Claim Missing Document
Check
Articles

Respon Pertumbuhan dan Hasil Lobak Putih (Raphanus sativus L.) terhadap Pemberian Urine Kelinci dan Pupuk KCl pada Tanah PMK Yolanda, Farisa; Sasli, Iwan; Ramadhan, Tris Haris
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v16i1.91390

Abstract

Growth and Yield Response of White Radish (Raphanus sativus L.) to the Application of Rabbit Urine and KCl Fertilizer in PMK Soil. Radish (Raphanus sativus L.) is a root vegetable of the Brassicaceae family, closely related to cabbage. Based on data from the Central Statistics Agency of West Kalimantan (2021), the productivity of radish in West Kalimantan in 2020 decreased compared to the previous year. Increasing radish production can be achieved through agricultural intensification using Podsolik Merah Kuning (PMK) soil (Ultisol). The main problem of PMK soil is its low fertility. One way to improve the chemical properties of PMK soil is to apply organic fertilizer, namely rabbit urine liquid fertilizer, and inorganic fertilizer, namely KCl. This study aimed to determine the best concentration of rabbit urine and the most effective dose of KCl fertilizer for the growth and yield of white radish in PMK soil. The research was conducted in the experimental field of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, Pontianak City, from September 15 to October 30, 2024. The experiment used a factorial completely randomized design with two factors. The first factor was rabbit urine concentration (U) at three levels: u1 = 20 ml/L, u2 = 40 ml/L, and u3 = 60 ml/L. The second factor was the KCl fertilizer dose (K) at three levels: k1 = 0.8 g/plant, k2 = 1.2 g/plant, and k3 = 1.6 g/plant. The results showed no interaction between rabbit urine concentration and KCl fertilizer on the growth and yield of white radish in PMK soil. Individually, rabbit urine at 20 ml/L and KCl fertilizer at 0.8 g/plant gave the best results on radish tuber length. However, no optimal and effective dose was found to significantly improve the growth and yield of white radish in PMK soil.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN ABU KAYU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN LOBAK PADA TANAH GAMBUT Marselini, Marselini; Anggorowati, Dini; Ramadhan, Tris Haris
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.100758

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis terbaik dari penggunaan pupuk kandang kambing dan abu kayu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah gambut serta bertujuan untuk mengetahui interaksi antara pupuk kandang kambing dan abu kayu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan di lahan yang berada di Jln. Reformasi, Gg Struktur, Pontianak Tenggara, dimulai pada 8 April 2023 sampai 13 Mei 2023. Penelitian ini menggunakan metode Faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor 3 taraf perlakuan, 4 sampel dan 3 ulangan. Faktor A adalah dosis abu kayu a1 = 30 ton/ha atau setara dengan 200 g/polybag a2 = 40 ton/ha atau setara dengan 300 g/polybag a3= 50 ton/ha atau setara dengan 400 g/polybag dan Faktor K adalah dosis pupuk kandang kambing k1= 10 ton/ha setara dengan 170 g/polybag k2= 15 ton/ha setara dengan 260 g/polybag k3 = 20 ton/ha setara dengan 340 g/polybag. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah daun, panjang umbi, diameter umbi, berat segar tanaman, berat segar umbi dan berat kering tanaman. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan pupuk kandang kambing dengan dosis 10 ton/ha dan dosis abu kayu 30 ton/ha merupakan dosis yang efisien untuk pertumbuhan lobak pada tanah gambut, karena dengan pemberian dosis pupuk kandang kambing 10 ton/ha memberikan pengaruh berbeda tidak nyata dengan pemberian dosis pupuk kandang kambing 20 ton/ha sedangkan pemberian abu kayu 30 ton/ha berbeda tidak nyata dengan pemberian abu kayu 50 ton/ha. Interaksi antara pupuk kandang kambing dan abu kayu terjadi pada masa pertumbuhan lobak yang dapat dinyatakan pada pengamatan variabel berat kering tanaman.
PENGARUH TAILING BAUKSIT DAN BIOCHAR TONGKOL JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU VAR. VIMA-4 PADA TANAH GAMBUT Ma'ruf, Rizky Mardiansyah; Susana, Rini; Ramadhan, Tris Haris
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 15 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i3.105114

Abstract

Lahan gambut dalam budidaya kacang hijau memiliki beberapa kendala diantaranya pH yang rendah dan porositas yang tinggi sehingga dapat menghambat pertumbuhan kacang hijau. Upaya untuk mengatasi kendala tanah gambut tersebut dapat dilakukan dengan pemberian tailing bauksit dan biochar tongkol jagung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis kombinasi terbaik antara tailing bauksit dan biochar tongkol jagung terhadap pertumbuhan kacang hijau var. Vima-4 pada tanah gambut. Rancangan penelitian yaitu Rancangan Acak Lengkap Faktorial, yang terdiri dari 2 faktor perlakuan tailing bauksit (t) yang terdiri dari 3 taraf  perlakuan (t1 = 10 ton/ha), (t2 = 15 ton/ha), (t3 = 20 ton/ha) dan biochar tongkol jagung (b) dengan 3 taraf perlakuan (b1 = 7,5 ton/ha), (b2 = 15 ton/ha), (b3 = 22,5 ton/ha), masing-masing diulang tiga kali dengan empat sampel tanaman per unit. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, umur berbunga, berat kering tanaman, volume akar, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per polong, berat biji per tanaman, berat 100 butir biji kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara tailing bauksit dan biochar tongkol jagung terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah gambut. Namun, didapatkan dosis tailing bauksit dan biochar tongkol jagung  secara tunggal yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah gambut yaitu, 10 ton/ha tailing bauksit dan 7,5 ton/ha biochar tongkol jagung.
FLUKTUASI POPULASI KUTU DAUN Toxoptera citricidus (Kirkaldy) PADA TANAMAN JERUK SIAM -, Sudarwadi; Hendarti, Indri; Ramadhan, Tris Haris
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 2 No. 2: Agustus 2013
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v2i2.2493

Abstract

Pengendalian hama terpadu (PHT) adalah salah satu pengendalian hama yang lebih baik dan aman. Keberhasilan dalam PHT sangat tergantung pada pemahaman ekologi hama yang akan dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi populasi kutu daun T.citricidus pada tanaman jeruk siam.. Penelitian dilakukan selama dua bulan dimulai bulan September- Oktober 2012. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan cara mengamati langsung di pertanaman jeruk di Desa Pangkalan Kongsi. Tanaman sampel yang diamati 10 % dari keseluruhan jumlah tanaman pada kebun milik petani. Pengamatan dilakukan terhadap ketersediaan sumber makanan yang ada yaitu tunas dan daun muda dan faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban dan curah hujan serta predatornya yaitu family Coccinellidae dan Syrphidae. Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh, dapat diketahui bahwa rerata jumlah tunas, daun muda, predator, suhu, kelembaban dan curah hujan dapat mempengaruhi kelimpahan populasi kutu daun T.citricidus. Populasi T.citricidus 637.1 ekor didapatkan pada kondisi rerata jumlah tunas 28.1, predator 28 ekor, suhu 310 C, kelembaban 75 % serta rata-rata curah hujan 253 mm/bulan. Kata Kunci : Perkembangan Populasi, T.citricidus, Faktor Lingkungan
AKTIVITAS INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN Piper aduncum TERHADAP Callosobruchus maculatus (COLEOPTERA: BRUCHIDAE) Andriyani, Dwi; Syahputra, Edy; Ramadhan, Tris Haris
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 4 No. 1: April 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v4i1.9657

Abstract

Callosobruchus maculatus merupakan salah satu hama penting kacang hijau di penyimpanan yang biasanya dikendalikan dengan menggunakan insektisida sintetik. Pengendalian alternatif hama ini dengan menggunakan insektisida botani perlu dilakukan. Penelitian bertujuan mengevaluasi aktivitas ekstrak tumbuhan Piper aduncum terhadap C. maculatus. Pengujian dilaksanakan dengan metode residu pada permukaan gelas. Pengamatan mortalitas dilakukan setiap hari hingga 6 hari setelah perlakuan. Hubungan konsentrasi-mortalitas dianalisis dengan probit. Pengujian hambatan peletakan peneluran dilakukan dengan metode pilihan dan tanpa pilihan. Pada pengujian ini ekstrak diuji pada konsentrasi setara LC25, LC50 dan LC75. Jumlah telur yang diletakan dihitung selanjutnya ditentukan persentase penghambatan peletakan telur. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak daun P. aduncum memiliki aktivitas insektisida dengan LC50 sebesar 0,29%. Ekstrak pada konsentrasi 0,18%-0,45% tidak menunjukan aktivitas penghambatan peletakan peneluran. Kata Kunci: Aktivitas insektisida, Callosobruchus maculatus, ekstrak daun, insektisida botani, Piper aduncum
TINGKAT KEPERIDIAN Menochilus sexmaculatus FABRICIUS BERDASARKAN PERBEDAAN JUMLAH PAKAN YANG DIBERIKAN PADA PENGUJIAN DI LABORATORIUM fitriyani, dwi; Ramadhan, Tris Haris; Sarbino, Sarbino
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 6 No. 1 (2017): April 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v6i1.18596

Abstract

ABSTRAK Salah satu serangga predator adalah Menochilus sexmaculatus Fabrisius (Coccinellidae : Coleoptera) dan memiliki keperedian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menegtahui keperidian M. sexmaculatus dengan perlakuan jumlah pakan yang berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan yang diberikan berupa pemberian pakan dengan jumlah yang berbedaan yakni : 10, 40, dan 80. Penelitian dengan rancangan digunakan untuk melihat perbedaab jumlah pakan terhadap keperidian M. sexmaculatus. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan M. sexmaculatus yang dipelihara dengan pakan A. craccivoramampu berkembang dan menghasilkan telur terbanyak 138,83/hari, dengan ukuran telur paling besar pada perlakuan P3 yaitu 9,82 µm, lama peneluran/umur peneluran 8-16 hari, dan persentase telur menetas tertinggi 76,24%/hari. Pemberian pakan 80 ekor pakan menghasilkan telur sehat dan kuantitas terbaik pada M. sexmaculatus. Kata kunci : Keperidian, M. sexmaculatus, pakan.
UJI PATOGENISITAS NEMATODA PATOGEN SERANGGA (NPS) Steinernema carpocapsae ISOLAT TANAH GAMBUT TERHADAP MORTALITAS Plutella xylostella L. LILI, LILI; HENDARTI, INDRI; RAMADHAN, TRIS HARIS
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 7 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.22322

Abstract

UJI PATOGENISITAS NEMATODA PATOGEN SERANGGA (NPS) Steinernema carpocapsae ISOLAT TANAH GAMBUT TERHADAP MORTALITAS Plutella xylostella L.Lili(1), Indri Hendarti(2), dan Tris Haris Ramadhan(2)ABSTRAKNematoda patogen serangga (NPS) merupakan salah satu agens hayati yang berpotensi dalam mengendalikan hama tanaman, contohnya seperti P. xylostella. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh patogenisitas NPS isolat tanah gambut terhadap mortalitas P. xylostella . Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Pontianak. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 6 perlakuan ( 0 Ji/ml (kontrol), 50 Ji/ml, 100 Ji/ml, 200 Ji/ml, 400 Ji/ml dan 800 Ji/ml) dengan 5 kali ulangan. Pengujian dilakukan menggunakan larva P. xylostella instar III. Efektivitas suspensi NPS diukur berdasarkan mortalitas, periode letal dan virulensi, jumlah NPS yang keluar, jumlah pupa dan jumlah imago yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan konsentrasi NPS maka semakin tinggi mortalitas P. xylostella. Konsentrasi 800 Ji/ml memiliki nilai mortalitas tertinggi yaitu 94 % sedangkan konsentrasi 50 JI/ml memiliki nilai mortalitas terendah yaitu 40 %. Periode letal yang dihasilkan NPS dalam membunuh serangga uji rata - rata 3 hari setelah infeksi. Rerata jumlah NPS yang keluar menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi NPS yang diberikan maka jumlah NPS yang keluar semakin banyak. Rerata NPS keluar per ekor pada konsentrasi 800 Ji/ml 1170,60 ekor dan konsentrasi 50 Ji/ ml 422,00 ekor. Suspensi NPS sangat mempengaruhi perkembangan P. xylostella sehingga pupa dan imago yang dihasilkan tidak sempurna.Kata Kunci : Mortalitas, NPS isolat tanah gambut, Periode letal, P. xylostella, Virulensi
BIOLOGI KEPIK LABU (Leptoglossus australis Fabricius, Hemiptera: Coreidae) PADA TANAMAN PERIA (Momordica charantia) DI LABORATORIUM AZIS, AZIS; SARBINO, SARBINO; RAMADHAN, TRIS HARIS
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 7 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.22325

Abstract

BIOLOGI KEPIK LABU (Leptoglossus australis Fabricius, Hemiptera: Coreidae) PADA TANAMAN PERIA (Momordica charantia) DI LABORATORIUMAzis (1), Sarbino (2), Tris Haris Ramadhan (3)(1) Mahasiswa Fakultas Pertanian dan (2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAKKepik labu (Leptoglossus australis F.) merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman peria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biologi kepik labu pada buah peria (Momordica charantia). Penelitian dilaksanakan di laboratorium Hama Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura selama 4 bulan. Kepik labu dipelihara dalam toples, toples dilubangi bagian bawah nya dan ditutup dengan kain kasa, toples digunakan secara terbalik. Buah peria diganti 2 hari sekali. Pengamatan dilakukan terhadap 100 ekor sebagai kohort yang dibagi dalam 10 toples. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : masa perkembangan L. australis F. dari menetas sampai menjadi imago berkisar antara 30-48 hari, stadium telur berkisar antara 7-10 hari. Nimfa terdiri dari 5 instar, lama stadium instar I (3-5 hari) instar II (5-23 hari) instar III (13-32) instar IV (13-35) dan instar V (16-27) hari. Nisbah seks diperoleh perbandingan jantan : betina 3,1 : 2. Lama hidup imago jantan 5-74 hari dan imago betina 14-79 hari. Periode prapeneluran berkisar 9-35 hari(rata "“ rata 22,23 hari). Periode pasca peneluran berkisar 1-6 hari (rata "“ rata 2,16 hari). Fertilitas telur berkisar antara 81,94% - 100%. Panjang dan lebar telur berkisar antara 1,85-1,89 mm dan 1,26-1,30 mm. Jumlah telur yang dihasilkan berkisar antara 8-72 telur (rata "“ rata 23 telur). Mortalitas nimfa instar I (3%) instar II (9%) instar III (12%) instar IV (8%) dan instar V (17%). Pemberian pakan dengan buah peria menghasilkan siklus dan umur yang panjang pada kepik (L. australis F.). Kata kunci : Biologi, L. australis F., Peria (Momordica charantia L.
POPULASI WALANG SANGIT (Leptocorisa oratorius F) DAN TINGKAT PARASITASI TELURNYA PADA BEBERAPA VARIETAS PADI DI LAHAN TADAH HUJAN Andi, Andi; Ramadhan, Tris Haris; Hendarti, Indri
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 7 No. 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.413 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.24742

Abstract

Walang sangit (Leptocorisa Oratorius F) merupakan hama utama yang menyerang tanaman padi. Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan walang sangit mengakibatkan penurunan hasil dan gabah menjadi hampa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari serangan walang sangit pada beberapa varietas padi serta jenis dan potensi parasitoid yang menyerang telur walang sangit. Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan BPP Tekarang dengan tahapan pembibitan, penanaman dengan jarak 20 cm X 10 cm sistem jarwo, pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan gulma dan penyulaman, pengambilan sampel, dan panen. Pengambilan sampel dimulai setelah tanaman padi berumur satu bulan setelah tanam kemudian diamati setiap seminggu sekali, setiap telur yang didapat dimasukkan ke dalam kantong plastik. Selain pengamatan telur dilakukan juga perhitungan populasi walang sangit pada tiap-tiap petak contoh, sampai padi mendekati panen. Telur yang telah diambil dari lapangan kemudian dipelihara di Petridish, Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Populasi walang sangit mulai muncul pada saat masa primordia dan populasi tertingggi pada varietas Situ Bagendit serta pada varietas Inpara 2 mengalami lonjakan populasi pada minggu terakhir. Jumlah telur walang sangit tertinggi pada varietas Inpara 2 dan pada varietas Situ Bagendit tidak ditemukan telur walang sangit. Persentase rerata bulir hampa tertinggi pada varietas Situ Bagendit dan terendah varietas Inpago 8. Rerata Berat 1000 biji tertinggi pada varietas Inpago 8 dan terendah varietas Situ Bagendit. Hasil panen tertinggi pada varietas Inpara 2 dan terendah pada varietas Situ Bagendit.Kata kunci : Lahan Tadah Hujan, padi, Parasitoid Telur, Walang Sangit.
PENGARUH JUMLAH INFESTASI KEPIK LABU (Leptoglossus australis F) TERHADAP KERUSAKAN BUAH LABU AIR (Lagenaria siceraria) SARNIATI, SARNIATI; HENDARTI, INDRI; RAMADHAN, TRIS HARIS
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 7 No. 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.26308

Abstract

PENGARUH JUMLAH INFESTASI KEPIK LABU (Leptoglossus australis F) TERHADAP KERUSAKAN BUAH LABU AIR (Lagenaria siceraria) Sarniati (1), Indri Hendarti (2), Tris Haris Ramadhan (2)(1) Mahasiswi Fakultas Pertanian dan (2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianake-mail : sarniati.agro@gmail.com ABSTRAKKepik labu (L.australis F) merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman labu air. Hama kepik labu menghisap buah tanaman labu air dan menyebabkan kualitas buahnya menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh populasi kepik labu (L. australis F.) terhadap gejala dan penurunan hasil buah labu air (L. siceraria). Penelitian dilaksanakan di laboratorium Hama Tanaman dan di lahan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura selama kurang lebih 4 bulan. Kepik labu diperoleh dari lapangan, kemudian diperbanyak di laboraturium hingga mendapatkan serangga instar 3 yang digunakan sebagai perlakuan. Tanaman labu air yang ditanam kurang lebih sebanyak 82 tanaman dengan penanaman secara bertahap hingga mendapatkan jumlah buah yang diinginkan yaitu sebanyak 72 buah labu air. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 taraf perlakuan, 6 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 3 sampel. Perlakuan yang dimaksud yaitu T0 (kontrol), T1 (2 ekor kepik), T2 (4 ekor kepik), dan T3 (6 ekor kepik). Variabel yang diamati meliputi gejala serangan, diameter buah, jumlah tusukan, panjang buah, berat bauh, dan perilaku serangga selama diinfestasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan hasil terbesar yaitu pada perlakuan infestasi 6 ekor kepik labu sebesar 32,94 %, jumlah infestasi kepik labu yang sudah bisa menurunkan hasil yaitu infestasi sebanyak 2 ekor yang sudah mampu menurunkan hasil buah labu air sebesar 17,74%.Kata kunci: Infestasi, Kehilangan hasil, L. australis (F), Labu air (L. siceraria).
Co-Authors . Supriyanto ., Mislan A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdurrasyid, Zaki Amarullah Alifia, Wina Rizky Amira, Lola Andi Andi Ardianti, Wiwik Ari Paster Arman Wijonarko Armiyarsih Astrid Sebayang Ayu Puspita Azis Azis, Azis Azwan Azwan Cico Jhon K Simamora Dewi, Gabrilliani Puspita Dini Anggorowati Dwi Andriyani, Dwi Dwi Fitriyani, Dwi Eddy Mahrub Edy Syahputra Elsy Nandung Fadjar Rianto Febriana Febriana, Febriana George Andrew Charles Beattie Gilang, Kornelius Habiburrahman Habiburrahman, Habiburrahman Hendro Muntarjo Heru - Iman Suswanto Iman Suswanto Indri Hendarti Indri Hendarti Indri Hendarti Indri Hendarti Hendarti Iwan Sasli Jaya, Ya’ Subahan Kartini Kartini Kukuh Hernowo Kurnia Sari LILI, LILI Ma'ruf, Rizky Mardiansyah Madjidi, Madjidi Mahmudi Mahmudi Mariono, Dominikus Dino Marselini, Marselini Maulidi Maulidi Maya, Maya Mubarok, Muhammad Syahri Mulyadi, Adi Tegar Ngateman, Ngateman Ningrum, Ajeng Maula Pertiwi, Fitri Dewi Petrus Boni prasetyo, puguh pregawati, olla pregawati Radian Radian RAMADHANIA, RAHMI Reski, Silvanus Ridi, Egidius Erido Rini Susana Rizkyo Yoga Afrilien Ryan Harjuno, Ryan Sahbandi, Sahbandi Sarbino Sarbino Sari, Erika Kornelia SARNIATI, SARNIATI Simanjuntak, Elfidia SRI RAHAYU Subandi Sudarwadi - Sulistia Ningsih, Sulistia Surachman Surachman Suryanti, Widya Aini Syahputra, Edy Syahputra Tantri Palupi Tatang Abdurrahman Tatang Abdurrahman Tatang Abdurrahman, Tatang Teleng, Andry Stevanus Tomiko, Tomiko vera vera, vera Warganda Warganda WASI'AN, WASI'AN wasian wasian, wasian Wasi’an widya astuti Wuri Handayani Y. Andi Trisyono Yolanda, Farisa Zakiatulyaqin Zakiatulyaqin