Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TERHADAP PERTUMBUHAN INDUSTRI BERBASIS GEOSPASIAL (Studi Kasus : Kabupaten Gresik) Kemas Abdul Fatah; Arief Laila Nugraha; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.235 KB)

Abstract

Abstrak Pesatnya pembangunan menyebabkan tingginya perubahan pola penggunaan lahan. Lahan yang dulunya merupakan lahan kosong atau lahan tidak terbangun, banyak mengalami perubahan fungsi menjadi lahan terbangun. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji dampak perkembangan industri terhadap perubahan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Analisis perubahan penggunaan lahan ini dilakukan dengan penggambaran peta lahan RTH menggunakan Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 sebagai perbandingannya, kemudian untuk mendapatkan analisis perubahan lahan digunakan metode SIG.Berdasarkan analisis Citra Quickbird tahun 2010 dan Citra Google Earth tahun 2013 didapatkan luas lahan RTH Kabupaten Gresik sebesar 23.036,039 Ha atau sekitar 23 % pada tahun 2010, sedangkan pada tahun 2013 luas lahan RTH sebesar 22.863,420 Ha atau sekitar 22 % yang artinya RTH di Kabupaten Gresik mengalami perubahan sebesar 172,619 Ha atau sekitar -1% dalam kurun waktu 2010 sampai dengan 2013. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, industri, SIG, Quickbird, Google Earth. Abstract Rapid construction leads to high changes in land use. The function of land once used as vacant or undeveloped land turns into developed land. This research is aimed to observe the impact of industrial development toward the change of green open space land. The analysis upon the green open space usage is done through green space cartography using Quickbird imagery in 2010 and Google Earth imagery in 2013 as the comparison, GIS is then utilized to gain the analysis of the land change-over.Based on Quickbird imagery analysis in 2010 and Google Earth imagery in 2013, it was resulted that the amount of green open space of Gresik Regency was 23,036.039 Hectares or about 23% in 2010. Meanwhile, in 2013 the green open space was at the amount of 22,863.420 Hectares or about 22% of the total city region which meant that the area of green open space in Gresik Regency changed 172.619 Hectares or about -1% from 2010 to 2013. Keyword: Green Open Space Land, industry, SIG, Quickbird, Google Earth.             *) Penulis PenanggungJawab
Tinjauan Peta Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Ahmad Yani Semarang Viradhea Gita R. L.; Sawitri Subiyanto; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.154 KB)

Abstract

Airport Ahmad Yani is airport those are on Semarang, Central Java. Geographically, it located in co-ordinate 6 o 58 ’ 35 ” S 110 o 22 ’ 38 ” E. Airport Ahmad Yani’s location close to urban center that has a lot of tall building. Need to mark sense observation on tall object which potentially evoke troubles on flight activity (obstacle)  those are on flight operations safety area especially airport vicinity area in order not to trouble the flight activity. The method that using in this final task research is method overlay identity  by using of ArcGIS's software 9.3. Method overlay are methodic of spasial analisys that functioning result new spasial's data from minimal two data that becomes its entry.  Overlay identity, part of method overlay  that is utilized to  save all information of all entry. After cartography utilizes ArcGIS's software 9.3  all through, then map is featured on Google Earth . The result of data processing are information about region which most turns in at Flight Operations Safety Area (KKOP) of  Airport Ahmad Yani and height zona at any given area division. Thus, can be known about obstacle’s spread according to region and height zona on KKOP Airport Ahmad Yani. This research utilitarian to make development urban planning, monitoring the obstacles, and update of previous map. Keyword: Airport Ahmad Yani, KKOP, elevation, obstacle.
ANALISIS FLUKTUASI PRODUKSI PADI AKIBAT PENGARUH KEKERINGAN DI KABUPATEN DEMAK Adhelina Rinta Iswari; Hani’ah Hani’ah; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.403 KB)

Abstract

ABSTRAKSetiap tahun, musim kemarau menyebabkan kekeringan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu lahan yang selalu mendapat ancaman serius adalah lahan persawahan. Kekeringan di area persawahan ini menyebabkan penurunan produksi padi di beberapa wilayah karena kurangnya pasokan air untuk mengairi area persawahan. Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten yang menjadi penyangga pangan nasional karena sebagian besar wilayahnya merupakan lahan persawahan. Namun, lahan persawahan di Kabupaten Demak ini juga tak luput dari ancaman bencana kekeringan. Setiap tahun di musim kemarau, persawahan Kabupaten Demak mengalami kekeringan karena sebagian besar sawahnya menggunakan pengairan tadah hujan dan hanya sebagian kecil berpengairan teknis. Dengan adanya ancaman kekeringan, mengakibatkan naik atau turunnya produksi padi di Kabupaten Demak setiap tahun.Analisis fluktuasi produksi padi pada penelitian ini dilakukan dengan cara pemetaan area persawahan musim panen kemudian digabungkan (overlay) dengan peta ancaman kekeringan. Pemetaan area persawahan diolah menggunakan data penginderaan jauh, dan pemetaan ancaman kekeringan merujuk pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard dengan SIG. Analisis fluktuasi produksi padi yang didapat kemudian dianalisis pengaruhnya terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Demak.Penelitian ini menghasilkan peta sawah terdampak kekeringan yang diklasifikasikan kedalam tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi, dimana sawah yang terdampak kekeringan kelas tinggi diasumsikan sebagai lahan sawah gagal panen. Pada musim panen 2 dan 3 tahun 2013 sebanyak 0,629% lahan sawah mengalami gagal panen, pada tahun 2014 sebanyak 8,121% dan 9,173% pada tahun 2015. Namun ancaman kekeringan yang ada tidak berimbas pada ketahanan pangan di Kabupaten Demak, hal ini dibuktikan dengan adanya surplus beras sebanyak 2.681.392,681 kuintal pada tahun 2014 dan sebanyak 3.124.096,305 kuintal pada tahun 2015. Kata Kunci : Area Persawahan, Fluktuasi Produksi Padi, Kabupaten Demak, Kekeringan, Ketahanan Pangan  ABSTRACTEvery years, dry season caused drought in several regions of Indonesia. Rice fields always get serious threat of it. Drought in rice fields causing reduction of paddy production due to lack of water supply to irrigate their rice fields. Demak Regency is one of national food support bacause it has amount of rice fields there. However, rice fields in Demak Regency also threat by drought. In dry season it experiencing drought because most of them depend on rain for irrigate their rice fields, so fluctuative paddy production caused by drought in Demak Regency every year.Analysis of fluctuative paddy production on this research is done by mapping the harvest season of rice fields then combined it with drought map. Paddy fields map processed using remote sensing data, and drought map refers to methodology geo hazard catalog based GIS. The fluctuative of paddy production and then analyzed toward food security in Demak Regency.This research results rice fields map affected by drought which classed into three level, low, medium and high. Rice fields that affected by high level of drought assumed as crop failure. On 2nd and 3rd harvest season of 2013, 0.629% harvest area was failed, on 2014 8.121% and 9.173% on 2015. However, drought in Demak Regency has no impact for their food security, they have rice surplus about 2,681,392.681 quintals on 2014 and 3,124,096.305 quintals on 2015.      Keywords : Rice Fields, Fluctuative paddy production, Demak Regency, Drought, Food Security  *)  Penulis, Penanggung Jawab
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI RINCI DESA MENGGUNAKAN DATA PEMOTRETAN UDARA UAV BERBASIS SIG Studi Kasus ( Desa Katonsari, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak) Yovi Adyuta Isdiantoro; Bambang Sudarsono; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.378 KB)

Abstract

ABSTRAKUU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengembangkan sistem informasi Desa untuk keperluan perencanaan pembangunan di wilayah perdesaan. Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi Desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah. Desa Katonsari merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Desa ini memiliki wilayah yang strategis karena berada di dekat Jalan Raya yang menghubungkan Kota Semarang dan Kota Surabaya. Akan tetapi desa ini belum memiliki Sistem Informasi Desa. Pembuatan Sistem Informasi desa diharapkan dapat memudahkan pemerintah desa dan juga masyarakat lebih mudah dalam mendapatkan informasi geospasial. Sistem Informasi Desa dibuat dengan cara pengolahan data foto udara menjadi orthophoto. Hasil orthophoto dilakukan rektifikasi dengan citra Quickbird maka didapatkan foto udara terkoreksi. Lalu dilakukan proses digitasi yang mengacu pada PERKA BIG Nomor 3 Tahun 2016 dan dijadikan geodatabase lalu dilakukan topologi. Kemudian hasilnya di upload ke ArcGIS online sebagai hosted feature layer dan membuat aplikasi peta berbasis web dari shapefile yang dijadikan layer. Peta online dibuat dengan web map builder pada ArcGIS online. Hasil peta online kemudian disematkan di website Desa Katonsari dengan situs https://desakatonsari.wixsite.com/mysite yang didalam nya berisi Peta Desa Katonsari berbasis WebGIS. Hasil dari penelitian ini adalah Sistem Informasi Desa yang diakses melalui website. Setelah dilakukan uji usability pada website tersebut didapatkan nilai rata-rata 83,79 yang masuk kategori “Baik”. Kata Kunci : Orthophoto, Peta Online, Sistem Informasi Desa, UAV ABSTRACTLaw No. 6 of 2014 concerning Villages explains that the government and regional governments are obliged to develop Village information systems for the purposes of development planning in rural areas. Villages are entitled to access information through the Village information system developed by the Regional Government. Katonsari Village is a village located in Demak District, Demak Regency. This village has a strategic area because it is near the highway that connects the city of Semarang and the city of Surabaya. However, this village does not yet have a Village Information System. The creation of a village Information System is expected to make it easier for the village government and also the community to obtain geospatial information more easily. Village Information System is made by processing aerial photographic data into orthophoto. The orthophoto results were rectified with Quickbird imagery and corrected aerial photographs were obtained. Then the digitization process is carried out that refers to PERKA BIG Number 3 of 2016 and made into a geodatabase then carried out topology. Then the results are uploaded to ArcGIS online as the hosted feature layer and create a web-based map application from the shapefile that is used as a layer. Online maps are created with the web map builder on ArcGIS online. The results of the online map are then embedded on the Katonsari Village website with the site https://desakatonsari.wixsite.com/mysite which contains WebGIS-based Katonsari Village Map. The results of this study are the Village Information System which is accessed through the website. After the usability test was carried out on the website, it was found that the average value was 83.79 which was categorized as "Good". Keywords Orthophoto, Online Map, UAV, Village Information Systems
ANALISIS ZONA KERAWANAN LONGSOR PADA JALUR KERETA API SEMARANG-PEKALONGAN (Studi Kasus: Stasiun Semarang Tawang – Stasiun Pekalongan) Fida Wulan Istiaji; Arief Laila Nugraha; Hani'ah hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSecara geografis jalur kereta api Semarang-Pekalongan terletak berbatasan dengan laut Jawa bagian utara, serta kondisi topografis wilayahnya yang terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan pesisir pantai. Hal tersebut menunjukkan adanya kemiringan dan tonjolan, dengan adanya perbedaan topografi tersebut mengakibatkan batuan pembentuk kulit bumi bagian atas menjadi lapuk, serta tanah yang lapuk dan banyak mengandung air menjadi labil dan mudah bergeser secara gravitasi. Daerah dengan topografi lebih tinggi berusaha mencari keseimbangan baru menuju daerah dengan topografi yang relatif lebih rendah, sehingga gerakan kulit bumi bagian atas dikenal sebagai gerakan tanah, oleh masyarakat disebut sebagai tanah longsor. Selain karena topografisnya, faktor kereta api dengan kecepatan tinggi sehingga menyebabkan permukaan tanah yang ada dibawahnya atau disekitarnya mengalami getaran terutama pada kawasan yang memiliki kecuraman dan curah hujang yang tingggi, hal tersebut dapat menyebabkan tanah longsor.Identifikasi zona kerawanan longsor pada penelitian ini melibatkan empat parameter yaitu peta geologi, peta curah hujan, peta kelerengan dan peta tutupan lahan. Semua parameter tersebut digabungkan dengan metode tumpang tindih (overlay) sehingga didapatkan peta zona kerawanan longsor yang kemudian di tampalkan dengan peta jalur kereta api Semarang-Pekalongan yang didalamnya sudah dibagi setiap segmen yaitu 1km. Pertampalan tersebut menghasilkan peta zona kerawanan longsor pada jalur kereta api Semarang-Pekalongan yang dikelaskan menjadi tiga kelas yaitu kerawanan longsor rendah, kerawanan longsor sedang dan kerawanan longsor tinggi. Metode yang digunakan dalam pengkelasan yaitu Natural Break (Jenk).Interval hasil klasifikasi tersebut yaitu kerawanan longsor rendah 0,5-1,2, kerawanan longsor sedang >1,2-1,9, dan kerawanan longsor tinggi >1,9-2,9. Zona kerawanan longsor pada jalur kereta api Semarang-Pekalongan memberikan hasil luasan kelas kerawanan rendah sebesar 168,867 Ha, kerawanan longsor sedang 644,906 Ha, dan kerawanan longsor tinggi 84,413 Ha. Kemudian, kelas kerawanan pada setiap segmen 1km yang mempunyai kelas kerawanan rendah sejumlah 20 segmen, kelas kerawanan sedang sejumlah 57 segmen dan kerawanan tinggi mempunyai 12 segmen. Presentase dari jumlah setiap segmen yaitu kerawanan rendah 22%, kerawanan sedang 64%  dan kerawanan tinggi 14%.Kata kunci : Jalur Rel Kereta Api, Natural Break (Jenk), Overlay, Tanah Longsor ABSTRACTGeographically Semarang-pekalongan railway is borderly located with the north java sea,  and its topographic territory which is an area composed of hills, lowlands and coasts. This shows the existence of slopes and bulges, with the topographic difference, this results rock that form the upper surface of the earth become weathered, and weathered land containing plenty of water become unstable and prone to shift gravitationally. Areas with higher topographic attempt to find a new balance towards areas with lower topographic, therefor the upper skin of the earth movement is known as land movement, and people know this as landslide. Apart from its topographic, the train factor with high speed causes the surface of land below or around it to experience vibrations especially areas that have stepness and high rainfall, this causes landslide to occur.Identifiying vulnerable landslide areas in this research involves four parameters based on catalog of drafting methodologies geo hazard book with GIS which is geological map, rainfall map,  slope map, and land cover map. All these parameters are combined with an overlay method so a map on landslide vulnerabality is obtained which is then patched with the Semarang-pekalongan railway map that is classsed into 3 class that are low landslide vulnerablity, mid landslide vulnarablity, and high landslide vulnerabality. The method used in classifiying is Natural Break (Jenk).The result of interval classification is low landslide vulnerablity 0.5-1.2, mid landslide vulnarablity >1,2-1,9, high landslide vulnerabality >1,9-2,9. Landslide vulnerbality zone on Semarang-pekalongan railway present area results of low vulnerablity class as big as 168,867 Ha, mid vulnerability 644,906 Ha, and high vulnerablity 84,413 Ha. Then, class of vulnerability every segment of 1km have low vulnerability 20 segment, class mid vulnerability have 57 segment and class of high vulnerability have 12 segment. Percent from every result of segment low vulnerability is 22%, mid vulnerability 64% and high vulnerability 14%. Key Words : Landslide, Overlay, Natural Break (Jenk), and  Railway.
KAJIAN PEMODELAN DASAR LAUT MENGGUNAKAN SIDE SCAN SONAR DAN SINGLEBEAM ECHOSOUNDER Wisnu Wahyu Wijonarko; Bandi Sasmito; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.062 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengetahuan mengenai topografi dasar laut bermula dari pemetaan-pemetaan yang sudah lama dilakukan pada jaman dahulu. Mengingat jangkauan dan kemampuan yang terbatas pada penerapan visual lingkungan bawah air, sonar telah menjadi solusi pilihan untuk pengamatan dasar laut sejak dimulai pada tahun 1950-an. Hasil pencitraan side scan sonar disajikan dalam bentuk 2 dimensi (2D). Namun pada perkembangannya banyak gambar 2D side scan sonar yang bisa diubah menjadi representasi 3D.Model 3D dasar laut dilakukan dari hasil citra side scan sonar dan data singlebeam echosounder sebagai data kedalaman. Lokasi penelitian yang diambil berada di wilayah utara perairan kota semarang. Data yang digunakan meliputi raw data side scan sonar, singlebeam echosounder, multibeam echosounder, pasut dan sound velocity profiler. Hasil perpaduan dari side scan sonar-singlebeam echosounder akan dibandingkan dengan data dari multibeam echosounder.Model 3D dasar laut yang dihasilkan oleh perpaduan SSS-SBES memiliki topografi yang relatif datar dengan kedalaman antara 9 meter sampai dengan 12 meter dan objek dapat teridentifikasi secara baik. Perbandingan koordinat objek antara SSS-SBES dengan MBES memiliki selisih jarak yaitu : SPM: 5,512 meter; P1: 3,178 meter; P2: 7,392 meter; P3: 8,362 meter; dan P4: 6,853 meter. perbedaan nilai kedalaman masing-masing sebesar P1: -0,9 meter; P2: -0,8 meter; P3: -1,3 meter; dan P4: -1,1 meter. Pada SSS-SBES nilai kedalamanya hanya didpatkan sepanjang lajur survei sehingga tidak mampu memberikan nilai kedalaman yang pasti diluar garis survei. perhitungan kedalaman menggunakan IHO-SP44, perhitungan menggunakan titik sample 94% titik sample memenuhi orde 1a dan pada perhitungan menggunakan sample lajur profil didapatkan sebesar 78,6% memenuhi orde 1a.Kata Kunci : 3D dasar laut,  Side scan sonar, Singlebeam echosounder  ABSTRACT Knowledge of the topography of the ocean floor begins with mappings that have been long established in antiquity. Given the range and capabilities are limited to a visual application of underwater environments, sonar has become the choice of solution for the observation of the ocean floor since it began in the 1950s. Side scan sonar imaging results are presented in the form of two-dimensional (2D). But the growth of many 2D side scan sonar images that can be converted into a 3D representation.3D model of the ocean floor carried out from the side scan sonar imagery and data singlebeam echosounder as depth data. The location of research is in the north of waters semarang city. Data used included is raw data is side scan sonar, echosounder singlebeam, multibeam echosounder, tide and sound velocity profiler. Results blend of side-scan sonar singlebeam echosounder will be compared with data from multibeam echosounder.3D model of the ocean floor produced by SBES-SSS fusion has a relatively flat topography with a depth of 9 meters to 12 meters and objects can be identified properly. Comparison of the object coordinates between SSS-SBES with MBES have separation distances are: SPM: 5.512 meters; P1: 3,178 meters; P2: 7,392 meters; P3: 8.362 meters; and P4: 6.853 meters. Differences in depth value respectively by P1: -0.9 meters; P2: -0.8 meters; P3: -1.3 meters; and P4: -1.1 meters. In SSS-SBES value of depth only lanes along the survey and is unable to give a definite depth value outside the survey line. Depth calculation using the IHO-SP44, calculations using sample points of 318 sample points earned as much as 299 points, or 94% of sample points fulfill the order 1a and on calculations using a sample of 14 lanes lanes profile obtained 11 columns profiles or by 78.6% fulfill the order 1a.Keywords : 3D Seabed Surface, Side scan sonar, Singlebeam echosounder *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS PERBANDINGAN MODEL GENANGAN TSUNAMI MENGGUNAKAN DATA DEM ASTER, SRTM DAN TERRASAR (Studi Kasus: Kabupaten Pangandaran) Anang Ikhwandito; Yudo Prasetyo; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.179 KB)

Abstract

ABSTRAKPesisir Kabupaten Pangandaran merupakan wilayah di Indonesia yang pernah mengalami bencana tsunami. Tsunami tersebut terjadi pada tanggal 17 juli 2006 dengan jumlah korban sekitar 700 orang. Secara umum pesisir Kabupaten Pangandaran memiliki karakteristik yang rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Kerentanan yang tinggi tersebut dikarenakan sebagian besar wilayah pesisir Pangandaran merupakan wilayah pariwisata, oleh karena itu diperlukan upaya mitigasi bencana untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan. Salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dapat dilakukan dengan pembuatan model genangan tsunami. Pemodelan genangan tsunami menggunakan formulasi yang dikembangkan Berryman (2006) dengan mempertimbangkan tiga parameter utama yaitu topografi, koefisien kekasaran permukaan dan ketinggian tsunami di garis pantai. Parameter topografi menggunakan DEM ASTER 30 meter, SRTM 30 meter dan TerraSAR 9 meter, sedangkan koefisien kekasaran diperoleh dari tutupan lahan yang dihasilkan dengan klasifikasi terbimbing dengan menggunakan Citra Landsat-8 tahun 2016. Penelitian ini menggunakan dua ketinggian tsunami yaitu 8 dan 15 meter sesuai dengan data historis tsunami Kabupaten Pangandaran. Berdasarkan pemodelan yang dibentuk, diperoleh luas terdampak yang dihasilkan model genangan dari DEM ASTER untuk tinggi tsunami 8 dan 15 meter yaitu 1600,98 dan 4279,23 hektar, model genangan dari DEM SRTM untuk tinggi tsunami 8 dan 15 meter yaitu 1703,02 dan 4027,33 hektar dan model genangan dari DEM TerraSAR yaitu 1348,59 dan 2025,35 hektar. Model genangan tsunami terbaik yaitu model yang dihasilkan berdasarkan DEM TerraSAR, dimana model tersebut baik secara visual maupun kemiripan dengan kejadian tsunami di Kabupaten Pangandaran. Tingkat visual pada pemodelan genangan tsunami dipengaruhi oleh resolusi spasial data yang digunakan. Sedangkan pada kemiripan tsunami terdapat pada model genangan tsunami dari DEM TerraSAR dengan tinggi tsunami 15 meter. Model tersebut memiliki selisih kedalaman tsunami terkecil pada titik validasi yakni 0,5 meter.Kata Kunci: DEM, Pangandaran, Tsunami ABSTRACTCoastal Pangandaran Regency is an area in Indonesia that had experienced a tsunami disaster. The tsunami occurred on 17 July 2006 with a casualty of about 700 people. In general, coastal Pangandaran Regency has characteristics that are vulnerable to runoff of  tsunami wave. The high vulnerability due to most of the coastal area of Pangandaran is a tourism area, therefore it takes disaster mitigation efforts to reduce the losses incurred. One of the tsunami disaster mitigation efforts can be done by making tsunami inundation model. Tsunami modeling using developed formulation by Berryman (2006) with considering three main parameters: topography, coefficient of surface roughness and tsunami height at coastline. Topographic parameters using ASTER DEM 30 meters, SRTM 30 meters and TerraSAR 9 meters, while coefficient of surface roughness obtained from land cover produced by supervised classification process using Landsat-8 Image 2016. This study used two tsunami heights of 8 and 15 meters according with historical data of tsunami of Pangandaran Regency. Based on the formed model, the result of impacted area produced by the inundation model from DEM ASTER for tsunami height 8 and 15 meter is 1600,98 and 4279,23 hectare, the inundation model from DEM SRTM for tsunami height 8 and 15 meter is 1703.02 and 4027.33 hectares and the inundation models of DEM TerraSAR are 1348.59 and 2025.35 hectares. The best tsunami inundation model is a model based on TerraSAR DEM, in which the model is both visually and resemblance to the tsunami event in Pangandaran Regency. The visual level on tsunami inundation modeling is influenced by the spatial resolution of the data used. Meanwhile, the tsunami similarity is in the tsunami inundation model from DEM TerraSAR with a tsunami height of 15 meters. Where the model has the smallest tsunami depth difference at the validation point of 0.5 meters.Keywords: DEM, Pangandaran, Tsunami
PEMBUATAN APLIKASI BUS TRANS SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS PADA SMARTHPHONE ANDROID LUTHFI RAHMANDHANI; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.753 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin macet. Oleh sebab itu pada tanggal 18 September 2009 diluncurkan Bus Rapid Transit (BRT) atau yang sering dikenal dengan Trans Semarang. Trans Semarang adalah sebuah sistem transportasi bus cepat, murah, dan ber AC di seputar Kota Semarang. Trans Semarang merupakan salah satu bagian dari program penerapan Bus Rapit Transit (BRT) yang dicanangkan Departemen Perhubungan untuk meminimalisir permasalahan tersebut.Penelitian ini dilakukan untuk membuat persebaran shelter Trans Semarang yang ditampilkan di aplikasi mobile berbasis android menggunakan software Android Studio yang terintegrasi dengan Google Maps API dan Database PostgressSQL untuk pembuatan data halte dan koridor. Fungsi yang dimanfaatkan pada aplikasi ini adalah fungsi Location Based Service sehingga pengguna aplikasi dapat dengan mudah menemukan shelter terdekat dari lokasi pengguna untuk menuju lokasi shelter tersebut.Hasil dari penelitian ini adalah aplikasi Trans Semarang yang dapat digunakan pada smartphone berbasis Android. Pada aplikasi ini berisi informasi mengenai persebaran shelter tiap koridor Trans Semarang, info shelter terdekat dari lokasi user dan informasi rute . Dengan aplikasi ini diharapkan dapat memudahkan pengguna untuk beralih menggunakan transportasi umum sehingga dapat mengurangi tingkat kemacetan di Kota Semarang.
ANALISIS PERUBAHAN LAJU EROSI PERIODE TAHUN 2013 DAN TAHUN 2018 BERBASIS DATA PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : DAS GARANG) Ahmad Shofiyul Huda; Arief Laila Nugraha; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.736 KB)

Abstract

ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang terletak di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Semarang serta sebagian kecil Kabupaten Kendal. DAS Garang terletak tidak jauh dari pusat kegiatan manusia yang berjarak 2,2km dari pusat kota Semarang, berjarak 1,5km dari Ungaran sebagai ibukota dan sekitar 10 km dari pusat Kawasan Industri Kendal. DAS Garang merupakan salah satu DAS yang mengalami kerusakan lingkungan. Dampak adanya kerusakan lingkungan ini salah satunya adalah terjadinya erosi yang dapat mengakibatkan bencana banjir dan longsor. Pengelolaan DAS merupakan cara untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan. Kajian pemetaan daerah rawan erosi di dalam DAS merupakan salah satu langkah dasar yang diperlukan untuk pengelolaan DAS yang baik. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui laju erosi pada periode tahun 2013 dan tahun 2018 di area DAS Garang dan mengetahui faktor penyebab laju erosi. Metode yang digunakan  adalah Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) dengan menggunakan data curah hujan, Digital Elevation Model (DEM), data jenis tanah, citra landsat 8, dan data administrasi.Hasil dari analisis diperoleh laju erosi pada tahun 2013 yaitu sebesar 200,343 ton/ha/tahun dan laju erosi pada tahun 2018 sebesar 277,647 ton/ha/tahun. Faktor perubahan tutupan lahan memiliki pengaruh yang besar dibandingkan faktor perubahan curah hujan. Kata Kunci : DAS Garang, Erosi, Tutupan Lahan, RUSLE.  ABSTRACT The majority of the Garang watershed is located in the city of Semarang and the regency of Semarang and a small portion of the regency of Kendal. It is a watershed that is located not far from the center of human activity, such as the center of Semarang, which is 2.2 km away, Ungaran as the regency is 1.5 km, and about 10 km from the Kendal industrial center. Garang watershed is one of the watersheds that have experienced environmental damage. One of the impacts of environmental damage is erosion which can lead to floods and landslides. To anticipate the decline in environmental quality, a good watershed management is needed The study of mapping erosion-prone areas in watersheds is one of the basic steps needed for good watershed management. Therefore, this study intends to determine the rate of erosion that occurs from 2013 and 2018 in the Garang watershed area and know the factors that cause the rate of erosion. The method used is Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) using rainfall data, Digital Elevation Model (DEM), soil type data, Landsat 8 imagery, and administrative data. The results of the analysis the erosion rate in 2013 amounted to 200.343 tons / ha / year and in 2018 amounted to 277.647 tons / ha / year. Land cover change factor has a greater influence compared to other factors supporting erosion.
PEMODELAN DAERAH RAWAN KECELAKAAN DENGAN MENGGUNAKAN CLUSTER ANALYSIS (Studi Kasus: Kabupaten Boyolali) Nanda Dewi Arumsari; Arief Laila Nugraha; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.415 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan global yang membutuhkan penanganan yang serius. Kecelakaan terjadi di berbagai tempat dengan waktu kejadian yang berbeda, hal ini menyebabkan sulitnya menentukan daerah mana yang memiliki tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas. Informasi mengenai daerah rawan kecelakaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan penegak hukum. Informasi tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pengawasan maupun tindakan antisipasi khususnya bagi kepolisian. Pada penelitian ini dibuat suatu Sistem Informasi Geografis untuk melakukan analisa terhadap daerah yang rawan terjadi kecelakaan di wilayah Kabupaten Boyolali.Pemodelan daerah rawan kecelakaan berbasis Sistem Informasi Geografis dilakukan dengan software GIS. Metode yang digunakan adalah cluster analysis dimana dilakukan pengelompokkan untuk menentukan kerawanan suatu daerah serta menggunakan metode tumpang susun (overlay) berdasarkan hasil pengelompokan cluster yang telah terbentuk.Hasil penelitian menyatakan tingkat kerawanan kecelakaan lalu lintas paling banyak terjadi  di ruas jalan Semarang – Solo yang melewati wilayah Kabupaten Boyolali. Selain itu tingkat kerawanan banyak terjadi di pusat – pusat kota Kecamatan di Kabupaten Boyolali. Wilayah kecamatan di bagian barat dan utara Kabupaten Boyolali relatif cukup aman akan kejadian kecelakaan lalu lintas. Dari hasil validasi yang telah dilakukan tingkat kesesuain pemodelan daerah rawan kecelakaan yang telah terbentuk sebesar 67,44%. Kata Kunci  : cluster analysis, kecelakaan lalu lintas, SIG  ABSTRACT Traffic accidents are one of the global problems that require serious treatment. Accidents happen in different places with different time of incidents, so that difficult to determine the areas that have vulnerability of traffic accidents. Information of the accident-prone areas are needed by the public and law enforcement. Such information can be considered for surveillance and precaution, especially for the police. In this study a Geographic Information System is created to analyze the accident-prone areas in the district of Boyolali.Modeling of accident-prone areas based on Geographic Information System is performed with GIS software. This study use cluster analysis method which the grouping is done to determine the vulnerability of an area and overlaying method based on the result of cluster grouping that has formed.The study states the level of vulnerability of traffic accidents mostly occurred in the streets of Semarang – Solo that pass through Boyolali Regency. In addition the level of vulnerability happen in the downtown district in Boyolali Regency. District in western and northern of Boyolali Regency are relatively safe from traffic accidents. From the result of the validation, the suitability level of accident prone areas modeling that have been formed is 67.44%. Keywords: cluster analysis, GIS, traffic accident *) Penulis, Penanggungjawab
Co-Authors Abdi Sukmono Abdi Sukmono, Abdi Adhelina Rinta Iswari Adi Nur Ikhsan Aditya Dharmawan Afriyanto Afriyanto Afriyanto Afriyanto Agung Setiawan Ahmad Daniyal Ahmad Shofiyul Huda Alfien Rahmenda Amalia Permata Dewi, Amalia Permata Anang Ikhwandito Andini Riski Oktaviani Andri Suprayogi Anisa Rachmawati, Anisa Annisaa Cahyaningsih Ar Rafi, Naufal Hisyam Arco Triady Ujung Arga Fondra Oksaping ARGNES DIONANDA RESZA PRADIPTA Arkham, Ivan Fandilla Aulia Arkham Arliandy Pratama Arwan Putra Wijaya Avianta Anggoro Santoso Awwaluddin, Moehammad Ayu Sulistyaningtyas, Sekar Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bondan Arum Kusumahati Briandana Januar Aji Gunadi Brinton Patuan Sitorus Cahya Wisuda Hukama Chairunisa Afnidya Nanda Dede Handoko DEDI SETYAWAN Dewi Shinta Septifany Dhuha Ginanjar Bayuaji Dian Triandini Nurcahyo Diqja Yudho Nugroho Dyah Widyaningrum Elceria Susanti Extiana, Kiky Fadhilla Shara Denafiar Fajri Ramadhan Fanni Kurniawan Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Febrian Pramana Putra Fida Wulan Istiaji Fina Faizana Frizani, Defanny Elsa Ghinaa Rahda Kurnila Habib Azka Ramadhani Hadi Winoto Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handoko Dwi Julian Hani'ah . Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hanifudin, Faiz HARDIAN ASTIANINGRUM Hartomo Haryo Kuncoro Hayuningsih, Dwi Mastuti Hilman Djalu Sadewo Hutagalung, Christovel Mangaratua Ibrohim Shiddiq Ika Rahayu Wulansari Imam Mudita Inessia Umi Putri INNEKE ASTRID PITALOKA Irfan Tri Anggoro Izzudin Al Qossam Jalu Tejo Nugroho, Jalu Tejo Johan Wisma Anggoro Kemas Abdul Fatah Kevin Dio Maldini Khofifatul Azizah Kindy Ibrahim Hari L M Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany Lingga Hascarya Prabandaru Lolita, Diaz Amel LUKMAN MAULANA ABDILLAH LUTHFI RAHMANDHANI Maharani, Raden Roro Kingkin Meiska Firstiara Maudi Mia Anggorowati Karomah Mochammad Imron Awalludin Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Faiz Ilhami Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Bagus Salim Muhammad Hanif Abdurrahman Muhammad Sandhi Lazuardi Mustaqim, Alfiyan Nanda Dewi Arumsari Naryoko Naryoko Nastiti Asrining Hartri Naufal Humam Manshur Nella Wakhidatus Nella Wakhidatus Sholekhah Nisrina Niwar Hisanah NOVAYA NURUL BASYIROH Nugrahanto, Prasetyo Odi Nur Fajar Nafiah Nurhadi Bashit Nurmalasari, Cici Nurrahmawati Nurrahmawati Nyoman Winda Novitasari Olivia Sinaga Pardjono, P. Pradipta, Carlo Purba, Agantry Putri Auliya Qoaruddin Qomaruddin Rachmawati, Ekha Raditya Wahyu Utomo Rahmat Randy Valdika Ramadhan Susilo Utomo Resi Diansismita Resti Winda Ratriana Rida Hilyati Sauda Ridwan Ageng Ashari Rifqi Najib Muzaka Rintyas Chandra Irawan Rizqi Umi Rahmawati Rizqie Anarullah, Rizqie Rochim, Vianka - Rofi'i, Nur Izha Jannah Rosika Dyah Pratiwi Rr. Yossia Herlin A. Sabda Lestari Sabri, L.M Sabri, L.M. Safira Devi Kirana Sandy Yudistira Mahardika, Sandy Yudistira sari, Cici Nurmalasa Sartika Sartika Sawitri Subiyanto Sendy Brammadi Septiningdiah, Dara Jati Setiaji, Krisna Shindy Mariska Zulkarnain Siti Haeriah Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syarifah Mayda Az Zahrotun Nisa Taufik Eka Ramadhan, Taufik Eka Tiara Toyyibatul Arofah Tistariawan, Adji Chandra Tri Adi Hermawan Tri Afiebbawa Exactanaya Tristianti, Nova Ulya Novita Sari Uman Kertanegara Vinsensia Hutagaol Viona Yashinta Viradhea Gita R. L. Wahyu Adi Yuliyanto Wakhidatus, Nella Wibisana, Alyawan Satrio Wildan Ryan Irfana Wisnu Wahyu Wijonarko Wiwik Levitasari Yanies Meiyanti Yesi Monika Manik Yoga Kencana Nugraha Yolanda Margaretha Mulder Yose Rinaldy N Yovi Adyuta Isdiantoro Yudo Prasetyo Yuliansyah Rachman Nur Rizky Zuraidha, Riza Nur