Claim Missing Document
Check
Articles

ISOLASI ENTOMOPATOGEN LAHAN GAMBUT DI KALIMANTAN BARAT DAN DETERMINASI VIRULENSINYA SEBAGAI MATERIAL BIOINSEKTISIDA Tris Haris Ramadhan; Kukuh Hernowo
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.347 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i2.3515

Abstract

Entomopatogen merupakan salah satu unsur penting dalam pengendalian hayati dan akan semakin baik jika dikembangkan secara khusus melalui ekplorasi dan pengujian di skala laboratorium. Diharapkan dari penelitian didapatkan entomopatogen lahan gambut yang potensial. Entomopatogen diisolasi dengan cara mengambil cuplikan tanah dan dipanaskan selama 60 menit pada suhu 85 oC. Sedangkan jamur patogen diisolasi dengan teknik mengencerkan cuplikan tanah lalu diinkubasi dalam media agar. Pengujian terhadap serangga di laboratorium dengan metode celup pakan pada media yang mengandung entomopatogen. Kematian serangga akibat perlakuan diamati sampai ulat uji menjadi imago. Hasil pengujian didapatkan tingkat kematian ulat yang diperlakukan dengan bakteri entomopatogen sebesar 33-40 persen sedangkan dengan perlakuan jamur entomopatogen kematian ulat 20-33,3 persen. Kematian pada perlakuan dengan bakteri terjadi pada fase larva-pupa sedangkan perlakuan jamur pada fase larva. Kematian serangga uji terjadi setelah perlakuan 6-18 hari. Isolat bakteri dan jamur entomopatogen dari lahan gambut memberikan harapan untuk dikembangkan sebagai bioinsektisida Kata kunci: Entomopatogen, isolasi, Spodoptera litura
UJI PATOGENISITAS NEMATODA PATOGEN SERANGGA (Steinernema carpocapsae) DARI TANAH GAMBUT TERHADAP RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus) Ari Paster; Indri Hendarti; Tris Haris Ramadhan
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.25 KB) | DOI: 10.26418/plt.v8i2.29797

Abstract

Rayap tanah (Coptotermes curvignathus) merupakan salah satu hama yang menimbulkan kerugian ekonomis yang sangat besar karena banyak menyerang tanaman pertanian sehingga menyebabkan tanaman mati dan produksi menurun. Salah satu cara pengendalian yaitu secara biologis menggunakan nematoda patogen serangga (Steinernema carpocapsae). Penelitian ini bertujuan untuk melihat daya patogenisitas S. carpocapsae dari isolat tanah gambut terhadap rayap tanah (C. curvignathus). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Pontianak. Rancangan yang digunakan Rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan satu perlakuan dan 6 taraf  konsentrasi S. carpocapsae (25 ji/ml, 50 ji/ml, 100 ji/ml, 200 ji/ml, 400 ji/ml, dan 800 ji/ml) dengan 5 kali pengulangan. Pengujian patogenisitas dilakukan terhadap C. curvignathus kasta pekerja. Kemampuan patogenisitas S. carpocapsae diukur berdasarkan mortalitas, jumlah S. carpocapsae yang keluar, periode letal dan virulensi. Hasil pengujian menunjukan bahwa S. carpocapsae mampu menyebabkan mortalitas sebesar 100% pada perlakuan 800 ji/ml dalam 96 jam setelah inokulasi. Priode letal yang dihasilkan sebesar 40,68 dan Virulensi sebesar 0,024. Jumlah S. carpocapsae yang dihasilkan tidak berbeda nyata antara satu perlakuan dengan perlakuan lainnya dikarenakan C. curvignathus merupakan serangga uji yang memiliki tubuh ukuran kecil antara 4,5-5,0 mm. Sehingga tiap perlakuan konsentrasi S. carpocapsae yang diinokulasikan memiliki kapasitas ruang yang  sama untuk perkembangannya.Kata kunci : Inokulasi, Mortalitas, Priode letal, Virulensi
EKSPLORASI CENDAWAN ENTOMOPATOGEN PADA LAHAN GAMBUT Astrid Sebayang; Tris Haris Ramadhan; Zakiatulyaqin Zakiatulyaqin
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 12, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v12i1.60017

Abstract

The use of entomopathogenic fungus as an alternative pest control is an attempt to reduce the use of synthetic pesticides that have caused many environmental problems. The aim of this reasearch is  to know kinds of entomopathogenic fungus that endemic of Kalimantan Barat peat soil. This research used descriptive methods which as exploration of peat soil fungus on several locations in West Kalimantan are Rasau Jaya, Siantan and Tanjungpura University forest. Entomopathogenic fungus was obtained by trapping which apply on Tenebrio molitor larvae and isolation of peat soil. Pathogenecity of entomopathogenic fungus has been tested on T. molitor larvae. Three fungus were explored, namely Trichoderma harzianum, Aspergillus niger, and x fungi which have not been identified, have low power to kill the larvae of T.molitor on several concentration level of those suspension fungus.
PERBAIKAN DAYA ANTAGONIS TRICHODERMA HARZIANUM RIFAI TERHADAP SEPTOBASIDIUM Spp. MELALUI SINAR UV SUSWANTO, IMAN; RAMADHAN, TRIS HARIS
Jurnal Agroteknos Vol 4, No 3 (2014)
Publisher : Jurnal Agroteknos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.986 KB)

Abstract

Currently velvet blight Septobasidium spp. is a major disease of pepper in West Kalimantan. Some control efforts have been made despite lack of satisfactory results. This study aimed to obtain mutant isolates of Trichoderma harzianum which can suppress velvet blight. Mutation was done by UV radiation from the UV-C lamp 15 watt, at range 3-21 minutes exposure series with an interval of 3 minutes. The research results showed that exposure to T. harzianum for 6-9 mins resulted in quicker life cycle of the mutant isolates and still maintain antagonistic properties against Septobasidium spp. UV exposure to T. harzianum more than 18 minutes caused disruption of mycelium growth and sporulation
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SUPERNATAN ISOLAT BAKTERI RNC 36 DENGAN SUHU YANG BERBEDA TERHADAP Xanthomonas oryzae Ningrum, Ajeng Maula; Ramadhan, Tris Haris; Rianto, Fadjar
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.78892

Abstract

Xanthomonas oryzae menyebabkan penyakit hawar daun bakteri dan bercak daun bakteri pada padi (Oryza sativa) yang menghambat produksi tanaman pokok ini di sebagian besar Asia dan sebagian Afrika. Penyakit ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Upaya pengendalian hawar daun bakteri di dunia terkendala oleh kemampuan patogen untuk membentuk strain baru yang lebih virulen sehingga teknologi pencarian varietas yang tahan dan penggunaan bakterisida menjadi kurang efektif untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu, penggunaan agen biokontrol yang tepat dapat menjadi solusi alternatif untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri. Penemuan bakteri rhizosfer berupa bakteri RNc 36 diharapkan mampu menjadi agen biokontrol yang dapat menghambat pertumbuhan X.oryzae secara in vitro. Perlakuan pada penelitian adalah perbedaan suhu yang pada yaitu dari kultur bakteri RNc 36 yang diinkubasi suhu ruang (28 °C- 32 °C), suhu 30 °C dan suhu 40 °C, penelitian dilaksanakan dengan 9 ulangan. Namun hasil penelitian menunjukkan, supernatan yang diperoleh lalu kemudian diujikan dalam uji daya hambat sama sekali tidak menunjukkan adanya zona hambat atau zona bening. Berdasarkan penelitian ini, perlu dikembangkan metode penelitian yang lebih canggih untuk dapat menggali informasi tentang kemampuan supernatan yang berasal dari bakteri RNc 36 yang sebenarnya sebagai antibakteri.
RESPON TANAMAN LOBAK AKIBAT PEMBERIAN TEPUNG CANGKANG TELUR DAN PUPUK NPK PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING Habiburrahman, Habiburrahman; Susana, Rini; Ramadhan, Tris Haris
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.77644

Abstract

Tanah podsolik merah kuning (PMK) sebagai media tumbuh tanaman lobak merupakan tanah yang bersifat masam serta miskin unsur hara, upaya untuk meningkatkan pH tanah yang masam sebagai media tumbuh lobak dapat menggunakan tepung cangkang telur sebagai pengganti kapur dan pupuk NPK untuk meningkatkan ketersediaan hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi dari tepung cangkang telur dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak di tanah PMK serta mengetahui dosis terbaik dari tepung cangkang telur dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan lobak. Penelitian ini dilakukan di lahan yang berlokasi di Kelurahan Parit Mayor, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus "“ Oktober 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama tepung cangkang telur (C) dan faktor kedua yaitu pupuk NPK (N) dimana setiap faktor terdiri dari 3 taraf perlakuan sehingga terdapat 9 taraf perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali serta terdapat 4 sampel tanaman pada setiap unit sehingga jumlah tanaman seluruhnya ada 108 tanaman atau polybag. Faktor pertama tepung cangkang telur (C) terdiri dari 3 taraf, yaitu: c1 = Tepung cangkang telur 5 ton/ha (setara dengan 10 g/polybag), c2 = Tepung cangkang telur 10 ton/ha (setara dengan 20 g/polybag) dan c3 = Tepung cangkang telur 15 ton/ha (setara dengan 30 g/polybag). Faktor kedua pupuk NPK (N) terdiri dari 3 taraf, yaitu: n1 = Pupuk NPK 300 kg/ha (setara dengan 4,5 g/polybag), n2 = Pupuk NPK 450 kg/ha (setara dengan 6,7 g/polybag) dan n3 = Pupuk NPK 600 kg/ha (setara dengan 9 g/polybag). Variabel pengamatan dalam penelitian ini terdiri dari jumlah daun 3 sampai 5 MST, berat segar tanaman, berat kering tanaman, diameter umbi, panjang umbi, dan berat segar umbi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara tepung cangkang telur dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil lobak, namun pemberian dosis 10 ton/ha tepung cangkang telur dan 300 kg/ha pupuk NPK merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan berat kering tanaman.
SERAPAN FOSFOR DAN PRODUKTIVITAS JAGUNG HIBRIDA PADA PEMBERIAN BIOCHAR SEKAM PADI DI TANAH ULTISOL Jaya, Ya’ Subahan; Sasli, Iwan; Ramadhan, Tris Haris
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Edisi APRIL
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.4678

Abstract

Rice husk biochar applied to ultisol soil can increase soil fertility physically and chemically. The research aims to determine the role of rice husk biochar in increasing plant phosphorus uptake and its implications for hybrid corn productivity in ultisol soil. The research was conducted in Singkawang City, West Kalimantan, from July to November 2023. The research method was prepared using a one-factor randomized block design, namely without rice husk biochar, application of 6 tons ha-1 of rice husk biochar, and 10 tons ha-1 of rice husk biochar application. Each treatment was repeated 9 times. The results showed that the use of various doses of rice husk biochar on hybrid corn plants played a role in influencing the plant's ability to absorb phosphorus nutrients, increasing plant dry weight and root volume, with the best dose being 10 tons ha-1, but for variable plant yields the use of various doses Rice husk biochar obtained the same results.
Effectiveness of Biosaka and NPK Fertilizer Against Growth and Yield of Cucumber Plants in Red Yellow Podzolic Soil Suryanti, Widya Aini; Ramadhan, Tris Haris; Supriyanto, Supriyanto
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v14i2.87177

Abstract

Cucumber plants are a popular fruit vegetable in Indonesia. The development of cucumber cultivation on PMK land has problems including poor macro and micro nutrients, mass pH and slow decomposition. Efforts are being made to overcome this problem by using NPK fertilizer to add macro and micro nutrients to the soil, as well as providing Biosaka to reduce excessive use of chemical fertilizers. Biosaka is an elicitor that functions to increase resistance to disease and pests. This research was conducted in Pontianak City, West Kalimantan. Taking place from May 2024 to June 2024. This research used a Split Plot Design consisting of 2 treatment factors repeated 3 times, each replication consisting of 4 sample plants. The first factor of giving Biosaka (F) consists of 2 levels, namely f1 = not given biosaka, f2 = given biosaka and giving NPK (N) consists of 4 levels, namely n1 = 0 g/polybag, n2 = 5 g/polybag, n3 = 10 g/polybag, n4 = 15 gpolybag. The observation variables observed were plant dry weight, root volume, number of fruit/plant, fruit diameter, fruit length, fruit/fruit weight and fruit/plant weight. The results of the research showed that giving 15 g NPK fertilizer/polybag was the best treatment for the growth of cucumber plants and giving 10 g NPK fertilizer/polybag was the best treatment for cucumber plant results on PMK soil. Biosaka treatment was the best treatment in this research. There was no interaction between Biosaka and NPK fertilizer on all observed variables.
Respon Sawi Pagoda Akibat Amelioran Arang Tempurung Kelapa dan NPK pada Tanah Gambut Puspita, Ayu; Ramadhan, Tris Haris; Susana, Rini
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v14i2.80841

Abstract

Sawi Pagoda (Brassica rapa subsp. narinosa) merupakan tanaman sayuran hortikultura yang berpotensi dibudidayakan di Kalimantan Barat. Sawi ini dapat pula ditanam pada tanah gambut. Tanah gambut sebagai media tanam memiliki kekurangan diantaranya pH dan ketersediaan unsur hara yang rendah sehingga diperlukan upaya perbaikan. Satu di antara upaya untuk memperbaiki sifat tanah adalah dengan pemberian arang tempurung kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik arang tempurung kelapa dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pagoda pada tanah gambut, serta mendapatkan dosis interaksi antara arang tempurung kelapa dan NPK yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Plastik Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian berlangsung dari bulan November 2023 sampai Januari 2024. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah arang tempurung kelapa yang terdiri dari dosis 0, 15, dan 10 ton/ha, serta faktor kedua adalah pupuk NPK yang terdiri dari 200, 150, 100 kg/ha. Masing"“masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap perlakuanya terdiri dari 4 sampel tanaman sehingga terdapat 108 unit sampel pengamatan dalam penelitian. Variabel yang diamati meliputi: jumlah daun, persentase daun normal dan tidak normal, volume akar, berat kering tanaman, dan berat segar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan arang tempurung kelapa dosis 15 ton/ha dan pupuk NPK pada dosis 200 kg/ha memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada sawi pagoda di tanah gambut.
Pengaruh Pupuk Vermikompos dan NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Edamame pada Tanah Podsolik Merah Kuning Reski, Silvanus; Susana, Rini; Ramadhan, Tris Haris
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v14i2.84181

Abstract

Edamame soybeans (Glycine max (L) Merill) are a type of soybean plant that can be consumed and can be harvested fresh. The development of soybean commodities in West Kalimantan still faces a number of challenges, one of which is low productivity. The use of soil as a planting medium for edamame soybeans is faced with various problems, including poor soil physical and chemical properties. Providing vermicompost organic fertilizer can cause the solid soil to become crumbly, increase its porosity, improve soil aeration and drainage and can cause the pores to open and soil aeration and NPP to supplement the nutrient needs that are lacking in the soil. This research aims to obtain the dose of vermicompost fertilizer, the dose of NPP and the best dose of the interaction of vermicompost fertilizer and NPP on the growth and yield of edamame soybeans on RYP soil. The research was carried out on land located in Southeast Pontianak District, Pontianak City. The research was carried out from August"“October 2023. The research used a factorial completely randomized design (CRD) consisting of 2 treatment factors. The first factor is vermicompost (p) which consists of 3 treatment levels consisting of p1 (10 tonnes/ha equivalent to 50 g/plant), p2 (15 tonnes/ha equivalent to 75 g/plant), and p3 (20 tonnes/ha equivalent 100 g/plant) and the second factor is NPP fertilizer which consists of 3 treatment levels consisting of n1 (200 kg/ha equivalent to 1.25 g/plant), n2 (300 kg/ha equivalent to 1.875 g/plant), and n3 (400 kg/ha equivalent to 2.5 g/plant). each treatment combination was replicated 3 times. The observation variables observed in the research were plant height, root volume, plant dry weight, number of production branches, number of pods and pod weight. The interaction between vermicompost treatment at a dose of 20 tons/ha and NPK fertilizer at a dose of 300 kg/ha was the best interaction dose for the variables of plant root volume, plant dry weight and number of pods per plant.
Co-Authors . Supriyanto ., Mislan A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdurrasyid, Zaki Amarullah Alifia, Wina Rizky Amira, Lola Andi Andi Ardianti, Wiwik Ari Paster Arman Wijonarko Armiyarsih Astrid Sebayang Ayu Puspita Azis Azis, Azis Azwan Azwan Cico Jhon K Simamora Dewi, Gabrilliani Puspita Dini Anggorowati Dwi Andriyani, Dwi Dwi Fitriyani, Dwi Eddy Mahrub Edy Syahputra Elsy Nandung Fadjar Rianto Febriana Febriana, Febriana George Andrew Charles Beattie Gilang, Kornelius Habiburrahman Habiburrahman, Habiburrahman Hendro Muntarjo Heru - Iman Suswanto Iman Suswanto Indri Hendarti Indri Hendarti Indri Hendarti Indri Hendarti Hendarti Iwan Sasli Jaya, Ya’ Subahan Kartini Kartini Kukuh Hernowo Kurnia Sari LILI, LILI Ma'ruf, Rizky Mardiansyah Madjidi, Madjidi Mahmudi Mahmudi Mariono, Dominikus Dino Marselini, Marselini Maulidi Maulidi Maya, Maya Mubarok, Muhammad Syahri Mulyadi, Adi Tegar Ngateman, Ngateman Ningrum, Ajeng Maula Pertiwi, Fitri Dewi Petrus Boni prasetyo, puguh pregawati, olla pregawati Radian Radian RAMADHANIA, RAHMI Reski, Silvanus Ridi, Egidius Erido Rini Susana Rizkyo Yoga Afrilien Ryan Harjuno, Ryan Sahbandi, Sahbandi Sarbino Sarbino Sari, Erika Kornelia SARNIATI, SARNIATI Simanjuntak, Elfidia SRI RAHAYU Subandi Sudarwadi - Sulistia Ningsih, Sulistia Surachman Surachman Suryanti, Widya Aini Syahputra, Edy Syahputra Tantri Palupi Tatang Abdurrahman Tatang Abdurrahman Tatang Abdurrahman, Tatang Teleng, Andry Stevanus Tomiko, Tomiko vera vera, vera Warganda Warganda WASI'AN, WASI'AN wasian wasian, wasian Wasi’an widya astuti Wuri Handayani Y. Andi Trisyono Yolanda, Farisa Zakiatulyaqin Zakiatulyaqin