Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PENENTUAN ZONASI RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kabupaten Banjarnegara) Dhuha Ginanjar Bayuaji; Arief Laila Nugraha; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.447 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah di wilayah provinsi Jawa Tengah yang masuk dalam kategori sangat rawan bencana tanah longsor. Sebanyak 134 kasus tanah longsor terjadi dari tahun 2012-2014. Maka dibutuhkan pemetaan risiko bencana tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana di Kabupaten Banjarnegara.Pemetaan risiko bencana tanah longsor berbasis Sistem Informasi Geografis dibuat dengan software GIS dengan cara skoring dan pembobotan, serta tumpang susun (overlay) antar parameter penyusunnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu SNI (Standar Nasional Indonesia) dan AHP (Analythical Hierarchy Process) kemudian akan diketahui metode mana yang  lebih mendekati keadaan nyata di lapangan. Dari hasil pemetaan risiko bencana tanah longsor metode SNI diperoleh daerah risiko tinggi sebesar 69,961%, sedang 25,868%, dan rendah 4,171%. Sedangkan hasil metode AHP diperoleh daerah risiko tinggi sebesar 73,244%, sedang 23,592%, dan rendah 3,165% yang tersebar di Kabupaten Banjarnegara. Dari hasil validasi lapangan didapatkan kesesuain untuk metode SNI sebesar 65% dan 45% untuk hasil metode AHP. Perangkat lunak SIG dapat digunakan sebagai media pembuatan peta dengan metode bobot dan skoring.  Kata kunci: Tanah Longsor, AHP , SNI, Peta Risiko, SIG,    Top of FormABSTRACT Banjarnegara Regency is located in the province of Central Java which has high risk to landslide. There were 134 cases of landslide occur from 2012- 2014. Therefore, mapping of the risks of landslide is required as disaster mitigation efforts in the Banjarnegara Regency. Mapping of landslide risks based on Geographic Information System created with GIS software by scoring and weighting, and overlays  between constituent parameters. In this research, using two methods namely SNI (Indonesian National Standard) and AHP (Analythical Hierarchy Process) then will be known which method is closer to the real situation on the fieldFrom the result of mapping of the risks of landslide using SNI method obtained high-risk areas by 69,961%, medium 25,868%, dan low risk level 4,171%. Whereas from AHP method result obtained high-risk areas by 73,244%, medium 23,592%, dan low risk level 3,165% that scattered in the Banjarnegara Regency. From the field validation obtained conformity to SNI by 65% and 45% for the result of AHP. GIS software can be used as media of making map by the method of weighting and scoring. Keywords : Landslide, AHP , SNI, Risk Map, GIS, *) Penulis, PenanggungJawab
PENENTUAN POTENSI LOKASI ATM BNI MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang) Vinsensia Hutagaol; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.16 KB)

Abstract

ABSTRAK            Kota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah sekaligus menjadi kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia. Letak Semarang yang strategis dan keramahan penduduknya menambah potensi  ekonomi dan berdampak kepada meningkatnya pertumbuhan lembaga keuangan di kota ini. Lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian adalah Bank. Sebagai salah satu Bank pemerintah yang menjadi kepercayaan masyarakat, Bank BNI meningkatkan pelayanan dengan meningkatkan kualitas pelayanan seperti pembuatan ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Perencanaan lokasi ATM BNI dapat dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Processing (AHP) dan SIG dengan daerah penelitian Kecamatan Tembalang kota Semarang.AHP merupakan proses pengambilan keputusan dengan menggunakan struktur hirarki. Melalui perhitungan dengan menggunakan AHP maka diperoleh kriteria penentuan lokasi ATM BNI yang baru yakni kantor cabang 61,2%, pusat keramaian 21,0%, ATM Non BNI 7,4%, lembaga institusi 4,2%, jarak pos keamanan 4,0%, jumlah nasabah 2,1%. Hasil dari perhitungan AHP kemudian diaplikasikan ke dalam SIG dan menghasilkan lokasi ATM BNI rencana untuk kecamatan Tembalang yakni tiga titik berada di kelurahan Tembalang, satu  titik berada di kelurahan Kedung Mundu, dua titik berada di kelurahan Sendang Mulyo dan satu titik berada di kelurahan Kramas.  Kata Kunci : Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Analytical Hierarchy Processing (AHP), Sistem Informasi Geografis (SIG) AbstractSemarang city is the capital of Central Java province and at the same time becomes the fifth largest metropolitan city in Indonesia. The strategic location of Semarang and friendly people making economic potential to be increase and impacting on the growth of financial institutions in this city. Financial institutions having an important function in the economy is a Bank. As one of government bank which is be trusting by society, Bank BNI improve servicing by improving the quality of services such as making of ATM (Automatic Teller Machine). The planning of ATM locations can be done by Analytical Hierarchy Processing (AHP) method and GIS with the research area in Tembalang District, Semarang City. AHP is a decision making process by using a hierarchical structure. Resulting of calculation by using the AHP is be gotten criteria of the new BNI’s ATM location determining consist of branch offices 61.2%, crowded centers 21,0%,  ATM non BNI 7,4%, institutions 4,2%, distancing of  security post 4,0 %, total of customers 2,1%. The result of the AHP calculation is applied to be in the GIS at the next and produces the locations planning of BNI's ATM at Tembalang District  are three points in the Tembalang Village, one point is in the Kedung Mundu Village, two points located in the Village of Sendang Mulyo and one point is in Kramas Village. Keywords : Automatic Teller Machine (ATM), Analytical Hierarchy Processing (AHP), GIS (Geographic Information System)
EFEKTIVITAS PENENTUAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI TINGGI DAN RESOLUSI MENENGAH (Studi Kasus : Kabupaten Pacitan) Putri Auliya; Bandi Sasmito; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.817 KB)

Abstract

ABSTRAK   Garis pantai merupakan garis imajiner tempat air dan daratan bertemu. Garis pantai pada suatu negara bukan lagi menjadi perkara yang dapat diabaikan. Semakin berkembangnya teknologi penginderaan jauh dan berbagai kelebihan yang dimilikinya, mendorong berpaling ke teknik ini untuk berbagai studi, termasuk salah satunya untuk mendeteksi garis pantai. Metodologi inderaja dapat dilakukan dengan cepat dan dapat menjangkau daerah yang tidak dapat terjangkau oleh pengukuran secara terestris untuk mendeteksi garis pantai. Pada penelitian ini dilakukan penentuan garis pantai pada data citra satelit Landsat dan UAV kemudian dibandingkan efektivitas dari keduanya dilihat dari ketelitian horisontal dalam penyajian skala di peta.Penentuan garis pantai menggunakandata UAV dengan menggunakan software Agisoft PhotoScan sampai mendapatkan hasil orthophoto sedangkan untukdata citra satelit Landsat dilakukan dengan mengaplikasikan rumus BILKO untuk membedakan daratan dan lautan.  Penentuan garis pantai pada dua datayang sudah diolah tersebut dilakukan dengan cara mendigitasi pada batas daratan dengan lautan saat perekaman atau pemotretan data dilakukan. Garis pantai yang didapatkan dari hasil digitasi tersebut merupakan garis pantai muka laut sesaat.Hasil dari penelitian ini menunjukan langkah – langkah dalampenentuan garis pantai pada UAV menggunakan software Agisoft PhotoScan sampai mendapatkan hasil orthophotodan langkah – langkah dalam penentuan garis pantai pada citra Landsat dengan mengaplikasikan rumus BILKO. Hasil garis pantai yang sudah didapat dilakukan uji akurasi sesuai dengan PERKA BIG No 15 Tahun 2014  dengan hasil ketelitian horisontal padaUAV sebesar 0,032 meter yang memenuhi skala 1: 1.000 kelas satu dan untuk hasil ketelitian horisontal pada citra satelit Landsat sebesar 9,300 meter yang memenuhi skala 1 : 50.000 kelas satu untuk penyajian pada peta KataKunci:Algoritma BILKO, CitraLandsat, Garis Pantai, dan UAV. ABSTRACTCoastline is an imaginer line where the sea water and the land meet. Country’s coastline now is not a problem that could be ignored. Nowdays, remote sensing technology have been developing and got many benefits. One of them is determine the coastline. Remote sensing could be used quickly and easily to reach areas that not be able to be reached by terestris measure. In this research, coastline is determined by the Landsat imagery  and UAV then compare both efectivity from horizontal accuracy of scale presenment on map.Coastline determining with UAV uses Agisoft PhotoScan Sofware to get the orthophoto. Whereas, coastline determining with  Landsat imagery use the BILKO formula to show the difference of the land and the sea. The coastline determining using these datas is done by digitizating the boundary between the land and the sea while during the recorder and photography of the data. The result is temporary coastline.The goal of this research is showing the steps to determine the coastline by using UAV with Agisoft PhotoScan to get orthophoto and using Landsat imagery  with BILKO formula. After it, this researh do the accuracy test based on PERKA BIG No 15 Tahun 2014 and it generate the horizontal accuracy 0.032 meters with first class map scale 1:1,000  for UAV and horizontal accuracy 9.300 meters with first class map scale 1:50,000 for Landsat imagery  presentment on the map. Key Word :Bilko Algorithm, Coastline, Landsat Imagery, and UAV.
ANALISIS PERSEBARAN MINIMAREKET MODERN BERBASIS SIG ( SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ) DI KABUPATEN KUDUS Tiara Toyyibatul Arofah; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.407 KB)

Abstract

ABSTRAK       Pertumbuhan minimarket kini semkain tak terkendali, begitu banyak gerai toko minimarket baru yang dibuka pada tiap tahunnya. Walaupun Kabupaten Kudus sudah memiliki peraturan daerah yang mengatur tentang perpasaran swasta, namun pelaksanaannya masih membutuhkan pengawasasn baik dari masyarakat sendiri. Pengawasan dilakukan untuk mendukung peraturan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kudus. Pada penelitian ini memanfaatkan data koordinat yang didapat dari survey lapangan dengan menggunakan Mobile Topografer. Langkah selanjutnya adalah membuat peta persebaran minimarket dengan menggunakan software SIG. Sedangkan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah buffer. Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah peta persebaran minimarket yang mengacu pada peraturan pemerintah daerah Kabupaten Kudus No 6 tahun 2013, yang memperoleh hasil minimarkat dengan metode buffer jaraknya kurang dari 500m terhadap pasar tradisional sebagai berikut : Indomaret pasar jember, Alfamart KH.Asnawi, Indomaret KHR.Asnawi, Indomaret Bakti 83, Alfamart Bakti, Indomaret Bakti, Alfamart Jekulo dan Indomaret Jekulo.
KAJIAN PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP PERTUMBUHAN INDUSTRI BERBASIS GEOSPASIAL (Studi Kasus : Kabupaten Gresik) Kemas Abdul Fatah; Arief Laila Nugraha; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.235 KB)

Abstract

Abstrak Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji dampak perkembangan industri terhadap perubahan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Analisis perubahan penggunaan lahan ini dilakukan dengan penggambaran peta lahan RTH menggunakan Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 sebagai perbandingannya, kemudian untuk mendapatkan analisis perubahan lahan digunakan metode SIG.Berdasarkan analisis Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 didapatkan luas lahan RTH Kabupaten Gresik sebesar 23.036,039 Ha atau sekitar 23 % pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2013 luas lahan RTH sebesar 22.863,420 Ha atau sekitar 22 % yang artinya RTH di Kabupaten Gresik mengalami perubahan sebesar 172,619 Ha atau sekitar -1% dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, industri, SIG, Quickbird, Google Earth. Abstract Rapid construction leads to high changes in land use. The function of land once used as vacant or undeveloped land turns into developed land. This research is aimed to observe the impact of industrial development toward the change of green open space land. The analysis upon the green open space usage is done through green space cartography using Quickbird imagery in 2010 and Google Earth imagery in 2013 as the comparison, GIS is then utilized to gain the analysis of the land change-over.Based on Quickbird imagery analysis in 2010 and Google Earth imagery in 2013, it was resulted that the amount of green open space of Gresik Regency was 23,036.039 Hectares or about 23% in 2010. Meanwhile, in 2013 the green open space was at the amount of 22,863.420 Hectares or about 22% of the total city region which meant that the area of green open space in Gresik Regency changed 172.619 Hectares or about -1% from 2010 to 2013. Keyword: Green Open Space Land, industry, SIG, Quickbird, Google Earth.             *) Penulis PenanggungJawab
Tinjauan Peta Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Ahmad Yani Semarang Viradhea Gita R. L.; Sawitri Subiyanto; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.154 KB)

Abstract

Airport Ahmad Yani is airport those are on Semarang, Central Java. Geographically, it located in co-ordinate 6 o 58 ’ 35 ” S 110 o 22 ’ 38 ” E. Airport Ahmad Yani’s location close to urban center that has a lot of tall building. Need to mark sense observation on tall object which potentially evoke troubles on flight activity (obstacle)  those are on flight operations safety area especially airport vicinity area in order not to trouble the flight activity. The method that using in this final task research is method overlay identity  by using of ArcGIS's software 9.3. Method overlay are methodic of spasial analisys that functioning result new spasial's data from minimal two data that becomes its entry.  Overlay identity, part of method overlay  that is utilized to  save all information of all entry. After cartography utilizes ArcGIS's software 9.3  all through, then map is featured on Google Earth . The result of data processing are information about region which most turns in at Flight Operations Safety Area (KKOP) of  Airport Ahmad Yani and height zona at any given area division. Thus, can be known about obstacle’s spread according to region and height zona on KKOP Airport Ahmad Yani. This research utilitarian to make development urban planning, monitoring the obstacles, and update of previous map. Keyword: Airport Ahmad Yani, KKOP, elevation, obstacle.
ANALISIS FLUKTUASI PRODUKSI PADI AKIBAT PENGARUH KEKERINGAN DI KABUPATEN DEMAK Adhelina Rinta Iswari; Hani’ah Hani’ah; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.403 KB)

Abstract

ABSTRAKSetiap tahun, musim kemarau menyebabkan kekeringan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu lahan yang selalu mendapat ancaman serius adalah lahan persawahan. Kekeringan di area persawahan ini menyebabkan penurunan produksi padi di beberapa wilayah karena kurangnya pasokan air untuk mengairi area persawahan. Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten yang menjadi penyangga pangan nasional karena sebagian besar wilayahnya merupakan lahan persawahan. Namun, lahan persawahan di Kabupaten Demak ini juga tak luput dari ancaman bencana kekeringan. Setiap tahun di musim kemarau, persawahan Kabupaten Demak mengalami kekeringan karena sebagian besar sawahnya menggunakan pengairan tadah hujan dan hanya sebagian kecil berpengairan teknis. Dengan adanya ancaman kekeringan, mengakibatkan naik atau turunnya produksi padi di Kabupaten Demak setiap tahun.Analisis fluktuasi produksi padi pada penelitian ini dilakukan dengan cara pemetaan area persawahan musim panen kemudian digabungkan (overlay) dengan peta ancaman kekeringan. Pemetaan area persawahan diolah menggunakan data penginderaan jauh, dan pemetaan ancaman kekeringan merujuk pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard dengan SIG. Analisis fluktuasi produksi padi yang didapat kemudian dianalisis pengaruhnya terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Demak.Penelitian ini menghasilkan peta sawah terdampak kekeringan yang diklasifikasikan kedalam tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi, dimana sawah yang terdampak kekeringan kelas tinggi diasumsikan sebagai lahan sawah gagal panen. Pada musim panen 2 dan 3 tahun 2013 sebanyak 0,629% lahan sawah mengalami gagal panen, pada tahun 2014 sebanyak 8,121% dan 9,173% pada tahun 2015. Namun ancaman kekeringan yang ada tidak berimbas pada ketahanan pangan di Kabupaten Demak, hal ini dibuktikan dengan adanya surplus beras sebanyak 2.681.392,681 kuintal pada tahun 2014 dan sebanyak 3.124.096,305 kuintal pada tahun 2015. Kata Kunci : Area Persawahan, Fluktuasi Produksi Padi, Kabupaten Demak, Kekeringan, Ketahanan Pangan  ABSTRACTEvery years, dry season caused drought in several regions of Indonesia. Rice fields always get serious threat of it. Drought in rice fields causing reduction of paddy production due to lack of water supply to irrigate their rice fields. Demak Regency is one of national food support bacause it has amount of rice fields there. However, rice fields in Demak Regency also threat by drought. In dry season it experiencing drought because most of them depend on rain for irrigate their rice fields, so fluctuative paddy production caused by drought in Demak Regency every year.Analysis of fluctuative paddy production on this research is done by mapping the harvest season of rice fields then combined it with drought map. Paddy fields map processed using remote sensing data, and drought map refers to methodology geo hazard catalog based GIS. The fluctuative of paddy production and then analyzed toward food security in Demak Regency.This research results rice fields map affected by drought which classed into three level, low, medium and high. Rice fields that affected by high level of drought assumed as crop failure. On 2nd and 3rd harvest season of 2013, 0.629% harvest area was failed, on 2014 8.121% and 9.173% on 2015. However, drought in Demak Regency has no impact for their food security, they have rice surplus about 2,681,392.681 quintals on 2014 and 3,124,096.305 quintals on 2015.      Keywords : Rice Fields, Fluctuative paddy production, Demak Regency, Drought, Food Security  *)  Penulis, Penanggung Jawab
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI RINCI DESA MENGGUNAKAN DATA PEMOTRETAN UDARA UAV BERBASIS SIG Studi Kasus ( Desa Katonsari, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak) Yovi Adyuta Isdiantoro; Bambang Sudarsono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.378 KB)

Abstract

ABSTRAKUU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengembangkan sistem informasi Desa untuk keperluan perencanaan pembangunan di wilayah perdesaan. Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi Desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah. Desa Katonsari merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Desa ini memiliki wilayah yang strategis karena berada di dekat Jalan Raya yang menghubungkan Kota Semarang dan Kota Surabaya. Akan tetapi desa ini belum memiliki Sistem Informasi Desa. Pembuatan Sistem Informasi desa diharapkan dapat memudahkan pemerintah desa dan juga masyarakat lebih mudah dalam mendapatkan informasi geospasial. Sistem Informasi Desa dibuat dengan cara pengolahan data foto udara menjadi orthophoto. Hasil orthophoto dilakukan rektifikasi dengan citra Quickbird maka didapatkan foto udara terkoreksi. Lalu dilakukan proses digitasi yang mengacu pada PERKA BIG Nomor 3 Tahun 2016 dan dijadikan geodatabase lalu dilakukan topologi. Kemudian hasilnya di upload ke ArcGIS online sebagai hosted feature layer dan membuat aplikasi peta berbasis web dari shapefile yang dijadikan layer. Peta online dibuat dengan web map builder pada ArcGIS online. Hasil peta online kemudian disematkan di website Desa Katonsari dengan situs https://desakatonsari.wixsite.com/mysite yang didalam nya berisi Peta Desa Katonsari berbasis WebGIS. Hasil dari penelitian ini adalah Sistem Informasi Desa yang diakses melalui website. Setelah dilakukan uji usability pada website tersebut didapatkan nilai rata-rata 83,79 yang masuk kategori “Baik”. Kata Kunci : Orthophoto, Peta Online, Sistem Informasi Desa, UAV ABSTRACTLaw No. 6 of 2014 concerning Villages explains that the government and regional governments are obliged to develop Village information systems for the purposes of development planning in rural areas. Villages are entitled to access information through the Village information system developed by the Regional Government. Katonsari Village is a village located in Demak District, Demak Regency. This village has a strategic area because it is near the highway that connects the city of Semarang and the city of Surabaya. However, this village does not yet have a Village Information System. The creation of a village Information System is expected to make it easier for the village government and also the community to obtain geospatial information more easily. Village Information System is made by processing aerial photographic data into orthophoto. The orthophoto results were rectified with Quickbird imagery and corrected aerial photographs were obtained. Then the digitization process is carried out that refers to PERKA BIG Number 3 of 2016 and made into a geodatabase then carried out topology. Then the results are uploaded to ArcGIS online as the hosted feature layer and create a web-based map application from the shapefile that is used as a layer. Online maps are created with the web map builder on ArcGIS online. The results of the online map are then embedded on the Katonsari Village website with the site https://desakatonsari.wixsite.com/mysite which contains WebGIS-based Katonsari Village Map. The results of this study are the Village Information System which is accessed through the website. After the usability test was carried out on the website, it was found that the average value was 83.79 which was categorized as "Good". Keywords Orthophoto, Online Map, UAV, Village Information Systems
ANALISIS ZONA KERAWANAN LONGSOR PADA JALUR KERETA API SEMARANG-PEKALONGAN (Studi Kasus: Stasiun Semarang Tawang – Stasiun Pekalongan) Fida Wulan Istiaji; Arief Laila Nugraha; Hani'ah hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSecara geografis jalur kereta api Semarang-Pekalongan terletak berbatasan dengan laut Jawa bagian utara, serta kondisi topografis wilayahnya yang terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan pesisir pantai. Hal tersebut menunjukkan adanya kemiringan dan tonjolan, dengan adanya perbedaan topografi tersebut mengakibatkan batuan pembentuk kulit bumi bagian atas menjadi lapuk, serta tanah yang lapuk dan banyak mengandung air menjadi labil dan mudah bergeser secara gravitasi. Daerah dengan topografi lebih tinggi berusaha mencari keseimbangan baru menuju daerah dengan topografi yang relatif lebih rendah, sehingga gerakan kulit bumi bagian atas dikenal sebagai gerakan tanah, oleh masyarakat disebut sebagai tanah longsor. Selain karena topografisnya, faktor kereta api dengan kecepatan tinggi sehingga menyebabkan permukaan tanah yang ada dibawahnya atau disekitarnya mengalami getaran terutama pada kawasan yang memiliki kecuraman dan curah hujang yang tingggi, hal tersebut dapat menyebabkan tanah longsor.Identifikasi zona kerawanan longsor pada penelitian ini melibatkan empat parameter yaitu peta geologi, peta curah hujan, peta kelerengan dan peta tutupan lahan. Semua parameter tersebut digabungkan dengan metode tumpang tindih (overlay) sehingga didapatkan peta zona kerawanan longsor yang kemudian di tampalkan dengan peta jalur kereta api Semarang-Pekalongan yang didalamnya sudah dibagi setiap segmen yaitu 1km. Pertampalan tersebut menghasilkan peta zona kerawanan longsor pada jalur kereta api Semarang-Pekalongan yang dikelaskan menjadi tiga kelas yaitu kerawanan longsor rendah, kerawanan longsor sedang dan kerawanan longsor tinggi. Metode yang digunakan dalam pengkelasan yaitu Natural Break (Jenk).Interval hasil klasifikasi tersebut yaitu kerawanan longsor rendah 0,5-1,2, kerawanan longsor sedang >1,2-1,9, dan kerawanan longsor tinggi >1,9-2,9. Zona kerawanan longsor pada jalur kereta api Semarang-Pekalongan memberikan hasil luasan kelas kerawanan rendah sebesar 168,867 Ha, kerawanan longsor sedang 644,906 Ha, dan kerawanan longsor tinggi 84,413 Ha. Kemudian, kelas kerawanan pada setiap segmen 1km yang mempunyai kelas kerawanan rendah sejumlah 20 segmen, kelas kerawanan sedang sejumlah 57 segmen dan kerawanan tinggi mempunyai 12 segmen. Presentase dari jumlah setiap segmen yaitu kerawanan rendah 22%, kerawanan sedang 64%  dan kerawanan tinggi 14%.Kata kunci : Jalur Rel Kereta Api, Natural Break (Jenk), Overlay, Tanah Longsor ABSTRACTGeographically Semarang-pekalongan railway is borderly located with the north java sea,  and its topographic territory which is an area composed of hills, lowlands and coasts. This shows the existence of slopes and bulges, with the topographic difference, this results rock that form the upper surface of the earth become weathered, and weathered land containing plenty of water become unstable and prone to shift gravitationally. Areas with higher topographic attempt to find a new balance towards areas with lower topographic, therefor the upper skin of the earth movement is known as land movement, and people know this as landslide. Apart from its topographic, the train factor with high speed causes the surface of land below or around it to experience vibrations especially areas that have stepness and high rainfall, this causes landslide to occur.Identifiying vulnerable landslide areas in this research involves four parameters based on catalog of drafting methodologies geo hazard book with GIS which is geological map, rainfall map,  slope map, and land cover map. All these parameters are combined with an overlay method so a map on landslide vulnerabality is obtained which is then patched with the Semarang-pekalongan railway map that is classsed into 3 class that are low landslide vulnerablity, mid landslide vulnarablity, and high landslide vulnerabality. The method used in classifiying is Natural Break (Jenk).The result of interval classification is low landslide vulnerablity 0.5-1.2, mid landslide vulnarablity >1,2-1,9, high landslide vulnerabality >1,9-2,9. Landslide vulnerbality zone on Semarang-pekalongan railway present area results of low vulnerablity class as big as 168,867 Ha, mid vulnerability 644,906 Ha, and high vulnerablity 84,413 Ha. Then, class of vulnerability every segment of 1km have low vulnerability 20 segment, class mid vulnerability have 57 segment and class of high vulnerability have 12 segment. Percent from every result of segment low vulnerability is 22%, mid vulnerability 64% and high vulnerability 14%. Key Words : Landslide, Overlay, Natural Break (Jenk), and  Railway.
KAJIAN PEMODELAN DASAR LAUT MENGGUNAKAN SIDE SCAN SONAR DAN SINGLEBEAM ECHOSOUNDER Wisnu Wahyu Wijonarko; Bandi Sasmito; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.062 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengetahuan mengenai topografi dasar laut bermula dari pemetaan-pemetaan yang sudah lama dilakukan pada jaman dahulu. Mengingat jangkauan dan kemampuan yang terbatas pada penerapan visual lingkungan bawah air, sonar telah menjadi solusi pilihan untuk pengamatan dasar laut sejak dimulai pada tahun 1950-an. Hasil pencitraan side scan sonar disajikan dalam bentuk 2 dimensi (2D). Namun pada perkembangannya banyak gambar 2D side scan sonar yang bisa diubah menjadi representasi 3D.Model 3D dasar laut dilakukan dari hasil citra side scan sonar dan data singlebeam echosounder sebagai data kedalaman. Lokasi penelitian yang diambil berada di wilayah utara perairan kota semarang. Data yang digunakan meliputi raw data side scan sonar, singlebeam echosounder, multibeam echosounder, pasut dan sound velocity profiler. Hasil perpaduan dari side scan sonar-singlebeam echosounder akan dibandingkan dengan data dari multibeam echosounder.Model 3D dasar laut yang dihasilkan oleh perpaduan SSS-SBES memiliki topografi yang relatif datar dengan kedalaman antara 9 meter sampai dengan 12 meter dan objek dapat teridentifikasi secara baik. Perbandingan koordinat objek antara SSS-SBES dengan MBES memiliki selisih jarak yaitu : SPM: 5,512 meter; P1: 3,178 meter; P2: 7,392 meter; P3: 8,362 meter; dan P4: 6,853 meter. perbedaan nilai kedalaman masing-masing sebesar P1: -0,9 meter; P2: -0,8 meter; P3: -1,3 meter; dan P4: -1,1 meter. Pada SSS-SBES nilai kedalamanya hanya didpatkan sepanjang lajur survei sehingga tidak mampu memberikan nilai kedalaman yang pasti diluar garis survei. perhitungan kedalaman menggunakan IHO-SP44, perhitungan menggunakan titik sample 94% titik sample memenuhi orde 1a dan pada perhitungan menggunakan sample lajur profil didapatkan sebesar 78,6% memenuhi orde 1a.Kata Kunci : 3D dasar laut,  Side scan sonar, Singlebeam echosounder  ABSTRACT Knowledge of the topography of the ocean floor begins with mappings that have been long established in antiquity. Given the range and capabilities are limited to a visual application of underwater environments, sonar has become the choice of solution for the observation of the ocean floor since it began in the 1950s. Side scan sonar imaging results are presented in the form of two-dimensional (2D). But the growth of many 2D side scan sonar images that can be converted into a 3D representation.3D model of the ocean floor carried out from the side scan sonar imagery and data singlebeam echosounder as depth data. The location of research is in the north of waters semarang city. Data used included is raw data is side scan sonar, echosounder singlebeam, multibeam echosounder, tide and sound velocity profiler. Results blend of side-scan sonar singlebeam echosounder will be compared with data from multibeam echosounder.3D model of the ocean floor produced by SBES-SSS fusion has a relatively flat topography with a depth of 9 meters to 12 meters and objects can be identified properly. Comparison of the object coordinates between SSS-SBES with MBES have separation distances are: SPM: 5.512 meters; P1: 3,178 meters; P2: 7,392 meters; P3: 8.362 meters; and P4: 6.853 meters. Differences in depth value respectively by P1: -0.9 meters; P2: -0.8 meters; P3: -1.3 meters; and P4: -1.1 meters. In SSS-SBES value of depth only lanes along the survey and is unable to give a definite depth value outside the survey line. Depth calculation using the IHO-SP44, calculations using sample points of 318 sample points earned as much as 299 points, or 94% of sample points fulfill the order 1a and on calculations using a sample of 14 lanes lanes profile obtained 11 columns profiles or by 78.6% fulfill the order 1a.Keywords : 3D Seabed Surface, Side scan sonar, Singlebeam echosounder *) Penulis Penanggung Jawab
Co-Authors Abdi Sukmono Abdi Sukmono, Abdi Adhelina Rinta Iswari Adi Nur Ikhsan Aditya Dharmawan Afriyanto Afriyanto Afriyanto Afriyanto Agung Setiawan Ahmad Daniyal Ahmad Shofiyul Huda Alfien Rahmenda Amalia Permata Dewi, Amalia Permata Anang Ikhwandito Andini Riski Oktaviani Andri Suprayogi Anisa Rachmawati, Anisa Annisaa Cahyaningsih Ar Rafi, Naufal Hisyam Arco Triady Ujung Arga Fondra Oksaping ARGNES DIONANDA RESZA PRADIPTA Arkham, Ivan Fandilla Aulia Arkham Arliandy Pratama Arwan Putra Wijaya Avianta Anggoro Santoso Awwaluddin, Moehammad Ayu Sulistyaningtyas, Sekar Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bondan Arum Kusumahati Briandana Januar Aji Gunadi Brinton Patuan Sitorus Cahya Wisuda Hukama Chairunisa Afnidya Nanda Dede Handoko DEDI SETYAWAN Dewi Shinta Septifany Dhuha Ginanjar Bayuaji Dian Triandini Nurcahyo Diqja Yudho Nugroho Dyah Widyaningrum Elceria Susanti Extiana, Kiky Fadhilla Shara Denafiar Fajri Ramadhan Fanni Kurniawan Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Febrian Pramana Putra Fida Wulan Istiaji Fina Faizana Frizani, Defanny Elsa Ghinaa Rahda Kurnila Habib Azka Ramadhani Hadi Winoto Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handoko Dwi Julian Hani'ah . Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hanifudin, Faiz Hani’ah Hani’ah HARDIAN ASTIANINGRUM Hartomo Haryo Kuncoro Hilman Djalu Sadewo Hutagalung, Christovel Mangaratua Ibrohim Shiddiq Ika Rahayu Wulansari Imam Mudita Inessia Umi Putri INNEKE ASTRID PITALOKA Irfan Tri Anggoro Izzudin Al Qossam Jalu Tejo Nugroho, Jalu Tejo Johan Wisma Anggoro Kemas Abdul Fatah Kevin Dio Maldini Khofifatul Azizah Kindy Ibrahim Hari L M Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany Lingga Hascarya Prabandaru Lolita, Diaz Amel LUKMAN MAULANA ABDILLAH LUTHFI RAHMANDHANI Maharani, Raden Roro Kingkin Meiska Firstiara Maudi Mia Anggorowati Karomah Mochammad Imron Awalludin Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Faiz Ilhami Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Bagus Salim Muhammad Hanif Abdurrahman Muhammad Sandhi Lazuardi Mustaqim, Alfiyan Nanda Dewi Arumsari Naryoko Naryoko Nastiti Asrining Hartri Naufal Humam Manshur Nella Wakhidatus Nella Wakhidatus Sholekhah Nisrina Niwar Hisanah NOVAYA NURUL BASYIROH Nugrahanto, Prasetyo Odi Nur Fajar Nafiah Nurhadi Bashit Nurmalasari, Cici Nurrahmawati Nurrahmawati Nyoman Winda Novitasari Olivia Sinaga Pardjono, P. Pradipta, Carlo Purba, Agantry Putri Auliya Qoaruddin Qomaruddin Rachmawati, Ekha Raditya Wahyu Utomo Rahmat Randy Valdika Ramadhan Susilo Utomo Resi Diansismita Resti Winda Ratriana Rida Hilyati Sauda Ridwan Ageng Ashari Rifqi Najib Muzaka Rintyas Chandra Irawan Rizqi Umi Rahmawati Rizqie Anarullah, Rizqie Rochim, Vianka - Rofi'i, Nur Izha Jannah Rosika Dyah Pratiwi Rr. Yossia Herlin A. Sabda Lestari Sabri, L.M Sabri, L.M. Safira Devi Kirana Sandy Yudistira Mahardika, Sandy Yudistira sari, Cici Nurmalasa Sartika Sartika Sawitri Subiyanto Sendy Brammadi Septiningdiah, Dara Jati Setiaji, Krisna Shindy Mariska Zulkarnain Siti Haeriah Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syarifah Mayda Az Zahrotun Nisa Taufik Eka Ramadhan, Taufik Eka Tiara Toyyibatul Arofah Tistariawan, Adji Chandra Tri Adi Hermawan Tri Afiebbawa Exactanaya Tristianti, Nova Ulya Novita Sari Uman Kertanegara Vinsensia Hutagaol Viona Yashinta Viradhea Gita R. L. Wahyu Adi Yuliyanto Wakhidatus, Nella Wibisana, Alyawan Satrio Wildan Ryan Irfana Wisnu Wahyu Wijonarko Wiwik Levitasari Yanies Meiyanti Yesi Monika Manik Yoga Kencana Nugraha Yolanda Margaretha Mulder Yose Rinaldy N Yovi Adyuta Isdiantoro Yudo Prasetyo Yuliansyah Rachman Nur Rizky Zuraidha, Riza Nur