Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Pengembangan Atraksi Wisata Baru Melalui Program Desa Mitra di Desa Singapadu Tengah, Gianyar I Wayan Parwata; I Made Artawan; I Wayan Wesna Astara; Lilik Antarini
Community Service Journal (CSJ) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1835.628 KB)

Abstract

Desa Singapadu Tengah terletak di kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar, Bali. Desa ini memiliki beberapa obyek yang cukup potensial belum tergarap dengan dengan baik antara lain obyek wisata rumah tradisional, obyek wisata susur sungai, jogging track, dan kuliner tradisional yang dapat menjadi wisata rekreasi yang alami dan berwawasan lingkungan. Model wisata yang dapat dikembangkan di desa Singapadu Tengah, antara lain: 1) Wisata Budaya meliputi: wisata rumah adat (tradisional), Tempat suci (Pura) dan aktivitasnya, dan situs Kebo Iwa di Pura Dalem Negari; 2) Wisata Kreatif: memanfaatkan sungai untuk kegiatan susur sungai: permainan perahu dan tubing bagi anak-anak; 3) Wisata Kuliner makanan tradisional meliputi: menjual makanan jajanan dan bubur; 4) Wisata Sehat dengan memanfaatkan tepian sepanjang sungai untuk kegiatan jogging track dan bersepeda; dan 5) Wisata Kenangan; menjual karya seni warga dalam bentuk merchandise yang dapat dibawa pulang oleh pengunjung.Tujuan pengembangan desa mitra ini adalah meningkatkan sumber daya manusia dalam kelompok desa mitra untuk menunjang aktivitas desa wisata guna mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan desa mitra.
Konsep Pengembangan Desa Tegallalang Sebagai Kawasan Wisata Heritage di Gianyar I Made Pasek Satya Bhuana; I Wayan Runa; Agus Kurniawan; I Wayan Parwata
Community Service Journal (CSJ) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1575.374 KB)

Abstract

Menggali potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, mengenal potensi secara mendalam menjadi agenda penting bagi suatu kawasan. Selain memiliki objek wisata sawah yang berundak-undak, Tegallalang sejatinya memiliki keberagaman warisan budaya baik warisan budaya dalam wujud benda maupun warisan budaya tak benda. Tegallalang telah memiliki beberapa aspek-aspek yang dapat menguatkan lingkungan binaan pada suatu kawasan yang menjadi tujuan wisata heritage, diantaranya memiliki situs bersejarah yang terdapat pada Pura yang berlokasi di kawasan Desa Tegallalang, selanjutnya Desa Tegallalang memiliki tradisi ritual Ngerebeg, kemudian memiliki barang-barang warisan seperti lontar yang termasuk unsur kesusastraan, dalam hal potensi wisata alam ialah dalam hal persawahan, dan terakhir ciri khas kesenian masyarakat Desa Tegallalang menekuni seni rupa, seni musik dan tari tradisional. Perencanaan penataan seluruh wantilan yang ada di Desa Tegallalang akan menjadi penunjang kebutuhan ruang publik sebagai bagian dari fasilitas infrastruktur wisata pusaka. Penambahan ruang-ruang yang lebih spesifik untuk fungsi tertentu akan memberikan kenyamanan lebih bagi penggunanya, seperti fasilitas toilet, dan fasilitas ramah anak. Bangunan yang tergolong arsitektur tradisional Bali kali ini akan menjadi bagian dari perencanaan penataan kawasan Desa Tegallalang sebagai destinasi wisata pusaka. Untuk mengetahui potensi yang ada maka diperlukan pengamatan dengan studi literatur, survey lapangan, serta wawancara dengan narasumber yang terkait, dan metode pengumpulan data lainnya yang dapat mendukung. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini ialah untuk mengetahui potensi kemudian mengembangkannya, serta mendapatkan keuntungan dari potensi yang ada bagi masyarakat luas.
Pengembangan Kawasan Taman Magenda Payangan Bali Sebagai Wisata Spiritual I Wayan Suky Luxiana; I Wayan Runa; I Wayan Parwata; Agus Kurniawan
Community Service Journal (CSJ) Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2462.051 KB)

Abstract

Goa Pesiraman Bhatari lingsir, Pura Dalem Agung Payangan (Taman Magenda) merupakan misteri Keangkeran Pura Dalem Agung Payangan dikarenakan Pura Dalem ini sebagai tempat melinggihnya sekaligus Parahyangan ida Bhatari Dalem lingsir. Taman Magenda terletak di Payangan yang merupakan salah satu Kecamatan di kabupaten Gianyar yang berada diketinggian 600 meter diatas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan wilayah bukit Kintamani Bangli sehingga daerah ini terkenal sangat subur terutama dalam pertanian maupun perkebunan sayur-mayur,kopi,coklat dan lain-lain. Pada jaman dahulu nama Payangan adalah Parahyangan yang berarti Kahyangan dikarenakan jauh sebelum kedatangan Rsi Markandeya ke Nusa Dawa (Bali) tempat ini adalah pancer Hyang suci berstana dengan kata lain Bumi Parahyangan adalah sebagai stana tempat melinggihnya para Hyang Bhatara-Bhatari di Bali sehingga pada jaman dahulu bernama Parahyangan yang secara singkat pada saat ini pengucapannya menjadi Payangan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk memanfaatkan potensi warisan budaya pura untuk dikelola menjadi kawasan yang tertata dan nyaman dikunjungi oleh umat Hindu, Taman Magenda sangat berpotensi sebagai wisata spiritual karena alam yang masih asli namun belum ada infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai ke objek tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Tujuan teknik pengambilan sampel menggunakan informan dan menggunakan informan kunci. Hasil penelitian adalah dimana dalam pengolahan dibagi menjadi tiga zona yaitu zona utama (penataan areal utama pura, perkerasan pada jalan setapak, pembuatan toilet dan ruang ganti bagi pengunjung. Zona kedua adalah berupa fasilitas penunjang berupa wantilan sebagai tempat pertunjukan dan pesandekan. Zona ketiga yang dikatagorikan ke dalam area service penataan tempat parkir, loket, lesehan dan warung. Prinsip atau konsep yang digunakan dalam pengembangan adalah konsep ekowisata yaitu konservasi, partisipatif, pendidikan, ekonomi dan kepuasan pengunjung.
PENGEMBANGAN KERAJINAN SENI UKIR DAN BANGUNAN TRADISIONAL BALI DI DESA SINGAPADU TENGAH I Wayan Parwata; I Nyoman Sutapa; Lilik Antarini; I Wayan Wesna Astara
Aptekmas Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol 6 No 2 (2023): Aptekmas Volume 6 Nomor 2 2023
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36257/apts.v6i2.6755

Abstract

Central Singapadu Village is located in the Sukawati sub-district, Gianyar Regency, Bali. It is a traditional village that is still thick in customs and culture. Various economic activities that have developed since before the pandemic include: batik crafts, sculptures, carvings, paintings, Money Kepeng, handicrafts (handicrafts), and Balinese styl building crafts. The average resident in Central Singapadu village has the ability to craft Balinese-style buildings. Carving art is very influential on Balinese traditional buildings because in making Balinese traditional buildings various types of carvings are needed in it. In the midst of the dynamic development of micro, small, and medium enterprises, the community or business group is expected to have legality, while legacy ownership of its business is still low. The purpose of this activity is to see the development of community group businesses in Central Singapadu village, Gianyar which can be developed as regional superior products and increase community effort and creativity in an effort to improve their welfare. The method of implementing activities used is Asset Based on Community Development (ABCD) by emphasizing community business assets and mobilizing community assets into a pure opportunity for the community in encouraging businesses to become superior products. After this activity was carried out, the partners invited to collaborate in this activity experienced an increase in knowledge about anthropometric applications, the process of recording financial activities, carving techniques, and traditional Balinese buildings.
Perihal yang Perlu Ditingkatkan pada Pasar Malam di Denpasar, Studi Kasus: Pasar Malam Kreneng I Wayan Dedek Surya Mahadipa I Wayan; Made Anggita Wahyudi Linggasani; I Wayan Parwata
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 1 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.1.7037.153-157

Abstract

The night market is a place for recreation and buying and selling transactions for the community. Night market visitors have a very wide range of diversity (gender, age, social and economic strata, and etc). The night market has many advantages besides being able to attract a variety of visitors. But on the one hand, the night market is also inseparable from its shortcomings. Among them are cleanliness, sanitation, material sustainability on attraction rides and night market buildings. The night market also has the potential as a space to gather many people in one place so it is right to be used as a place to promote local products, as well as become a tourism object for the surrounding community. The night market has a moving nature that makes the night market use temporary buildings or temporary architecture. In this case, the night market can be a space for exploration of how the night market can develop temporary architecture to the stage of material sustainability and the optimal and practical use of structures. The night market can also be a space to explore how local architecture can be modified and further developed as a display skin on the night market. So that the night market will feel familiar to visitors who come and can be a special attraction for the night market. In this paper, the author wants to provide solutions to the shortcomings of the night market and provide alternative choices of architectural styles used in the night market. The research steps used in data collection include: input stage (determination of title); process stage (literature review, questionnaire, observation); stage (Process of data analysis, discussion, and conclusion).
Redesain Pusat Konservasi Dan Edukasi Penyu Di Desa Serangan, Bali: Bahasa Indonesia Pramantya Narayana; I Kadek Mertawijaya; I Wayan Parwata
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 1 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.1.7062.1-8

Abstract

Serangan Village is located in South Denpasar District, Serangan village is one of the areas that has potential marine resources. Turtles are animals that are beneficial to human life, if bred. These benefits include aspects of increasing economic growth through the fisheries sector, maintaining the balance of the ecosystem chain, science, developing educational tourism. The Turtle Conservation and Education Center is an effort for coastal communities in Serangan Village as an educational medium on the community's role in maintaining and protecting the turtle habitat ecosystem in Serangan Village. This turtle conservation was formed to save turtles from slaughter, trade and consumption by local people due to constraints and adaptation strategies in different seasons. At the turtle conservation and education center there are several problems, namely: the zoning system, space layout, circulation, obsolete buildings, and inadequate building materials that need to be redesigned to meet the needs of visitors. This design applies the concept of Nature In Space and applies the theme of biophilic This redesign applies the concept of Nature In Space which means nature in space with the Biophilic Architecture Theme so that visitors who come can reduce stress and feel comfortable in this facility.
Penerapan Arsitektur Tropis Pada Perancangan Yoga Retreat Center di Ubud: Bahasa Indonesia Antari, Ida Ayu Wulan Dwi; Parwata, I Wayan; Mustika, Ni Wayan Meidayanti
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 11 No. 2 (2023): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.11.2.7046.262-269

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis karena letak geografisnya yang berada di garis katulistiwa. Hal ini menyebabkan Indonesia dipengaruhi oleh 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Keadaan ini berpengaruh dalam proses perancangan bangunan sehingga diperlukan upaya yang sesuai yang dapat mengatasi permasalahan yang ditemui pada bangunan di daerah tropis. Arsitektur tropis merupakan suatu karya arsitektur yang dirancang khusus untuk mengatasi permasalahan – permasalahan yang ada di daerah tropis. Dalam arsitektur tropis terdapat beberapa prinsip yang mempengaruhi perancangan bangunan. Prinsip itu tediri dari kenyamanan thermal, aliran udara melalui bangunan, radiasi panas, serta penerangan alami pada siang hari. Yoga Retreat Center di Ubud merupakan suatu fasilitas wisata yoga yang berfokus untuk mewadahi seluruh kegiatan retret yoga. Letak site yang berada di daerah tropis sehingga penting untuk menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tropis ke dalam bangunan untuk menciptakan kenyamanan kepada pengguna bangunan.
Model Rancang Bangun Shopping Mall Di Kota Singaraja: Bahasa Indonesia Ken, Kevin; Parwata, I Wayan; Gunawarman, A.A. Gede Raka; Linggasani, Made Anggita Wahyudi
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.12.1.9785.128-135

Abstract

The city of Singaraja in Bali is experiencing rapid growth, primarily due to the emergence of contemporary shopping centers. Singaraja has the fastest population growth, according to census data from Bali. Contemporary shopping centers, also known as malls, are intended to offer convenience and new experiences for everyone, including children and adults. In terms of tourism, the goal is to balance modernization with the preservation of Balinese arts and culture. The modern shopping center in Singaraja aims not only to be a modern and sophisticated shopping destination but also to preserve Balinese cultural values. The methods used during the preparation of this article included surveys, field observations, documentation, and interviews. Additionally, there are several functions resulting from the design of this mall, namely: Primary Functions (focused on activities that enhance trade, goods, and services, attracting tourists to visit, such as retail outlets, exhibition areas), Supporting Functions (support facilities such as recreational areas, usually including cinemas, playgrounds, dining areas), and Service Functions (providing services such as generators, CCTV, security, toilets, visitor parking, goods loading parking). It is complemented by the concept of city walk and regionalism architecture theme to be implemented in the design of this Shopping Mall.
Perencanaan dan Perancangan Pusat Agroindustri Cokelat Desa Ekasari Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana: Bahasa Indonesia Fabian, Arnoldus Made Dheo Virya; Linggasani, Made Anggita Wahyudi; Parwata, I Wayan; Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.12.1.9794.74-84

Abstract

The Ekasari Village Chocolate Agro-Industry Center has a role in improving the local economy and introducing abundant chocolate cultivation through the development of the cocoa industry. This research aims to provide a place for plantation farming activities, introduce good chocolate cultivation and meet food needs from the processed products of the Agroindustry Center. The analysis phase includes a site study, analysis of functions, users, and activities, and evaluation of harmony with the environment. The design method uses synthesis and evaluation to obtain the best alternative. The appearance of the building illustrates the concept of biomimicry and ecological themes through the use of wood and steel structures. The results show the use of ironwood as a construction material that is resistant to humid climates. The implementation of the external and internal layout refers to the needs of function and comfort, with the selection of materials that are in accordance with the theme and concept. It is expected that the Agroindustry Center will become a center of attention for cocoa farmers and the general public, and encourage the development of the local cocoa industry.
RIVERSIDE GLAMPING BERARSITEKTUR TROPIS DI TEPI SUNGAI TELAGA WAJA, KARANGASEM : bahasa indonesia Mahendra, I Wayan Cipta Adi; Parwata, I Wayan; Linggasani, Made Anggita Wahyudi
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.12.1.9796.155-162

Abstract

Currently, glamping has become a trend for recreation in nature, one type of glamping that is starting to develop is riverside glamping. Riverside Glamping is a tourist accommodation that provides a camping experience while enjoying the natural atmosphere, but can still rest comfortably located on the river bank. One of the areas that has interesting natural potential to be used as a glamping location is in the Karangasem area, precisely along the Telaga Waja river. This glamping design applies a tropical theme using natural materials so that it can respond to the climate in the area. The aim of this glamping design is to accommodate visitors as accommodation which previously was still less than optimal in terms of architecture and comfort. In compiling this journal, data collection methods were used, such as interviews with tourists and tourism object managers around the Telaga Waja river, making direct observations at locations to find the necessary information, and conducting literature studies to obtain information that is still limited in the field. With this glamping design, it is hoped that it can have a positive impact on becoming an icon of a tourist attraction in that location so that it becomes an attraction for tourists so that it can improve the economic sector of the local community