Claim Missing Document
Check
Articles

MODEL PENGASUHAN BAGI ANAK DIDIK LPKA Nurendah, Gemala; Musthofa, Muhammad Ariez; Maslihah, Sri
JURNAL PSIKOLOGI INSIGHT Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/insight.v3i2.22348

Abstract

This study was designed to describe an appropriate parenting model for children in LPKA (Rehabilitation Center for Children). A grounded research approach was utilized and a sample of 15 to 18 year old children inmates amount 56 childrens was interviewed. It was found that family and religiosity concepts are important factors for the children. Parenting model for the children have to involve both religiosity and emotional attachment aspects. The results showed that a suitable parenting model was the concept of religiosity and familyhood. This is obtained through the fostering of religious aspects such as conducting prayer activities in congregation, learning to read Al-Quran, and religious lectures. While the concept of familyhood can be through personal interaction among students and with officers who can build emotional closeness.
Analisis Positive Behavior Support pada Anak Didik Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sri Maslihah; Gemala Nurendah; Ghinaya Ummul Mukminin Hidayat; Selfiyani Lestari
Prosiding Seminar Nasional Kusuma Vol 2 (2024): Prosiding Seminar Nasional Kusuma
Publisher : LPPM UWKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Sebelumnya paradigma hukum dalam pengadilan anak bersifat absolut dan berfokus pada hukuman namun kini beralih ke pendakatan yang lebih humanis, salah satu tekniknya adalah dengan membentuk perilaku positif melalui dukungan perilaku positif. PBS merupakan pendekatan alternatif yang merancang intervensi proaktif untuk pencegahan dan penanganan masalah perilaku, dengan fokus pada pemberian penguatan terhadap perilaku positif untuk menghindari hukuman atas perilaku yang tidak baik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran positive behavior support (PBS) pada anak didik Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif pada lima anak didik LPKA Kelas II Bandung sebagai subyek penelitian. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terkait PBS dengan mengacu pada konsep PBS dari Hieneman.  Teknik analisis data dilakukan melalui analisis isi wawancara (content analysis). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa lingkungan LPKA mampu membangun  positive behavior support  bagi anak didik LPKA. Keterlibatan teman sesama anak didik dan petugas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari PBS. Temuan dari penelitian ini adalah PBS pada anak didik LPKA melibatkan adanya kesempatan anak didik LPKA untuk membangun komunikasi dengan orang lain baik teman ataupun keluarga di luar LPKA melalui media komunikasi daring yang tersedia di LPKA sebagaimana ketentutan yang berlaku. Kesimpulan: Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan  LPKA Bandung baik dari petugas, pembina maupun fasilitas sarana mampu mendorong pemenuhan domain-domain PBS.
Pengaruh Konflik Peran Ganda terhadap Work Engagement yang Dimoderasi oleh Hardiness pada Wanita Bekerja di BUMN yang Sudah Menikah Ryfa Meriam; Sri Maslihah; Sitti Chottidjah
Journal of Psychology and Instruction Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konflik peran ganda terhadap work engagement dengan mempertimbangkan pengaruh moderasi oleh hardiness pada wanita bekerja di BUMN yang sudah menikah. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah partisipan sebanyak 388 yang terdiri dari wanita bekerja di BUMN yang sudah menikah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen konflik peran ganda berdasarkan dimensi Greenhaus & Beutell (1985) yang telah modifikasi oleh Daulay (2018), instrumen Utrecht Work engagement Scale (UWES) milik Schaufeli dan Bakker (2004) yang telah dilakukan alih bahasa dan uji validitas oleh Andika (2021), dan instrumen Dispositional Resilience Scale (DSR) yang dikembangkan oleh Bartone (1995) berdasarkan alat ukur milik Kobasa yang sudah dimodifikasi oleh Fazriani (2020). Teknik analisis data yang digunakan yaitu Moderated Regression Analysis (MRA) menggunakan program SPSS versi 25. Penelitian ini menunjukan hasil bahwa hardiness sebagai variable moderator pengaruh konflik peran ganda terhadap work engagement memiliki nilai signifikansi 0,046 (<0,05) dengan nilai R Square sebesar 0,833. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hardiness memoderasi pengaruh konflik peran ganda terhadap work engagement.
PERLAKUAN KOLABORASI DALAM PEMULIHAN REINTEGRASI SOSIAL KORBAN NAPZA Indriyani, Wulan Ayu; Komar, Oong; Shantini, Yanti; Maslihah, Sri
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 13, No 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i2.42923

Abstract

Abstract. The problem of social reintegration for victims of Narcotics, Psychotropics, and other Addictive Substances (NAPZA) involves multidimensional challenges such as social stigma, psychological dependence, and economics. This study aims to analyze and develop a social reintegration model for NAPZA victims by adopting the concept of collaboration as the main framework. The research method used is a literature study that collects and analyzes 22 relevant articles regarding collaborative treatment in the recovery of social reintegration of NAPZA victims at the Community Learning Activity Center (PKBM). Data analysis was carried out using Nvivo software, through steps such as data import, coding, categorization based on main themes, theme analysis to identify patterns and relationships, and data visualization to present findings graphically. The study results indicate that effective communication is at the heart of successful synergy between parties. Good collaboration requires a shared understanding of goals and strategies, as well as recognition of the rights and obligations of each actor. A collaboration-based approach allows for the development of more adaptive and personalized programs, considering the needs and potential of victims. Cross-sector collaboration, such as between health workers, families, and communities, can help victims internalize this new perspective while supporting them in rebuilding a positive social identity. The recommendation from this study is the importance of synergy between the government, community, family, and health workers in creating an ecosystem that supports the recovery of drug victims. A collaborative approach, social reintegration of drug victims can be more effective, allowing them to return to a productive and meaningful life, while reducing the negative impact of drug abuse in society.  Keyword: Collaboration; Social Reintegration; Victims of Drug Abuse. Abstrak. Masalah reintegrasi sosial bagi korban Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melibatkan tantangan multidimensi seperti stigma sosial, ketergantungan psikologis, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan model reintegrasi sosial bagi korban NAPZA dengan mengadopsi konsep kolaborasi sebagai kerangka utama. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis 22 artikel yang relevan mengenai perlakuan kolaborasi dalam pemulihan reintegrasi sosial korban NAPZA di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak Nvivo, melalui langkah-langkah seperti impor data, pengkodean, kategorisasi berdasarkan tema utama, analisis tema untuk mengidentifikasi pola dan hubungan, serta visualisasi data untuk mempresentasikan temuan secara grafis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif merupakan inti dari keberhasilan sinergi antar pihak. Kolaborasi yang baik memerlukan pemahaman bersama tentang tujuan dan strategi, serta pengakuan terhadap hak dan kewajiban masing-masing aktor. Pendekatan berbasis kolaborasi memungkinkan penyusunan program yang lebih adaptif dan personal, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi korban. Kolaborasi lintas sektor, seperti antara tenaga kesehatan, keluarga, dan komunitas, dapat membantu korban menginternalisasi pandangan baru ini, sekaligus mendukung mereka dalam membangun kembali identitas sosial yang positif. Rekomendasi dari penelitian ini adalah pentingnya sinergi antara pemerintah, komunitas, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pemulihan korban NAPZA. Pendekatan kolaboratif, reintegrasi sosial korban NAPZA dapat berjalan lebih efektif, memungkinkan mereka untuk kembali ke kehidupan yang produktif dan bermakna, sekaligus mengurangi dampak negatif penyalahgunaan NAPZA di masyarakat. Kata Kunci: Kolaborasi; Reintegrasi Sosial; Korban NAPZA.
Țibbun Nabawī as a Drug Recovery Strategy: Rebuilding Norms and Self-Identity Wulan Ayu Indriyani; Oong Komar; Yanti Shantini; Sri Maslihah
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 10 No. 1 (2025): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v10i1.5627

Abstract

Recovery from drug addiction is a complex process that requires a holistic approach that encompasses physical, mental, social and spiritual aspects. This research explores Țibbun Nabawī, a prophetic medicine approach derived from the teachings and practices of the Prophet Muhammad, as an effective rehabilitation strategy for victims of drug abuse at at Yayasan Pengasih Insan Karima (YAPIKA), Indonesia. Unlike conventional rehabilitation methods, Țibbun Nabawī integrates spiritual healing with physical and psychological recovery, which plays an important role in rebuilding social norms and personal identity. This research used a qualitative approach with a case study method. Data collection methods include in-depth interviews, observation, and document analysis. The analytical technique utilized is the source triangulation analysis method, which incorporates principles from spiritual-based recovery and social identity theory. The research findings reveal that the integration of Islamic values in rehabilitation strengthens individuals' motivation to overcome addiction. Spiritual practices such as Qur'an memorization, ażān therapy, and Islamic studies significantly enhance spiritual awareness, while group therapy and social skills training help rebuild social relationships. This study contributes to the discourse of faith-based rehabilitation by mapping Țibbun Nabawī as a structured and holistic addiction recovery strategy. The findings offer practical recommendations for policy makers, rehabilitation centers, and communities to implement a more effective and sustainable recovery framework. Ultimately, this study highlights the importance of integrating Islamic teachings in social rehabilitation, which paves the way for further research on the effectiveness of faith-based approaches in treating addiction.
Profiles of Bullying in Schools: Analysis of Perpetrator, Victim, and Bystander Based on Demographic Factors Maslihah, Sri; MIF Baihaqi; Hidayat, Ghinaya Ummul Mukminin; Mudin, Muhammad Ilham; Agestianti, Ruth
Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 12 No. 1 (2025): PSYMPATHIC
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/psy.v12i1.40261

Abstract

This study examines bullying profiles among perpetrators, victims, and bystanders in Bandung's junior and senior high schools, analyzing its relationships with demographic factors (gender, educational level, and age). A quantitative descriptive approach was used, with 1290 students ages 11-19 as participants. Data was collected using bullying instruments (perpetrator, victim, and bystander scales) developed by Maslihah et al. (2024), based on Salmivalli et al.'s (1996) bystander concept. Analysis included descriptive statistics, Spearman correlation, and independent t-test using SPSS 25. Results indicate bullying perpetrators constitute the smallest population group. Victim profiles showed no significant demographic differences. Significant differences in perpetrator roles emerged based on gender (p < 0.001), educational level (p < 0.001), and age (p < 0.001). Bystander roles varied, with several dimensions showing significant differences based on specific demographic factors. These findings provide an empirical basis for targeted interventions and responsive school policies addressing bullying.
Relationship of Romantic Beliefs on Marital Adjustment in Ta’aruf Individuals Devianti; Maslihah, Sri; Nurendah, Gemala
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 29 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol29.iss1.art3

Abstract

For individuals who undergo ta'aruf, marriage adjustment is considered very important. One of the factors affecting marriage adjustment is romantic beliefs about marriage, which can lead to inconsistencies in marital relationships. This risk increases because the short time of ta'aruf acquaintance makes it difficult for people to interact early in the marriage. The study aims to find out how romantic beliefs about marriage affect marriage adjustment in married couples through the ta'aruf process. The study uses a quantitative approach with a correlational design. The research sample consisted of 98 individuals who were married through ta'aruf (with a marriage age range of 3-13 years). Research data were collected using the Relationship Beliefs Inventory (RBI) questionnaire, and the Revised Dyadic Adjustment Scale (RDAS) questionnaire. Data were analyzed using simple regression analysis. Research finds that romantic beliefs about marriage correlate negatively to marital adjustments. Individuals who have romantic beliefs on marriage have a tendency to resolve conflicts poorly and avoid speaking in person, which makes it harder for them to adjust to marriage.
PERLAKUAN KOLABORASI DALAM PEMULIHAN REINTEGRASI SOSIAL KORBAN NAPZA Indriyani, Wulan Ayu; Komar, Oong; Shantini, Yanti; Maslihah, Sri
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 13 No. 2 (2024): Empati Edisi Desember 2024
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v13i2.42923

Abstract

Abstract. The problem of social reintegration for victims of Narcotics, Psychotropics, and other Addictive Substances (NAPZA) involves multidimensional challenges such as social stigma, psychological dependence, and economics. This study aims to analyze and develop a social reintegration model for NAPZA victims by adopting the concept of collaboration as the main framework. The research method used is a literature study that collects and analyzes 22 relevant articles regarding collaborative treatment in the recovery of social reintegration of NAPZA victims at the Community Learning Activity Center (PKBM). Data analysis was carried out using Nvivo software, through steps such as data import, coding, categorization based on main themes, theme analysis to identify patterns and relationships, and data visualization to present findings graphically. The study results indicate that effective communication is at the heart of successful synergy between parties. Good collaboration requires a shared understanding of goals and strategies, as well as recognition of the rights and obligations of each actor. A collaboration-based approach allows for the development of more adaptive and personalized programs, considering the needs and potential of victims. Cross-sector collaboration, such as between health workers, families, and communities, can help victims internalize this new perspective while supporting them in rebuilding a positive social identity. The recommendation from this study is the importance of synergy between the government, community, family, and health workers in creating an ecosystem that supports the recovery of drug victims. A collaborative approach, social reintegration of drug victims can be more effective, allowing them to return to a productive and meaningful life, while reducing the negative impact of drug abuse in society.  Keyword: Collaboration; Social Reintegration; Victims of Drug Abuse. Abstrak. Masalah reintegrasi sosial bagi korban Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melibatkan tantangan multidimensi seperti stigma sosial, ketergantungan psikologis, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan model reintegrasi sosial bagi korban NAPZA dengan mengadopsi konsep kolaborasi sebagai kerangka utama. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan dan menganalisis 22 artikel yang relevan mengenai perlakuan kolaborasi dalam pemulihan reintegrasi sosial korban NAPZA di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak Nvivo, melalui langkah-langkah seperti impor data, pengkodean, kategorisasi berdasarkan tema utama, analisis tema untuk mengidentifikasi pola dan hubungan, serta visualisasi data untuk mempresentasikan temuan secara grafis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif merupakan inti dari keberhasilan sinergi antar pihak. Kolaborasi yang baik memerlukan pemahaman bersama tentang tujuan dan strategi, serta pengakuan terhadap hak dan kewajiban masing-masing aktor. Pendekatan berbasis kolaborasi memungkinkan penyusunan program yang lebih adaptif dan personal, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi korban. Kolaborasi lintas sektor, seperti antara tenaga kesehatan, keluarga, dan komunitas, dapat membantu korban menginternalisasi pandangan baru ini, sekaligus mendukung mereka dalam membangun kembali identitas sosial yang positif. Rekomendasi dari penelitian ini adalah pentingnya sinergi antara pemerintah, komunitas, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pemulihan korban NAPZA. Pendekatan kolaboratif, reintegrasi sosial korban NAPZA dapat berjalan lebih efektif, memungkinkan mereka untuk kembali ke kehidupan yang produktif dan bermakna, sekaligus mengurangi dampak negatif penyalahgunaan NAPZA di masyarakat. Kata Kunci: Kolaborasi; Reintegrasi Sosial; Korban NAPZA.
Pelatihan Komunikasi Asertif (TOT Bagi Guru SD di Kabupaten Kuningan) Sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Nurendah, Gemala; Fauziyya, Eka; Maslihah, Sri; Chotidjah, Sitti; Musthofa, M. Ariez; Lestari, Selfiyani
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Spesial Issue
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Jawa Barat termasuk tinggi, menurut data Simfoni-PPA Jawa Barat menempati urutan 5 besar di Indonesia. Pada 2020 tercatat ada 1.186 kasus, 2021 ada 1.766 kasus dan 2022 ada 2.001 kasus. Peningkatan jumlah kasus setiap tahunnya menjadi sebuah fakta mengkhawatirkan dimana seharusnya anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, dan negara. Salah satu kasus kekerasan seksual yang menjadi sorotan terjadi di Kabupaten Kuningan, dialami seorang anak perempuan berusia 8 tahun dan pelaku adalah 2 orang dewasa berusia 63 dan 69 tahun (merdeka.com, 2022). Berdasarkan paparan kasus tersebut, maka Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia merasa perlu melakukan upaya preventif berupa pelatihan komunikasi asertif untuk meminimalisir semakin meningkatnya kasus kekerasan seksual pada anak. Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan pembekalan kepada guru-guru Sekolah Dasar agar dapat melatih anak didiknya mengenai pentingnya perilaku asertif dan mengembangkan perilaku asertif dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak. Metode yang digunakan pada pengabdian kepada masyarakat ini adalah pemberian materi mengenai komunikasi asertif dan deteksi dini anak korban kekerasan seksual, jumlah peserta pelatihan sebanyak 116 orang yang merupakan guru-guru SD yang tersebar di wilayah Kabupaten Kuningan. Terdapat pre test dan post test untuk menguji pengetahuan para guru, hasil analisis menunjukan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan secara signifikan dan peserta pelatihan memberikan respons positif dari segi pematerian dan penyelenggaraan.
Pelatihan Komunikasi Berbasis Parent-Child Communication bagi Petugas/ Wali Anak Binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Bandung Maslihah, Sri; Wulandari, Anastasia; Zulnida, Eka Fauziyya; Nurendah, Gemala
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Spesial Issue
Publisher : LPPM UNINUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu implementasi dari Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah bagaimana memberikan ruang pembinaan yang ramah anak bagi anak-anak yang berkonflik hukum (ABH)  yang mendapatkan vonis untuk menjalani pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), yang sebelumnya dikenal sebagai Lembaga Pemasyarakatan Anak (LAPAS Anak).  Untuk itu salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki petugas terutama yang menjadi wali/pengasuh anak binaan LPKA adalah keterampilan komunikasi khususnya komunikasi dengan ABH yang menjadi anak binaan LPKA.  Dalam upaya membantu meningkatkan kompetensi wali anak binaan LPKA  dalam membangun komunikasi dengan anak binaan  dilakukan kegiatan Pelatihan Komunikasi berbasis Parent Child Communication bagi petugas/wali anak binaan LPKA Bandung.  Kegiatan pelatihan didahului dengan pretest  untuk mengukur gambaran komunikasi petugas dengan anak binaan.  Selanjutnya petugas diberikan pelatihan komunikasi berbasis Parent Child Communication  dengan pemberian materi tentang teori terkait Parent Child Communication   dan simulasi komunikasi dengan anak binaan. Subyek pelatihan adalah 13 orang petugas LPKA Kelas I Bandung yang menjadi petugas wali. Satu bulan setelah pelatihan kepada petugas yang mengikuti pelatihan diberikan post test. Hasil analisis  data uji beda komunikasi petugas dan anak binaan sebelum dan sesudah pemberian pelatihan menunjukkan nilai koefisien beda dengan  t sebesar -9,909 dengan p sebesar 0,000 (p < 0.01) artinya, terdapat perbedaan kemampuan komunikasi petugas dan anak binaan yang signifikan sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan komunikasi berbasis Parent Child Communication.  Selain itu berdasarkan hasil wawancara kepada empat orang perwakilan  petugas yang mengikuti pelatihan, keempatnya   memberikan respon yang positif atas penyelenggaraaan pelatihan ini baik untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan  komunikasi dengan anak binaan serta menyampaikan manfaat materi yang disampaikan dalam membantu petugas dalam perannya sebagai wali anak binaan LPKA