Claim Missing Document
Check
Articles

STATUS FISIOLOGIS SAPI SUMBA ONGOLE (Bos indicus) DI KAWASAN PEMBIBITAN SAPI PULAU SUMBA Gaina, Cynthia Dewi; Sanam, Maxs U. E.; Foeh, Nancy D. F. K.; Tophianong, Tarsisius Considus; Nalley, Wilmientje Marlene-Mesang; Benu, Imanuel
JURNAL KAJIAN VETERINER Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Kajian Veteriner
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v9i2.3903

Abstract

Physiological status is an indicator to determine the degree of health and productivity of livestock. This study aims to identify the physiological status of Sumba Ongole (SO) beef cattle on the island of Sumba by measuring body temperature, respiration frequency, pulse, and body conditioning score (BCS). Overall, there were 70 cows used in the study. Based on gender, there were 21 bulls and 49 cows and they were classified based on age, there were 3 categories, 1-1.5 years, 2-2.5 years, and 3 years. The parameters measured were body temperature, respiratory rate, pulse frequency, and BCS. The results of the study which were processed using analysis of variances (ANOVA) showed that there was no effect of sex or age on body temperature, respiration frequency, pulse frequency (P> 0.05), but there was a significant difference in the age category with the body score of SO cattle (P<0.05). It could be concluded that the physiological status of SO beef cattle which includes body temperature, respiration frequency, and pulse frequency does not show a significant effect on both sex and age, but there is a significant difference in the body score of cattle based on age categories. This research data could probably be used later as a reference for maintaining the health management of SO beef cattle to achieve optimal productivity and profitability.
Pengaruh Pemberian Tepung Limbah Kubis Terfermentasi Terhadap Konsumsi Ransum, Konsumsi Protein, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Ransum Ternak Babi Fase Starter Manibak, Maskrim Letlang; Nalley, Wilmientje Marlene; Dodu, Tagu
Animal Agricultura Vol 2 No 2 (2024): Animal Agricultura
Publisher : Yayasan Sumber Daya Manusia Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59891/animacultura.v2i2.89

Abstract

The aim of this research is to increase the source of animal protein from pork, requiring continuous availability of animal feed, providing opportunities for utilizing market vegetable waste. There is a large amount of this waste every day and much of it has not been utilized and even tends to cause environmental pollution. This research used an experimental method, with a randomized block design consisting of 4 treatments with 3 replications so that there were 12 experimental units. Treatment consisted of R0: Basal ration without the use of fermented cabbage waste flour (FCWF) R1: 95% RB + 5% FCWF, R2: 90% RB + 10% FCWC, R3: 85% RB + 15% FCWF. The parameters measured were ration and crude protein consumption, body weight gain and ration conversion. The results of the analysis showed that the treatment had no significant effect (P>0.05) on ration consumption, protein consumption, body weight gain and ration conversion. Based on the results of this research, it was concluded that the level of adding cabbage flour with a percentage of 5%, 10%, 15% gave a relatively similar response.
Effect of Fructose Levels in Diluents Citric Acid Egg Yolk on The Quality of Liquid Boar Semen Landrace Mallo, Agustinus; Nalley, Wilmientje Marlene; Bette, Yustiani Yuliana
JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : DEPARTMENT OF ANIMAL HUSBANDRY, FACULTY OF AGRICULTURE, UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the research was to test the addition of fructose (F) in egg yolk citrate diluent (C-EY) on the quality of liquid semen from Landrace pigs during storage. This research used a completely randomized design method consisting of five treatments and five replications. The treatments in question are P0 (0%F), P1 (0.5%F), P2 (1.0%F), P3 (1.5%F) and P4 (2.0%F). The diluted cement is stored at a temperature of 18-20oC. Evaluation of the motility, viability, abnormalities and survival of spermatozoa is carried out every twelve hours. Analysis of variance (ANOVA) of data using SPSS. 25 for windows. The results showed P3 at 12 hours (80.00 ± 0.00%), 24 hours (74.00 ± 2.24%), 36 hours (62.00 ± 2.74%), 48 hours (41.00 ±2.24%) and spermatozoa were able to survive 48 hours of storage. P3 gave the best results (P<0.05) compared to other treatments with motility values of 41.00 ± 2.24%, viability 45.20 ± 1.64%, abnormalities 8.20 ± 1.10% and survival 51.20±3.05 hours. It was concluded that the addition of 1.5% fructose level in the egg yolk citrate diluent could maintain the quality of liquid semen longer than other treatments.
SUPLEMENTASI SARI DAGING BUAH LONTAR (Borassus Flabelifer Linn) DALAM PENGENCER BELTSVILLE THAWING SOLUTION TERHADAP KUALITAS SEMEN CAIR BABI LANDRACE: Supplementation of Palm - Fruit (Borasus Flabilifer Linn) Juice in Belthsvile Thawing Solution Dilution on the Semen Quality of Landrace Boars Lote, Nyongki; Wilmintje Marlene Nalley; Alvrado Bire Lawa; Aloysius Marawali
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 3 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i3.1631

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dosis terbaik dari suplementasi sari daging buah lontar (SDBL) dalam pengencer Beltsville thawing solution (BTS)  guna mengawetkan semen cair babi jenis l andrace yang disimpan pada suhu 18-20ºC. Penelitian ini memanfaatkan semen segar dari babi jenis Landrace yang telah mencapai kedewasaan seksual dan dalam keadaan sehat, yang diambil menggunakan teknik manual (glove hand method). Penelitian ini dirancang menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan dan lima kali ulangan. Semen  diencerkan dengan pengencer sesuai dengan perlakuan masing-masing yaitu:  P0 : BTS 100%+SBL 0%, P1 :BTS 95%+SBL 5%,  P2 : BTS 90%+SBL 10%, P3 : BTS 85%+SBL 15 %,  P4 : BTS 80%+ SBL  20%. Larutan semen yang sudah diencerkan, disimpan dalam styrofoam pada suhu 18-20ºC. Semen dievaluasi setelah pengenceran dan setiap 8 jam penyimpanan hingga motilitas minimal 40%. Variabel yang diuji ialah motilitas, viabilitas, abnormalitas dan daya tahan hidup separmatozoa. Keseluruhan data yang diperoleh ditabulasi menggunakan analisis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan  bahwa perlakuan P2 berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya dengan nilai motilitas spermatozoa: 45,00±3,53%, viabilitas spermzatozoa: 63,16±7,76%, abnormalitas spermatozoa: 6,24±0,70% dan daya tahan hidup: 44,34±2,92 jam. Kesimpulan dari penelitian ini ialah  suplementasi 10% sari daging buah lontar dalam 90% pengencer BTS merupakan  suplementasi terbaik dalam mengawetkan semen cair babi Landrace yang disimpan pada suhu 18-20ºC.   Kata Kunci: Beltsville thawing solution, sari daging buah lontar, semen cair babi Landrace
PENGGUNAAN LEVEL GLISEROL DALAM PENGENCER SITRAT-KUNING TELUR GUNA MEMPERTAHANKAN KUALITAS SPERMATOZOA BABI LANDRACE PADA SUHU PENYIMPANAN 18-20OC: The Use of Glycerol Levels in Citrate-Egg Yolk Diluent to Maintain the Quality of Landrace Boar Spermatozoa at Storage Temperatures 18-20oC Nuba, Maria Deran; Wilmintje Marlene Nalley; Ni Made Paramita Setyani; Thomas Mata Hine
Wahana Peternakan Vol. 8 No. 3 (2024): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v8i3.1811

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menguji penggunaan level gliserol (GLY) dalam pengencer sitrat-kuning telur (S-KT) guna mempertahankan kualitas spermatozoa babi Landrace pada suhu penyimpanan 18-20oC. Materi dalam penelitian ini yaitu semen segar dari satu ekor babi jenis Landrace berusia 2,5 tahun, kesehatan optimal, babi pejantan telah terbiasa dan dilatih untuk proses koleksi semen secara teratur. Penelitian ini disusun dengan metode rancangan acak lengkap yang mencakup lima perlakuan berupa Sitrat-Kuning telur dan gliserol dan lima pengulangan yakni: P0 = S-KT, P1: S-KT + GLY 1%, P2: S-KT + GLY 2%, P3: S-KT + GLY 3%, P4: S-KT + GLY 4%. Variabel yang diuji diantaranya: motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan daya tahan hidup (DTH) spermatozoa. Setelah diencerkan, semen disimpan dalam styrofom box pada temperature 18-20oC. Data dianalisis menggunakan one way ANOVA bila terdapat perbedaan yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil dari penelitian mengindikasikan bahwa perlakuan P2 pada jam pengamatan ke-36 menghasilkan kualitas spermatozoa dengan nilai yang lebih tinggi secara statistik (P<0,05) apabila dibandingkan keempat perlakuan lain dengan motilitas: 45,00±2,24%, viabilitas: 52,70±3,87%, abnormalitas: 4,20±0,89%, dan DTH spermatozoa: 41,45±8,05 jam. Simpulan dari penelitian ini adalah penggunaan gliserol pada tingkat konsentrasi 2% dalam larutan pengencer sitrat-kuning telur memberikan respon yang baik untuk menjaga kualitas spermatozoa babi Landrace hingga 41,45 jam penyimpanan. Kata kunci: Gliserol, Kuning telur, Sitrat, Spermatozoa babi Landrace
Kualitas Semen Cair Babi Duroc dalam Pengencer Durasperm yang Disuplementasi Air Buah Lontar dan Sari Tebu Banamtuan, A. N.; Nalley, W. M.; Hine, T. M.
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol 16 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jspi.id.16.1.41-48

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi air buah lontar (AbL) dan sari tebu (ST) dalam pengencer  durasperm terhadap kualitas semen cair babi duroc. Semen berasal dari tiga ekor babi jantan Duroc berumur dewasa yaitu  2-3 tahun dan dikoleksi dengan menggunakan glove hand method dua kali seminggu. Semen dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis, semen yang berkualitas baik dibagi menjadi tiga bagian dan dikenakan perlakuan: durasperm (PO), durasperm + AbL (P1), durasperm + ST (P2), selanjutnya disimpan dalam kotak Styrofoam bersuhu 18o - 20 oC. Pengamatan dilakukan setiap delapan jam sekali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis of Variance (ANOVA) dengan menggunakan program SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase motilitas pada jam ke 64 menunjukan P1 40% lebih tinggi (P<0,05) daripada P2 (35.00±1.82) dan P0 (27.50±2.88). P1 memiliki persentase viabilitas spermatozoa 50.94±0.79 lebih tinggi (P<0,05) daripada P2 (45.50±1.94) dan P0 (37.75±3.48). P1 memiliki MPU 52.92±0.61 lebih tinggi dengan P2 (47.38±1.47) dan P0 (40.49±3.47). Abnormalitas dan pH tidak ada perbedaan nyata (P?0,05). Disimpulkan bahwa pengencer suplementasi air buah lontar (P1) efektif untuk mempertahankan motilitas, viabilitas, Abnormalitas, MPU dan menjaga pH tetap stabil.
PENGARUH LEVEL DIMETHYL SULFOXIDE DALAM PENGENCER SITRAT-KUNING TELUR TERHADAP KUALITAS SEMEN CAIR BABI LANDRACE: Effect of Dimethyl Sulfoxide Level in Citrate-Yolk Diluent on Landrace Boar Liquid Semen Quality Maria Elisabeth Anjenita Ampur; Wilmintje Marlene Nalley; Agustinus Ridlof Riwu; Franky M.S. Telupere
Wahana Peternakan Vol. 9 No. 1 (2025): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v9i1.2219

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji penggunaan level dimethyl sulfoxide (DMSO) dalam pengencer sitrat-kuning telur (S-KT) guna mempertahankan spermatozoa babi Landrace pada suhu penyimpanan 18-20oC. Materi penelitian adalah semen segar yang berasal dari seekor babi Landrace yang berumur 2 tahun dalam kondisi yang sehat dan sudah terlatih dalam penampungan semen. Rancangan acak lengkap yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan yaitu: P0 = S-KT, P1 = S-KT + DMSO 1%, P2 = S-KT + DMSO 2%, P3 = S-KT + DMSO 3%, P4 = S-KT + DMSO 4%. Variabel penelitian meliputi: motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan daya tahan hidup (DTH) spermatozoa. Semen yang telah diencerkan disimpan dalam styrofom box pada suhu 18-20oC. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam, apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P4 pada jam ke-48 menghasilkan kualitas spermatozoa yang lebih tinggi secara statistik (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya dengan motilitas: 50,00±3,53%, viabilitas: 60,00±3,53%, abnormalitas: 8,60±1,14%, dan DTH spermatozoa: 59,20 ±1,78 jam. Simpulan dari penelitian ini adalah penambahan DMSO dengan level 4% dalam pengencer sitrat-kuning telur memberikan respon yang baik dalam mempertahankan kualitas spermatozoa babi Landrace.   Kata kunci: Dimethyil sulfoxide, Kuning telur, sitrat, Spermatozoa babi Landrace
PENGARUH PENAMBAHAN FRUKTOSA DAN LAKTOSA DALAM PENGENCER SITRAT-KUNING TELUR TERHADAP KUALITAS SEMEN CAIR BABI LANDRACE: The Effect of Adding Fructose and Lactose in Citrate-Egg Yolk Diluent on The Quality of Landrace Liquid Boars Semen Maria Orsella Rindiani; Thomas Mata Hine; Alvrado Bire Lawa; Wilmintje Marlene Nalley
Wahana Peternakan Vol. 9 No. 1 (2025): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v9i1.2287

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan fruktosa dan laktosa dalam pengencer sitrat kuning telur (S-KT) terhadap kualitas semen cair babi Landrace. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan rancangan acak lengkap yang terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan yaitu semen diencerkan dengan: S-KT tanpa fruktosa dan laktosa (P0), S-KT + 1,0% fruktosa + 0,4% laktosa (P1), S-KT + fruktosa 1,5% + 0,4% laktosa (P2), S-KT + 1,0% fruktosa + 0,6% laktosa (P3), S-KT + fruktosa 1,5% + 0,6% laktosa (P4). Seluruh perlakuan disimpan didalam coolbox dengan suhu 18-20ºC. Evaluasi terhadap motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan daya tahan hidup spermatozoa dilakukan setiap 12 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan perlakuan P4 dengan level fruktosa 1,5% dan laktosa 0,6% pada penyimpanan jam ke 48 memberikan hasil terbaik (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya dengan nilai motilitas 46,00%, viabilitas 51,00%, abnormalitas 7,00% dan daya tahan hidup 54,00 jam. Disimpulkan bahwa penambahan fruktosa 1,5% dan laktosa 0,6% (P4) dalam pengencer sitrat-kuning telur dapat menghasilkan kualitas semen cair babi Landrace yang lebih baik dari perlakuan lainnya. Kata kunci: Fruktosa, Laktosa, Sitrat-kuning telur, Semen babi Landrace
PERBANDINGAN KUALITAS SPERMA BABI LANDRACE DALAM PENGENCER MULBERRY III (MIII) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR YANG BERBEDA: Comparison of Sperm Quality of Landrace Boars in Mulberry III (MIII) Diluent with the Addition of Different Moringa Leaf Ethanol Extracts Lombo, Jelittron Putra; Petrus Kune; Alvrado Bire Lawa; Wilmintje Marlene Nalley
Wahana Peternakan Vol. 9 No. 2 (2025): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v9i2.2336

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kualitas sperma babi landrace dalam pengencer Mulberry III (MIII) dengan penambahan ekstrak etanol daun kelor yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 5 kali ulangan, di mana perlakuan tersebut terdiri dari P0 = MIII KT + EEDK, P1 = MIII KT + EEDK 0,5%, P2 = MIII KT + EEDK 1%, P3 = MIII KT + EEDK 1,5%, P4 = MIII KT + EEDK 2% dan P5 = MIII KT + EEDK 2,5. Setelah semen di encerkan maka akan di simpan pada kotak styrofoam dengan suhu 18-20 °C, semen tersebut akan di evaluasi setiap 8 jam sekali, terhadap motilitas, viabilitas, abnormalitas dan daya tahan hidup dari sperma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hingga jam penyimpanan ke 40, P1 dengan penambahan MIII KT + EEDK 0,5% dapat memberikan hasil yang terbaik dengan nilai motilitas (43,75±4,78), viabilitas (49,72±3,71), abnormalitas (5,54±1,13) dan daya tahan hidup (39,66±2,73). Kesimpulannya P1 dengan penambahan MIII KT + EEDK 0,5% merupakan perlakuan terbaik dan dapat mempertahankan motilitas, viabilitas, abnormalitas dan daya tahan hidup dari sperma. Kata kunci: Babi landrace, Ekstrak etanol daun kelor, Mulberry III
Preservasi Spermatozoa Babi Landrace Dalam Tiga Jenis Pengencer Modifikasi Papituan, Mardan Laes; Nalley, Wilmientje Marlene; Hine, Thomas Mata
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol. 25 No. 1 (2024): TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtapro.2024.025.01.1

Abstract

Pengenceran semen memiliki dua fungsi utama yaitu untuk memperpanjang masa simpan dan memperbesar volume semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penambahan ekstrak daun kelor (EDK) 5% dalam pengencer tris- kuning telur (T-KT), sitrat- kuning telur (S-KT) dan beltsville thawing solution®-kuning telur (BTS® -KT) terhadap kualitas semen babi landrace selama penyimpanan. Semen babi diambil seminggu sekali menggunakan metode masase dari satu ekor babi jantan berumur 2 tahun dengan kodisi sehat dan organ reproduksi yang normal. Semen yang berkualitas baik dibagi dan diencerkan dengan pengencer perlakuan yaitu : P1: T-KT – 5% EDK , P2: S-KT – 5% EDK dan P3: BTS® -KT – 5% EDK. Kemudian pengenceran semen disimpan dalam syrofoam pada suhu 18-22ᶱ C dan dievaluasi setiap 8 jam meliputi motilitas, viabilitas, abnormalitas serta membran plasma utuh (MPU). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan dan lima ulangan. Data yang telah diperoleh dianalisis dengan uji anova, apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengencer S-KT modifkasi (P2) mempunyai kualitas yang lebih baik (P<0,05) dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu selama 40 jam dengan motilitas (45,40±4,15 %), viabilitas (56,66±1,32) dan MPU (55,44±5,18%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu pengenceran modifikasi terbaik adalah pengencer S- KT dengan penambahan EDK 5 % (P2).
Co-Authors A. Kaka Adyanto Nessy Banamtuan Agus Saputra Agustinus Ridlof Riwu Agustinus Ridlof Riwu Aleksander Kaka Alfred Nubatonis Aloysius Marawali Aloysius Marawali Aloysius Marawali Anak Agung Gede Sugianthara Arnold Elyazar Manu Arnold Elyazar Manu Arnoldianus Harbin Asael Ebson Nabut B Purwantara B Purwantara B. Purwantara Bambang Purwantara Biqshierz V.W Koelima Burhanuddin * Burhanuddin burhanuddin Daniel Kurniawan Tulle Dani Tulle David Agustinus Nguru Demianus Ferdinand Souhoka Dodu, Tagu Fanny Tesalonika Hilly Faustus Jusing Fian K. Djita Foeh, Nancy D. F. K. Franky M S Telupere Franky M.S. Telupere G Semiadi G. Semiadi Gaina, Cynthia Dewi Gerson Andrimus Naimasus GONO SEMIADI Henderian L. L. Belli Henderiana Belli Henderiana Laura Louisa Belli Hendriana L.L. Belli Herdis . Heri Armadianto Heri Armadianto I Made Adi Sudarma I Made Suaba Aryanta Imanuel Benu Imanuel Benu J A Tamoes Jernih Blegur Johny N. Kihe jourvan manasye marabijala Juliyanti Stefania Salem kirenius uly Kirenius Uly Kirenius Uly Kristina Enjelina Jigha Kune , P. Lawa, Alvrado Bire Lombo, Jelittron Putra Lote, Nyongki Mallo, Agustinus Maman Surachman Maman Surachman Mandanil Arisma Leo Manibak, Maskrim Letlang Mardemus Misa Maria E.E. Fernandez Maria Elisabeth Anjenita Ampur Maria Epifania Barek Maria F. T. Leyn Maria G. Mega Maria Gordince Owa Maria M. Bria Maria Meldiana Jemamu Maria Orsella Rindiani Mariana Nenobais Maritje Aleonor Hilakore Maxs Urias Ebenheizer Sanam Melianus Fafo Michel Johan Matatula MUHAMMAD RIZAL N.G.A Mulyantini S.S Ni Gusti Ayu Mulyantini Ni Made Paramita Setyani Ni Nengah Suryani Ni Nengah Suryani Nuba, Maria Deran Papituan, Mardan Laes Paskalis Baylon Petrus Kune Petrus Kune Petrus Kune Petrus Kune R Handarini R I Arifiantini R. Handarini R. Handarini R. Iis Arifiantini R.I. Arifiantini Reni Ratni Dapawole RI Arifiantini, RI Ristika Handarini Riwu , R. M. J. Riwu, Ronny Markus Jami Rosnah, Upik Syamsiar Rut Listyadi Rut Riwu Ratu Samuel Alexsander Singga Satria J.S. Rihileo Selsiana Dongkot Sepriyono Aklili Setyani , N. M. P. Simon Edison Mulik Sofia Marlize Soleman Manaze Weiri Sinda T L Yusuf T.L. Yusuf Tagu Dodu Tarsisius Considus Tophianong, Tarsisius Considus Theresia Oktaviana Laka Thomas Mata Hine Tree May Thiessen Outang Tuty Laswardi Yusuf Twen O. Dami Dato Ulrikus R. Lole Uly , K. Wirona Adu Yanna Nailla Zulfa Yoana D. Fransiska Yohanis Umbu Daku Waluwanja Yustiani Yuliana Bette