Claim Missing Document
Check
Articles

KETERKAITAN JUMLAH TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DENGAN DISTRIBUSI KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN CITRA MODIS DI LAUT JAWA DAN SELAT MAKASSAR Ashari, Fuad; Redjeki, Sri; Kunarso, Kunarso
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.801 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.6009

Abstract

Laut Indonesia sangat kaya akan sumberdaya perikanan, terutama ikan pelagis yang menjadi hasil tangkapan utama nelayan. Peramalan daerah tangkapan ikan bisa menggunakan indikator suhu permukaan laut dan kadar klorofil-a. Hasil peramalan daerah tangkapan ikan belum digunakan oleh nelayan dari Kecamatan Juwana Kabupaten Pati karena belum yakin adanya keterkaitan kadar klorofil-a dan SPL dengan hasil tangkapan.Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan tingkat keterkaitan jumlah tangkapan ikan pelagis kecil dengan sebaran klorofil-a dan suhu permukaan laut di Laut Jawa dan Selat Makassar.Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juli 2013. Daerah pengambilan data berada di Laut Jawa sampai Selat Makassar, berada pada Lintang 2 - 7⁰ LS dan Bujur 112 – 118⁰ BT. Data penelitian yang digunakan berupa hasil tangkapan, arah dan kecepatan arus, serta koordinat titik tangkapan, juga data sebaran klorofil-a dan SPL yang diperoleh dari citra satelit MODIS level-3 periode 8-harian dan data angin dari website www.ecmwf.int. Kadar klorofil-a yang ditentukan secara detail per lokasi tangkapan berkaitan sangat lemah dengan hasil tangkapan ikan layang, tongkol, semar dan banyar yang ditangkap menggunakan alat tangkap purse seine. Kadar klorofil-a yang ditentukan secara rerata keseluruhan di area penangkapan berkaitan kuat dengan hasil tangkapan ikan layang, tongkol, semar dan banyar yang ditangkap menggunakan alat tangkap jaring purse seine dengan nilai koefesien korelasi (r) 0,638. Suhu permukaan laut baik yang ditentukan detail per lokasi tangkapan maupun secara rerata keseluruhan area tangkapan mempunyai tingkat keterkaitan sedang dengan hasil tangkapan ikan layang, tongkol, semar dan banyar yang ditangkap menggunakan alat tangkap jaring purse seine dengan nilai kisaran koefesien korelasi (r) –(0,502 – 0,534). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan nelayan  purse seine dalam melakukan proses penangkapan disamping kadar klorofil-a dan SPL juga arah arus permukaan dan arus dalam serta arah angin.
Perubahan Kedalaman & Ketebalan Termoklin pada Variasi Kejadian ENSO, IOD & Monsun di Perairan Selatan Jawa Hingga Pulau Timor ( Charge of Thermocline Thickness & Depth on the Variation of ENSO & IOD Events in the Waters of the Southern Java to Timor Isl) Kunarso Kunarso; Safwan Hadi; Nining S Ningsih; Mulyono S Baskoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.796 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.2.87-98

Abstract

Lapisan termoklin berperan dalam identifikasi kedalaman lapisan renang dari ikan tuna. Identifikasi perubahan kedalaman termoklin pada variabilitas ENSO (El Nino Southern Oscilation), IOD (Indian Oscillation Dipole Mode) dan Monsun, dikaji berdasarkan data CTD(Conductivity-Temperature-Depth) dan argofloat yang terakumulasi dalam Word Ocean Data (WOD) dari tahun 1985–2011. Data angin dari National Centre for Environmental Prediction (NCEP), data-data intensitas hujan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan data-data indek anomali iklim global (SOI SouthOscillation Index), NINO3.4 dan IOD) digunakan untuk melengkapi analisis permasalahan. ENSO, IOD dan Monsun ditemukan semuanya berpengaruh terhadap kedalaman batas atas, batas baw ah, dan ketebalan termoklin. Secara umum ditemukan kedalaman batas atas pada musim timur lebih dalam daripada saat musim barat. Berdasarkan variasi antar tahunan iklim global ditemukan bahwa batas atas pada kejadian El Niño umumnya lebih dangkal (rerata 50,9–51,7 m) daripada saat La Niña (rerata 58,4–60,2 m). Sebaliknya batas bawah termoklin pada saat El Niño ditemukan lebih dalam (rerata 262,9–281,8 m) daripada saat La Niña (rerata 204,5–259,6 m). Ketebalan termoklin pada saat El Niño ditemukan umumnya lebih tebal (rerata 211,2–230,9 m) daripada saat La Niña (rerata 144,4–201,2 m). Faktor tingginya curah hujan sebagai indikator besarnya tutupan awan berpengaruh terhadap batas bawah termoklin, semakin tinggi curah hujan maka semakin dangkal batas bawah termoklin. Disamping faktor tersebut faktor tingginya anomali SST (seawater surface temperature) di NINO3.4 dan besarnya nilai IOD berpengaruh terhadap variabilitas kedalaman batas atas dan batas bawah termoklin. Semakin tingginya nilai anomali SST di NINO3.4 dan semakin besar nilai IOD (+) maka batas atas termoklin akan semakin dangkal dan batas bawahnya makin dalam. Kata kunci: Termoklin , ENSO, IOD, Monsun, perairan selatan Jawa, Timor   Thermocline layer is needed on depth identification of tuna-like fish swimming area. Identification of thermocline depth changes due to ENSO (El Nino Southern Oscilation), IOD (Indian Oscillation Dipole Mode) and monsoon variability were determined based on CTD(Conductivity-Temperature-Depth) and argofloat data accumulated in the Word Ocean Data (WOD) from 1985–2011. The wind data was collected from National Centre for Environmental Prediction (NCEP), rainfall intensity (from Indonesian Meteorology and Climatology Agency), and climate anomaly index of global climate change (SOI (SouthOscillation Index), NINO3.4 and IOD) were also used to support problem analysis. ENSO, IOD and monsoon determined as influencing upper and lower threshold and thermocline thickness. In general the depth of upper threshold in the eastern monsoon was deeper compare to in the western monsoon. It was also identified that, based on global climate annual variation, the upper threshold during El Niño fenomenon was shallower (average range of 50.9 m–51.7m) compare to the threshold during La Niña (58.4 m–60.2 m). On the other side the lower threshold during El Niño was deeper (262.9m–281.8 m) compare to the threshold during La Niña (204.5 m–259.6 m). The thermocline thickness itself during El Niño was found thicker (211.2 m–230.9 m) compare to La Niña (144.4 m–201.2 m). Heavy rainfall precipitation, as an indicator of cloud coverage, was determined as influencing the thermoc line lower threshold where the bigger rainfall precipitation the shallower lower threshold found. The high anomaly of Sea Surface Temperature (SST) in NINO3.4 and high value of IOD was also significantly influenced the thermocline upper and lower threshold variability. The higher anomaly value of SST in NINO3.4 and the bigger IOD(+) value resulting shallower upper threshold and deeper lower threshold. Key words: Thermocline, ENSO, IOD, Monsoon, southern waters of Java, Timor
Natuna Off-Shelf Current (NOC) Vertical Variability and Its Relation to ENSO in the North Natuna Sea Hariyadi Hariyadi; Johannes Hutabarat; Denny Nugroho Sugianto; Muhammad Faiq Marwa Noercholis; Niken Dwi Prasetyarini; Widodo S. Pranowo; Kunarso Kunarso; Parichat Wetchayount; Anindya Wirasatriya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.2.63-70

Abstract

During the northwest monsoon (NWM), southerly flow off the Natuna Islands appeared as the extension of the turning Vietnam coastal jet, known as Natuna off-shelf current (NOC). NOC is generated by the interaction of wind stress and the North Natuna Sea’s bottom topography. The purposes of the present study is to investigate the vertical variability of NOC and its relation to El Niňo Southern Oscillation (ENSO) using Marine Copernicus reanalysis data. The vertical variability refers to the spatial distribution of NOC pattern at the surface layer, thermocline layer, and deep/bottom layer.  in 2014 as representative of normal ENSO condition. To investigate the effect of ENSO, the spatial distribution of NOC in 2011 and 2016 were compared which represent the La Niňa and El Niňo conditions, respectively. The results show that NOC starts to generate at the southeast monsoon season to the transition I season and peaks in the northwest monsoon season. The occurrence of NOC is identified at all depth layers with the weakened NOC at the deep layer. Related to the ENSO effect, La Niňa tends to strengthen NOC while El Niňo tends to weaken NOC. These are releted with the strengthening and weakening northerly wind speed during La Niňa and El Niňo, Respectively. During La Niňa events, the NOC occurs more frequently than during El Niňo. Thus, beside affecting the magnitude of NOC, ENSO also influence the frequency occurrence of NOC.
Karakteristik Upwelling di Sepanjang Perairan Selatan NTT Hingga Barat Sumatera Kunarso Kunarso; Nining Sari Ningsih; Agus Supangat
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.813 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.1.17-23

Abstract

Kejadian upwelling di sepanjang perairan Selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Barat Sumateramerupakan bentuk evolusi upwelling yang setiap tahun berulang. Fenomena upwelling ini dipengaruhioleh musim dan iklim. Adanya perubahan fenomena iklim (Normal, El Niño, dan La Niña) diduga akanmenyebabkan perubahan karakteristik upwelling, baik temporal (periode upwelling), spasial (distribusihorisontal), maupun intensitasnya. Berdasarkan hasil analisa dari data pola angin, model pola arus, sebaran suhu baik dari model maupun dari WOD ( Word Ocean Data ), serta data satelit yang berupa SST ( Sea Surface Temperature ) dan chlorofil-a, ditemukan bahwa pada variasi fenomena iklim (Normal, El Niño dan La Niña) tahunan , menunjukkan karakteristik upwelling yang berbeda. Upwelling pada tipe periode El Niño mempunyai karakteristik lebih lama, lebih luas distribusi spasialnya dan lebih kuat intensitasnya dibanding pada periode Normal dan La Niña. Upwelling pada tipe periode La Niña mempunyai karakteristik paling singkat kejadiannya, paling sempit distribusi spasialnya dan paling kecil intensitasnya dibanding periode El Niño dan Normal.Kata kunci: Upwelling, Normal, El Niño, La NiñaUpwelling evolution on the Southern Coast of NTT to the Western Coast of Sumatera occurs periodicallyevery year. This upwelling phenomena is affected by weather and climate. The climate variability (Normal,El Niño, dan La Niña) are supposed to couses the upwelling characteristic changes, both temporally(upwelling periodic) and spacially (horizontal distribution) and also upwelling intensity. Based on wind data analysis, current patern model, temperature distribution carried out from model data, Word OceanData and Sea Surface Temperature and chlorophyl-a obtained from satelite image, it is found thatinterannual variability of climate (Normal, El Niño, and La Niña events) couses different upwellingcharacteristics. Upwelling during the El Niño event has longer period, wider spacial distibution andstronger intensity than that during the Normal and La Niña ones. Upwelling during the La Niña eventshas shorter period, narrower spacial distribution, and weaker intensity than that during the El Niño andNormal event.Key words : Upwelling, Normal, El Niño, La Niña
Variabilitas Suhu dan Klorofil-a di Daerah Upwelling pada Variasi Kejadian ENSO dan IOD di Perairan Selatan Jawa sampai Timor Kunarso Kunarso; Safwan Hadi; Nining Sari Ningsih; Mulyono S. Baskoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.096 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.16.3.171-180

Abstract

Informasi mengenai variabilitas spasial suhu dan klorofil-a permukaan laut memiliki peran penting sebagai sarana pendugaan daerah potensi ikan tuna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menggambarkan variabilitas suhu dan klorofil-a permukaan laut baik secara spasial maupun temporal di daerah upwelling pada variasi kejadian El Nino Southern Oscilation (ENSO) dan Indian Oscillation Dipole Mode (IOD) di perairan Selatan Jawa hingga Timor. Variabilitas suhu dan klorofil-a permukaan laut dikaji berdasarkan data-data MODIS (Moderate-Resolution Imaging Spektroradiometer) bulanan Level 3 dari satelit Aqua dan Terra. Nilai suhu dan klorofil-a permukaan laut bervariasi menurut waktu (bulan), wilayah (provinsi) dan variasi antar tahunan iklim global (El Niño-IOD(-), El Niño-IOD(+), La Niña-IOD(-) dan  La Niña-IOD(+). Secara umum kisaran suhu permukaan laut (SPL)  di  daerah  upwelling  pada  variasi  ENSO  dan  IOD  berkisar 26,18 -28,35°C  dengan  rerata 27,04±0,93°C. Kisaran klorofil-a sebesar 0,3-0,95 mg/M³ dengan rerata 0,69±0,28mg/M³. Mulai bulan Juni umumnya nilai suhu permukaan laut (SPL) semakin turun dan klorofil-a semakin meningkat hingga mencapai puncak bulan Agustus atau September, kemudian berangsur normal kembali. Nilai suhu permukaan laut terendah  ditemukan berkembang dari timur (Bali) pada bulan Juni bergerak ke barat hingga Jawa Barat di bulan Oktober. Nilai klorofil-a tinggi berkembang sesuai dengan perkembangan suhu terendah, namun nilai klorofil-a tertinggi umumnya bergerak tidak sesuai dengan perkembangan SPL terendah. Klorofil-a tertinggi umumnya terjadi di perairan selatan Provinsi Bali. Jauh dekatnya pergerakan SPL terendah dan klorofil-a tinggi tampak dipengaruhi nilai IOD-nya, semakin besar nilai IOD maka semakin jauh gerakannya ke barat.Kata Kunci : Variabilitas, suhu, klorofil-a, upwelling, perairan selatan Jawa The information of spatial variabilities of sea surface temperature and chlorophyll-a are important for predicting potential fishing ground of tuna. The aims of the reseach are to describe and study the spatial and temporal variabilities of sea surface temperature and chlorophyll-a at  upwelling area  during the variabilities of El Nino Southern Oscilation (ENSO) and Indian Oscillation Dipole Mode (IOD) event  at southern waters of Jawa until Timor Island. They were studied based on monthly MODIS (Moderate-Resolution Imaging Spektroradiometer) data  Level 3 from Aqua and Terra satelite. The values of sea surface temperature and chlorophyll-a are variable in the times (month), areas (province) and annually global climate (El Niño-IOD(-), El Niño-IOD(+), La Niña-IOD(-) dan  La Niña-IOD(+). Commonly range of the seawater surface temperature (SST) at upwelling area on the variabilities of ENSO and IOD are about 26.18-28.35°C with average 27.04±0,93°C, whereas average of chlorophyll-a are about 0.3-0.95 mg/m³ with average 0.69±0,28mg/M³. From June, sea surface temperature starts to decrease but clhorophyl-a is increasing and back to  normal after reaching peak in August or September. The lowest sea surface temperature was found developing from east (Bali) in June and then moving to west until southern west Java  in  October. The development of high chlorophyll-a values are suitable with that of low sea surface temperature. However the development of highest chlorophyll-a generally move inconsistent with that of lowest sea surface temperature. The highest chlorophyll-a generally happen at the southern of Bali Province. The distance movement of the low sea surface temperature and high chlorophyll-a distributions are affected by IOD value, the higher IOD value the further they move to the west. Key words: Variability, temperature, khlorophyll-a, upwelling, southern waters of Jawa
Identifikasi Fishing Ground Ikan Teri (Stolephorus sp) Menggunakan Citra Modis di Perairan Karimunjawa, Jepara Rizky Aditya; Anindya Wirasatriya; Kunarso Kunarso; Lilik Maslukah; Petrus Subardjo; Agus Anugroho Dwi Suryosaputro; Gentur Handoyo
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1142.731 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i2.20549

Abstract

Fishing ground  atau  zona  penangkapan ikan  adalah  suatu  kawasan perairan  yang  menjadi sasaran dalam usaha penangkapan ikan. Ikan teri merupakan hasil tangkapan ikan yang populer di Karimunjawa. Penelitian ini bertujuan memprediksi zona tangkapan ikan di Perairan Karimunjawa berdasarkan sebaran klorofil-a dan suhu permukaan laut dengan memanfaatkan data citra satelit Aqua Modis level-3. Sebaran klorofil-a yang tinggi terlihat pada bulan Mei sampai Juli. Nilai korelasi antara klorofil-a dengan tangkapan ikan di lapangan sebesar r=0,869 yang berarti berhubungan sangat erat. Sedangkan nilai korelasi Suhu Permukaan Laut (SPL) dengan tangkapan ikan hanya sebesar r=0,387. Hal ini berarti hasil tangkapan ikan teri di Kepulauan Karimunjawa lebih dipengaruhi oleh sebaran klorofil-a dari pada SPL. Oleh karena itu dalam penentuan potensi fishing ground dengan menggunakan data MODI klimatologi bulanan, kami hanya menggunakan parameter klorofil-a. Perairan Karimunjawa memiliki kandungan klorofil-a rata rata sebesar 0,29 mg/m3. Berdasarkan analisa sebaran klorofil-a klimatologi bulanan, lokasi potensi fishing ground berada pada barat dan tenggara dari perairan Pulau Nyamuk, Barat Pulau Kemujan termasuk Pulau Cemara Besar dan Kecil, dan di perairan sekitar Pulau Parang yang dapat ditemukan disetiap bulannya. Anchovy Ground Fishing Identification (Stolephorus sp) Using Fashionable Images in the Waters of Karimunjawa, Jepara Fishing ground or fishing zone is an area in the ocean which becomes a target for fishing activities. Common target for fishing activity in Karimunjawa is anchovy. The aim of this study is to predict fishing zone on the waters of Karimunjawa based on the chlorophyll distribution and sea surface temperature by utilizing level 3 Aqua MODIS data. The high chlorophyll-a distribution is observed from May to July. The correlation value between chlorophyll-a and fish catch based on insitu data is strong with r = 0.869. Conversely, the correlation between insitu SPL correlation and fish catch is weak with r = 0.38. Therefore, we only used chlorophyll-a parameter to determine the potential fishing ground in Karimun Jawa. Karimunjawa waters have an average chlorophyll-a conscentration of 0.29 mg/m3, Based on monthly climatology of MODIS  chlorophyll data, the location of potential fishing ground is west and southeast from the waters of the island of Nyamuk, the west of Kemujan Island including Pulau Cemara Besar and Kecil, and in the waters around Parang Island which can be found every month.
Spatio-Temporal Distribution of Chlorophyll-a in Semarang Bay using Sentinel-3 Muhamad Hafiz Maulavi Haban; Kunarso Kunarso; Teguh Prayogo; Anindya Wirasatriya
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.40201

Abstract

Chlorophyll-a is an indicator for the fertility of waters. The oceanographic conditions make the distribution of chlorophyll-a in waters always changes every season, both spatial and temporal. The aim of this research is to determine the spatial and temporal distribution of chlorophyll-a in Semarang Bay using Sentinel-3 OLCI imagery. Sentinel-3 OLCI imagery has a resolution of 300 m x 300 m, based on the spatial resolution generated by Sentinel-3 OLCI imagery to further examine the spatial distribution of chlorophyll-a in Semarang Bay with better spatial resolution. This research also used wind, current, temperature and salinity data from the Reanalysis Model which were processed using the SNAP program with C2RCC method. It is found that the distribution of chlorophyll-a in the Semarang Bay showed a varied pattern spatially and temporally. Temporally, the highest chlorophyll-a concentration occurred in January and the lowest was in June. Spatially, chlorophyll-a on the coast of Semarang and Demak is higher than that on the coast of Kendal in the west season, but entering the east season the highest chlorophyll-a is on the Kendal coast than on the coast of Semarang and Demak. Chlorophyll-a distribution in Semarang Bay mostly influenced by river run off and wind.
Diagnosa Perilaku MJO Aktif pada saat La Nina Kuat (2011/2012) di Perairan Tropis Mahardiani Putri Naulia Batubara; Muhammad Zainuri; Kunarso Kunarso; Ardiansyah Desmont Puryajati
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.45619

Abstract

Variabilitas cuaca dan iklim di Indonesia disebabkan oleh berbagai macam faktor skala ruang dan waktu, baik yang bersifat lokal, regional, maupun global dengan variasi waktu harian, bulanan, musiman, hingga tahunan. Pada skala waktu harian hingga intramusiman, MJO menjadi faktor utama variabilitas di wilayah tropis, sedangkan pada skala global yang bersifat tahunan, El Nino dan La Nina memberikan kontribusi terbesar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik MJO yang aktif bersamaan dengan La Nina kuat pada tahun 2011/2012. Metode pengolahan data menggunakan bahasa pemrograman untuk mengolah data RMM1 dan 2, suhu permukaan laut, outgoing longwave radiation, angin zonal 850 hPa dan 200 hPa, fluks panas laten, kelembapan udara relatif (Rh), dan curah hujan. Hasil menunjukkan saat MJO aktif bersamaan dengan La Nina kuat, SPL di wilayah tropis berada dalam kondisi hangat berkisar antara 29–30.50C yang terpusat di perairan Indonesia bagian timur dan Samudera Pasifik. Beberapa kondisi angin zonal lapisan 850 hPa menunjukkan intrusi angin timuran dengan kecepatan yang signifikan sebagai dampak dari pengaruh La Nina terhadap propagasi MJO. Gangguan angin timuran tidak terlalu mempengaruhi pertukaran panas laut-atmosfer dalam bentuk fluks panas laten, sehingga tetap bernilai positif. Kondisi basah La Nina dan MJO menyebabkan peningkatan Rh pada lapisan 1000–500 hPa sebesar 80-90% dan pada lapisan 200 hPa sebesar 70-80%. Hal ini mendukung propagasi dan memperpanjang durasi MJO yang aktif di perairan tropis. Pengaruh La Nina yang cukup kuat saat MJO aktif mendukung pertumbuhan awan konvektif sehingga terjadi peningkatan curah hujan sebesar 10–200 mm perhari.   Weather and climate variability in Indonesia is caused by various factors of space and time scale, both local, regional, and global with daily, monthly, seasonal, and yearly variations in time. On a daily to the intra-seasonal time scale, the MJO is the main factor of variability in the tropics, while on an annual global scale, El Nino and La Nina make the largest contribution. This study aims to examine the characteristics of the MJO that was active at the same time as strong La Nina in 2011/2012. The data processing method uses a programming language to process data RMM1 and 2, sea surface temperature, outgoing longwave radiation, 850 hPa and 200 hPa zonal winds, latent heat flux, relative humidity (Rh), and rainfall. The results show that when the MJO is active along with strong La Nina, SST in the tropics is in warm conditions ranging from 29 - 30.50C which is concentrated in the waters of eastern Indonesia and the Pacific Ocean. Several zonal wind conditions of the 850 hPa layer showed easterly wind intrusion with significant speed as the impact of La Nina influence on MJO propagation. The east wind disturbance does not significantly affect the ocean-atmosphere heat exchange in the form of latent heat flux, so it remains positive. Wet conditions of La Nina and MJO caused an increase of Rh in the 1000–500 hPa layer by 80-90% and in the 200 hPa layer by 70-80%. This supports propagation and extends the duration of active MJOs in tropical waters.
ANALISIS HUBUNGAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A CITRA SATELIT SUOMI NPP VIIRS TERHADAP HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE DI PPN PENGAMBENGAN, BALI (Analysis of the Relationship of Sea Surface Temperature and Chlorophyll-a The Suomi NPP VIIRS Satellite Image Against the Catch of the Seine Purse in PPN Pengambengan, Bali) Muhammad Zahrul Ghufron; Imam Triarso; Kunarso Kunarso
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 14, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.516 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.14.2.128-135

Abstract

Perikanan Tongkol (Euthynnus affinis) di Perairan Selat Bali  berkembang pesat sejak diperkenalkannya alat tangkap  Purse seine, hal tersebut menyebabkan semakin meningkatnya jumlah armada kapal penangkap ikan. Meskipun upaya penangkapan meningkat, akan tetapi hasil tangkapan yang didapatkan menurun. Untuk tujuan tersebut diperlukan kajian yang mendalam tentang pola sebaran suhu permukaan laut dan klorofil-a, agar ke depan dapat diketahui daerah penangkapan ikan Tongkol. Penelitian ini mengkaji perbedaan nilai persebaran SPL dan klorofil-a yang secara nyata di lapangan dengan data hasil interpretasi citra satelit Suomi NPP VIIRS, serta mengetahui hubungan distribusi SPL dan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ikan Tongkol (Euthynnus affinis). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah, tingkat akurasi citra satelit Suomi NPP VIIRS pada variabel suhu permukaan laut mencapai 98,98%, sementara untuk tingkat akurasi terhadap konsentrasi klorofil-a mencapai 95,63%. Hubungan suhu permukaan laut dan klorofil-a terhadap CPUE yaitu menunjukan pengaruh yang cukup kuat dengan nilai sebesar 0,585. Nilai r2 menunjukan nilai sebesar 34,3%, yang berarti bahwa sebesar 34,3% CPUE dipengaruhi oleh suhu permukaan laut dan klorofil-a, sedangkan 65,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain Eastern Little Tuna (Euthynnus affinis) in the Waters of Bali Strait has been growing rapidly since the introduction of purse seine fishing gear, this has led to an increasing number of fishing vessels. Although the fishing effort increases, the catch obtained decreases. For this purpose an in depth study of the distribution patterns of sea surface temperature and chlorophyll-a is needed, so that in the future it can be known the fishing ground to assist in the effective and efficient utilization of fish resources. This study examines the differences in the value of the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a that are evident in the field with data from interpretation of Somi NPP VIIRS satellite images, and knowing the relationship between the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a to the Eastern Little Tuna catches. The method used in this research is descriptive method. The results obtained in this study are, the accuracy of the Suomi NPP VIIRS satellite image on the variable sea surface temperature reaches 98.98%, while the level of accuracy of the chlorophyll-a concentration reached 95.63%, the relationship between sea surface temperature and chlorophyll-a on CPUE is a fairly strong correlation, with a correlation value of 0,585. The value of r2 means that 34.3% CPUE is influenced by sea surface temperature and chlorophyll-a, while 65.7% is influenced by other factors..
Identifikasi Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Klorofil- A serta Intensitas Upwelling di Selat Makassar Kunarso Kunarso; Surya Risky Graharto; Sri Yulina Wulandari
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.42170

Abstract

Selat Makassar secara geografis terletak diantara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Kondisi perairan di Selat Makassar dipengaruhi oleh Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan sistem angin muson. Hal ini menyebabkan Selat Makassar memiliki dinamika yang kompleks dan terjadi fenomena upwelling sehingga berpengaruh terhadap variabilitas suhu permukaan laut dan klorofil-a. Kajian tentang upwelling di Selat Makassar telah banyak dilakukan, namun kajian mengenai intensitas upwelling berdasarkan variabilitas suhu permukaan laut dan klorofil-a dengan periode data dalam jangka waktu yang panjang belum dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variabilitas suhu permukaan laut dan klorofil-a musiman serta intensitas dan tipe upwelling di Selat Makassar. Data yang digunakan diantaranya adalah data suhu permukaan laut, klorofil-a, dan angin yang berasal dari citra Aqua MODIS Level 3 selama periode tahun 2007 hingga 2017. Data-data tersebut diolah secara klimatologi dan dianalisis dengan data pendukung berupa data angin sehingga diperoleh kesimpulan yang jelas mengenai objek yang diteliti. Berdasarkan hasil pengolahan data, variabilitas suhu permukaan laut dan klorofil-a di Selat Makassar dipengaruhi oleh angin musim. Pola pergerakan dan kecepatan angin yang tinggi diikuti dengan penurunan SPL serta peningkatan konsentrasi klorofil-a mengindikasikan fenomena upwelling terjadi di Selat Makassar bagian Selatan Pulau Sulawesi. Hal ini ditunjukkan dari tingkat korelasi kuat antara angin terhadap SPL dan klorofil-a dengan masing-masing nilai korelasi (r) -0,872 dan 0,771. Upwelling yang terjadi di Selat Makassar dimulai pada bulan Mei-Oktober dan termasuk tipe upwelling berkala. Intensitas Upwelling sangat kuat terjadi pada bulan Agustus dengan nilai SPL 26,31°C dan konsentrasi klorofil-a sebesar 2,33 mg/m3 serta mencapai puncak terluas sebesar 51.175,75 km2.  The Makassar Strait is geographically located between the islands of Kalimantan and Sulawesi. The condition of the waters in the Makassar Strait is influenced by the Indonesian Throughflow (ARLINDO) and  monsoon wind system. This causes the Makassar Strait has complex dynamics including the upwelling phenomenon that affects the variability of sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a. There have been many studies about upwelling in the Makassar Strait, but studies on the intensity of upwelling based on the variability of sea surface temperature and chlorophyll-a with long-term data periods were absent. The purpose of this study was to determine the variability of sea surface temperature and seasonal chlorophyll-a as well as the intensity and type of upwelling in the Makassar Strait. The data used including sea surface temperature, chlorophyll-a, and wind data derived from Aqua MODIS satellite Level 3 for the period 2007 to 2017. These data are processed climatologically and analyzed with supporting data i.e., the wind data. Based on data processing results, variability of sea surface temperature and chlorophyll-a in the Makassar Strait is affected by monsoon systems. The increasing wind speed is followed by decreasing of SST and increasing of chlorophyll-a concentration indicating upwelling phenomenon in the Makassar Strait, precisely at Southern Sulawesi Island. The strong correlation between wind and SST and chlorophyll-a are demonstrated with correlation values (r) -0.872 and 0.771. Upwelling occurrence in the Makassar Strait starts from May to October and is a periodic upwelling type. The intensity of upwelling was very strong in August with an SST value of 26.31 ° C and a chlorophyll-a concentration of 2.33 mg / m3 and reached the widest area of 51,175.75 km2.
Co-Authors Aditya, Farah Adivitasari, Reska Mega Agfanita, Syifa Agnadiva, Alisha Khansa Agus Supangat Akhmad Syafik Alamsyah, M. Zanugera Alfi Satriadi Anastasia Rita Tisisana Dwi K. Anindya Wirasatriya Ardiansyah Desmont Puryajati Ardy Carova Tarigan, Ardy Carova Arif Mustofa Aris Ismanto Arya Muhammad Azis Rifai Aziz Rifai bagus teguh santoso, bagus teguh Bambang Harry R Baskara, Ganesha Lagas Baskoro Rochaddi Bima Andriantama Budi Endarto Budi Purwanto Cahyaningtyas, Annisa Dianti Denny Nugroho Sugianto Deskaranti, Rani Desy Setyaningrum Dharma, Andhika Mustika Dini Oktaviani Duahido, Dhamura Durmont Siahaan Dwi Haryo Ismunarti Dwi Haryo Ismunarti Eka Bathin Putra Elia Hottua Natalia, Elia Hottua Elis Indrayanti Enita, Siti Yasmina Fadhillah, Shafa Nur Fannia Wahyu Ramadhanty Faridah, Idah Ferri Septia Purwadi, Ferri Septia Fikra, Harizal Firman Ramadhan Fuad Ashari Fuji Anida Gemilang, Aulia Surya Gentio Harsono Gentur Handoyo Gita Praspa Ramdhani Goff, Virginia Andrews- Graha, Dorin Satya Hakiki, Azizul Halim, M. Arief Rahman Hariadi Hariadi Hariyadi Hariyadi Harmon Prayogi, Harmon Haryono Haryono Hastuti Hastuti Hatmaja, Rahaden Bagas Heriyanto Heriyanto Hery Widijanto Heryoso Setiyono Himawa, Daenk Imam Triarso Indra Budi Prasetyawan Irfan Hafizhurrahman Islah Islah, Islah Jarot Marwoto Jarot Marwoto Jihadi, Muhammad Shulhan Johannes Hutabarat Latifah, Arlinda Lutfiana Lilik Maslukah M. Albab Al Ayubi, M. Albab Al Mahardiani Putri Naulia Batubara Malik, Kurnia Maro, Jahved Ferianto Maulana, Refaldi Rizky Melanie Rizky Hanuransyah Mufidah, Nuruz Zakiyatul Muh Yusuf Muh Yusuf Muh. Yusuf Muhamad Hafiz Maulavi Haban Muhammad Faiq Marwa Noercholis Muhammad Helmi Muhammad Helmi Muhammad Yafi Arfa Muhammad Zahrul Ghufron Muhammad Zainuri Mulyono S. Baskoro Munandar, Bayu Muslim Muslim Mustaqim, Ikhsan Muthia, Naura Shobihatul Natalia Setyawati, Natalia Niken Dwi Prasetyarini Nining S Ningsih Nining Sari Ningsih Nugroho Agus D Nurindahsari Niken Larasati Oktaviano, Gregorius Parichat Wetchayount Patrick W., Fressan Paulus, James Junior Petrus Subardjo Prabowo, Dibyo Agung Prasetyo, Damar Aji Purwanto Purwanto Putra, Edi Ramawijaya Qotrunada, Yesinia Ayu Rahmadiana Andini Rahmalia, Fahri Rahmawati, Diah Ayu Reksajaya, Puspaningtyas Mutiaraputri Resy Sekar Sari Ridarto, Arij Kemala Yasmin Ridho Tondang Rikha Widiaratih Rizki Kirana Yuniarti Rizky Aditya Rizqullah, Fairus Jamil Rukuh Setiadi Safwan Hadi Safwan Hadi Sapardi, Sapardi Saputra, Vito Hardika Saputra, Yoanes Ryan Saragih, Laurentia Alexandra Sardiyatmo Sardiyatmo Selkofa. M, Warisatul Anbiya Seprianto, Abdal Setyaningrum, Happy Ayu Shafira, Alief Wahyu Siahaan, Jane E V Simatupang, Ariel Oscar Paskario Sri Redjeki Sri Yulina Wulandari Subekti, Puja Sujito Sujito Sulhana, Baiq Lista Azkia Sumaryanto, A. Djoko Surya Risky Graharto Suryoputra, Agus Anugroho Dwi Suwarni, Iin Teguh Prayogo Teuku Fauzan Zul Aufar Tri Widya Laksana Putra Tri Wulandari Santoso Ulfani, Afifa Ulung Jantama Wisha Wali Baiq Sukoro, Wali Baiq Warsito Atmodjo Wetchayont, Parichat Widiaratih, Rikha Widiyono, Eling Widodo S. Pranowo Widodo, Dzaky Malik Putra Yeyen Novita Sari Yuhendrasmiko, Randy Yusuf Jati Wijaya Zandika, Rendy