Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Aplikasi Simulator Optimisasi Sistem Reservoir Multifasa dalam Membangun Model Produksi yang Terintegrasi di Lapangan HRD dengan Metode Integrated Production Modelling Lembang, Haris Rio Datu; Karim, Abdul Gafar; Mirza, Mirza; Laby, Dharma Arung; Lutfi, Mohammad; Mamuaya, Arjuna Brifling
Indonesian Research Journal on Education Vol. 1 No. 3 (2021): irje 2021
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v1i3.2782

Abstract

Lapangan HRD adalah lapangan salah satu lapangan minyak dan gas yang paling tua yang terletak di Offshore Delta Mahakam, Indonesia. Semua hidrokarbon terakumulasi pada reservoir kompleks yang terdiri dari banyak lapisan, di mana minyak, gas dan tekanan reservoir yang berbeda setiap saat. Integrated Production Modelling dengan menggunakan simulator GAP menawarkan teknik yang efektif dalam memperkirakan performa sumur yang mana diproduksi dari reservoir multifasa dan tekanan yang bervariasi. Integrated Production Modelling mampu mengelola dengan baik kompleksitas reservoir, skenario produksi yang bermacam - macam bentuknya, dan juga dengan keterbatasan fasilitas produksi di permukaan. Salah satu kelebihan dari GAP adalah dapat membuat produksi dari bermacam – macam reservoir multifasa yang digabungkan dalam satu bentuk Network Simulation tentunya dengan data PVT yang berbeda – beda, yang mana respon dari satu sumur dapat mempengaruhi produksi sumur yang lainnya. Tujuan utama dari penggunaan GAP adalah untuk mendapatkan respon penuh dari Lapangan Hidrokarbon dengan menggunakan sifat fisik dari setiap data yang pastinya dapat mempengaruhi produksi. Melalui proses Integrated Production Modelling ini, Sumur Lapangan HRD di Zona Lower dan Deep berhasil memberikan tambahan produksi sebesar 0.15 MMbo dan memberikan justifikasi kebutuhan Gas Lift Network di Lapangan HRD. Singkatnya, Model ini memberikan optimasi ekonomi dari minyak dan gas yang terproduksi.
Perbedaan Motivasi Kerja Generasi X dan Y di Kantor Pusat PTPN I Langsa Khatib, Muhammad Al Jabbir; Riamanda, Irin; Mirza, Mirza; Khatijatusshalihah, Khatijatusshalihah
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 7, No 1: Januari 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v7i1.33916

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan motivasi kerja generasi X dan generasi Y di Kantor Pusat PTPN I Langsa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian komparatif (independent sample t-test) yang diteliti pada 97 sampel karyawan Kantor Pusat PTPN I Langsa. Sampel penelitian dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data penelitian dikumpulkan menggunakan skala multidimensional work motivation scale yang disusun oleh Gagne dan Deci. Hasil penelitian menyatakan bahwa hipotesis ditolak, dengan nilai sig 0,657 0,05, yang artinya tidak terdapat perbedaan motivasi kerja generasi X dan generasi Y. Berdasarkan hasil juga diketahui bahwa baik generasi X dan generasi Y memiliki motivasi kerja dengan kategori rendah. Selain itu, hasil penelitian menemukan bahwa generasi X tidak termotivasi terhadap aspek intrinsic motivation dan generasi Y mempunyai nilai kategori sedang cukup tinggi terhadap aspek introjected regulation. Hal ini menggambarkan generasi X tidak bekerja untuk dirinya sendiri serta merasa pekerjaan tidak menarik serta memperoleh kepuasan kepada dirinya. Di sisi lain generasi Y merasa biasa saja apabila berhasil menyelesaikan pekerjaannya serta tidak merasa bersalah apabila gagal menyelesaikan pekerjaan tersebut. Penting bagi perusahaan dan peneliti selanjutnya untuk menggali faktor yang mempengaruhi motivasi kerja karyawan (khususnya Gen X dan gen Y) yang bekerja dengan situasi dan tuntutan kerja yang jauh dari perkotaan.Further study was required to determine how Generation X and Generation Y differ in their motivation for their jobs at the PTPN I Langsa Head Office. Employers at the PTPN I Langsa Head Office include a sample of 97 people who was the subject of this comparative study (independent sample t-test). The research sample was chosen using a straightforward random sampling method. Research data was collected using the multidimensional work motivation scale compiled by Gagne and Deci. The hypothesis of this study was rejected: the value of sig (p) is 0.657 0.05, indicating that there was no significant difference in work motivation between Generation X and Generation Y. Based on the results, it was also known that both generation X and generation Y have low category work motivation. Apart from that, the research results found that generation This illustrates that generation On the other hand, generation Y feels normal if they successfully complete their work and do not feel guilty if they fail to complete the work. It is important for companies and future researchers to explore the factors that influence the work motivation of employees (especially Gen X and Gen Y) who work in work situations and demands that are far from urban areas.
Analisis Disiplin Kerja berdasarkan Faktor Kepemimpinan dan Motivasi Implikasinya terhadap Kinerja Pegawai pada Sekretariat DPRK Bireuen Erlinda, Erlinda; Bariah, Chairul; Mirza, Mirza; Fadhilah, Laina
Singkite Journal Vol 4 No 2 (2025): Singkite Journal, August 2025
Publisher : Aceh Cooperative Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63855/skt.v4i2.72

Abstract

Performance is something expected by an institution. Measurable performance-based work is part of Human Resource Management. Employee performance is influenced by several factors. This study examines aspects of leadership, motivation, and work discipline. The study was conducted on 43 employees of the Bireuen DPRK secretariat. The research method used was an associative approach with a quantitative approach, and the problems were analyzed using path analysis. The results obtained were: (1) Work discipline is directly and indirectly influenced by leadership and work motivation, by 36.51% and 46.12%, respectively. (2) Simultaneously, leadership and work motivation contribute significantly to improving employee work discipline by 77.2%. (3) The implications for performance are 31.75% for leadership and 45.91% for work motivation. (4) Simultaneously, leadership and work motivation increase employee performance by 75.6%.
Profil kesehatan mental mahasiswa psikologi ditinjau dari gender dan tendensi gangguan mental Aidina, Wenny; Riady, Muhammad Antos; Mirza, Mirza
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1171

Abstract

Background: Psychology students are a group that is vulnerable to emotional and psychological stress, both due to academic burden and expectations of future professional roles. More frequent exposure to various mental health issues can contribute to students’ psychological problems. The constant influx of information can overwhelm students and make it difficult for them to cope. Purpose: To identify the mental health profile of psychology students in terms of gender and describe the tendencies of mental disorders that appear in each gender. Method: This comparative quantitative study involved 70 psychology students. Data collection was carried out using Woodworth's Questionnaire instrument. Data were analyzed using an Independent Samples T-Test to examine differences in scores based on gender, along with descriptive statistics. Results: The analysis results showed a significant difference in mental health scores between male and female students (p = 0.045), with women scoring higher. The most prominent tendency of mental disorders in women was tendency of schizophrenia (35.9%), followed by impulsivity, emotional expression, and obsession. Meanwhile, in men, the issues that emerge are impulsivity, emotional instability, and schizophrenic tendencies, although in much lower proportions. Conclusion: There is a statistically significant difference between the mental health scores of male and female students. Keywords: Gender; Mental Health; Psychology Students; Tendency of Mental Disorders.   Pendahuluan: Mahasiswa psikologi merupakan kelompok yang rawan mengalami tekanan emosional dan psikologis, baik karena beban akademik maupun ekspektasi terhadap peran profesional di masa depan. Paparan yang lebih sering pada beragam isu Kesehatan mental dapat berkontribusi pada masalah psikologis mahasiswa. Masuknya informasi yang terus-menerus dapat membuat mahasiswa kewalahan dan kesulitan mengatasinya. Tujuan: Untuk mengidentifikasi profil kesehatan mental mahasiswa psikologi ditinjau dari jenis kelamin serta mendeskripsikan kecenderungan gangguan mental yang muncul pada masing-masing gender. Metode: Penelitian kuantitatif komperatif ini melibatkan 70 mahasiswa psikologi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrument Woodworth’s Quesionnaire. Data dianalisis menggunakan Independent Samples T-Test untuk melihat perbedaan skor berdasarkan gender dan analisis deksriptif. Hasil: Analisis menunjukkan perbedaan signifikan antara skor kesehatan mental mahasiswa laki-laki dan perempuan (p = 0.045), di mana perempuan menunjukkan skor yang lebih tinggi. Tendensi gangguan mental yang paling menonjol pada perempuan adalah tendensi schizophrenia (35.9%), diikuti oleh impulsivitas, ekspresi emosi, dan obsesi. Sementara pada laki-laki, isu yang muncul adalah impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan tendensi schizophrenia, meskipun dalam proporsi yang jauh lebih rendah. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor kesehatan mental mahasiswa laki-laki dan perempuan. Kata Kunci: Gender; Kesehatan Mental; Mahasiswa Psikologi; Tendensi Gangguan Mental.
Hubungan Antara Self Esteem dengan Compulsive Buying Pada Remaja Rayyani, Ida; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i1.29995

Abstract

Perkembangan fashion yang silih berganti mendorong remaja melakukan pembelian berulang, ini karena remaja tidak ingin dianggap ketinggalan zaman oleh teman sebayanya, sehingga menjadikan remaja berbelanja pakaian dengan berulang-ulang atau berlebihan. Kegiatan berbelanja tersebut merupakan compulsive buying. Remaja melakukan compulsive buying untuk meningkatkan self esteem pada dirinya dan penerimaan di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara self esteem dengan compulsive buying pada remaja. Terdapat 60 subjek pada penelitian ini dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu incidental sampling dan snowball sampling. State Self-Esteem Scale dan Edward Compulsive Buying Scale digunakan sebagai alat pengumpulan data. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson yang menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) -0,382 dengan nilai signifikansi (p) = 0,003 (p 0.05) sehingga dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara self esteem dengan compulsive buying pada remaja. Hal ini menunjukkan semakin tinggi self esteem maka semakin rendah compulsive buying pada remaja.Successive fashion developments encourage adolescents to make repeat purchases, this cause adolescents to not want to be considered out of date by peers and making adolescents shop for clothes repetitively or excessively. These shopping activities are called compulsive buying. Adolescents do compulsive buying to increase self-esteem in themself and environmental acceptance. This study aims to determine the relationship between self-esteem with compulsive buying in adolescents. 60 subjects were used as the sample of the study that was selected using snowball sampling. The measuring instruments used were the State Self-Esteem Scale and Edward Compulsive Buying Scale. The results of the analysis with Pearson correlation technique showed correlation coefficient (r) -0,382 with significance value (p) = 0,003 (p 0.05) so that it can be interpreted that there is a negative relationship between self-esteem with compulsive buying in adolescent. This shows that higher self-esteem will lead to lower compulsive buying in adolescents.
Perbedaan Fear of Failure Pada Mahasiswa yang Menyusun Skripsi Hartati, Rina; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i1.29994

Abstract

Salah satu syarat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan pada semua Universitas di Indonesia adalah dengan mengerjakan skripsi. Banyak hal yang dirasakan oleh mahasiswa saat pengerjaan skripsi salah satunya adalah perasaan takut gagal dalam menyelesaikan skripsi dan takut tidak memenuhi berbagai harapan yang ada. Bagi mahasiswa yang menganggap skripsi sebagai tantangan maka akan mampu menghadapi skripsi dengan baik, sebaliknya bagi mahasiswa yang menganggap skripsi sebagai hambatan maka akan kesulitan dalam proses pengerjaannya. Fear of Failure adalah kepercayaan atau antisipasi seseorang bahwa ada konsekuensi yang tidak menyenangkan saat mengalami kegagalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Fear of Failure pada Mahasiswa yang menyusun skripsi berdasarkan jenis kelamin. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling dengan jumlah 144 mahasiswa yang menyusun skripsi yang terdiri dari 72 laki-laki dan 72 perempuan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan skala adaptasi dari The Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) yang disusun oleh Conroy (2001) dengan nilai koefisien reliabilitas penelitian sebesar () = 0,893. Uji hipotesis yang telah dilakukan menggunakan independent sample t-test menunjukkan nilai signifikasi sebesar 0,000 (p0,05) dan nilai t sebesar -6,292. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan Fear of Failure antara laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memiliki tingkat Fear of Failure lebih rendah dibandingkan perempuan.One of the conditions for obtaining a degree scholarship at all universities in Indonesia is to work on a thesis. A lot of things perceived by the student when the working thesis is the feeling of Fear of Failure in completing the thesis and the fear of not meeting the various expectations. For students who think categorization as a challenge will be able to deal with a thesis properly, otherwise for students that consider the thesis as the barriers it will be difficult in process work. The fear of Failure is the belief or the anticipation of a person that there is an unpleasant consequence if it fails. This research aims to know the difference of the Fear of Failure on the Students that make up the thesis. The technique of sampling used for quota sampling with a total of 144 students who devised a thesis consisting of 72 men and 72 women who comply with the criteria specified. The technique of data collection by using the scale of adaptation The Performance Appraisal Inventory Failure (PFAI) compiled by Conroy (2001) with the value of the coefficient of reliability research of () = 0.893. Test the hypothesis has been done using independent sample t-test demonstrated the significance rating of 0.000 (p 0.05) and the value of t-6.292. Based on these results it can be concluded that there is a difference of the Fear of Failure among both men and women, where men have a Fear of Failure rate lower than women.
Regulasi Diri Dan Perilaku Cyberloafing Pada Pegawai Negeri Sipil Di Banda Aceh Pertiwi, Indah Ayu; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28437

Abstract

Regulasi diri adalah bentuk pengendalian diri dimana individu bisa dapat fokus dengan tujuannya. Salah satu perilaku yang sering dilakukan seseorang saat bekerja adalah perilaku cyberloafing. Cyberloafing adalah perilaku pegawai yang menggunakan akses internet instansi selama jam kerja untuk keperluan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan regulasi diri dengan perilaku cyberloafing pada Pegawai Negeri Sipil di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling dengan total keseluruhan sampel adalah 176 responden. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur Self-Regulation Scale untuk mengukur regulasi diri dan Skala Cyberloafing untuk mengukur perilaku cyberloafing. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson dengan r=-263, (p 0.05) yang menunjukkan adanya hubungan negatif yang terjadi antara regulasi diri dan perilaku cyberloafing pada Pegawai Negeri Sipil di Banda Aceh. Hal ini berarti semakin tinggi regulasi diri yang dimiliki Pegawai Negeri Sipil maka semakin rendah perilaku cyberloafing yang dilakukan.Self-regulation is a form of self-control where individuals can focus on their goals. One of the behaviors that is often done by someone while working is cyberloafing behavior. Cyberloafing is the behavior of employees who use agency internet access during working hours for purposes not related to work. This study aims to determine the relationship between self-regulation and cyberloafing behavior in Civil Servants in Banda Aceh. This study uses a quantitative approach with incidental sampling sampling technique with a total sample of 176 respondents. Data collection in this study used a self-regulation scale measure to measure self-regulation and cyberloafing scale to measure cyberloafing behavior. Data analysis using Pearson correlation technique that shows the value of the correlation coefficient (r) -263 with a significance value (p) = 0,000 (p 0.05) which indicates a negative relationship that occurs between self-regulation and cyberloafing behavior on Civil Servants in Banda Aceh. This means that the higher the self-regulation owned by Civil Servants, the lower the cyberloafing behavior that is carried out.
INTERNET DAN PERILAKU CYBERLOAFING PADA KARYAWAN Mirza, Mirza; AR, Thaybatan; Santoso, Harri
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 4 No. 1 (2019): PSIKOISLAMEDIA : JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v4i1.6347

Abstract

The existence of internet facilities has brought good changes in various aspects with the number of users for Indonesia reaching 132.7 million people, where internet users are dominated by Workers / Employees. The internet provides opportunities for employees to more easily improve performance, interact and create inspiration and creativity. But the internet can also have negative effects such as the occurrence of work procrastination behavior on employees that can interfere with productivity caused by the temptation caused by the internet, as a result of distraction at work through the activity of browsing various sites on the internet, who then reducing cognitive resources to work on their obligations. This study was the beginning or preliminary method using descriptive methods that examine cyberloafing of workers, as a new form of problems in the work environment so that they need to be watched and anticipated in order to increase employee and organizational productivity.
Penggunaan Simulasi Model Machine Learning untuk Memprediksi Laju Alir pada Produksi Sumur Minyak High Water Cut dan Critical Flow Soliadi, Indriana; Karim, Abdul Gafar; Mirza, Mirza; Laby, Dharma Arung; Ramadhana, Zulmi; Finansa, Dody; Darmiyati, Iin
Indonesian Research Journal on Education Vol. 3 No. 3 (2023): irje 2023
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v3i3.2593

Abstract

Sumur 1 lapangan Osprey merupakan sumur minyak dengan kondisi water cut yang mencapai lebih dari 60% yang menyebabkan pengukuran fluida menggunakan flow meter tidak akurat, sehingga untuk mengukur laju alir fluida dikembangkan machine learning model untuk memprediksi laju alir fluida pada sumur ini dengan menggunkana data set sebanyak 285 set untuk model development dan 280 set untuk model validasi. GOR berkisar antara 300 hingga 900 scf/stb, dan WC hingga 68%. Parameter yang digunakan adalah gas oil ratio (GOR), water cut (WC), flowing wellhead pressure (PU), choke size, downstream pressure (PD), dan oil flow rate (Qoil). Data diklasifikasikan menjadi critical flow dimana kumpulan data dengan kondisi aliran dengan rasio downstream pressure dan upstream pressure kurang dari 0.5. Dari hasi pengembangan dan validasi, model random forest regressor adalah model machine larning yang paling akurat dalam memprediksi laju alir pada kondisi high water cut dan critical flow reservoir dengan nilai MSE = 3.1, MAE = 1.26, RMSE = 1.76 dan R2 = 0.99 dan comparison model random forest regressor dengan empirical correlation Gillbert membuktikan bahwa model machine learning dapat lebih baik memprediksi laju alir jika dibandingkan dengan metrics empirical correlation Gillbert dengan nilai MSE = 59.31, MAE = 6.18, RMSE = 7.70 dan R2 = 0.83.
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Hardiness pada Santri Penghafal Al-Qur'an di Aceh Besar Yasir, Haura Shafiyyah Binti; Mirza, Mirza; Zahrani, Zahrani; Sari, Putri Puspita
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.35091

Abstract

Memorizing the Qur'an is an activity that requires perseverance, patience, motivation, and high resilience, especially for students (santri) who has dual rolesas learners in formal education and as students in Islamic boarding schools (pesantren). They are not only required to participate in academic and non-academic activities, but also expected to consistently add to and review their Quranic memorization daily to meet predetermined targets. This condition demands a high level of hardiness in students to cope with various challenges. This study aims to examine the relationship between social supportwhich includes support from parents, teachers, classmates, close friends, and individuals within the school environmentand hardiness among Quran memorizing students (santri) in Aceh Besar. The research subjects consisted of 230 students selected through cluster random sampling and proportionate stratified random sampling techniques. The research instruments used were the Children and Adolescent Social Support Scale (CASSS) and the Dispositional Resilience Scale (DRS-15). Hypothesis testing was conducted using the Pearson Product Moment Correlation. The results showed a correlation coefficient of r=0.329 (p 0.05) for the parental support dimension, r=0.121 (p 0.05) for teacher support, r = 0.277 (p 0.05) for classmate support, r = 0.213 (p 0.05) for close friend support, and r=0.333 (p 0.05) for support from individuals in the school environment. The findings indicate a significant positive relationship between social support from four sourcesparents, classmates, close friends, and individuals within the school environmentand students hardiness. In contrast, teacher support did not show a significant relationship with student hardiness. The higher the level of social support received, the higher the level of hardiness among the Quran memorizing students.Menghafal Al-Quran merupakan aktivitas yang menuntut ketekunan, kesabaran, motivasi, serta daya tahan yang tinggi, terutama bagi santri yang menjalani peran ganda, satu sisi sebagai pelajar di sekolah formal dan di sisi lain menjadi santri di pesantren. Mereka tidak hanya diwajibkan mengikuti kegiatan akademik dan non-akademik, tetapi juga dituntut untuk menambah dan mengulang hafalan Al-Quran setiap hari guna mencapai target yang telah ditetapkan. Kondisi ini menuntut adanya ketangguhan (hardiness) dalam diri santri untuk menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial, yang mencakup dukungan dari orang tua, guru, teman sekelas, teman dekat, dan orang-orang di lingkungan sekolah dengan hardiness pada santri penghafal Al-Quran di Aceh Besar. Responden penelitian terdiri atas 230 santri yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling dan proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa skala Children and Adolescent Social Support (CASSS) dan Dispositional Resilience Scale (DRS-15). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Pearson Product Moment Correlation, hasilnya menunjukkan nilai koefisien korelasi r=0.329 (p0.05) untuk dimensi orang tua, dimensi guru r=0.121 (p0.05), dimensi teman kelas r=0.277 (p0.05), teman dekat r=0.213 (p0.05) dan orang-orang di sekolah saya r=0.333 (p0.05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif signifikan antara dukungan sosial dari keempat dimensiyaitu dukungan dari orang tua, teman sekelas, teman dekat, dan orang-orang di lingkungan sekolah dengan hardiness santri. Sebaliknya, dukungan social guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan hardiness santri. Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin tinggi pula tingkat hardiness santri.