikrob yang diperoleh dari air rendaman limbah jamur tiram terdapat delapan isolat yang dapat menghambat pertumbuhan A. solani  secara in vitro dengan tingkat penghambatan berkisar antara 70,1% sampai  81,2%.  Pada pengujian di buah tomat, dua isolat jamur berhifa (Rhizopus spp.) bersifat patogenik dan tiga isolat mikrob non patogenik dapat menghambat infeksi A solani pada buah tomat sebesar  78,4% dan 83,7%. Pada percobaan di tanaman tomat, hanya dua isolat (isolat jamur TJ4 dan isolat bakteri TB25) yang dapat menekan penyakit bercak cokelat masing-masing sebesar 54,8% dan 37,9%.
Penekanan Penyakit Busuk Pangkal (Fusarium oxysporum f.sp. cepae) pada Bawang Merah oleh Beberapa Jenis Bahan Organik Yudhisa Hendri Prabowo; Fitri Widiantini; Noor Istifadah
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28876

Abstract

Busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae merupakan penyakit penting pada tanaman bawang merah. Bahan organik berpotensi untuk digunakan sebagai pengendali penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan bahan organik (blotong, limbah jamur merang, kompos jerami, dan pupuk kotoran ayam) untuk menekan penyakit busuk pangkal serta pertumbuhan dan hasil pada bawang merah. Mekanisme yang terlibat dalam penekanan F. oxysporum f.sp. cepae secara in vitro juga dikaji. Percobaan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis bahan organik yang diaplikasikan pada media tanam dengan atau tanpa penyiraman air rendamannya dua minggu sekali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua bahan organik yang diuji dapat menekan penyakit busuk pangkal pada bawang merah sebesar 50,5%-63,2% serta mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Mekanisme penekanan F. oxysporum f.sp. cepae oleh bahan organik sebagian besar karena adanya mikrob yang dapat menghambat pertumbuhan patogen tersebut. Mikrob yang menunjukkan penghambatan terhadap patogen yang terbaik (74,7%) adalah isolat MJ7 (Trichoderma sp.) yang berasal dari limbah jamur merang.
SOSIALISASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN KASCING SERTA PEMANFAATANNYA UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN DI DESA PAGERWANGI, LEMBANG, BANDUNG BARAT Noor Istifadah; Ceppy Nasahi; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Dharmakarya Vol 9, No 2 (2020): Juni, 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v9i2.25479

Abstract

Sebagian besar masyarakat Desa Pagerwangi, Lembang, Bandung Barat adalah petani dan peternak terutama ternak sapi. Salah satu kendala utama yang dihadapi petani dalam budidaya tanamannya adalah adanya penyakit. Penggunaan pestisida yang terus menerus dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satu cara pengendalian yang ramah lingkungan adalah dengan menggunakan bahan organik. Namun demikian banyak petani yang belum tahu mengenai hal tersebut. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk menyosialisasi dampak negatif dari pestisida dan perlunya pengendalian secara ramah lingkungan terutama dengan pemanfaatan bahan organik. Program yang telah dilaksanakan adalah penyuluhan tentang pentingnya pengendalian secara ramah lingkungan dan pemanfaatan bahan organik untuk pengendalian penyakit untuk petani di RW 10. Kegiatan ini ditindaklanjuti dengan pemberian benih sayuran dan pengarahan pemanfaatan bahan organik untuk pembuatan pupuk organik cair dan untuk pengendalian penyakit tanaman. Guna mendukung produksi bahan organik, dilakukan juga program yang berupa penyuluhan tentang pemanfaatan kotoran sapi untuk budidaya cacing yang limbahnya yaitu berupa kascing merupakan bahan organik yang sangat baik untuk pupuk dan juga pengendali penyakit tanaman. Penyuluhan ini ditindaklanjuti dengan adanya pelatihan budidaya cacing dan pembuatan kascing yang diikuti peternak, petani, serta wanita tani dari RW 03 dan RW 10. Selain diberikan keterampilan, peserta juga diberikan media dan bibit cacing, serta kotak kayu serta unit percontohan untuk budidaya cacing. Pendampingan dan koordinasi juga dilakukan untuk memfasilitasi pelaksanaan budidaya cacing, produksi kascing serta pemanfaatannya dalam budidaya tanaman ramah lingkungan.
THE EFFECTS OF COMPOSTED CATTLE MANURE DOSAGE ON THE CLUBROOT DISEASE, THE GROWTH, AND THE YIELD OF BROCCOLI Octa Saktianti; Noor Istifadah
Jurnal Penelitian Saintek Vol 23, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Institute of Research and Community Services, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.552 KB) | DOI: 10.21831/jps.v23i1.19326

Abstract

Clubroot disease caused by Plasmodiophora brassicae Wor. is a major constraint in the cultivation of broccoli. Compost has been widely explored as an eco-friendly option for controlling soil-borne pathogens. This study was aimed at examining the ability of several dosage of composted cow manure to suppress clubroot disease and support the growth and yield of broccoli under field conditions. The field experiment was conducted at Cisarua, Western Bandung, West Java. The experiment was arranged in a Complete Randomized Block Design with six treatments and four replications. The treatments tested were cow manure with the dosage of 25, 50, 100, and 200 g/plant, pesticide (active ingredient: flusulfamide), and a non-treated control. The result shows that all compost treatments suppressed clubroot disease by 29,25-45,58%. The application of cow manure compost could also support the growth and the yield of broccoli under field conditions.PENGARUH DOSIS KOMPOS KOTORAN SAPI TERHADAP PENYAKIT AKAR GADA, PERTUMBUHAN, DAN HASIL BROKOLIPenyakit akar gada yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae Wor. merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya brokoli. Bahan organik seperti kompos dapat digunakan untuk pengendalian penyakit secara ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mendapatkan dosis kompos kotoran sapi yang efektif untuk menekan penyakit akar gada dan mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman brokoli di lapangan. Percobaan lapangan dilakukan di lahan yang endemik akar gada di daerah Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah dosis kompos (25, 50, 100, dan 200 g/tanaman), pestisida (berbahan aktif flusulfamide), dan kontrol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kompos kotoran sapi yang diaplikasikan dengan dosis 25-200g per tanaman memiliki efek penekanan terhadap penyakit akar gada sebesar 29,25-45,58%. Semakin tinggi dosis aplikasi semakin tinggi pula efek penekanan yang dihasilkannya. Aplikasi kompos juga mampu mendukung pertumbuhan dan hasil brokoli di lapangan.
Efek Jamur Endofit Asal Daun dan Akar Kacang Tanah terhadap Pertumbuhan dan Penghambatan Patogen Inangnya Noor Istifadah; I P Sari
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 1, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46638/jmi.v1i2.20

Abstract

Keberadaan jamur endofit dalam jaringan tanaman dapat menguntungkan, merugikan atau tidak berpengaruh terhadap tanaman inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jamur endofit yang diisolasi dari akar dan daun kacang tanah terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah dan kemampuannya dalam menghambat patogen inangnya yaitu Sclerotium rolfsii dan Cercospora sp. secara in vitro. Sampel tanaman diperoleh dari daerah Panyingkiran (Kabupaten Majalengka), Jatinangor (Kabupaten Sumedang) dan Arjasari (Kabupaten Bandung). Isolat jamur endofit akar yang diperoleh diuji patogenesitasnya terhadap kecambah dan bibit tanaman kacang tanah. Isolat jamur endofit dari daun diuji patogenesitasnya dengan menginokulasikannya pada daun kacang tanah. Isolat jamur endofit akar yang bersifat non patogenik diuji kemampuan antagonistiknya terhadap S. rolfsii, sedangkan isolat yang berasal dari daun diuji terhadap Cercospora sp.secara in vitro. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari 13 isolat jamur endofit asal daun kacang tanah yang diperoleh, tiga isolat bersifat patogenik dan 10 isolat bersifat non patogenik. Semua isolat dari daun kurang efektif menekan pertumbuhan Cercospora sp. Diantara 10 isolat jamur endofit asal akar kacang tanah, sembilan isolat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah. Sebagian besar isolat jamur endofit asal akar yang diuji kurang efektif menghambat pertumbuhan S. rolfsii secara in vitro. Diperoleh satu isolat jamur endofit akar yaitu isolat SAE (Aspergilus sp.) yang dapat menekan pertumbuhan patogen tersebut sebesar 66.9%.
Efek Pencampuran Bahan Pestisida Nabati Terhadap Keefektifannya Dalam Menekan Colletotrichum sp. In Vitro Serta Penyakit Antraknosa Pada Stroberi Noor Istifadah; Anggi Ayuningtyas; Ceppy Nasahi
Agrologia Vol 6, No 1 (2017): Agrologia: Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman
Publisher : Faculty of Agriculture, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/a.v6i1.177

Abstract

Antrachnose disease caused by Colletotrichum sp. is one of the important diseases of strawberry in the field or after postharvest. The environmentally-friendly control measures is the use of botanical pesticides. Botanical pesticides that are commonly used by the farmers are mixture of several kinds of plant extract. This paper discuses the effects of combining water extract of garlic, galangal rhizome, and betel leaves on their efficacy in inhibiting conidial germination of Colletotrichum sp., the growth of miselium in vitro and the development of antracnose disease in strawberry. Preliminary study was conducted to determine the concentration of the extract that was used for further experiment. The experiment was arranged in the completely randomized design with 10 treatments involving water extract of garlic, galangal rhizome, betel leaves and their mixtures, fungicide and control/check. Each treatment was repeated three times.The results showed that combination of water extract of garlic, galangal rhizome and betel leaves did not enhance their efficacy. The inhibition effect of garlic water extract (5% concentration) was relatively better than its mixtures with galangal and betel leaves (total concentration 15%). The effects of galangal rhizome or betel leaves water extract and their mixtures were not significantly different. Water extract of garlic (15 %) inhibited Colletotrichum sp. which was showed by inhibition zone of 9.3 mm width; and suppressed the antrachnose disease in strawberry stolon by 83,7 %. 
Kandungan Hormon dan Pertumbuhan Tanaman pada Bioassay Bibit Kentang yang Diberi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Mycorrhizal Helper Bacteria Nurbaity, Anne; Suminar, Erni; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.49851

Abstract

Produksi bibit tanaman kentang secara in vitro melalui kultur jaringan merupakan teknik yang sedang berkembang. Berbagai upaya peningkatan kualitas bibit tanaman kentang telah dilakukan dan salah satu alternatifnya adalah dengan aplikasi pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan mycorrhizal helper bacteria (MHB). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan serta hormon yang dihasilkan FMA dan MHB pada bibit tanaman kentang yang dikulturkan secara in vitro. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas empat jenis media tumbuh dan sepuluh replikasi. Media tumbuh meliputi Murashige & Skoog (MS) kontrol, dengan FMA, MHB, dan kombinasi FMA dan MHB. Untuk melakukan inokulasi, 10 spora FMA (Glomus sp.) yang telah disterilisasi ditransfer ke zona akar tanaman, dan MHB (Pseudomonas diminuta) ditambahkan ke dalam media. Pengamatan dilakukan terhadap pertumbuhan bibit, berat segar akar dan pupus, serta hormon auksin, giberelin dan sitokinin (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA dan MHB menghasilkan hormon auksin, giberelin dan sitokinin. Efek pupuk hayati terhadap hormon tumbuh yang dihasilkan dan pertumbuhan bibit kentang berbeda secara signifikan. Selanjutnya, inokulasi FMA tunggal memiliki pengaruh yang sama dengan media MSR yang diinokulasi kombinasi FMA dan MHB terhadap pertumbuhan bibit tanaman kentang. Sintesis hormon sangat signifikan pada media yang diinokulasi MHB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati FMA bersama MHB mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman sebesar 9,01 cm atau 19,6% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan meningkatkan bobot segar sebesar 12,72 g atau 60% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Peningkatan pertumbuhan tanaman ini terkait dengan tingkat hormon tumbuh yang dihasilkan oleh FMA dan MHB yang juga lebih tinggi yaitu 4,06, 8,62 dan 5,77 µmol/mol NTP berturut-turut untuk auksin, giberelin dan sitokinin.
Pemanfaatan Limbah Padi dan Buah Kelapa untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah Saleh, Teddy Wahyana; Istifadah, Noor; Hartati, Sri
Agrikultura Vol 34, No 1 (2023): April, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i1.44952

Abstract

Produktivitas bawang merah di Indonesia masih belum optimal. Upaya peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik dari limbah pertanian. Pemanfaatan limbah dapat disiapkan dengan cara merendam bahan, fermentasi cair yang hasilnya dikenal dengan mikroorganisme lokal (MOL) serta pyrolysis yang menghasilkan biochar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan air rendaman dan MOL batang padi atau sabut kelapa, serta biochar sekam atau tempurung kelapa untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen bawang merah. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah pemberian biochar sekam atau tempurung kelapa pada lubang tanam, penyiraman air rendaman atau MOL batang padi atau sabut kelapa yang diaplikasikan secara tunggal dan kombinasi, kontrol dan cara petani. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi berbagai bentuk limbah organik yang diuji mampu mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Kombinasi pemberian biochar sekam padi atau tempurung kelapa sebanyak 15 g per lubang tanam dan penyiraman MOL batang padi atau sabut kelapa sebanyak 50 ml per tanaman pada 2, 4, 6 MST menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, berat berangkasan segar, serta hasil panen yang tidak berbeda secara nyata dibandingkan dengan cara petani yang menggunakan pupuk sintetik.
Uji Kitosan Nano dan Silika Nano untuk Menekan Pertumbuhan Rhizoctonia solani dan Penyakit Rebah Semai Padi Hersanti, Hersanti; Arisaputri, Annisa; Istifadah, Noor
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.50758

Abstract

Penyakit rebah semai yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani merupakan penyakit penting pada tanaman padi. Penggunaan pestisida kimia sintetik yang biasa dilakukan dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan adalah memanfaatkan bahan alami, yaitu kitosan dan silika berukuran nano. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan kitosan nano dan  silika nano dalam menghambat pertumbuhan R. solani secara in vitro dan menekan perkembangan penyakit rebah semai padi. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran dari bulan Januari hingga Mei 2022. Percobaan dilakukan dalam dua tahap, yaitu uji in-vitro dan in-vivo. Uji in-vitro (poisoned food) menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Uji in-vivo (seed treatment) menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sebelas perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu aplikasi kitosan nano  50 ppm, kitosan nano 100 ppm, kitosan nano 200 ppm, silika nano 50 ppm, silika nano 100 ppm, silika nano 200 ppm, kitosan nano 50 ppm + silika nano 50 ppm, kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm, dan fungsisida mankozeb 80% 2 mL/L. Hasil pengujian in-vitro diperoleh bahwa perlakuan tunggal kitosan nano 200 ppm dan perlakuan campuran kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm merupakan konsentrasi paling menghambat pertumbuhan koloni R. solani pada PDA, dengan  penghambatan berturut-turut  sebesar 92,2% dan 96,6%. Hasil uji in-vivo menunjukkan perlakuan silika nano tunggal pada konsentrasi 100 ppm dan perlakuan campuran kitosan nano 100 ppm + silika nano 100 ppm merupakan konsentrasi paling menekan kejadian penyakit rebah semai padi dengan penghambatan berturut-turut sebesar 97,16% dan 98,64%.