Putu Oka Yuli Nurhesti
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

HUBUNGAN KECANDUAN INTERNET DENGAN GEJALA DEPRESI PADA REMAJA Ni Komang Trisna Prihayanti; Kadek Eka Swedarma; Putu Oka Yuli Nurhesti
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 9 No 3 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.23 KB) | DOI: 10.24843/coping.2021.v09.i03.p14

Abstract

Gangguan mental yang umumnya dialami oleh remaja adalah depresi. Dewasa ini, penyebab terjadinya depresi pada remaja salah satunya yaitu kecanduan internet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecanduan internet dengan gejala depresi pada remaja di SMAN 2 Denpasar. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. 100 orang siswa terpilih menjadi responden penelitian dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Dua instrumen digunakan pada penelitian ini, yakni Internet.Addiction.Test. (IAT) dan Beck Depression.Inventory (BDI). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menggunakan internet dengan tujuan mengakses media sosial, menggunakan smartphone sebagai perangkat utama untuk mengakses internet, menggunakan internet pertama kali pada usia ?12 untuk laki-laki dan <12 tahun untuk responden perempuan serta <12 tahun untuk responden yang berusia <16 tahun dan ?12 tahun untuk responden yang berusia ?16 tahun, dan mayoritas menggunakan internet selama 4-6 jam. Sebagian besar responden mengalami kecanduan internet sedang dan mayoritas tidak mengalami gejala depresi. hubungan yang signifikan lemah dengan.arah positif antara kecanduan internet dengan gejala depresi pada remaja ditemukan pada pada penelitian ini dengan.p 0,012 (p<0,05; r = 0,252). Hal ini berarti terdapat hubungan antara.kecanduan.internet.dengan.gejala.depresi.pada.remaja.di.SMAN 2 Denpasar. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan penggunaan internet dan menggunakan internet sesuai kebutuhan.
Hubungan Lamanya Menjalani Hemodialisis dengan Fatigue pada Pasien Chronic Kidney Disease I Putu Edi Darmawan; Putu Oka Yuli Nurhesti; I Ketut Suardana
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 7 No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.659 KB)

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) menyebabkan penurunan fungsi ginjal untuk filtratsi darah yang bersifat progresif dan ireversibel. Pasien dengan CKD mengalami kerusakan pada ginjal yang mengarah ke keadaan darurat sehingga memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Hemodialisis biasanya dilakukan seumur hidup. Salah satu komplikasi yang sering ditimbulkan dari hemodialisis adalah fatigue. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara lamanya menjalani hemodialisis dengan fatigue pada pasien CKD di Ruang Hemodialisis RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sample yang sebanyak 55 responden. Multidemensional Fatigue Inventory (MFI) digunakan untuk mengukuran fatigue. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien CKD mayoritas menjalani hemodialisis di kelompok usia 41-60 tahun (89,1%), mayoritas responden adalah pria (70,9%). Hasil penelitian menunjukan rata-rata responden telah menjalani hemodialisis selama 25.302 ± 18.575 bulan. Rata-rata fatigue yang dialamai responden sebesar 62.75 ± 9.37 yang berada dalam ketegori sedang. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji Spearman Rank, hasilnya menunjukkan terdapat hubungan positif dengan kekuatan hubungan sedang antara lamanya menjalani hemodialisis dan fatigue p = 0, 000 (r = 0,540; p < 0,05). Koefisien determinan penelitian ini adalah 0,29, hal tersebut menunjukkan bahwa lamanya menjalani hemodialisis berpengaruh terhadap kejadian fatigue sebesar 29%. Kata kunci: chronic kidney disease, fatigue, hemodialisis ABSTRACT Chronic kidney disease (CKD) causes a progressive and irreversible reduction of kidney’s function to filtrate waste products from the blood. Patient with CKD go through severe damage on kidney which will lead to an emergency so they need replacement therapy such as hemodialysis. Hemodialysis usually should be done in the whole life. One of the most complication of hemodyalisis is fatigue. The purpose of this study is to determine the correlation between duration of hemodialysis toward fatigue on CKD patients in RSUP Sanglah Denpasar. The study was correlation research with cross sectional approach. The sampling teqnique was purposive sampling. The sample size were 55 people. Multidemensional Fatigue Inventory (MFI) was use as tool for data gathering. The result shows that most of CKD patients who routinely do hemodialysis was at age (41-60) years old (89.1 %). Almost 70.9 % patients was men. The duration of hemodialysis was 25.30 ± 18.57 month. The mean of fatigue is 62.75 ± 9.37 which is included in moderate fatigue. The result of Spearman rank test, results have shown moderate correlation between duration of hemodialysis and fatigue p = 0, 000 (r = 0,540; p < 0,05). The determinant coefficient of this study is 0,29 that showed 29% duration of hemodialysis affect fatigue incident which was led to a conclusion hemodialysis duration will effect patients’ fatigue. Keywords: chronic kidney disease, fatigue, hemodialysis
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MENGENAI STUNTING DENGAN KEJADIAN STUNTING DI DESA TIGA, SUSUT, BANGLI Luh Dila Ayu Paramita; Ni Luh Putu Shinta Devi; Putu Oka Yuli Nurhesti
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 9 No 3 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.845 KB) | DOI: 10.24843/coping.2021.v09.i03.p11

Abstract

Stunting is one of global health problem which is not yet could be prevented especially in Indonesia where the stunting prevalention considered higher than other developing countries. Stunting on infants will bring negative impact if not countermeasured immediately. Fundamentally, life sustainability and health condition of an infant depend on the health condition of the mother. Mother's knowledge and attitude influence on how she takes care of her infants. This study aimed to find the relation of knowledge and attitude toward stunting with the occurance of stunting at Tiga Village, Susut, Bangli. This study used the descriptive correlational with cross sectional approach method. Samples were taken from Tiga Village, Susut, Bangli using simple random sampling method with the result that 107 samples. Based on the results of this study there were 77 infants (72%) who suffered from stunting. Mostly, the mothers were categorized as poor knowledge which was consisted of 67 mothers (62,2%). However, the attitudes were categorized as good which consisted of 78 mothers (72,9%). The further analysis found that there were weak relation and negative pattern between mother's knowledge and attitude toward stunting with stunting occurences. The significance value (p) of knowledge was 0.038 and of attitude was 0.011. Its expected the local health authorities (puskesmas) could increase their role in assessing and planning the health programs, especially to stunting prevention.
HUBUNGAN ANTARA JENIS SEPATU DAN TINGGI HAK SEPATU DENGAN NYERI TUMIT (PLANTAR FASCIITIS) PADA PEGAWAI KANTORAN Kadek Shinta Pradnyandari; Putu Oka Yuli Nurhesti; I Gusti Ngurah Juniartha
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 10 No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.571 KB) | DOI: 10.24843/coping.2022.v10.i01.p12

Abstract

Nyeri tumit (Plantar Fasciitis) merupakan peradangan pada pita jaringan (plantar fascia) yang memanjang dari tumit hingga jari kaki. Plantar fasciitis sebagian besar dialami oleh orang dewasa yang aktif bekerja. Pemilihan jenis sepatu yang kurang tepat disebut sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya plantar fasciitis. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa sebagian besar plantar fasciitis disebabkan oleh penggunaan high heels. Namun, penelitian terkait jenis sepatu lain seperti wedges, flatshoes dan pantofel yang dihubungkan dengan kejadian plantar fasciitis belum banyak ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis sepatu dan tinggi hak sepatu dengan plantar fasciitis pada pegawai kantoran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelational dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Responden didapatkan melalui teknik simple random sampling sebanyak 160 orang. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif lemah antara jenis sepatu dengan plantar fasciitis pada pegawai kantoran (?=0,05; p value=0,03; r=0,23) dan terdapat hubungan positif sedang antara tinggi hak sepatu dengan plantar fasciitis pada pegawai kantoran (?=0,05; p value=0,18; r=0,57). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis sepatu dan tinggi hak sepatu dengan plantar fasciitis pada pegawai kantoran. Oleh karena itu, diharapkan agar pegawai kantoran dapat memilih sepatu yang sesuai dengan kebutuhan agar meminimalisir terjadinya plantar fasciitis. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan dalam bidang ergonomi dan kesehatan kerja agar dapat menyesuaikan tubuh dengan pemilihan sepatu sehingga tetap nyaman ketika bekerja dan dapat meningkatkan kualitas hidup.
KAJIAN TERAPI KOMPREHENSIF DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI TOTAL PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DENGAN CANCER RELATED FATIGUE YANG KEMBALI BEKERJA Putu Oka Yuli Nurhesti; I Putu Gede Adiatmika
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 9 No 4 (2021): Agustus 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.94 KB) | DOI: 10.24843/coping.2021.v09.i04.p01

Abstract

Pendekatan ergonomic total diperlukan untuk memfasilitasi penderita kanker payudara yang sudah dinyatakan sembuh dan kembali bekerja untuk dapat bekerja dengan nyaman dan tidak kehilangan produktivitas. Cancer Related Fatigue merupakan salah satu gejala umum yang terjadi pada pasien dengan kanker. Gejala ini juga dialami oleh pasien kanker yang mendapat kemoterapi, terapi radiasi, transplantasi sumsum tulang, atau pengobatan kanker lainnya. Pasien yang mengalami kesembuhan dari dari kanker melaporkan bahwa Cancer Related Fatigue adalah gejala gangguan yang dialami berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah perawatan kanker berakhir. Fatigue yang terus menerus terjadi pada pasien kanker dapat mengganggu kualitas hidup pasien sehingga diperlukan pengkajian dan penatalaksanaan yang baik terhadap kondisi ini. Pendekatan Ergonomi total dengan pendekatan Sistemik, holistik, interdisiplin dan partisiptori melalui teknologi tepat guna dibuat menjadi terapi komprehensif yang menggabungkan antara aktivitas fisik, terapi relaksasi dan edukasi merupakan salah satu bentuk penanganan Cancer Related Fatigue yang paling definitif. Kata Kunci: Pendekatan Ergonomi Total, Cancer Related Fatigue, kembali bekerja
GAMBARAN TINGKAT STRES MAHASISWA KEPERAWATAN UNIVERSITAS UDAYANA DALAM PROSES PEMBELAJARAN SELAMA PANDEMI COVID-19 Putu Herma Khrismadani; Ni Komang Ari Sawitri; Putu Oka Yuli Nurhesti
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 10 No 2 (2022): April 2022
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.207 KB) | DOI: 10.24843/coping.2022.v10.i02.p07

Abstract

Stres merupakan suatu respon psikologis yang dialami oleh setiap individu dimana individu tersebut dihadapkan pada hal-hal yang dirasa telah melampaui batas atau dianggap sulit untuk dihadapi. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan terhadap stres. Tingkat stres yang sedang sampai berat yang dialami oleh mahasiswa dapat menghambat proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres mahasiswa keperawatan Universitas Udayana dalam proses pembelajaran selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan rancangan cross sectional. Seratus enam puluh satu dari 270 mahasiswa dipilih dengan metode stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner adaptasi penelitian sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami stres sedang. Stres dilihat dari beberapa aspek, yaitu fisikal, emosional, intelektual, dan interpersonal. Berdasarkan jenis kelamin, tingkat stres didapatkan tinggi pada mahasiswa perempuan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan angkatan, tingkat stres paling tinggi terdapat pada mahasiswa angkatan 2020. Berdasarkan IPK, tingkat stres didapatkan tinggi pada IPK dengan pujian. Berdasarkan status tempat tinggal, tingkat stres didapatkan tinggi pada mahasiswa dengan status tempat tinggal bersama orang tua. Perubahan metode pembelajaran menjadi salah satu faktor pencetus perubahan psikologis. Proses adaptasi mampu menimbulkan dampak stres bagi mahasiswa, dikarenakan kesiapan mahasiwa dalam pembelajaran daring belum matang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar mahasiswa keperawatan Universitas Udayana mengalami stres sedang dalam sistem pembelajaran daring.
HUBUNGAN PAPARAN MEDIA PORNOGRAFI DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA I Nyoman Dyana Tripayana; Ida Arimurti Sanjiwani; Putu Oka Yuli Nurhesti
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 9 No 2 (2021): April 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.711 KB) | DOI: 10.24843/coping.2021.v09.i02.p03

Abstract

Remaja adalah masa dilewati oleh setiap individu, fase ini akan terjadi tansisi dari anak-anak menjadi dewasa.Kondisi ini menyebabkan rentan terjadi berbagai masalah. Masalah yang dapat terjadi yaitu tindakan seksualdikalangan remaja. Kejadian tindakan seksual yang tinggi pada remaja masih menjadi perhatian serius. Haltersebut dapat dipengaruhi oleh media telekomunikasi dan hasrat seksual, sehingga remaja semakin rentanterpapar oleh hal negatif, seperti paparan media pornografi. Penggunaan media pornografi yang meningkatmenyebabkan seseorang akan mengikuti tindakan yang telah dilihat atau di tonton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan media pornografi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di SMK Pariwisata Dalung. Penelitian ini dilaksanakan selama Maret-Juni 2020. Penelitian deskriftif korelatif dilaksanakan dalam studi ini dengan jumlah partisipan penelitian sebanyak 157 siswa yang ditentukan dengan teknik probability sampling. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian ini ditemukan terdapat hubungan yang signifikan sedang berpola positif antara paparan media pornografi dengan perilaku seksual pranikah remaja (p < 0,05). Peran media pornografi dapat memicu timbulnya perilaku seksual, perilaku tersebut menyebabkan remaja dapat mengalami masalah lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan remaja. Sehingga remaja perlu informasi yang bersifat positif untuk mengantisipasi masalah perilaku seksual pranikah.
PENGARUH TELENURSING TERHADAP PERAWATAN DIRI PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS I Wayan Wahyu Pratama; Putu Oka Yuli Nurhesti; Made Dian Sulistiowati
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 7 No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.796 KB)

Abstract

Perawatan diri adalah perilaku gaya hidup sehat yang dilakukan oleh individu untuk mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Perawatan diri juga bisa menjadi strategi yang dijamin untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan. Saat ini, ada banyak cara untuk mendukung pasien penyakit kronis. Salah satunya adalah telenursing. Telenursing sebagai proses pemberian, pengelolaan, dan koordinasi perawatan dan administrasi layanan kesehatan melalui teknologi informasi dan telekomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Telenursing terhadap kemampuan perawatan diri pasien. Intervensi diberikan selama tiga minggu. Ini adalah eksperimen semu dengan pretest-posttest menggunakan desain kelompok kontrol. Teknik sampel adalah purposive sampling. Jumlah sampel adalah 60 orang yang terdiri dari 30 orang pada kelompok kontrol dan 30 orang pada kelompok perlakuan. Uji Mann-Whitney diperoleh nilai p = 0,000 <0,05 yang berarti ada pengaruh yang signifikan kemampuan perawatan diri telenursing baik pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari Telenursing terhadap kemampuan perawatan diri. Kata kunci: telenursing, perawatan diri, penyakit kronis ABSTRACT Self care is healthy lifestyle behaviors committed by individuals to maintain optimal growth and development. Self care can also become a strategy that are guaranteed to promote and maintain health. Currently, there are many ways to support chronic illness patients. One of them is telenursing. Telenursing as a process of giving, managing and coordinating of care and administering health services through information technology and telecommunications. This research aims to know the influence of Telenursing to the self care patient ability. The intervention given for three weeks. This was quasi experimental with pretest-posttest using control group design. The sample technique was a purposive sampling. The number of sample were 60 people consisting of 30 people in control group and 30 people in treatment group. The Mann-Whitney test obtained p value = 0.000 < 0.05 which means there is significant influence of telenursing self-care ability both on treatment group and the control group. So it can be concluded that there is significant influence of the Telenursing to the self care ability. Keywords: telenursing, self care, chronic diseases
ANALISIS PENGGUNAAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN BERBASIS SDKI DAN NANDA Putu Oka Yuli Nurhesti; Ni Ketut Guru Prapti; Made Oka Ari Kamayani; Putu Adi Suryawan
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 8 No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.806 KB) | DOI: 10.24843/coping.2020.v08.i02.p02

Abstract

Nursing care is a scientific method in the development of the scientific nursing body of knowledge. Nursing care is a means of developing the discipline of nursing and nursing practice that characterizes nursing and distinguishes the nursing profession and other professions. This development can be done continuously through nursing research. SDKI and NANDA are the two diagnostic standards used in the provision of nursing care in Indonesia. The ability of nurses to perform the nursing diagnosis stage in nursing care is very important because it will influence the stage of goal setting and intervention as well as evaluation and documentation. The general objective of this study was to determine the differences in the application of nursing diagnoses with the SDKI and NANDA which are diagnostic standards that have been applied internationally. This was a comparative study, which uses both the outpatient and inpatient case settings for the application of nursing diagnoses at Udayana University Hospital. The sample for each group used 30 cases. The results show there are differences in ease, clinical reasoning, and diagnostic comprehension based on the SDKI and NANDA. There is no difference in nursing diagnoses in the language context of diagnosis between the SDKI and NANDA. Both diagnosis standards can be used as a reference in nursing care in a hospital. Differences in diagnosis raised only in the use of language individually Keywords: nursing diagnosis, SDKI, NANDA
PENGARUH PELATIHAN KADER KESEHATAN JIWA TERHADAP PERSEPSI KADER DALAM MERAWAT ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA Putu Ari Indrawati; Ni Made Dian Sulistiowati; Putu Oka Yuli Nurhesti
Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia Vol 6, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.508 KB) | DOI: 10.26714/jkj.6.2.2018.71-75

Abstract

Gangguan jiwa adalah suatu penyimpangan proses pikir, alam perasaan, dan prilaku seseorang, yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi sosial, psikologis, genetik, fisik/kimiawi, atau biologis. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam merawat orang dengan gangguan jiwa adalah pemberian psikofarmaka dan penanganan secara psikologis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat. Saat ini masih terdapat stigma psikiatri negatif di masyarakat, oleh karena itu hal yang harus dibenahi adalah persepsi yang salah mengenai gangguan jiwa tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan membentuk kader kesehatan jiwa yang secara sukarela mau berpartisipasi dalam manajemen kasus gangguan jiwa yang ada di masyarakat. Kader merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat mulai secara swadaya melakukan pencegahan terkait masalah kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan kader kesehatan jiwa terhadap persepsi kader dalam merawat orang dengan gangguan jiwa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis quasy experiment, dan merupakan studi komparatif, dengan design penelitian pre post-test design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 27 orang didapat dari teknik sampling purposive sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji statistik didapatkan nilai z = -4,568, dengan p value = 0,000, (p<α (0,05)), dengan demikian didapat hasil pelatihan kader kesehatan jiwa berpengaruh terhadap persepsi kader dalam merawat orang dengan gangguan jiwa. Kata kunci: Pelatihan kader, Persepsi kader, Merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa. ANALYZE THE INFLUENCE OF CADRE FOR MENTAL ILLNESS TRAINING ON CADRE PERCEPTION FOR CARING PEOPLE WITH MENTAL ILLNESS ABSTRACTMental illness is an abnormality of thinking, emotion, and behavior process which is caused by social, psychological, genetics, phisical, or biological function disorders. Drug-induced could change in mood, thinking, and behavior process. Psychological treatments are kind of methods which can be used to treat someone who has experienced mental illness. It can be done by health worker, family, and society.  Negative psychyatry stigma still goes wide nowadays and this wrong perception related to mental illness should be cleared. One way that we can do is to create cadre for mental illness. The cadre is voluntarily participated for managing mental illness cases on society. Cadre is one of society empowerments so that expected the society begin to prevent health problems by self-supporting. This study aims to analyze the influence of cadre for mental illness training on cadre perception for caring people with mental illness. This study was a comparative study with quantitative approach. This study was quasi experiment with pre and post test design. There were 27 samples that collected by porposive sampling technique. The results of this study based on statistic test were obtained value of z = -4,568, with p value = 0,000, (p<α (0,05)). Based on the above findings, it can be concluded that there are significant impact of cadre mental illness training on cadre perception for caring. Keywords:  Cadre training, Cadre perception, Mental illness care.