Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Antara Self Esteem dengan Compulsive Buying Pada Remaja Ida Rayyani; Mirza Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i1.29995

Abstract

Perkembangan fashion yang silih berganti mendorong remaja melakukan pembelian berulang, ini karena remaja tidak ingin dianggap ketinggalan zaman oleh teman sebayanya, sehingga menjadikan remaja berbelanja pakaian dengan berulang-ulang atau berlebihan. Kegiatan berbelanja tersebut merupakan compulsive buying. Remaja melakukan compulsive buying untuk meningkatkan self esteem pada dirinya dan penerimaan di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara self esteem dengan compulsive buying pada remaja. Terdapat 60 subjek pada penelitian ini dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu incidental sampling dan snowball sampling. State Self-Esteem Scale dan Edward Compulsive Buying Scale digunakan sebagai alat pengumpulan data. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson yang menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) -0,382 dengan nilai signifikansi (p) = 0,003 (p 0.05) sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara self esteem dengan compulsive buying pada remaja. Hal ini menunjukkan semakin tinggi self esteem maka semakin rendah compulsive buying pada remaja.Successive fashion developments encourage adolescents to make repeat purchases, this cause adolescents to not want to be considered out of date by peers and making adolescents shop for clothes repetitively or excessively. These shopping activities are called compulsive buying. Adolescents do compulsive buying to increase self-esteem in themself and environmental acceptance. This study aims to determine the relationship between self-esteem with compulsive buying in adolescents. 60 subjects were used as the sample of the study that was selected using snowball sampling. The measuring instruments used were the State Self-Esteem Scale and Edward Compulsive Buying Scale. The results of the analysis with Pearson correlation technique showed correlation coefficient (r) -0,382 with significance value (p) = 0,003 (p 0.05) so that it can be interpreted that there is a negative relationship between self-esteem with compulsive buying in adolescent. This shows that higher self-esteem will lead to lower compulsive buying in adolescents.
Perbedaan Fear of Failure Pada Mahasiswa yang Menyusun Skripsi Rina Hartati; Mirza Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i1.29994

Abstract

Salah satu syarat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan pada semua Universitas di Indonesia adalah dengan mengerjakan skripsi. Banyak hal yang dirasakan oleh mahasiswa saat pengerjaan skripsi salah satunya adalah perasaan takut gagal dalam menyelesaikan skripsi dan takut tidak memenuhi berbagai harapan yang ada. Bagi mahasiswa yang menganggap skripsi sebagai tantangan maka akan mampu menghadapi skripsi dengan baik, sebaliknya bagi mahasiswa yang menganggap skripsi sebagai hambatan maka akan kesulitan dalam proses pengerjaannya. Fear of Failure adalah kepercayaan atau antisipasi seseorang bahwa ada konsekuensi yang tidak menyenangkan saat mengalami kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Fear of Failure pada Mahasiswa yang menyusun skripsi berdasarkan jenis kelamin. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling dengan jumlah 144 mahasiswa yang menyusun skripsi yang terdiri dari 72 laki-laki dan 72 perempuan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan skala adaptasi dari The Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) yang disusun oleh Conroy (2001) dengan nilai koefisien reliabilitas penelitian sebesar () = 0,893. Uji hipotesis yang telah dilakukan menggunakan independent sample t-test menunjukkan nilai signifikasi sebesar 0,000 (p0,05) dan nilai t sebesar -6,292. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan Fear of Failure antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memiliki tingkat Fear of Failure lebih rendah dibandingkan perempuan.One of the conditions for obtaining a degree scholarship at all universities in Indonesia is to work on a thesis. A lot of things perceived by the student when the working thesis is the feeling of Fear of Failure in completing the thesis and the fear of not meeting the various expectations. For students who think categorization as a challenge will be able to deal with a thesis properly, otherwise for students that consider the thesis as the barriers it will be difficult in process work. The fear of Failure is the belief or the anticipation of a person that there is an unpleasant consequence if it fails. This research aims to know the difference of the Fear of Failure on the Students that make up the thesis. The technique of sampling used for quota sampling with a total of 144 students who devised a thesis consisting of 72 men and 72 women who comply with the criteria specified. The technique of data collection by using the scale of adaptation The Performance Appraisal Inventory Failure (PFAI) compiled by Conroy (2001) with the value of the coefficient of reliability research of () = 0.893. Test the hypothesis has been done using independent sample t-test demonstrated the significance rating of 0.000 (p 0.05) and the value of t-6.292. Based on these results it can be concluded that there is a difference of the Fear of Failure among both men and women, where men have a Fear of Failure rate lower than women.
Regulasi Diri Dan Perilaku Cyberloafing Pada Pegawai Negeri Sipil Di Banda Aceh Indah Ayu Pertiwi; Mirza Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28437

Abstract

Regulasi diri adalah bentuk pengendalian diri dimana individu bisa dapat fokus dengan tujuannya. Salah satu perilaku yang sering dilakukan seseorang saat bekerja adalah perilaku cyberloafing. Cyberloafing adalah perilaku pegawai yang menggunakan akses internet instansi selama jam kerja untuk keperluan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan regulasi diri dengan perilaku cyberloafing pada Pegawai Negeri Sipil di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling dengan total keseluruhan sampel adalah 176 responden. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur Self-Regulation Scale untuk mengukur regulasi diri dan Skala Cyberloafing untuk mengukur perilaku cyberloafing. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson dengan r=-263, (p 0.05) yang menunjukkan adanya hubungan negatif yang terjadi antara regulasi diri dan perilaku cyberloafing pada Pegawai Negeri Sipil di Banda Aceh. Hal ini berarti semakin tinggi regulasi diri yang dimiliki Pegawai Negeri Sipil maka semakin rendah perilaku cyberloafing yang dilakukan.Self-regulation is a form of self-control where individuals can focus on their goals. One of the behaviors that is often done by someone while working is cyberloafing behavior. Cyberloafing is the behavior of employees who use agency internet access during working hours for purposes not related to work. This study aims to determine the relationship between self-regulation and cyberloafing behavior in Civil Servants in Banda Aceh. This study uses a quantitative approach with incidental sampling sampling technique with a total sample of 176 respondents. Data collection in this study used a self-regulation scale measure to measure self-regulation and cyberloafing scale to measure cyberloafing behavior. Data analysis using Pearson correlation technique that shows the value of the correlation coefficient (r) -263 with a significance value (p) = 0,000 (p 0.05) which indicates a negative relationship that occurs between self-regulation and cyberloafing behavior on Civil Servants in Banda Aceh. This means that the higher the self-regulation owned by Civil Servants, the lower the cyberloafing behavior that is carried out.
Co-Authors Abdul Gafar Karim Abu Bakar Achmad Syaukani Afriani Afriani Aidina, Wenny Andi Jumardi AR, Thaybatan Ardian Ariatsyah Arintalofa, Vithya Aulia, Zahra Chairul Bariah Dani, Chandra Yuar Devy Yurista Diah Pera Munika Eka Dian Aprilia Elida Syahriati Endang Syahriani Erlinda Erlinda Fadhilah, Laina Fahrezi, Muhammad Winnie Danielle Faizal Adriansyah Fajrinur, Fajrinur Fauzi Fauzi Finansa, Dody Firas Mahdani Firdaus Firdaus Hayatun Nufus, Cut Hendra - Kurniawan Ida Rayyani Iin Darmiyati Inayati, Wirda Indah Ayu Pertiwi Intan Dewi Kumala Irfandi Irfandi, Irfandi Iskandar Ibrahim Ivvon Septina Bella Jannati, Al Yildis Juliana, Fitria Khatib, Muhammad Al Jabbir Khatijatusshalihah, Khatijatusshalihah Kiftian Hady Prasetya Kurmasela, Aprilino Alfa Kurniawan, Teddy Laby, Dharma Arung Lembang, Haris Rio Datu Lilis Setiawati Lobo, Jaynal Rante Mamuaya, Arjuna Brifling Marty Mawarpury Maulana, Rizaldi Arie Mohammad Lutfi Mualif, Dhawy Ammar Mutia, Laila Nurul Alifah Jovita Prada, Charlis Andika Pratama, M Ardian Pratama, M. Ardian Putri Puspita sari Rahmatullah, Idham Kholid Raihan Raihan Ramadhana, Zulmi Riady, Muhammad Antos Riamanda, Irin Rina Hartati Risana Rachmatan Rizka Sylvia Rizka Tyara Rohima Sera Afifah Santi Julita Santoso, Harri - Sara Ruhghea Sarah Hafiza Sarah Khairunnisa Sarifa Handayani Soliadi, Indriana Sri Novayanti Sulardi . Sunanda, Sunanda Suprayitno, Abdi syahriani, endang Teuku Riki Azhari, Teuku Riki Wiyono, Joko Yasir, Haura Shafiyyah Binti Yuni Kamisa Zahrani, Zahrani Zaujatul Amna, Zaujatul