Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Dentin

EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN BINJAI (Mangifera caesia) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis (Studi in vitro dengan Metode Dilusi) Nisa Fachrizha Munier; Fransiska Uli Arta Panjaitan; Juliyatin Putri Utami
Dentin Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Porphyromonas gingivalis is one of bacteria colonizes in subgingivai. This causes of periodontitis. Porphyromonas gingivalis have secretes some compounds can damage periodontal tissue. Chlorhexidine gluconate 0.2% is used as periodontitis treatment, but using long-term can cause side effects. Natural-based medicinal utilizing is considered safe because it has fewer side effects than modern medicine. One of potential plant is Binjai (Mangifera caesia) which has active compounds such as flavonoid, saponin and tannin. These have optimal functions as antibacterial. Purpose: To determined and compared the antibacterial effectiveness of Binjai leaf extract on the growth of Porphyromonas gingivalis bacteria with concentrations of 50%, 80% and 95%. Method: True experimental design of post test only with control group design used 5 treatments: three groups of Binjai leaf extract and two groups of control: positive control and negative control which were repeated 5 times. Measurement of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) was calculated using an Uv-Vis Spectrophotometer and measurement of the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) was calculated using a colony counter. Result: MIC was obtained at a concentration of 50% and MBC was obtained at a concentration of 80%. Conclusion: The Binjai leaf extract has antibacterial effectiveness against the growth of Porphyromonas gingivalis. Keywords: Antibacterial, Binjai Leaf Extract, MBC, MIC, Porphyromonas gingivalis  ABSTRAKLatar Belakang: Kolonisasi bakteri pada subgingiva yang menyebabkan periodontitis salah satunya adalah Porphyromonas gingivalis. Porphyromonas gingivalis mengeluarkan beberapa senyawa yang dapat merusak jaringan periodontal. Chlorhexidine gluconate 0,2% sering digunakan dalam terapi periodontitis, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping. Penggunaan obat berbahan dasar alami dinilai aman karena memiliki efek samping lebih sedikit daripada obat modern, salah satu tanaman berpotensi adalah Mangifera caesia yang memiliki senyawa aktif seperti flavonoid, saponin dan tanin yang memiliki fungsi optimal sebagai antibakteri. Tujuan: Mengetahui dan membandingkan efektivitas antibakteri ekstrak daun binjai (Mangifera caesia) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis konsentrasi 50%, 80% dan 95%. Metode: True experimental design dengan post test only with control group design menggunakan 5 kelompok perlakuan yaitu 3 kelompok ekstrak daun binjai serta dua kelompok kontrol yaitu kelompok positif dan negatif dengan 5 kali pengulangan. Pengukuran Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dilakukan menggunakan alat Spektrofotometer Uv-Vis dan pengukuran Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dilakukan menggunakan colony counter. Hasil: KHM didapatkan pada konsentrasi 50% dan KBM didapatkan pada konsentrasi 80%. Kesimpulan: Ekstrak daun binjai (Mangifera caesia) memiliki efektivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Porphyromonas gingivalis. Kata Kunci: Antibakteri, Ekstrak Daun Binjai, KBM, KHM, Porphyromonas gingivalis
HUBUNGAN ANTARA LAMA MEROKOK DAN JUMLAH ROKOK YANG DIKONSUMSI PER HARI TERHADAP TIMBULNYA SMOKER’S MELANOSIS (Literature Review) Anisa Novia Farrasti; Beta Widya Oktiani; Juliyatin Putri Utami
Dentin Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i1.6227

Abstract

ABSTRACTBackground: The World Health Organizations (2018) set Indonesia as the third largest cigarette consumer in the world. Smoking habits can cause pathological conditions in periodontal tissue, one of which is smoker's melanosis. Smoker's melanosis is an anomalous pigmentation that can be seen with the naked eye characterized by scattered, uneven, and blackish brown patches in the oral cavity tissue. The incidence of smoker's melanosis is thought to be influenced by the duration and number of cigarettes consumed per day. Objective:  Study was conducted to analyze the relationship between length of smoking and the number of cigarettes consumed each day with the onset of smoker's melanosis. Method: The method that will be used in this study is a literature review with a narrative review procedure. The literature search was carried out using sources from PubMed, Science Direct and Google scholar. The literature that has been obtained is then filtered according to the inclusion criteria, collected, entered in the results table for analysis, and then interpreted. Results: The results showed that from a total of 25 reviewed journals, it was stated that the number of cigarettes consumed per day and the length of smoking. The more and longer the person smokes, the more likely it is that smoker's melanosis will occur. Conclusion: There is a relationship between the length of smoking and the number of cigarettes consumed per day on the incidence of smoker's melanosis. Keywords:  Duration of smoking, Gingival hyperpigmentation, Smoking habits, Smoker's melanosis. ABSTRAKLatar Belakang: World Health Organizations (2018) menetapkan Indonesia sebagai pengonsumsi rokok terbesar ketiga di dunia. Kebiasaan merokok dapat menyebabkan timbulnya kondisi patologis pada jaringan periodontal, salah satunya smoker’s melanosis. Smoker’s melanosis merupakan pigmentasi anomali yang dapat dilihat dengan mata telanjang ditandai dengan bercak yang menyebar, tidak merata, dan berwarna coklat kehitaman di jaringan rongga mulut. Timbulnya smoker’s melanosis diduga dipengaruhi oleh faktor durasi dan jumlah rokok yang dikonsumsi perharinya. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara lama merokok dan jumlah merokok yang dikonsumsi setiap hari dengan timbulnya smoker’s melanosis. Metode: Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah literature review dengan prosedur narrative review. Pencarian literature dilakukan menggunakan bersumber dari PubMed, Science Direct dan  Google scholar. Literature yang telah didapatkan kemudian disaring sesuai kriteria inklusi, dikumpulkan, dimasukkan dalam tabel hasil untuk dianalisis, dan kemudian diinterpretasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari total 25 jurnal yang telah di-review, menyatakan bahwa jumlah rokok yang dikonsumsi per hari dan lama merokok. Semakin banyak dan lama orang tersebut merokok maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya smoker’s melanosis. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara lama merokok dan jumlah rokok yang di konsumsi perhari terhadap timbulnya smoker’s melanosis. Kata kunci: Hiperpigmentasi gingiva, Kebiasaan merokok, Lama merokok, Smoker’s melanosis.
HUBUNGAN PENGGUNAAN AIR MENGANDUNG MANGAN TERHADAP INDEKS DMF-T MASYARAKAT DI KECAMATAN DAHA SELATAN Muhammad Adeya Herdira Putra; Sherli Diana; Juliyatin Putri Utami
Dentin Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i2.6396

Abstract

ABSTRACTBackground: Teeth and mouth problem ranks first in the top 10 disease that most Indonesian people complain. One of the factors that affect the caries index is the water used for daily. Water that contains metals can affect the caries index. There are several types of metals that can affect the DMF-T index, including manganese. Manganese can function as a caries causing agent. Objective: This study aims to measure the DMF-T index of people in Daha Selatan who use water containing manganese to brush their teeth. Methods: This research is an observational analytic design with a cross sectional approach. The subjects of this research are the 20-39 years people of South Daha. Measurement of water containing manganese was carried out in the laboratory and then assessed the DMF-T index to see the relationship between the use of water containing manganese and the incidence of dental caries. Results: The results showed that male respondents had a DMF-T index of 5.02 and a DMF-T index of people aged 30-39 of 5.53. The chi square correlation test showed that there was no relationship between the use of water containing manganese on the DMF-T index in Daha Selatan District. Conclusion: The majority of people aged 20-39 years in Daha Selatan District have a moderate DMF-T index and there is no significant relationship between the use of water containing manganese and the DMF-T index of the community in South Daha District.  Keywords: Caries, DMF-T Index, Manganese, WaterABSTRAK Latar Belakang: Penyakit gigi dan mulut manusia menduduki urutan pertama dari daftar 10 besar penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhi indeks karies yaitu air yang digunakan untuk sehari-hari. Air yang memiliki kandungan logam dapat memengaruhi indeks karies. Salah satu jenis logam yang dapat memengaruhi indeks DMF-T yaitu mangan. Mangan dapat berfungsi sebagai agen penyebab karies. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur indeks DMF-T masyarakat di Kecamatan Daha Selatan yang menggunakan air mengandung mangan untuk menggosok gigi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian merupakan masyarakat di Kecamatan Daha Selatan yang berusia 20-39 tahun. Pengukuran sampel air mengandung mangan dilakukan di laboratorium selanjutnya melakukan penilaian indeks DMF-T untuk melihat hubungan antara penggunaan air mengandung mangan dengan kejadian karies gigi. Hasil:  Hasil penelitian menunjukkan responden berjenis kelamin laki laki memiliki indeks DMF-T sebesar 5,02 dan indeks DMF-T masyarakat berusia 30-39 sebesar 5,53. Uji korelasi chi square menunjukkan tidak terdapat hubungan penggunaan air mengandung mangan terhadap indeks DMF-T di Kecamatan Daha Selatan. Kesimpulan: Mayoritas masyarakat yang berusia 20-39 tahun di Kecamatan Daha Selatan memiliki indeks DMF-T kategori sedang serta tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan air mengandung mangan terhadap indeks DMF-T masyarakat di Kecamatan Daha Selatan Kata Kunci: Air, Indeks DMF-T, Karies, Mangan
KORELASI TINGKAT MATURITAS TULANG TANGAN DENGAN USIA KRONOLOGIS PADA SUKU BANJAR Ainna Dewi Iriani; Diana Wibowo; Juliyatin Putri Utami
Dentin Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v6i3.6817

Abstract

ABSTRACTBackground: Treatment carried out at the peak of a growth stage is one of the keys to success of orthodontic treatment. The determination of growth and development using chronological age is considered less accurate. Biological age is considered more accurate in evaluating a person's maturity status, so bone age evaluation is an option. Hand radiographs are commonly used to assess skeletal maturity because they show different levels of ossification at each age level. Objective: to determine the correlation between the level of hand bone maturity and chronological age in Banjar people aged 10–14 years. Methods: Correlation analytic research with cross-sectional design. The population of this study is the Banjarese, with affordable populations in SDN Sungai Bilu 1 and SMPN 6, Banjarmasin. The samples for this study were male and female Banjares aged 10–14 years who met the inclusion criteria. The minimum sample size is 30 samples. Results: Spearman's test showed a significance value of p = 0.033 (p<0.05) and the strength of the correlation r = 0.391. Conclusion: There is a correlation between the level of hand bone maturity and chronological age in Banjar people aged 10–14 years. The Banjar tribe aged 10–14 years are mostly found in the fifth hand bone maturity stage. The correlation strength value (r) is 0.391, which means that the correlation between the level of hand bone maturity and chronological age is included in a moderate correlation. Keywords : Banjarese population, Bone age, Chronological age, Hand-wrist maturation index ABSTRAK Latar Belakang: Perawatan yang dilakukan ditahap puncak pertumbuhan adalah salah satu kunci keberhasilan perawatan ortodontik. Penentuan pertumbuhan dan perkembangan menggunakan usia kronologis dinilai kurang akurat karena pertumbuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya ras.Usia biologis dinilai lebih akurat dalam mengevaluasi status kematangan seseorang dibanding usia kronologis, sehingga evaluasi bone age menjadi pilihan.Radiografi tangan umum digunakan untuk menilai maturitas skeletal karena memerlihatkan perbedaan tingkat osifikasi pada setiap tingkatan umur. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi tingkat maturitas tulang tangan dengan usia kronologis pada suku Banjar usia 10-14 tahun. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah suku Banjar dengan populasi terjangkau pada siswa di SDN Sungai Bilu 1 dan SMPN 6 Banjarmasin. Sampel penelitian ini adalah laki-laki dan perempuan suku Banjar berusia 10-14 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Besar sampel minimal dihitung menggunakan rumus analitik korelatif dan didapatkan hasil sebanyak 30 sampel.  Hasil: Uji Spearman korelasi tingkat maturitas tulang tangan dengan usia kronologis pada suku Banjar usia 10-14 tahun menunjukkan nilai signifikansi p = 0,033 (p<0,05) dan kekuatan korelasi r = 0,391. Kesimpulan: Terdapat korelasi antara tingkat maturitas tulang tangan dengan usia kronologis pada suku Banjar usia 10-14 tahun. Suku Banjar usia 10-14 tahun paling banyak terdapat pada tahap maturitas tulang tangan ke-lima. Nilai kekuatan korelasi (r) sebesar 0,391 yang artinya korelasi antara tingkat maturitas tulang tangan dengan usia kronologis termasuk dalam korelasi moderat. Kata kunci :Indeks maturasi pergelangan tangan, Suku Banjar, Usia kronologis, Usia tulang
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KALANGKALA (Litsea angulata) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis (In vitro) Nor Rahman Sugiarto; Yusrinie Wasiaturrahmah; Tri Nurrahman; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Juliyatin Putri Utami; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17742

Abstract

ABSTRACTBackground: Dental and oral health has not been a major focus due to the low level of public awareness regarding the importance of maintaining dental and oral health in Indonesia. Periodontitis is a disease with a prevalence of 74.1% in Indonesia. The main cause of chronic periodontitis is the bacterium  Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin  0.2% is gold standard that preventing periodontitis. However Chlorhexidin  0.2% has long-term side effects such as tooth discolouration. Therefore, an alternative mouthwash that has antibacterial properties is needed. Kalangkala leaf (Litsea angulata) is known to have the potential to inhibit the growth of  Porphyromonas gingivalis bacteria. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against  Porphyromonas gingivalis bacteria with concentrations of 6.25%, 12.5%, 25%, and 50% based on the minimum inhibitory Concentration (MIC) and minimum bactericidal Concentration(MBC). Methods: True experimental research with posttest-only with control group design. The sample consisted of 6 groups with Chlorhexidin 0.2% as positive control and distilled water as negative control with 4 samples each. Data were analysed using normality, homogeneity, Krusskall wallis, and Mann-whitney tests. Results: From the test results, there was no minimum inhibition 6.25%, 12.5%, 25%, and 50%. The testing was not pursued for MBC. Conclusion: There is no antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against Porphyromonas gingivalis.Keywords: antibacteria, leaf extract, litsea angulata,  porphyromonas gingivalis ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut belum menjadi fokus utama karena tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terkait pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia Periodontitis merupakan penyakit dengan prevalensi 74,1% di Indonesia. Penyebab utama periodontitis kronis yaitu bakteri Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin 0,2% merupakan gold standard dalam mencegah terjadinya periodontitis, tetapi Chlorhexidin  0,2% memiliki efek samping jangka panjang seperti perubahan warna pada gigi. Untuk mencegah terjadinya efek jangka panjang tersebut perlu obat kumur alternatif yang memiliki sifat antibakteri. Daun kalangkala (Litsea angulata) diketahui memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% berdasarkan Kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) Metode: Penelitian eksperimen murni (True Experimental) dengan rancangan percobaan menggunakan posttest-only with control group design. Sampel terdiri dari 6 kelompok dengan Chlorhexidin 0,2% sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif dengan pengulangan masing-masing sebanyak 4 sampel. Data dianalisis dengan uji normalitas, homogenitas, Krusskall wallis, dan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil uji tidak terdapat KHM pada semua konsentrasi ekstrak kalangkala yaitu konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%, sehingga tidak dilanjutkan untuk pengujian KBM. Kesimpulan: Tidak terdapat efektifitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis.Kata Kunci: antibakteri, ekstrak daun, litsea angulata porphyromonas gingivalis
Co-Authors Adhiya, Geyanina Melda Agung Satria Wardhana Ainna Dewi Iriani Amalia, Aysca Fakhira Amy Nindia Carabelly Anisa Novia Farrasti Annisa Noviany Aprilyani, Nur Arifin, Rahmad Aspriyanto, Didit At-Thoyyar, Aila Azminida, Dhiya Salma Baitullah, Muhammad Akbar Bambang Setiawan Bayu Indra Sukmana Beta Widya Oktiani Budiarman, Andi Azizah Maulidia Dewi Indah Noviana Pratiwi, Dewi Indah Noviana Dewi Nurdiana Dewi Purboningsih Dewi Puspitasari Dewi Puspitasari Diana Lyrawati Diana Wibowo Erida Wydiamala Erika Norfitriyah Eriwati, Yosi Kusuma Erni Marlina Febriansyah, Muhammad Firda Damayanti Firdaus, I Wayan Arya Krishnawan Fransiska Uli Arta Panjaitan Gita Puspa Ningrum Hadi Waskito Haluanry Doane Santoso Hatta, Isnur I Wayan Arya Krishnawan Firdaus Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar Idhafi, Nasrul Ika Kusuma Wardani Jatmiko, Habibi Naufal Kelana, Adhytya Suryo Kurnianingsih, Nia Lena Rosida Maghfirah, Yolanda Sajjida Maharani Laillyza Apriasari Maharani Laillyza Apriasari Maharani Lailyza Apriasari Mahmud Muhlisin Maria Tanumihardja, Maria Maulida, Novi Dwi Melisa Budipramana, Melisa Milka Widya Sari Mira Hadistiana Monita Valentine Silalahi Muhammad Adeya Herdira Putra Muhammad Akbar Baitullah Muhammad Hasanu Reksi Muhammad Reza Faisal, Muhammad Reza Muhammad Rizal Bima Saputra Nahzi, Yanuar Ichrom Namira Fathya Salsabila Nanda Putri Arini Nia Kurnianingsih Nisa Fachrizha Munier Nor Rahman Sugiarto Norfitriyah, Erika Novi Dwi Maulida Novia Damayanti Nur Tsaniya, Gusti Erysa Nurdiana Nurdiana Nurrahman, Tri Oktiani, Beta Widya Panghiyangani, Roselina Pramitha, Selviana Rizky Priyawan Rachmadi Rahmad Arifin Raihatun Nida Ramadhaniyah, Nur Roselina Panghiyangani Safa Muzdalifah Sandra Bhakti Mafriana Sari, Galuh Dwinta Sari, Milka Widya Sarifah, Norlaila Sherli Diana Tri Putri, Deby Kania Wydiamala, Erida Yunike Christanti Yusrinie Wasiaturrahmah